“Judicial Review dalam Politik Hukum Nasional ” Inisiasi Tuton : Ke-4
Mata Kuliah : Teori Perundang-Undangan Program Studi : Ilmu Hukum
Fakultas : FHISIP
Tujuan Umum
Agar mahasiswa mempunyai pemahaman tentang judicial review dalam politik hukum nasional
1. Kegiatan Belajar 1 mahasiswa akan diajak untuk memahami tentang polituk hukum dan judicial review, memahami peraturan perundnag-undangan dan sistem hukum serta sejarah judicial review.
2. Kegiatan Belajar 2 mahasiswa akan mempelajari judicial review di Indonesia, pelaksanaan judicial review di Indonesia,
Perbedaan antara toetsingrecht dan judicial review
• Toetsingsrecht adalah hak menguji. Sedangkan
judicial review peninjauan oleh lembaga peradilan.
Kedua istilah ini pada dasarnya sama yakni kewenangan untuk menguji atau meninjau.
• Perbedaannya, judicial review secara spesifik
ditentukan bahwa kewenangan tersebut dimiliki
lembaga peradilan. Namun jika Toetsingsrecht dapat saja dilakukan otoritas di luar lembaga peradilan.
• Toetsingrecht merupakan kewenangan untuk menilai peraturan perundang-undangan terhadap UUD atau peraturan di atasnya atau sederajat, sedangkan
judicial review tidak hanya menilai peraturan
perundang-undangan tetapi executive act, legsilative act dan judgment.
• Hak menguji tidak hanya dimiliki oleh hakim, tetapi lembaga negara lainnya yang diberi kewenangan
melalui peraturan perundang-undangan. Sedangkan judicial review hanya hakim yang diberi kewenangan.
Macam Hak Menguji
• Hak menguji formal (formele toetsingsrecht) adalah wewenang untuk menilai suatu produk legislatif
seperti UU, dari perspektif prosedur pembuatan sebuah peraturan perundang-undangan.
• Hak menguji secara materiil (materiele toetsingrecht) adalah suatu wewenang untuk menyelidiki dan
menilai isi apakah suatu peraturan perundang- undangan sesuai atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
Definisi Judicial Review
•
Judicial Review pada prinsipnya merupakan kewenangan hakim pengadilan untuk menilai apakah legsilative act, executive act,
administrative act dan judgement bertentangan
atau tidak dengan UUD atau konstitusi.
Judicial Review di Indonesia
• Dalam sejarah konstitusi di Indonesia, persoalan judicial review pernah tercantum dalam konstitusi di Indonesia.
Setidaknya hal tersebut tercantum dalam konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) di Pasal 156 ayat (1).
• Saat perdebatan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), gagasan judicial review pernah disuarakan oleh M Yamin terkait dengan kewenangan Mahkamah Agung (MA) untuk
melakukan pengujian UU terhadap UUD. Namun ide tersebut tidak disetujui
• Pada awal Orde Baru, terbit UU No 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman di Pasal 26 ayat (1) “Mahkamah
Agung berwenang untuk menyatakan tidak sah semua peraturan-peraturan dari tingkat yang lebih rendah dari Undang-undangatas alasan bertentangan dengan peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi
• Pasal 11 Tap MPR No III/MPR/1978 disebutkan
soal kewenangan judicial review yang dimiliki oleh MA “Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara material hanya terhadap
peraturan-peraturan perundangan di bawah Undang-undang.”
• Amandemen ketiga UUD 1945 pada tahun 2001, kewenangan judicial review itu tertuang dalam konstitusi yang kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi.
• Sebelum pendirian MK pada tahun 2003, terbit Tap MPR III/2003 memberi kewenangan kepada MPR untuk menguji konstitusionalitas UU. Pasal 5 ayat (1) Tap MPR III/2003 disebutkan “MPR
berwenang menguji UU terhadap UUD 1945 dan Tap MPR. Namun ketentuan ini tidak pernah
terlaksana.
• Dalam aturan peralihan Pasal III UUD 1945
disebutkan MK dibentuk selambat-lambatnya pada 17 Agustus 2003 dan sebelum dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh MA.
(Pengesahan perubahan keempat UUD 1945 pada 10 Agustus 2002). Selama setahun sebelum
berdirinya MK, MA menerima 14 permohonan pengujian UU terhadap UUD.