p-ISSN: 2723-7427, e-ISSN: -
Open Access at : https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/JLD
Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial
Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
89
EKSITENSI PBB SEBAGAI WADAH DALAM PENYELENGGARAAN HUKUM INTERNASIONAL
Dita Yulianti1, Hartana2, Dewa Gede Sudika Mangku3, Ni Putu Rai Yuliartini4, Elly Kristiani Purwendah5
1 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]
2 Universitas Bung Karno Jakarta. E-mail : [email protected]
3 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]
4 Universitas Pendidikan Ganesha. E-mail : [email protected]
5Universitas Wijayakusuma. E-mail : [email protected]
Info Artikel Abstract
Masuk: 12 Februari 2023 Diterima: 1 Maret 2023 Terbit: 1April 2023 Keywords:
UN, Conflict, Resolution.
The purpose of this article is to find out and learn about the efforts made by the United Nations in mediating and resolving the Russia-Ukraine conflict, in which the United Nations acts as an international forum here. The research method used in the preparation of this article is a normative research method, with the process of collecting data based on literature. The sources used were taken from books, journal articles and from existing research. From this article it can be concluded that the United Nations as an international organization which has the goal of maintaining international peace and security really needs its role in this conflict. The United Nations, of course, did not remain silent, especially since the war between Russia and Ukraine did not only harm the two countries, but many other countries were affected. The United Nations began to resolve matters related to the Russia-Ukraine conflict, which at that time stated that it was true that political sovereignty and the territory of Ukraine were free to determine their own destiny. The Russian-Ukrainian conflict occurred which led to war, this war claimed many lives, most of the victims were Ukrainian residents.
Abstrak Kata kunci:
PBB, Konflik, Resolusi
Corresponding Author:
Dita Yulianti
E-mail :
Pembuatan artikel ini bertujuan untuk menegetahui dan mempelajari bagaimana upaya yang dilakukan PBB dalam menengahi serta memnyelsaikan konflik Rusia-ukraina, yang mana disini PBB berperan sebagai wadah Internasional. Metode penelitian yang digunakan dalam pembuatan artikel ini adalah metode penelitian normative, dengan proses pengumpulan data berdasrkan studi pustaka. Sumber yang digunakan diambil dari buku-buku, jurnal artikel maupun dari penelitian yang sudah ada. Dari artikel ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa PBB sebagai organisasi internasional yang memiliki tujuan sebagai penjaga perdamaian dan keamanan internasional sangat diperlukan perannya dalam konflik ini. PBB tentu saja tidak
90
tinggal diam apalagi perang antara Rusia dan ukraina bukan hanya merugika kedua negara itu saja, namun banyak negara lain yang terkena dampaknya. PBB mulai meresolusi hal-hal terkait dengan konflik Rusia-Ukraina, yang mana pada waktu itu berisikan mengenai bahwasannya benar adanya kedaulatan politik serta wilayah kekuasaan dari Ukraina didalamnya bebas dalam menentukan nasib mereka sendiri. Konflik Rusia-Ukraina trjadi hingga menimbulkan perang, perang ini menjatuhkan banyak korban jiwa, kebanyakan korban jiwa adalah penduduk Ukraina.
@Copyright 2023.
PENDAHULUAN
Dalam dunia Internasional, Organisasi merupakan salah satu wadah untuk perdamaian dan keamanan Internasional. Organisasi internasional ada karena masyarakat nan negara yang pastinya tidak bisa hidup sendiri. Apalagi ketika suatu negara mengalami sebuah konflik dengan negara lain atau bahkan konflik dalam negaranya sendiri, pastinya peran organisasi Internasional sangat dibutuhkan disini. PBB sebagai forum atau wadah dalam organisasi internasional, PBB sangat diharapkan mampu untuk menjadi sarana dalam meneyelesaikan konflik Negara anggota. Sebagai organisasi internasional yang memiliki fungsi untuk melindungi perdamaian dan keamanan dilingkup dunia sesuai yang tertuang dalam Piagam PBB, yang mana dalam piagam PBB telah menekankan bahwa upaya secara damai akan dilakukan dalam penyelesaian permasalahan internal maupun ektsernal atau konflik bagi negara anggotanya.
Ada banyak sekali organisasi Internasional dalam ranah internasional, salah satunya adalah PBB. PBB adalah salah satu organisasi internasional yang dikategorikan paling besar untuk saat ini yang mempunyai peranan penting dalam dunia internasional, sebab PBB memiliki tujuan ialah keharusan melindungi perdamaian dan keamanan Internasional. Selain itu, PBB berperan penting untuk menajadi penengah serta membantu untuk menyelesaikan setiap adanya konflik yang muncul dengan berbagai alasan. Hal itu dilakukan PBB agar tetap berkembangnya serta bertahannya perdamaian dan keamanan antar negara yang berkonflik maupun tidak.
Alasan dari berdirinya dan terbentuknya PBB karena upaya dalam membentuk sebuah organisasi dalam ranah internasional yang sifatnya mendunia, yang tujuan utamanya adalah menegakkan perdamaian di bawah suatu sistem keamanan bersama. Saat menyelesaikan sebuah konflik atau sengeketa Internasional PBB akan menerapkan penyelesaian secara damai, yang dimana pihak-pihak bersengketa atau berkonflik akan diberikan kesempatan untuk melakukan diskusi agar bisa terselesainya konflik yang sedang dihadapi.
Di tahun 2022 ini konflik antara rusia Ukraina menggemparkan dunia, meskipun ternyata bukan kali ini saja terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina.
Konflik antara Rusia dan Ukraina yang terjadi pada tahun 2022, bermula karena terjadi ratusan ribu tentara Rusia dikerahkan di perbatasan Ukraina juga
91 keikutsertaan NATO, disini Amerika Serikat ikut andil dan mulai memutuskan untuk bertindak, akibatnya eskalasi konflik tak bisa dihindari.
Pada dasarnya hubungan antara Rusia dan Ukraina memiliki dua sisi yang berbeda jika dilihat secara geopolitik, sebab untuk wilayah Ukraina bagian Barat mereka pro terhadap Eropa namun wilayah bagian Timur mereka pro terhadap Rusia. Pada tanggal 24 Februari 2022 Rusia mengumumkan secara resmi untuk perang terhadap Ukraina, akan tetapi dilihat dari perang siber antara Rusia dan Ukraina telah terjadi sejak aneksasi Rusia ke Crimea di tahun 2014 yang lalu. Antara Rusia dan Ukraina secara berkesinambungan hubungan mereka semakin memanas dari tahun ke tahunnya, hal itu membuat Rusia dan Ukraina harus menjalani konflik yang cukup dirasa lama. Konflik tersebut tentunya berdampak kepada susunan dunia Internasional, yakni mulai dari perpolitikan global, keamanan, hingga ekonomi.
Peran PBB disini sangat diperlukan sebab lembaga perdamian ini membawa tanggung jawab yang besar agar konflik antar kedua negara ini bisa terselesaikan secara damai serta pada wilayah regional PBB akan memperbaiki keadaan ekonomi politiknya.
METODE PENELITIAN
Pada penulisan artiekl metode penelitian hukum yang dipakai ialah penelitian hukum normatif. Metode ini adalah metode yang dipergunakan untuk mendapat suatu aturan hukum, yang gunanya untuk menjawab isu atau permasalahan yang tengah diteliti, Spesifikasi dari penelitian ini bersifat deskriptif.
Penelitian deskriptif disebut juga sebagai penelitian noneksperimen, karena tidak dilakukannya observasi secara langsung, hanya menggabarkan keadaan objek berdasrkan fakta yang ada.
Jadi, pengumpulan data dilakukan berdasarkan prosedur studi pustaka dengan sumber-sumber antara lain peraturan perundang-undangan, buku-buku, maupun penelitian yang sebelumnya sudah ada.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Fungsi PBB dalam Menjaga Perdamaian dan Keamanan Internasional
Awal dibentuknya PBB yakni karena kegagalan dari Liga Bangsa-Bangsa atau LBB dalam menahan terjadinya perang dunia ke-2. Yang mana LBB kesulitan dalam menghadapi konflik dunia setelah Perang Dunia 1. Bahkan, Perang Dunia II tak bisa dihentikan dan pada tetap terjadi. Hal itulah yang mebuat akhirnya LBB dibubarkan di tahun 1946, yang kemudian dganti dengan PBB. Sebab sejatinya PBB didirikan untuk menfasilitasi negara-negara anggota dalam lingkup hukum internasional dalam segala bidang mulai dari politik, kesehatan, keamanan, ekonomi dan masih bnyak lagi. PBB juga berperan penting untuk menegahi bahkan membantu untuk menyelesaikan konflik, sengketa bahkan hingga terjadinya perang antar negara. Hal itu sesuai dengan fungsi dan tujuan didirikannya PBB.
Selama PBB berdiri, memang telah dinyatakan bahwa salah satu oraganisasi internasional yang paling besar ini dapat mencegah terjadinya Perang Dunia Baru.
Akan tetatpi, tidak dipungkiri juga PBB tidak akan mencegah terjadinya konflik yang
92 terjadi pada wilayah regional di belahan dunia. Namun pastinya PBB akan menjatuhkan sanksi-sanksi bagi negara yang melanggar karena telah menyebabkan perdamaian dan keamanan dunia terganggu. Sanksi yang diberikan biasanya berupa sanksi ekonomi yang nantinya akan diikuti dengan pemberian sanksi militer.
PBB pada dasarnya adalah sebuah organisasi internasional yang menjadi harapan masyarakat mancanegara agar terwujudnya dan terpeliharanya situasi yang damai di dunia. Berdasarkan yang telah termuat pada pembukaan Piagam PBB: “We the peoples of the united nations determined to save succeeding generations from the scourage of war…” (yang mana bagi generasi penerus akan diselamatkan dari ancaman terhadap perang).1
Tujuan dari didirikannya PBB pada awalnya memang untuk menciptakan perdamaian dan keamanan Internasonal. Namun jika kita lihat tujuan PBB ada secara umum, yaitu sebagai berikut:
1) Dapat terciptanya keamanan dan perdamaian dalam lingkup internasional.
2) Majunya jalinan persahabatan antar bangsa sesuai dengan asas-asas persamaan hak, serta berdasarkan hak menetapkan nasibnya sendiri, dan juga tidak dibolehkan untuk ikut campur urusan internal dari Negara lain.
3) Terwujudnya persatuan internasional yang baik dalam menanggulangi suatu permasalahan internasioanal di lingkup ekonomi, sosial, kebudayaan, dan kemanusiaan
4) Bisa menyelaraskan segala perbuatan bersama kepada negara yang nampaknya bisa membawa resiko untuk mengusik perdamaian dunia.
Selain tujuan PBB secara umum, terdapat tujuan didirikannya PBB berdasarkan piagam PBB tepatnya pada pasal 1 ialah sebagai berikut:
1) Dapat terpeliharanya keamanan dan perdamaian dalam ranah Internasional
2) Jalinan persahabatan dapat berkembang antar bangsa dan negara 3) Mengusahakan terjadinya persatuan di dunia internasional yang baik
dalam membereskan permasalahan yang berdasarkan ekonomi, kebudayaan, sosial dan kemanusiaan serta hak asasi dan kebebasan dasar manusia penghormatan yang maju.
4) Menyamakan perbuatan bangsa-bangsa dalam mendapatkan tujuan bersama tersebut.2
Fungsi dari PBB pada hakikatnya terbagi menajdi dua, yaitu fungsi secara umum dan fungsi PBB dalam meyelesaikan sebuah konflik. Fungsi PBB dalam membantu dalam penyelesaian sebuah konflik yakni terdiri dari fungsi Pengendali Konflik, Kooperatif, Proteksi, Integrasi, Sosialisasi, Negosiasi, dan Arbitrase. Sedangkan fungsi PBB secara umum yaitu sebagai berikut:
1) Fungsi Yudisial
1 Adha, Risky Moehammad., Mubin, Sayyidul. (2022). “Upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Sebagai Organisasi Internasional Dalam Menengahi Konflik Rusia Dan Ukraina Pada Tahun 2022”, Jurnal Pena Wimaya, Vol.2 No.2.
2 Rizki Fadillah, dkk. “Peran Persatuan Bangsa-bangsa Dalam Menciptakan Perdamaian Dari Pertikaian Antar Negara”, Journal Of Islamic And Law Studies, Vol. 2 No. 1, (2018), hal. 88.
93 Yang berarti, PBB dalam melaksanakan fungsi tersebut melalui badan bagian utama yang disebut dengan (ICJ), selain melalui ICJ juga melalui (ILO).
Alasan dibentuk karena berdasarkan ketentuan dari pasal 37 Konstitusi ILO dan juga melalui suatu badan kuasi-yudisial seperti ILO yang dapat berperan sewaktu-waktu mengatasnamaka badan penghubung dari ILO.
2) Fungsi Administratif
Maksud dari fungsi tersebut yakni, karena PBB telah menetapkan ketetapan-ketetapan serta putusan-putusan yang diputuskan melalui sidang majelis umum, begitupun dengan keputusan dan peraturan-peraturan yang telah Dewan Ekonomi Sosial buat, dari ILO dan yang lain-lain telah menghasilkan berbagai persetujuan, regulasi dan prosedur.
3) Fungsi Eksekutif atau Politik
Dapat memabantu menjaga keamanan serta perdamaian internasional, melalui instansi terkait yang bukan berasal dari bagian-bagian khusus contohnya Peranan Dewan Keamanan PBB pada proses penuntasan Konflik Internasional IAEA, bahkan nantinya akan melalui ‘pasukan darurat PBB yang pernah bertugas, contohnya di Congo, Korea, timur Tengah negara-negara yang akan bertugas di (United Nations Emergency Force).
Dari ketiga fungsi diatas, dapat disimpulkan bahwa PBB dalam menajalani fungsi-fungsinya juga dibantu oleh organisasi internasional lainnya. Namun dalam menjalankan perannya Dewan Keamanan PBB-lah yang menjadi tokoh utama, sebab PBB menyerahkan tanggungjawab tersebut terhadap Dewan Keamanan PBB.
Alasannya karena, Dewan Keamanan wakil dari seluruh anggota PBB dan yang menjalankan atas kehendak seluruh anggota PBB. Permasalahan, konflik atau sengeketa yang ditindak lanjuti Dewan Keamanan yaitu: Pertama, macam-macam sengketa yang bisa berbahaya bagi perdamaian dan keamanan nasional; kemudian yang Kedua, beberapa kasus yang bisa menjadi sebuah ancaman bagi perdamaian atau atau melanggar perdamaian. Dalam menindaklanjuti sebuah konfik/sengketa Dewan Keamanan tidak bisa bersikap semena-mena, karena mereka terikat dengan tujuan-tujuan yang ada.
Latar Belakang Konflik Antara Rusia dan Ukraina Hingga Terjadinya Perang Pada kenyataannya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konflik antara Rusia dan Ukraina, mulai dari faktor geopolitik, faktor Demografis, dan faktor sosial-politik. Fakta di lapangan menyebutkan bahwa Ukraina merupakan buffer- zone antara (North Atlantic Treaty Organization) NATO dan Russian Federation sehingga membuat negara itu memiliki posisi secara geopolitik bisa disebut strategis, yang mana saling merebutkan dampak ideologis maupun territorial.
Jika dilihat dari faktor geopolitik terdapat tiga hal yang saling berhubungan dalam kerangka konseptual, yaitu sumber daya alam, Interpretasi wilayah, dan distribusi power. ketiga hal tersebut masing-masing berfokus untuk meningkatkan eskalasi, menetralisir, maupun meredakan eskalasi konflik yang sifatnya instrumentalis.
Sebab terjadinya konflik karena pada era Eurasia, Rusia berpendapat bahwasannya Ukraina ialah salah satu bagian dari poros geopolitik. Yang mana area tersebut merupakan buffer-zone atau zona penyangga antara Federasi Rusia dan
94 NATO. Karena hal itu menajadikanlah negara tersebut menjadi posisi yang diperbutkan secara geopolitik dengan tujuan menumbuhkan serta memaksimalkan dampak ideologi. Ukraina ada pada posisi didalam lingkup pengaruh Amerika dan sekutu-sekutu strategisnya contoh Uni Eropa dan NATO. NATO (North Atlantic Treaty Organiztion) adalah aliansi militer yang mempersatukan berbagai negara, yang bertujuan untuk mempertahankan dominasi Amerika Serikat dan sekutunya dari ancaman blok timur Uni Soviet. meskipun Uni soviet sudah jatuh lama, NATO tetap masyhur hingga sekarang, dengan 30 negara anggota, hal tersebut-lah yang membuat NATO percaya diri untuk mengajak Ukraina bergabung.
Meskipun begitu Rusia masih melihat bahwa Ukraina sebagai daerah atau area yang penting. Selain karena dilihat secara geografis negara mereka berdekatan, Ukraina pula menjadi yang nomor dua setelah Rusia dengan kategori negara terbesar di Eropa. Bukan hanya itu, juga pada kenyataannya Ukraina merupakan jalur 80% yang memasok gas dari Rusia menuju egara-negara Uni Eropa, yang mana aliran-aliran dari pipa gas tersebut harus mencapai ke Negara di Uni Eropa melewati Ukraina. Jalur tersebut merupakan jalur tengah dari pasokan gas ke wilayah Republik Ceko dan Slovakia. Rusia juga mengaggap Ukraina salah satu negara dengan pasokan energi yang dirasa tidak cukup oleh karena itu Rusia menganggap Ukraina membutuhkan pasokan energi dari Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki rencana dimana di masa depan ia ingin melebihi kejayaan dari Uni Soviet terdahulu dengan menciptakan dan merengkuh kembali negara-negara CIS (Commonwealth of Independent States) dengan moskow sebagai kendali. hal itu bertujuan agar Rusia secara geopolitik lebih meningkat dan Rusia menjadi kekuatan baru serta Ukraina dijadikan sebagai tonggak awal dari proyek yang dianggap strategis itu. Selain itu Rusia juga akan mendudukan kembali posisinya menjadi
“New imperemium‟ bagi blok timur.
Apa yang dilakukan Rusia tersebut akhirnya menimbulkan kegentingan hingga menganggu stabilitas regional di wilayah Eropa Timur hingga dunia. Namun konflik antara Rusia dan Ukraina bukan cuma dilihat sebagai permasalahan internal saja untuk negara yang bersangkutan, melainkan dirasa juga menjadi masalah yang krusial bagi berkembangnya hubungan internasional, dikarenakan Ukraina bukan cuma negara yang dianggap mempunyai nilai strategis untuk Rusia, akan tetapi Ukraina juga dipandang keberadaannya penting untuk negara-negara di Eropa bagian Barat. Maka dari itu konflik anat negara ini membuat banyak pihak juga masuk kedalamnya termasuk Amerika yang posisinya bergabung dengan NATO.
Selain konflik mengenai tindakan Ukraina yang akan bergabung ke NATO, terdapat permasalahan lain mengenai Rusia dan Ukraina yakni, dipengaruhi oleh perbedaan etnis, linguistik, dan agama masyarakat di negara Ukraina itu sendiri. Konflik ini merupakan konflik demografis yang mana berawal dari presiden Rusia mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk menjadi negara yang merdeka. Selain itu perbedaan etnis dari masyarakat Donetsk, Luhansk, dan Krimeaserta mereka mengkaliam bahwa mereka bagian dari negara Rusia. kebanyakan dari mereka juga lebih fasih berbahasa Rusia, oleh sebab itu antara Rusia dengan masyarakat Donetsk, Luhansk, dan Krimeaserta dilihat memiliki kedekatan yang baik. Hal tersebut ditanggapi oleh Ukraina, kemudian Ukraina melakukan upaya dengan cara
95 Ukrainisasi. Ukrainisasi adalah pemaksaan kepada penduduk tersebut agar menggunakan bahasa Ukraina. Alasan dari dilakukannya Ukrainisasi karena dari kedekatan antara masyarakat Donetsk, Luhansk, dan Krimeaserta dengan negara Rusia akan berdampak dengan meningkatnya pengaruh Rusia di negara mereka.
Sampai-sampai Ukraina untuk memperkuat upaya Ukrainisasi, mereka mebuat Undang-Undang tentang bahasa baru. Undang-Undang tersebut berisi ketentuan untuk menggunakan bahasa Ukraina, akan tetapi dari dikeluarkannya kebijakan ini menimbulkan rasa kekhawatiran bagi bahasa minoritas. Undang-Undang tersebut mengaharuskan bahasa Ukraina digunakan untuk sebagian besar aspek dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tujuan merevitalisasi bahasa Ukraina serta upaya pemerintah untuk memperkuat identitas nasional Ukraina setelah runtuhnya Uni Soviet. Di dalam pasl 25 dalam Undang-Undang tersebut dikatakan bahwa dalam media cetak bahasa minoritas seperti bahasa Inggris dan bahasa resmi Uni eropa dikecualikan, namun tidak dengan bahasa Rusia.
Terjadinya Perang Rusia-Ukraina
Pada akhir tahun 2021 konflik antara Rusia dan Ukraina mendatangkan pasukan sebanyak 100.000 tentara Rusia ke wilayah perbatasan dengan membawa tank dan senjata api lainnya. Pada waktu itu menurut Intelejen barat Rusia berencana akan menyerang Ukraina pada waktu dekat. Pasukan tersebut didatangkan bertujuan agar mendorong NATO memberhentikan semua kegiatan militer di Ukraina dan Eropa Timur. Sesuai perintah dari Presiden Rusia Vladimir Putin. NATO dilarang oleh Rusia untuk menambah anggotanya baik dari ukraina maupun negara-negara uni Soviet terdahulu. Ekspansi yang dilakukan NATO dalam 30 tahun terakhir memanh telah menghadapi peningkatan yang signifikan. Bahkan untuk saat ini ekspansi yang dilakukan NATO sudah mulai mendekati perbatasan Rusia, oleh karena Vladimir Putin sesegera mungkin melakukan pencegahan dalam rangka menghindari bergabungnya salah satu negara bekas Uni Soviet, khususnya Ukraina.
Serangan pertama terjadi pada tanggal 24 Februari 2022 oleh Rusia, serangan pertama yang dilakukan Rusia itu membuat 70 fasilitas-fasilitas dari infrastruktur darat milik Ukraina dilumpuhkan. Serangan tersebut dilakukan Rusia dengan tujuan mendemiliterisasi Ukraina serta membatasi ruang gerak Ukraina kepada NATO. Bukan hanya melumpuhkan fasilitas-fasilitas yang ada pada Ukraina, Rusia juga meluncurkan berbagai serangan yang membuat negara-negara lain juga turut khawatir. Sehingga dunia juga ikut untuk mencari resolusi konflik dari permasalahan Rusia-Ukraina.
Kiranya dalam perang tersebut terdapat kurang lebih banyaknya 2.000 warga sipil Ukraina telah menjadi korban dari konflik Rusia-Ukraina. Selain itu, telah tercatat pengsungsi dari konflik tersebut sebanyak 835 ribu orang sudah meninggalkan Ukraina, kebanyakan dari mereka kabur ke Polandia. Serangan yang diluncurkan Rusia hingga menyebakan banyak korban akhirnya ditanggapi oleh pemerintah Ukraina, pemerintah setempat langsung meberikan serangan balasan. tujuan dari serangan balik tersebut ialah untuk memngambil embali beberapa wilayah Dari
96 Ukraina yang diambl oleh Rusia, seperti Kyiv, Makariv, Borodyanka, Kherson, dan Mykolaiv.
Upaya dan Peran PBB dalam Penyelesain Konflik Rusia dan Ukraina
Dalam konflik Rusia-Ukraina peran PBB sangat diperlukam, hal itu sesuai dengan tujuan dari didirikannya PBB yakni untuk menjadi perdamaian dan kemamanan internasional. PBB sebagai organisasi Internasional yang mempunyai tanggung jawab besar untuk bisa mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik. Selain mendamikan, PBB memiliki peran penting untuk memulihkan kembali keadaan dalam segala aspek pada negara yang bekonflik, khusunya negara dengan kerugian terbesar. PBB sangat diharpkan bisa sesegera mungkin untuk membantu menyelesaikan atau meredam perang yang merugikan banyak negara. Ketakutan dari masing-masing warga negara yang berperang juga menimbulakn kekhawatiran banyak pihak.
PBB memulai dengan menggelar pertemuan bagi negara-negara yang kiranya mampu membantu untuk menengahi konflik yang sedang terjadi. Namun pertemuan tersebut harus disetujui oleh kedua belah pohak yang tengah berkonflik.
Selain negara-negara anggota PBB, organ-organ PBB juga ikut andil untuk mencari solusi mengakhiri perang. selain solusi mereka juga turut menbantu mencari jalan keluar terbaik agar konflik bisa meredam. Tujuan utamanya sudah pasti agar terwujudnya kembali perdamaian dan keamanan bagi negara-negara yang tengah berperang. Sebab bukan hanya kehilangan banyak nyawa saja, tetapi perang juga merugka ketidakstabilan ekonomi politik bagi kedua neagara yang tenagh berperang juga negara lain ikut kena imbas dari perang dingin ini.
Dalam konflik Rusia-Ukraina PBB disini harus menajalankan fungsinya yakni sebagai:
a) Pengendali Konflik
PBB berperan menjadi sarana dengan mendorong kedua negara yang berkonflik untuk bekerja sama dengan mengakhiri konflik eskalasi yang sudah terjadi. PBB dalam hal ini diharuskan agar mampu berperan sebaga sebuah organisasi yang mengurus dan berjaga-jaga agar konflik tengah terjadi tidak semakin parah. PBB juga harus berusaha untuk mencegah Rusia serta mengehentikannya dalam mengirim pasukan-pasukan militernya ke Ukraina.
Demi alasan kemanusiaan UNGA yang merupakan badan bagian dari PBB sudah melaksanakan resolusi kepada Rusia untuk memberhentikan operasi militernya. Hal ini sangat dimohonkan sebab korban sudah banyak yang telah jatuh, mulai dari korban jiwa sampai non-jiwa.
b) Negoisiasi
Disini PBB memiliki peran untuk menjadi fasiliatator atau bisa dibilang menajdi penengah untuk Rusia dan Ukraina saat pertemuan. Dalam pertemuan tersebut diharapkan diatara kedua belah pihak yang sedang berkonflik membuat kesepakatan yang progresif serta adil. PBB disini harus bisa mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik pada satu ruangan yang kemudian nantinya mereka akan membahas soluisi terbaik untuk konflik
97 mereka. Negosiasi juga merupakan cara yang paling mendasar dan juga cara lama yang sering digunakan untuk mendamaikan pihak-pihak atau orang-orang yang tenagh bersengketa maupun konflik.
c) Arbitrase
Arbitrase merupakan jalan terakhir yang bisa dilakukan PBB dalam menyelsaikan konflik Rusia-Ukraina, dengan tujuan agar konflik yang terjadi saat ini tidak terjadi kembali pada masa yang akan dating.
Pada tanggal 2 Maret 2022, PBB menyelenggarakan siding umum, tujuan dari sidang tersebut yakni untuk menentukan apa langkah atau keputusan yang akan diputuskan dalam rangka penyelesaian konflik Rusia-Ukraina. Pada sidang waktu itu, PBB menindak tegas Rusia atas tindakan yang dilakukan kepada Ukraina berupa invasi. Oleh sebab itu, PBB memerintahkan kepada Rusia agar menarik segera pasukan-pasukannya yang sudah diturunkan menuju daerah perbatasan. Putusan dari PBB itu banyak diperkenankan oleh negara-negara lainnya sebanyak 141 negara yang menyetujui, negara yang tidak menyetujui sebanyak 5 negara dan 35 negara memilih untuk abstain.
PBB sangat bersungguh-sungguh terhadap upayanya, hal itu terbukti saat Dewan Keamanan PBB melaksanakan upaya-upaya agar resolusi mengenai dihentikannya perang tepatnya pada minggu wak ke-10 saat rusia pertama kali melangsungkan aksi militernya. Dewan Keamanan PBB berusaha semaksimal mungkin dalam diksuinya bersama anggota-anggotanya agar Rusia menarik peralatan-peralatan dan pula pasukan militernya dari Negara Ukraina. Alasannya supaya pemberian bantuan kemanusiaan kepada warga sipil Ukraina yang menajdi korban dari perang Rusia-Ukraina lebih mudah.
Di tanggal 4 maret PBB mulai meresolusi hal-hal terkait dengan konflik Rusia-Ukraina, yang mana pada waktu itu berisikan mengenai bahwasannya benar adanya kedaulatan politik serta wilayah kekuasaan dari Ukraina didalamnya bebas dalam menentukan nasib mereka sendiri. Dan dihimbau bagi seluruh negara menjunjung tinggi HAM yang ada dalam lingkup manapun, khususnya Internasional.
PBB juga melarang keras agresi yang dilakukan Negara Federasi Ukraina kepada Ukraina. Resolusi ini juga secara jelas telah menjelaskan hal-hal terkait dampak, korban dan juga pertolongan yang akan didatangkan kepada para korban perang di Ukraina. PBB menegaskan kepada Rusia untuk menghentikan serangan pada Ukraina. Cara ini digunakan sesuai dengan apa yang ada dalam piagam PBB. Namun resolusi tersebut memberikan hasil yang kurang maksimal sebab, dalam sidang tersebut Rusia merupakan permanent Members yang mana seluruh negara tidak segampang itu untuk menghasilkan draft resolusi, yang sifatnya betul-betul kuat untuk mengehentikan konflik ini. Rusia memiliki hak veto dalam konflik ini, hak veto yang didalam general assembly diadakan di new York.
Walaupun demikian, PBB telah memberikan kompensasi atau sanksi lain untuk Rusia, dikarenakan sudah melanggar hukum internasional. Sanksi yang diberikan yakni mebawa kasus ini kepada majelis umum dari PBB. Yang dimaksud dengan Resolusi majelis umum adalah resolusi dalam bentuk tidak diperbolehkan untuk di veto oleh anggota dewan keamanan PBB, namun hasil dari resolusi tersebut kiranya tidak bisa juga memberikan otoritas atau kekuasaan kepada PBB
98 untuk menerjunkan pasukan-pasukan perdamaian ke daerah yang berkonflik.
Resolusi dari majelis umum nampaknya membuahkan hasil akibat tidak secara langsung kepada negara Rusia.
Sejatinya resolusi majelis umum ini bisa menjadi patokan bagi negara lain dalam meberikan sebuah sanksi bilateral atau multilateral kepada Rusia. Mengenai hal lain, PBB secara terus menerus meberikan Informasi terbaru mengenai perang Rusia-Ukraina. PBB juga selalu datang dengan sebagai peran menjadi pihak ketiga dalam memberi saran untuk perbaikan hubungan bilateral antara Rusia dan Ukraina. Peran langsung yang PBB berikan dalam konflik ini yaitu dengan menurunkan eskalasi konflik yang telah terjadi, itu ialah salah satu bentuk upaya PBB secara langsung menjadi organisasi internasional. Pada dasarnya semua upaya yang PBB lakukan merupakan bentuk tanggung jawab serta kewajibannya sebagai organisasi dengan tuujuan menjaga perdamaian dan keamanan Internasional.
Menurunkan eskalasi konflik adalah upaya maksimal yang dilakukan PBB, karena dalam melakukannya PBB harus sehatihati mungkin agar perang tidak semakin membesar.
Akan tetapi dalam memberikan sanksi terdapat beberapa faktor yang menyebabkan PBB memberikan sanksi kepada negara-negara yang melanggar, PBB tidak bisa seenaknya atau sewenang-wenang dalam memberikan sanksi. Terdapat beberapa faktor yang membuat PBB menjatuhkan sanksi kepada suatu negara;
1) Ketika suatu negara melakukan aksi-aksi yang dapat membahayakan perdamaian dunia
2) Jika suatu negara kedapatan melanggar perdamaian internasional 3) Jika terdapat negara yang melakukan aksi agresi kepada negara lain Mengenai sanksi yang diberikan PBB, hal tersebut pada dasarnya telah diatur di dalam pasal 41 dan 42 Piagam PBB, dimana pada pasal 41 mengatur mengenai sanksi yang wujudnya adalah tindakan kekerasan tanpa mempergunakan kekuatan militer dan pada pasal 42 tentang sanksi yang mempergunakan kekuatan militer.
PENUTUP Kesimpulan
Dari pemaparan diatas mengenai konflik Ruisa-Ukraina dapat disimpulkan bahwa konflik anatara kedua negara tersebut pada dasrarnya sudah lama terjadi, namun antara konflik di tahun ini dengan konflik yang pernah terjadi sebelumnya ada perbedaan. Yang mana pada konflik tahun ini karena tindakan Ukraina yang akan bergabung ke NATO, bukan itu saja sebenarnya masih ada beberapa alasan lain mengapa sampai-sampai terjadi perang dingin antara Rusia dan Ukraina. Dari perang yang dilakukan kedua negara tersebut, Ukraina banyak sekali mendapatkan kerugian, salah satunya korban jiwa yang berjatuhan jumblahnya mencapai 2.000 warga sipil Ukraina dan ratusan ribu orang pengungsi.
PBB sebagai organisasi internasional yang memiliki tujuan sebagai penjaga perdamaian dan keamanan internasional sangat diperlukan perannya dalam konflik ini. PBB tentu saja tidak tinggal diam apalagi perang antara Rusia dan ukraina bukan hanya merugika kedua negara itu saja, namun banyak negara lain yang terkena dampaknya. Dampak yang diterima dari perang dingin ini ialah instabilitas ekonomi,
99 yang mana dari perang ini menimbulkan kenaikan harga terhadap bebagai komoditas. Indonesia-pun terkena imbasnya, yakni terhambatnya perdagangan di Indonesia, karena eskpor nonmigas di Indonesia menjadi menurun dan impor gandum menjadi terhambat.
Dari konflik ini PBB menjatuhkan beberapa sanksi kepada negara-negara yang bersangkutan, karena perang ini berdampak sangat buruk bagi segala aspek bagi beberapa negara. Tentu saja apa yang dilakukan PBB memiliki tujuan yang, tidak lain untuk mencipatakan kembali perdamaian dunia. Peran PBB sangat diperlukan sebab PBB memiliki bebrapa fungsi dalam konflik ni, yakn fungsi pengendali konflik, fungsi Arbitrase dan fungsi Negosiasi. Disini PBB benar-benar menjadi wadah Internasional dalam menengah dan mebantu menyelesaikan perang antara Rusia-Ukraina.
Saran
Adapun saran saya selaku penulis dari artikel ini, yaitu kita sebagai masyarakat Internasional sangat perlu kiranya mengetahui dan memahami sebesar apa upaya dan peran PBB sebagai sarana serta wadah dalam penyelesain konflik internasional. PBB juga memiliki kewenangan dalam hal tersebut, karena tujuan dan fungsinya.
DAFTAR PUSTAKA
Adolf, Huala, 2004, “Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional”, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta.
Mossie, Cornelis Dielfie. (2007). "Legalitas Dewan Keamanan PBB Dalam Menengahi Sengketa Internasional", Servanda Jurnal Ilmiah Hukum, Vol. 2 No.4.
Rizki Fadillah, dkk. (2018). “Peran Persatuan Bangsa-bangsa Dalam Menciptakan Perdamaian Dari Pertikaian Antar Negara”, Journal Of Islamic And Law Studies, Vol. 2 No. 1, hal. 88.
Adha, Risky Moehammad., Mubin, Sayyidul. (2022). “Upaya Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Sebagai Organisasi Internasional Dalam Menengahi Konflik Rusia Dan Ukraina Pada Tahun 2022”, Jurnal Pena Wimaya, Vol.2 No.2.
Syuryansyah., Berthanila, Rethorika. (2022). "Upaya Penyelesaian Konflik Rusia- Ukraina", PIR Journal, Vol. 7 No. 1, hal: 97-105.
Hartana, H. (2017). PROSES MEMBENTUK PERUSAHAAN BARU DALAM PELAKSANAAN EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DI SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA. Perspektif, 22(2), 142-165.
Hartana, H. (2022). PENGATURAN PEMBATASAN EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DI SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG- UNDANG NO. 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 8(1), 233-243.
Hartana, H. (2021). Regulation of Group Company Expansion Restrictions in the Coal Mining Sector Viewed from Indonesian Laws and Regulations. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 7(2), 520-526.
100 Hartana, H. (2020). IMPLICATION OF GROUP COMPANY EXPANSION TO MONOPOLY PRCTICE AND UNFAIR BUSINESS COMPETITION (Study Case:
Coal Mining Industry). Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(1), 161-175.
Hartana, H. (2017). PELAKSANAAN AKUISISI DI SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DALAM PELAKSANAAN EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 3(2), 18-32.
Hartana, H. (2018). EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DALAM BIDANG BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 4(1), 27-45.
Purwendah, E. K., & Periani, A. (2020). FORMULATION OF LOSSES FOR OIL POLLUTION DUE TO TANKER SHIP ACCIDENT IN THE INDONESIAN LEGAL SYSTEM VALUE OF JUSTICE. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(3), 1-9.
Purwendah, E. K. (2020). Persepsi Budaya Hukum dalam Merespon Pencemaran Minyak di Laut Cilacap akibat Kapal Tanker dalam Perspektif Keadilan Ekososial. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(1), 93-105.
Itasari, E. R. (2020). COVID-19 HANDLING IN THE BORDER AREAS OF INDONESIA. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(3), 42-50.
Itasari, E. R. (2021). PROTECTING CITIZENS IN BORDER TERRITORY BASED ON HUMAN RIGHTS. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(1), 27-32.
Nurhayati, B. R. (2019). Penyalahgunaan Keadaan Sebagai Dasar Pembatalan Perjanjian. Jurnal Komunikasi Hukum, 5(1).
Nurhayati, B. R. (2017). Constitutional Basis for the Civil Rights of Illegitimate Children. Pattimura Law Journal, 1(2), 118-130.
Kristhy, M. E., Kristanto, K., Siswanto, E., Martono, A. B., & Nababan, R. M. (2022).
Legal Politics of Regional Quarantine during the Covid-19 Pandemic with the Approach to Implementing Community Activities Restrictions (PPKM) Level 1-4. Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal), 5(3), 18308-18317.
Kristhy, M. E., Afrinna, R., & Taka, P. J. (2022). BIJAK BERINVESTASI DALAM MASA PANDEMIK GLOBAL COVID-19. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 10(2), 377-382.
Rosy, K. O., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Peran Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Setra Karang Rupit Di Pengadilan Negeri Singaraja Kelas 1B. Ganesha Law Review, 2(2), 155-166.
Dana, G. A. W., Mangku, D. G. S., & Sudiatmaka, K. (2020). Implementasi UU Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Terkait Peredaran CD Musik Bajakan Di Wilayah Kabupaten Buleleng. Ganesha Law Review, 2(2), 109-120.
Mangku, D. G. S. (2021). Roles and Actions That Should Be Taken by The Parties In The War In Concerning Wound and Sick Or Dead During War or After War Under The Geneva Convention 1949. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 7(1), 170-178.
101 Itasari, E. R. (2015). Memaksimalkan Peran Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976 (TAC) Dalam Penyelesaian Sengketa di ASEAN. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 1(1).