• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURMIKI VOL 1 NO. 1 DES 2021 HAL 45 52

N/A
N/A
MEIDY TRIANJANI

Academic year: 2025

Membagikan "JURMIKI VOL 1 NO. 1 DES 2021 HAL 45 52"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

©Jurmiki, All rights reserved | 45 LITERATURE REVIEW ANALISIS PERMASALAHAN PRIVASI PADA

REKAM MEDIS ELEKTRONIK

Irene Chintia Sari1, Chyntia Vicky Alvionita2, Gunawan3

1-3Program Studi D3-Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Malang Korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Seiring dengan berkembangnya teknologi hampir semua aktifitas membutuhkan pengetahuan tentang sistem informasi, termasuk dalam pelayanan kesehatan. Di pelayanan kesehatan untuk mendukung proses kemajuan teknologi ialah rekam medis. Untuk mendukung kemajuan teknologi tersebut dibutuhkan rekam medis elektronik.

Di dalam rekam medis elektronik tersebut dibutuhkan sebuah teknik dan metode untuk menjaga keamanan sistem dalam rekam medis elektronik. Penelitian ini dilakukan dengan metode literatur review. Ditemukan sebelas artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Penyeleksian diambil dengan memerhatikan PICOS framework, kemudian artikel dianalisis satu persatu. Terdapat beberapa teknik dan metode yang dapat mengamankan sistem privasi pada rekam medis elektronik yaitu metode mIBE, AES, DES, RC4, dan RSA. Serta teknik seperti Kriptografi, Firewall, Cloud Computing, Client-Server, dan Kontrol Akses. Hasil dari literatur review menunjukkan bahwa teknik yang paling aman digunakan adalah teknik kriptografi, sebab teknik tersebut sudah terstandarisasi, bisa digunakan tanpa batas dan biayanya yang murah. Dan metode yang paling aman digunakan untuk rekam medis elektronik adalah mIBE-AES karena teknik tersebut sudah terbukti aman dan cepat untuk penyimpanan dokumen rekam medis.

Kata Kunci: Privasi, Rekam Medis Elektronik, Keamanan.

ABSTRACT

Along with the development of technology, almost all activities that require knowledge of information systems, including health services. Health services to support the process of technological advancement, namely medical records. To support these technological advances, electronic medical records are needed. In the electronic medical record, a technique and method is needed to maintain the security of the system in the electronic medical record. This research was conducted by literature study method. Eleven articles were found that matched the inclusion and exclusion criteria. The selection was taken with the PICOS framework, then the articles were analyzed one by one. There are several techniques and methods that can protect the privacy system in electronic medical records, namely the mIBE, AES, DES, RC4, and RSA methods. As well as techniques such as Cryptography, Firewall, Cloud Computing, Client-Server, and Access Control. The results of the literature review show that the safest technique to use is the cryptographic technique, because the technique is standardized, can be used without limits and the cost is low. And the safest method used for electronic medical records is mIBE- AES because this technique has been proven safe and fast for storing medical record documents.

Keywords: Privacy, Electronic Medical Records, Security.

(2)

©Jurmiki, All rights reserved | 45 1. PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Kesehatan juga merupakan kunci awal dalam melakukan segala aktivitas dalam hidup manusia.

Kesehatan sendiri tidak terlepas dari sarana pelayanan kesehatan dan membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik. Pelayanan kesehatan akan terwujud dengan baik apabila terselenggarakannya rekam medis yang berdasarkan bukti-bukti tertulis proses pelayanan kesehatan dan administrasi untuk terciptanya pelayanan yang berkesinambungan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 tahun 2008 pasal 1 Ayat 1 tentang Rekam Medis, rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Menurut Depkes RI (2006), rekam medis merupakan berkas yang berisikan informasi tentang identitas pasien, anamnese, penentuan fisik laboratorium, diagnosa segala pelayanan dan tindakan medik yang diberikan kepada pasien dan pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat. Dari pengertian itu dapat disimpulkan rekam medis merupakan berkas yang sangat penting dan harus dijaga kerahasiaannya.

Pada awalnya rekam medis berbentuk konvensional, artinya data identitas pasien dan perawatan pasien mulai pasien datang hingga pasien pulang itu tercatat di dalam dokumen rekam medis berbentuk kertas.

Rekam medis sendiri memiliki dua bentuk yaitu konvensional dan elektronik.

Menurut Shortliffe, (2001) Rekam medis elektronik (rekam medis berbasis- komputer) adalah gudang penyimpanan

informasi secara elektronik mengenai status kesehatan dan layanan kesehatan yang diperoleh pasien sepanjang hidupnya, tersimpan sedemikian hingga dapat melayani berbagai pengguna rekam medis yang sah.

Dengan adanya kemajuan teknologi di era globalisasi saat ini perkembangan teknologi sudah semakin berkembang dan menuntut setiap oranguntuk mengikuti perkembangan kemajuan teknologi tersebut.

Dengan berkembangnya teknologi saat ini perlu dilakukan perubahan dan inovasi di segala bidang, khususnya di bidang kesehatan. Perkembangan teknologi dan informasi juga berfungsi untuk mendukung pelayanan kesehatan yang efisien dan efektif, sehingga bisa mewujudkan program yang direncanakan oleh pemerintah yaitu Indonesia Sehat 2025. Di sarana pelayanan kesehatan yang sangat penting di dalam mengikuti arus perkemabangan teknologi informasi ialah EMR atau Elektronic Medical Record atau Rekam Medis Elektronik. Di Indonesia terdapat beberapa dasar hukum yang mengatur tentang rekam medis elektronik salah satunya adalah Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) RI No.

269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 2 ayat (1) tentang RM, yang menjelaskan bahwa ”RM harus dibuat secara tertulis, lengkap, dan jelas atau secara elektronik.” dan Undang- Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam pasal 5 dan 6.

Rekam medis elektronik saat ini dipercaya sebagai pengikut perkembangan teknologi dan informasi yang sangat penting di sarana pelayanan kesehatan karena dapat berfokus pada pasien dan keselamatan pasien secara terintegrasi dan efisien. Institute Of Medicine (IOM) dalam (Kusrini, Lazuardi, &

Rosyada, 2016) mendeskripsikan EMR sebagai sistem yang dapat memudahkan

(3)

©Jurmiki, All rights reserved | 46 penyimpanan data dan informasi klinis

pasien, pemasukan data dan manajemen, pendukung keputusan, komunikasi elektronik mengenai kondisi pasien yang efektif, pendukung keselamatan pasien, memudahkan administrasi serta pelaporan data demografi, data medis, dan dapat dilengkapi dengan sistem pendukung keputusan.

Perkembangan teknologi ini juga memiliki dampak buruk yaitu munculnya oknum-oknum yang menjalankan kegiatan ilegal untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok. Salah satunya adalah mencuri data rekam medis untuk memeras pasien, bahkan melakukan perubahan pada data rekam medis yang berdampak fatal pada kesehatan pasien. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Annisa, dkk (2018) bahwa bahwa 70% orang mengkhawatirkan jika informasi kesehatan mengenai mereka mengalami kebocoran. Hal ini sudah dibuktikan dengan adanya penjualan data pasien pada Rumah Sakit. Rumah Sakit Universitas Chicago dan Rumah Sakit Wilcox Memorial, Kauai, Hawaii (sebanyak 130.000 data pasien). Dari kejadian tersebut menunjukan bahwa meskipun RME merupakan solusi yang baik untuk penyajian dan pengolahan data secara real-time, namun masih memiliki permasalahan yang itu bagaimana data yang disimpan dan yang mengalir pada sistem dengan aman dan tetap terjaga kerahasiaannya.

Telah banyak peneliti yang membahas rekam medis elektronik yang berguna untuk mengamankan isi data pasien.

Umumnya menggunakan metode Kriptografi Identity Based Encryption (IBE), dan Advanced Encryption Standard (AES).

Oleh karena itu perlu untuk dilakukan rangkuman literatur yang bertujuan untuk

memberikan informasi dari penelitian sebelumnya mengenai penggunaan rekam medis elektronik dan teknik-teknik yang dapat digunakan untuk keamanan privasi data pasien.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan Literature Review yang merupakan rangkuman menyeluruh dari beberapa studi penelitian yang ditentukan berdasarkan tema tertentu. Pencarian literatur dilakukan pada bulan Oktober 2020. Pencarian literatur didapatkan dari jurnal tahun 2016-2020. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh bukan dari pengamatan langsung, akan tetapi diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Literatur yang digunakan dalam makalah ini berasal dari jurnal yang dipublikasi di Garuda, Sinta, dan Google Schoolar.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyimpanan berkas di jaringan sangat memiliki banyak keuntungan diantaranya mudah diakses tanpa perlu membawa media penyimpanan fisik yang memiliki resiko seperti rusak, hilang, terhimpit, tercelup air,dan terbakar. Dengan penyimpanan berkas menggunakan jaringan tidak menutup kemungkinan akan kebocoran data, pencurian data, ataupun perlakuan kejahatan lainnya.

Enkripsi dan dekripsi merupakan bagian dari kriptografi yaitu informasi yang dapat diubah bentuknya dari yang bisa dimengerti ke dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti. Bentuk informasi yang dapat dimengerti atau plaintext, sedangkan bentuk informasi yang tidak dapat dimengerti

(4)

©Jurmiki, All rights reserved | 47 disebut chipertext. Proses perubahan bentuk

informasai dari yang dapat dimengerti (Plaintext) menjadi tidak dapat dimengerti (Chipertext) disebut dengan enkripsi, dan proses perubahan bentuk yang tidak dapat dimengerti (Chipertext) menjadi dapat dimengerti (Plaintext) disebut dengan dekripsi tetapi harus menggunakan kunci khusus untuk mengubahnya.

Teknik kriptografi andal karena memiliki kemampuan mengacak informasi yang tidak mudah dipahami oleh manusia.

Dengan adanya teknik ini, dunia virtual jauh lebih aman dibandingan tanpa teknik jaringan tanpa pengamanan berkas. Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Lalu Surya Jan Perdana) algoritma kriptografi yang ideal dibutuhkan adalah yang tidak mudah diserang, dibongkar rahasianya, sehingga lebih efisien yang artinya tidak banyak menggunakan CPU dan memori serta dapat berproses dengan cepat. Terdapat 4 aspek keamanan dalam kriptografi:

1. Confidentiality atau Kerahasiaan Menjaga kerahasiaan dan menjamin bahwa data tersebut tidak bisa oleh pihak yang tidak berwenang dan dapat diakses oleh pihak yang berwenang memiliki akses tersebut.

2. Integrity atau Integritas

Menjamin bahwa data tersebut sampai pada penerimanya tanpa ada data yang diganti, dihapus, ditambahkan, dan diduplikasi. Tujuan dari integritas sendiri adalah untuk mencegah terjadinya perubahan informasi yang dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang. Untuk menjamin integritas tersebut diperlukan kemampuan mendeteksi akan kepalsuan data tersebut.

3. Authentication atau Otentikasi

Identifikasi yang membutuhkan kerjasama saling komunikasi antar pengguna untuk memastikan keaslian informasi yang diterima.

4. Non-Repudiation atau Penyangkalan Mencegah pengirim maupun penerima menyangkal atau mengingkari bahwa mereka telah mengirim dan menerima sebuah pesan.

Dari studi literatur yang dijelaskan oleh (Annisa Maulida,dkk), dengan adanya teknik keamanan data dengan enkripsi dapat meningkatkan keamanan ketika proses pertukaran data terjadi pada sistem informasi karena teknik enkripsi ini harus dibuka dengan cara mendeskrip dengan sebuah kunci. Dan ketika mendeskrip bisa menggunakan tamda tangan digital. Teknik kriptografi lainnya dengan menggunakan username dan password, namun pengguna harus mengganti secara berkala dan tidak menggunakan tanggal lahir atau hari bermakna lainnya.

Firewall memiliki cara kerja yang dapat membantu mengamankan informasi data pasien, karena teknik ini dapat membantu untuk memastikan bahwa hanya informasi dan personel yang tepat yang diperbolehkan untuk mengakses ke jaringan penyedia dan memblokir transimi yang berbahaya dari pengguna yang tidak sah dan memfilter konten yang diizinkan untuk dilihat pengguna. Selanjutnya, teknik keamanan yang dapat dilakukan adalah kontrol akses yaitu berupa username dan kode. Di dalam teknik ini juga diberikan batasan kepada pengguna. Misalnya, pengguna A dapat menulis dan membaca rekam medis elektronik, selanjutnya pengguna B hanya dapat membaca rekam medis elektronik. Kontrol akses lainnya

(5)

©Jurmiki, All rights reserved | 48 dengan menerapkan role-based access

control (RBAC), pengguna dapat menerapkan teknik ini sesuai dengan peranannya pada organisasi pelayanan kesehatan.

Data Encryption Standard (DES) beroperasi pada ukuran blok 64-bit. Data Encryption Standard (DES) mengenkripsikan 64-bit plaintext menjadi 64-bit ciphertext dengan menggunakan 56- bit kunci internal yang dibangkitkan dari kunci eksternal yang panjangnya 64-bit (Coppersmith,1994).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Haryadi Amran Darwito,dkk disana dijelaskan penggunaan Tripel Data Encryption Standard (3DES) yaitu proses pengembangan dari Data Encryption Standard (DES) yang mempunyai tingkat keamanan lebih tinggi karena melalui proses enkripsi sebanyak tiga kali dengan kunci yang berbeda. 3DES mempunyai tiga buah kunci yang berukuran 168-bit (tiga kali kunci 56-bit dari DES). Perbedaan 3DES dengan DES adalah panjangnya kunci yang digunakan. Pada DES menggunakan satu kunci yaitu 56-bit sedangan 3DES menggunakan 168-bit (masing-masing panjangnya 56-bit). Karena kerahasiaan pada teknik ini terletak pada panjang kunci yang digunakan maka 3DES dianggap mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi dibanding dengan DES.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Yeni Yanti,dkk di dalam penelitian itu menggunakan teknik 4DES yang merupakan varian dari 3DES dan yang pasti lebih kuat dalam menyimpan kerahasiaan data, karena 4DES mempunyai 4 kunci yang masing-masing kuncinya 64-bit sehingga total panjang kuncinya adalah 256- bit.

Advanced Encryption Standard (AE S) merupakan teknik kriptografi yang dapat digunkan untuk mengamakan data.

Advanced Encryption Standard (AES) adalah lanjutan dari algoritma enkripsi standar DES (Data Encryption Standard) yang masa berlakunya dianggap telah usai karena faktor keamanan. Kecepatan komputer yang sangat pesat dianggap sangat membahayakan DES. AES menggunakan beberapa variasi kunci yaitu 128-bit, 192-bit, dan 256-BIT.

Di dalam penelitian yang dilakukan

oleh Galih Wening, dkk

Advanced Encryption Standard (AES) 256- bit telah distandarisasi berdasarkan Federal Information Processing Standards Publication. Dan di dalam penelitian yang dilakukan oleh Lalu Surya Jan Perdana, dkk

juga menggunakan

Advanced Encryption Standard (AES) 256- bit karena metode ini mampu melakukan pengacakan yang baik, prosesnya cepat, dan signifikasi kunci cipher yang tinggi sehingga mampu dalam menyamarkan isi berkas.

Rivest Cipher 4 (RC4) merupakan teknik yang dapat digunakan untuk mengenkripsi data sehingga data asli dapat terbaca oleh orang yang memiliki kunci tersebut. Dan di dalam penelitian yang dilakukan oleh Rauf Riyanto,dkk RC4 ini juga menggunakan kunci yang sama untuk mengenkripsi ataupun mendeskripsi suatu data maupun informasi.

Identity-based Encryption (IBE) dikembangkan untuk menghindari kebutuhan autentikasi dengan cara kunci publik. IBE digunakan berhubungan langsung dengan identitas user. Pada penelitian yang dilakukan oleh Dian Neipa Purnamasari,dkk IBE dapat membangkitkan kunci enkripsi secara mandiri dengan

(6)

©Jurmiki, All rights reserved | 49 menanamkan identitas. Dan ada tiga tahapan

yaitu Key Generator, Encrypt, dan Decrypt.

Tahap ini bertindak sebagai key server artinya sebelum melakukan pertukaran data, pengirim harus mengirimkan identitas penerima untuk mendapatkan kunci publik.

Kunci publik ini digunakan untuk proses enkripsi. Setelah itu penerima harus mengirimkan identitasnya untuk mendapatkan kunci rahasia pada proses dekripsi.

Rivest Shamir Adleman (RSA) adalah teknik kriptografi kunci public (kriptografi public key). RSA merupakan algoritma yang paling cocok untuk digital signature seperti halnya enkripsi. Algoritma RSA masih digunakan secara luas dalam protocol electronic commerce dan dipercaya dalam pengamanan dengan kunci yang sangat panjang. Algoritma RSA disebut sebagai kunci publik karena kunci enkripsi dapat dibuat public yang berarti semua orang dapat mengetahuinya. Walaupun dibuat public key, keamanan algoritma RSA sangat terjaga. Hal itu dikarenakan kunci yang digunakan untuk enkripsi pada algoritma RSA berbeda dengan kunci yang digunakan untuk dekripsinya.

Analisis Dalam Penggunaan Teknik Dan Metode Keamanan Rekam Medis Elektronik

Dalam menginplementasi sebuah sistem ini dibuat agar proses pelayanan mulai pasien datang pertama melakukan regis, data pasien sudah bisa diakses semua bagian agar pasien segara mendapatkan pelayanan dokter cepat, hasil pemeriksaan bisa langsung diambil sehingga proses administrasi setelah pasien mendapat pelayanan dapat dilakukan

dengan cepat dan pasien tidak menunggu lama.

Didalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh Haryadi Amran Darwito,dkk dijelaskan ada tiga tahap dalam 3DES yaitu tahap pertama plaintext masukan dioperasikan dengan kunci eksternal pertama (K1) dan melakukan proses enkripsi dengan menggunakan teknik DES, sehingga menghasilkan pra-ciphertext pertama. Tahap kedua, pra-ciphertext pertama kemudian dioperasikan dengan kunci eksternal kedua (K2) dan melakukan proses enkripsi atau dekripsi sehingga menghasilkan pra- ciphertext kedua. Tahap terakhir, pra- ciphertext kedua dioperasikan dengan kunci eksternal ketiga (K3) dan melakukan proses enkripsi dengan algoritma DES, sehingga menghasilkan ciphertext (Barker, Elaine, 2015). setelah ada tiga tahap tersebut lalu, pasien mengisi form, setelah mengisi form pasien akan mendapatkan id, nama, dan kunci untuk enkripsi yang disimpan pada smartcard. Smartcard dapat dirubah menjadi USB Flashdisk sebagai media penyimpanan data ID, nama dan kunci dari pasien. Setelah lokasi flashdisk diketahui, server akan membangkitkan kunci random dan akan dibuat file baru bernama privasi.dat yang berisi ID, nama, dan kunci enkripsi.

Selanjutnya data yang telah dimasukkan pada halaman regis akan dienkripsi menggunakan kunci yang dibangkitkan di awal dan akhirnya data terenkripsi tadi disimpan kedalam database rekam medis elektronik. Pengujian algortima 3DES menggunakan avalance effect menghasilkan kinerja yang bagus yaitu 52%.

(7)

©Jurmiki, All rights reserved | 50 Tabel 3.3.1 Pengujian Avalanche Effect

Plain Text Cipher Text Avalanche ABCDEFGH

IJKLMNOPQ RSTUVWXY Z123456

mhVwsVmQdTOP CUbCAEJFY0LtCL

sVO9/obyTYZ/IW WGSV/x7i6hhYVg

== 52%

ABCDEFGH IJKLMNOPQ RSTUVWXY Z123457

mhVwsVmQdTOP CUbCAEJFY0LtCL sVO9/ocMpAPNYI q8mV/x7i6hhYVg=

=

Dari Tabel 3.3.1 pengujian Avalanche Effect yang dilakukan oleh Haryadi Amran Darwito,dkk 2016 memiliki hasil 52% yang artinya teknik kriptografi tersebut mempunyai kinerja yang bagus.

Di dalam penelitian yang dilakukan oleh Yeni Yanti,dkk penggunaan metode 4DES membutuhkan penggunaan 4 kunci sebanyak 256-bit dalam proses enkripsi dan dekripsi. Pengujian keamanan berkas rekam medis dalam penelitian itu dilakukan menggunakan berkas (Word, Excell, Gambar). Setiap bit plainteks dan bit kunci digunakan melalui Pseudo Random Sequence Generator Domnness yang merupakan suatu nilai yang terlihat seperti acak, tetapi sebenarnya bit tersebut berurutan, lalu pada saat proses enkripsi Pseudo Random Sequence Generator menghasilkan urutan bit yang sama secara berulang-ulang pada penempatan yang berbeda yang mengakibatkan plaintext tidak dapat dibaca. Proses enkripsi melakukan pembagian dan penyusunan setiap jumlah plaintext (ukuran berkas) menjadi blok-blok yang telah ditentukan 64-bit (8-bit), untuk pengganjal dan menggenapi data agar sesuai dengan blok yang telah ditentukan, perlu proses penambahan padding sesuai dengan Public Key Cryptography Standard (PKCS) data tetap harus ditambahkan minimal 1 byte

dan maksimal 8 byte dan menggunakan proses mode operasi Cipher Block Chaining (CBC) untuk meminimalkan serangan terhadap blok. Dengan pengujian menggunakan berkas tersebut dan dengan ukuran berkas yang berbeda didapatkan hasil untuk ukuran berkas 100 KB menggunakan proses enkripsi/dekripsi metode 3DES dan 4DES sebesar 1 detik, dan pada berkas berukuran 1024 KB menggunakan proses enkripsi/dekripsi metode 3DES dan 4DES sebesar 1 detik. Dan adapun waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan panjang kunci adalah 3.45 ×1056 tahun lebih lama serangan Brute Force mengetahui teks berkas dan kunci rahasia yang digunakan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Galih Wening Werdi Mukti dkk, formulir rekam medis terdiri dari menu dropdown yang dapat memudahkan dokter dalam memilih tanpa harus mengetik satu per satu. Di bagian akhir formulir rekam medis, file dokter menggungah kunci pribadi yang dapat memudahkan dalam proses tanda tangan digital. Setelah data sudah terisi maka di bagian akhir form terdapat tombol submit untuk menyimpan semua data dan dimasukkan kedalam database. Jika ada data yang belum terisi atau kurang maka akan muncul notifikasi untuk melengkapinya.

Sebelum disimppan, sistem akan mengenkripsi data kesehatan pasien, sehingga data pasien tersimpan dalam keadaan terenkripsi. Kunci yang digunakan untuk enkripsi adalah kunci statis yang dideklarasikan di file konfigurasi Codeigniter. Proses dekripsi terjadi ketika memilih tombol untuk membuat resume pdf medis, sistem akan mengambil data dari database dan mendekripsi data yang dienkripsi sebelumnya. Dan data yang telah dienkripsi akan ditmpilkan pada file medis

(8)

©Jurmiki, All rights reserved | 51 pdf dengan tanda tangan digital dan kode

Quick Response (QR). Dari hasil pengujian menggunakan AES-256 bahwa aplikasi mempunyai waktu yang masih dapat diterima oleh penggguna yaitu sekitar 1 detik dan di bawah 10 detik.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Dian Neipa Purnamasari,dkk dikatakan bahwa metode mIBE-AES lebih unttuk 0,292 detik daripada metode AES (Tabel 3.3.2).

Hal ini dikarenakan nilai awal untuk membangkitkan kunci sudah ditentukan yaitu berdasarkan nilai byte pada identitas penerima (Tabel 3.3.1). Sedangkan pada tahap enkrip dan dekrip waktu mIBE-AES lebih lambat 0,005 detik (Tabel 3.3.2). Total waktu komputasi mIBE-AES untuk menjalankan ketiga tahap adalah 0,799 detik (Tabel 3.3.2). Sedangkan, metode AES waktu komputasinya 1,075 detik (Tabel 3.3.2). Selain itu, metode mIBE-AES diuji menggunakan penyerangan Man In The Middle (MITM) dan hasilnya metode tersebut mampu menangani penyerangan Man In The Middle (MITM) dengan skenario sniffing dan chosen plaintext. Serangan ini bertujuan untuk menyadap komunikasi data yang bersifat rahasia.

4. KESIMPULAN

Setelah membaca beberapa jurnal penelitian dapat saya simpulkan teknik yang paling aman digunakan untuk rekam medis elektronik adalah kriptografi sebab teknik tersebut sudah terstandarisasi, bisa digunakan tanpa batas dan biayanya yang murah. Dan metode yang paling aman digunakan untuk rekam medis elektronik adalah Modifikasi IBE dan AES (mIBE- AES) karena metode tersebut sudah terbukti aman dan cepat untuk penyimpanan

dokumen rekam medis. Dan metode tersebut juga sudah dibuktikan dengan adanya penyerangan Man In The Middle (MITM) dan tidak mengalami kebocoran data.

5. DAFTAR PUSTAKA

Darwito, H. A., Yuliana, M., & Azkiya, M.

U. (2016). Implementasi Sistem Keamanan Sharing Electronic

Health Record (Ehr)

Berbasis3des. Sentia2016, 8(2).

Darwito, H. A., Yuliana, M., & Soelistijorini, R. (2017). Implementasi Algoritme 3DES pada Sistem Sharing Electronic Health Record (EHR) Berbasis Cloud. Jurnal Nasional Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (JNTETI), 6(3), 284-290.

Deshmukh, P. (2017). Design of cloud security in the EHR for Indian healthcare services. Journal of King Saud university-computer and information sciences, 29(3), 281- 287.

Koten, E. H. B., Ningrum, B. S., & Hariyati, R. T. S. (2020). Implementasi Electronic Medical Record (Emr) Dalam Pelayanan Kesehatan Di

Rumah Sakit: Studi

Literatur. Carolus Journal of Nursing, 2(2), 95-110.

Kruse, C. S., Smith, B., Vanderlinden, H., &

Nealand, A. (2017). Security techniques for the electronic health records. Journal of medical systems, 41(8), 127.

Lalu, S. J. P. (2020). Aplikasi Penyimpanan Berkas Berbasis Client-Server dengan Kriptografi Advanced Encryption Standard 256 (AES- 256) sebagai Metode Pengamanan

(9)

©Jurmiki, All rights reserved | 52 Berkas (Doctoral dissertation,

Universitas Bumigora).

Mukti, G. W. W., & Setiawan, H. (2020, July). Designing and Building Secure Electronic Medical Record Application by Applying AES-256 and RSA Digital Signature. In IOP Conference Series: Materials Science and Engineering (Vol. 852, No. 1, p. 012148). IOP Publishing.

Ningtyas, A. M., & Lubis, I. K. (2018).

Literatur Review Permasalahan Privasi Pada Rekam Medis Elektronik. Pseudocode, 5(2), 12- 17.

Pribadi, Y., Dewi, S., & Kusumanto, H.

(2018). Analisis Kesiapan Penerapan Rekam Medis Elektronik di Kartini Hospital Jakarta. Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan, 8(2), 19.

Prisusanti, R. D., Ikawati, F. R., Efendi, A.,

& Suwito, S. (2020). Path analysis of factors related to the events of low birth weight babies in Bangil Hospital. APTIRMIKI Press, 1(1), 369-375.

Purnamasari, D. N., Sudarsono, A., &

Kristalina, P. (2019). Modifikasi Identity-based Encryption pada Keamanan dan Kerahasiaan Data

Rekam Medis. INOVTEK

POLBENG, 9(2), 196-203.

Riyantono, R., & Pramusinto, W. (2018).

Aplikasi Pengamanan Surat Elektronik (Email) Menggunakan Algoritma Advanced Encryption Standard 128 (Aes-128) Dan Rivest Cipher Code 4 (Rc4) Berbasis Web. Skanika, 1(2), 725-731.

Rosyada, A., Lazuardi, L., & Kusrini, K.

(2016). Persepsi Petugas Kesehatan Terhadap Peran Rekam Medis Elektronik Sebagai Pendukung Manajemen Pelayanan Pasien di Rumah Sakit Panti Rapih. Journal of Information Systems for Public Health, 1(2), 16-22.

Rusdi, A. J., & Ohoiwutun, Y. T. (2019).

Analisis Yuridis Manajemen Kerahasiaan Visum Et Repertum Tindak Pidana Kesusilaan di Rumah Sakit Bhayangkara Bondowoso.

Multidisciplinary Journal, 2(1), 8- 11.

Sadikin, M. A., & Wardhani, R. W. (2016, July). Implementation of RSA 2048-bit and AES 256-bit with digital signature for secure electronic health record application.

In 2016 International Seminar on Intelligent Technology and Its Applications (ISITIA) (pp. 387- 392). IEEE.

Samandari, N. A., & Rahim, A. H. (2016).

Kekuatan Pembuktian Rekam Medis Konvensional dan Elektronik. SOEPRA, 2(2), 154- 164.

Yanti, Y., Arif, T. Y., & Munadi, R. (2016).

Perancangan dan Penerapan Algoritme 4DES (Studi Kasus Pada Keamanan Berkas Rekam Medis). Jurnal Rekayasa Elektrika, 12(3), 73-82.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan yang dilakukan oleh petugas rekam medis bagian pelayanan berkas rekam medis di RSUD Tebet belum sesuai dengan Standar Prosedur Operasional yang ada,

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi Steinernema carpocapsae dan Bacillus thuringiensis terhadap mortalitas larva Crocidolomia pavonana

Sikap mahasiswi pada hasil penelitian menunjukan peningkatan mengenai pernyataan sangat setuju untuk berurutan melakukan tahap Sadari, akan melakukan Sadari walaupun

13 Hasil observasi di Puskesmas Rawang terhadap 10 berkas rekam medis yang diambil secara acak, peneliti menemukan 7 dari 10 berkas rekam medis tersebut

Efektivitas kerja dalam ukuran biaya yaitu, biaya yang dibutuhkan untuk keperluan ruangan khususnya ruang penyimpanan rekam medis mempunyai manfaat sangat besar demi

Rekam medis elektronik dengan sistem terbuka/konvensional tak ubahnya seperti rekam medis kertas yang dielektronikkan sehingga tidak memiliki kemampuan untuk

Oleh karena itu rumah sakit perlu memiliki prosedur tetap tentang peminjaman atau pengambilan berkas rekam medis yang bertujuan untuk melindungi kerahasiaan isi berkas rekam

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat respon masyarakat terhadap potensi penggunaan Fan Type Hologram yang merupakan teknologi yang relatif baru, untuk menggantikan papan