• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL LOCUS DELICTI - Ejournal2 Undiksha

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "JURNAL LOCUS DELICTI - Ejournal2 Undiksha"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

p-ISSN: 2723-7427, e-ISSN: -

Open Access at : https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/JLD

Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

78

EKSITENSI PBB SEBAGAI WADAH DALAM PENYELENGGARAAN HUKUM INTERNASIONAL

Kadek Ayu Tiara Vina Viranica1, Hartana2, Dewa Gede Sudika Mangku3, Ni Putu Rai Yuliartini4, Endah Rantau Sari5

1 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]

2 Universitas Bung Karno Jakarta. E-mail : [email protected]

3 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]

4 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]

5Universitas Tanjungpura. E-mail : [email protected]

Info Artikel Abstract

Masuk: 12 Februari 2023 Diterima: 1 Maret 2023 Terbit: 1April 2023 Keywords:

International Law, United Nations, Security Council

This article is titled "United Nations Extension as a Forum in the Implementation of International Law", this article was created to aim to (1) know the efforts of the Security Council in carrying out its functions as international peace and security, (2) know the extension of PPB as a forum in the implementation of international law. From this article can draw the conclusion that the main purpose of the founding of the United Nations is to continue to maintain world security and peace. International Law is laws or regulations that as it persists in the international community. The Security Council as the custodian of peace and security, the disputes that are acted upon, the first is disputes that can endanger international security and peace, the second is cases that can threaten or violate peace between countries.

Article 1 paragraph (1) of the UN Charter is the basis for resolving disputes peacefully. In this article it is clear that by taking selective action for international peace and security, this is clearly the goal of the United Nations. The existence of this is to prevent the occurrence of threats that if they result in violations between countries, it can resolve disputes peacefully based on principles in international law.

Abstrak Kata kunci:

Hukum Internasional, Perserikatan Bangsa- Bangsa, Dewan Keamanan.

Corresponding Author:

Kadek Ayu Tiara Vina Viranica E- mail :

[email protected]

Artikel ini berjudul “Eksitensi PBB Sebagai Wadah Dalam Penyelenggaraan Hukum Internasional”, artikel ini dibuat bertujuan untuk (1) mengetahui upaya Dewan Keamanan dalam melaksanakan fungsinya sebagai perdamaian dan keamanan internasional, (2) mengetahui eksitensi PPB sebagai wadah dalam penyelenggaraan hukum internasional. Dari artikel ini dapat menarik kesimpulan bahwa tujuan utama berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa ialah untuk terus mempertahankan keamanan serta perdamaian dunia. Hukum Internasional itu hukum-hukum atau peraturan-peraturan yang sebagaimana tetap bertahan di dalam masyarakat

(2)

79

internasional. Dewan Keamanan sebagai pemelihara

perdamaian serta keamanan , sengketa-sengketa yang ditindak yakni yang pertama ialah sengketa yang sekiranya dapat membahayakan keamanan serta perdamaian internasional, yang kedua yakni kasus yang dapat mengancam maupun melanggar perdamaian antar negara. Pasal 1 ayat (1) Piagam PBB merupakan dasar yang menyelesaikan sengketa secara damai. Dalam pasal ini jelas bahwa dengan mengadakan tindakan yang selektif agar terjadinya perdamaian serta keamanan internasional, hal ini sudah jelas merupakan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Adanya hal tersebut guna mencegah terjadinya ancaman yang sekiranya mengakibatkan pelanggaran di antar negara dengan itu dapat menyelesaikan sengketa dengan damai berdasarkan prinsip dalam hukum internasional.

@Copyright 2023.

PENDAHULUAN

Dapat dilihat dari beberapa pernyataan para ahli, negara-negara di dunia pada dasarnya mengesampingkan kejajaran posisi yakni yang dimaksud disini ialah negara yang sebagai subjek hukum internasional dan lebih mementingkan atau mempertahankan kendali atas perusahaan-perusahaan yang ada di negaranya.

Negara yang berkembang mengkawatirkan adanya dominasikorprasi tradisional pada perekonomiannya serta mempengaruhi politik ataupun perekonomian. Di era dunia internasional, melakukan suatu hubungan internasional merupakan kewajiban, yang dimana kewajiban ini tidak dapat dihindari oleh negara. Hal ini sudah ditegaskan di Konvensi Montevideo 1933 dimana dituangkan syarat bagaimana sebuah negara terbentuk.1 Hal ini menyebabkan negara negara dapat menjalin hubungan internasional, serta adanya kesamaan negara dalam tujuannya yakni saling membutuhkan.

Organisasi internasional yaitu PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) merupakan organisasi yang besar jika dilihat dari sejarah-sejarah kerjasama pada negara-negara di dunia. Munculnya masalah-masalah di antar negara, menyebabkan perlunya adanya penyelesaian sebab ada juga sengketa di dalam antar negara belum selesai ataupun tidak selesai sama sekali.tujuan utama dari terbentuknya PBB yakni guna menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Prinsip-prinsip dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa ini diharapkan mampu menjadi landasan dalam mencegah ancaman serta tindakan yang sekiranya dapat menjadi faktor terjadinya sengketa dalam ranah internasional, jika hal ini berjalan dengan baik maka perdamaian antar bangsa akan dapat terealisasi dan persengketaan akan berkurang.2

1Mangku, DGS. (2012). “Suatu Kajian Umum Tentang Penyelesaian Sengketa internasional Termasuk Di Dalam Tubuh ASEAN”. Volume 17, Nomor 3.

2 Gunawan, Y. 2021. Pertanggungjawaban Indonesia Dalam Pencemaran Asap Lintas Batas Negara.

Yogyakarta : LP3M UMY. Hlm 57.

(3)

80 Untuk menyelesaikan sengketa internasional ada berbagai cara di hukum internasional yang sekiranya dapat menyelesaikan sebuah sengketa agar terselesai secara damai, kekerasan juga menjadi salah satu cara penyelesaian sengketa tetapi diluar itu pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya harus bermusyawarah terlebih dahulu, singkatnya kekerasan adalah jalan akhir. Jadi fungsi dan peran PBB disini sangat dibutuhkan. Fungsi dan peran PBB yaitu menjaga keamanan dan perdamaian internasional, dilihat dari Piagam PBB Pasal 4 ayat 1 yang dimana inti dari Pasal ini yakni dewan keamanan sebagai wakil dalam bertindak dan tugasnya yakni memelihara perdamaian internasional.3

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam artikel ini yaitu metode normatif yaitu yang dimana merupakan metode penelitian yang sifatnya meneliti dengan menggunakan bahan pustaka atau bahan sekunder. Selain itu metode analisis data dilakukan melalui menghimpun dan menelaah data atau bahan sekunder dan hal ini meliputi , bahan hukum primers bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier, bisa berupa dokumen atau bisa juga peraturan yang ada. Disajikan secara deskriktif yang dimana melalui penganalisisan, metode penganalisisam kualitatif yakni yuridis normatif.4

HASIL DAN PEMBAHASAN Perserikatan Bangsa-Bangsa

PBB atau Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan organisasi internasional dan organisasi ini terdisi oleh seratus sembilan puluh tiga negara, tujuan pendirian PBB ini yaitu salah satunya untuk menyelesaikan sengketa internasional. dilihat dari sejarah PBB yakni, pertama kali didirikan hanya beranggotakan lima puluh satu negara. Piagam perserikatan Bangsa-Bangsa pada april sampai juni tahun 1945 menyusun konferensi. Tujuan utama berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa ialah untuk terus mempertahankan keamanan serta perdamaian dunia, menjaga rasa persaudaraan antar negaara, menjadi tempat untuk merundingkan segala sesuatu yang sekiranya menjadi ancaman dalam perdamaian dunia, membaangun kerja sama antar negara di bidang budaya, lingkungan, lalu ekonomi , serta bidang sosial,.

Dan untuk menyediakan atau tempat bantuan ketika ada sebuah peristiwa seperti bencana alam dan lain-lainnya.

Struktur dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yakni yang pertama, Majelis Umum merupakan majelis yang utama ialah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan ini terdiri atau diantaranya yaitu semua negara yang tergabung dalam `PBB , dalam hal ini majeli umum bertemu setiap tahun. Ketika pada saat mengadakan pertemuan pada sebuah masalah yang sangat penting, terdapat tiga minimal suara yang ada pada anggota-anggota tersebut. Contoh dari maksud hal penting ini yaitu seperti tentang hal yang menyangkut perdamaian serta keamanan, adanya anggota baru

3Kusumaatmadja, M., dan Agus. 2003. Pengantar Hukum Internasional. Bandung : PT Alumni. Hlm 13.

4Muchar, H. (2015). “Analisis Yuridis Normatif Sinkronasi Peraturan Daerah Dengan Hak Asasi Manusia”.

Analisis Yuridis Normatif, Volume 13, Nomor 1, hlm 84

(4)

81 PBB, serta hal yang berkaitan dengan anggaran. Lalu yang kedua, Dewan Keamanan, ditugaskan atau mempunyai wewenang sebagai penjaga keamanan serta perdamaian anggota, Dewan Keamanan juga mempunyai hak yang dimana dapat membuat sebuah keputusan yang tentunya harus dipatuhi oleh anggota. Yang ketiga, Sekretariat, dimana ini dipimpin oleh Sekretariat Jendral PBB, serta staf pegawai sipil internasional yang akan membantu. Tugas dari Sekretariat yaitu menyediakan sebuah informasi yang akan dibahas di pertemuan. yang keempat dari struktur PBB yaitu Sekretaris Jendral, bertindak sebagai seorang juru bicara, dan sekertari Jendral diangkat setelah direkomendasikan oleh Majelis Umum. Yang kelima yakni Mahkamah Internasional yang merupakam peradilan yang utama bagi PBB, tujuan didirikannya Mahkamah Internasional ialah mengadili atau juga memutuskan sebuah sengketa antar negara. Yang keenam yakni, Dewan Ekonomi dan Sosial, mempunyai tugas merekomendasikan kerjasama ekonomi serta budaya di ranah internasional. Dan yang ketujub yakni Badan Khusus.

Hukum Internasional

Hukum internasional bisa diartikan suatu ketentuan yang mencakup hukum yang berlaku untuk negara-negara yang mengatur hubungan di dalam negara- negara itu sendiri.5 Hukum Internasional itu hukum-hukum atau peraturan- peraturan yang sebagaimana tetap bertahan di dalam masyarakat internasional.

Dengan adanya peraturan yang terkandung di dalam hukum internasional yakni tentunya harus dipertahankan. Dengan dasar bahwa hukum internasional itu merupakan hukum, tentunya mempengaruhi tujuan dari hukum internasional itu sendiri, jadi tujuan hukum internasional itu adalah untuk menciptakan keadaan yang adil dan aman bagi masyarakatnya.

Prinsip-prinsip hukum internasional antara lain mencakup atau berkaitan dengan beberapa hal. Yang dimaksud ialah antara lain, subjek dari hukuminternasional ialah organisasi internasional antar pemerintah dan non pemerintaah, negara, tahta syci, badan hukum multi dan lainnya. Selain itu, objek dari hukum internasional yaitu ada banyak contohnya seperti sumber daya alam, laut, angkasa, cuaca, dan peristiwa. Sama seperti halnya dengan hukum yang lain tnetunya hukum internasional memiliki sumber-sumber, seperti suber hukum formal serta sumber hukum material.

Dewan Keamanan PBB Sebagai Fungsi Pelaksanaan Perdamaian Serta Keamanan Internasional

Kesepakatan yang dihasilkan dalam oleh para anggota-anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa mengasilkan sebuah keputusan yang dimana Dewan Keamanan yakni ditugaskan sebagai penindak fungsi atas keamanan serta perdamaian internasional. Putusan tersebut dapat disepakati karena melihat Dewan Keamanan merupakan wakil dari anggota-anggota PBB serta juga menjalankan diatas kehendak-kehendakl dari para anggota-anggota PBB. Dilain sisi dalam menjalankan

5Mangku, D.G.S. 2021. Pengantar Hukum Internasional. Klaten : Penerbit Lakeisha. Hlm 5.

(5)

82 tugasnya Dewan Keamanan juga tidak boleh semena-mena, hal ini karena Dewan keamanan itu terikat oleh tujuan serta prinsip dari Piagam PBB.

Prinsip-prinsip Piagam Perserikan Bangsa-Bangsa diantaranya yakni, penyelesaian sebuah sengketa dengan memilih jalan damai, prinsip tidak mempergunakan kekerasan guna menyelesaikan sebuah sengketa, prinsip tanggug jawab atas penentuan sebuah ancaman, prinsip menyangkut persenjataan, dan prinsip yang mengatur mengenai kerjasama dalam aspek keamanan serta pemeliharaan internasial. Inilah yang menjadi prinsip dari Piagam PBB yang harus dijalankan negara-negara dan diawasi oleh Dewan Keamanan. 6

Dalam konteks Dewan Keamanan sebagai pemelihara perdamaian serta keamanan, sengketa-sengketa yang ditindak yakni yang pertama ialah sengketa yang sekiranya dapat membahayakan keamanan serta perdamaian internasional, yang kedua yakni kasus yang dapat mengancam maupun melanggar perdamaian antar negara. Adapun pasal yang secara khusus guna Dewan Keamanan bertindak lebih cepat serta dapan mencegah terjadinya sengketa yang bersenjata, selain itu pula Dewan Keamanan lah yang memutuskan sampai pasukan bersenjata, hal ini jika perdamaian antar negara telah terancam. BAB I pada Piagam PBB dalam Pasal 1 dan juga 2 dinyatakan bahwa yakni Organisasi Regional bisa memelihara, menciptakan serta menjaga keamanan dan juga perdamaian dunia pada wilayah regional khususnya. Di dalam BAB IV Piagam PBB yakni semaksimal mungkin menerapkan prinsip dalam menyelesaikan sengketa melalui jalan damai dibantu oleh Dewan Keaamanan.

Guna pelaksanaan keputusan Dewan Keamanan memelihara perdamaian serta keamanan internasional yang dimana dilakukan para anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa ini ditentukan sesuai dengan Pasal 48 Piagam PBB. Keputusan Dewan Keamanan yakni berbeda-beda di antaranya yaitu keputusan yang dimana sifatnya prosedul yang dimaksud disini penetan keputusan dengan persetujuan dari 9 suara anggota Piagam PBB, lalu keputusan yang lain, ialah keputusan dengan persetujuan dari 9 anggota-anggota negara dan sudah termasuk negara anggota Dewan Keamanan yang tetap. Keputusan Dewan Keamanan yang tetap, dalam mengambil putusan yang menyangkut sifatnya produral dapat menggunakan hak veto yaitu hak yang dimana ia dapat menolak. Dalam menjaga keamanan dan perdamaian yang ditanggung jawabkan ke anggota tetap Dewan Keamanan, hal ini dilakukan sebab terdapat anggapan bahwa negara anggota tetap yang ada di dalam Perang Dunia II ialah sekutu, pernyataan ini menimbulkan keinginan untuk memelihara keamanan dan perdamain di internasional.

Menjaga keamanan dan perdamaian secara selektif dengan memilih anggota merupakan kewenangan dari Dewan Keamanan PBB. Dalam merekomndasikan yang akan menjadi anggota PBB ke majelis Umum, rentan terjadi sebuah permasalahan sengketa di antar negara hal ini menyebabkan keamanan anggota terancam. Permasalahan krusial berkaitan dengan hak veto. jika terjadi sebuah

6Mulyana, I., dan Handayani. (2015). “Peran Organisasi Regional Dalam Pemeliharaan Perdamaian dan Keamanan Internasional”. Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Volume 3, Nomor 1, hlm 62- 66.

(6)

83 konflik maka Dewan Keamanan akan ikut dalam menyelesaikan sengketa tersebut.

Dilihat dari sisi kesulitan, sibebabkan oleh besarnya kekuasaan atau tanggung jawab yang diberi kepada Dewan Keamanan, hal ini menimbulkan akan sulit bagi PBB mengambil tindakan yang tepat, hak veto menjadi alasan dibalik kesulitan ini, karena sulit mengendalikan hak veto. Sistem internasional sangat dipengaruhi oleh kolektif dan intensifnya Dewan Keamanan. Serta hak veto yang dimana dimiliki oleh Dewan Keamanan dapat juga menghentikan keputusun.

Dewan Keamanan yang statusnya mempunyai hak veto, bisa diambil hak suara ke anggota tetap ataupun anggota yang tidak tetap pada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam putusannya dapat dibedakan menjadi masalah yang produsel dan nonprodusel . yang membedakan dari kedua masalah ini yaitu bisa dilihat dari pungutan suara serta penerapannya. Masalah yang produsel ditetapkan melalui sembilan suara anggota Dewan Keamanan serta dalam konteks maasalah ketetapan yakni agenda penundaan rapat, lain halnya dengan masalah nonprodusel ditetapkan sembilan suara yang di dalamnya juga terhitung suara anggota tetap Dewan Keamanan serta direkomendasikan guna menyelesaikan masalah sengketa juga putusan mengenai tindak yang disertai kekerasan.

Dewan Keamanan PBB tentunya tidak terus dengan lancar menjalankan tugas nya sebagai penanggung jawab keamanan, tetapi terdapat juga pasang surutnya. Salah satu masalah yang ada yang menyebabkan sulitnya peran Dewan Keamanan yaitu pertentangan yang terjadi antar negara Blok Timur dengan Blok Barat di dalam menggunakan hak veto. Konflik ini terselesaikan secara lambat sebab lima negara anggota Dewan Keamanan Perseritan Bangsa-Bangsa menjatuhkan veto yakni dengan mengancam perdamaian di dunia sebanyak duaratus tujuh puluh sembilan kali.

Hambatan-hambatan yang terjadi di dalam pelaksanaan menjaga pemeliharaan perdamaian di internasional yang dijalankan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yaitu yang pertama, pada tahun 1945-1990 terdapat 279 kali anggota Dewan Keamanan PBB menjatuhkan veto. Yang kedua, sesuai dengan Pasal 27 Piagam PBB diputuskan bahwa suara hak veto diambil berdasarkan sembilan anggota Dewan Keamanan dan lima di dalamnya merupakan anggota yang tetap, tetapi dilihat dalam relita praktiknya tidak berjalan sesuai sehingga menyebabkan tidak adanya penyelesaian sengketa. Ketiga, keputusan Dewan Keamanan tidak ditaati masyarakat internasional hal ini menyebabkan terjadinya konflik bersenjata, negara Asia yakni Myanmar terjadi pelanggaran HAM. Yang keempat, tujuan PBB teralihkan sebab adanya penambahan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam perang Dunia II yang dimana tujuannya awal yakni menjaga keamanan serta pedamaian internasional, menjadi masalah sosial, ekonomi, hak asasi manusian, dan budaya. Kelima, pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa sering menjadi sasaran pihak wilayah yang berkonflik.

Dalam menyelesaikan masalah yang ada dalan ranah internasional, Dewan Keamanan PBB melakukan upaya dalam mengatasinya , upaya tersebut yaitu yang pertama, perundingan yang dimana pembicaraan yang dilakukan yang bertujuan guna mencapai kesepakatan yang dilakukan oleh para pihak yang bermasalah, kedua menggunakan pihak ketiga dalam upaya mencapai penyelesaian masalah.

(7)

84 Ketiga, dengan membentuk kelompok yang di dalamnya ada negara-negara yang netral guna menyelidiki fakta yang ada. Keempat, dengan upaya mediasi. Yang kelima yakni dengan koniliasi yang dimana mirip dengan pembentukan kelompok negara yang netral, tetapi bedanya disini membentuk badan internasional untuk menangani sengketa serta badan tersebut juga bersifat tidak memihak. Keenam, arbritase yang dimana menyelesaikan sengketa berdasarkan prinsi-prinsip yang sudah ada. Ketujuh, melibatkan Mahkamah Internasional dalam menyelesaikan sengketa. Dan upaya yang terkahir yakni dengan melalui badan regional yang dimana berkesempatan untuk menyelesaikan masalah melalui wilayah para pihak.

Eksitensi PBB Sebagai Wadah Dalam Penyelenggaraan Hukum Internasional

Pasal 1 ayat (1) Piagam PBB merupakan dasar yang menyelesaikan sengketa secara damai. Dalam pasal ini jelas bahwa dengan mengadakan tindakan yang selektif agar terjadinya perdamaian serta keamanan internasional, hal ini sudah jelas merupakan tujuan PBB. Adanya hal tersebut guna mencegah terjadinya ancaman yang sekiranya mengakibatkan pelanggaran di antar negara dengan itu dapat menyelesaikan sengketa dengan damai berdasarkan prinsip dalam hukum internasional. Serta mengenai Pasal 2, ada dua kewajiban menyelesaikan sengketa dengan jalur damai yaitu yang pertama terdapat pada Pasal 2 ayat (3) Piagam PBB, yang dimana memiliki arti bahwa negara sangat wajib menyelesaikan masalahnya secara damai. Yang kedua yakni Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB, mempunyai arti bahwa dalam menyelesaikan sengketa atau masalah di semua negara tanpa terkecuali, sangat dilarang dengan cara kekerasan maupun yang menimbulkan ancaman yang menggunakan senjata.7

Diperjelas dalam Pasal 33 Piagam PBB yaitu mengenai kewajiban dalam menyelesaikan sengketa melalui jalur damai disini disebutkan bahwa negara- negara yang bersengketa yang sekiranya dapat membahayakan perdamaian maupun keamanan internasional, wajib menyelesaikan dengan menggunakan cara yakni negosiasi, konsiliasi, arbitrase, mediasi, pengadilan, penyelidikan serta diserahkan ke badan regional maupun kepada organisasi-organisasi, maupun juga penyelesaian dengan cara lain yang dipilihkan.8

Di dalam bisnis internasional penyelesaian sengketanya melalui Pasal 18 ayat (4) dan (5) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 UU ITE. Di dalam Pasal 18 ayat (4) dijelaskan bahwa pihak-pihak yang bersangkutan berwenang menetapkan forum pengadilan dan abritanse dalam tujuan penyelesaian sengketa yang kemungkinan timul akibat transaksi elektro internasional. Lain halnya dengan Pasal 18 ayat (5) yakni bila pihak tidak melakukan forum sebagaimana yang telah diatur dalam ayat (4) maka didasarkan pada sebuah asas yang dimana asas yang dimaksud ini yaitu asas Hukum Perdata Internasional. Hal ini dapat didasarkan oleh penentuan para pihak melalui forum mana yang mereka pilih. Selain itu juga di dalam memilih forum lebih mekankan di bidang pemilihan yuridiksi kewenangan untuk mengadili tentang penanganan sebuah sengketa. Ada juga melalui asas kebebasan berkontrak akan berpatok pada dimana negara tertentu sepakat dalam

7Aldoft, H. 2008. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional. Jakarta : Sinar Grafika. Hlm 12.

8 Ibid, hlm 13

(8)

85 penyelesaian sengketa, mereka dapat dengan cara mereka pilih. Jika tetap tidak ada hasil maka harus berusaha untuk mencari forum lainnya yang dimana akan lebih netral.

Di dalam kasus yakni kasus penyadapan Australia terhadap Indonesia menggunakan atau menerapkan Pasal 2 serta Pasal 33 Piagam PBB, seperti yang diketahui pasal ini terkandung di dalamnya menyelesaikan sengketa-sengketa yang ada dengan memilih jalan damai. Dan dalam penerapannya Indonesia melakukan sebuah upaya yang dimana menyangkut pemberhentian kerjasama antara

Indonesia dengan Australia guna mencegah terjadinya penyadapan lagi.

Berbeda pada penyelesaian kasus Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai kasusnya Irak dengan Kuwait di dalam perang Teluk dalam upaya untuk penerapan tujuan dari PBB yakni perdamaian serta keamanan internasioanl. Himbauan dari Irak yang dimana isinya yaitu agar negara-negara yang mempunyai hubungan dengan Kuwait agar beralih ke Irak, sebab Kuwait adalah bagian daari provinsi Irak. Adapun yang mendukung serta mengancam Irak dalam hal tersebut. Seperti Amerika Serikat contohnya, yang dimana Amerika Serikat membantu Kuwait merupakan tempat Amerika Serikat mengimpor minyak dan tentunya Amerika Serikat membantu karena merasa atau berwaspada setelah dikuasai Irak minyak akan menjadi lebih tinggi. Hal sia-sia terjadi ketika Amerika meminta PBB yakni melalui Dewan Keamanan menyelesaikan masalah tersebut dengan jalan merundingkannya.

Amerika mengartikan hal yang dilakukan Irak termasuk ke dalam pelanggaran hak asasi manusia. Dalam hal ini PBB berusaha dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan melalui pertidaksetujuan adanya menggunakan senjata militer. Dalam pembahasan rapat PBB resolusi 660 membahas bahwasanya Irak tetap teguh berpendirian dalam menguasai Kuait, setelah resolusi ini tidak mempan maka resolusi 666 yakni isisnya mengenaimasih terpenuhi atau tidaknya pemantauan perlengkapan pangan dan kesehatan warga Irak. Karena tindakan Irak diluar batas dikeluarkan resolusi 667 oleh dewan keamana PBB guna merubah pengaturan kependudukan Irak. Diantara resolusi ini tidak ada yang menyelesaikan konflik tersebut. Dilakukanlah kerjasama dengan Amerika lalu menjalankan resolusi selanjutnya yakni resolusi 678 melibatkan pasukan militer anggota PBB.

Hal ini berlanjut kepenyerangan Amerika, tetapi Irak tetap tidak meninggalkan yakni Kuait. Lalu, Amerika melakukan penyerangan yaitu disebut Operasi Badai Gurun lalu melalui serangan tersebut Irak setuju meninggalkan Kuait. Jadi Perang Teluk usai dan terselesaikan dengan damai.

Jadi dalam hal ini yang dimana kasus-kasus tersebut dapat dikatakan sebuah penanggungjawaban terhadap hukum internasional, yang di dalamnya terdapat konflik bersenjata. Membahas Pasal 12 berisi tentang pertanggungjawaban sebuah negara dipengaruhi adanya pelanggaran kewajiban internasioanal dan tidak melihat negara mananya. Di sisi lain dala pasal 13 disebutkan tidak adanya pelanggaran internasional karena negara bersangkutan tidak terikat dengan kebijakan-kebijakan internasioanal. Untuk mempertahankan semua tindakan yang sekiranya merugikan berkaitan pelanggaran internasional, dilakukan beberapa bukti berupa yakni yang pertama persetujuan yang lebih dalam dibahas di Pasal 20 sahnya suatu persetujuan ketika meberikan komisis ke negara lain guna

(9)

86 menghindari kesalahan. Kedua, penahanan diri yakni dijelaskan pada Pasal 21 tindakan dapat dihindari ketika sudah diatur dalam Piagan PBB. Ketiga yaitu, tindakan balasan, dimana dalam Pasal 22 balasan yang terjadi dengan tujuan untyuk merespon tindakan internasional dan hal ini dianggap sebagai pembelaan diri. Lalu yang selanjtnya yaitu Force Majuere masuk dalam memaksa yang suatu kesalahan di luar internasional yaitu terhapuskan. Lalu kegiatan yang menyusahkan, artinya bila pelaku memiliki atau mempunyai alasan yang dapat diterima yang misalnya bertujuan untuk menyelamatkan diri. Dan yang terkahir yakni kebutuhan yang dimana yang dimaksud disini yaitu dapat melakukan perbuatan hukum ketika di suatu keadaan yang tertentu.

PENUTUP Kesimpulan

Jadi PBB dalam perannya untuk menyelesaikan sengketa menurut hukum internasional yaitu salah satunya diatur melalui Pasal 1 ayat (1) Piagam PBB yang merupakan dasar yang menyelesaikan sengketa secara damai. Dalam pasal ini jelas bahwa dengan mengadakan tindakan yang selektif agar terjadinya perdamaian serta keamanan internasional, hal ini sudah jelas merupakan tujuan PBB. Serta diatur juga melalui Pasal 2, ada dua kewajiban menyelesaikan sengketa dengan jalur damai yaitu yang pertama terdapat pada Pasal 2 ayat (3) Piagam PBB, yang dimana memiliki arti bahwa negara sangat wajib menyelesaikan masalahnya secara damai.

Yang kedua yakni Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB, mempunyai arti bahwa dalam menyelesaikan sengketa atau masalah di semua negara tanpa terkecuali, sangat dilarang dengan cara kekerasan maupun yang menimbulkan ancaman yang menggunakan senjata. Pasal 33 Piagam PBB yaitu mengenai kewajiban dalam menyelesaikan sengketa melalui jalur damai disini disebutkan bahwa negara- negara yang bersengketa yang sekiranya dapat membahayakan perdamaian maupun keamanan internasional.

Saran

Sebaiknya supaya terjaga keamanan serta perdamaian di dunia internasional sangat penting bagi PBB ada dalam dunia internasional, serta hubungan antar negara lebih di eratkan agar terhindar dari sengketa-sengketa yang dimana sengketa tersebut bisa saja berimbas kepada masyarakat dari negara-negara yang bersengketa. Selain itu sebaiknya dalam melaksanakan atau menjaga perdamaian dan keamanan internasional tidak hanya mengandalkan Dewan Keamanan, tetapi juga perlunya adanya kesadaran dari dalam negara dengan berupaya menjaga agar tidak terjadi konflik juga merupakan bagian dari menjaga keamanan dan perdamain internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Aldoft, H. 2008. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional. Jakarta: Sinar Grafika Gunawan, Y. 2021. Pertanggungjawaban Indonesia Dalam Pencemaran Asap Lintas

Batas Negara. Yogyakarta: LP3M UMY.

(10)

87 Kusumaatmadja, M., dan Agus. 2003. Pengantar Hukum Internasional. Bandung: PT

Alumni.

Mangku, D.G.S. 2021. Pengantar Hukum Internasional. Klaten: Penerbit Lakeisha.

Mangku, D.G.S. (2012). “Suatu Kajian Umum Tentang Penyelesaian Sengketa internasional Termasuk Di Dalam Tubuh ASEAN”. Volume 17, Nomor 3.

Muchar, H. (2015). “Analisis Yuridis Normatif Sinkronasi Peraturan Daerah Dengan Hak Asasi Manusia”. Analisis Yuridis Normatif, Volume 13, Nomor 1, hlm 80- 91.

Mulyana, I., dan Handayani. (2015). “Peran Organisasi Regional Dalam Pemeliharaan Perdamaian dan Keamanan Internasional”. Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Volume 3, Nomor 1, hlm 62-66.

Nugraheni, T,R, (2021). “Upaya PBB Dalam Menyelesaikan Konflik Irak Dan Kuwait dalam Perang Teluk”. Jurnal Artefak, Volume 8, Nomor 1, hlm 62-66.

Syahrin, M.A. (2018). “ Penentuan Forum Yang Berwenang Dan Model Penyelesaian Sengketa Transaksi Bisnis Internasional Menggunakan E-Commers : Studi Kepastian Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional. Jurnal Recht Vinding, Volume 7, Nomor 2, hlm 212-214.

Ukas. (2018). “Analisis Yuridis Mekanisme Penyelesaian Sengketa Perdagangan Internasional”. Jurnal Cendekia, Volume 4, Nomor 1, hlm 136-137.

Hartana, H. (2017). PROSES MEMBENTUK PERUSAHAAN BARU DALAM PELAKSANAAN EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DI SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA. Perspektif, 22(2), 142-165.

Hartana, H. (2022). PENGATURAN PEMBATASAN EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DI SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG- UNDANG NO. 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 8(1), 233-243.

Hartana, H. (2021). Regulation of Group Company Expansion Restrictions in the Coal Mining Sector Viewed from Indonesian Laws and Regulations. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 7(2), 520-526.

Hartana, H. (2020). IMPLICATION OF GROUP COMPANY EXPANSION TO MONOPOLY PRCTICE AND UNFAIR BUSINESS COMPETITION (Study Case:

Coal Mining Industry). Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(1), 161-175.

Hartana, H. (2017). PELAKSANAAN AKUISISI DI SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DALAM PELAKSANAAN EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 3(2), 18-32.

Hartana, H. (2018). EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DALAM BIDANG BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 4(1), 27-45.

Purwendah, E. K., & Periani, A. (2020). FORMULATION OF LOSSES FOR OIL POLLUTION DUE TO TANKER SHIP ACCIDENT IN THE INDONESIAN LEGAL SYSTEM VALUE OF JUSTICE. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(3), 1-9.

Purwendah, E. K. (2020). Persepsi Budaya Hukum dalam Merespon Pencemaran Minyak di Laut Cilacap akibat Kapal Tanker dalam Perspektif Keadilan Ekososial. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(1), 93-105.

(11)

88 Itasari, E. R. (2020). COVID-19 HANDLING IN THE BORDER AREAS OF

INDONESIA. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(3), 42-50.

Itasari, E. R. (2021). PROTECTING CITIZENS IN BORDER TERRITORY BASED ON HUMAN RIGHTS. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(1), 27-32.

Nurhayati, B. R. (2019). Penyalahgunaan Keadaan Sebagai Dasar Pembatalan Perjanjian. Jurnal Komunikasi Hukum, 5(1).

Nurhayati, B. R. (2017). Constitutional Basis for the Civil Rights of Illegitimate Children. Pattimura Law Journal, 1(2), 118-130.

Kristhy, M. E., Kristanto, K., Siswanto, E., Martono, A. B., & Nababan, R. M. (2022).

Legal Politics of Regional Quarantine during the Covid-19 Pandemic with the Approach to Implementing Community Activities Restrictions (PPKM) Level 1-4. Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal), 5(3), 18308-18317.

Kristhy, M. E., Afrinna, R., & Taka, P. J. (2022). BIJAK BERINVESTASI DALAM MASA PANDEMIK GLOBAL COVID-19. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 10(2), 377-382.

Rosy, K. O., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Peran Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Setra Karang Rupit Di Pengadilan Negeri Singaraja Kelas 1B. Ganesha Law Review, 2(2), 155-166.

Dana, G. A. W., Mangku, D. G. S., & Sudiatmaka, K. (2020). Implementasi UU Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Terkait Peredaran CD Musik Bajakan Di Wilayah Kabupaten Buleleng. Ganesha Law Review, 2(2), 109-120.

Mangku, D. G. S. (2021). Roles and Actions That Should Be Taken by The Parties In The War In Concerning Wound and Sick Or Dead During War or After War Under The Geneva Convention 1949. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 7(1), 170-178.

Itasari, E. R. (2015). Memaksimalkan Peran Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976 (TAC) Dalam Penyelesaian Sengketa di ASEAN. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 1(1).

Referensi

Dokumen terkait

Intervention semacam itu menuntut sebuah negara untuk berjuang dengan dua standar kritis hukum internasional, terutama hak untuk melindungi diri dari negara yang menuduh dan hak untuk

Sudargo Gautama merumuskan hukum perdata internasional sebagai “kumpulan ketentuan dan ketetapan yang memperlihatkan system hukum mana yang sah atau apa yang merupakan hukum apabila

Dengan penentuan status kedaruratan kesehatan, pembatasan interaksi mempersulit pergerakan dan menghambat kinerja penyelenggara pemilu, aksi bakal calon dan pergerakan partai politik

Berdasarkan pada materi Undang-Undang tersebut, cara pengelolaan yang dimaksud adalah pengelolaan dari hulu kehilir dengan menerapkan prinsip 3R yaitu meliputi kegiatan

penanganan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam upaya menangani kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia.Atas dasar uraian tersebut, maka titik pembahasan utama pada tulisankali

Sebenarnya transaksi perdagangan yang dilakukan melalui media E-Commerce tetap dapat dikenakan pajak karena mendatangkan penghasilan bagi para pelaku usaha, satu-satunya hal yang

Secara khusus, kesetaraan kedaulatan mencakup elemen- elemen berikut: a Negara-negara secara yuridis setara; b Setiap negara menikmati hak yang melekat dalam kedaulatan penuh; c

Pasalnya, apabila dikaitkan dengan unsur-unsur tanggung jawab Negara, yaitu ada perbutan kelalaian yang dilakukan oleh pemerintah Libya dengan adanya korban yg dialami oleh Duta Besar