• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pancasila dalam Era Revolusi Industri 4.0

N/A
N/A
Marshanda Citra

Academic year: 2024

Membagikan "Pancasila dalam Era Revolusi Industri 4.0"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1. A.moif

B. tantangan dan penguatan ideologi Pancasila dalam menghadapi revolusi industri 4.0 ialah (1) Membumikan Pancasila dalam perkembangan revolusi 4.0. dengan cara, meningkatkan Pemahaman Pancasila, mengurangi eksklusivisme sosial, mengurangi kesenjangan sosial, meningkatkan wawasan Pancasila bagi penyelenggara Negara serta menjadikan Pancasila sebagai keteladanan dalam menghadapi revolusi industri 4.0,

(2) Penguatan Pancasila dalam menghadapi revolusi industri 4.0 adalah dengan meningkatkan Sumber daya manusia Indonesia yang unggul sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,

(3) Mempertahankan eksistensi Pancasila sebagai Ideologi Negara Indonesia. Hal ini dilakukan agar dasar pemikiran dan cita-cita bangsa akan terus diperjuangkan

2. A. Faktor Internal, merupakan faktor pendorong korupsi yang berasal dari dalam diri setiap individu. Faktor internal dapat diperinci menjadi:

a) Sifat tamak/rakus manusia

Sifat tamak merupakan sifat yang berasal dari dalam diri setiap individu. Hal itu terjadi ketika seseorang mempunyai hasrat besar untuk memperkaya diri dan tidak pernah merasa puas terhadap apa yang telah dimiliki

b) Gaya hidup konsumtif

Pada era-modern ini, terutama kehidupan dikota- kota besar merupakan hal yang sering mendorong terjadinya gaya hidup konsumtif. Oleh karena itu, apabila Perilaku konsumtif tidak di imbangi dengan pendapatan yang memadai,maka hal tersebut akan membuka peluang seseorang untuk melakukan berbagai tindakan demi memenuhi hajatnya. Salah satu kemungkinan tindakan itu adalah dengan korupsi.

c) Moral yang kurang kuat

Seseorang yang mempunyai moral lemah cenderung mudah tergoda untuk melakukan tindakan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahan, atau pihak lain yang memberi kesempatan untuk melakukan korupsi.

Faktor Eksternal, merupakan faktor pemicu terjadinya tindakan korupsi yang berasal dari luar diri pelaku. Faktor eksternal dapat dibagi menjadi empat, yaitu:

a. Faktor Politik

(2)

Politik merupakan salah satu sarana untuk melakukan korupsi. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi intrabilitas politik atau ketika politisi mempunyai hasrat untuk mempertahankan kekuasaannya.

b. Faktor Hukum

Hukum bisa menjadi faktor terjadinya korupsi dilihat dari dua sisi, disatu sisi dari aspek perundang – undangan, dan disisi lain dari lemahnya penegak hukum. Hal lain yang menjadikan hukum sebagai sarana korupsi adalah tidak baiknya substansi hukum, mudah ditemukan aturan – aturan yang diskrimatif dan tidak adil, rumusan yang tidak jelas dan tegas sehingga menumbulkan multi tafsir, serta terjadinya kontradiksi dan overlapping dengan aturan lain.

c. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi juga merupakan salah satu penyebab terjadinya korupsi. Hal itu dapat dilihat ketika tingkat pendapat atau gaji yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya, maka seseorang akan mudah untuk melakukan tindakan korupsi demi terpenuhinya semua kebutuhan.

d. Faktor Organisasi

Organisasi dalam hal ini adalah organisasi dalam arti yang luas, tidak hanya organisasi yang ada dalam suatu lembaga, tetapi juga sistem pengorganisasian yang ada didalam lingkungan masyarakat.

B. Pengadilan dinilai belum memberikan efek jera terhadap saat menjatuhkan hukuman kepada pelaku korupsi yang merugikan keuangan negara, sehingga budaya korupsi masih terus terjadi di Indonesia. upaya pemberantasan korupsi, terutama yang dilakukan KPK, tentu tidak berhasil jika hanya menggunakan indikator pengembalian kerugian negara dan efek jera. Hukuman yang diancamkan kepada koruptor harus melebihi keuntungan yang diperolehnya dari hasil korupsi agar mereka jera. melanjutkan, UU Tipikor, UU No.31/1999 yang diperbarui denganUU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak PidanaKorupsi (Tipikor), memang telah memasukkan hukuman matisebagai salah satu opsi bentuk hukuman bagi koruptor. Namunsecara praksis, sampai hari ini, belum satu koruptor pun yangdiputus hukuman mati di negeri ini.

Putusan yang kerap dijatuhkanoleh hakim adalah hukuman penjara dan ganti rugi/denda.membuka peluang untuk memberi tambahan hukuman berupa uang pengganti sebesar jumlah korupsi yang diperoleh. Ditegaskan kembali, metode sanksi moneter seperti denda

(3)

dinaikkan dan maksimalisasi uang pengganti adalah cara efektif, disamping tetap melakukan pemenjaraan

3. Hal-hal penting yang sangat urgen bagi pengembangan Pancasila sebagai sistem etika meliputi hal-hal sebagai berikut.

a. Pertama, meletakkan sila-sila Pancasila sebagai sistem etika berarti menempatkan Pancasila sebagai sumber moral dan inspirasi bagi penentu sikap, tindakan, dan keputusan yang diambil setiap warga Negara

b. Kedua, Pancasila sebagai sistem etika memberi guidance bagi setiap warga negara sehingga memiliki orientasi yang jelas dalam tata pergaulan baik lokal, nasional, regional, maupun internasional.

c. Ketiga, Pancasila sebagai sistem etika dapat menjadi dasar analisis bagi berbagai kebijakan yang dibuat oleh penyelenggara negara sehingga tidak keluar dari semangat negara 212 kebangsaan yang berjiwa Pancasilais.

d. Keempat, Pancasila sebagai sistem etika dapat menjadi filter untuk menyaring pluralitas nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sebagai dampak globalisasi yang memengaruhi pemikiran warga negara.

4. A. Beberapa contoh tentang perumusan Pancasila sebagai karakter keilmuan Indonesia yaitu di sisi ilmu itu sendiri, pancasila sudah mencakup dari semua segi aspek kehidupan , mulai dari sila pertama yang mencakup segi ketuhanan dalam menuntut ilmu yaitu dalam menuntut ilmu utamakan lah ilmu yang bermanfaat dan bisa dibagi dan diberikan kepada orang lain, sampai keadilan sosisal yang mengajarkan kita menuntut ilmu dengan seadil-adilnya dan saya artikan , dalam menunttut ilmu juga harus adil , yaitu dalam menuntut ilmu , jangan hanya satu ilmu yang dipelajari , juga harus menguasai ilmu yang lain , dalam penguasaan ilmu, jangan hanya ilmu di dunia, tapi kuasai juga ilmu sebagai bekal di akhirat. Di segi penuntut ilmu, sebagai penuntut akan ilmu, dalam pancasila juga diajarkan harus adanya sifat kemanusia’an yang terdapat pada sila ke dua , yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab , sebagai penuntut kita harus mengedepankan sisi kemanusiaan dalam mencari ilmu, maksudnya , jangan memaksakan suatu ilmu hingga mengorbankan orang lain dalam mencapai tujuan tsb

B. lnhyu 5. A

(4)

5.b. b. Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan.

Pragmatisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak (tetap). Suatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat.3 Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibatakibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.4 Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.

Dasar pijakan pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyatamerupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Nama lain aliran pragmatisme adalahinstrumentalisme dan eksperimentalisme.

Penerapan filsafat pragmatisme dalam pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi didalam masyarakat.

5.c.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan utama dari Kemenristekdikti mempersiapkan program pendidikan tinggi menghadapi globalisasi pendidikan dan revolusi industri 4 antara lain: (1) mempersiapkan

Begitu banyak tantangan yang ada di era revolusi industri 4.0 saat ini menuntut guru BK untuk selalu mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan dalam

Tetapi lambat laun peristiwa- peristiwa yang telah dilalui dalam catatan sejarah bangsa Indonesia ditepis dengan mantap oleh Ideologi Pancasila dengan ditandainya Ideologi

Jurnal Pendidikan Tambusai 10984 Analisis Penerapan Nilai-Nilai Pancasila di Era Revolusi Industri 4.0 untuk Menghindari Degradasi Moral Bangsa Indonesia Dianisa Wahyuni1, Dinie

Dokumen ini membahas peran Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Revolusi Industri

Dokumen ini membahas isu-isu utama yang dihadapi manajemen SDM pasca Revolusi Industri 4.0, termasuk kesenjangan keterampilan, perubahan paradigma kerja, dan kebutuhan akan kepemimpinan yang

Dokumen ini membahas tentang pengaruh kapitalisme media dan komunikasi politik di era Revolusi Industri 4.0 terhadap industri kerajinan cenderamata di

Dokumen ini membahas perkembangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) dari Era Revolusi Industri hingga Era Manajemen, bao gồm các khái niệm, teori, dan perkembangan alat