In the aftermath of the Cold War era, people's movements have entered a new predicament. As Castles9 also notes, there has been a dramatic increase in the frequency and severity of humanitarian crises in many parts of the world since the 1980s. The international refugee regime developed in the context of the mass displacement of the population after 1945 and the start of the Cold War.
The post-Cold War period has seen considerable change, and critics argue that some basic assumptions and structures no longer meet current needs. Power relations are a key fundamental determinant of the bipolar world order in the Cold War era. However, according to Galtung, this idea of human security is once again irrelevant across the US.
The event of forced migration, personified by the so-called "boat people", can be understood as the beginning of the refugee crisis in Southeast Asia. Forced migration is constantly present in the lives of people who have taken refuge in the border areas of Thailand, Vietnam, Cambodia and Laos. 23. 34;The Power of the Displaced", paper presented at the International Conference on New Perspectives on Forced Migration in Southeast Asia,.
RELEVANSI KARYA PENELITIAN MIGRASI DALAM PEMBANGUNAN 1
Hal ini dapat terjadi karena mereka yang memiliki akses informasi tentang peluang di daerah lain yang dianggap memiliki peluang lebih baik lebih banyak melakukan migrasi daripada jika mereka harus tinggal di daerah mereka sendiri. Saat itu banyak masyarakat Sulawesi Tenggara dan Selatan yang tinggal di daerah konflik kembali ke tempat asalnya. Hasil penelitian penulis di daerah pemukiman kembali menunjukkan bahwa mayoritas transmigran berhasil dalam pembangunan ekonomi, sehingga memberikan kontribusi ekonomi yang positif bagi daerahnya.
Migran selektif ini mampu merebut kesempatan kerja di daerah tuan rumah sehingga penduduk lokal merasa kompetitif dan tetap berada di bawah tekanan. Berdasarkan fakta di atas, program investasi di daerah luar Jawa-Bali (misalnya di KTI) yang sumber daya manusianya masih terbatas, tentunya menarik penduduk dari daerah lain (misalnya Jawa) menjadi solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. kebutuhan, tetapi perlu juga merekrut penduduk setempat agar tidak timbul perbedaan yang signifikan. Berdasarkan data sebaran penduduk, terlihat bahwa pangsa penduduk yang tinggal di perkotaan dan terus meningkat ditentukan oleh tiga komponen, yaitu redistribusi wilayah, pertambahan alami, dan migrasi positif dari pedesaan ke perkotaan.
Dengan proses modernitas di pedesaan disebut juga dethsi urbanisasi akibat pengaruh perkotaan, banyak desa yang menjadi kota, sehingga penduduknya masuk dalam kategori penduduk perkotaan. Selama terdapat perbedaan antara perkotaan dan perdesaan, maka fenomena arus penduduk pedesaan ke perkotaan tidak dapat dihindarkan dan membawa akibat positif dan negatif, khususnya di perkotaan. Jika pembangunan khususnya sumber daya manusia dapat meningkat di pedesaan, kota kecil dan kota menengah, maka akan menimbulkan nilai modernitas dan meningkatkan lapangan kerja.
Perpindahan penduduk lintas batas antara Indonesia dan Filipina terjadi di Sangir, tepatnya di wilayah Tabukan Utara. Kesuksesan kehidupan ekonomi mereka bahkan menimbulkan masalah bagi penduduk lokal yang beragama Islam, misalnya di daerah Togasa (Galela) dan Saekona (Oba). Hasil penelitian di kawasan perbatasan Nunukan-Kalimantan Timur dengan negara bagian Sabah Malaysia menunjukkan intensitas perpindahan penduduk lintas batas yang tinggi, terutama karena daerah tersebut merupakan pintu gerbang tenaga kerja Indonesia (TKI). bekerja di Malaysia Timur, legal dan ilegal.
Adapun mobilitas penduduk di wilayah perbatasan Jayapura menunjukkan bahwa dalam keadaan normal lebih banyak orang Papua Nugini (PNG) yang pergi ke Jayapura daripada orang Jayapura yang pergi ke PNG. Hal yang sama juga terjadi di daerah pengirim lainnya seperti Indramayu, Tulung Agung dan Flores Timur.
MOBILITAS PENDUDUK MUSIMAN DI KOTA SURABAYA
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman tentang fenomena mobilitas penduduk musiman dan implikasinya terhadap permukiman kumuh di Kota Surabaya. Yang dimaksud dengan penduduk musiman adalah kelompok pendatang (penduduk tidak tetap/musiman) yang tinggal di kota ini tanpa KTP yang dikeluarkan oleh pemerintah kota. Selain itu, penduduk musiman dari Solo didominasi oleh mereka yang berprofesi sebagai penjual jamu (perempuan) dan pedagang bakso keliling (laki-laki).
Sebagian besar penduduk musiman tidak berniat menetap secara permanen di kota Surabaya karena umumnya didorong oleh keinginan untuk mencari nafkah. Hal ini menjadi salah satu penyebab penduduk musiman tidak mau mengubah status kependudukannya menjadi penduduk tetap kota Surabaya. Meski dalam jumlah kecil, ada juga beberapa penduduk musiman yang ingin menetap selamanya di Surabaya.
Oleh karena itu, tidak heran jika ketua RT atau ketua RW tidak mengetahui jumlah pasti penduduk musiman yang tinggal di wilayahnya. Menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah kota melakukan upaya penertiban warga musiman yang tidak memiliki KIPEM, yakni melalui Operasi Keadilan Kependudukan. Hasil penelitian di Kecamatan Tambaksari Kota Surabaya mengungkapkan bahwa sebagian penduduk musiman sudah memiliki rumah/tempat tinggal sendiri.
Akses fasilitas MCK yang lebih terbatas dimiliki oleh responden berstatus penduduk musiman yang tinggal di kamar asrama. Dalam kaitan ini, terlihat jelas bahwa penduduk musiman yang umumnya bekerja di sektor informal memiliki andil yang cukup besar dalam hal ini. Aliran penduduk musiman ke permukiman kumuh di Kota Surabaya diperkirakan akan terus berlanjut selama Pemerintah Kota Surabaya tidak mampu menyediakan rumah murah.
Di Kota Surabaya, migrasi musiman penduduk telah diatur beberapa waktu lalu (misalnya melalui peraturan kependudukan), namun hasilnya tidak maksimal. Kebijakan khusus meliputi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang yang ditujukan untuk menampung penduduk musiman di Surabaya, serta upaya penataan lingkungan kumuh.
PENDUDUK,OTONOMIKHUSUS,DAN FENOMENA KONFLIK
DI TANAH PAPUA
Tentu saja pandangan tendensius tersebut memiliki alasan, motif dan juga tujuan tertentu yang berbeda sehingga memicu perasaan ketidakpuasan, ketidakramahan, penolakan dan suasana konflik tertutup antara kelompok masyarakat adat dengan pendatang dan transmigran. Ada yang percaya bahwa daerah ini membutuhkan lebih banyak orang untuk mendukung pembangunan daerah dan nasional, jadi tidak perlu membatasinya, tetapi salah menyalahkan pendatang sebagai penyebab utama miskinnya kondisi penduduk asli, karena begitu banyak. alasan. Perdebatan perlu atau tidaknya pembatasan migrasi sebagai upaya percepatan peningkatan taraf hidup masyarakat adat tercatat beragam, misalnya Salossa (2006), mantan Gubernur Provinsi Papua, mengemukakan dalam disertasinya bahwa pendatang harus terbatas pada daerah ini untuk melindungi penduduk asli, meningkatkan kehidupan penduduk asli dan mengembangkan Papua.
Populasi pendatang dan penduduk asli mulai berimbang dan jika in-migration terus berlanjut, jumlah pendatang akan menjadi lebih dominan. Pendatang memiliki sumber daya manusia dan sosial ekonomi yang lebih baik, sementara penduduk desa sebagian besar adalah penduduk asli yang hidup dalam kemiskinan absolut dan struktural. Konsentrasi pembangunan di kawasan perkotaan menyebabkan arus pendatang asli dari kampung pedalaman di Papua ke kota-kota pesisir dan mengubah komposisi penduduk pedalaman di kawasan pesisir.
Perubahan komposisi penduduk membuat masyarakat adat tidak nyaman karena mereka tidak terlalu terbiasa berada di lingkungan sosial dimana banyak sekali suku bangsa di sekitarnya. Penduduk asli juga terbagi dalam ribuan marga (klan), serta stratifikasi sosial dan status sosial, sehingga sebenarnya penduduk asli itu sendiri terpisah dan tidak saling mengenal. Sikap sosial ini juga mulai menyasar masyarakat adat yang bermukim dan sukses di wilayah masyarakat adat lainnya, meskipun tidak sampai pada pengusiran secara fisik para pendatang karena mungkin tidak berani, takut dengan aparat keamanan atau karena faktor budaya. kearifan masyarakat.
Konflik ideologi tampaknya mengadu domba sekelompok masyarakat adat dengan masyarakat adat lainnya, pendatang dan aparat keamanan. Migran dituduh oleh kelompok tertentu sebagai penyebab masyarakat adat miskin, terpinggirkan, terpinggirkan dan terbelakang, serta mengganggu kapasitas sosial. Dominasi pendekatan politik menyebabkan semua masalah sosial didekati dari perspektif politik, misalnya tingginya jumlah orang yang hidup dengan HIV I AIDS (ODHA) yang menyusup ke dalam wacana rencana pemusnahan (genosida) masyarakat adat.
Perjalanan otonomi khusus tampaknya telah menimbulkan konflik antara kelompok masyarakat adat yang menuntut kemerdekaan dan masyarakat adat merah putih, masyarakat pendatang dan aparat keamanan. Otsus menggunakan perbedaan ras dan tampak memperkuat nasionalisme orang Papua, meskipun pada awalnya dirancang untuk mengejar kebijakan afirmatif terhadap orang asli Papua.
KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT
PARADIGMA BARU PENGELOLAAN BENCANA ALAM DI INDONESIA
Kesadaran dan kepedulian akan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menjadi penting dalam penanggulangan bencana baru pasca megabencana di Aceh yang menggemparkan seluruh dunia. Pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terutama berkaitan dengan kondisi fisik dan lingkungan yang rawan bencana. Bencana dahsyat di Aceh telah memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan masyarakat.
Oleh karena itu, tingkat kesiapsiagaan masyarakat di suatu wilayah yang difasilitasi oleh satu lembaga tidak dapat dibandingkan dengan tingkat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah lain yang dikelola oleh lembaga lain. Kerangka kerja ini dapat digunakan sebagai alat untuk menilai tingkat kesiapsiagaan masyarakat di suatu wilayah. Menyadari pentingnya waktu kerja, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan United Nations for Education/International Strategy for Disaster Reduction (UNESCO/ISDR) mengembangkan kerangka kesiapsiagaan masyarakat pada tahun 2006.
Pengembangan ji·amewark diawali dengan melakukan kajian terhadap faktor kritis yang berpengaruh signifikan terhadap kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami. Kesiapan masyarakat di lima kabupaten/kota ini diperoleh dari indeks gabungan pelaku utama kesiapan masyarakat yaitu rumah tangga. Pemerintah merupakan aktor utama yang seharusnya memiliki peran sangat penting dalam kesiapsiagaan masyarakat untuk mengantisipasi bencana.
Kesiapsiagaan pemerintah sangat penting, terutama dalam kondisi dimana kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat masih sangat terbatas. Hal ini perlu mendapat perhatian mengingat perangkat tersebut merupakan agen perubahan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Kesiapsiagaan masyarakat terhadap pengurangan risiko bencana merupakan paradigma baru yang harus menjadi bagian penting dalam penanggulangan bencana.
Upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat sudah mulai dilakukan oleh berbagai institusi, namun hasil kajian menunjukkan bahwa pelaku utama kesiapsiagaan masyarakat (keluarga, pemerintah dan komunitas sekolah) masih belum siap dalam memprediksi bencana. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat masih perlu ditingkatkan agar kejadian bencana yang memakan korban jiwa tidak terulang kembali.
JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA
KEPENDUDUKAN INDONESIA