UJIAN AKHIR SEMESTER
Dosen Pengampu :
I Wayan Agus Vijayantera, S.H.,M.H
Oleh : Ade Arya Divani
1904742010131 Reguler VI A
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2023
Perjanjian Baku dalam Hukum Perjanjian di Indonesia: Tantangan dan Upaya Perlindungan bagi Pihak yang Lebih Lemah
Ade Arya Divani
11,Fakultas Hukum Universitas Mahasaraswati Denpasar, E-mail:
Info Artikel Abstract
Title
Standard Agreements in Contract Law in
Indonesia: Challenges and Safeguards for the Weaker Party
Agreement is a crucial aspect in business activities, including the employment relationship between employers and employees. One important principle in contract law is the principle of freedom of contract. This principle grants freedom to the parties to make or not make an agreement, determine the content and form of the agreement, its implementation, requirements, and the form of the agreement itself. This research will employ a normative juridical approach by examining relevant legislation regarding employment agreements and the principle of freedom of contract. The analysis will be conducted through literature review and exploration of court decisions related to employment agreements that involve standard contract elements. The data and information obtained will be qualitatively analyzed to gain a deeper understanding of the application of the principle of freedom of contract in standard contracts. The results of this research indicate that standard contracts are one form of agreements that have been standardized and include standard clauses. In practice, standard contracts are often utilized by parties with stronger bargaining positions, while the weaker party tends to accept what is offered to them.
Keywords : Standard Agreements, Law
Abstrak Judul
Perjanjian Baku dalam Hukum Perjanjian di Indonesia: Tantangan dan Upaya Perlindungan bagi Pihak yang Lebih Lemah
Perjanjian merupakan aspek yang sangat penting dalam kegiatan bisnis, termasuk dalam hubungan pekerjaan antara pengusaha atau pemberi kerja dengan pekerjanya. Salah satu asas yang penting dalam hukum perjanjian adalah asas kebebasan berkontrak. Asas ini memberikan kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, menentukan isi dan bentuk perjanjian, pelaksanaan, persyaratan, dan bentuk perjanjian itu sendiri.
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan mengkaji peraturan perundang-undangan terkait perjanjian kerja dan asas kebebasan berkontrak. Analisis dilakukan melalui studi pustaka dan penelusuran terhadap putusan pengadilan terkait perjanjian kerja yang mengandung unsur perjanjian baku. Data dan informasi yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang penerapan asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian baku. Hasil penelitian ini adalah Perjanjian baku merupakan salah satu bentuk perjanjian yang telah dibakukan dan memiliki klausula-klausula standar.
Dalam praktiknya, perjanjian baku sering kali digunakan oleh pihak yang memiliki kedudukan lebih kuat, sedangkan pihak yang lebih lemah cenderung hanya menerima apa yang disodorkan.
E-ISSN: 2809- 431X
4
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Permasalahan
Perjanjian merupakan aspek yang sangat penting dalam kegiatan bisnis, termasuk dalam hubungan pekerjaan antara pengusaha atau pemberi kerja dengan pekerjanya. Perjanjian kerja, yang biasanya bersifat perjanjian baku, mengikat pengusaha dengan pekerja/buruh dan berisi syarat-syarat, hak, dan kewajiban para pihak dalam hubungan kerja. Hak pekerja menjadi topik penting dalam etika bisnis, di mana penghargaan dan jaminan terhadap hak pekerja merupakan penerapan prinsip keadilan.
Pekerja bukan hanya dianggap sebagai alat produksi, melainkan sebagai mitra yang berperan penting dalam keberhasilan dan kelangsungan bisnis perusahaan.
Perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh memiliki peran yang signifikan karena mencerminkan adanya hubungan kerja yang mengikat. Perjanjian ini harus mencantumkan secara jelas syarat-syarat dan kondisi kerja yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tujuannya adalah untuk meminimalkan perselisihan hubungan industrial antara pekerja/buruh dengan pengusaha. Oleh karena itu, perjanjian kerja juga harus mengikuti asas-asas penting dalam hukum perjanjian.
Salah satu asas yang penting dalam hukum perjanjian adalah asas kebebasan berkontrak. Asas ini memberikan kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, menentukan isi dan bentuk perjanjian, pelaksanaan, persyaratan, dan bentuk perjanjian itu sendiri. Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengatur asas kebebasan berkontrak dengan prinsip bahwa
"Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya." Kebebasan berkontrak memberikan kebebasan kepada setiap subyek hukum untuk menentukan dengan siapa mereka membuat perjanjian, mengenai isi dan bentuk perjanjian, sesuai dengan kepentingan masing-masing.
Namun, seiring berjalannya waktu, muncul perjanjian baku yang ditentukan oleh salah satu pihak tanpa melibatkan negosiasi yang seimbang antara para pihak. Penggunaan perjanjian baku ini memberikan kekhawatiran terhadap kepentingan masyarakat, terutama karena banyaknya masyarakat awam yang tidak memahami hukum, terutama dalam hukum perjanjian.
I.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan asas kebebasan berkontrak dalam
perjanjian baku berupa perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh. Penelitian ini akan
mengidentifikasi dalam sejauh mana asas kebebasan berkontrak diterapkan dalam perjanjian
baku, serta mengevaluasi dampaknya terhadap hak-hak pekerja dan keadilan dalam hubungan
kerja. Penelitian ini akan berfokus pada aspek yuridis perjanjian kerja dan implikasinya
terhadap pengaturan hak pekerja.
E-ISSN: 2809- 431X
5
I.3 Metode Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan mengkaji peraturan perundang-undangan terkait perjanjian kerja dan asas kebebasan berkontrak. Analisis dilakukan melalui studi pustaka dan penelusuran terhadap putusan pengadilan terkait perjanjian kerja yang mengandung unsur perjanjian baku. Data dan informasi yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang penerapan asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian baku.
II. PEMBAHASAN
1. Penggunaan Asas Kebebasan Berkontrak dalam Perjanjian Kerja Berupa Perjanjian Baku
Asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian kerja, terutama dalam bentuk perjanjian baku, didukung oleh payung hukum utama yang terdapat di Buku III KUHPerdata tentang Perikatan. Definisi perjanjian itu sendiri dijelaskan dalam Pasal 1313 KUHPerdata, yang menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Buku III KUHPerdata mendasarkan asas "kebebasan" dalam hal pembuatan perjanjian (prinsip kebebasan berkontrak).
Asas kebebasan berkontrak juga tercermin dalam Pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa "Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya". Pasal ini menunjukkan bahwa para pihak memiliki kebebasan untuk membuat perjanjian dalam batas yang sah, asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. Dalam konteks ini, para pihak diperbolehkan untuk mengabaikan peraturan-peraturan yang terdapat dalam Buku III KUHPerdata. Peraturan dalam Buku III KUHPerdata biasanya disediakan sebagai hukum pelengkap untuk kasus- kasus di mana pihak-pihak yang berkontrak tidak membuat peraturan mereka sendiri. Oleh karena itu, Buku III KUHPerdata bersifat "terbuka".
Dengan demikian, asas kebebasan berkontrak memberikan fleksibilitas kepada para pihak dalam membuat perjanjian kerja, terutama dalam konteks perjanjian baku. Para pihak memiliki keleluasaan untuk menentukan ketentuan-ketentuan yang mengikat mereka, selama tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan yang diatur oleh hukum.
Asas kebebasan berkontrak dalam hukum perjanjian di Indonesia memiliki ruang lingkup yang meliputi beberapa hal, seperti yang dijelaskan oleh Hartanto (2016):
1. Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian.
2. Kebebasan untuk memilih dengan siapa akan membuat perjanjian.
E-ISSN: 2809- 431X
6
3. Kebebasan untuk menentukan atau memilih kausa (sebab) dari perjanjian yang dibuat.
4. Kebebasan untuk menentukan obyek perjanjian.
5. Kebebasan untuk menentukan syarat-syarat perjanjian, termasuk kebebasan dalam menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional.
Dalam konteks ini, semua bentuk perjanjian pada dasarnya menerapkan asas kebebasan berkontrak. Namun, perjanjian baku merupakan salah satu bentuk perjanjian yang seharusnya menggunakan asas kebebasan berkontrak dalam pembuatannya. Pertumbuhan perjanjian baku terjadi karena pihak yang menjadi lawan kontraknya umumnya memiliki kedudukan yang lemah, baik karena posisinya maupun karena kurangnya pengetahuannya, dan hanya menerima apa yang disodorkan.
Penggunaan perjanjian baku ini menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap kepentingan masyarakat, terutama mengingat minimnya pemahaman masyarakat terhadap aspek hukum secara umum, termasuk aspek hukum perjanjian.
Perjanjian baku dapat didefinisikan sebagai perjanjian di mana hampir semua klausulnya sudah ditentukan oleh pihak yang menggunakannya, sedangkan pihak lainnya pada dasarnya tidak memiliki kesempatan untuk merundingkan atau meminta perubahan. Perjanjian baku seringkali mengikuti prinsip
"take it or leave it" (terima atau tinggalkan) yang ditawarkan kepada konsumen di bidang barang dan jasa, di mana konsumen tidak diberikan kesempatan untuk bernegosiasi dan dipaksa untuk menerima bentuk kontrak tersebut. Ciri khas perjanjian baku adalah pihak yang lebih lemah tidak memiliki posisi tawar.
Di Indonesia, terdapat beberapa jenis perjanjian baku, salah satunya adalah perjanjian baku sepihak. Perjanjian baku sepihak adalah perjanjian di mana isinya ditentukan oleh pihak yang memiliki kedudukan yang kuat di dalam perjanjian, seperti kreditur yang umumnya memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan pihak debitur (Badrulzaman, 1994).
Dalam praktiknya, penggunaan perjanjian baku di Indonesia mengacu pada definisi klausula baku yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Klausula baku adalah aturan, ketentuan, dan syarat-syarat yang telah ditetapkan sepihak oleh pelaku usaha dalam satu dokumen atau perjanjian yang mengikat dan harus dipatuhi oleh konsumen.
Secara keseluruhan, asas kebebasan berkontrak dalam hukum perjanjian di Indonesia meliputi ruang lingkup yang mencakup kebebasan untuk membuat perjanjian, memilih pihak yang akan berkontrak, menentukan kausa dan obyek perjanjian, serta menentukan syarat-syarat perjanjian, termasuk kebebasan dalam menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional. Dalam praktiknya, perjanjian baku menjadi perhatian karena pihak yang lebih lemah dalam kontrak seringkali memiliki posisi yang terpinggirkan dan terbatas dalam negosiasi.
2. Penerapan Asas Kebebasan Berkontrak dalam Perjanjian Baku Berupa Perjanjian Kerja
Perjanjian di Indonesia, dalam bentuk apapun, mengikuti asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata, yang menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Namun, asas
E-ISSN: 2809- 431X
7
kebebasan berkontrak ini tidak sepenuhnya diterapkan dalam perjanjian baku, termasuk perjanjian kerja.
Perjanjian baku merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Belanda, yaitu "standart contract"
atau "Standart voorwaarden". Istilah "perjanjian baku" di sini mengacu pada patokan atau acuan yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga perjanjian tersebut sudah dibakukan dan memiliki arti tetap yang menjadi pedoman umum. Perjanjian baku seringkali disebut juga sebagai "take it or leave it contract", karena salah satu pihak yang memiliki posisi yang lebih kuat menawarkan perjanjian kepada pihak yang lebih lemah dengan hanya memberikan pilihan untuk menerima atau menolaknya, tanpa ada kesempatan untuk melakukan perubahan terhadap isi perjanjian.
Kedudukan yang tidak seimbang antara pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian, terutama dalam perjanjian kerja, mengakibatkan pihak pekerja sebagai pihak yang lebih lemah tidak memiliki kebebasan yang sebenarnya dalam menentukan isi perjanjian tersebut. Umumnya, pihak pengusaha atau pemberi kerja sebagai pihak yang lebih kuat menentukan klausula-klausula dalam perjanjian kerja yang lebih menguntungkan bagi mereka atau bahkan mengandung klausula eksonerasi.
Klausula eksonerasi adalah klausula yang menghindarkan pihak yang melanggar perjanjian dari kewajibannya untuk membayar ganti rugi secara penuh atau membatasi tanggung jawabnya sebagai akibat dari pelanggaran atau tindakan yang melanggar hukum. Klausula ini merupakan syarat yang membebaskan atau membatasi tanggung jawab pelaku usaha dalam melaksanakan suatu perjanjian.
Terdapat pendapat yang berbeda mengenai status perjanjian baku. Sluitjer dan Mariam Darus Badrulzaman berpendapat bahwa perjanjian baku bukanlah perjanjian karena bertentangan dengan Pasal 1320 KUHPerdata. Namun, penulis berpendapat bahwa perjanjian baku tetap dapat dianggap sebagai perjanjian selama memenuhi syarat sahnya perjanjian sesuai dengan Pasal 1320 KUHPerdata.
Syarat sahnya perjanjian baku, termasuk perjanjian kerja, harus memenuhi unsur-unsur yang ditentukan oleh Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu adanya kesepakatan yang mengikat antara para pihak, kecakapan untuk membuat perikatan, adanya hal tertentu yang menjadi objek perjanjian, dan adanya sebab yang halal. Salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kesepakatan yang mengikat antara para pihak, yang ditunjukkan dengan penerimaan pihak pekerja sebagai bentuk kesepakatan. Prinsip konsensualisme terpenuhi ketika asas kebebasan berkontrak juga terpenuhi, yaitu dengan adanya kemauan dari para pihak untuk saling berprestasi dan mengikat diri.
Dengan demikian, perjanjian baku, termasuk perjanjian kerja, masih dianggap sebagai perjanjian selama memenuhi syarat sahnya perjanjian dan prinsip konsensualisme. Namun, perlu diperhatikan bahwa dalam praktiknya, pihak pekerja sering kali memiliki kedudukan yang lebih lemah dan keterbatasan dalam bernegosiasi, sehingga perlindungan terhadap kepentingan mereka menjadi perhatian penting dalam konteks perjanjian kerja.
III. PENUTUP
1. Simpulan
E-ISSN: 2809- 431X
8
Berdasarkan pembahasan diatas maka kesimpulannya adalah
ruang lingkup asas kebebasan berkontrak dalam hukum perjanjian di Indonesia meliputi kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, memilih pihak yang akan membuat perjanjian, menentukan kausa dan obyek perjanjian, menentukan syarat-syarat perjanjian, termasuk kebebasan dalam menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional. Perjanjian baku merupakan salah satu bentuk perjanjian yang telah dibakukan dan memiliki klausula-klausula standar. Dalam praktiknya, perjanjian baku sering kali digunakan oleh pihak yang memiliki kedudukan lebih kuat, sedangkan pihak yang lebih lemah cenderung hanya menerima apa yang disodorkan. Terdapat perbedaan pendapat mengenai status perjanjian baku, apakah dapat dianggap sebagai perjanjian atau bukan. Namun, perjanjian baku masih dapat dianggap sebagai perjanjian selama memenuhi syarat sahnya perjanjian sesuai dengan Pasal 1320 KUHPerdata. Syarat sahnya perjanjian baku, termasuk perjanjian kerja, meliputi adanya kesepakatan yang mengikat antara para pihak, kecakapan untuk membuat perikatan, adanya hal tertentu yang menjadi objek perjanjian, dan adanya sebab yang halal. Perlindungan terhadap kepentingan pihak yang lebih lemah dalam perjanjian kerja perlu diperhatikan, mengingat keterbatasan negosiasi dan kedudukan yang lebih rendah dari pihak pekerja.2. Saran
Saran yang dapat diberikan penulis adalah diperlukan regulasi yang lebih jelas dan tegas terkait dengan perjanjian baku, terutama dalam konteks perjanjian kerja. Regulasi tersebut dapat mengatur batasan dan ketentuan yang harus dipenuhi dalam perjanjian baku, serta melindungi kepentingan pihak yang lebih lemah.
DAFTAR PUSTAKA
Hamza, Y. A. (2019). "Prinsip Itikad Baik dalam Perjanjian Kerja Outsourcing". Meraja Journal.
Vol.2. No.2.
Hartanto, D. (2016). "Asas Kebebasan Berkontrak: Problematika Penerapannya Dalam Kontrak Baku Antara Konsumen Dengan Pelaku Usaha". Jurnal Hukum Samudra Keadilan. Vol.11. No.2.
Muhtarom, M. (2014). "Asas-Asas Hukum Perjanjian: Suatu Landasan Dalam Pembuatan Kontrak".
SUHUF. Vol. 26. No. 1.
Rusli, T. (2015). "Asas Kebebasan Berkontrak Sebagai Dasar Perkembangan Perjanjian di Indonesia". Pranata Hukum. Vol.10. No.1.
Santoso, Budi dan Ratih Dheviana Puru. (2012). "Eksistensi Asas Kebebasan Berkontrak dalam Perjanjian Kerja". Arena Hukum. Vol.5. No.3.
Sinaga, N. A. (2017). "Peranan Perjanjian Kerja dalam Mewujudkan Terlaksananya Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Hubungan Ketenagakerjaan". Jurnal Ilmiah Hukum Dirgantara.
Vol.7. No 2.
YUSTHIMA : Jurnal Hukum Agraria & Tata Ruang, Vol. 2 No. 1 Bulan Maret Tahun 2022, h. 11-28
9