MAKALAH PERENCANAAN JEMBATAN
SURVEY KONTRUKSI JEMBATAN SALO MINANGAE II KEC. BACUKIKI KOTA PARE PARE
Dosen pengampuh : Hamkah Wakkang, ST ., MT.
Di susun oleh :
SRI WAHYUNI 222190094
M. ICHWAL 222190097
HASDULI 222190092
NUR ADZAN 222190090
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah Nya lah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Tak lupa pula salam dan taslim tak henti- hentinya kita haturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Nabi pembawa obor keselamatan dunia wal akherat. Amin
Adapun judul dari laporan ini adalah “ SURVEY JEMBATAN S. SALO MINANGAE II KEC. BACUKIKI KOTA PARE PARE” Kendala yang dihadapi penulis dalam melakukan Penulisan dan Penyusun makalah ini dapat dilewati berkat kerja sama tim dalam kelompok, sehingga dapat selesai pada waktunya.
Parepare, 16 Mei 2025
penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...1
BAB 1... 3
PENDAHULUAN... 3
A. Latar Belakang...3
B. Rumusan Masalah... 3
C. Tujuan...3
BAB 2... 4
PEMBAHASAN...4
A. Profil Jembatan Salo Minangae ll Kec. Bacukiki Pare Pare...4
B. Kelebihan dan kekurangan jembatan beton dibandingkan dengan jenis jembatan lainnya....6
C. Proses perencanaan dan konstruksi jembatan beton dilakukan secara teknis...7
BAB 3... 8
PENUTUP...8
A. Kesimpulan... 8
B. Saran...8
DAFTAR PUSTAKA...9
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar BelakangJembatan merupakan salah satu infrastruktur penting dalam sistem transportasi yang berfungsi menghubungkan dua tempat yang terpisah oleh rintangan seperti sungai, jurang, atau jalan raya lainnya. Dalam perkembangannya, jembatan mengalami berbagai inovasi baik dari segi desain, material, maupun teknologi konstruksinya. Salah satu jenis jembatan yang paling banyak digunakan saat ini adalah jembatan beton.
Penggunaan beton sebagai material utama dalam pembangunan jembatan didasarkan pada keunggulannya yang memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan, tahan lama, serta relatif mudah didapat dan dibentuk sesuai kebutuhan desain. Beton juga memiliki ketahanan yang baik terhadap cuaca dan korosi, terutama jika dibandingkan dengan material logam. Dengan kemajuan teknologi konstruksi, kini banyak jenis beton yang dikembangkan untuk kebutuhan spesifik, seperti beton bertulang, beton pratekan, hingga beton mutu tinggi yang memungkinkan pembangunan jembatan dengan bentang lebih panjang dan daya dukung yang lebih besar.
Meskipun demikian, pembangunan jembatan beton juga memiliki tantangan tersendiri, seperti beban struktur yang cukup berat, waktu pengerasan yang relatif lama, serta kebutuhan akan perencanaan struktural yang matang untuk menjamin keamanan dan keandalan jembatan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai karakteristik beton, teknik perancangan, serta metode konstruksi yang tepat sangat diperlukan dalam pembangunan jembatan beton.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Jembatan Beton & Profil Lokasi Survey Jembatan?
2. Apa kelebihan dan kekurangan jembatan beton dibandingkan dengan jenis jembatan lainnya?
3. Bagaimana proses perencanaan dan konstruksi jembatan beton dilakukan secara teknis?
C. Tujuan
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Profil Jembatan Salo Minangae ll Kec. Bacukiki Pare Pare
Jembatan Salo Minangae II terletak di Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, tepatnya pada titik KM 154+250. Jembatan ini berada di bawah pengelolaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Berdasarkan data teknis, jembatan ini memiliki dua bentang dengan total panjang 6,3 meter. Dibangun pada tahun 2001, jembatan ini menggunakan tipe bangunan atas BTP atau Beton Tipe Pelat, yang umum digunakan untuk jembatan dengan bentang pendek hingga sedang.
Jembatan ini terdaftar secara resmi dengan nomor identifikasi 54.003.002.0. Dalam kegiatan pemeliharaan atau rehabilitasi, tercatat bahwa pelaksanaan pekerjaan pernah dilakukan oleh J.S. Sumpang Minangae 2 pada tahun anggaran 2016. Keberadaan jembatan ini memainkan peran penting dalam menunjang konektivitas lokal serta mendukung aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Pengertian Jembatan
Jembatan adalah suatu struktur bangunan yang dirancang untuk menghubungkan dua titik yang terpisah oleh rintangan fisik seperti sungai, jurang, lembah, atau jalan lain, dengan tujuan utama memberikan jalur lintasan bagi kendaraan, pejalan kaki, atau bahkan kereta api. Secara fungsional, jembatan berperan penting dalam sistem transportasi karena mempermudah arus lalu lintas dan memperpendek jarak tempuh antarwilayah.
Dalam konteks teknik sipil, jembatan merupakan struktur yang harus dirancang secara cermat untuk dapat menahan beban yang bekerja di atasnya, baik itu beban mati (berat sendiri struktur), beban hidup (kendaraan dan pengguna), maupun beban lingkungan seperti angin, gempa, dan banjir. Oleh karena itu, desain dan konstruksi jembatan sangat memperhatikan aspek kekuatan, stabilitas, durabilitas, dan keamanan.
Berdasarkan bahan bangunannya, jembatan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, seperti jembatan beton, jembatan baja, dan jembatan kayu. Sedangkan berdasarkan bentuk dan cara kerjanya, jembatan bisa berupa jembatan pelat, jembatan lengkung, jembatan gantung, atau jembatan rangka. Salah satu jenis yang paling banyak digunakan saat ini adalah jembatan beton,
jembatan gantung. Salah satu keunggulan utamanya terletak pada ketahanan dan durabilitasnya yang tinggi. Beton tidak mudah mengalami korosi atau pelapukan seperti baja dan kayu, sehingga umur pakainya cenderung lebih panjang dan biaya pemeliharaannya lebih rendah. Dari segi kekuatan, beton juga mampu menahan beban lalu lintas berat dan cocok digunakan untuk jembatan dengan bentang pendek hingga menengah. Material pembentuk beton seperti pasir, semen, dan kerikil pun mudah ditemukan secara lokal, sehingga dapat mengurangi biaya pengadaan dan logistik dalam proses konstruksi. Selain itu, beton memiliki sifat tahan api dan tidak mudah terbakar, menjadikannya material yang aman untuk digunakan dalam berbagai kondisi lingkungan.
Namun di sisi lain, jembatan beton juga memiliki kekurangan jika dibandingkan dengan jenis jembatan lainnya. Salah satu kelemahannya adalah bobotnya yang sangat berat. Berat sendiri beton yang tinggi membuatnya membutuhkan fondasi dan struktur penyangga yang kuat, terutama ketika dibangun di atas tanah yang lunak atau labil. Proses konstruksinya juga cenderung memakan waktu lebih lama karena beton harus dicor dan dibiarkan mengeras dalam waktu tertentu sebelum dapat digunakan. Sifat beton yang kaku menjadikannya kurang fleksibel dalam menghadapi gaya tarik, sehingga tidak cocok untuk bentang yang sangat panjang seperti pada jembatan gantung atau jembatan kabel. Selain itu, beton rentan mengalami retak akibat perubahan suhu atau tekanan yang tidak merata, dan retakan kecil ini dapat berkembang menjadi kerusakan serius jika tidak segera diperbaiki.
Tabel 1. Perbandingan Singkat Jenis-Jenis Jembatan
Aspek Beton Baja Kayu
Ketahanan terhadap cuaca Tinggi Rawan korosi Cepat lapuk
Biaya konstruksi Sedang Tinggi Murah
Waktu pengerjaan Lama Cepat Cepat
Perawatan Minim Intensif Tinggi
Bentang ideal Pendek-Menengah Panjang Pendek
C. Proses perencanaan dan konstruksi jembatan beton dilakukan secara teknis 1. Studi Pendahuluan dan Survei Lapangan
Melakukan survei topografi untuk mengetahui kondisi geografis lokasi.
Survei geoteknik untuk mengetahui jenis dan kekuatan tanah sebagai dasar perencanaan fondasi.
Survei hidrologi bila jembatan dibangun di atas sungai, untuk memahami aliran air, debit puncak, dan potensi banjir.
Survei lalu lintas untuk memperkirakan beban kendaraan yang akan melintasi jembatan.
2. Perencanaan Teknis dan Desain Struktur
Menentukan tipe jembatan beton yang sesuai, seperti jembatan pelat, girder, atau prategang.
Melakukan perhitungan struktur berdasarkan beban mati, beban hidup, angin, gempa, dan beban hidrolik.
Mendesain elemen-elemen jembatan seperti pelat lantai, balok induk, pilar, abutment, dan fondasi.
Mengacu pada standar teknis seperti SNI 1725:2016, dan pedoman dari Kementerian PUPR.
3. Pekerjaan Konstruksi
Pekerjaan fondasi: Membangun fondasi sesuai kondisi tanah, seperti tiang pancang atau sumuran.
Pembangunan struktur atas: Membangun pilar, abutment, dan elemen beton seperti balok dan pelat.
BAB 3 PENUTUP
A. KesimpulanJembatan beton merupakan salah satu struktur penting dalam sistem transportasi yang berperan besar dalam menghubungkan wilayah dan memperlancar arus lalu lintas. Dari segi teknis, jembatan beton memiliki banyak keunggulan, seperti kekuatan struktural yang tinggi, ketahanan terhadap cuaca dan korosi, serta biaya pemeliharaan yang relatif rendah. Proses perencanaannya melibatkan survei lapangan, analisis teknis, dan perhitungan beban yang kompleks, sedangkan konstruksinya membutuhkan ketelitian dalam pekerjaan fondasi, pengecoran, dan penyelesaian akhir. Meski memiliki kekurangan seperti bobot yang berat dan waktu pengerjaan yang cukup lama, jembatan beton tetap menjadi pilihan utama dalam pembangunan infrastruktur, khususnya untuk bentang pendek hingga menengah yang memerlukan daya tahan tinggi dan umur pakai yang panjang.
B. Saran
Agar pembangunan jembatan beton berjalan optimal, disarankan untuk melakukan survei awal secara menyeluruh agar desain struktur benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan. Pelaksanaan konstruksi juga perlu diawasi oleh tenaga profesional agar mutu beton dan kualitas pekerjaan tetap terjaga. Selain itu, dalam perencanaan jangka panjang, penting untuk mempertimbangkan kemudahan perawatan, potensi beban masa depan, serta integrasi jembatan dengan sistem transportasi yang lebih luas, sehingga jembatan tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga efisien dan berkelanjutan dalam fungsinya.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2016). SNI 1725:2016 – Beban Minimum untuk Perencanaan Jembatan. Badan Standardisasi Nasional.
Mulyono, T. (2004). Teknologi Bahan Konstruksi. Jakarta: Erlangga.
Soehardjono, A. (2009). Perencanaan Struktur Beton. Yogyakarta: ANDI.
Triatmodjo, B. (2008). Struktur Jembatan. Yogyakarta: Beta Offset.
Widodo, H. (2012). Teknik Konstruksi dan Utilitas Gedung. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Nasution, A. (2017). Teknik Sipil: Perencanaan dan Pelaksanaan Jembatan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Tjokrodimuljo, K. (2000). Teknologi Beton. Yogyakarta: Nafiri.
Departemen Pekerjaan Umum. (1987). Tata Cara Perencanaan Teknik Jembatan Jalan Raya.
Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Marga.
Suraji, A. & Pranowo, A. (2020). Kajian Efisiensi Desain Jembatan Beton Bertulang dengan Sistem Pelat dan Gelagar. Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan, 22(2), 101–110.
PUPR. (2021). Manual Desain Jembatan Jalan Raya. Jakarta: Direktorat Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga.
SNI 2847:2019. (2019). Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Badan Standardisasi Nasional.
Indrasurya, I. (2010). Rekayasa Struktur Jembatan Beton Prategang. Jakarta: Rineka Cipta.
Wikipedia. (2024). Jembatan Beton. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_beton