p-ISSN: 2723-7427, e-ISSN: -
Open Access at : https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/JLD
Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial
Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
127
KETERKAITAN ANTARA HUKUM INTERNASIONAL DENGAN HUKUM NASIONAL DALAM PANDANGAN TEORI MONISME DAN TEORI DUALISME
Sabrina Witri Afifah1, Hartana2, Dewa Gede Sudika Mangku3, Ni Putu Rai Yuliartini4, Elly Kristiani Purwendah5
1 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]
2 Universitas Bung Karno Jakarta. E-mail : [email protected]
3 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]
4 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]
5Universitas Wijayakusuma. E-mail : [email protected]
Info Artikel Abstract
Masuk: 12 Februari 2023 Diterima: 1 Maret 2023 Terbit: 1April 2023 Keywords:
Female labor, human rights, sexual violence, ILO International Law, National Law, Monism and Dualism
The purpose of writing this article is to find out the definition of international law and national law and to find out the relationship between international law and national law from the point of view of monism and dualism. In general, it appears that international law deals with correlations between States in international rules. National law is law that is valid individually in the ruling area. The relationship between international law and national law has two theories, the first is the theory of monism which says that national law and international law unite and develop new legal norms. The second is the theory of dualism which says that national laws are set aside and must voluntarily comply with international law.
Abstrak Kata kunci:
Hukum Internasional, Hukum Nasional, Monisme dan Dualisme
Corresponding Author:
Sabrina Witri Afifah
E-mail:
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui definisi hukum internasional dan hukum nasional serta untuk mengetahui keterkaitan antara hukum internasional dengan hukum nasional dilihat dalam pandangan monism dan dualism.
Secara umum, terlihat bahwa hukum internasional mengurusi tentang korelasi antar Negara dalam aturan internasional.
Hukum nasional adalah hukum yang sah secara individual pada wilayah yang berkuasa. Keterkaitan hukum internasional dengan hukum nasional memiliki dua teori, yang pertama yaitu teori monism yang mengatakan bahwa hukum nasional dan hukum internasional bersatu dan mengembangkan norma hukum yang baru. Yang kedua yaitu teori dualism yang mengatakan bahwa hukum nasional dikesampingkan dan wajib dengan sukarela mematuhi hukum internasional.
@Copyright 2023.
128 PENDAHULUAN
Hukum internasional ialah hukum yang mengurus kegiatan sistematis di tingkat internasional. Awalnya, hukum internasional didefinisikan sebagai tingkah laku dan kaitan antar Negara, tetapi dengan berkembangnya model korelasi internasional yang bertambah kuat, definisi tersebut mewabah luas maka hukum internasional juga mengurus tentang system dan tingkah laku organisasi internasional.
Hukum bangsa mengacu berdasarkan etiket dan aturan norma yang ada pada ikatan antar kepala daerah pada dahulu kala. Hukum Negara mengacu berdasarkan seperangkat aturan dan prinsip yang mengurusi kaitan antara Negara atau kelompok komunitas Negara. Hukum internasional memiliki perwujudan atau model pembangunan yang berdasar terutama pada belahan dunia (wilayah) tersebut: (1) Hukum internasional daerah yaitu hukum internasional yang ditetapkan atau dibatasi oleh daerah yang berlaku, contohnya yakni hukum internasional Amerika atau Amerika Latin, rancangan landas benua serta rancangan pencegahan sumber daya hidup laut, yang pertama kali tumbuh menjadi hukum internasional umum di Amerika. (2) Hukum internasional khusus yaitu hukum internasional pada wujud aturan khusus yang berdasar bagi beberapa Negara, misalnya Perjanjian Eropa mengenai HAM, yang menggambarkan perbedaan keadaan, keinginan, tahap pertumbuhan dan tahap kesatuan dari beberapa anggota komunitas. Bertentangan dengan daerah yang timbul melewati aturan hukum pada umumnya.
Hukum internasional didasarkan pada anggapan bahwa ada suatu kelompok internasional yang mencakup beberapa wilayah yang berkuasa dan bebas, artinya dapat leluasa yang tidak tunduk pada kedaulatan yang asing, kemudian membentuk tatanan koordinasi hukum antara bangsa internasional yang setingkat.
Hukum nasional Indonesia adalah paduan dari bentuk hukum Eropa, hukum adat dan hukum agama. Kebanyakan bentuk yang diterima, baik sipil ataupun criminal, didasarkan pada hukum Eropa continental pertama di Belanda, sebab riwayat negara Indonesia pada masa lampau adalah Negara koloni yang disebut hinda belanda (Nederlandsch-Indie). Indonesia memiliki system hukum adat yang artinya kelanjutan dari peraturan social dan kultur local yang berlaku di Nusantara. Selain itu, Indonesia juga mempunyai hukum agama. Karena kebanyakan orang di Indonesia beragama Islam, jadi kekuasaan hukum Islam atau Syari’at diutamakan, yang terpenting yaitu di bagian pernikahan, keluarga, dan wasiat.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini digunakan metode penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan (library research). Penelitian hukum normative merupakan penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka.1 Penelitian ini menjelaskan mengenai hukum internasional dan hukum nasional dalam pandangan teori monism dan teori dualism, penelitian ini menggunakan jenis
1 Soerjono Soekanto, dan Sri Mamuji, 2011, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tujuan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 13-14
129 pendekatan yuridis normatif. Hal ini disebabkan karena tujuan dari penelitian hukum ini yaitu untuk meneliti terkait kedudukan hukum, asas-asas hukum yang merupakan kemauan dengan menyerahkan suatu penilaian terhadap hukum.
Artinya menyerahkan suatu penilaian yang bersifat etis.2 HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hukum Internasional
Hukum internasonal adalah istilah yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham. Hukum internasional diartikan sebagai hukum internasional public yang memiliki arti yang berbeda dari hukum internasional perdata, yang disebut juga hukum konflik.
Sudargo Gautama merumuskan hukum perdata internasional sebagai
“kumpulan ketentuan dan ketetapan yang memperlihatkan system hukum mana yang sah atau apa yang merupakan hukum apabila ikatan antara warga Negara dan kejadian pada waktu tertentu menunjukkan hubungan dengan system ini dan norma hukum dari dua Negara atau lebih yang bersengketa pada bidang kekuasaan dan masalah local (pribadi).3
Hukum internasional ialah hukum yang mengurus kegiatan sistematis di tingkat internasional. Awalnya, hukum internasional didefinisikan sebagai tingkah laku dan kaitan antar Negara, tetapi dengan berkembangnya model korelasi internasional yang bertambah kuat, definisi tersebut mewabah luas maka hukum internasional juga mengurus tentang system dan tingkah laku organisasi internasional dan sampai pada waktu tertentu, perusahaan yang berusaha dibanyak Negara dan individu.
Hukum internasional adalah hukum bangsa yang mengacu berdasarkan etiket dan aturan norma yang ada pada ikatan antar kepala daerah pada dahulu kala. Hukum internasional juga merupakan hukum antar negara yang mengacu berdasarkan seperangkat aturan dan prinsip yang mengurusi kaitan antara Negara atau kelompok komunitas Negara. Intinya hukum internasional dalam pemahaman ini berarti hukum public internasional, karena pada pelaksanaannya hukum internasional dibagi menjadi dua bagian yaitu hukum internasional public dan hukum privat internasional. Hukum internasional public adalah norma dan prinsip hukum umum yang mengurusi korelasi atau serta hal-hal yang melewati sebagian Negara dan tidak berwatak sipil. Sementara itu, hukum privat internasional ialah norma dan prinsip hukum yang mengurusi ikatan sipil yang melewati sebagian Negara, yaitu hukum yang menata korelasi keperdataan antara subyek hukum yang taat kepada hukum keperdataan yang lain.
Pada mulanya, sebagian para ahli menyampaikan pemahamannya tentang pengertian hukum internasional, diantaranya yaitu Grotius pada catatannya De Jure Belli ac Pacis (tentang pertempuran dan rukun). Dalam pendapatnya “hukum dan ikatan internasional dilandaskan pada kehendak
2 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 3
3 Setyo Widagdo, dkk, Hukum Internasional dalam Dinamika Hubungan Internasional, Malang: UB Press, 2019, 1.
130 yang leluasa dan kesepakatan dari sebagian atau banyak Negara. Tujuannya yaitu untuk keinginan bersama-sama dari orang yang mengekspresikan tubuh mereka”.
Sementara itu, menurut Akehurst “hukum internasional ialah aturan hukum yang dibentuk oleh kaitan antar Negara”. Dahulu, pengertian hukum internasional yang disampaikan oleh para ahli hukum ternama seperti Grotius atau Akehurst hanya khusus bagi Negara sebagai satu-satunya penyelenggara hukum dan tidak mencakup subyek hukum yang lain.
Satu diantara pengertian ahli hukum internasional yang paling sempurna adalah definisi dari Charles Cheny Hyde yang menyatakan bahwa hukum internasional bisa diartikan sebagai badan hukum yang terutama terbentuk dari asas-asas dan aturan-aturan yang wajib diikuti dan dipatuhi oleh Negara dalam hubungannya dan juga yang termasuk:
1. Organisasi internasional, korelasi antar organisasi internasional, terkait pada tugas lembaga
2. Ketentuan aturan mengenai orang pribadi dan lemabaga hukum yang bukan Negara menetapkan bahwa kekuasaan dan tanggung jawab orang pribadi serta lembaga hukum yang bukan Negara itu terkait dengan masalah komunitas internasional.
Berdasarkan definsi tersebut, dengan singkat terdapat representasi mengenai cakupan dan isi hukum internasional, dimana meliputi unsur subjek dan partisipan, hubungan antar subjek atau partisipan, dan isu atau bahan yang termasuk pada pengaturan, asas dan landasan atau aturan hukum.
Sebaliknya terkait subjek hukumnya, terlihat bahwa Negara tidak kembali menjadi satu-satunya subjek hukum internasional, semacam sudah muncul dari ajaran yang sah secara umum dilingkungan cendekiawan lebih dahulu.
B. Hukum Nasional
Hukum nasional ialah badan hukum yang kebanyakan terjadi dari landasan dan ketentuan yang wajib dikuti oleh rakyat di satu Negara dan dengan demikian pada korelasi satu dengan yang lain.
Hukum positf atau stellingsrecht sebenarnya adalah aturan yang berlaku, yang menciptakan kaitan yang tepat antara kebenaran hukum dan dampak hukum yang artinya ketetapan abstrak.4 J.H.P. Bellefroid menyatakan bahwa
“hukum positif yaitu tatanan hukum aktivitas masyarakat yang diputuskan oleh otoritas masyarat dan berdasar bagi masyarat khusus yang dipisahkan oleh tempat dan keadaan”.
Hukum nasional Indonesia adalah paduan dari bentuk hukum Eropa, hukum adat dan hukum agama. Kebanyakan bentuk yang diterima, baik sipil ataupun criminal, didasarkan pada hukum Eropa continental pertama di Belanda, sebab riwayat negara Indonesia pada masa lampau adalah Negara koloni yang disebut hinda belanda (Nederlandsch-Indie). Indonesia memiliki
4 Hanafi Arief, Pengantar Hukum Indonesia, (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara, 2016), 4.
131 system hukum adat yang artinya kelanjutan dari peraturan social dan kultur local yang berlaku di Nusantara. Selain itu, Indonesia juga mempunyai hukum agama. Karena kebanyakan orang di Indonesia beragama Islam, jadi kekuasaan hukum Islam atau Syari’at diutamakan, yang terpenting yaitu di bagian pernikahan, keluarga, dan wasiat.
C. Teori Monisme
Teori monism dilandaskan pada gagasan bahwa semua hukum yang mengurusi aktivitas manusia ialah keutuhan. Oleh karena itu hukum nasional dan hukum internasional adalah perolehan atau penerimaan dari keutuhan yang lebih kuat, yakni hukum yang mengurus aktivitas manusia. Hal ini mengakibatkan keadaan ikatan hierarkis antara kedua undang-undang tersebut. Terkait hirarki pada teori monism ini, terdapat dua pemahaman yang bersengketa untuk menetapkan hukum mana yang sangat penting, antara hukum internasional dan hukum nasional.
Berdasarkan aliran monism supremasi hukum nasional, hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Misalnya, ada aturan yang muncul dari kebiasaan Negara. Karena hukum internasional berawal dar hukum nasional, jadi hukum nasional memiliki kedudukan yang lebih banyak daripada hukum internasional. Maka dari itu, hukum nasional berlaku jika terjadi konflik.5
Banyaknya Negara yang meyakini monism, masih ada perbedaan antara hukum internasional dan hukum nasional. Jadi, dapat diucapkan bahwa Negara-negara tersebut separuh monism dan separuh lagi dualistic.
Negara-negara yang mengikuti teori monistik asli, hukum internasional dengan langsung menjadi hukum domestic. Maka dari itu, tidak harus mengubah atau meratifiksasi hukum internasional menjadi hukum domestic.
Hukum internasional bisa digunakan secara terus-menerus untuk keperluan nasional. Bentuk monism yang sangat asli mengatakan bahwa jika hukum domestic tidak konsisten dengan hukum internasional, hukum domestic tidak relevan, apalagi bila hukum domestic lebih baru daripada hukum internasional atau hukum domestic konstitusional.
D. Teori Dualisme
Aliran dualism bersumber dari aturan bahwa intensitas mewajibkan hukum internasional berasal dari kemauan Negara, hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua system yang terpisah. Ada dua teori yang cukup terkenal untuk memahami berlakunya hukum internasional, yaitu teori monism dan teori dualism. Berdasrkan teori monism, hukum internasional dan hukum nasional adalah dua sudut pandang dari system hukum yang sama. Sementara itu berdasarkan teori dualism, hukum internasional dan hukum nasional adalah dua bentuk yang bertentangan,
5 Sefiani, S.H., M.HUM, Hukum Internasional: Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 86
132 hukum internasional memiliki sifat yang berlainan sebagai fundamental dari hukum nasional. Karena teori dualism banyak mencakup system hukum nasional, kadang-kadang teori dualism disebut sebagai teori “dualisme” lebih cocok digunakan. 6
Berdasarkan teori dualism, keterkaitan antara hukum internasional dengan hukum nasional yakni bahwa keduanya adalah dua hal yang bertentangan. Hukum internasional pertama-tama wajib diganti menjadi hukum nasional untuk menerapkannya pada wilayah suatu Negara. Kecuali jika ada perubahan terhadap hukum internasional, hukum internasional tidak diterima sebagai hukum yang sah. Oleh karena itu disini jelas bahwa hukum internasional wajib menjadi hukum domestic atau tidak sama sekali.
E. Keterkaitan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional Dilihat Dari Teori Monisme dan Teori Dualisme
Ada dua teori yang cukup terkenal untuk memahami berlakunya hukum internasional, yaitu teori monism dan teori dualism. Berdasarkan teori monism, hukum internasional dan hukum nasional adalah dua sudut pandang dari system hukum yang sama. Sebaliknya berdasarkan teori dualism, hukum internasional dan hukum nasional adalah dua bentuk yang bertkai, hukum internasional memiliki sifat yang bertentangan sebagai fundamental dari hukum nasional. Perbedaan pandangan dari kedua teori ini menyebabkan perbedaan hasil saat menafsirkan keterkaitan antara hukum internasional dan hukum nasional.
Pendapat dari teori voluntarisme melihat hukum internasional dan hukum nasional sebagai dua instrument hukum yang bertentangan, berdekatan dan saling terbagi. Berlainan dengan dari teori objektivis yang berpendapat bahwa hukum domestic dan hukum internasional sebagai dua instrument hukum yang ada pada satu undang-undang. Termuat dua teori terkait penerapan hukum internasional, diantaranya yaitu:
1) Monisme
Teori monism dilandaskan dalam gagasan bahwa semua hukum yang mengurusi kehidupan manusia adalah satu kesatuan. Oleh sebab itu hukum nasional dan hukum internasional ialah dua elemen dari keutuhan yang lebih kuat, yaitu hukum yang mengurusi aktivitas manusia. Hal ini menyebabkan hubungan hirarkis antara dua undang- undang tersebut. Menurut hirarki pada teori monism ini, terdapat dua pendapat yang bertentangan untuk membuktikan hukum mana yang sangat penting antara hukum internasional dan hukum domestic.
Berdasarkan aliran monism supremasi hukum nasional, hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Misalnya, ada hukum yang timbul dari kebiasaan Negara. Karena hukum internasional berawal dari hukum nasional, maka hukum nasional memiliki
6 J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional (Jakarta: Sinar Grafika, 1988), hlm. 96
133 kedudukan yang lebih banyak daripada hukum internasional, maka dari itu hukum nasional berlaku jika terjadi konflik.7
Beberapa orang menganggap legislasi domestic lebih penting hukum internasional. Paham teori monism ini disebut monism dengan supremasi hukum domestic. Pendapat lainnya menganggap bahwa hukum internasional lebih baik daripada hukum domestic.
Pemahaman ini dikatakan monism dengan supremasi hukum internasional. Dalam teori monism hal ini dibolehkan.
Monism bersama supremasi hukum domestic, hukum internasional yakni perpanjangan dan kelanjutan dari hukum domestic atau bisa diterangkan bahwa hukum internasional semata- mata sebagai kegiatan eksternal hukum domestic. Pengertian ini memandang bahwa keutuhan hukum domestic dan hukum internasional sebagai hukum internasional yang hakikinya timbul dari hukum domestic. Bukti yang disampaikan yaitu:
a. Tidak mempunyai badan yang mengatur aktivitas Negara di atas Negara.
b. Asas hukum internasional yang menyelenggarakan keterkaitan antar Negara adalah kewenangan Negara untuk membuat pengesahan internasional, yang didasarkan pada kekuasaan yang di distribusikan olrh Undang-Undang Dasar suatu Negara
Monism dengan supremasi hukum internasional mengandaikan pandangan sesungguhnya hukum nasional berasal dari hukum internasional. Berdasarkan pemahaman ini, legislasi domestic taat kepada hukum internasional yang dengan substantive menentukan dibawah mandat hukum internasional. Faktanya, Negara menggunakan kedua teori ini untuk menentukan penerapan hukum internasional dalam Negara. Indonesia mengikuti teori dualism ketika mempergunakan hukum internasional pada hukum domestiknya.
Penyusunan dan pembenaran persetujuan internasional antara pejabat di Indonesia dengan pejabat di Negara lain, organsasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya merupakan perilaku hukum yang paling penting karena menghubungkan Negara dengan subjek hukum internasional yang lain. Itulah sebabnya perjanjian asing dibuat dan disahkan berdasarkan undang-undang.
Menurut Anzilotti, disparitas antara hukum internasional dan hukum nasional bisa dilihat dari dua aturan yang mendasar.
Peraturan perundang-undangan nasional belandaskan asas perundang-undangan nasional wajib dipatuhi. Sementara itu, hukum internasional berlandaskan asas pengesahan internasional wajib ditaati menurut asas pacta sunt servanda.8
7 Sefiani, S.H., M.HUM, Hukum Internasional: Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 86
8 John O’Brien, International Law, (London: Cavendih Publishing Limited, 2001), hlm. 109
134 2) Dualisme
Aliran dualism bersumber dari aturan bahwa intensitas mewajbkan hukum internasonal berasal dari kemauan Negara, hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua system yang terpisah. Aliran dualism mengemukakan beberapa alasan untuk menjelaskan hal ini:
a. Sumber hukum, istilah ini menganggap bahwa hukum internasional dan hukum nasional memiliki sumber hukum yang bertentangan, hukum internasional dari keamuan bersama Negara sebagai masyarakat hukum internasional dan hukum nasional berasal dari kehendak Negara.
b. Subyek hukum internasional, subjek dari hukum internasional yaitu Negara sementara subyek dari hukum nasional yaitu orang privat atau public.
c. Struktur hukum, lembaga-lembaga yang dibutuhkan untuk menegakkan hukum, pada kenyataannya adalah pengadilan dan badan administrative yang sekedar ditemukan pada hukum nasional. Masalah yang cocok tidak ditemukan dalam hukum internasional.
d. Faktanya, yang bertentangan dengan hukum intenasional seperti hukum nasional, tidak mempengaruhi validitas dan efektivitas legislasi domestic.
Oleh karena itu, hukum nasional pasti sah sekalipun berlawanan dengan hukum internasional. Dampak dari pendapat dualism ini, yaitu:
1) Asas suatu pebuatan hukum tidak dapat diturunkan atau didasarkan pada perbuatan hukum yang lain (tidak ada masalah hirarki)
2) Tidak boleh ada kontradiksi diantara dua instrument hukum ini
3) Ketetapan hukum internasional membutuhkan transposisi menjadi hukum nasional
Konsekuensi lainnya yakni tidak boleh ada kontradiksi diantara dua instrument hukum itu, yang kemungkinan yaitu perbaikan. Oleh sebab itu, penerapan hukum internasional pada hukum nasional membutuhkan konversi ke dalam hukum nasional.
PENUTUP Kesimpulan
Hukum internasional ialah hukum yang mengurusi kegiatan sistematis di tingkat internasional. Secara umum telah ditunjukkan bahwa hukum internasional membuat keterkaitan antar Negara dalam tatanan internasional. Sementara di sisi lain, hukum nasional adalah hukum yang sah secara khusus ditempat Negara yang berkuasa.
135 Berdasarkan teori monism, hukum internasonal dan hukum nasional sama- sama berhubungan. Dalam teori monism, hukum internasional merupakan perpanjangan dan kelanjutan dari hukum nasional, yaitu hukum eksternal domestic.
Pandangan teori ini, hukum nasional memiliki kedudukan yang lebih ringkas daripada hukum internasional. Hukum nasional taat pada hukum internasional dan wajib mematuhinya.
Sedangkan berdasarkan teori dualism, keterkaitan antara hukum internasional dengan hukum nasional yakni bahwa keduanya adalah dua hal yang bertentangan. Penerapan hukum internasional pada lingkungan legislative domestic memerlukan pengesahan untuk menjadi hukum nasional. Apabila ada masalah diantara keduanya, maka dari itu hukum nasional yang akan didahulukan Saran
1. Diharapkan koordinasi hukum internasional dan hukum nasional semakin pas pada wadah tatanan dunia, tidak hanya di bidang sipil, tetapi juga menyentuh kepentingan warga negara secara lebih luas.
2. Diharapkan keterkaitan antara hukum internasional dengan hukum nasional akan diperkuat secara harmonisasi dari berbagai aspek antar negara yang berbeda, terlepas dari sistem hukum yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Hanafi. Pengantar Hukum Indonesia, Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara, 2016.
Mamuji, Soerjono Soekanto, dan Sri. Pnenelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011.
O’Brien, John. International Law, Cavendih Publishing Limited, London, 2001.
Sefiani, S.H., M.HUM,. Hukum Internasional: Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011.
Starke, J.G. Pengantar Hukum Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 1988.
Sunggono, Bambang. Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Widagdo, Setyo, dkk, Hukum Internasional dalam Dinamika Hubungan Internasional, Malang: UB Press, 2019.
Hartana, H. (2018). EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DALAM BIDANG BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 4(1), 27-45.
Hartana, H. (2019). SEJARAH HUKUM PERTAMBANGAN DI INDONESIA. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 5(1), 145-154.
Hartana, H. (2022). PENGEMBANGAN UMKM DI MASA PANDEMI MELALUI OPTIMALISASI TEKNOLOGI. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Media Ganesha FHIS, 3(2), 50-64.
Hartana, H. (2022). IMPLIKASI EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP PADA SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 10(1), 251-260.
136 Hartana, H. (2021). EKSISTENSI DAN PERKEMBANGAN PERUSAHAAN GROUP DI SEKTOR PERTAMBANGAN. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(3), 669-681.
Hartana, H. (2018). EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DALAM BIDANG BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 4(1), 27-45.
Purwendah, E. K., & Wahyono, D. J. (2022). WASTE BANK AS AN ALTERNATIVE TO COMMUNITY-BASED WASTE MANAGEMENT. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 8(2), 10-17.
Purwendah, E. K., & Erowati, E. M. (2021). PRINSIP PENCEMAR MEMBAYAR (POLLUTER PAYS PRINCIPLE) DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(2), 340-355.
Itasari, E. R. (2022). KONSEP PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH MENURUT KETENTUAN THE INTERNASIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL, AND CULTURAL RIGHTS. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 10(2), 488-503.
Itasari, E. R., & Mangku, D. G. S. (2021). Legal Protection Againts Violations of Human Rights That Abuse Uighur Ethnic Women in China. Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender Dan Anak, 33-48.
Nurhayati, B. R. (2017). Status Anak Luar Kawin dalam Hukum Adat Indonesia. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 3(2), 92-100.
Nurhayati, B. R., & Purwanto, I. H. (2021). Juridical Study in The Application of the Law About Foster-Child Adoption in Indonesia by Foreign Nationals. Media Komunikasi FPIPS, 20(1), 51-55.
Kristhy, M. E., Andri, A., & Harefa, F. (2022). Legal Politics in Food Estate Program for Community Welfare. Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences, 5(2).
Kristhy, M. E., Farina, T., Mahar, S., & Kristanto, K. (2022). PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK TRADISIONAL MASYARAKAT HUKUM ADAT DAYAK MA’ANYAN DI KECAMATAN AWANG KABUPATEN BARITO TIMUR. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 8(2), 27-43.
Arianta, K., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Perlindungan Hukum Bagi Kaum Etnis Rohingya Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 1(1), 93-111.
Daniati, N. P. E., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Status Hukum Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(3), 283-294.
GW, R. C., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Pertanggungjawaban Negara Peluncur Atas Kerugian Benda Antariksa Berdasarkan Liability Convention 1972 (Studi Kasus Jatuhnya Pecahan Roket Falcon 9 Di Sumenep). Jurnal Komunitas Yustisia, 4(1), 96-106.