ISLAM MELAYU PATTANI DI THAILAND
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Islam dan Peradaban Melayu
Disusun Oleh:
Nomor Presentasi 12 Khoirina Indah Sari (2110201002)
Dosen Pengampu:
Dr. Haljuliza Fasari P, S.Pd., M.Si
PROGRAM PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG 2023
2
Islam Melayu Pattani Di Thailand Latar Belakang
Islam merupakan suatu agama yang Rahmatal Lil Alamin dan tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluknya serta dapat memberikan petunjuk bagi seluruh umat manusia di muka bumi, tak terkecuali bagi warga Thailand yang dulunya dikenal sebagai Siam dan resminya sebagai Kerajaan Thailand, adalah sebuah negara di Asia Tenggara. Masyarakat Thailand merupakan masyarakat yang mayoritas menganut agama Budha yang merupakan Muslim minoritas. Tetapi bagaikan pohon pisang, islam yang terus menerus dipangkas akan tumbuh kembali. Masyarakat muslim Thailand mayoritas berada di wilayah selatan Thailand yaitu di Provinsi Pattani, Yala dan Narathiwat ditambah dengan sebagian Satun dan Songkhla. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan negara Malaysia dimana penduduknya terdiri dari etnis Melayu yang disebut dengan Melayu-muslim. Namun, penelitian Kementerian Luar Negeri Thailand menunjukkan bahwa hanya 18 persen Muslim Thailand tinggal di lima provinsi itu.
Sisanya tersebar di seluruh Thailand, dengan konsentrasi terbesar ber-ada di Bangkok dan di seluruh wilayah selatan.
A. Sejarah Pattani
Patani adalah suatu kawasan di bagian selatan Siam (sekarang Thailand) dan berdekatanan dengan wilayah Kelantan, Malaysia. Sejarah Patani tidak terlepas dari sejarah awal kerajaan Melayu Patani yang masih diselimuti kekaburan. Pattani terletak 1.056 km di selatan Bangkok. Pusat sejarah lama Kerajaan Pattani yang menguasai wilayah Pattani terletak beberapa mil di sebelah timur kota yang sekarang; Pattani yang lebih tua ditangkap dan dijarah oleh orang Siam pada tahun 1785, dan sebuah pusat kota baru kemudian dibangun di lokasi yang sekarang. Situs asli Patani berada di dekat Ban Kru Se atau Kampong Kersik, di mana Masjid Krue Se berada. Dalam catatan sejarah tidak dapat dipastikan mengenai asal-usul atau tarikh yang sebenarnya kapan kerajaan Melayu Patani didirikan. Menurut catatan pelaut-pelaut China yang menjalin hubungan dengan negeri-negeri Asia Tenggara
3
pada abad kedua Masehi, sebuah negeri yang bernama Lang-ya-shiu (Langkasuka) telah ada pada waktu itu. Berdasarkan catatan tersebut, ahli-ahli sejarah Eropa percaya bahwa negeri Langkasuka yang terletak di pantai timur Semenanjung Tanah Melayu antara Senggora (Songkhla) dan Kelantan adalah lokasi asal negeri Patani. Kerajaan tersebut beribu kota di sekitar daerah Yarang. Kedudukan Patani yang sangat strategik dari segi geografis, menyebabkan kota itu menjadi tujuan pedagang-pedagang asing baik dari barat maupun timur. Dalam waktu yang singkat, Patani telah muncul sebagai kerajaan yang penting, maju dari segi ekonomi, dan stabil dari segi politik dan pemerintahan.
B. Awal Munculnya Islam Melayu di Pattani
Hubungan awal Patani dengan Islam terjadi akibat hubungan perdagangan antara Arab, India dan China. Saudagar India dan Arab menduduki pusat-pusat perdagangan Patani pada akhir abad ke-12 dan mereka menikahi penduduk setempat dan membentuk masyarakat Islam awal. Lebih dari tiga abad setelah itu Islam tersebar luas di kawasan tersebut hingga mempengaruhi golongan istana untuk memeluk Islam. Karena sejalan dengan tradisi simbiosis antara agama dan sistem pemerintahan kerajaan di Nusantara, serta kelaziman di kalangan pemegang kekuasaan untuk menerima ”ideologi yang memberi legitimasi” sebelum rakyat sendiri memeluknya, maka Islam dianut oleh keluarga para raja.
Ada pun pendapat lain bahwa Kedatangan Islam di Thailand telah terasa pada masa kerajaan sukhathai di abad ke-13, yang merupakan buah dari hubungan dagang yang dibangun oleh para saudagar muslim. Hal ini bermula pada dua orang bersaudara dari Persia, yaitu Syeikh Ahmad dan Muhammad Syaid yang juga disebut Khaek Chao Sen (suatu cabang mazhab syiah), menetap di kerajaan sukhatai tersebut, ia melakukan perdagangan sekaligus menyebarkan agama Islam. Sebelum berdirinya kerajaan Ayyuthaya sebagai pengganti kerajaan Shukhotai yang runtuh pada abad ke-14, Islam sendiri telah memiliki kekuatan politik yang sangat besar. Perdagangan merupakan perintis proses islamisasi dan perkembangan politik kerajaan-kerajaan maritim diwilayah
4
kepulauan di abad ke-15, 16 dan 17. Perdagangan juga pulalah yang merupakan faktor dominan yang mendekatkan Islam dengan kerajaan Ayuthaya.
Masuknya Islam ke Patani, juga seperti sebuah cerita khayalan atau dongeng.
Tapi memang begitulah proses masuknya Islam kesana. Sebagaimana dikisahkan dalam buku-buku sejarah. Masa keemasan Patani dimulai pada masa pemerintahan ratu pertama dari empat ratu berturut-turut, Raja Hijau (Ratu Hijau), yang naik takhta pada tahun 1584 dan disusul oleh Raja Biru (Ratu Biru), Raja Ungu (Ratu Ungu ). Ratu) dan Raja Kuning (Ratu Kuning). Selama periode ini kekuatan ekonomi dan militer kerajaan meningkat pesat hingga mampu melawan empat invasi besar Siam. Negara ini mengalami kemunduran pada akhir abad ke-17 dan diserbu oleh Siam pada tahun 1786, yang akhirnya menyerap negara tersebut setelah raja terakhirnya digulingkan pada tahun 1902. Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, Siam berhasil menaklukkan Pattani dan wilayah ini menjadi bagian dari wilayah Siam. Ini mengakibatkan perubahan signifikan dalam status dan identitas etnis Melayu Muslim Pattani. Setelah Thailand merdeka dari kekuasaan kolonial pada abad ke-20, ketegangan antara Melayu Muslim di Pattani dan pemerintah Thailand terus berlanjut. Beberapa kelompok militan Melayu di wilayah ini telah melancarkan pemberontakan untuk mencapai kemerdekaan atau otonomi. Konflik antara pemerintah Thailand dan kelompok separatis di Pattani masih berlangsung hingga saat ini. Konflik ini telah menyebabkan banyak kerugian manusia dan kerusakan di wilayah tersebut. Pattani terus menjadi pusat perhatian dalam konteks politik dan keamanan di Thailand selatan. Sejarah Pattani mencerminkan keragaman budaya dan agama di wilayah ini, serta tantangan yang dihadapi dalam mencapai rekonsiliasi dan perdamaian yang berkelanjutan.
C. Diskriminasi Terhadap Islam Melayu Pattani
kawasan Thailand nelatan yang menjadi basis masyarakat Melayu Muslim merupakan sebuah daerah rawan konflik dengan latar belakang agama dan etnis.
Terlebih Thailand beberapa kali dipimpin oleh ream yang sangat mendiskriminasi masyarakat Melayu Muslim. Salah satu rezim yang paling diskriminatif bahkan represif adalah rezim Jenderal Phibul Songkhram dimana masyarakat Melayu
5
Muslim telah menjadi mangsa dasar asimilan kebudayaan Dalam kebijakan asimilasi tersebut Melayu Muslim dipaksa untuk menanggalkan identitas mereka dan mengganti dengan segala bentuk identitan bercorak Thailand dan Budha.
Konflik berkepanjangan yang melibatkan kelompok minoritas Muslim di Kawasan Asia Tenggara sebenarnya bukan hanya terjadi di Thailand, namun juga di Filipina. Namun yang membedakan adalah konstelasi konflik di Filipina Selatan sudah mulai mereda ketika Presiden Benigno Aquino mengajukan proposal legislasi kepada Parlemen Filipina untuk mensahkan kebijakan pemberian otonomi lokal khusus kepada masyarakat Muslim Moro di Filipina selatan. Sedangkan di Thailand hingga saat ini komunitas Melayu Muslim minoritas khususnya di wilayah selatan masih terus menghadapi diskriminasi yang komplek serta teror yang massif dan terjadi secara terus-menerus sehingga kehidupan sosial dan politik mereka menjadi sangat terkekang. Masyarakat Melayu Muslim pun. melakukan perlawanan untuk membela etnis dan agamanya, sebagaimana dikemukakan Ibn Khaldun dalam Muqaddimah bahwa manusia secara fitrah telah dianugerahi rasa cinta terhadap garis keturunan dan golongannya,. Rasa cinta ini menimbulkan perasaan senasi dan sepenanggungan serta harga diri kelompok.
Beberapa isu yang sering diangkat dalam konteks diskriminasi terhadap Islam Melayu Pattani meliputi
1. Hak Asasi Manusia: Kelompok hak asasi manusia telah melaporkan pelanggaran hak asasi manusia yang melibatkan tindakan keras oleh aparat keamanan Thailand terhadap warga Pattani, termasuk penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan, dan penghilangan paksa. Ini telah memicu perasaan ketidakpuasan dan marah di kalangan penduduk setempat.
2. Diskriminasi Sosial dan Ekonomi: Ada klaim bahwa penduduk Melayu Pattani menghadapi diskriminasi dalam akses ke pendidikan, pekerjaan, dan peluang ekonomi. Hal ini dapat mengakibatkan ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan antara Muslim Melayu dan kelompok etnis Thailand lainnya.
6
3. Identitas Budaya dan Agama: Identitas Muslim Melayu Pattani seringkali dikaitkan dengan Islam dan budaya Melayu, dan beberapa kelompok di wilayah tersebut telah menuntut pengakuan terhadap hak-hak budaya dan agama mereka. Mereka ingin menjaga identitas dan keyakinan mereka tanpa pengaruh atau tekanan yang berlebihan dari pemerintah Thailand.
Pemerintah Thailand telah berusaha mengatasi konflik ini melalui berbagai langkah, termasuk pendekatan politik dan pembangunan ekonomi. Namun, solusi untuk konflik Pattani tetap kompleks dan sulit ditemukan. Solusi jangka panjang memerlukan kerja sama antara pemerintah Thailand, kelompok separatis, dan komunitas Muslim Melayu untuk mencapai perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Di samping itu, komunitas internasional juga dapat berperan dalam mendukung upaya-upaya ini melalui diplomasi dan bantuan kemanusiaan.
D. Peninggalan Budaya Islam Pattani
Peninggalan budaya Islam di Pattani mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti agama, seni, arsitektur, dan tradisi sosial. Berikut beberapa contoh peninggalan budaya Islam Pattani:
1. Arsitektur Masjid: Pattani memiliki beberapa masjid yang sangat indah dan bersejarah. Salah satu yang terkenal adalah Masjid Krue Se (Masjid Kru Se), yang didirikan pada tahun 1583. Masjid ini memiliki arsitektur khas Melayu-Islam dengan atap yang melengkung dan ukiran kayu yang indah.
2. Seni Kaligrafi: Kaligrafi Islam adalah seni menulis kata-kata suci dalam Islam dengan gaya dan keindahan tertentu. Pattani memiliki sejumlah seniman kaligrafi yang mahir dalam menciptakan karya seni kaligrafi yang indah dengan aksara Arab.
3. Kesenian Tradisional: Pattani juga memiliki berbagai kesenian tradisional yang dipengaruhi oleh Islam, seperti tari-tarian, musik, dan seni pertunjukan. Misalnya, tari-tarian seperti "Tari Dabus" dan "Tari Ronggeng" sering diadakan dalam berbagai acara budaya.
7
4. Pakaian Tradisional: Pakaian tradisional masyarakat Muslim di Pattani juga memiliki ciri khas tersendiri. Wanita Pattani sering mengenakan baju kurung, yang merupakan pakaian longgar dengan kain panjang dan berkerudung. Pria sering mengenakan baju Melayu dengan songkok, topi tradisional Melayu.
5. Tradisi Perkawinan: Tradisi pernikahan di Pattani mencakup berbagai upacara dan adat istiadat yang didasarkan pada nilai-nilai Islam. Upacara pernikahan sering diwarnai dengan bacaan Al-Quran dan doa-doa, serta makanan tradisional.
6. Pendidikan Islam: Pattani juga memiliki lembaga-lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam menjaga tradisi Islam di daerah tersebut. Madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah agama mengajarkan ilmu agama dan budaya Islam kepada generasi muda.
7. Kuliner: Masakan tradisional Pattani juga memiliki pengaruh Islam yang kuat. Makanan seperti "nasi kerabu" dan "roti canai" adalah contoh hidangan yang populer di wilayah ini dan mencerminkan pengaruh Melayu- Islam dalam masakan.
8 Kesimpulan
Kerajaan Thailand adalah sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Budha dimana Budha merupakan agama resmi negara. Di Thailand, Islam merupakan minoritas yang berkembang cepat dimana mereka mayoritas berada di wilayah selatan yaitu di Provinsi Pattani, Yala dan Narathiwat ditambah dengan sebagian Satun dan Songkhla. Kawasan tersebut menjadi sebuah daerah rawan konflik dengan latar belakang agama dan etnis. Terlebih Thailand beberapa kali dipimpin oleh rezim yang sangat mendiskriminasi masyarakat Melayu Muslim seperti Jenderal Phibul Songkhram dan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra dimana masyarakat Melayu Muslim menjadi sasaran mangsa asimilasi kebudayaan.
Muslim dipaksa untuk menanggalkan identitas Melayu Islam dan mengganti dengan segala bentuk identitas bercorak Thailand dan Budha. Hingga saat ini komunitas Melayu Muslim minoritas khususnya di wilayah selatan masih terus menghadapi diskriminasi yang komplek serta teror yang massif dan terjadi secara terus- menerus sehingga kehidupan mereka menjadi sangat tertekan. Mau tidak mau kebijakan asimilasi budaya tersebut menyebabkan culture shock yang secara psikologis berdampak. negatif terhadap kehidupan masyarakat Melayu Muslim di Thailand. Masyarakat Melayu Mushim pun kemudian berdiri melakukan perlawanan dalam kurun waktu yang panjang. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebijakan asimilasi budaya adalah suatu bentuk perang pakologi untuk menimbulkan rasa takut dan gentar serta melemahkan moral spirit masyarakat Melayu Muslim yang kemudian mempengaruhi taraf keutuhannya.Peninggalan budaya Islam di Pattani mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti agama, seni, arsitektur, dan tradisi sosial.
9
DAFTAR PUSTAKA
Hakimul Ikhwan Affandi, Akar Konflik Sepanjang Zaman: Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun (yogyakarta: pustaka belajar, 2004)
Kusuma, Bayu Mitra Adhyatma, ‘Masyarakat Muslim Thailand Dan…’, Hisbah:
Jurnal Bimbingan Konseling Dan Dakwah Islam, 13.1 (2016), 109–20 Muzakkir, Dinamika Perjuangan Muslim Patani (Bandung: Cita Pustaka, 2007) Setiarini, Novia Isti, ‘Muslim Minoritas Dan Budaya Muslim Melayu Masyarakat
Pattani Thailand Selatan’, Jurnal Penelitian Agama, 22.1 (2021), 127–37 Wayeekao, Niaripen, ‘Berislam Dan Bernegara Bagi Muslim Patani : Perspektif
Politik Profetik’, In Right: Jurnal Agama Dan Hak Asasi Manusia, 5.2 (2016), 1–55