152
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan
Vol, 6. No,1. Tahun 2022
e-ISSN: 2597-4440 dan p-ISSN: 2597-4424
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 Internasional License
Analisis Pembelajaran Tematik Berbasis Kecerdasan Linguistik Siswa Sekolah Dasar di Era Digital
Zul Azmi1, Habibah Siregar2
1, 2 Program Studi Pendidikan Dasar Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Indonesia Email: 1 [email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik di era digital. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan langkah-langkah pralapangan, lapangan, dan analisis data.
Sumber data adalah guru kelas VI dan seluruh siswa kelas VI SDN 007 Tambusai yang berjumlah 24 siswa yang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi, observasi, dan wawancara. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi guru, lembar observasi siswa, dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang dilakukan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik siswa berada pada kategori tinggi. Kecerdasan linguistik siswa laki-laki lebih rendah daripada kecerdasan linguistik siswa perempuan. Simpulan penelitian ini adalah pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik siswa tergolong tinggi dikarenakan guru yang menerapkan pembelajaran tematik di sekolah dasar benar-benar mengimplementasikan pembelajaran tematiknya dengan sangat baik. Perlu penelitian lanjutan mengenai penerapan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan lainnya .
Kata kunci: Era digital; kecerdasan linguistik; pembelajaran tematik.
Abstrak: This study aims to describe thematic learning based on linguistic intelligence in the digital era. The research method used is descriptive qualitative research method, with pre-field, field, and data analysis steps. Sources of data are sixth grade teachers and all sixth grade students of SDN 007 Tambusai, totaling 24 students consisting of 12 male students and 12 female students. Data collection techniques used are documentation, observation, and interviews. The research instruments used were teacher observation sheets, student observation sheets, and interview guidelines. The data analysis technique was carried out by qualitative data analysis techniques. The results showed that thematic learning based on students' linguistic intelligence was in the high category. The linguistic intelligence of male students is lower than the linguistic intelligence of female students. The conclusion of this research is that thematic learning based on students' linguistic intelligence is classified as high because teachers who implement thematic learning in elementary schools actually implement thematic learning very well. Further research is needed on the application of other intelligence - based thematic learning.
Kata kunci: Digital era; linguistic intelligence; thematic learning.
153
PENDAHULUAN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh jarangnya guru menganalisis kecerdasan linguistik siswa secara khusus pada saat pembelajaran tematik berlangsung, padahal kecerdasan linguistik ini merupakan kecerdasan yang sangat penting di era digital saat ini. Kecerdasan linguistik merupakan kemampuan untuk menggunakan bahasa-bahasa termasuk bahasa Ibu dan bahasa asing untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan memahami orang lain (Amelia, D., 2017). Kecerdasan linguistik disebut juga kecerdasan verbal karena mencakup kemampuan untuk mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis, serta kemampuan untuk menguasai bahasa asing.
Apabila kecerdasan linguistik siswa ini diabaikan oleh guru secara terus menerus maka tidak bisa dipungkiri akan berpengaruh terhadap kecerdasan linguistik siswa di era yang serba digital ini. Jarangnya guru menganalisis kecerdasan linguistik siswa ini juga terjadi di kelas VI Sekolah Dasar (SD) Negeri 007 Tambusai, Tandihat, Desa Tambusai Barat, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.
Selama ini guru hanya fokus kepada hasil belajar yang bersifat kognitif saja, sementara aspek keterampilan seperti kecerdasan linguistik yang bisa membuat siswa beradaptasi dengan era digital saat ini sedikit terabaikan. Pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik jarang dilakukan guru, padahal pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik dapat menumbuhkan kreatifitas siswa dan juga dapat meningkatkan hasil belajar aspek lainnya (Witarsa & Dista, 2020; Daulay, M.
& Daulay, H., 2021; Hidayat, 2018).
Pembelajaran tematik yang selama ini dilakukan tidak pernah melihat peran dan fungsi kecerdasan linguistik siswa di era digital ini, padahal pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik merupakan suatu pembelajaran yang dapat menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa (Nuraini &
Abidin, 2020).
Penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningtyas, D. & Kumalasani, M.
(2017) mengungkapkan bahwa kecerdasan jamak harus diterapkan pada kurikulum 2013 melalui implementasi pembelajaran tematik.
Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa secara umum kegiatan yang terdapat pada buku siswa SD sudah dapat memunculkan kedelapan kecerdasan tersebut. Terdapat beberapa kecerdasan yang sering muncul, misalnya kecerdasan linguistik, logis matematis, dan interpersonal. Kecerdasan yang muncul tersebut masih dapat dikembangkan dan dipadukan agar kegiatan pembelajaran tematik lebih memberikan hasil yang maksimal.
Penelitian dengan variabel kecerdasan linguistik siswa dengan sampel penelitian siswa SD juga pernah dilakukan oleh Sukitman (2013). Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa proses pembelajaran tematik yang dilakukan guru harus memperhatikan aspek-aspek kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswa. Pembelajaran tematik berbasiskan kecerdasan tertentu akan mendukung munculnya kecerdasan lain pada diri siswa.
Penelitian-penelitian terdahulu menunjukan betapa pentingnya penerapan pembelajaran tematik untuk meningkatkan kecerdasan linguistik siswa SD. Hasil penelitian-penelitian tersebutpun saling mendukung satu dengan yang lain. Namun, yang menjadi menarik perhatian peneliti adalah minimnya penelitian penerapan pembelajaran tematik yang secara khusus fokus pada kecerdasan linguistik siswa.
Sedikit artikel yang membahas tentang penerapan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik di era digital saat ini.
Selain itu, yang menarik perhatian peneliti dari artikel-artikel relevan tersebut adalah adanya perbedaan langkah-langkah yang diterapkan saat menerapkan pembelajaran tematik. Ketertarikan peneliti juga tidak sampai disitu saja, namun juga terhadap kecerdasan linguistik siswa yang jarang diteliti oleh guru. Dari beberapa artikel tersebut, belum ada artikel penelitian yang membahas keterkaitan antara keduanya.
Hal inilah yang menggugah peneliti untuk melakukan penelitian analisis pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik di era
Vol, 6. No,1. Tahun 2022
154 digital dengan kebaruan menganalisis langkah-langkah pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru di kelas dan menganalisis indikator-indikator kecerdasan linguistik siswa yang teramati.
Penelitian melakukan analisis pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik di era digital ini urgen untuk dilakukan karena jarangnya guru menganalisis hal tersebut, sementara kecerdasan linguistik merupakan salah satu kecerdasan yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini. Kecerdasan linguistik merupakan suatu kecerdasan untuk memahami dan menambah kosa kata baru dengan cepat (Witarsa et al., 2020).
Kecerdasan linguistik siswa dalam pembelajaran tematik merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Kecepatan era digital harus diimbangi dengan cepatnya kemampuan menyesuaikan diri. Siswa yang memiliki kecerdasan linguistik ini cenderung bisa memahami kata-kata baru dengan cepat (Agustin, 2013).
Rumusan masalah artikel ini adalah
“Bagaimana pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik siswa SD di era digital?”. Tujuan penelitian artikel ini adalah untukmendeskripsikan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik siswa SD di era digital.
Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan manfaat bagi SD sebagai masukan dan tambahan dokumen dalam menerapkan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik siswa. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat memberi pengalaman kepada guru untuk memilih dan memperbaiki penerapan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik siswa.
Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini bisa dijadikan referensi baru untuk meneliti kecerdasan lainnya yang mungkin nampak dalam pembelajaran tematik yang sedang dilakukan.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif.
Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan dengan maksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh sampel misalnya tingkah laku, cara pandang, dan bahasa pada kejadian-kejadian khusus yang apa adanya (Lailiyah, B. & Muslimin, 2019). Penelitian ini dilakukan di SDN 007 Tambusai yang berlokasi di Tandihat, Desa Tambusai Barat, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.
Sumber data penelitian ini bersumber dari orang kunci. Orang kunci yang peneliti maksudkan adalah seluruh siswa kelas VI SDN 007 Tambusai yang berjumlah 24 orang siswa, yang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan.
Siswa dapat memberikan data mengenai kecerdasan linguistik dan juga memberikan informasi mengenai pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru di kelas. Orang kunci lainnya adalah guru kelas VI yang melaksanakan kegiatan pembelajaran tematik.
Guru diharapkan dapat memberikan data secara detail, lengkap, dan akurat mengenai proses pembelajaran tematik yang berlangsung di kelas. Peran orang-orang kunci dalam penelitian ini merupakan hal utama karena dari informasi yang mereka berikan peneliti memperoleh data-data penelitian yang merupakan modal utama dalam penelitian ini. Tahapan pelaksanaan penelitian yang dilakukan digambarkan pada Gambar 1 berikut:
Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Penelitian Sumber: Agustina, R. & Erviana, V., 2020
Tahap pra-lapangan, persiapan yang dilakukan peneliti adalah menyusun dan menyiapkan instrumen-intrumen yang digunakan pada penelitian ini seperti lembar observasi kecerdasan linguistik siswa dan pedoman wawancara guru. Tahap lapangan, dilakukan pengamatan terhadap indikator-indikator kecerdasan linguistik siswa dan pengamatan terhadap
3
Tahap Analisis Data
2
Tahap Lapangan
1
Tahap Pralapangan
155 pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru. Tahap analisis data, dilakukan pengorganisasian data. Data-data dirapihkan dan ditandai menggunakan angka atau kode sederhana. Angka dan kode sederhana tersebut dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis data saat membuat kesimpulan. Semua hasil analisis dan diskusi dengan orang kunci dirapihkan dan disusun dalam bentuk tabel.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan dokumentasi, lembar observasi, dan wawancara. Dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data-data dalam bentuk arsip, dokumen, dan laporan yang digunakan untuk melengkapi data penelitian. Lembar observasi siswa digunakan untuk mengamati indikator-indikator kecerdasan linguistik siswa dan juga untuk mengamati langkah-langkah pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru di kelas. Lembar wawancara digunakan saat peneliti melakukan wawancara mendalam. Peneliti melakukan wawancara secara mendalam dengan siswa dan juga guru untuk mengumpulkan data secara langsung serta bertatap muka agar mendapatkan data yang valid berkaitan dengan kecerdasan linguistik siswa dan pembelajaran tematik yang dilakukan guru.
Pengujian validitas dan realibitas dilakukan dengan pemeriksaan keabsahan data. Teknik keabsahan data pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber data. Triangulasi sumber data berarti teknik pengumpulan data untuk menyiapkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama dengan cara dokumentasi, observasi partisipatif, dan wawancara terstruktur. Keabsahan data juga dilakukan dengan memverifikasi dan memvalidasi instrumen-instrumen yang digunakan kepada dua orang ahli. Ahli yang dipilih berdasarkan fokus penelitian yang terdapat pada judul.
Selanjutnya, data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan presentase dan dikategorikan berdasarkan nilai berikut:
Tabel 1. Kategori Kecerdasan Linguistik Siswa
Nilai (%) Kategori Kode 85 – 100 Amat Tinggi AT
Nilai (%) Kategori Kode
70 – 84 Tinggi T
55 – 69 Sedang S
45 – 54 Rendah R 0 – 44 Amat Rendah AR
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil observasi pelaksanaan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik:
Tabel 2. Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Berbasis Kecerdasan Linguistik
No. Kegiatan Nilai Kategori 1 Apersepsi 88 Sangat
Baik
2 Inti 84 Baik
3 Penutup 86 Sangat
Baik
Rata-rata 86 Sangat
Baik Sumber: Peneliti, 2021
Hasil observasi kecerdasan linguistik siswa:
Tabel 3. Kecerdasan Linguistik Siswa No. Kode Siswa Nilai Kategori
1 AA 90 AT
2 AS 81 T
3 AN 78 T
4 AH 89 AT
5 AR 77 T
6 CM 76 T
7 DJ 76 T
8 FP 90 AT
9 HH 76 T
10 HS 75 T
11 JV 86 AT
12 MS 87 AT
13 AAM 90 AT
14 ASG 91 AT
15 ARS 90 AT
16 ARN 90 AT
17 AUM 81 T
18 BNB 89 AT
19 EPB 90 AT
20 EAB 92 AT
21 HMA 91 AT
Vol, 6. No,1. Tahun 2022
156 No. Kode Siswa Nilai Kategori
22 JFB 90 AT
23 KSI 88 AT
24 LAB 75 T
Rata-rata 84,91 T
Sumber: Peneliti, 2021
Hasil observasi kecerdasan linguistik siswa laki-laki:
Tabel 4. Kecerdasan Linguistik Siswa Laki-laki
No. Kode Siswa Nilai Kategori
1 AA 90 AT
2 AS 81 T
3 AN 78 T
4 AH 89 AT
5 AR 77 T
6 CM 76 T
7 DJ 76 T
8 FP 90 AT
9 HH 76 T
10 HS 75 T
11 JV 86 AT
12 MS 87 AT
Rata-rata 81,75 T
Sumber: Peneliti, 2021
Hasil observasi kecerdasan linguistik siswa perempuan:
Tabel 5. Kecerdasan Linguistik Siswa Perempuan
No. Kode Siswa Nilai Kategori
1 AAM 90 AT
2 ASG 91 AT
3 ARS 90 AT
4 ARN 90 AT
5 AUM 81 T
6 BNB 89 AT
7 EPB 90 AT
8 EAB 92 AT
9 HMA 91 AT
10 JFB 90 AT
11 KSI 88 AT
12 LAB 75 T
Rata-rata 88,08 AT Sumber: Peneliti, 2021
Tingginya kecerdasan linguistik siswa yang didapatkan disebabkan oleh keterampilan guru dalam menerapkan pembelajaran tematik berbasis kecerdasan
linguistik ini dengan sangat baik.
Keterampilan guru ini tidak dapat dipungkiri karena guru yang bersangkutan merupakan guru dengan latar belakang pendidikan yang sangat relevan, yaitu S1 PGSD, ditambah lagi bahwa guru yang bersangkutan sudah memiliki pengalaman mengajar di SD selama 20 tahun. Latar belakang pendidikan dan lama mengajar sangat berpengaruh dalam hal ini. Studi ini sejalan dengan hasil studi Pitriani et al. (2020) bahwa stimulasi yang diberikan guru sangat membantu meningkatkan kecerdasan linguistik siswa.
Hal tersebut hanya mungkin bisa dilakukan oleh guru yang memiliki bidang ilmu yang sesuai serta memiliki jam terbang dalam mengajar. Guna menyiapkan generasi emas yang dibekali keterampilan abad 21 dalam menghadapi era digital perlu mengoptimalisasi segala aspek keterampilan dan kecerdasan siswa yang didukung oleh guru yang kompeten.
Kecerdasan linguistik siswa secara keseluruhan berada pada kategori tinggi. Hal ini membuktikan bahwa siswa-siswa mempelajari kata-kata baru dengan cepat sesuai dengan cepatnya era digital yang terjadi. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Agustin (2013) bahwa ciri-ciri siswa dengan kecerdasan linguistik tampak pada perilaku siswa yang cenderung mempelajari kata-kata baru dengan cepat dan memiliki kosakata yang lebih banyak dan luas.
Kecerdasan linguistik siswa laki-laki berada pada kategori tinggi. Kecerdasan linguistik siswa laki-laki ini disinyalir dikarenakan seringnya siswa laki-laki berinteraksi dengan androidnya. Banyak muncul kata-kata baru di android mereka, sehingga mau tidak mau mereka membacanya secara langsung. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sudrajat, K., (2018) yang mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis kecerdasan jamak cukup banyak menyediakan dan memfasiltasi gaya belajar anak dalam belajar, terutama membaca hal-hal baru.
Kecerdasan linguistik siswa perempuan berada pada kategori amat tinggi.
Kecerdasan linguistik siswa perempuan yang amat tinggi ini tidak mengagetkan hasil penelitian dikarenakan secara alamiah
157 pembendaharaan kata yang dimiliki perempuan 8 kali lebih banyak daripada pembendaharaan kata laki-laki. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Kusumawati, (2020) bahwa mengembangkan kecerdasan siswa dapat memacu kecerdasan dominan siswa secara optimal dan berupaya mempertahankan kecerdasan lainnya pada standar minimal yang ditetapkan.
Kecerdasan linguistik siswa laki-laki lebih rendah daripada kecerdasan linguistik siswa perempuan. Hal ini menunjukan bahwa siswa perempuan secara data dan fakta memang sesuai kodratnya memiliki jumlah kosa kata lebih banyak daripada laki-laki.
Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Wijaya, I., K., W. (2018) bahwa semua siswa pada dasarnya memiliki kecerdasan majemuk, hanya saja berbeda mana yang menonjol. Pengembangan kecerdasan majemuk pada siswa SD adalah momentum yang baik mengingat usia siswa SD sedang mengalami perkembangan kognitif, sikap, dan psikomotor yang optimal, terutama kecerdasan linguistiknya.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan hasil penelitian ini adalah pembelajaran tematik berbasis kecerdasan linguistik siswa sekolah dasar di era digital berada pada kategori tinggi. Guru yang menerapkan pembelajaran tematik di SD harus benar-benar mengimplementasikan pembelajaran tematiknya dengan sangat baik agar kecerdasan linguistik siswa dapat dicapai pada level tertinggi. Kecerdasan linguistik siswa laki-laki lebih rendah daripada kecerdasan linguistik siswa perempuan. Perlu penelitian lanjutan mengenai penerapan pembelajaran tematik di SD berbasis kecerdasan lainnya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ada di SD tempat penelitian ini dilakukan, para dosen di Program Studi Magister Pendidikan Dasar Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai yang telah memberi masukan dan dukungan terhadap terlaksananya penelitian ini hingga akhir. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada Pengelola JIKAP PGSD UNM
yang telah memberi review dan masukan atas terbitnya artikel ini.
DAFTAR RUJUKAN
Agustin, M. (2013). Mengenali dan Mengembangkan Potensi Kecerdasan Jamak Anak sejak Dini sebagai Tonggak Awal Melahirkan Generasi Emas. Jurnal Cakrawala Dini, 4(2), 113–122.
Agustina, R., N., & Erviana, V., Y. (2020).
Analisis Kesulitan Guru dalam Penerapan Pembelajaran Tematik pada Kelas II di SD Muhammadiyah Karangwaru. Jurnal Fundamental Pendidikan Dasar, 3(3), 223–234.
Amelia, D., J. (2017). Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Berorientasi Multiple Intelligences di Kelas Awal SD Muhammadiyah 9 Malang.
Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 3(1), 13–28.
Daulay, M., I., & Daulay, H., Y. (2021).
Penerapan Pembelajaran Tematik Kelas II Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(1), 272–
280.
Hidayat. (2018). Pelaksanaan Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar Islam Terpadu Izzuddin Palembang.
Tarbiyah Wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan &
Pembelajaran, 5(2), 56–65.
Kusumaningtyas, D., I., & Kumalasani, M., P.
(2017). Analisis Multiple Intellegences pada Buku Siswa Kurikulum 2013 Kelas IV SD.
Jurnal Inovasi Pendidikan, 1(2), 1–6.
Kusumawati, E. (2020). Peranan Teori Multiple Intelegence dalam Proses Pembelajaran Tematik pada Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar.
Inovasi Pendidikan Di Era Milenial, 40–49.
Lailiyah, B., N., & Muslimin. (2019).
Penerapan Pembelajaran Tematik di MI Aswaja I Tamban Kedawung Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri.
Jurnal El Bidayah, 1(2), 15–26.
Nuraini, & Abidin, Z. (2020). Kesulitan guru dalam mengimplementasikan
Vol, 6. No,1. Tahun 2022
158 pembelajaran tematik terintegratif di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Dan Pembelajaran, 10(1), 49–
62.
https://doi.org/10.25273/pe.v10i1.59 87
Pitriani, S., Mizaniya, Yuliananingsih, Andrean, S., & Istiningsih. (2020).
Analisis Pembelajaran
Tematik-Integratif Berbasis Multiple Intellegences di Era Revolusi Industri 4.0. El-Midad: Jurnal PGMI, 12(1), 54–69.
Sudrajat, K., S. (2018). Inovasi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligence dalam Kegiatan Pembelajaran Membaca Kelas 1 di MI Muhammadiyah PK Kartasura. Mengembangkan Kompetensi Pendidik Dalam Menghadapi Era Disrupsi, 123–132.
Sukitman, T. (2013). Konsep Pembelajaran Multiple Intelligence dalam Pendidikan IPS di Sekolah Dasar.
Likhitaprajna: Jurnal Ilmiah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 18(1), 1–12.
Wijaya, I., K., W., B. (2018).
Mengembangkan Kecerdasan Majemuk Siswa Sekolah Dasar (SD) melalui Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Mutu Lulusan Sekolah Dasar. Jurnal Penjaminan Mutu, 4(2), 147–154.
Witarsa, R., & Dista, D. X. (2020). Analisis Jawaban Siswa Usia 6 sampai 8 tahun terhadap Pembelajaran Sains Kreatif. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(1), 58–66.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v4i1.
288
Witarsa, R., Fadhilaturrahmi, & Rizal, M. S.
(2020). Pengaruh Asupan Nutrisi Shake Kacang Kedelai terhadap Skala Lemak Perut Guru-guru Sekolah Dasar di Bangkinang Kota Kabupaten Kampar. Jurnal Basicedu, 4(4), 1114–1124.