BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Islam masuk ke Negara-negara asia tenggara melalui banyak jalur, salah satunya ialah jalur perdangangan termasuk juga ke Thailand. Jalur perdagangan itu masyur dikenal sebagai jalur sutra laut yang membentang dari mulai Laut Merah- Teluk Persia- Gujarat- Bengal- Malabar-SemenanjungMalaka-hingga ke Cina.
Thailand adalah sebuah Negara di wilayah Asia Tenggara yang berbentuk Monarki Konstitusi. Islam masuk di Thailand diperkirakan sekitar abad ke-10 atau ke-11 dibawa oleh pedagang Arab dan India. Islam pernah berkuasa di wilayah Pattani sejak berdirinya Kerajaan Islam Patani abad ke-14. Namun, sejak berada dalam kekuasaan Kerajaan Siam, hingga sekarang umat Islam menjadi minoritas dan terdiskriminasi oleh pemerintahan Thailand.
Agama yang dipeluk oleh kebanyakan rakyat Thailand adalah Budha.1
Sementara Islam dan Muslim menjadi agama dan kelompok minoritas di Negara Gajah Putih ini, hal inilah yang akan pemakalah bahas dalam makalah ini, mulai dari sejarah masuknya islam ke Thailand sampai dengan perkembangannya hingga sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Negara Thailand
Thailand (sebelumnya dikenal dengan nama Siam) telah didiami sejak awal peradaban di Asia. Ada perbedaan pendapat mengenai asal dari orang-orang Thailand2.
Orang Thailand diperkirakan berasal dari barat laut Szechuan di China dan bermigrasi ke Thailand di sepanjang bagian selatan China. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Yang bertempat di bagian utara mendirikan kerajaan bernama “Lanna” dan yang berada di ujung selatan yang selanjutnya di kalahkan oleh Khmer dan menjadi kerajaan “Sukhothai”3.
Terdapat perbedaan-perbedaan pendapat mengenai asal-usul orang Thailand. Tiga decade yang lalu, dikatakan bahwa Orang Thailand berasal dari China, namun akhir-akhir ini teori tersebut di patahkan oleh penemuan artefak prasejarah di desa Ban Chiang, kabupaten Nong Han, provinsi UndonThani di sebelah timur laut. Di temukan peninggalan jaman perunggu 3500 tahun yang lalu dimana adanya budaya yang maju dan dari artekfak tersebut di perkirakan orang Thailand itu sendiri berasal dari daerah bernama Thai dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru Asia, termasuk China.
Akibat dari perbedaan pendapat tersebut maka tidak bisa di ketahui dengan pasti mengenai asal-usul orang Thailand. Yang didapat dari perbedaan-perbedaan tersebut adalah orang Thailand pada abad ke 13 sudah hidup di bagian Asia Tenggara.
Pada abad ke-9 sampai abad ke-11, daerah tengah dan barat Thailand mengalami peradaban Mon atau yang disebut dengan Dvaravati. Mon merupakan keturunan Khmer yang berada di selatan Burma. Budha Theravada menjadi agama utama di masa ini.
2 http://www.hellosiam.com/html/thailand/thailand-history.htm diakses tanggal 27 November 2015 pukul 03.30 WIB
Budaya Khmer juga membawa pengaruh terhadap bahasa, budaya dan agama. Bahasa “Sanskrit” sering di gunakan dalam kosa kata Mon-Thai. Pengaruh pada masa ini terlihat pada daerah bagian timur laut seperti Kanchanaburi dan Lopburi. Gaya arsitektur Angkor di buat berdasarkan gaya Khmer.
Terdapat banyak kerajaan dengan masa-masanya sendiri di Thailand, di antaranya adalah kerjaan Lanna dan Kerajaan Sukhothai. Bagian utara Thailand dikuasai oleh kerjaan Lanna kuno, yang terbentang mulai dari Chiang Mai, Lampang, Lamphun dan Phayao. Raja pertamanya yaitu Raja Mengrai yang naik tahkta pada tahun 1259. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan raja Tilokoraj. Sayangnya kerajaan ini melemah dan runtuh akibat perang melawan kerajaan Sukhothai.
Sukhothai bermakna “Dawn of Happiness”, merupakan kerjaan Thailand yang berdiri sendiri yang didirikan pada tahun 1238 oleh Khun Bang Klang Tao dan Khun Pa Muang. Pada awal tahun 1300-an, Sukhothai berkuasa di sepanjang lembah sungai Chao Pya. Sukhothai adalah kerajaan yang berdiri singkat namun memberikan kontribusi besar bagi sejarah nasional. Masa kerajaan Sukhothai adalah masa paling maju di Thailand. Sukhothai dianggap sebagai masa emas bagi budaya Thailand.
Pada masa ini semua orang merasakan kemakmuran, sehingga muncul istilah “ada banyak ikan di sungai dan padi di ladang.”4
Sukhothai terbentang dari Lampang di utara Viantin, yang sekarang di kenal dengan Laos sampai ke selatan semenanjung Malaysia. Budha merupakan agama terpenting dalam kerajaan ini.
Setelah kematian Khun Pha Muang pada 1279, Raja Ramkhamhaeng, naik takhta. Di bawah pemerintahannya, Sukhothai menjalin persahbatan erat dengan China. Raja Ramkhamhaeng menciptakan system tulisan yang menjadi dasar dari abjad
modern bahasa Thai. Kerajaan- kerajaan selanjutnya ialah Ayutthaya dan Rattanakosin yang rajanya di panggil dengan sebutan Rama.
B. Sejarah Masuknya Islam di Thailand
Islam merupakan agama terbesar di Asia Tenggara, terutama di area yang telah mengenal agama seperti Indonesia dan Malaysia. Di Thailand, Islam menjadi agama minoritas dan Budha menjadi agama nasional. Sejarah mencatat bahwa agama yang mendominasi selama beberapa abad sebelum Islam datang pada abad ke-9 ialah agama Budha dan Hindu. Agama Islam telah ada di Thailand sejak pemerintahan kerajaan Thailand di abad ke-9.
Diawal abad ke-9, saudagar-saudagar arab berdiam di Malaka, Aceh dan semenanjung melayu termasuk daerah bagian selatan Siam (Thailand). Dari sana Islam menyebar ke bagian-bagian Asia tenggara seperti Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Kota-kota di kerajaan saat itu di pengaruhi oleh praktek-praktek agama Hindu, Budha dan Islam.5
Muslim merupakan kelompok minoritas terbesar kedua setelah China di Thailand. Tidak seperti kelompok minoritas lainnya, orang-orang muslim Thailand memiliki kerajaan mereka sendiri di bagian selatan Thailand dimana masih terdapat bukti-bukti sejarah yang masih hidup, yaitu kerajaan besar Pattani yang meliputi empat provinsi, Yala, Pattani, Satun dan Narathiwat.
Pendapat lain ada yang mengatakan Islam masum ke Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.6
Salah satu bukti yang menguatkan pendapat ini adalah ditemukannya sebuah batu nisan yang bertuliskan Arab di dekat Kampung Teluk Cik Munah, Pekan Pahang yang bertepatan pada tahun 1028 M.7
5 Thanet Aphornsuvan, History and Politics of the Muslims in Thailand, Thammasat University, hlm. 7.
6 Ahmad Syaid M.A (et.al.) Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara,
Dahulu, ketika Kerajaan Samudera Pasai ditaklukkan oleh kerajaan Siam (Thailand), banyak orang-orang Islam yang ditawan, yang mana ketika itu Raja Zainal Abidin lah salah satu tawanan kerajaan Siam yang kemudian di bawa ke Thailand. Para tawanan itu akan dibebaskan apabila telah membayar uang tebusan. Kemudian para tawanan yang telah bebas itu ada yang kembali ke Indonesia dan ada pula yang menetap di Thailand dan menyebarkan agama Islam di wilayah Thailand Selatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.8
Kedatangan Islam lainnya ke Thailand berasal dari berbagai bangsa, dari kebanyakan imigran muslim dari berbagai latar belakang yang berbeda. Dari Persia, Pakistan, Indonesia dan sebagainya yang bermukim di daerah utara seperti provinsi Lampang, Chiangmai dan Chiang Rai. Mereka bermigrasi ke Thailand dalam urusan ekonomi dan politik. Sebagian besar muslim di Thailand merupakan muslim suni dan hanya ada sekelompok kecil yang berfahamkan syiah.9
Perbedaan ethnic dan daerah ini juga mempengaruhi bahasa yang mereka gunakan, muslim di bagian selatan berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa melayu sementara muslim di bagian lain selain selatan berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa Thailand. Walaupun begitu, pemetintah Thailand menetapkan aturan untuk wajib berbahasa Thailand di sekolah-sekolah dan di tempat-tempat umum lainnya.
C. Kerajaan Pattani
Pattani berasal dari bahasa Arab yang bermakna pandai atau cerdik (fatoni), karena Pattani merupakan tempat lahirnya banyak ulama dan cendikiawan dari berbagai golongan dari tanah melayu (jawi).10
8 http:/indramunawar.blogspot.com/2009/04/sejarah-perkembangan-islam-di-pattani.html
9 Isim Newslatter,hlm.19.
Islam masuk ke daerah kerajaan Pattani melalui pedagang-pedangan muslim dari Arab dan India.11
Patani mempunyai sejarah yang cukup lama, jauh lebih lama dari negeri-negeri di semenanjung Melayu seperti Malaka, Johor dan Selangor. Sejarah lama Patani menunjuk kepada kerajaan Melayu Tua yang mendapat pengaruh Hindu India bernama Langkasuka. Kawasan timur Langkasuka meliputi daerah pantai timur semenanjung, mulai dari Senggora, Patani, Kelantan sampai Trengganu, termasuk juga kawasan utara negeri Kedah.12
Menurut catatan sejarah, Langkasuka terletak di daerah Patani sekarang, sebagaimana dikatakan oleh seorang ahli antropologi di Prince of Songkla University, yang dikuatkan juga oleh sejarawan lain seperti Prof. Zainal Abidin Wahid, Prof Hall dan Prof Wheatly. Tetapi persoalan berubahnya nama Langkasuka menjadi Patani masih belum diketahui dengan pasti karena tidak ada catatan sejarah yang jelas mengenai itu. Mengikuti hikayat Patani pula, kerajaan Patani berasal dari kerajaan Melayu yang berpusat di pedalaman dan sukar untuk didatangi oleh para pedagang. Sehingga raja Patani ketika itu memindahkan pusat kerajaannya ke sebuah perkampungan nelayan yang akhirnya diberi nama Patani.13
Patani adalah negeri Melayu yang terletak di tanah Genting Kra Selatan Thailand. Namun kini di daerah tersebut telah terpecah menjadi tiga propinsi yaitu, Patani, Yala dan Narathiwat.Istilah Patani yang dipakai dalam tulisan ini merujuk pada Patani di masa lalu, saat belum terbagi menjadi tiga propinsi. Di era kejayaan Sriwijaya, Patani dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang terdapat di daerah semenanjung Melayu dan Sumatera berada dalam kekuasaan Sriwijaya. Dari abad ke-7 M hingga awal abad ke-13 M, Sriwijaya menguasai jalur
11 D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara, alih bahasa I. P. Soewarsha, (Surabaya: Usaha Nasional, tanpa tahun), hal. 151.
12 Ibid., hal. 153.
perdagangan di Selat Malaka dan menarik pajak dari para pedagang yang lewat dan berdagang di kawasan itu.14
Pada abad ke-11 M Islam sudah mulai tersebar luas di Patani. Seiring perkembangan kemudian, raja Patani Phya Tu Nakpa yang masuk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Ismail Syah Zhilullah fi al-Ard. Pada abad ke-13 M Patani ditaklukkan oleh kerajaan Ayuthaya (Siam). Pada abad ke-15 M hampir keseluruhan wilayah Patani telah memeluk agama Islam. Dalam perkembangannya kemudian banyak lahir ulama-ulama besar dari daerah ini, diantaranya adalah Syaikh Daud al-Fatani.17 Dengan tersebarnya Islam secara luas di Patani maka kemudian terbentuk dua wilayah kebudayaan di kawasan tanah Genting Kra yang dibedakan oleh dua agama yaitu Islam dan Budha.15
Setelah Patani menjadi kerajaan Islam, Sultan Ismail Syah menjalankan hubungan dengan kesultanan Malaka di masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah I (1488-1511 M) dan kerajaan Ayuthaya di negeri Siam (sekarang Thailand). Sejak itu, kerajaan Patani terkenal dan berkembang lebih pesat dari masa sebelumnya. Pelabuhan Patani berkembang menjadi pelabuhan besar dan banyak dikunjungi oleh para saudagar yang datang dari Siam, Cina, Jepang, Jawa, India dan Arab.
Sultan Ismail Syah digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Muzzafar Syah (1530-1564 M) yang dikenal adil dan murah hati. Sultan Muzzafar mendirikan tempat-tempat ibadah dan mengangkat Syekh Safiyuddin (ulama asal Samudra Pasai) menjadi guru yang mengajar hukum Islam dalam istana. Ulama ini kemudian di beri gelar kebesaran “Datuk Sri Raja Fakih”.
Sultan Muzaffar digantikan oleh adiknya yang bergelar Sutan Mansyur Syah (1564-1572 M). Tidak banyak perkembangan yang dicapai kerajaan pada masa kekuasaannya. Ia meninggal dunia dengan meninggalkan enam orang anak
14 Surin Pitsuwan, Islam di Muangthai, Nasionalisme Melayu Masyarakat Patani, alih bahasa Hasan Basari, cet. I, (Jakarta: LP3ES, 1989), p. 100 . Lihat pula D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara, alih bahasa Hasan Basari, (Surabaya: Usaha Nasional, tt.), hal. 40-43.
(Putri Hijau, putri Biru, putri Ungu, putri Emas Kerancang, raja Bahdur, dan raja Bima (dari selir). Akan tetapi,menjelang wafat ia berwasiat agar tahta kerajaan setelah ia meninggal diserahkan kepada Patik Siam, yaitu anak dari Sultan Muzaffar.
Ketika Patik Siam (1572-1573 M) naik takhta, ia masih berusia sembilan tahun. Karena itu, roda pemerintahan dijalankan oleh bibinya yang bernama putri Aisyah. Patik Siam hanya berkuasa selama lima tahun. Ia dibunuh bersama Putri Aisyah oleh Raja Bambang yang merupakan saudara tiri dari Patik Siam yang berambisi menjadi raja. Namun, Raja Bambang tidak berhasil memenuhi ambisinya tersebut karena ia ditangkap oleh pembesar istana.
Setelah peristiwa tersebut, para pembesar istana sepakat mengangkat secara berturut-turut putri Hijau yang bergelar Ratu Hijau (1584-1616 M), Putri Biru bergelar Ratu Biru (1616-1624 M), Putri Ungu dengan gelar Ratu Ungu Paduka Syah Alam (1624-1635 M) dan Ratu Kuning (1635-1688 M) anak Ratu Ungu sebagai penguasa Patani.16
Patani mengalami kemunduran khususnya sejak berakhirnya kekuasaan ratu Kuning yang meninggal pada tahun 1651 M. Secara perlahan, kekuatan ekonomi, militer dan politik Patani semakin melemah. Dari dalam, pertikaian diantara elite kerajaan semakin meruncing dan memperlemah kerajaan. Hal ini sebenarnya telah terjadi pada masa antara tahun 1573 dan 1584 M. Masa ini ditandai dengan gejolak perebutan kekuasaan. Setidaknya tercatat dua peristiwa perebutan kekuasaan berdarah yang melibatkan elite istana.
Namun kemunduran Patani semakin nyata pada akhir abad ke – 17 M. Pada saat itu berbagai daerah yang dahulu termasuk wilayah kekuasaan Patani seperti Kelantan, Terengganu, Senggora dan Pathalung mulai memisahkan diri.
16
Dari segi perdagangan, beberapa daerah lain telah muncul sebagai kekuatan ekonomi baru, seperti Johor, Malaka, Aceh, Banten dan Batavia. Praktis semua perkembangan ini lambat laun membuat Patani hanya sekedar tempat persinggahan daripada sebagai pusat perdagangan.Melihat keadaan ini, kerajaan Siam yang baru saja mengalahkan Burma, di bawah komando Panglima Taksin menyerang Patani pada tahun 1785 M, dan baru pada serangan kelima berhasil merebutnya setelah empat kali gagal melakukan serangan ke Patani.17
D. Islam di Thailand di bawah Siam
Dalam usahanya untuk mengokohkan kedudukannya di Patani, pada tahun 1902 Kerajaan Siam melaksanakan Undang-undang Thesaphiban. Dengan demikian sistem pemerintahan kesultanan Melayu telah dihapuskan.
Sejak saat itu, proses pembauran yang disebut “Siamisasi” mulai terjadi. Hal ini membawa pengaruh negatif yang signifikan terhadap pengaruh kepemimpinan politik Islam dan wibawa umat serta tokoh agama. Raja kehilangan kewibawaan, kekuasaan politik, dan tidak kurang pentingnya, sumber ekonomi. Sementara itu, peranan para ulama semakin kecil karena adanya pembatasan syari’ah Islam. Proses yang merugikan ini, mengakibatkan terjadinya beberapa insiden lokal berupa pemberontakan terhadap pusat kekuasaan di Bangkok yang dipimpin para ulama pada tahun 1910 M dan 1911 M.18
Perkembangan penting terjadi pada 1932 M ketika diberlakukanya konstitusi baru Siam. Peraturan ini membawa perubahan besar pada bangsa Thailand, khususnya dengan adanya reformasi sistem “pemerintahan raja absolut” menjadi “kerajaan konstitusional”, termasuk didalamnya adalah pengembalian kekuatan kepada rakyat dalam proses pemerintahan. Hal ini disambut baik oleh kalangan muslim. Bahkan sejumlah pemimpin Islam yang tadinya mengungsi ke kelantan,kembali ke Patani. Hasilnya, pada pemilihan umum pada 1937 M dan
17 http://sejarah-peradabanislam.blogspot.com/2011/11/Sejarah Peradaban Islam di Thailand. Di unduh tanggal 29 November 2015 pukul 13.33
1938 M, tiga dari empat propinsi muslim Patani berhasil mengirimkan wakil-wakil muslim ke parlemen di Bangkok.
Masyarakat muslim Thailand pada umumnya mengamalkan ajaran Islam secara independen, termasuk soal hukum Islam yang berkenaan dengan masalah keluarga, sejauh tidak berkaitan dengan undang-undang negara. Namun demikian, terdapat beberapa badan yang secara langsung menangani syariat Islam, seperti menyangkut undang-undang keluarga dan waris. Lembaga ini dikenal sebagai Majelis Agama Bahagian Wilayah. Pembentukan lembaga ini sepenuhnya mendapatkan dukungan dari pemerintah Thailand lewat keputusan kerajaan (Royal Decree) yang berkenaan dengan perlindungan terhadap agama islam pada 1945.
Dengan demikian, beberapa wilayah Thailand yang berpenduduk Islam cukup banyak mengenal adanya kantor urusan agama Islam seperti ini. Apapun lembaga ini terutama bertugas mengeluarkan surat kawin dan perceraian berdasarkan hukum Islam, memberikan penyuluhan serta membantu penyesaian masalah keluarga, dan menerapkan hukum waris sesuai dengan hukum Islam.
Kantor-kantor urusan agama seperti ini juga mengurus pengelolaan tempat-tempat ibadah seperti masjid dan menetapkan imam. Para imam ini diberikan kewenangan untuk mengelola kegiatan keagamaan dan keislaman di daerah setempat. Pada beberapa kasus, seperti yang dijelaskan oleh Ismail seorang ahli hukum Islam dan penulis berkebangsaan Thailand, masyarakat muslim cukup senang dengan dibentuknya kantor urusan agama seperti ini dan menerima keputusan keputusanya. Bahkan, mereka tidak begitu mempersoalkan apakah hal itu sah atau tidak menurut undang-undang negara Thailand.
Sejak tahun 1946, pemerintah Thailand juga memberikan hak khusus untuk melaksanakan undang-undang keluarga dan hukum waris sesuai dengan ajaran Islam di empat wilayah yang berpenduduk mayoritas muslim, yakni Patani, Narathiwat, Yala dan Satul. Untuk itu, pemerintah membentuk sebuah lembaga yang disebut mahkamah wilayah. Di setiap kantor di keempat wilayah ini terdapat dua orang kadi Islam,yang juga sering disebut Datuk Yuthitham.
Komunitas Muslim Thailand berinteraksi dengan pemerintah Thailand melalui birokrasi keagamaan yang dikepalai oleh Kantor Chularajmontri, Komite Islam sentral, dan Perwakilan Komite Islam Provinsi yang secara konstitusional dibentuk di dalam Departamen Dalam Negeri. Lembaga-lembaga perwakilan ini mengatur dan mengelola masjid dan kegiatan pendidikan tingkat lokal. Masjid dan sekolah Islam (pondok) adalah lembaga-lembaga kunci dalam proses sosialisasi di tengah masyarakat Islam. Tempat-tempat ini merupakan pusat kegiatan pada bulan Ramadhan, shalat idhul Fitri dan Idhul Adha, shalat Jum’at, mengaji Al-Qur’an, dan kegiatan keagamaan lainnya. Sebuah komite masjid mengelola wakaf atau kekayaannya yang berasal dari pemberian, dan mendapat pengakuan hukum serta subsidi pemerintah melalui birokrasi Islam dan Departemen Dalam Negeri.
E. Tokoh-Tokoh Islam di Thailand
Kemenangan tentara sekutu atas Jepang pada Agustus 1945 membuka harapan baru bagi penduduk Asia Tenggara, termasuk Patani. Sebagaimana kebanyakan masyarakat Asia Tenggara lainnya saat itu, muslim Patani juga membentuk berbagai persatuan perjuangan,termasuk Gabungan Melayu Petani Raya (Gampar), dan Gerakan Rakyat Patani (GPR) yang dipimpin Haji Sulong, tokoh yang sering kali di anggap sebagai “bapak perjuangan Patani”. Gerakan-gerakan ini berasal dari kelompok aristokrat dan ulama.
Patani perlu mendapatkan otonomi dari Thailand, Patani dijadikan federasi tanah Melayu,atau Patani bergabung dengan Indonesia. Keputusan Inggris tidak memasukkan Patani dalam Federasi Malaysia, dan kesibukan pemimpin Indonesia pada sepanjang tahun 1940-an dengan urusan perjuangan sendiri telah mendorong para tokoh Patani mengambil jalan sendiri. GPR yang diwakili Haji Sulong mengajukan tujuh tuntutan kepada pemerintah. Namun, pada prinsipnya GPR menginginkan diberikannya hak bermasyarakat dan beragama secara otonom kepada kelompok muslim Patani. Tuntutan ini akhirnya ditolak pemerintah Thailand. Kekecewaan yang semakin menumpuk membuat masyarakat muslim melakukan perlawanan bersenjata, sehingga terjadi kerusuhan di wilayah Patani.
Tokoh GPR Haji Sulong ditangkap tanggal 16 Januari 1948 M. Perlawanan kelompok muslim semakin memanas, sehingga meletus pemberontakan besar-besaran di Dusun Nyior, Narathiwat, pada April 1948.
Melihat kecendrungan munculnya kembali sistem kekuasaan seperti pada masa kesultanan Patani, beberapa tokoh lain yang lebih progresif mendirikan sebuah wadah baru, yaitu Barisan Revolusi Nasional (BRN) pada tahun 1963 M. Pemimpinya adalah Abdul Karim Hassan, seorang ulama sekaligus pengagum Soekarno (Presiden Pertama Republik Indonesia). Daripada bergerilya, kelompok ini menggalang melalui lembaga pondok pesantren dan keulamaan dan berhasil mendapatkan dukungan yang cukup signifikan di kawasan Yala dan Narathiwat.37 Pada 1961 pemerintah mengubah pondok menjadi sekolah swasta Islam yang terdaftar, sekolah pondok mendapat bantuan pemerintah, namun kurikukumnya harus disesuaikan dengan kurikulum sekolah negeri.
Orangtua yang lebih mampu cenderung mengirim anak-anak mereka ke luar negeri, bahkan ke Timur Tengah. Pada 1960, tingkat buta huruf di kalangan muslim mencapai 66,9%, dan terus menurun menjadi 48% pada 1970, hingga 30,7% pada 1980.
Untuk menjawab semakin meningkatnya minat dan kualitas pendidikan keislaman di Thailand, maka pendidikan tinggi di negeri Gajah Putih ini telah mulai mengembangkan studi keislaman. Sebelumnya, untuk mendapatkan pendidikan tinggi tentang Islam, pelajar dan mahasiswa muslim Patani pergi menuntut ilmu ke Timur Tengah atau kawasan Asia Tenggara lainnya. Pada dekade tahun 1980an sampai 1990-an, sejumlah mahasiswa Patani menimba ilmu di IAIN dan perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Tetapi sejak akhir dasawarsa tahun 1980-an, pemerintah Thailand mulai memberi kesempatan bagi berdirinya pendidikan tinggi untuk kajian Islam. Salah satu pusat studi Islam yang terkenal adalah koleg pengajian Islam (college of Islamic studies) pada Prince of Songkla University.19
F. Karakteristik Muslim Thailand.
Di Asia tenggara, agama sering diidentifikasikan dengan etnik: Orang Malaysia itu muslim; Orang Thailand itu beragama Budha; orang China itu beragama Konguchu. Walaupun etnik-agama atau yang lebih di kenal dengan ethno-religious membentuk identitas, dapat di katakana bahwa di Thailand baik Muslim maupun Budha memiliki kesamaan perilaku social, pandangan, formalitas dan kelakuan-kelakuan sehari-hari (budaya). Mereka memiliki cara berperilaku yang sama dengan orang-orang Asia Tenggara. Lebih lanjut, Muslim Thailand, dapat dilihat atau dicirikan melalui badan-badan keagamaan mereka seperti Masjid, Pondok atau Madrasah dan kantor Chularatchamontri/Shaikh al-Islam.20
Dan dapat juga dilihat dari acara perayaan nasional seperti Maulid Nabi.
19 Malik Ibrahim, Seputar Gerakan Islam di Thailand, hal. 146.
G. Bukti-Bukti atau Peninggalan Islam yang ada di Thailand
Terdapat beberapa bukti peninggalan Islam yang masih berada di Thailand, khusunya di daerah selatan seperti Masjid Talok Manok yang berumur 300 Tahun yang terletak di Bacho, Narathiwa dan Masjid Salburi di Pattani. Selain itu terdapat pula masjid-masjid di daerah lain termasuk ibukota Thailand, Bangkok.
KESIMPULAN
adapula yang mengakatan bahwa Orang Thailand berasal dari daerah bernama Thai dan memiliki peradaban yang maju dan melakukan migrasi ke tempat-tempat lain termasuk China. Terdapat banyak kerajaan dengan masa-masanya sendiri di Thailand, di antaranya adalah kerjaan Lanna dan Kerajaan Sukhothai.
Mayoritas penduduk Thailand beragama Budha, agama kedua setelah budha yang banyak di anut ialah Islam. Masuknya Islam di Negara ini juga memiliki banyak versi, ada yang mengatakan dari jalur perdangangan dan sufi ke daerah Thailand selatan yaitu Pattani adapula yang mengakatan bahwa islam masuk dan di bawa ke Thailand oleh kerajaan Samudra Pasai di Aceh.
Pattani merupakan sebuah kerajaan di bagian seletan Thailand, nama Pattani berasal dari bahasa Arab Fatton yang berarti cerdas, hal ini dikarenakan banyak para ulama dan penghapal al-quran yang berasal dari sana. Sejarah lama Patani menunjuk kepada kerajaan Melayu Tua yang mendapat pengaruh Hindu India bernama Langkasuka.
Pattani di pimpin oleh raja-raja bahkan ratu-ratu, kemunduran kerajaan ini terjadi setelah wafatnya ratu kuning, terdapat banyak pertikaian yang berasal dari dalam dan hal ini dimanfaatkan oleh kerajaan Siam dan pada akhirnya Siam berhasil menundukkan Pattani dibawah kepemimpinannya.
Dibawah kepemimpinan kerajaan Siam, Muslim Pattani mendapat ketidak adilan dengan kebijakan-kebijakan yang diberlakukan, namun hal itu berkahir saat Thailand mengubah tata Negara dari Monarki Absolut ke Monarki Konstitusi. Sekolah-sekolah sudah mulai dimasuki oleh silabus islam dan sebagainya.
Adapun karakteristik yang dapat dilihat dari Muslim Thailand adalah dengan symbol seperti masjid dan pondok pesantern seperti masjid bersejarah berumur 300 tahun di Bacho, Narathiwa dan Masjid Salburi di Pattani.
DAFTAR PUSTAKA
Ma’afi, Rif’at Husnul M.Ag. Jurnal Kalimah, Volume: 4 Nomor: 2 September 2006
http://www.hellosiam.com/html/thailand/thailand-history.htm diakses tanggal 27
Aphornsuvan Thanet, History and Politics of the Muslims in Thailand, Thammasat University.
Syaid Ahmad M.A (et.al.) Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara, PT. Ikhtiar Baru Van Hoove, Jakarta.
Yusuf, Imtiyaz. Isim Newslatter.
Nasution, Harun. Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta. 1992
Ibrahim, Malik. Seputar Gerakan Islam di Thailand Suatu Upaya Melihat Faktor Internal dan Eksternal, Sosio-Religia, Vol. 10, No. 1.