• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Hutan Tropis Volume 1 No. 1 Maret 2013 E-ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Hutan Tropis Volume 1 No. 1 Maret 2013 E-ISSN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERKIRAAN LUAS RUANG TERBUKA HIJAU

UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN OKSIGEN DI KOTA PALANGAKARAYA

Area Prediction of Green Open Space to Complete Oxygen Requirement

in Palangkaraya

Cuak Ardani, N. Hanafi, T. Pribadi

Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas PGRI Palangkaraya

Jalan Hiu Putih – Tjilik Riwut km 7, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kodepos 73112

ABSTRACT. The purpose of this research was to predicte GOS area sufficiency in Palangkaraya

based on three measures: 1) area; 2) urban dwellers; 3) and oxygen requirement in 2010 and 2020. Minimum area of GOS was predicted according to the law of area design. While, the need of GOS related by population was forecasted according the regulation of public work ministry number 05/PRT/ M/2008. Gerarkis method is used to calculate oxygen consumption. Population and vehicles growth were projected by compound interest equation. GOS area in Palangkaraya has been sufficed to sus-tain urban ecosystem until 2020 later. Oxygen was required by Palangkaraya dwellers and vehicles approximately 790,304.68 Kg/Ha in 2010 and increased about 60 % in 2020. As a result, it was entailed minimum area 2,484.36 Ha of GOS in 2020. GOS expansion in Palangkaraya was done by development of new GOSs in central urban activities, highways, and flood plain of drainage otherwise increasing trees density as well as plants stratification.

Keywords: Urban development, Green open space, Oxygen requirement

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan luas RTH di Kota Palangkaraya berdasarkan

tiga ukuran, yaitu: 1) luas wilayah; 2) jumlah penduduk; dan 3) kebutuhan oksigen di tahun 2010 dan 2020. Luas minimum RTH berdasarkan luas wilayah diprediksi berdasarkan UU No 26 tahun 2007 tentang penataan ruang. Sedangkan, kebutuhan luas RTH berdasarkan populasi penduduk dihitung berdasarkan Permen PU No: 05/PRT/M/2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. Metode gerarkis digunakan untuk memperkirakan kebutuhan oksigen. Perkiraan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor diduga berdasarkan persamaan bunga berganda. Luas RTH di Palangkaraya relatif masih memadai untuk menjaga keseimbangan ekosistem kota sampai tahun 2020 nanti. Oksigen yang dibutuhan oleh penduduk dan kendaraan bermotor di Palangkaraya adalah 790.304,68 Kg/hari di tahun 2010 dan meningkat menjadi sekitar 60 %, maka diperlukan RTH dengan luas minimum 2.484,36 Ha di tahun 2020. Pengembangan RTH dapat dilaksanakan dengan pembangunan RTH-RTH baru di pusat-pusat kegiatan kota, jalan raya, dan bantaran saliran atau penambahan kerapatan pohon dan stratifikasi tanaman.

Kata-kata kunci: Perkembangan kota, Ruang terbuka hijau, Kebutuhan oksigen

Penulis untuk korespondensi: surel [email protected].

PENDAHULUAN

Dua masalah utama di bidang kependudukan akhir-akhir ini adalah pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Perimbangan komposisi populasi penduduk dunia yang

tinggal di perkotaan hanya sedikit di awal tahun 1800-an, tetapi meningkat menjadi 14% di tahun 1900, dan meningkat secara drastis menjadi sekitar 30% di tahun 1950. Sekarang lebih dari 50% penduduk dunia tinggal

(2)

di kota. Penduduk dunia yang tingggal di kota dipre-diksikan mencapai 60 % dari total penduduk dunia pada tahun 2025. Penduduk kota tumbuh tiga kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penduduk di desa (Wu 2008).

Kota sebagai entitas dinamik dan terus berkem-bang. Pertumbuhan kota akibat urbanisasi menuntut kota untuk terus membangun sarana dan prasarana kota untuk melayani warganya. Pembangunan fisik, untuk memenuhi kebutuhan warganya, dilakukan dengan merubah lanskap alam dan tata ruang wilayah yang berakibat pada penurunan daya dukung lingkungan dan jasa lingkungan (Bolund & Hunhammar 1999; Nowak et al. 2007; Wu 2008). Akibatnya, penduduk kota menghadapi berbagai permasalahan kebutuhan dasar manusia, seperti: air bersih, sampah, sanitasi, dan naungan. Bahkan, beberapa kota menghadapi krisis yang lebih parah akibat ketidakseimbangan alokasi sumberdaya, seperti fenomena pulau panas, banjir, kualitas udara dan air yang buruk, dan minimnya pasokan air. Lebih lanjut penduduk kota menghadapi stress lingkungan dan sosial yang berdampak negatif terhadap fisik dan psikologis warganya (Carreiro 2008). Perhatian terhadap peranan hutan kota dan ruang terbuka hijau (RTH) yang berperan dalam keberlanjutan dan kenyaman kota meningkat seiring meningkatnya dampak urbanisasi (Konijnendijk et al. 2005). Hutan kota dan RTH berperan dalam penyediaan jasa lingkungan. Hutan kota dapat memperbaiki kualitas lingkungan, meningkatkan kualitas hidup individu dan masyarakat, menyediakan berbagai jasa lingkungan kepada individu dan masyarakat, menghasilkan ling-kungan yang lebih sehat dan nyaman bagi warganya (Nowak et al. 2001; Joga & Ismaun 2011). RTH yang dikelola dengan baik juga dapat menyediakan berbagai keuntungan ekologis dan mendukung keberlanjutan kota (Nowak et al. 2001).

Di lain pihak, penyusutan RTH atau hutan kota berdampak pada pada penurunan keseimbangan ekosistem yang ditandai dengan penurunan kualitas lingkungan perkotaan (Joga & Ismaun 2011). Kota akan mengalami pencemaran udara (Yang et al. 2005); peristiwa banjir dan penggenangan yang berlebih pada musim penghujan dan efek pulau panas (Joga & Ismaun 2011).

Kota Palangkaraya, adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah, terletak pada posisi 113° 30’ – 114° 07’ BT dan 1° 35' – 2° 24’ LS, pada ketinggian 16-75 m dpl. Luas wilayah kota Palangkaraya adalah 2.678,51 Km2. Namun, jumlah penduduk Kota Palangkaraya pada tahun 2010 hanya 220.962 jiwa atau dengan kepadatan penduduk sekitar 82 jiwa/km2 (BPS Palangkaraya, 2010). Kota Palangkaraya, seperti kota besar lainnya berkembang menjadi kota niaga dan kota jasa, juga menghadapi permasalahan lingkungan sebagai dampak negatif urbanisasi dan pembangunan kota yang pesat. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah penduduk, pertambahan jumlah kendaraan, dan perkembangan industri jasa dan perakitan.

Tujuan artikel ini adalah untuk memperkirakan luas RTH di Kota Palangkaraya berdasarkan tiga ukuran, yaitu: 1) luas wilayah; 2) jumlah penduduk; dan 3) kebutuhan oksigen untuk respirasi manusia, binatang, dan pembakaran bahan bakar oleh kendaraan bermotor di tahun 2010 dan 2020.

METODE PENELITIAN

Koleksi Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data biofisik berupa luas wilayah, data jumlah penduduk, dan jumlah kendaraan di Kota Palangkaraya yang diperoleh dari badan pusat statistik (BPS) Kota Palangkaraya.

Kebutuhan luas RTH berdasarkan luas wilayah

Luas RTH yang harus dipenuhi oleh sebuah kota berkaitan dengan tata ruang wilayah, UU No 26 tahun 2007 tentang penataan ruang minimal, adalah 30% dari luas wilayah kota. Ini berarti minimal sepertiga luas wilayah kota harus diperuntukan penggunaannya sebagai RTH. Bentuk RTH dapat berupa tanaman yang tumbuh secara alami atupun tanaman yang sengaja ditanam baik dimiliki secara pribadi maupun umum (Pancawati, 2010).

Kebutuhan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk

Suatu wilayah kota dengan jumlah penduduk mini-mum 480.000 diharuskan memiliki RTH dengan luas minimal 4,0 m2 per penduduk dalam bentuk hutan kota

(3)

sesuai Permen PU No; 05/PRT/M/2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan (Pancawati, 2010).

Kebutuhan luas RTH berdasarkan konsumsi oksigen

Luas minimum RTH untuk memenuhi kebutuhan oksigen suatu wilayah kota dihitung dengan persamaan Gerarkis (Fahutan IPB, 1987) yang dikembangkan oleh Wisesa (1988) di dalam Wijayanti (2003), Septriana et al.( 2004), dan Lestari & Jaya (2005).

Dimana :

L : luas RTH kota pada tahun ke-t (m2) P : jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk

pada tahun ke-t (gram)

K : jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke-t (gram).

T : jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke-t (gram)

54 : tetapan yang menunjukkan bahwa satu m luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari

0,9375 : tetapan yang menyatakan bahwa satu gram berat kering tanaman adalah setara produksi oksigen 0,9375.

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan ini:

1. Konsumsi oksigen manusia adalah sama, yaitu 600 liter/hari atau setara dengan 864 gram per hari (0,864 kilogram per hari);

2. Jumlah kendaraan yang beredar di wilayah Palangkaraya setiap harinya sebanding dengan jumlah kepemilikan kendaraan yang tercatat di BPS Kota Palangkaraya. Kebutuhan oksigen untuk kendaran bermotor jenis mobil penumpang, mobil beban, bus, dan sepeda motor, serta waktu operasionalnya masing-masing adalah: 11,63 kg/ hari & 3 jam/hari; 22,88 kg/hari & 2 jam/hari; 45,76 kg/hari & 3 jam/hari; dan 0,58 kg/hari & 1 jam; 3. Kesejahteraan penduduk meningkat setiap tahun

sehingga mampu membeli kendaraan bermotor; 4. Pasokan oksigen hanya disediakan oleh tumbuhan; 5. Pergerakan udara oleh angin diabaikan;

6. Jumlah ternak yang relatif kecil dan semakin menurun diabaikan dalam perhitungan ini; 7. Pasokan oksigen dari wilayah sekitar

Palang-karaya diabaikan.

Jumlah penduduk dan kendaraan bermotor pada tahun ke-t diperkirakan berdasarkan persamaan bunga berganda. Persamaan ini dapat digunakan untuk meramal perkembangan suatu populasi (Rijal, 2008):

Dimana :

P : jumlah populasi pada tahun ke-t P : jumlah populasi tahun awal atau dasar r : laju pertumbuhan populasi

t : satuan waktu yang digunakan (tahun) HASIL DAN PEMBAHASAN

Peruntukan lahan di Palangkaraya.

Palangkaraya dengan luas wilayah 267.851 Ha ma-sih merupakan kawasan hutan. Wilayah ini menempati hampir seluruh wilayah Palangkaraya. Kawasan terbangun di Palangkaraya memiliki luas kurang dari lima persen dari keseluruhan luas wilayah Palangkaraya dan dapat dilihat pada Tabel 1. Jadi kawasan hutan masih mendominasi wilayah Kota Palangkaraya.

Pembagian kawasan hutan di Palangkaraya berdasarkan status penggunaan dikelompokkan menjadi dua, yaitu: kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung mencakup kawasan seluas 20.168,53 Ha (8,11 %). Wilayah ini mayoritas merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Sabangau. Jika dirinci, berdasarkan peruntukan lahannya maka kawasan lindung ini berupa daerah sepadan sungai (3.140,70 Ha), kawasan konservasi lahan gambut tebal (4.115,88 Ha), kawasan konservasi hidrologi (9.156,83 Ha), kawasan perlindungan dan pelestarian hutan (763,18 Ha), dan Taman Wisata Bukit Tengkiling (2.991, 94 Ha). Sedangkan, sisanya (91,87 %) ditetapkan sebagai kawasan budidaya. Kawasan yang dicadangkan sebagai kawasan permukiman dan penggunaan lain memiliki bagian sebesar 16,68 %. Peruntukan lahan tersebut didasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2003 yang telah direvisi (BPS Palangkaraya, 2010).

(4)

Perkiraan kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah di Palangkaraya.

Palangkaraya secara administratif terbagi menjadi lima kecamatan. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Rakumpit dengan luas 1.5314 Ha atau lebih dari sepertiga luas wilayah Palangkaraya. Sedangkan, Kecamatan dengan luas paling kecil adalah kecamatan Pahandut. Kecamatan Pahandut adalah pusat Kota Palangkaraya dan luasnya tidak lebih dari lima persen dari luas wilayah Palangkaraya secara keseluruhan. Jika kebutuhan RTH masing-masing wilayah adalah 30 % dari keseluruhan luas wilayahnya, maka luas RTH Kecamatan Pahandut, Jekan Raya, Bukit Batu, Sabangau, dan Rakumpit masing-masing adalah 3.515,5 Ha, 10.578,6 Ha, 17.160,0 Ha, 17.505,0 Ha, dan 31.594,2 Ha.Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Perkiraan kebutuhan RTH berdasarkan jumlah penduduk

Palangkaraya, sebagai ibukota propinsi, termasuk kota kecil karena jumlah penduduknya kurang dari setengah juta jiwa. Jumlah penduduk Palangkaraya hanya 220.962 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 82 jiwa/km2 pada tahun 2010. Kecamatan Pahandut dan Jekan Raya merupakan kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Kepadatan kedua kecamatan tersebut masing-masing adalah 658,52 penduduk per km2 dan 324,88 penduduk per km2 jauh di atas rata-rata kepadatan penduduk Palangkaraya secara keseluruhan. Kedua kecamatan tersebut merupakan pusat Kota Palangkaraya sehingga penduduk terpusat dan menetap di kedua kecamatan tersebut. Kebutuhan RTH untuk masing-masing kecamatan berdasarkan jumlah penduduk dari yang terbesar sampai yang terkecil berturut-turut adalah Pahandut (30,88 Ha), Jekan Raya (45,82 Ha), Sabangau (7,52 Ha), Bukit Batu (4,77 Ha), dan Rakumpit (1,18 Ha). Kebutuhan RTH untuk memenuhi kebutuhan fisiologis penduduk Palangkaraya pada tahun 2010 adalah 88,37 Ha (Tabel 3). Luas ini masih sangat kecil dibandingkan ketersediaan kawasan bervegetasi di wilayah Palangkaraya.

Tabel 1. Penggunaan lahan di Palangkaraya. Table 1. Land use in Palangkaraya

Sumber: BPS Palangkaraya (2010).

Tabel 2. Luas wilayah dan luas minimum RTH masing-masing kecamatan di Palangkaraya. Table 2. Area and minimum area of GOS in sub

dis-trict in Palangkaraya respectively

Perkiraan kebutuhan RTH berdasarkan konsumsi oksigen

Jumlah penduduk dan kendaraan bermotor terus meningkat selama periode 2002-2010. Diperkirakan jumlah penduduk Palangkaraya di tahun 2020 mencapai 315.044 penduduk (r = 3,6 %). Namun demikian, angka pertambahan jumlah sepeda motor di Palangkaraya menunjukan angka yang paling tinggi (r = 8,8 %). Sehingga diperkirakan populasi sepeda motor lebih banyak daripada populasi penduduk di tahun 2020 atau hampir dua kali populasi penduduk Palangkaraya. Se-dangkan, angka pertambahan yang paling kecil adalah angka pertambahan mobil penumpang (r = 2,7 %). Namun demikian, populasinya menempati posisi ketiga setelah penduduk hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Peningkatan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor berdampak pada peningkatan kebutuhan oksigen untuk respirasi manusia (binatang tidak diperhitungkan dalam penelitian ini karena jumlahnya relatif sedikit), dan pembakaran bahan bakar oleh mesin-mesin kendaraan (genarator tidak diperhitungkan karena data tidak tersedia). Kebutuhan oksigen terbesar untuk pembakaran mesin digunakan oleh kendaraan pribadi, yaitu sebesar 241.776,07 Kg/hari. Urutan selanjutnya adalah truk (196.379,04 Kg/hari), sepada motor

Tipe Luas (Ha) Presentase (%)

Kawasan hutan 248.575 92,80

Pertanian 1.265 0,47

Perkebunan 2.230 0,83

Permukiman 4.554 1,70

Sungai & danau 4.286 1,60

Lain-lain 6.941 2,59

Jumlah 267.851 99,99

Kecamatan Luas (Ha) Persentase (%) Luas RTH (Ha) Pahandut 11.725 4,38 3.515,5 Jekan Raya 35.262 13,16 10.578,6 Bukit Batu 57.200 21,36 17.160,0 Sabangau 58.350 21,78 17.505,0 Rakumpit 105.314 39,32 31.594,2 Keseluruhan 267.851 100,00 80.355,3

(5)

(147.458,62 Kg/hari), dan terakhir bis (13.779,04 Kg/ hari). Sedangkan di tahun 2020, kebutuhan oksigen untuk pembakaran mesin kendaraan meningkat, khu-susnya sepeda motor yang meningkat lebih dari dua kali lipat. Kebutuhan oksigen untuk pembakaran mesin jenis kendaraan yang lain juga meningkat, tetapi tidak setinggi peningkatan kebutuhan oksigen oleh sepeda motor (Tabel 5). Di sisi lain, penyerapan oksigen untuk respirasi manusia juga meningkat dari 190.911,17 Kg/ hari (2010) menjadi 272.198,20 Kg/hari di tahun 2020 hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.

Kebutuhan oksigen untuk respirasi dan pembakaran mesin dapat dipenuhi oleh sediaan oksigen dari proses fotosintesis tanaman ataupun tumbuhan. Jika di tahun 2010 jumlah kebutuhan oksigen adalah 790.304,68 Kg/ hari, maka diperlukan RTH (khususnya tumbuhan ber-kayu) dengan luas 1561,10 Ha. Namun, jika kebutuhan oksigen meningkat menjadi 1.257.707,55 Kg/hari di tahun 2020. Kebutuhan oksigen ini dapat dipenuhi dari RTH dengan luas minimum 2.484,36 Ha (Tabel 5). Tabel 3. Perkiraan jumlah penduduk dan luas

mini-mum RTH.

Table 3. Prediction of dwellers population and mini-mum area of GOS

Tabel 4. Perkiraan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor di tahun 2020 di Palangkaraya. Table 4. Prediction of dwellers and vehicles

popula-tion of Palangkaraya in 2020

Tabel 5. Perkiraan kebutuhan oksigen untuk respirasi manusia dan proses pembakaran mesin ken-daraan, dan luas RTH di tahun 2020 di Pa-langkaraya.

Table 5. Prediction of oxygen requirement for human respiration and vehicles combustion, and GOS area of Palangkaraya in 2020

PEMBAHASAN

Palangkaraya secara ekologis memiliki daya dukung lingkungan yang baik karena luas kawasan yang bervegatasi masih sangat luas (> 90 % dari keseluruhan wilayah). Meskipun, laju pembukaan lahan untuk permukiman ataupun lahan terbangun selama lima tahun (2004-2009) relatif tinggi (18 %) atau terjadi perubahan luas kawasan permukiman dari 1.192 Ha menjadi 2.749 Ha. Palangkaraya masih tetap hijau selama 10 tahun ke depan selama tidak terjadi peru-bahan kawasan terbangun, peningkatan jumlah pendu-duk, dan kendaraan yang sangat pesat.

Seperempat kebutuhan RTH di Palangkaraya dapat dipenuhi dari keberadaaan kawasan lindung, TN Sabangau dan TW Bukit Tengkiling, yang telah ditetapkan dalam RTRWP Kalimantan Tengah. Tiga perempatnya dapat dipenuhi dari keberadaan kawasan-kawasan bervegetasi yang masih belum terbangun. Selain itu, Pemko Palangkaraya juga telah mencadang-kan kawasan untuk hutan kota dengan luas 1.635 Ha di belakang komplek perkantoran pemda.

Luas RTH minimum sebesar 30 % merupakan ukuran minimum kawasan bervegetasi untuk menjamin keseimbangan ekosistem kawasan. Keseimbangan ekosistem yang dipertahankan adalah fungsi hidrologis, iklim mikro, ketersediaan udara bersih agar dapat terjamin untuk kebutuhan warganya dan penyerapan karbondioksida. Di samping itu, kawasan bervegetasi dapat meningkatkan nilai estetika kawasan (Baharudin, 2011).

Kecamatan Jumlah penduduk (Jiwa) Luas RTH (Ha)

2010 2020 2010 2020 Pahandut 77.211 110.086 30,88 44,03 Jekan Raya 114.559 163.336 45,82 65,33 Bukit Batu 11.306 17.012 4,77 6,80 Sabangau 14.306 20.397 5,72 8,16 Rakumpit 2.954 4.212 1,18 1,68 Keseluruhan 220.962 315.044 88,38 126,01

Jumlah Laju pertambahan

(%) 2010 2020 Penduduk 220.962 315.044 3,6 Sepeda motor 254.239 588.759 8,8 Mobil penumpang 20.789 27.189 2,7 Mobil beban 8.583 13.372 4,5 Bus 301 478 4,7

Kebutuhan oksigen (Kg/hari) Luas RTH (Ha) 2010 2020 2010 2020 Penduduk 190.911,17 272.198,20 Sepeda motor 147.458,62 341.480,64 Mobil penumpang 241.776,07 316.209,01 Mobil beban 196.379,04 305.948,56 Bus 13.779,78 21.871,13 Jumlah 790.304,68 1.257.707,54 1.561,10 2.484,36

(6)

Luas RTH berdasarkan jumlah penduduk dan kebutuhan oksigen. Palangkaraya masih memadai. Namun demikian RTH masyarakat di Kota Palang-karaya harus diperbanyak. Hanya ada lima lokasi yang dapat dikategorikan sebagai RTH Masyarakat, yaitu: taman kota (depan kantor gubernur), bundaran besar dan Jalan Brigjen Katamso (samping rumah dinas gubernur), Jalan Yos Sudarso, Tugu Pancasila, komplek lapangan golf, dan Stadion Tuah Pahoe. Lebih lanjut, Pemko Palangkaraya juga bergiat membangun RTH-RTH baru seperti di sepanjang saliran yang membelah kota, khususnya di Kelurahan Menteng dan Jalan Sul-tan Hasanuddin serta Jalan Cristhopel Bangas.

Kebutuhan RTH di Palangkaraya berdasarkan konsumsi oksigen di tahun 2020 adalah 2.484,36 Ha. Luas ini lebih kecil dibandingkan dengan Padang yang membutuhkan RTH dengan luas 14.894,61 Ha (Septriana et al. 2004), ataupun Bogor yang membutuhkan RTH yang lebih luas lagi, yaitu 571.191 Ha (Lestari & Jaya, 2005). Namun, kebutuhan RTH Di Palangkaraya lebih luas dibandingkan dengan Jayapura, yang hanya membutuhkan RTH dengan luas 475,36 Ha di tahun 2018 (Baharudin, 2011). Perbedaan ini dise-babkan oleh faktor-faktor seperti: jumlah penduduk, tingkat kepadatan penduduk, dan tingkat perkem-bangan ekonomi kota.

Salah satu pertanda perkembangan kota dapat dilihat dari jumlah kepemilikan kendaraan bermotor dan perkembangan industri. Kendaraan bermotor dan mesin-mesin industri bertanggung jawab dalam penyerapan oksigen (Nowak et al. 2007; Pancawati 2010). Oksigen digunakan untuk merubah energi kimia yang berasal dari bahan bakar fosil menjadi energi kinetik. Hampir 70% kebutuhan oksigen digunakan oleh kendaraan bermotor di Palangkaraya. Dalam pendugaan ini, konsumsi oksigen oleh mesin industri dan genera-tor tidak diperhitungkan, padahal kebutuhan oksigen kedua jenis mesin tersebut sangat tinggi, yaitu 529,41 Kg/hari selama delapan jam (Wisesa, 1988 yang dikutip oleh Lestari & Jaya, 2005). Sehingga kemungkinan konsumsi oksigen oleh mesin-mesin industri dan kendaraan bermotor persentasenya akan lebih tinggi lagi.

Pengembangan RTH dapat dilakukan mem-berdayakan kawasan perkantoran, perumahan, rumah

ibadah, sekolahan, perguruan tinggi, dan lapangan olah raga untuk dijadikan kawasan bervegatasi. Lokasi lain yang dapat diberdayakan sebagai RTH adalah jalan raya dan sarana transportasi. Di sisi lain, bantaran sungai dan saluran irigasi besar dapat juga dijadikan RTH (Wijayanti, 2003; Septriana et al. 2004; Rijal 2008). Pemberdayaan kawasan tersebut akan meningkatkan luas kawasan RTH. Jenis vegetasi yang dianjurkan sebagai tanaman pokok RTH sebaiknya adalah tanaman jenis pohon. Pohon-pohon memiliki kemam-puan menyerap karbondioksida sebanyak 129,92 Kg/ Ha/jam jauh lebih banyak dibandingkan semak belukar (12,56 Kg/Ha/jam), padang rumput atau sawah (2,74 Kg/Ha/jam) untuk luas yang sama (Baharudin, 2011). Permen PU No; 05/PRT/M/2008 telah membuat kriteria jenis-jenis pohon dan perdu yang dianjurkan untuk ditanam sebagai vegetasi RTH. Masing-masing jenis vegetasi tersebut dipilih berdasarkan sifat-sifat silviksnya sehingga jenis-jenisnya dapat berbeda sesuai dengan fungsi dan bentuk RTH.

Namun, jika di lokasi-lokasi yang tidak memadai lagi untuk dilakukan penambahan luas RTH. Pember-dayaan RTH dapat dilakukan dengan penganekaragaman struktur tanaman dengan menambahkan beberapa jenis tanaman yang menempati stratum tertentu sehingga jumlah stratifikasi vegetasi bertambah (Rijal 2008). Intensifikasi pemberdayaan RTH juga dapat dilakukan dengan meningkatkan kepadatan pohon per hektar (Nowak & Crane, 2002; Nowak et al. 2007).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Luas RTH di Palangkaraya masih memadai untuk mendukung keseimbangan dan keberlanjutan ekosis-tem kota. Hampir 90 % wilayah Palangkaraya merupa-kan kawasan bervegetasi. Sedangmerupa-kan, kawasan ter-bangun mencakup wilayah dengan persentase tidak lebih dari lima persen, meskipun pembangunan wilayah berkembang cukup pesat. Luas minimum RTH yang dibutuhkan untuk menjamin kenyaman penduduk Palangkaraya adalah 88,38 Ha di tahun 2010 dan me-ningkat menjadi 126,01 ha di tahun 2020. Begitu juga dengan luas RTH yang digunakan untuk memasok kebutuhan oksigen penduduk dan kendaraan di Palangkaraya meningkat dari 1.561,10 Ha (2010)

(7)

menjadi 2.484,36 Ha (2020). Penambahan luas RTH pada tahun 2020 karena diperkirakan kebutuhan oksigen di tahun tersebut meningkat menjadi 1.257.707,54 Kg/ hari dari sebelumnya 790.304,54 Kg/hari di tahun 2010.

Saran

Penelitian lebih lanjut tentang pengembangan RTH di Palangkaraya berdasarkan identifikasi luas, lokasi dan persebaran, serta bentuknya perlu dilakukan, khususnya dengan pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). Selain itu persepsi dan preferensi masyarakat tentang keberadaan RTH sebagai dasar pengembangan RTH di Palangkaraya juga diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

BPS (Badan Pusat Statistik) Palangkaraya. 2010. Kota Palangkaraya dalam angka. BPS Palangkaraya, Palangkaraya.

Baharudi, A. 2011. Kebutuhan ruang terbuka hijau pada kawasan pusat Kota Jayapura. J Bumi Lestari 11 (2): 297-305

Bolund, P., Hunhammar, S. 1999. Ecosystem services in urban areas. Ecol Econ 29: 293-301

Carreiro, M.M. 2008. Introduction: the growth of cities and urban forestry. In: Carreiro, M.M., Song, Y.C. & Wu, J. (eds). Ecology, planning, and manage-ment of urban forest international perspectives. Springer-Verlag, New York. pp: 3-9.

Departemen Pekerjaan Umum (PU). 2008. Permen PU No: 05/PRT/M/2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Dirjen Tata Ruang-Departemen PU, Jakarta.

Fahutan (Fakultas Kehutanan) IPB. 1987. Konsepsi pengembangan hutan kota. Fahutan IPB & Departemen Kehutanan, Jakarta.

Joga, N., Ismaun, I. 2011. RTH 30% resolusi (kota) hijau. Gramedia, Jakarta.

Konijnendijk, C.C., Nilsson, K., Randrup, T.B., &

Schipperijn, J. 2005. Introduction. In: Konijnendijk, C.C., Nilsson, K., Randrup, T.B., & Schipperijn, J. (eds). Urban forests and trees. Springer-Verlag, Berlin. pp: 1-6.

Lestari, R.A., Jaya, I.N.S. 2005. Penggunaan tekno-logi penginderaan jauh satelit dan SIG untuk menentukan luas hutan kota: studi kasus di Kota Bogor, Jawa Barat. J Manajemen Hutan Tropika 11 (2): 55-69.

Nowak, D.J., Hoehn, R., & Crane, D.E. 2007. Oxygen production by urban trees in the United States. Arboriculture & Urban Forestry 33 (3): 220-226 Nowak DJ, Noble MH, Sisinni SM, Dwyer JF. 2001.

People and trees: assessing the US urban forest resource. J of Forestry 99: 37-42

Nowak, J., Crane, D.E. 2002. Carbon storage and se-questration by urban trees in the USA. Environ-mental Pollution 116: 381-389.

Pancawati, J. 2010. Analisis kebutuhan ruang terbuka hijau di Kota Tangerang. [tesis]. SPS IPB, Bogor. Rijal, S. 2008. Kebutuhan ruang terbuka hijau di Kota Makasar tahun 2017. J Hutan dan Masyarakat 3 (1); 65-77.

Septriana, D., Indrawan, A., Dahlan, E.N., & Jaya, I.N.S. 2004. Prediksi kebutuhan hutan kota berbasis oksigen di Kota Padang, Sumatera Barat. J Manajemen Hutan 10 (2): 47-57.

Wijayanti, E. 2003. Pengembangan ruang terbuka di Purwokerto. [skripsi]. Fahutan IPB, Bogor. Wisesa, S.P.C. 1988. Studi pengembangan hutan kota

di wilayah Kotamadya Bogor. [skripsi]. Fahutan IPB, Bogor.

Wu, J. 2008. Toward a landscape ecology of cities – beyond building, trees, and urban forest. In: Carreiro, M.M., Song, Y.C., & Wu, J. (eds). Ecol-ogy, planning, and management of urban forest: international perspectives. Springer-Verlag, New York. Pp: 10-28.

Yang, J., McBride, J., Zhou, J., & Sun, Z. 2005. The urban forest in Beijing and its role in air pollution reduction. Urban Forest & Urban Greening 3: 65-78.

Gambar

Table 1. Land use in Palangkaraya
Tabel 4. Perkiraan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor di tahun 2020 di Palangkaraya.

Referensi

Dokumen terkait

Hanya bedanya, pada masa Orde Lama Pancasila dimanipulasi menjadi kekuatan politik dalam bentuk bersatunya tiga kekuatan yang bersumber dari tiga aliran yaitu

Konsep matematika sebagai hasil aktivitas mengelompokkan, menghitung, serta menakar untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mempermudah

Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan yang mengacu pada model pengembangan dari Borg & Gall yang telah dimodifikasi, yaitu: (1) melakukan

Oleh karena itu, perlu adanya ekstraksi fitur dan klasifikasi wajah menggunakan metode tertentu sehingga klasifikasi tersebut dapat dikenali dengan benar.Pada penelitian

8omplikasi dari infark miokard akut, seperti; ruptur otot papillary, ruptur septum, atau infark ventrikel kanan, dapat mempresipitasi (menimbulkan&memperepat)

Penutup  2.  Mengundang  pertanyaan/tanggapan  maupun komentar.  3.  Memberikan beberapa buah  pertanyaan secara acak  kepada beberapa mahasiswa. 

Pada saat pengecekan lokasi di lapangan dari 30 titik yang diambil dari Peta tutupan lahan Kecamatan Natar Tahun 2019 (Gambar 3), 10 titik yang merupakan lahan terbuka

Setidaknya hingga saat ini belum ada perangkat lunak bantu yang memungkinkan pengguna untuk mengonversi dokumen dari pengolah kata ke format EPUB secara langsung