• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Hutan Tropis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Jurnal Hutan Tropis"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Berkala Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kehutanan

ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA SANGATTA, KABUPATEN KUTAI TIMUR

Iin Sumbada Sulistyorini, Muli Edwin, dan Widi Asti

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU TERHADAP AKSI KOLEKTIF KELOMPOK PEDULI MANGROVE DI DESA SIDODADI KECAMATAN PADANG CERMIN KABUPATEN PESAWARAN Aplita Fitri Ana, Rommy Qurniati, dan Christine Wulandari

PENGARUH ASAL ETNIS TERHADAP PRODUKTIVITAS JATI HUTAN RAKYAT DI TROPIKA BASAH Yusanto Nugroho

STUDI BASELINE KERAGAMAN KUPU-KUPU UNTUK KAWASAN PELESTARIAN PLASMA NUTFAH PT SYLVA RIMBA LESTARI, KALIMANTAN TIMUR

Harmonis

PERTUMBUHAN AWAL NYAMPLUNG (Callophyllum inophyllum)

PADA BEBERAPA KEDALAMAN LUBANG TANAM DI PESISIR PULAU SELAYAR Albert Donatus Mangopang, dan C. Andriyani Prasetyawati

ANALISIS VEGETASI PADA AREAL TERBAKAR DAN TIDAK TERBAKAR DI HUTAN TROPIS DATARAN RENDAH PREVAB TAMAN NASIONAL KUTAI Muli Edwin dan Sri Handayani

STUDI KONSTRUKSI DAN KEBERLANJUTAN PENGETAHUAN LOKAL DAYAK KENYAH OMA’ LONGH DI DESA SETULANG, KABUPATEN MALINAU Catur Budi Wiati dan Eddy Mangopo Angi

ANALISIS FUNGSI NEPENTHES GRACILIS KORTH.

TERHADAP LINGKUNGAN HUTAN KERANGAS

Kissinger, Rina Muhayah N.P., Ervizal A.M. Zuhud, Latifah K. Darusman, dan Iskandar Z.Siregar KUSKUS (Phalangeridae) DI PAPUA: ANTARA PEMANFAATAN DAN KONSERVASI

Agustina Y.S. Arobaya, Johan F.Koibur, Maria J.Sadsoeitoeboen, Evie W. Saragih, Jimmy F. Wanma, dan Freddy Pattiselanno

KAPASITAS DAN PERILAKU LENTUR BALOK KOMPOSIT BETON – KAYU Fengky Satria Yoresta dan Lona Mahdriani Puspita

UJI KOMPOSISI MEDIA TUMBUH TERHADAP DAYA KECAMBAH JABON MERAH (Anthocephalus Macrophyllus)

Lius Adjria, Daud Sanda Layuk, dan Abdul Samad Hiola

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI DI AREAL BEKAS TEBANGAN BERDASARKAN ZONE KELERENGAN

Ajun Junaedi dan Nisfiatul Hidayat

1-7

8-17 18-24

25-31

32-38

39-48

49-60

61-66

67-72 73-79

80-90

91-98 Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1 Maret 2015 ISSN 2337-7771 E-ISSN 2337-7992

DAFTAR ISI

(4)

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada para penelaah yang telah berkenan menjadi Mitra Bestari pada Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1 Edisi Maret 2015 yaitu:

Prof.Dr.Ir. Cecep Kusmana, M.S (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor)

Prof. Dr. Ir. Sugiyanto, M.S (Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya)

Dr. Drs. Krisdiyanto, M.Sc

(Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat) Prof. Dr. Hj. Nina Mindawati, M.S

(Puslitbang Produktivitas Hutan, Kementerian Kehutanan RI) Dr. Siti Nurul Rofiqo, S.P., M.Agr.

(Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada) Prof. Dr. Ir. Didik Suharjito, MS .(Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor)

Dr. Herawati Soekardi

(Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung) Dr. Budi leksono, M.P

(Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr

(Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc (Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin)

Prof Dr. Ir. Mustofa Agung Sardjono (Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman)

Dr. Golar, S.Hut., M.Si.

(Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako) Dr. Ir. Yulianti Bramasto, M.Si

(Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan, Kementerian LHK) Dr. Ir. Bakri, M.Sc

(Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin) Dr. Ir. Niken Sakuntaladewi, MSc.

(Pusat Litbang Perubahan Iklim dan kebijakan, Kementerian LHK)

(5)

Salam Rimbawan,

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomor 1 Edisi Maret 2015 menyajikan 12 buah artikel ilmiah hasil penelitian kehutanan.

Analisis Kecukupan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Sangatta, Kabupaten Kutai Timur di teliti oleh Iin Sumbada Sulistyorini, Muli Edwin, Widi Asti.

Berdasarkan perhitungan, maka diperlukan RTH di Sengata, sebesar 1.395 hektar, atau sekitar 4,8% dari wilayah Kecamatan Sangatta Utara dan Selatan, karena menurut peraturan yang ada luas RTH minimal 30% dari luas keseluruhan wilayah kotta.

Aplita Fitri Ana, Rommy Qurniati, & Christine Wulandari dari Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung meneliti pengaruh Karakteristik Individu Terhadap Aksi Kolektif Kelompok Peduli Mangrove di Desa Sidodadi Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran.

Hasil penelitian menunjukkan modal sosial kelompok peduli mangrove termasuk pada kategori sedang. Karakteristik individu secara keseluruhan berpengaruh signifikan pada 0,070 terhadap aksi kolektif, dan variabel-variabel yang berpengaruh yaitu pendidikan nonformal, jumlah organisasi, jumlah teman dekat, serta kepuasan anggota

Pengaruh Asal Etnis Terhadap Produktivitas Jati Hutan Rakyat di Tropika Basah diteliti Yusanto Nugroho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani pengembang hutan rakyat di tropika basah meliputi asal suku Jawa, Madura dan Suku Banjar.

Petani asal suku Jawa menghasilkan produktivitas kayu tertinggi baik pada ukuran tinggi diameter dan volume kayu jati pada hutan rakyat tanaman jati di tropika basah dibandingkan dengan petani asal suku banjar dan suku Madura.

Harmonis dari Fakultas Kehutanan dan UPT.

Ekosistem Tropis & Pembangunan Berkelanjutan

Universitas Mulawarman meneliti Keragaman Kupu-Kupu Untuk Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan 80 jenis kupu-kupu (6 Hesperiidae, 23 Lycaenidae, 34 Nymphalidae, 9 Papilionidae, 3 Pieridae, dan 5 Riodinidae) pada lokasi penelitian. Keragaman kupu-kupu tertinggi dijumpai pada habitat kawasan berhutan. Dalam merealisasikan fungsi KPPN ke depan, diperlukan upaya perlindungan kawasan dari degradasi habitat sebagai langkah pengawalan proses suksesi menuju tingatan hutan klimaks.

Analisis Vegetasi Pada Areal Terbakar Dan Tidak Terbakar Di Hutan Tropis Dataran Rendah Prevab Taman Nasional Kutai diteliti Muli Edwin

& Sri Handayani. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa struktur dan komposisi di kedua lokasi tersebut mengalami tingkat pertumbuhan dan proses regenerasi yang baik. Ada beberapa spesies yang mendominasi di kedua lokasi tersebut seperti Eusideroxylon zwageri, Dysoxylum sp., Alangium ridleyii., Cananga odorata, dan Macaranga gigantea. Spesies yang mendominasi merupakan spesies primer dan sebagian lagi spesies perintis (pionir). Kemudian untuk tingkat keanekaragaman dan kemerataan spesies relatif tinggi, dimana hal tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan vegetasi hutan alam.

Analisis fungsi nepenthes gracilis korth.

Terhadap lingkungan hutan kerangas diteliti diteliti Kissinger, Rina Muhayah N.P., Ervizal A.M. Zuhud, Latifah K. Darusman, Iskandar Z.Siregar. Hasil pengkarakterisasian dari aspek lingkungan menunjukkan bahwa N.gracilis memiliki berbagai peranan untuk jasa ekosistem di hutan kerangas. Identifikasi jasa ekosistem dari N.gracilis menunjukkan bahwa keberadaan N.gracilis memberikan banyak keuntungan bagi lingkungan fisik-kimia, bio-ekologi dan sosial budaya di hutan kerangas.

KATA PENGANTAR

(6)

Kuskus (Phalangeridae) dI Papua diteliti Agustina Y.S. Arobaya,Johan F.Koibur, Maria J.Sadsoeitoeboen, Evie W. Saragih, Jimmy F.

Wanma dan Freddy Pattiselanno. Perburuan kuskus dilakukan dengan menggunakan alat buru yang bervariasi mulai dari tradisional sampai modern.

Perburuan kuskus dengan cara menebang pohon pakan dan tempat berlidung kuskus berdampak negatif terhadap perusakan habitat dan penurunan populasi kuskus di alam. Oleh karena itu tindakan perlindungan kuskus perlu terus dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan plasma nutfah yang ada, aplikasi kearifan tradisional masyarakat setempat dan mendukung usaha domestikasi kuskus.

Fengky Satria Yoresta1 & Lona Mahdriani Puspita meneliti Kapasitas Dan Perilaku Lentur Balok Komposit Beton – Kayu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa balok komposit dengan kayu bangkirai memiliki nilai MOE dan MOR lebih tinggi dibandingkan balok yang menggunakan kayu kamper. Nilai MOE, MOR dan kekakuan tertinggi berturut-turut adalah 959808.49 kg/cm² pada balok AB, 229.45 kg/cm² pada balok CB, dan 706.09 kg/

cm² pada balok AB. Kerusakan pada semua balok hampir sama yaitu belah pada lapisan kayu, retak pada beton, dan pergeseran paku. Retak pada beton merupakan jenis retak lentur. Balok komposit dengan lapisan kayu bangkirai cenderung lebih kaku dibandingkan balok komposit yang menggunakan kayu kamper.

Artikel tentang Uji Komposisi Media Tumbuh Terhadap Daya Kecambah Jabon Merah (Anthocephalus Macrophyllus) ditulis oleh Lius Adjria, Daud Sanda Layuk, & Abdul Samad Hiola.

Dari hasil penelitian dapat di ambil kesimpulan Media top soil : coco peat (M0) menghasilkan bibit lebih tinggi dan berbeda nyata dengan coco peat : aram sekam (M2) dan top soil : pasir (M3) berbeda tidak nyata dengan top soil murni (M1), demikian pula antara M2 dan M3 berbeda nyata terhadap tinggi tanaman Jabon merah umur 62 HST. Hasil penelitian menunjukan bahwa media campur antara top soil dan coco peat memberikan

pengaruh sangat nyata pada dimeter bibit jabon (Anthocephalus mavrophyllus).

Ajun Junaedi & Nisfiatul Hidayat dari Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya menulis tentang Struktur dan Komposisi Vegetasi Di Areal Bekas Tebangan Berdasarkan Zone Kelerengan. Hasil penelitian menunjukkan struktur vegetasi horizontal di areal bekas tebangan 2 tahun pada zone kelerengan datar mengalami penurunan jumlah kerapatan vegetasi yang signifikan pada kelas diameter >39 cm sebesar 75,86%. Sedangkan struktur vegetasi vertikal juga mengalami penurunan jumlah kerapatan vegetasi yang siginifikan pada kelas tinggi 10-14 m di lokasi dan kelerengan yang sama sebesar 66,20%.

Jumlah jenis yang ditemukan paling banyak pada kelerengan datar terdapat di areal bekas tebangan 2 tahun (13-17 jenis) dibandingkan hutan primer (11-12 jenis). Kondisi sebaliknya terjadi pada kelerengan agak curam, dimana jumlah jenis yang ditemukan di hutan primer lebih tinggi (13-21 jenis) dibandingkan areal bekas tebangan 2 tahun (12-17 jenis). Vegetasi tingkat tiang mengalami pergeseran dominansi jenis di areal bekas tebangan 2 tahun pada zone kelerengan datar dan agak curam berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP).

Semoga hasil penelitian tersebut dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi pembaca untuk dikembangkan di kemudian hari. Selamat Membaca.

Banjarbaru, Maret 2015 Redaksi,

(7)

49

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1 ISSN 2337-7771

E-ISSN 2337-7992 Maret 2015

STUDI KONSTRUKSI DAN KEBERLANJUTAN PENGETAHUAN LOKAL DAYAK KENYAH OMA’ LONGH DI DESA SETULANG,

KABUPATEN MALINAU

Study of Construction and Sustainability of Local Knowledges Belong To Dayak Kenyah Oma’ Longh in Setulang Village, Malinau District

Catur Budi Wiati

1

& Eddy Mangopo Angi

2

1

Balai Besar Penelitian Dipterokarpa

Jl. A.W. Syahranie No. 68 Sempaja, Samarinda; Telp (0541) 206364, Fax (0541) 742298

2

Konsultan Independen di Samarinda, Kalimantan Timur.

ABSTRACT.Tane' Olen is one of the local knowledge of Dayak Kenyah Oma ' Longh communities in managing and conserving forests. However, the sustainability of the local knowledge faced a lot of challenges due to the change in social situations which happened in Setulang Village. The purpose of this study was to construct the local knowledge belong to Dayak Kenyah Oma' Longh communities in Setulang Village at Malinau District, North Kalimantan and to to maintain the sustainability of their local knowledge in managing and conserving the forest, especially related to Tane’ Olen. By phenomenology approach, data collection for this study using the combination method of literature study, Focus Group Discussion (FGD) and interviews.

The results of the study indicate that local knowledge belongs to the Dayak Kenyah Oma ' Longh in Setulang Village is their creation product which proven from the process of distribution, adaptation and reciprocity that they done. Related to the sustainability, the local knowledge belong to Dayak Kenyah Oma’ Longh communities in Setulang Village most likely not to be retained by the next generation. This can be seen from the mindset of the Setulang people which very receptive to information and new technologies, such as the use of methods and new tools in forest management activities that they consider to be more practical, but do not consider its sustainability.

Keywords: local knowledge, Umo’ Longh, Setulang, construction , sustainability.

ABSTRAK.Tane' Olen merupakan salah satu pengetahuan lokal milik masyarakat Dayak Kenyah Oma' Longh di Desa Setulang dalam mengelola dan menjaga kelestarian hutan. Namun keberlanjutan pengetahuan lokal tersebut dipastikan mendapat banyak tantangan seiring dengan adanya perubahan berbagai situasi sosial yang terjadi di Desa Setulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkontruksikan pengetahunan lokal yang dimiliki masyarakat Dayak Kenyah Oma’ Longh di Desa Setulang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara dan mengetahui keberlanjutan pengetahuan lokal mereka dalam mengelola dan menjaga kelestarian hutan, khususnya yang terkait Tane’ Olen. Menggunakan pendekatan fenomenologi, pengumpulan data dilakukan dengan metode studi literatur, Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara. Hasil studi menunjukkan bahwa kearifan lokal milik masyarakat Dayak Kenyah Oma’ Longh di Desa Setulang merupakan produk ciptaan mereka sendiri yang terbukti melalui proses distribusi, adaptasi dan reprositas yang mereka lakukan.

Terkait dengan keberlanjutannya, pengetahuan lokal milik masyarakat Dayak Kenyah Oma’ Longh di Desa Setulang mempunyai kemungkinan besar untuk tidak dapat dipertahankan oleh generasi selanjutnya. Hal

(8)

50

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1, Edisi Maret 2015

tersebut dapat dilihat dari pola pikir masyarakat Setulang yang sangat mudah menerima informasi dan teknologi baru, berupa penggunaan cara-cara dan alat-alat baru dalam kegiatan pemanfaatan hutan yang mereka anggap lebih praktis namun tidak mempertimbangkan kelestariannya.

Kata Kunci: pengetahuan lokal, Umo’ Longh, Desa Setulang, konstruksi, keberlanjutan Penulis untuk korespondensi, surel: [email protected];

Di dalam wilayah Tana’ Olen orang dilarang menebang pohon, membakar hutan, membuat ladang, dan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan. Pengambilan hasil hutan di dalam Tana’ Olen diatur hanya untuk memanfaatkan beberapa jenis hasil hutan tertentu saja.

Terkait dengan adanya perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya, maka pengetahuan lokal berupa Tane’ Olen milik masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di Desa Setulang, Kabupaten Malinau juga mengalami perubahan.

Perkembangan informasi dan hadirnya teknologi baru mendorong pengetahuan lokal yang mereka miliki harus mengalami banyak penyesuaian agar sesuai kondisi sekarang. Penyesuaian ini akan sangat terkait dengan kemampuan masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di Desa Setulang untuk tetap dapat mempertahankan pengetahuan lokal yang mereka miliki. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka studi keberlanjutan pengetahuan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di Desa Setulang menjadi penting untuk dilakukan.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengkontruksikan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat Dayak Kenyah Oma’ Longh di Desa Setulang, Kabupaten Malinau dan mengetahui keberlanjutan pengetahuan lokal tersebut dalam mengelola dan menjaga kelestarian hutan khususnya yang terkait TaneOlen.

METOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Lokasi Penelitian

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2012 di Desa Setulang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

PENDAHULUAN

Koentjaraningrat (2005) mengartikan pengetahuan sebagai salah satu unsur dari kebudayaan. Sedangkan kebudayaan diartikan sebagai seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya untuk belajar. Pengetahuan lokal juga dapat diartikan sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal (local wisdom) menurut Collin (1987) dalam Imang dan Yohanes (2005), diartikan sebagai pengetahuan dan kebiasaan yang dikumpulkan atau akumulasi pengalaman dan dipraktikkan oleh suatu komunitas masyarakat selama bertahun-tahun dari generasi ke generasi berikutnya. Kearifan juga didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengalaman untuk melakukan suatu tindakan dan mengambil keputusan bijaksana berdasarkan pengetahuan masa lalu yang telah teruji secara alami. Kearifan membuat orang lebih rasional dalam menilai suatu masalah yang dihadapi. Suatu pengalaman dapat dikategorikan sebagai kearifan jika dapat diterima dan dipraktikkan oleh komunitas itu sendiri, dapat diterima masyarakat luas, dan berdampak positif jika dipraktikkan.

Tane’ Olen atau Tana’ Ulen di Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan salah satu pengetahuan lokal yang masih dipertahankan oleh kelompok masyarakat suku Dayak Kenyah (Lamis, dkk., 1999;

Uluk, dkk., 2001; Sidiyasa, dkk., 2006; Iwan, dkk., 2008,). Selanjutnya dijelaskan bahwa, Tane’ Olen adalah suatu kawasan hutan rimba yang dilindungi secara adat. Wilayah Tana’ Olen meliputi satu sungai atau beberapa sungai kecil mulai dari muaranya sampai ke ujung-ujung anak sungai di titik mata airnya. Batas-batas Tana’ Olen meliputi punggung- punggung gunung dimana sungai tersebut mengalir.

(9)

51

Catur Budi Wiati & Eddy Mangopo Angi: Studi Konstruksi dan Keberlanjutan ... (3): 49-60

Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan studi literatur dan wawancara secara mendalam (indepth interview). Data dan informasi yang dikumpulkan mencakup 4 (empat) hal yaitu sejarah Suku Dayak Kenyah Umo’Longh di Desa Setulang, sejarah Tane’ Olen dan pola pengelolaannya selama ini serta proses interaksi masyarakat Desa Setulang dengan Tane’ Olen terkait pembentukan pengetahuan lokal tersebut dan upaya mempertahankan keberlanjutannya.

Wawancara mendalam dilakukan dengan bantuan pertanyaan terbuka dan tidak terstruktur kepada kepala desa, ketua adat, ketua lembaga-lembaga desa yang ada, tokoh-tokoh masyarakat, dan masyarakat desa Setulang.

Analisis Data

Penelitian ini merupakan suatu studi etnoekologi atau ekologi budaya sehingga bersifat kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan metode deskriptif. Agar penelitian ini dapat lebih menjelaskan proses interaksi dalam masyarakat maka pendekatan dalam penelitian ini dilakukan dengan fenomenologi yaitu suatu pendekatan yang menempatkan kesadaran manusia dan makna subyektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial (Berger dan Luckmann, 1990).

Dalam pandangan fenomenologi antara tujuan dan kelakuan seseorang terdapat hubungan logis, yaitu kelakuan seseorang dianggap dapat dijelaskan dengan menunjukkan tujuannya (Wuisman, 1996 dalam Awang, 2006).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Suku Dayak Kenyah Umo’Longh di Desa Setulang

Menurut sejarahnya Suku Dayak Kenyah berasal dari kelompok-kelompok pengembara dari Sarawak yang masuk ke wilayah Indonesia melalui Sungai Iwan. Dari Sungai Iwan, kemudian suku Kenyah ini berpencar dan membentuk kelompok-

kelompok yang memiliki nama masing-masing (sub suku Kenyah). Beberapa kelompok kemudian bergerak menuju daerah Apo Kayan, dan sebagian yang lainnya memasuki daerah aliran sungai Pujungan di Sungai Bahau. Perpindahan secara besar-besaran meninggalkan Apo Kayan dan Bahau yang dilakukan suku Kenyah mulai terjadi pada dasawarsa 1960-an. Tujuannya tersebar ke Sarawak, daerah aliran sungai Mahakam, daerah aliran sungai Malinau, serta kawasan-kawasan pesisir kabupaten Bulungan (Eghenter dan Sellato, 1999).

Tidak terlepas juga kelompok sub Suku Dayak Kenyah Umo’ Longh yang berada di Desa Longh Sa’an dan Long Uli di hulu Sungai Pujungan.

Mereka melakukan perpindahan menuju daerah aliran sungai Malinau sekitar tahun 1967. Dalam perkembangannya penyebaran Suku Dayak Kenyah Umo’ Longh yang dulunya berasal dari Desa Longh Sa’an dan Desa Long Uli, Kecamatan Long Pujungan melakukan penyebaran ke beberapa daerah diantaranya Desa Pimping, Desa Long Jelet, Desa Long Beluah dan Desa Long Pujungan di Kabupaten Bulungan, serta Batu Kajang dan Desa Setulang di Kabupaten Malinau

Perpindahan suku Dayak Kenyah Umo’

Longh dari lokasi asal mereka di Desa Longh Sa’an, Kecamatan Long Pujungan ke Setulang di Kecamatan Malinau diawali dengan survey rombongan awal pada tahun 1962 dibawah pimpinan Adjang Lidem untuk tujuan mencari lokasi untuk desa baru yang mempunyai penghidupan lebih baik yang dekat dengan ibukota kecamatan dan sarana pendidikan. Perjalanan yang dilakukan bersama 24 orang dengan menggunakan perahu dayung menuju hulu sungai Malinau dengan beberapa kali melakukan persinggahan tersebut akhirnya tiba di Desa Langap dan bertemu dengan Alang Impang, yang merupakan Kepala Adat Besar Sungai Malinau. Hasil pertemuan dengan Alang Impang menyebutkan bahwa, mereka dipersilahkan memilih 3 (tiga) lokasi yang diusulkan yakni: Loreh, Gong Solok dan Setulang. Setulang kemudian akhirnya dipilih menjadi lokasi desa mereka yang

(10)

52

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1, Edisi Maret 2015

baru dikarenakan lokasinya yang datar, dekat dengan sungai, baik untuk perladangan, dekat dengan ibukota kecamatan, dekat dengan sarana pendidikan, dan masih terdapat hutan.

Pemilihan Setulang kemudian dilaporkan kepada pihak Kecamatan Malinau dan selanjutnya mendapat persetujuan melalui Surat Camat Malinau Nomor: 506/A-6. Dalam perkembangannya pengesahan Desa Setulang sebagai desa definitif oleh pemerintah setempat dilakukan melalui Surat Keputusan Bupati Bulungan Nomor: 12/THK/Pem-I/

BKDH/74 tentang Pembentukan Desa-Desa Baru di Kecamatan Malinau dalam Wilayah Kabupaten Bulungan dan Surat Camat Malinau Tanggal 28 Juni 1972 Nomor: 837/A-6 yang memuat salah satunya tentang pengesahan Desa Setulang sebagai pengganti Desa Semelandung yang telah dihapuskan. Perpindahan masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh sendiri dilakukan melalui 5 (lima) tahap. Rombongan pertama datang dilakukan pada tahun 1968, sedangkan rombongan terakhir dilakukan pada tahun 1978 (Rahmadani &

Marbyanto, 2010).

Sejarah Tane’ Olen di Desa Setulang

Asal usul Tane’ Olen di Desa Setulang tidak terlepas dari sejarah Tana’ Ulen di Longh Sa’an, tempat asal mula suku Dayak Kenyah Oma’ Longh, di hulu Sungai Pujungan, Kabupaten Malinau. Subroto, D. (1997) dan Lamis, dkk. (1999) menyebutkan bahwa TanaUlen atau Tane’

Olen (istilah yang dipergunakan di Desa Setulang) berasal dari kata tana’ yang dalam bahasa kenyah berarti tanah dan ulen yang berasal dari kata mulen yang berarti mengklaim atau sesuatu (barang) yang sudah dimiliki dan tidak boleh diganggu oleh orang lain. Sehingga secara umum Tana’ Ulen atau Tane’ Olen mengandung pengertian hukum sebagai tanah yang dilarang untuk orang lain.

Dalam berbagai literatur beberapa kelompok suku Dayak Kenyah yang mengartikan Tana’ Ulen sebagai hutan larangan dimana tanah dan tumbuhan yang diatasnya (hutan) yang penggunaan dan

peruntukannya ditentukan bersama oleh masyarakat (Lamis, dkk., 1999; Uluk, dkkl., 2001; Sidiyasa, dkk., 2006; Iwan dan Limberg, 2008; Wiati, 2013).

Jadi Tana’ Olen merupakan tanah yang dilarang untuk orang lain, dan yang dimaksud dengan orang lain adalah orang yang tidak termasuk dalam keluarga yang menguasai atau telah mengklaim tanah tersebut (Lamis, dkk., 1999). Secara harfiah Tane’ Olen diartikan sebagai tanah yang disimpan, dimana didalamnya terdapat berbagai sumberdaya alam yang semuanya diperlukan oleh masyarakat untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

Dilihat dari sejarahnya keberadaan Tane’ Olen di Desa Setulang lebih dikarenakan meneruskan kebiasaan leluhur masyarakat suku Kenyah.

Dari cerita tetua masyarakat, dahulu Tana’ Ulen terjadi karena berbagai alasan sosial dan religius.

Misalnya, sebagai penghormatan terhadap salah seorang golongan bangsawan (paren) yang berjasa dalam peperangan antar suku, maka ditetapkanlah suatu kawasan tertentu sebagai miliknya, yang harus dilindungi, dan dihormati setiap warga masyarakat. Namun di sisi lain, pemanfaatan Tana’ Ulen terbuka bagi masyarakat biasa (panyen) pada waktu-waktu tertentu (kecuali untuk berladang), misalnya kegiatan ritual upacara adat, yang berhubungan langsung dengan kepentingan umum (Lamis dkk, 1999). Namun terkait makin meningkatnya kebutuhan dan semakin kurangnya sumberdaya hutan di Desa Setulang, saat ini Tane’

Olen juga diperuntukan bagi seluruh masyarakat Desa Setulang tanpa melihat golongan (Wiati, 2013).

Pemanfaatan Tane’ Olen di Desa Setulang ditentukan berdasarkan hasil musyawarah bersama seluruh masyarakat atau pemuka-pemuka desa yang meliputi seluruh aparat desa antara lain Kepala Desa, Ketua Adat di desa, Ketua Lembaga di desa.

Bentuk pemanfaatan tersebut diantaranya adalah sebagai sumber untuk: (1) Memperoleh kayu untuk keperluan bahan bangunan, perahu, peti mati, dan lain- lain; (2) Memperoleh bahan makanan (ikan, buah-buahan, binatang, sayur-sayuran); (3) Mencari rotan, daun atap, daun untuk topi; (4) Memperoleh

(11)

53

Catur Budi Wiati & Eddy Mangopo Angi: Studi Konstruksi dan Keberlanjutan ... (3): 49-60

air bersih (Songe Bui); dan (5) Mencari bahan baku untuk kerajinan, alat musik, perlengkapan tari-tarian, dan lain-lain.

Terkait pemanfaatan Tane’ Olen, dari hasil peninggalan leluhurnya sebenarnya masyarakat Desa Setulang sudah memiliki aturan adat tidak tertulis yang berlaku sejak lama, yaitu: (1) Hasil hutan tidak boleh dipungut oleh orang diluar masyarakat Desa Setulang; (2) Hasil hutan tidak boleh diperjualbelikan kepada masyarakat di luar Desa Setulang; (3) Masyarakat Desa Setulang dan pihak luar tidak diperbolehkan menebang pohon buah-buahan; dan (4) Masyarakat Desa Setulang dan pihak luar tidak diperbolehkan membuka ladang di dalam Tane’ Olen. Selanjutnya setelah Badan Pengelola Hutan Tane’ Olen (BPH-TO) terbentuk, aturan tidak tertulis tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk Peraturan Desa (Perdes) Setulang Nomor: 1/Ds- Set/Th.2011 pasal 7 mengenai Hutan Kemasyarakatan. Penggunaan istilah Hutan Kemasyarakatan (HKm) lebih dipilih dibanding Tane’ Olen, dikarenakan saat penyusunan Perdes tersebut terdapat upaya-upaya dari masyarakat Desa Setulang untuk melegalkan status hukum Tane’ Olen. Salah satu upaya tersebut adalah mengusulkan Tane’ Olen Desa Setulang menjadi Hutan Kemasyarakatan Desa Setulang dan belakangan usulan berubah tersebut menjadi Hutan Desa Setulang (Pemdes Setulang, 2011).

Konstruksi Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Kenyah Umo’ Longh

Karena kearifan lokal diartikan sebagai pengetahuan dan kebiasaan yang dikumpulkan atau akumulasi pengalaman dan dipraktikkan oleh suatu komunitas masyarakat selama bertahun- tahun dari generasi ke generasi berikutnya, maka dalam konteks kearifan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh, maka dapat perlu dipelajari proses-proses pembentukan (konstruksi) kearifan lokal itu sendiri dan proses-proses perkembangannya.

Berger dan Luckmann (1990) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil proses

diakletis (hubungan timbal balik), antara individu (the self) dan dunia sosio kultural yang mencakup 3 (tiga) momen simultan yakni: (1) Eksternalisasi yang diartikan sebagai proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun masyarakat (dunia); (2) Objektivasi yaitu suatu proses dimana realitas subjektif berproses menjadi realitas objektif yakni ketika pengetahuan individu menjadi pengetahuan bersama; dan (3) Internalisasi yaitu proses sebaliknya dari objektivasi dimana masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan kembali mempengaruhi bahkan membentuk prilaku manusia. Hal tersebut sejalan yang disampaikan oleh Koentjaraningrat (2005) yang menyebutkan bahwa dalam proses belajar kebudayaan adalah: (1) internalisasi yang diartikan sebagai proses belajar seorang individu mengolah perasaan, hasrat, nafsu dan emosi untuk membentuk kepribadian di sepanjang hidupnya; (2) sosialisasi yaitu proses memahami pola-pola tindakan semua individu yang dijumpai dalam masyarakatnya dan menjadikan pola-pola tindakan tersebut sebagai bagian dari kepribadiannya; dan (3) enkulturasi yaitu proses belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap terhadap adat, sistem norma, serta semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan seseorang.

Untuk memahami proses dialektis tersebut maka kearifan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh dalam penelitian ini akan dianalisis dalam 3 aspek yaitu distribusi, adaptasi dan reprositas.

Distribusi Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Kenyah Umo’ Longh

Distribusi merupakan faktor penting dalam pembentukan pengetahuan masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh yang ada di Desa Setulang karena mempengaruhi proses eksternalisasi obyektivasi bagi setiap individu yang menjadi anggota suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di desa Setulang.

Seperti yang dikatakan Berger dan Luckmann (1990), bahasa Kenyah Umo’ Longh menjadi media penting dalam proses ini. Hal ini dikarenakan selain lebih dapat mengekpresikan isyarat-isyarat atau tanda-

(12)

54

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1, Edisi Maret 2015

tanda, bahasa juga mampu membangun simbol- simbol yang disarikan dari pengalaman sehari-hari sebagai unsur nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini juga sebagai pembeda antara sub suku Dayak Kenyah Umo’ Longh dengan sub suku Dayak Kenyah yang lainnya.

Salah satu upaya pendorong perpindahan suku Dayak Kenyah Umo’ Longh dari Longh Sa’an ke Setulang pada tahun 1968 adalah masalah pendidikan. Pendidikan yang berkembang di desa Setulang merupakan salah satu bagian dari distribusi pengetahuan. Kondisi sekarang tingkat pendidikan di desa Setulang sudah cukup maju, adanya SD dan SMP Negeri Setulang menunjukan tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Beberapa orang tua telah dapat menyekolahkan anak ketingkat yang lebih tinggi ke SMA bahkan perguruan tinggi di Tarakan, Samarinda bahkan ada yang di Jawa. Dengan demikian media pembelajaran tentang pengetahuan Tane’ Olen misalnya, tidak hanya dapat diwariskan dari orang tua tetapi juga pembelajaran dari tingkat pendidikan formal yang ada. Dari hasil FGD dan pengamatan dilapangan, kegiatan pengenalan Tane’ Olen dapat pula dilakukan oleh orang tua maupun pihak sekolah pada waktu libur dengan mengajak anak-anak mereka berlibur ke Tane’

Olen. Adapula yang mengajak pergi mencari ikan di sungai Setulang dan anak sungainya. Jadi selain bahasa, pengetahuan juga diwariskan kepada anak- anak dengan melibatkan mereka sejak kecil hampir dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan hutan. Umumnya anak laki-laki dan perempuan dilibatkan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan. Kegiatan berladang misalnya, beberapa anak dilibatkan pada waktu libur mengikuti penebasan waktu membuka ladang baru, atau pula pada saat Senguyun menanam padi.

Pendistribusian pengetahuan kearifan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di desa Setulang, tidak hanya dilakukan di dalam keluarga saja (dari orang tua kepada anak-anaknya).

Akan tetapi juga antar warga satu dengan warga yang lain. Pola penguasaan bersama (komunal) yang dilakukan terhadap sumberdaya hutan

menyebabkan masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh sering melakukan musyawarah secara bersama-sama. Dalam musyawarah tersebutlah, pendistribusian pengetahuan dilakukan, dimana setiap warga mengungkapkan rencana-rencana yang berhubungan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan. Sebagai contoh, pembentukan BPH-TO dimana setiap orang memberikan masukan terkait dengan rencana- rencana apa saja yang akan dilakukan di Tane’ Olen.

Proses pembelajaran pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilakukan setiap individu sejak kecil dalam masyarakat suku Kenyah Umo’ Longh di desa Setulang, sebenarnya seperti yang telah disampaikan oleh Berger dan Luckmann (1990).

Proses yang dimaksud adalah sebagai proses eksternalisasi. Jika proses penyesuaian ini dilakukan secara terus menerus, maka akan menghasilkan pembiasaan (habitualisasi). Melalui proses obyektivitas akan memunculkan pengendapan dan tradisi yang akan diwariskan kepada generasi sesudahnya sebagai suatu warisan. Proses dimana tradisi kemudian mempengaruhi kembali setiap individu dalam masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh ini dikenal dengan internalisasi. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan kearifan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh merupakan produk ciptaan sendiri, dan bukan hanya sekedar warisan dari nenek moyang mereka.

Adaptasi Pengetahuan Kearifan Lokal

Adaptasi merupakan kemampuan diri untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Oleh karena itu adaptasi dapat juga mempengaruhi proses eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi dari pengetahuan tradisional masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh. Dalam konteks kebudayaan adaptasi bisa dipandang sebagai proses akulturasi dan asimilasi. Adaptasi dapat membuat pengetahuan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh terus berkembang dan mengalami perubahan.

Dengan tingkat pendidikan yang tinggi terutama bagi generasi muda masyarakat suku Dayak Kenyah

(13)

55

Catur Budi Wiati & Eddy Mangopo Angi: Studi Konstruksi dan Keberlanjutan ... (3): 49-60

Umo’ Longh yang ada di Desa Setulang. Serta sangat terbuka terhadap masuknya informasi dari luar, menyebabkan mudah terpengaruhnya masyarakat ini. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai kegiatan yang dulunya dilakukan secara tradisional sekarang sudah menyesuaikan kondisi sekarang termasuk di dalamnya pengaruh teknologi. Beberapa adaptasi perubahan pola lama ke pola baru misalnya: kegiatan mengambilan air, menumbuk padi, membawa hasil ladang dan kegiatan lainnya. Berikut disampaikan beberapa perubahan pola pengetahuan lama ke pola pengetahuan baru yang sifatnya praktis (Tabel-1).

Tabel 1. Beberapa Proses Perubahan yang Terjadi Dalam Masyarakat Suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di Desa Setulang Kabupaten Malinau

Desa Lama di Longh Sa’an Desa Baru di Setulang 1. Aktivitas mengangkut air

bersih ke rumah masih menggunakan tabung bam- bu yang disebut Teluqheng dan airnya diambil dari pancuran yang disebut Teli.

Masyarakat membuat Teli dari bambu yang dibelah dua disungai kecil yang mengalir dekat perkampun- gan karena tidak ada sun- gai besar;

1. Sekarang dengan adan- ya proyek air bersih dari sumber air bersih, maka dengan menggunakan pi- pa-pipa paralon dapat men- galirkan air ke masing-mas- ing rumah. Tabung bambu/

Teluqheng sekarang telah diganti dengan tandon air yang dapat menampung air lebih banyak;

2. Tane’ Olen hanya dikelola oleh orang-orang bang- sawan (paren);

2. Tane’ Olen dikelola oleh desa dengan membentuk Badan Pengelola Hutan Tane’ Olen;

3. Aktivitas menumbuk padi pekerjaan cukup berat di- lakukan karena menggu- nakan alat penumbuk padi dan lesung. Setelah me- numbuk padi biasanya di- lanjutkan dengan pekerjaan mengangkat air;

3. Tidak lagi melakukan aktivi- tas menumbuk padi, karena sudah digantikan dengan mesin penggilingan padi.

Walaupun padi hanya se- dikit tetap saja menggunak- an mesin giling;

4. Penentuan lokasi berladang sangat ditentukan oleh kelas dalam tingkatan ma- syarakat. Jika berasal dari golongan bawah (rakyat je- lata) maka lokasi berladan- gnya berada dilahan yang kurang subur. Sedangkan orang dari golongan atas (bangsawan), ladangnya terletak dilahan yang subur;

4. Penentuan lokasi berladang bukan dari kelas dari tingka- tan masyarakat, tetapi dari kemampuan membuka hu- tan dan membuat ladang.

Yang lebih kuat membuka hutan dan membuat ladang akan memiliki lahan yang lebih luas;

5. Hasil panen padi dari ladang diangkut dengan cara menggendong dengan bantuan bakul-bakul yang telah dibuat;

5. Hasil panen padi diangkut dengan cara dimasukkan dalam karung lalu dibawa gerobak sehingga memu- dahkan untuk membawa- nya. Apabila dekat jalan besar, langsung diangkut dengan kendaraan truk;

6. Penebangan pohon-pohon besar saat pembukaan hu- tan untuk membuat ladang dilakukan dengan meng- gunakan kampak sehingga membutuhkan waktu yang lama;

6. Penebangan kayu-kayu yang besar sudah menggu- nakan gergaji mesin (chain- saw). Sedangkan jika tidak punya alat akan mengupah orang untuk memotongnya;

Sumber: Hasil wawancara dan observasi lapangan, (2012, diolah).

Dari tabel di atas, jelas bahwa proses adaptasi telah mengalami perubahan pola yang digunakan oleh masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di desa Setulang. Pola perubahan adaptasi ini bertujuan untuk mengubah pola lama ke pola baru yang lebih praktis dan efisien. Tingkat pendidikan dan terbukanya informasi serta beberapa faktor lainnya juga sangat mempengaruhi perubahan pengetahuan-pengetahuan lama ke arah yang lebih modern. Informasi yang baru dapat memperkaya pengetahuan lokal bahkan juga dapat mengubah pengetahuan lokal menjadi suatu pengetahuan yang baru.

1. Reprositas Pengetahuan Kearifan Lokal Reprositas merupakan pertukaran timbal balik antar individu atau antar kelompok secara sistematis (sama derajatnya dengan hubungan sosial).

Reprositas terkait dengan pola kehidupan ekonomi dan tindakan-tindakan sosial yang melembaga dalam kehidupan mereka sehari-hari. Reprositas juga mempengaruhi proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi dalam pembentukan pengetahuan lokal (Awang, 2006).

Hubungan timbal balik antar individu dalam masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh berjalan dengan baik karena pola hidup komunal yang dijalankan masyarakat Pola hidup komunal masih terjaga karena hampir seluruh warga desa Setulang mempunyai hubungan kekerabatan karena berasal dari desa lama yang sama. Selain itu juga perkawinan antar mereka semakin menjaga hubungan kekerabatan ini. Hubungan timbal balik ini dapat dilihat juga dalam kerjasama mereka melakukan penanaman padi atau senguyun.

(14)

56

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1, Edisi Maret 2015

Hubungan timbal balik yang lain dengan pihak luar, dapat dilihat dari kegiatan transaksi penjualan dan pembelian barang-barang kebutuhan pokok mereka sehari-hari. Banyaknya warga yang membuka toko-toko sembako dan kelontongan, bengkel dan kios minyak di desa Setulang, menunjukan bahwa telah terjadi pertukaran timbal balik arus barang dan uang. Demikian juga para pedagang dari luar datang menjual pakaian di Desa Setulang menunjukan bahwa proses transaksi juga terjadi dengan masyarakat dari luar desa.

Selain bahan pokok (sembako), proses transaksi juga terjadi untuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) misalnya: gaharu, binatang buruan, tanduk burung dan berbagai hasil hutan lainnya. Dulu HHBK yang cukup baik dan terkenal dari Desa Setulang adalah tengkawang, rotan dan padi, tetapi dalam perkembangannya transaksi terus mengalami penurunan dan akhirnya hilang begitu saja.

Demikian juga untuk perkebunan, pertanian dan perikanan, banyak pedagang-pedagang dari luar desa menjualkan produk-produk dari Malaysia.

Mulai dari bibit karet, buah-buahan sampai dengan alat-lat pertanian hingga perikanan.

Keberlanjutan Pengetahuan Lokal Masyarakat Dayak Kenyah Umo’ Longh

Untuk memahami upaya keberlanjutan pengetahuan lokal oleh masyarakat Dayak Kenyah Umo’ Longh di Desa Setulang maka analisis pada penelitian ini akan dilakukan melalui 3 (tiga) aspek yaitu regenerasi, inovasi dan dukungan pihak lain.

1. Regenerasi

Regenerasi adalah kemampuan untuk melanjutkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Permasalahan penting yang mempe- ngaruhi regenerasi pengetahuan kearifan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di Desa Setulang adalah kemampuan regenerasi dari mereka sendiri. Pertambahan jumlah penduduk yang begitu cepat sejak mereka pindah dari Longh Sa’an ke Setulang tahun 1968 hingga 2011 yang mencapai 848 jiwa dan 224 KK menunjukkan bahwa

pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

Pengaruh pertambahan penduduk ini juga berdampak pada semakin berkurangnya jumlah ladang, dulu masing-masing kepala keluarga dapat memiliki 9 - 10 hamparan ladang. Dengan semakin bertambahnya keluarga-keluarga baru maka jumlah hamparan tersebut dibagi kepada anak dan cucunya.

Bertambahnya jumlah penduduk ini berpengaruh terhadap ‘masa bera’ bagi setiap ladang. Dahulu

‘masa bera’ masih bisa di atas 10 tahun, dalam kondisi sekarang hanya bisa 4-5 tahun saja. Hal ini berpengaruh terhadap produktivitas ladang untuk menghasilkan padi. Dengan semakin sempitnya wilayah perladangan, maka pemerintah desa dan adat sekarang sedang mencari lokasi-lokasi ladang serta pemukiman baru untuk mengantisipasi lonjakan regenerasi penduduk desa Setulang.

Hal lain yang dipengaruhi oleh regenerasi penduduk ini adalah akses jalan dan informasi yang semakin terbuka. Dulu untuk mencapai desa Setulang harus menggunakan jalan sungai yang ditempuh kurang lebih 2 (dua) jam menggunakan ketinting. Dengan semakin terbukanya jalan darat, akses ke desa Setulang dapat dicapai dengan menggunakan mobil ke ibukota kabupaten Malinau dalam jangka waktu 1 (satu) jam perjalanan.

Selain itu pula terbukanya akses informasi dan kepemilikan televisi dan telepon seluler/

genggam memudahkan penduduk desa Setulang mengakses informasi dari luar terutama yang berhubungan dengan masalah perkembangan dunia luar dan ilmu pengetahuan. Di Desa Setulang hampir sebagian besar anak-anak mereka sudah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di kota Malinau. Hal ini berdampak pada kemampuan mereka untuk dapat mengakses informasi dengan baik. Guru-guru di SMP Setulang saja misalnya, sebagian guru lokal yang berasal dari desa Setulang telah mengenyam pendidikan sarjana (S-1) bahkan sudah ada pascasarjana (S-2). Faktor lain yang mendukung untuk tetap dapat beregenerasi adalah tersedianya sarana dan prasarana kesehatan. Di desa Setulang telah

(15)

57

Catur Budi Wiati & Eddy Mangopo Angi: Studi Konstruksi dan Keberlanjutan ... (3): 49-60

tersedia 1 (satu) buah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dengan tenaga perawat dan 1 (satu) orang dokter. Hal ini menunjukan bahwa faktor- faktor yang mendukung keberlanjutan pengetahuan lokal telah tersedia di Desa Setulang ini.

2. Pengembangan Pengetahuan (Inovasi) Inovasi merupakan pembaharuan unsur teknologi dan ekonomi dari kebudayaan. Suatu proses inovasi berkaitan erat dengan penemuan baru dalam teknologi. Biasanya merupakan suatu proses sosial yang melalui tahap discovey dan invention. Discovery adalah proses penemuan suatu unsur kebudayaan yang baru dari seseorang atau sejumlah individu.

Sedangkan discovery menjadi invention apabila suatu penemuan baru telah diakui, diterima dan diterapkan di masyarakat (Koentjaraningrat, 2005).

Dari hasil pengamatan di lapangan, kemampuan masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh di desa Setulang dalam melakukan pembaharuan pengetahuan (inovasi) memang sangat tinggi.

Hal ini dipengaruhi dari tingkat pendidikan yang cukup baik, selain itu pula desa Setulang sering menjadi lokasi penelitian pihak-pihak dalam negeri mapun lembaga-lembaga penelitian internasional, sehingga pengaruhnya cukup besar. Salah satu motivasi perpindahan dari desa lama Longh Sa’an ke Setulang adalah keinginan berubah dalam hal ini kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya yang lebih maju. Hal inilah yang mendorong masyarakat desa Setulang melakukan beberapa inovasi terkait dengan pengetahuan kearifan lokal mereka. Seperti telah dijelaskan sebelumnya (Tabel-15), jelas tampak bahwa masyarakat desa Setulang bekerja untuk berusaha mencari sesuatu yang lebih mudah dan praktis. Pengaruh dari luar khususnya anak- anak muda yang mengenyam pendidikan diluar dan kembali lagi ke desa juga sangat berpengaruh.

Dengan kepengurusan desa dan adat yang sebagian besar dikelola oleh anak-anak muda, maka terjadi perubahan yang mendasar dalam pola pikir dan kerja yang ada di desa.

Seperti dijelaskan dalam bagian sebelumnya, mengenai perubahan pola lama ke pola baru dari

masyarakat desa Setulang. Hal ini bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi perkembangan pengetahuan yang mereka miliki, atau dengan kata lain lebih memudahkan bagi anak cucu mereka.

Penggunaan peralatan yang lebih praktis dan berteknologi memudahkan masyarakat untuk dapat berladang dengan mudah dan praktis. Pengunaan pupuk, herbisida, chainsaw, tandon dan sebagainya adalah satu wujud dari pengembangan pengetahuan yang dimiliki masyarakat desa Setulang yang datangnya dari luar. Sementara pengetahuan untuk mengelola organisasi yang dilakukan di desa, juga merupakan salah satu wujud dari pengembangan pengetahuan. Pengelolaan desa beserta struktur organisasinya adalah salah satu contoh dalam hidup berorganisasi. Selain itu juga kemampuan untuk mengembangkan organisasi BPH-TO yang dikelola sejak dahulu merupakan bentuk perubahan manajemen pengelolaan Tane’ Olen. Walaupun berbeda dan mengalami perubahan tetapi tidak mengubah tujuan dari pengelolaan Tane’ Olen yakni konservasi. Sementara pengelolaan dana Rp 900 juta yang didapat dari Gerdema (Gerakan Desa Mandiri) untuk pengelolaan desa secara keseluruhan adalah satu bentuk kemampuan aparat desa dan warganya dalam mengelola Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes).

3. Dukungan Pihak Lain

Dukungan pihak lain dalam konteks melanjutkan keberlangsungan pengetahuan kearifan lokal yang ada adalah dukungan dari pihak-pihak yang terlibat.

Pihak-pihak yang terlibat diantaranya, pihak-pihak dari dalam desa sendiri (lembaga desa, adat, tokoh masyarakat, perkumpulan Dongo Fatangh, masyarakat desa, dll), pihak-pihak dari luar (desa tetangga, pemerintah daerah kabupaten, Lembaga Kerjasama Luar Negeri, perusahaan dan pihak- pihak lainnya). Pihak-pihak yang mendukung dalam konteks pengembangan Tane’ Olen sebagai salah satu konsep pengetahuan tradisional yang masih ada dapat dilihat dari keterlibatn mereka dalam membantu pengembangan Tane’ Olen. Beberapa lembaga tersebut diantaranya: Pemerintah

(16)

58

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1, Edisi Maret 2015

Kabupaten Malinau, melalui Dinas Kehutanan Kabupaten Malinau telah memberikan dukungan dalam hal pemberian bantuan dana, kegiatan- kegiatan yang mendukung konservasi, tata batas dan sebagainya. Sedangkan pihak lain seperti, Center for International Forestry Research (CIFOR) yang memberikan dukungan berupa tenaga ahli untuk melakukan riset/penelitian di Tane’ Olen.

Selain itu juga membantu masyarakat desa Setulang untuk dapat bernegoisasi dan menolak segala bentuk esploitasi Tane’ Olen yang dapat merugikan masyarakat. Bantuan lain berupa membangun sarana dan prasarana fisik yang ada di Tane’ Olen.

Lembaga-lembaga lain yang mendukung dalam pengembangan Tane’ Olen diantaranya, Borneo Tropical Rain Forest (BTRF), GTZ lewat program Forclime, Departemen Kehutanan dan UPTnya, Kementerian Lingkungan Hidup yang memberikan Kalpataru bagi Penyelamat Lingkungan pada tahun 2003, dan beberapa lembaga lainnya.

Sedangkan beberapa kendala yang dihadapi dalam hal ini pihak-pihak yang tidak mendukung dalam keberlanjutan pengetahuan kearifan lokal diantaranya: desa tetangga yang terlibat dalam usaha untuk menguasai Tane’ Olen, Desa Paking, Desa Sentaban dan Desa Setarap yang berusaha untuk mendapatkan Ijin Pemungutan dan Pemanfaatan Kayu (IPPK) pada saat program IPPK yang dikeluarkan oleh Bupati Malinau pada tahun 2000-2002. Pihak-pihak ini bersama dengan investornya berusaha untuk mendapatkan konsesi di daerah Tane’ Olen yang kaya akan sumberdaya kayunya. Beberapa investor yang berusaha masuk ke desa Setulang diantaranya: CV Gading Indah, PT Inhutani II, PT Lestari Timur Indonusa, dan yang terbaru perusahaan tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit.

Upaya lain yang dapat mendukung kegiatan pengembangan keberlanjutan pengetahuan kearifan lokal yang ada di masyarakat desa Setulang adalah dengan melakukan penelitian/

riset yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pengembangan Tane’ Olen. Hasil riset yang telah

dilakukan ini, kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku, media internet, CDR maupun bentuk lainnya yang kemudian disebarkan kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan. Beberapa lembaga riset yang membantu untuk pengembangan pengetahuan tentang Tane’ Olen diantaranya, CIFOR, Badan Litbang Kehutanan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan beberapa lembaga lainnya.

4. Peluang Pengembangan

Peluang pengembangan pengetahuan kearifan tradisional yang dimiliki masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh yang ada di desa Setulang terbuka sangat lebar. Rencana pengembangan Hutan Desa di Tane’ Olen merupakan salah satu bentuk usaha untuk meningkatkan produktivitas Tane’ Olen. Walaupun terjadi perubahan nama dan sistem pengelolaannya, tetapi fungsi dari Tane’

Olen masih melekat dalam Hutan Desa tersebut sebagai kawasan konservasi. Pengembangan Hutan Desa yang termuat dalam Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor: P.49/Menhut- II/2008 sebagaimana diubah dengan Permenhut Nomor: P.14/Menhut-II/2010 dan telah diubah kembali dengan Permenhut Nomor: P.53/Menhut- II/2011 tentang Hutan Desa maka Tane’ Olen desa Setulang diusulkan menjadi HD. Status kawasan Tane’ Olen desa Setulang berada di Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) yang merupakan bagian dari Hutan Lindung (HL) Long Ketrok dan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Luas Tane’ Olen 5.314,61 ha, yang menurut peruntukkannya berdasarkan usulan desa Setulang sebagai areal daerah air bersih (songe bui), tempat untuk mengambil bahan baku rumah (duqu fetenu’ laminj), sumber air asin tempat minum binatang (songenj), dan tempat mengambil kebutuhan pokok (duqu temetou ubeq).

Dalam perkembangannya telah dikeluarkan Berita Acara Hasil Verifikasi Usulan Penetapan Areal Kerja Hutan Desa pada Kawasan Hutan Lindung (HL) Long Ketrok dan Hutan Produksi terbatas (HPT) di Desa Setulang, Kecamatan malinau Selatan, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur Nomor: BA. / BPS-3/2012 tertanggal 2012. Sekarang masyarakat

(17)

59

Catur Budi Wiati & Eddy Mangopo Angi: Studi Konstruksi dan Keberlanjutan ... (3): 49-60

desa Setulang tinggal menunggu keputusan dari Kementerian Kehutanan RI atas hasil verifikasi tersebut.

SIMPULAN

Sebagian aturan adat dan kearifan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh masih dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Praktek kearifan tradisional ini dapat dilihat dari pengelolaan Tane’ Olen yang masih tersisa. Sementara beberapa aturan adat dan kearifan lokal yang telah hilang/

ditinggalkan terutama yang berhubungan dengan pantangan/larangan. Hal ini juga dipengaruhi oleh interaksi dengan budaya lain serta masuknya agama Kristen dalam lingkungan mereka;

Kearifan lokal masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh, seperti Tane’ Olen masih dipraktekkan.

Dalam kondisi sekarang praktek tentang Tane’ Olen masih dipertahankan walaupun telah mengalami berbagai perubahan. Perubahan ini dikarenakan kondisi serta kebutuhan yang harus dipenuhi oleh masyarakat desa Setulang, tetapi konsep Tane’

Olen masih mengacu pada kegiatan konservasi tradisional;

Keberlanjutan pengetahuan kearifan lokal suku Dayak Kenyah Umo’ Longh, khususnya kearifan lokal pengelolaan Tane’ Olen merupakan hasil eksternalisasi yang dilakukan secara terus menerus yang kemudian menghasilkan pembiasaan (habitualisasi) yang memunculkan objektivitas.

Sementara proses internalisasi dilakukan di dalam individu suku Dayak Kenyah Umo’ Longh. Distribusi pengetahuan yang dilakukan di desa Setulang sangat tergantung pada tingkat pendidikan dimana telah berlangsung distribusi dengan baik.

Adaptasi yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pengetahuan kearifan tradisional, dimana telah terjadi pola perubahan dari desa lama di Longh Sa’an ke desa Setulang termasuk di dalamnya kebiasaan-kebiasaan tradisional yang ada. Sementara reprositas yang terjadi di desa Setulang telah terjadi terutama dalam pengelolaan Tane’ Olen yang dilakukan secara komunal serta sistem kekerabatan yang tinggi. Transaksi jual

beli yang telah terjadi sejak jaman dulu (sistem barter) semakin berkembang di desa Setulang dan mengalami perubahan dan kemajuan.

Kemampuan masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Longh untuk melanjutkan pengetahuan terutama yang berkaitan dengan Tane’ Olen didukung dengan regenerasi yang cukup baik di desa Setulang. Pertambahan penduduk dari pertama kali mereka pindah dari Longh Sa’an (tahun 1968) hingga sekarang (tahun 2011) mencapai 848 jiwa atau 224 KK. Didukung lagi dengan tingkat pendidikan masyarakat desa Setulang yang telah mencapai sarjana dan pascasarjana. Tetapi disisi lain dengan pertambahan penduduk ini, membuat wilayah pemukiman semakin sempit, lokasi ladang semakin berkurang dan masa bera’ bagi ladang semakin pendek (4-5 tahun). Sementara kemampuan pengembangan pengetahuan (inovasi) didukung dengan pendidikan, akses informasi yang terbuka serta adanya dukungan pihak lain. Hal ini membuka peluang pengembangan pengetahuan khususnya pengelolaan Tane’ Olen yang telah diusulkan dan telah diverifikasi dari Kementerian Kehutanan RI.

REKOMENDASI

Pengetahuan tentang Tane’ Olen oleh masyarakat suku Dayak Kenyah Umo’ Long di desa Setulang yang merupakan produk ciptaan mereka sendiri, merupakan bukti masih adanya pengetahuan lokal yang masih dipertahankan dan diturunkan dari nenek moyang mereka di Longh Sa’an. Oleh karena itu perlu dipertahankan dan dikembangkan dengan dukungan dari pemerintah kabupaten Malinau;

Pihak-pihak yang berkepentingan dalam mendukung keberadaan Tane’ Olen perlu bekerjasama dan memberikan dukungan bagi masyarakat desa Setulang agar mampu beradaptasi dengan perubahan iklim dan meningkatkan kemampuan mereka dalam lembaga/badan pengelola yang mereka buat. Hal ini penting agar pengetahuan lokal yang masih ada tetap dipertahankan oleh mereka dan dikembangkan

(18)

60

Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No. 1, Edisi Maret 2015

sesuai dengan kondisi sekarang. Dukungan lain terkait dengan Tane’ Olen yang masuk menjadi skema Hutan Desa perlu didukung oleh berbagai pihak terutama sekali dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pendanaan.

DAFTAR PUSTAKA

Awang, S. A. 2006. Sosiologi Pengetahuan Deforestasi. Konstruksi Sosial dan Perlawanan. Debut Press. Yogjakarta.

Berger, L. P. & Luckmann, T. 1990. Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan. Diakses dari http://

siluetkomix.6te.net/08Berger.htm

Eghenter, C. & Sellato, B. 1999. Kayan Mentarang:

Pengantar Singkat Tentang Tanah dan Penduduknya (Dalam Buku Kebudayaan dan Pelestarian Alam: Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan). Penyunting Cristina Eghenter dan Bernard Sellato.

Diterbitkan atas Kerjasama Direktorat Jenderal PHPA Departemen Kehutanan RI, The Ford Foundation dan WWF Indonesia.

Jakarta.

Imang, N. & H. K. Yohanes. 2005. Studi Kearifan Lokal dan Budaya Dayak Basap Kutai Timur. Kerjasama antara Persekutuan Dayak Kalimantan Timur – Kaltim Prima Coal (KPC).

Iwan, R. & Limberg, G. 2009. Tane’ Olen Sebagai Alternatif Pengelolaan Hutan:

Perkembangan Lanjutan di Desa Setulang, Kalimantan Timur (Dalam Buku Desentralisasi Tata Kelola Hutan. Politik, Ekonomi dan Perjuangan untuk Menguasai Hutan di Kalimantan, Indonesia). Disunting oleh Moira Moeliono, Eva Wollenberg dan Godwin Limbeg. Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor.

Koentjaraningrat 2005. Pengantar Antropologi I.

Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Lamis, A., Bunde, P. & Kanyan, C. 1999. Pola- pola Penguasaan Hak Atas Tanah pada Tiga Suku Bangsa Dayak Kenyah (Dalam

Buku Kebudayaan dan Pelestarian Alam:

Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan). Penyunting Cristina Eghenter dan Bernard Sellato. Diterbitkan atas Kerjasama Direktorat Jenderal PHPA Departemen Kehutanan RI, The Ford Foundation dan WWF Indonesia. Jakarta.

Rahmadani, F & Marbyanto, E. 2010. Hasil Kajian Desa Partisipatif dan Pendampingan Penyusunan Proposal Pengelolaan Hutan Desa di Desa Setulang – Kabupaten Malinau. GIZ ForClime – Ministry of Forestry. Jakarta.

Sidiyasa, K., Zakaria & Iwan, R. 2006. Hutan Desa Setulang dan Sengayan, Malinau, Kalimantan Timur. Potensi dan Identifikasi Langkah-Langkah Perlindungan dalam rangka Pengelolaannya Secara Lestari.

Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor.

Subroto, D. 1997. Sistem Pengelolaan Tana‘ Ulen oleh Masyarakat Dayak Kenyah di Desa Batu Majang Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Timur. Skripsi. Fakultas Kehutanan. Universitas Mulawarman.

Samarinda.

Uluk, Asung, Sudana, M. & Wollenberg, E. 2001.

Ketergantungan Masyarakat Dayak Terhadap Hutan di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang. Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor.

Wiati, C. B. 2013. Kajian Aturan Adat Pemanfaatan Tane‘ Olen oleh Masyarakat Lokal di Desa Setulang Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol. 7 No. 2, Desember 2013: 123 – 130.

(19)
(20)

Referensi

Dokumen terkait

Dikarenakan sulitnya ditemukan ekosistem hutan yang masih primer maka dipilihlah tiga tipe ekosistem hutan kerangas yang menjadi bagian dari lansekap tradisional masyarakat

Tujuan artikel ini adalah untuk memperkirakan luas RTH di Kota Palangkaraya berdasarkan tiga ukuran, yaitu: 1) luas wilayah; 2) jumlah penduduk; dan 3) kebutuhan oksigen untuk

Penelitian yang dilaksanakan pada Gapoktan HKm Jaya Lestari di KPH Bukit Punggur, bertujuan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan di areal kerja HKm pada tahun

Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui keragaman jenis, komposisi jenis berdasarkan habitat serta nilai konservasi kupu-kupu yang terdapat pada Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa antara tahun 2000 s.d 2009 telah terjadi perubahan penutupan lahan di dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau

Tujuan analisis kerapatan vegetasi di lakukan untuk evaluasi dinamika kerentanan lingkungan di DAS Tabunio (1.Mengetahui perubahan tutupan lahan; 2.Mengetahui

Analisis kebutuhan RTH berdasarkan faktor cemaran secara umum dapat memperkirakan berapa kebutuhan atau kecukupan luas RTH di kota Sangatta, selain itu bisa memprediksi kebutuhan

Variabel pertumbuhan tinggi, diameter dan tingkat kehijauan daun tanaman Kayu bawang kondisi terbuka lebih besar dan beda nyata secara statistik dibandingkan kondisi