• Tidak ada hasil yang ditemukan

ITIKAD BAIK PELAKU USAHA TERHADAP PERDAGANGAN EKSPORT IMPORT BARANG ELEKTRONIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ITIKAD BAIK PELAKU USAHA TERHADAP PERDAGANGAN EKSPORT IMPORT BARANG ELEKTRONIK"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

National Conference on Social Science and Religion (NCSSR 2022)

945

ITIKAD BAIK PELAKU USAHA TERHADAP PERDAGANGAN EKSPORT IMPORT BARANG

ELEKTRONIK

Hendrik Yoneska

Pascasarjana Magister Ilmu Hukum, Universitas Lancang Kuning, Indonesia Email: [email protected]

Abstract: The purpose of the study is to analyze the legal consequences of business actors on the export-import trade of electronic goods. The type of research used in this research is qualitative legal research.

Based on the results of the research that there are still many people who do not understand the legal consequences arising from the purchase of electronic goods such as illegal cell phones or the black market. The obvious type of loss is the potential loss to tax revenue from the sale of the cell phone. Business actors are responsible for the products they sell so that they do not harm consumers and also the state in terms of taxes.

Customs and Excise must work extra on export-import trade, especially black market goods and in accordance with Customs legislation.

Keywords: Good Faith, Business Actors, Export Import.

Abstrak: Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa akibat hukum pelaku usaha terhadap perdagangan eksport import barang elektronik.

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian bahwa masih banyak masyarakat yang tidak memahami akibat hukum yang timbul atas pembelian barang elektronik seperti Telepon Seluler ilegal atau black market tersebut. Jenis kerugian yang nyata adalah potensi kerugian terhadap penerimaan pajak dari penjualan telepon seluler tersebut.

Pelaku usaha bertanggungjawab terhadap prodak yang dijual sehingga tidak merugikan konsumen dan juga negara dari segi pajak. Bea dan Cukai harus bekerja ekstra terhadap perdagangan eksport import terutama barang black market dan sesuai dengan peraturan perundang- undangan Kepabeanan.

Kata Kunci: Itikad Baik, Pelaku Usaha, Eksport Import

Pendahuluan

Pasal 1338 KUHPerdata menyebutkan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Ketidakpastian hukum dalam kontrak yang perselisihannya bermuara pada keberadaan itikad baik dalam kontrak.

(2)

National Conference on Social Science and Religion (NCSSR 2022)

946 Menurut Prof. Subekti menyimpulkan bahwa dari ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata tersebut dikandung suatu asas kebebasan dalam membuat perjanjian (kebebasan berkontrak). Disebutkan perkataan “semua” mengandung pengertian tentang diperbolehkannya membuat suatu perjanjian apa saja (asalkan dibuat secara sah) dan perjanjian itu akan mengikat mereka yang membuatnya, seperti undang-undang, sedangkan Pasal-Pasal lainnya dari hukum perjanjian hanya berlaku bila atau sekadar tidak diatur atau tidak terdapat dalam perjanjian yang dibuat itu (Subekti, 1984).

Maraknya penjualan barang-barang elektronik dan tingginya minat masyarakat terhadap salah satu barang elektronik yaitu penggunaan Telepon Seluler memiliki dampak positif dari aspek ekonomi, namun juga akan berdampak negatif dari aspek hukum.

Barang elektronik terutama seperti handphone seluler menjadikan proses produksi hingga proses distribusi alat tersebut tidak lagi melalui proses yang baik dan legal secara hukum. Bukti konkret dampak negatif tersebut adalah meningkatnya peredaran Telepon Seluler illegal atau black market di masyarakat (Dimas Ryandi, diakses 09 Juni 2019). Peredaran ponsel illegal atau black market itu dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai solusi atas mahalnya produk-produk Telepon Seluler legal yang dikeluarkan oleh gerai distributor resmi.

Untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, Indonesia harus mengembangkan teknologi, akses pasar, keterkaitan strategis antara produsen dan konsumen yang diharapkan dapat meningkatkan produktifitas dan daya saing. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggerakkan mobilitas pasar melalui transaksi alat komunikasi khususnya handphone.

Banyak masyarakat yang tidak memahami akibat hukum yang timbul atas pembelian barang elektronik seperti Telepon Seluler ilegal atau black market tersebut.

Jenis kerugian yang nyata adalah potensi kerugian terhadap penerimaan pajak dari penjualan telepon seluler tersebut. Mahkamah Agung dalam Putusan perkara Nomor: 527 k/Pdt/2006 secara gamblang menggunakan istilah black market untuk menyebutkan suatu bentuk perdagangan yang tidak resmi.

Karena Telepon seluler termasuk produk telekomunikasi dan elektronik sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor:

19/MDAG/PER/5/2009. Menurut ketentuan Pasal 2 Ayat (1) Permendag 19/MDAG/PER/5/2009 yang menyebutkan bahwa

‘setiap produk telekomunikasi dan elektronik yang diproduksi dan/atau diimpor untuk diperdagangkan di pasar dalam negeri wajib dilengkapi dengan petunjuk pengguna dan kartu jaminan (garansi purna jual) dalam Bahasa Indonesia”.

Berdasarkan pengamatan kemajuan barang-barang elektronik terutama yang berkaitan dengan teknologi yaitu handphone dewasa ini, telah menempatkan handphone sebagai perangkat komunikasi yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat masa kini bahkan sudah menjadi gaya hidup mereka, oleh sebab itu penjualan dan peredaran handphone membuahkan hasil yang signifikan dari tahun ke tahun dan mengalami peningkatan yang cukup besar. Salah satunya dapat dibuktikan dengan handphone yang dimiliki sebagian besar masyarakat.

Besarnya daya serap pasar terhadap handphone di Indonesia, telah memberikan banyak kesempatan bagi para distributor handphone untuk saling bersaing menyalurkan dan memasarkan handphone yang telah diproduksi oleh para produsen kepada masyarakat. Tentu saja hal ini telah menciptakan suatu persaingan yang tinggi bagi para distributor handphone, sehingga bagi para distributor yang tak mampu bersaing secara sehat melakukan pendistribusian handphone secara ilegal, seperti mendistribusikan handphone dengan cara menghindari pajak.

(3)

National Conference on Social Science and Religion (NCSSR 2022)

947 Menurut Riduan Syahrani berpendapat bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak yang tertuang dalam bentuk kontrak tertulis masihlah sebagai janji-janji yang terbuka kemungkinan tidak terlaksana. Atas kemungkinan tidak terlaksananya janji-janji para pihak inilah dituntut adanya itikad baik dari para pihak.

Wirjono Prodjodikoro dan Subekti, menerjemahkan itikad baik (te goeder trouw) sebagai “kejujuran” dari pihak-pihak yang mengikatkan diri dalam kontrak. Itikad baik tersebut dibedakan menjadi dua macam, yaitu: itikad baik pada waktu akan mengadakan hubungan hukum atau perjanjian dan itikad baik pada waktu melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang timbul dari hubungan hukum tersebut. Martijn Hasselin menyebutkan semua itikad baik yang bersifat objektif mengacu kepada konsep normatif.

Itikad baik sebagai norma terbuka (open norm), yakni suatu norma yang isinya tidak dapat ditetapkan secara abstrak, tetapi ditetapkan melalui kongkretisasi kasus demi kasus dengan memperhatikan kondisi yang ada.

Hal ini sangat menarik dikaji karena pelaku usaha juga merugikan dari pada distributor lainnya dan juga merugikan konsumen walau pada dasarnya konsumen disisi lain diuntungkan, namun pelaku usaha bermain curang dan tidak melaksanakan prestasinya, disinilah implementasi asas itikad baik menjadi acuan dalam pelaksanaan prestasi terhadap penjualan barang elektonik eskport import.

Dari latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang diambil yaitu Bagaimana akibat hukum pelaku usaha yang tidak melaksanakan itikat baik dalam perdagangan eksport import barang elektronik? Bagaimana tanggungjawab pelaku usaha yang tidak melaksanakan itikat baik dalam perdagangan eksport import barang elektronik?

Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis bersifat Sosiologis.Metode kualitatif penelitian yang analisis datanya mengutamakan tentang penjabaran data yang diperoleh. Istilah penelitian kualitatif dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya adalah, penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang. Di samping itu juga bisa mengkaji tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik.

Sebagian datanya dapat dihitung sebagaimana data sensus, namun analisisnya bersifat kualitatif. Pada dasarnya ada tiga unsur utama dalam penelitian kualitatif, yaitu Data, bisa berasal dari bermacam-macam sumber, biasanya dari wawancara dan pengamata, Prosedur analisis dan interpretasi yang digunakan untuk mendapatkan temuan atau teori, kemudian berdasarkan laporan tertulis dan lisan.

Hasil dan Pembahasan

1.

Akibat hukum pelaku usaha yang tidak melaksanakan itikat baik dalam perdagangan eksport import barang elektronik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan asas adalah hukum dasar atau dasar dari sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir dan berpendapat atau cita-cita. Pada bagian lain disebutkan bahwa pengertian asas sama dengan pengertian principle dalam Bahasa Inggris, atau pengertian leer dalam Bahasa Belanda dimana keduanya mempunyai arti sebagai teori atau ajaran pokok. Di dalam kamus ilmiah asas diterjemahkan sebagai pokok, dasar dan fundamen.

Asas hukum dapat diartikan sebagai suatu hal yang dianggap oleh masyarakat hukum yang bersangkutan sebagai basic truth atau kebenaran asasi, sebab melalui asasasas hukum itulah pertimbangan etis dan sosial masyarakat masuk ke dalam hukum.

Sehingga asas hukum menjadi semacam sumber untuk menghidupi tata hukumnya

(4)

National Conference on Social Science and Religion (NCSSR 2022)

948 dengan nilai-nilai etis, moral dan sosial masyarakatnya.

Itikad baik diatur di dalam Pasal 1338 KUH Perdata, yang mana di dalam pasal ini disebutkan bahwa kesepakatan harus dilaksanakan dengan itikad baik dari para pihak.

Asas itikad baik ini kemudian juga disebutkan dalam Pasal 7 huruf a Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang menyebutkan secara spesifik bahwa pelaku usaha berkewajiban untuk beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. Dalam pergaulan di tengah masyarakat, banyak terjadi hubungan hukum yang muncul sebagai akibat adanya tindakan-tindakan hukum dari subyek hukum itu. Tindakan hukum ini merupakan awal lahirnya hubungan hukum (rechtsbetrekking), yakni interaksi antar subyek hukum yang memiliki relevansi hukum atau mempunyai akibat-akibat hukum. Hukum diciptakan sebagai suatu sarana atau instrumen untuk mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban subyek hukum.

Asas hukum bukanlah kaedah hukum yang konkrit, melainkan merupakan latar belakang peraturan yang konkrit dan bersifat umum atau abstrak. Hukum perjanjian dalam KUHPerdata menganut beberapa asas yang terkandung di dalamnya, antara lain:

a. Asas Konsensualisme

Istilah konsensualisme berasal dari kata latin consensus yang berarti sepakat. Asas konsensualisme berhubungan dengan saat lahirnya suatu perjanjian. Asas ini tersirat dalam ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur tentang syarat-syarat sahnya perjanjian yaitu kesepakatan, kecakapan para pihak, suatu hal tertentu dan sebab yang halal. Asas konsensualisme mempunyai arti yang terpenting yaitu bahwa untuk melahirkan suatu perjanjian cukup dengan adanya kesepakatan diantara para pihak mengenai hal-hal pokok dari perjanjian tersebut. Dengan kata lain perjanjian sudah dilahirkan pada saat atau detik tercapainya consensus atau kesepakatan dan tidaklah disyaratkan suatu formalitas tertentu.

Konsensual artinya perjanjian itu terjadi atau ada sejak terjadinya kata sepakat antata para pihak, dapat diartikan bahwa perjanjian tersebut sah dan mempunyai akibat hukum sejak terjadinya kesepakatan antarapara pihak mengenai isi dari perjinjian yang dimaksudkan.

b. Asas Kebebasan Berkontrak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan asas adalah hukum dasar atau dasar dari sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir dan berpendapat atau cita-cita. Asas kebebasan berkontrak di dalam pustakapustaka yang berbahasa Inggris dituangkan dengan istilah “Freedom of Contract” atau “Liberty of Contract” atau “Party Autonomy.” Istilah pertama yang umum dipakai daripada yang kedua dan ketiga. Asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang universal sifatnya, artinya dianut oleh hukum perjanjian di semua negara pada umumnya.

Asas kebebasan berkontrak ini dapat ditemukan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya.” Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata tersebut berkaitan dengan penjabaran dari asas kebebasan berkontrak dari kata “semua”

tersimpul kebebasan untuk:

1) Bebas untuk membuat perjanjian atau tidak membuat perjanjian;

2) Bebas untuk membuat perjanjian dengan siapapun;

3) Bebas mengatur bentuk perjanjian yang dibuatnya;

4) Bebas mengatur isi dan syarat perjanjian yang dibuatnya;

5) Bebas mengadakan pilihan hukum.

c. Asas Pacta Sunt Servanda

Asas Pacta Sunt Servada berkaitan dengan akibat dari kontrak, yaitu asas yang berhubungan dengan mengikatnya suatu kontrak. Dimana menurut Pasal 1338

(5)

National Conference on Social Science and Religion (NCSSR 2022)

949 KUHPerdata menegaskan kekuatan mengikatnya kontrak laksana undang undang dan suatu kontrak tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang undang dinyatakan cukup untuk itu. Pokok pikiran yang melandasi ketentuan pasal 1338 KUHPerdata, menurut Ridwan Khairandy adalah bahwa dengan adanya konsensus para phak, timbul kekuataan mengikat kontrak sebagaimana layaknya undang-undang.

Berdasarkan hal tersebut penerapan itikad baik sangat penting dalam pemenuhan hak dan kewajiban yang dilakukan oleh pelaku usaha dan pembeli dalam transaksi ini karena transaksi ini tidak dilakukan dengan bertemu langsung.

Itikad yang baik dalam pengertian subyektif dapat diartikan sebagai seseorang yang ada pada waktu diadakannya perbuatan hukum. Sedangkan itikad baik d:lrn.

pengertian obyektif yaitu bah,,va pelaksanaa:r suatuperjanjian itu harus didasarkan pada nornla kepatutan atau apa yang dirasa sesuai densan kepatutan daiam masyarakat.

d. Asas Kepercayaan (vettrotrwensbeginsel).

Seseorang yang mengadakan perjanjian clengan pihak lain, menumbuhkan kepercayaan diantara kedua pihak itu bahwa satu sama lain akan memegang janjinya, dengan kata lain akan memenuhi prestasinya di belakang hari. Adanya kepercayaan antara para pihak, maka dengan sendirinya para pihak saling mengikatkan dirinya dalam suatu perbuatan lukum.

e. Asas Kekuatan Mengikat (Asas Pucta Servanda)

Terikatnya paru pihak pacla perjan-jian itu tidak semata-mata terbatas pada apa ) ang diperjanjikan, akan tetapi juga beberapa Lrlrsur lain sepanjang dikehendahi oieh kebiasaan dan kepatutan sefta moral. Asas Kekuatan \lengikat (Asas Puctct Sunt Servancla) dapat ditermkan di dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata 1'aitu: "setiap perjanjian yang dibuat secara sah berl:rku sebagai undangundang bagi mereka vang membuatnya".

f. Asas Kepastian Hukum

Adanya asas pucta Sunt Servanda dimana akan menciptakan kekuatan mengikat antara pihak yang melakukan perjaijian yaitu melaksanakan kewajiban masing-masing untuk memperoleh hak sebagai konsekwensinya.

g. Asas Keseimbangan

Asas. ini menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian yaitu melaksanakan - kewajiban untuk memperoleh hak sebagai konsekwensi Pertama akan melakukan prestasi untuk pihak kedua' dan pihak pertama akan mendapatkan hal.

dari pihak tedua, demikian sebaliknya.

2. Tanggung jawab Pelaku usaha yang tidak melaksanakan itikat baik dalam perdagangan eksport import barang elektronik

Peredaran handphone black market juga berkaitan dengan kegiatan ekspor dan impor barang, hal ini dapat di tinjau dari status barang yang tidak memiliki izin Bea dan Cukai. Handphone black market biasanya didapat dari Negara tetangga lalu masuk ke Negara Indonesia tanpa melalui jalur resmi atau dapat dikatakan penyelundupan barang dengan status tidak resmi (Illegal). Masalah perizinan terhadap status barang handphone black market tersebut menjadi permasalahan hukum yang berkaitan dengan Undang- Undang No 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.

Pada kenyataannya memang sudah adanya pengawasan secara langsung oleh Departmen Perdagangan, tetapi tetap saja barang blackmarket atau telepon seluler replika tersebut lolos dari pengawasan Departmen Perdagangan, padahal itu semua mempunyai suatu tujuan yaitu untuk untuk melindungi dan menguntungkan konsumen.

Apabila nantinya ditemukan adanya kerugian yang dialami oleh konsumen sebagai

(6)

National Conference on Social Science and Religion (NCSSR 2022)

950 akibat penggunaan produk barang replika tersebut yang berupa kerugian materi, maka akan didasarkan pada tuntutan ganti kerugian berdasarkan perbuatan melanggar hukum.

Kewajiban pelaku usaha juga sangat berkorelasicdengan larangan dan tanggung jawab pelaku usaha. Pelaku usaha bertanggungjawab secara hukum atas segala kesalahan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut Pelaku usaha dapat dituntut secara hukum atas setiap kelalaiannya dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan peraturan perundang-undangan.

Setiap pelaku usaha harus bertanggung jawab atas produk yang dihasilkan atau diperdagangkannya. Tanggungjawab pelaku usaha ini timbul dikarenakan kerugian yang dialami konsumen. Penyebabnya bisa dikarenakan kurangnya kecermatan dalam memproduksi, tidak sesuai yang diperjanjikan, atau kesalahan yang dilakukan oleh pelaku usaha. Tanggung jawab pelaku usaha ini diatur dalam UU PK Pasal 19 hingga Pasal 28. Berdasarkan ketentuan UU PK tersebut, bukan hanya pelaku usaha yang bertanggung jawab terhadap barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan saja tetapi termasuk juga importer.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis antara lain adalah: Azaz itikad baik berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata menjadi penting didalam pembuatan suatu perjanjian jual beli barang perdagangan eksport import. Asas itikad baik memiliki peranan yang sangat penting (fundamental) didalam pembuatan suatu perjanjian, termasuk didalam perjanjian jual beli. Adapun akibat hukum dari adanya itikad yang tidak baik didalam perjanjian jual beli dalam perdagangan eksport import dapat berakibat dituntutnya pihak yang beritikad tidak baik tersebut tidak hanya secara perdata namun dapat juga dibawa keranah hukum pidana.

Daftar Pustaka

[1] Riduan Syahrani,

Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata,

(Bandung:Alumni, 2000), hlm. 259

[2] Ridwan Khairandy, Itikad Baik, Op cit, hal.34-35

[3] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hlm. 52.

[4]

Ibid., hlm. 817.

[5] Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya:

Aroka, 1994), hlm.48

[6] Johannes Ibrahim, Cross Default & Cross Collateral dalam “Upaya

Penyelesaian Kredit Bermasalah”, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2004),

hlm. 12.

[7] Ridwan HR,

Hukum Administrasi Negara, (Yogyakarta: UII Press, 2002),

hlm. 210

[8] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, op. cit, hlm. 52.

[9] Sutan Remy Sjahdeini, op. cit.,hlm. 18

[10] Ahmadi Miru.

Prinsip-prinsip Perlindungan hukum Bagi Konsumen di Indonesia. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Husada, 2011), hlm. 71.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk algoritma yang rumit jarang bisa Apakah kita selalu bisa menentukan. persamaan T(n)

In advancing a praxis-agenda for urban public theology, the authors subsequently identify the following, albeit not exhaustive, themes: southern urbanisms and the factor of