PANDANGAN AL-QUR’AN TENTANG ISU-ISU GENDER (PERSPEKTIF TAFSIR KLASIK DAN
TAFSIR NUSANTARA) Oleh :
Diko Aryasuta (603211010007) Ahmad Nur Hifzhun Zaky (603211010011)
A. Pendahuluan
Sejarah menginformasikan bahwa sebelum turunnya Al- Quran terdapat sekian banyak peradaban besar, seperti Yunani, Romawi. India, dan Cina. Dunia juga mengenal agama-agama seperti Yahudi. Nasrani, Buddha, Zoroaster, dan sebagainya. Dari semua peradaban sebelum turunya Al-Qur’an tersebut, memiliki kesamaan mengenai perlakuan terhadap kaum perempuan. Perlakuan yang diberikan oleh peradaban tersebut adalah perlakuan yang tidak mengenakan kepada kaum perempuan. Perempuan ditindas dan tidak mendapatkan hak-hak nya. Oleh sebab itu Islam datang dengan membawa perubahan
terhadap peradaban tersebut. Peradaban islam mengajarkan kepada manusia bahwa harus berlaku adil terhadap sesama tanpa membedakan jenis kelamin. Hadirnya Islam sebagai peradaban baru membuat perempuan memiliki kedudukan setara dengan kaum laki-laki.
Islam sudah sempurna melalui Al-Qur'an dan hadits. Tetapi, kerja-kerja penyempurnaan, atau mengembalikan kepada yang sempurna, masih belum selesai. Hal itu akan terus berkesinambungan tanpa henti, termasuk saat sekarang, karena manusia memiliki kehidupan yang dinamis dan bercampur dengan berbagai kepentingan, kebutuhan, dan keinginan. Sayangnya, seringkali yang lebih banyak diakomodasi adalah kebutuhan, kepentingan, dan keinginan laki-laki. Sehingga, Islam yang sudah sempurna yang rahmatnya menyeluruh untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, lalu terekspos sedemikian rupa, seakan rahmat Islam itu hanya untuk laki-laki. Di sinilah pentingnya dakwah mengembalikan kepada Islam yang sempurna, yang
rahmatnya benar-benar dirasakan oleh perempuan, sebagaimana laki-laki.
Meskipun Islam telah hadir untuk melakukan penyetaraan terhadap kaum perempuan, pada kenyataan nya pada saat ini masih banyak perbuatan- perbuatan yang tidak mencerminkan hal tersebut.
Salah satu permasalahan yang paling populer terkait masalah ini adalah tentang “Gender”.
Istilah gender melibatkan peran laki-laki dan perempuan serta anak laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat dengan sendirinya memunculkan isu-isu gender di berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, polititik, ekonomi dan ketenagakerjaan. Isu gender adalah suatu ketidakadilan terhadap laki-lalki dan perempuan yang bersifat sistemik, dirasakan oleh sebagian besar orang di banyak tempat, mendesak untuk diselesaikan dan memiliki daya ungkit kepada isu lain apabila isu tersebut diselesaikan. Isu-isu tentang penyetaraan gender memang selalu menjadi distorsi (perdebatan) di kalangan akademisi dan non-akademisi dari zaman ke zaman. Permasalahan ini akan terus diangkat
sepanjang kaum perempuan benar-benar merasakan hak-haknya dan tidak ada bias gender. Masih terbayang di benak kita pada sebuah statemen yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk ke dua, artinya adalah ada signifikansi antara laki-laki dan perempuan, posisi perempuan tidak memiliki hak sebagaimana laki-laki. Hal ini berimplikasi pada sikap merendahkan perempuan yang dianggap sebagai makhluk nomor dua yang tidak boleh berpolitik dan tidak boleh menyuarakan hak-haknya. Seperti di dalam istilah klasik menyebutkan tugas perempuan tidak lebih dari sekedar di dapur, sumur, dan kasur.
Berbicara tentang gender, terdapat beberapa isu- isu gender yang menjadi fokus pembicaraan.
Berdasarkan survey penulis terkait dengan isu-isu gender ini adalah hak-hak yang harus didapatkan oleh perempuaan. Analisis penulis, berangkat dari hak-hak inilah, diskursus perempuan berkembang bahkan dalam tingkat tertentu menjadi kontroversial. Dalam artikel ini penulis mencoba untuk melakukan kajian lebih lanjut terkait dengan isu-isu gender tersebut, dan bagaimana pandangan Al-Qur’an serta pandangan
ulama tafsir klasik dan ulama tafsir nusantara terkait dengan masalah isu-isu gender ini.
B. Pembahasan
Untuk mengkaji lebih dalam mengenai permasalahan isu-isu gender, maka penulis ingin memaparkan beberapa hal berikut :
1. Pengertian Gender
Gender sering diidentikkan dengan jenis kelamin (sex), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender sering juga dipahami sebagai pemberian dari Tuhan atau kodrat Ilahi, padahal gender tidak semata- mata demikian. Secara etimologis kata
‘gender’ berasal dari bahasa Inggris yang berarti “jenis kelamin” Kata gender bisa diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dalam hal nilai dan perilaku.
Secara terminologis, ‘gender’ bisa didefinisikan sebagai harapan-harapan
budaya terhadap laki-laki dan perempuan Definisi lain juga dikemukakan oleh Elaine bahwa “gender adalah pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya Lebih tegas lagi disebutkan Helen Tierney dalam Siti Musdah Mulia (2004:4), bahwa: “Gender adalah suatu konsep kultural yang dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam Masyarakat”.
Gender berbeda dengan sex, meskipun secara etimologis artinya sama dengan sex, yaitu jenis kelamin. Secara umum sex digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, dan aspek-aspek nonbiologis lainnya.
Jadi, gender merupakan kontruksi sosiokultural yang pada dasarnya merupakan interprestasi kultur atas perbedaan jenis
kelamin. Misalnya bahwa wanita dikenal lemah lembut, cantik, setia, dan keibuan, sedangkan pria dianggap kuat, gagah, sering mengedepankan akal (rasional), agresif, tidak setia, jantan dan perkasa. Dengan adanya keseteraan gender muncul pemahaman tentang perbedaan antara jenis kelamin dan peran gender. Perbedaan hakiki yang menyangkut jenis kelamin tidak bisa diganggu gugat, misalnya secara biologis perempuan memiliki kemampuan mengandung dan melahirkan, sementara laki- laki tidak bisa seperti wanita.
Perbedaan jenis kelamin mengacu pada perbedaan fisik terutama fungsi reproduksi atau dikatakan dengan alat yang berfungsi untuk mencapai kepuasan secara biologis.
Sedangkan gender tidak selalu berhubungan dengan perbedaan filosofis seperti yang selama ini banyak dijumpai di dalam masyarakat. Gender membagi atribut dan pekerjaannya menjadi maskulin dam feminin,
maskulin ditempati laki-laki sedangkan feminin ditempati oleh perempuan.
Jadi berdasarkan penjelasan diatas mengenai pengertian dari kata gender, kesimpulannya menurut penulis adalah gender merupakan jenis kelamin sosial (bukan jenis kelamin biologis laki-laki/perempuan) dari seorang manusia yang ditandai dengan sifat maskulin dan sifat feminin. Dan kedua sifat tersebut berpeluang untuk dimiliki oleh masing-masing manusia.
Biasanya sifat maskulin lebih ke laki-laki dan sifat feminine mengarah kepada perempuan.
Namun bisa juga sebaliknya, laki-laki yang memiliki sifat feminine dan perempuan yang memiliki sifat maskulin. Atau bisa juga si manusia memiliki kedua sifat itu secara bersamaan. Jadi itulah arti dari gender menurut analisa dari penulis.
2. Konsep Gender dan Kesetaraan
Seperti yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa gender lebih mengarah kepada jenis kelamin sosial setiap individu manusia yang dilihat dari sifat maskulin dan feminin. Untuk lebih jauhnya gender ini terkait dengan peran sosial, identitas, dan ekspresi yang diharapkan dari individu berdasarkan jenis kelamin mereka.
Beberapa poin penting dalam memahami konsep gender adalah sebagai berikut :
a) Identitas Gender : Identitas gender merujuk pada cara seseorang mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai laki-laki, perempuan, atau mengidentifikasi dengan jenis kelamin lainnya atau tanpa jenis kelamin sama sekali (non-biner).
b) Ekspresi Gender : Ekspresi gender mencakup cara seseorang mengekspresikan diri mereka
melalui perilaku, penampilan, dan gaya hidup yang mencerminkan norma gender tertentu.
c) Peran Gender : Peran gender adalah peran sosial yang diharapkan dan diterapkan pada individu berdasarkan jenis kelamin mereka oleh masyarakat. Peran ini sering kali berbeda antara budaya dan masyarakat, dan mereka mencakup harapan tentang bagaimana seseorang seharusnya berperilaku, bertindak, dan berinteraksi dengan orang lain.
d) Stereotip Gender : Stereotip gender adalah pandangan atau ekspektasi prasangka yang umum terhadap jenis kelamin tertentu, seperti pandangan bahwa laki-laki cenderung lebih kuat secara fisik atau perempuan cenderung lebih emosional.
e) Kesetaraan Gender : Kesetaraan gender adalah prinsip yang menuntut bahwa semua individu, tanpa memandang jenis kelamin, harus memiliki kesempatan, akses, dan hak yang sama dalam masyarakat, termasuk di bidang pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik.
Tujuan utama kesetaraan gender adalah untuk mengatasi diskriminasi dan ketidakadilan yang berbasis gender dan menciptakan masyarakat yang inklusif dan adil bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin mereka. Penting untuk terus memahami dan menghargai keragaman gender, menghormati identitas dan ekspresi gender setiap individu, serta bekerja untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesetaraan gender bagi semua orang. Hal ini penting untuk kita sadari dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Isu-isu Gender dan Pandangan Al-Qur’an Terhadapnya
Dalam Islam, pada dasarnya manusia itu sama dan setara. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan kecuali dalam hal takwa, ini dijelaskan pada akhir surah Al- Hujurat ayat 13 yang artinya
“….sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”..
Namun pada kenyataannya pada saat ini, perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan selalu menjadi permasalahan yang tidak pernah selesai. Maraknya kasus ketidaksetataraan gender, penindasan dan pembatasan hak-hak bagi kaum perempuan.
Dan isu-isu gender yang selalu mengikat pada kaum perempuan dari dulu sampai dengan saat ini adalah tentang asal kejadian perempuan dan kekhalifahan perempuan.
Pembahasan dibawah ini akan menjelaskan tiga masalah serius berkenaan dengan isu-isu gender khususnya masalah diskriminasi terhadap kaum perempuan :
a) Penciptaan (Asal Kejadian) Perempuan dalam Al-Qur’an
Sebagaimana telah disinggung diatas, penciptaan (asal kejadian) perempuan adalah masalah pokok yang menurut penulis menjadi akar isu-isu dan ketidakadilan gender. Permasalahan timbul berdasarkan pemahaman yang berbeda-beda dari setiap golongan ulama tafsir maupun tokoh agama yang bersumber dari Al-Qur’an Surah An-Nisa’
ayat 1 berikut ini :
نْمِ مْكُقَلَخَ يذِلَّا مْكُبَّرَ اوقَتَّا سُانَّلَّا اهَيُّأَ ايُّ
لًااجَرَ امَهَنَّمِ ثَّبَّوَ اهَجَوَزَ اهَنَّمِ قَلَخَوَ $ةٍدَحِاوَ $سٍفْنَ
ءًاسَنَوَ ارًيثِكَ ۚ
Artinya : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…..”
Inilah ayat Al-Qur’an yang populer dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan, dan disinilah timbul polemik permasalahan nya yakni pada kata Nafs Wahidah (
ةٍدَحِاوَ سٍفْنَ
). Karena terdapat banyak sekali versi penafsiran yang berbeda terkait dengan lafadz ini, oleh karena itu menimbulkan perbedaan sekaligus permasalahan yang rumit.Menurut salah satu Tafsir Klasik yang menjadi rujukan penulis dalam menulis artikel ini yaitu Tafsir Jalalayn. Menurut tafsir ini Nafs Wahidah (diri yang satu) itu berarti “Adam”. Dan dari situ dijadikan
pasangannya yaitu Hawa, dari salah satu tulang rusuknya yang kiri.
Sementara berdasarkan Tafsir Nusantara yang menjadi rujukan penulis yaitu tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Dalam tafsirannya Quraish Shihab tidak memberikan pandangannya terkait hal itu, melainkan ia memberikan pandangan-pandangan dari ulama-ulama tafsir yang lain. Dan dari hal itu lahir dua pandangan terkait dengan kata Nafs Wahidah ini.
Pertama, banyak sekali pakar tafsir yang memiliki pemahaman serupa dengan pengarang tafsir Jalalayin (Jalaluddin As-Suyuthi), seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Biqa’I, Abu As- Su’ud dan lain-lain, yakni mengartikan Nafs Wahidah itu adalah “Adam”, kemudian Hawa dijadikan dari tulang rusuk nya Adam. Kitab-kitab tafsir klasik hampir mengartikannya demikian.
Pandangan ini agaknya bersumber dari sebuah Hadis yang menyatakan :
نْمِ فَلَخَ نْهَنَإِفَ ارًيخَ ءًاسَ4نَّلَّابَّ اوصُوتَسْا جوعْأَ $عٍلَضِ
نْمِ يدايُّرًتَلَّا هاوَرَ
ةٍرًيُّرًحِ نأَ
Artinya : “Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perem puan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok...” (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Hadis di atas dipahami oleh ulama- ulama terdahulu secara harfiah. Namun tidak sedikit ulama kontemporer memahaminya secara metafora, bahkan ada yang menolak kesahihan (ke- benaran) hadis tersebut
Yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadis di atas memperingatkan para lelaki agar menghadapi perem- puan dengan bijaksana, karena ada sifat, karakter, dan kecen- derungan mereka yang tidak sama dengan lelaki-hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantarkan kaum lelaki
bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Kedua, beberapa beberapa pakar tafsir seperti Muhammad 'Abduh, dalam Tafsir Al-Manar, tidak berpendapat demikian: begitu juga rekan- nya Al- Qasimi. Mereka memahami arti Nafs Wahidah dalam arti “Jenis”.
Bahkan kita dapat berkata bahwa sekian banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur kejadian Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukan- nya, antara lain Qs. Al-Isra' ayat 70 berikut :
4رًبَلَّا يفَ مْهُانَّلَمَحِوَ مَدآ ينَّبَّ انَّمِرًكَ دَقَلَّوَ
Dىٰلَعْ مْهُانَّلَضَّفَوَ تِابَ4يطَّلَّا نْمِ مْهُانَّقْزَرَوَ رًحْبَلَّاوَ
لًايضَّفْتَّ انَّقَلَخَ نْمَمِ $رًيثِكَ
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudah kan mereka mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan”.
Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan.
Demikian pula penghormatan Tuhan yang diberi- kan-Nya itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh Qs. Ali-Imran ayat 195 yang menyatakan :
$ضٍعْبَّ نْ4مِ مْكُضَّعْبَّ
Artinya : “Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain...”
Ini dalam arti bahwa sebagian kamu (hai umat manusia yang berjenis lelaki)
berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (hai umat manusia yang berjenis perempuan) demikian juga halnya. Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia, dan tidak ada perbedaan di antara mereka dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya.
Dengan perbedaan pendapat ini Allah SWT menegaskan dalam Qs. Ali-Imran ayat 195 :
وَأَ $رًكَذَ نْمِ مْكُنَّمِ $لٍمِاعْ لٍمَعْ عٍيضِأَ لًا ي4نَأَ
Dىٰثِنَأَ ۖ
Artinya : “Sesungguhnya Aku tidak menyia nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan”.
Ayat ini dan semacamnya adalah usaha Al-Qur’an untuk mengikis habis segala pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan. khususnya
ususnya dalan dalam bidang kemanusiaan. Demikian terlihat Al- Qur’an mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya, serta meluruskan segala pandangan salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadian kaum perempuan.
Jadi berdasarkan perbandingan tafsir tersebut, penulis sampai kepada penjelasan yang lebih masuk akal dan dapat diterima adalah, bahwa umat manusia, apakah laki-laki atau perempuan, semuanya berasal dari satu dan sama, nafs wahidah. Kata nafs wahidah ini diterjemahkan dengan jenis yang satu. Kecenderungannya adalah Adam dan Hawa diciptakan dari unsur tanah, walaupun tak dapat dipungkiri bahwa yang pertama diciptakan adalah Adam. Jadi tidak ada perbedaan kemulian antara laki-laki dan perempuan dari segi asal kejadian. Sehingga salah besar untuk
menjadikan alasan atau ayat ini sebagai dasar untuk melakukan diskriminasi terhadapat kaum perempuan.
b) Kekhalifahan (Pemimpin) Perempuan Kehadiran manusia di muka bumi ini sesungguhnya mengemban dua fungsi;
sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah Allah. Manusia baik itu laki-laki dan perempuan, menerima perjanjian.
Semuanya sama dan setara di hadapan Allah. Sampai di sini, keberadaan perempuan sebagai hamba Allah tidak ada masalah.
Lalu bagaimana dengan fungsi kedua, kekhalifahan. Laki-laki sebagai khalifah, tema ini sudah selesai. Lalu bagaimana perempuan sebagai khalifah? Pernyataan ini sepintas tidak ada masalah.
Kekhalifahan adalah salah satu doktrin kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam, di samping doktrin
kesetaraannya sebagai hamba Allah SWT, sebagaiman telah disebut di atas.
Masalahnya ada dalam praktik kekhalifahan itu sendiri. Wanita tidak layak dipandang sebagai khalifah atau pemimpin di alam ini. Kekahlifahan merupakan hak esklusif laki-laki.
Isu inilah yang banyak berkembang dari zaman dulu sampai sekarang..
Padahal jika dilihat berdasarkan perspektif Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang memuat tentang khalifah sebagaimana terdapat di dalam buku Faqihuddin Abdul Kadir adalah, Q.S. Al- Baqarah [2]:30, Q.S. Al-Ahzab [33]:72, Q.S. Al-An'am [6]:165, Q.S. Yunus [10]:14 dan Hud [11]:61. Ayat-ayat di atas sama sekali tidak menggunakan nama tertentu (seperti Nabi Adam As atau yang lain), tidak juga jenis kelamin tertentu (Bani Israil, Arab atau yang lain), sebagai
pemegang amanah kemanusiaan dan mandat kekhalifahan dari Allah SWT.
Karena itu ayat-ayat ini harus berlaku umum bagi semua manusia, tanpa membedakan jenis kelamin yang satu dengan yang lain. Kata khalifah dalam Q.S. Al-Baqarah [2]:30 tidak juga merujuk kepada Nabi Adam AS, tetapi kepada manusia secara umum.
Berikut adalah ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa menjadi khalifah adalah tugas dari manusia, tanpa menyebutkan laki-laki atau perempuan :
ضِرَلْأَا فَئِلًاخَ مْكُلَعْجَ يذِلَّا وهُوَ
يفَ مْكَولَبَيلَّ $تِاجَرَد $ضٍعْبَّ قَوفَ مْكُضَّعْبَّ عٍفَرَوَ
Tرَوفْغَلَّ هُنَإِوَ بِاقَعْلَّا عٍيُّرًسْ كَبَّرَ نإِ ۗمْكَاتَّآامِ ۗ Tمْيحِرَ
Artinya : “Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu
tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Terkait dengan ayat ini pandangan Tafsir Klasik berdasarkan Tafsir Jalalayn adalah bahwa “khalifah” artinya adalah penguasa-penguasa yang ada di bumi.
Kata “Khalaif” jamak dari kata Khalifah, yakni berarti : sebagian di antara kamu mengganti sebagian lainnya di dalam masalah kekhalifahan ini. Didalam tafsir ini tidak menjelaskan tentang kepastian apakah laki-laki atau perempuan yang menjadi khalifah. Namun secara umum menyebutkan bahwa ayat ini ditujukan kepada manusia pada umumnya, yang berarti tidak ada pembatasan terkait khalifah tersebut. Berarti laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang
sama unutk menjadi khalifah atau pemimpin yang saling silih berganti.
Sementara itu menurut pandangan Tafsir Nusantara, yaitu Tafsir Al-Misbah bahwa kata فَئِلًاخَ (khala'if) adalah bentuk jamak dari kata ةفْيلَخَ ( khalifah) Kata ini terambil dari kata فَلَخَ (khalf) yang pada mulanya berarti di belakang.
Dari sini kata khalifah sering kali diartikan yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Ini karena kedua makna itu selalu berada atau datang sesudah yang ada atau datang sebelumnya
Setelah memperhatikan konteks ayat- ayat yang menggunakan kedua bentuk jamak itu penulis berkesimpulan bahwa bila kata khulafa' digunakan Al-Qur'ân, maka itu mengesankan adanya makna kekuasaan politik dalam mengelola satu wilayah, sedang bila menggunakan bentuk jamak khalā'if, maka kekuasaan
wilayah tidak termasuk dalam maknanya.
Tidak digunakannya bentuk tunggal untuk makna ini, mengesankan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana, kecuali dengan bantuan dan kerjasama dengan orang lain.
Jadi berdasarkan dua pandangan tafsir diatas, dapat disimpulkan bahwa mengenai kata “khalifah” itu bermakna manusia secara umum tanpa melihat jenis kelamin laki-laki atau perempuan, yang bertugas untuk menggantikan kepemimpinan dari orang yang lama.
Artinya ada potensi juga bagi para kaum perempuan untuk menjadi pemimpin.
c) Kepemimpinan dalam Rumah Tangga Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa perempuan sama halnya dengan laki-laki adalah khalifah Allah di muka bumi, yang memiliki tugas dan kewajiban yang sama.
Tak satu pun ayat Al-Qur’an yang membedakan kekhalifahan laki-laki dan perempuan dalam ruang publik. Namun salah satu hal yang juga menarik untuk dibahas pada isu-isu gender ini adalah posisi perempuan dalam rumah tangga.
Kebanyakan pemahaman bahwasanya perempuan tidak bisa apa-apa didalam rumah tangga selain hanya mengurus urusan sumur, dapur dan kasur.
Pemahaman tersebut tentu tidak sesuai dengan konsep Islam yang mana istri juga seharusnya memiliki hak-hak yang sama dengan suami. Dalam menyikapi hal ini Allah SWT telah memberikan Solusi nya melalui Qs. An- Nisa’ ayat 34. Namun banyak pemahaman yang kurang tepat mengenai ayat ini, sehingga penindasan terhadap perempuan khususnya kasus rumah tangga yakni terhadap istri masih banyak terjadi. Oleh karena itu penulis akan
mencoba untuk membuka pemahaman terkait dengan Qs. An-Nisa’ ayat 34 sebagai berikut :
هُلَلَّا لٍضَّفَ امَبَّ ءًاسَ4نَّلَّا ىٰلَعْ نومِاوقْ لُاجَ4رًلَّا ف ۗمْهَلَّاومِأَنْمِ اوقَفْنَأَ امَبَّوَ $ضٍعْبَّ Dىٰلَعْ مْهَضَّعْبَّ ۚ
Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki- laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka….”.
Dalam ayat tersbut terdapat lafadz نَومُاوقَ yang menurut penulis dari kata inilah dapat dilihat jawaban terhadap isu gender yang mendisrkiminasi perempuan terutama istri. Disini penulis mencoba untuk membuka pandangan terhadap ayat dan kata tersebut berdasarkan Tafsir
Klasik dan Tafsir Nusantara, sama seperti pembahasan ayat pada masalah sebelumnya.
Menurut Tafsir Klasik yaitu Tafsir Jalalayn terkait dengan ayat ini dan khususnya pada arti kata Qawwamun yang sebelum kata itu terdapat kata لاجَرِّلا yang diartikan sebagai suami.
Sedangkan Qawwamun berarti pemimpin yang mempunyai kekuasaan terhadap kaum Wanita (Istri). Diartikan begitu karena diwajibkan kepada laki- laki(suami) untuk mendidik dan membimbing mereka. Karena laki-laki telah diberikan kelebihan daripada perempuan berupa ilmu, akal budi, kekuasaan dan lainnya.
Selanjutnya menurut Tafsir Nusantara yaitu Tafsir Al-Misbah menjelaskan lebih jauh lagi. Kepemimpinan untuk setiap unit merupakan suatu yang mutlak, lebih- lebih bagi setiap keluarga, karena mereka
selalu bersama dan merasa memiliki pasangan dan keluarganya. Persoalan yang dihadapi suami istri, seringkali muncul dari sikap jiwa yang tecermin dalam keceriaan wajah atau cemberutnya, sehingga persesuaian dan perselisihan dapat muncul seketika, tapi boleh jadi juga sirna seketika.
Kondisi seperti ini membutuhkan adanya seorang pemimpin, melebihi kebutuhan satu perusahaan yang bergelut dengan angka-angka, bukan dengan perasaan, serta diikat oleh perjanjian rinci yang dapat diselesaikan melalui pengadilan. Nah, siapakah yang harus memimpin? Allah swt. menetapkan lelakı sebagai pemimpin dengan dua pertimbangan pokok, yaitu:
Pertama, مهضعب هللا لضف امب ضعب ىلع “karena Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain”, yakni masing-masing memiliki
keistimewaan-keistimewaan. Tetapi keistimewaan yang dimiliki lelaki, lebih menunjang tugas kepemimpinan daripada keistimewaan yang dimiliki perempuan.
Di sisi lain keistimewaan yang dimiliki perempuan lebih menunjang tugasnya sebagai pemberi rasa damai dan tenang kepada lelaki serta lebih mendukung fungsinya dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
Kedua, مهلاومُأ نمُ اوقفْنَأ امب
“disebabkan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka”.
Bentuk kata kerja past tense/masa lampau yang digunakan ayat ini "telah menafkahkan", menunjukkan bahwa memberi nafkah kepada wanita telah menjadi suatu kelaziman bagi lelaki, serta kenyataan umum dalam masyarakat umat manusia sejak dahulu hingga kini.
Sedemikian lumrah hal tersebut, sehingga langsung digambarkan dengan bentuk
kata kerja masa lalu yang menunjukkan terjadinya sejak dahulu. Penyebutan konsideran itu oleh ayat ini menunjukkan bahwa kebiasaan lama itu masih berlaku hingga kini.
Nah, dari kedua faktor yang disebut di atas - keistimewaan fisik dan psikis, serta kewajiban memenuhi kebutuhan dan anak-anak lahir hak- hak suami yang harus pula dipenuhi oleh istri. Suami wajib ditaati oleh istrinya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama, serta tidak bertentangan dengan hak pribadi sang istri. Bukan kewajiban taat secara mutlak.
Jangankan terhadap suami, terhadap ibu bapak pun kebaktian kepada mereka tidak boleh mencabut hak-hak pribadi seorang anak. Pakar tafsir Rasyid Ridha menulis makna bakti kepada orang tua bahwa, "Tidak termasuk sedikit pun dalam kewajiban berbuat baik/berbakti
kepada keduanya sesuatu yang mencabut kemerdekaan dan kebebasan pribadi atau rumah tangga atau jenis-jenis pekerjaan yang bersangkut paut dengan pribadi anak, agama atau negaranya."
Perlu digarisbawahi bahwa kepemimpinan yang dianugerhakan Allah kepada suamı, tidak boleh mengantarnya kepada kesewenang-wenangan. Agaknya untuk masa kini, dan di kalangan keluarga terpelajar, pemukulan bukan lagi satu cara yang tepat, karena itu tulis Muhammad Thâhir Ibn 'Asyûr, "Pemerintah jika mengetahui bahwa suami tidak dapat menempatkan sanksi-sanksi agama ini di tempatnya yang semestinya, dan tidak mengetahui batas-batas yang wajar, maka dibenarkan bagi pemerintah, untuk menghentikan sanksi ini dan mengumumkan bahwa siapa yang memukul istrinya, maka dia akan dijatuhi hukuman. Ini agar tidak berkembang luas
tindakan-tindakan yang merugikan istri, khususnya di kalangan mereka yang tidak memiliki moral."
C. Kesimpulan
Gender adalah pandangan jenis kelamin sosial masyakarat yang melakat pada diri manusia. Bukan berdasarkan pada jenis kelamin biologis. Pandangan gender ini dilihat dari sifat yang ada pada manusia, yaitu sifat maskulin dan feminin. Kedua sifat tersebut memiliki potensi untuk dimiliki oleh manusia. Terkait dengan gender maka timbul permasalahan salah satunya adalah isu-isu tentang gender. Isu-isu gender adalah berbagai macam permasalahan terkait dengan adanya ketidakseteraan gender antara laki-laki dan perempuan..
Dalam menjawab kasus gender ini, Al-Qur’an dapat dijadikan sumber rujukan. Allah SWT telah menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara laki- laki dan perempuan kecuali dalam hal takwa. Dalam hal penciptaan berasal dari jenis yang sama yaitu
unsur tanah dan dalam hal kepemimpinan perempuan berhak atasnya. Jadi tidak perbedaan perlakuan antara keduanya, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan wewenang yang sama dalam sendi-sendi kehidupan.
Daftar Pustaka
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat . Bandung : Mizan, 1998.
Azhari Akmal Tarigan, Jati Diri HMI Wati:
Menggagas Nilai-nilai Dasar Kohati (NDK). Medan: CV.
Merdeka Kreasi Group, 2021.
Rabina Yunus, Analisis Gender Terhadap Fenomena Sosial. Makassar : Humanities Genius, 2022.
Alfian Rokhmansyah, Pengantar Gender dan Feminisme. Yogyakarta : Garudhawaca, 2016.
Muftihaturrahmah Burhamzah Alamsyah, Kesetaraan Gender di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : CV. Ananta Vidya, 2023.