Gorontalo Journal of Forestry Research Volume 2 Nomor 1 April 2019
P-ISSN: 2614-2058, E-ISSN: 2614-204X
PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (Anacardium Occidentale L) DENGAN MEDIA TANAM COCOPEAT DI PERSEMAIAN PERMANEN BPDAS-HL BONE BOLANGO
PROGRAM GROWING SUCCESS RATE
FOREST AND LAND REHABILITATION BPDAS-HL BONE BOLANGO
Dian Puspaningrum.Ernikawati. Siti Khofifah Abubakar Universitas Gorontalo Email : [email protected]
ABSTRAK
Jambu mete (Anacardium occidentale L) salah satu komuditas perkebunan yang memiliki nilai strategis dalam pembangunan agribisnis. Produk kacang mete di pasar dunia termasuk salah satu produk kacang-kacangan (nuts) yang paling banyak diperdangangkan dan termasuk komuditas mewah bila dibandingkan dengan kacang tanah atau almond. Jambu Mete juga termasuk tanaman kehutanan yang menjadi alternatif tanaman komoditi yang memiliki sistem perakaran yang kuat dan mudah beradaptasi pada lokasi tanam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan bibit jambu mete dengan perlakuan media tanam cocopeat dengan beberapa presentase jumlah yang berbeda.
Kata Kunci: Pertumbuhan, Cocopeat, Persemaian BPDAS-HL ABSTRACT
Cashew nuts (Anacardium occidentale L) are one of the plantation commodities that have strategic value in agribusiness development. Cashew products on the world market are one of the most widely traded nut products and are a luxury commodity when compared to peanuts or almonds. Cashew is also a forestry plant which is an alternative commodity crop that has a strong root system and is easy to adapt to the planting location. This research aims to find out how cashew seedlings grow when treated with cocopeat planting media with different percentages.
Keywords: Growth, Cocopeat, BPDAS-HL Nursery
PENDAHULUAN
Jambu mete (Anacardium occidentale L) adalah tanaman yang telah lama dikenal dan dibudidayakan sangat cepat di Indonesia, sehingga jambu mete ini termasuk dalam tanaman unggulan karena diprioritaskan oleh pemerintah untuk pembangunan bidang ekonomi dan pertanian dimasa depan. Maka dari itu jenis jambu mete ini memiliki kontribusi cukup besar dalam perkebunan indonesia.
Jambu mete masuk dalam famili Anacardiaceae yang berasal dari Brazil, (Rustiawati et al.,2020).
Cocopeat memiliki sifat yang suka air (hidrofilik), sehingga membuat cocopeat ini mampu menahan air sampai dengan 73% dari air yang telah diberikan dan memiliki daya serap 8-9 kali beratnya. Cocopeat juga memiliki fungsi menyimpan dan mengikat oksigen udara sampai 50% lebih dari tanah yang hanya 2-3% . Namun cocopeat juga harus dihindari untuk memberikan air yang berlebihan, karena akan berdampak pada cocopeat karena terlalu lembab dan terjadinya pembusukan akar (Nadia, et. al 2023).
Jambu mete (Anacardium occidentale L) menjadi komoditas yang penting, karena memiliki banyak manfaatnya baik pada segi batang, buah, akar, biji dan daun. Bijinya bisa di goreng karena memiliki gizi yang tinggi dan nilai ekonominya tinggi (Rosman 2018). Jambu Mete juga termasuk tanaman kehutanan yang menjadi alternatif tanaman komoditi yang memiliki sistem perakaran yang kuat dan mudah beradaptasi pada lokasi tanam. Provinsi Gorontalo adalah salah satu penghasil jambu mete (A. occidentale L). Produksi Jambu mete tahun 2015 mencapai 460 ton dengan luas lahan 2.803 ha. Kemudian tahun 2016 mencapai 462 dengan lahan seluas 2.804, sementara tahun 2017 mencapai 465 dengan luas lahan 2.808 ha.
Data tersebut diatas dapat menjadi salah satu alasan tanaman jambu mete (A.
Occidentale L) menjadi sampel dalam penelitian ini. Diharapkan adanya data hasil penelitin tentang media tanam yang mendukung pertumbuhan tanaman jambu mete secara optimal khususnya di Persemaian BPDAS-HL Bone Bolango.
METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan Mei 2024 di Persemaian Permanen BPDAS-HL Bone Bolango yang letaknya berada di Desa Toyidito Kecamatan Pulubala Kabupaten Gorontalo.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini ialah: (1) Pita meter digunakan untuk mengukur tinggi tanaman; (2) Kalliper digunakan untuk mengukur diameter batang tanaman; (3) Tally Sheet; (4) Kamera; (5) Timbangan digunakan untuk mengukur berat media tanam; (6) Alat tulis menulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah bibit jambu mete (A. occidentale
L) yang merupakan bibit yang telah disemaikan, media tanam berupa pupuk kandang, cocopeat, tanah, dan arang sekam.
C. Sumber Data
Sumber data yang diggunakan dalam penelitian ini yaitu : 1. Data Primer
Data primer, didapatkan melalui pengamatan lapangan terlebih dahulu untuk mempelajari pertumbuhan tanaman yang akan diamati dan diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan dalam kondisi umum lokasi penelitian serta data yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
Data yang didapatkan dari perusahaan terkait demi mendukung data primer.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Persiapan Bahan
Media tanam yang digunakan dalam penanaman yaitu tanah, arang sekam, pupuk kandang, cocopeat dicampur kemudian diaduk sampai rata setelah itu media tersebut dipindahkan ke dalam polybag (Wahid dan Usman 2021).
2. Pemeliharaan
Pemeliharaan mencakup penyiraman, penyiangan dan pemupukan.
Penyiraman dengan bentuk kabut, dan diatur dengan alat yang dipakai dalam persemaian permanen. Penyiangan dilakukan denga cara mencabut gulma yang tumbuh di dalam polybag, (Wahid dan Usman 2021).
3. Pengamatan dan Pengukuran a. Tinggi
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setelah penyapihan, berikutnya dilakukan tiap 10 Hari dalam 2 bulan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan pita meter, mulai dari pangkal batang yang sudah ditandai sebelumnya (1 cm diatas media)
b. Jumlah Daun
Pengukuran pertumbuhan jumlah daun tanaman dilakukan dengan perhitungan jumlah daun setelah penyapihan, dilakukan dengan tiap 10 Hari dalam 2 bulan.
c. Diameter
Pengukuran diameter dilaksanakan dengan menggunakan kaliper, diukur pada pangkal batang. dilakukan tiap 10 hari selama 2 bulan.
E. Analisis Data
Rancangan penelitian yang digunakan adalah model RAK (Rancangan Acak Kelompok) menggunakan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan, yaitu Perlakuan pemberian media tanam (Raksun 2016) :
C = Tanah (2.000gr) arang sekam(800gr), pupuk kandang(kotoran Sapi 1.200gr).
Kadar cocopeat:
SG = Standar C1 = 30 gr C2 = 40 gr C3 = 50 gr
Total pengamatan 4 x 3 = 12
Media dicampur dengan perbandingan sesuai dengan masing-masing perlakuan.
Tabel 1. Analisis Sidik Ragam Sumber Keragaman Derajat Bebas
DB
Jumlah Kuadrat
JK
Kuadrat
Tengah KT F.Hit F. Tabel
5% 1%
Perlakuan (antar perlakuan)
t-1 JKP KTP JKP /
KTP
Galat t(r-1) JKG KTG
Total rt-1 JKT - -
Keterangan :
JKP : Jumlah Kuadrat Perlakuan JKT : Jumlah Kuadrat Total JKG : Jumlah Kuadrat Galat KTP : Jumlah Tengah Perlakuan
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Kondisi Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Kantor BPDAS-HL Bone Bolango
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Bone Bolango yang berada di provinsi Gorontalo dibentuk berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No: P 10/MenLHK/Setjen/OTL. O/1/2016 tentang organisasi dan tata kerja Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan struktur organisasi balai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai berikut: Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Bone Bolango dipimpin oleh seorang Kepla Balai (Elson III A), dibantu oleh 1 (satu) orang Kepala Sub bagian Tata Usaha (Elson IV A), dan 3 (tiga) orang Kepala Seksi (Elson IV A), yaitu: Program DASHL Seksi Evaluasi DASHL dan Seksi RHL.
B. Tinggi Tanaman
Hasil Perhitungan minggu pertama yaitu dengan melakukan pengambilan bibit dari seading area, kemudian melakukan pencampuran dan penimbangan masing-masing media tanam dengan standar yang ditetapkan setelah itu pengukuran tinggi tanaman pertama dengan Jumlah 24 sampel yang masing-masing nilai pada setiap perlakuan dengan ulangan ditampilkan pada (Tabel 2).
Tinggi tanaman pada minggu kedua ini diharapkan ada pertumbuhan tunas yang tumbuh dari ketiak daun dan tingginya bisa melebihi pengukuran tinggi sebelumnya. Pada minggu ke dua ini sudah melakukan pengukuran
tinggi tanaman, diameter tanaman dan juga perhitungan jumlah daun, setelah melakukan pengukuran tersebut sudah diketahui bahwa penambahan pertumbuhan tanaman terlihat bahwa sudah ada perkembangan seperti yang sudah di terapkan pada (Tabel2).
Tinggi tanaman pada minggu ketiga sudah terlihat perkembangannya bahwa pertumbuhan antara tanaman yang tumbuh dengan baik dan tidak tumbuh dengan baik. Terlihat perkembangan tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L) bahwa tinggi tanaman sudah lebih meningkat lagi dari pada perkembangan pada minggu kedua seperti yang terdapat pada perlakuan C2 dengan penambahan cocopeat sebanyak 40 gr pada ulangan 3.
Pengukuran tinggi tanaman pada minggu keempat ini sudah terlihat perkembangan tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L) bahwa tinggi tanaman itu sudah lebih meningkat lagi perkembanganya seperti yang terdapat pada perlakuan C2 dengan penambahan kadar cocopeat sebanyak 40 gr yang nilainya mencapai 28,5.
Perkembangan Pertumbuhan bibit tanaman pada minggu ke lima sudah terlihat sangat jelas pertumbuhan tingginya seperti pada perlakuan C2 (40gr) dengan nilai rata-ratanya 35,5 sedangkan pertumbuhan tinggi tanaman pada perlakuan C3 (50gr) pada minggu ke 4 dan ke 5 tetap sama dan tidak bertambah tingginya.
Tabel 2. Rata-rata Pertambahan Tinggi Tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L).
Perlakuan Ulangan
Rata-Rata Tinggi Tanaman 10 Hari Ke- (cm)
Rata- Rata Gabung an (cm)
I II III IV V
SG
1 8,5 11 13,5 14,5 15,5
39,20
2 10,5 11 13 15 16,5
3 10,5 12 13 15 17
rata-rata 9,83 11,17 13,17 14,83 16,33 C1 (30gr)
1 11 13,5 14,5 21,5 27,5
56,70
2 11 13 15,5 26 30,5
3 11,5 13,5 16 27,5 31
rata-rata 11,17 13,33 14,79 22,46 26,33 C2 (40gr)
1 9,5 11 15 28,5 35,5
59,00
2 9 11,5 16 27,5 33
3 9,5 11,5 15,5 27,5 34,5
rata-rata 9,33 13,33 14,79 22,46 26,33 C3 (50gr)
1 10,5 11,5 12,5 13 14,5
35,41
2 12 13 14 15 15
3 9 10,5 12,5 13,5 13,05
rata-rata 10,5 13,33 14,79 22,46 17,98 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024.
Hasil penelitian yang dilakukan pada pengaruh pemberian media tanam cocopeat terdapat pertambahan tinggi tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L) selama 5 minggu pengamatan dilihat rata-rata pertumbuhan tanaman yaitu 8,5 cm sampai 35,5 cm nilai rata-rata pertumbuhan tanaman dilihat pada (Tabel 2).
Tabel 2 menjelaskan bahwa rata-rata tinggi tanaman jambu mete (Anacardium ocidentale L) tertinggi terdapat pada sampel perlakuan C2 dengan penambahan cocopeat sebanyak 30 gr pada ulangan 1 (satu) pengamatan minggu ke 5 adalah 35,5 cm. Sedangkan rata-rata tinggi tanaman jambu mete jambu mete (Anacardium occidentale L) terendah terdapat pada sampel perlakuan SG (standar) yaitu dengan tidak adanya penambahan cocopeat, pada ulangan 1 (satu ) pengamatan minggu pertama adalah 8,5 cm.
Pengaruh media tanam cocopeat terhadap pertambahan tinggi tanaman dapat dilihat dengan melakukan analisis sidik ragam. Hasil analisis sidik ragam tinggi tanaman dapat dilihat pada (Tabel 3).
Tabel 3. Analiss Sidik Ragam Tinggi Tanaman.
SK DB JK KT F.hit F.tabel
0,05 0,01
Perlakuan 3 140,27 46,76 61,66 3,1 4,94
Galat 8 6,07 0,76
Total 11 146,34
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024.
** berbeda sangat nyata
Hasil dari analisis sidik ragam pada (Tabel 3) dinyatakan bahwa dimana F hit > F tabel ini menunjukan bahwa ada pengaruh yang nyata untuk penambahan cocopeat pada media tanam terhadap pertambahan tinggi tanaman Jambu Mete (A. occidentale L). Maka dinyatakan bahwa pencampuran media cocopeat adanya pengaruh dalam pertumbuhan pada tinggi tanaman, maka dari hasil pertumbuhan yang diperoleh sangat bagus, dilihat dengan adanya pengaruh yang nyata dari hasil analisis sidik ragam.
Hasil penelitian yang dilakukan (Bambang, et.al 2020), menunjukan bahwa pertambahan tinggi tanaman jambu mete (A. occidentale L) dengan media tanam pencampuran antara arang sekam dan pupuk kandang tanpa ada campuran cocopeat memberikan hasil 31,75 cm. Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil antara media tanah yang menggunakan campuran cocopeat dengan yang tidak ada campuran cocopeat.
Dari diagram batang dibawa menjelaskan bahwa pada minggu pertama pertumbuhan tinggi tanaman jambu mete yang terendah berada pada perlakuan SG sedangkan tertinggi berada pada perlakuan C1 pada minggu ke 2,3, dan ke 4 terdapat perlakuan SG yang paling rendah dari ke 4 perlakuan. Pada minggu ke 5 yang tertinggi berada pada perlskusn C1 dan C2 sedangkan yang terendah berada pada perlakuan SG.
1 2 3 4 5 0.00
5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00
1; 9.83 2; 11.17
3; 13.17
4; 14.83 5; 16.33
1; 11.17 2; 13.33 3; 14.79
4; 22.46 5; 26.33
1; 9.33 2; 13.33 3; 14.79
4; 22.46
5; 26.33
1; 10.50 2; 13.33 3; 14.79
4; 22.46
5; 17.98
Rata-Rata Pertambahan Tinggi Jambu Mete
SG C1 C2 C3
Pengamatan
Nilai rata-Rata
Gambar 2, Diagram Pertambahan Tinggi Tanaman Jambu Mete.
C. Diameter Tanaman
Hasil penelitian yang telah dilakukan pada pengaruhnya pemberian media tanam cocopeat terdapat hasil Diameter tanaman jambu mete (A. Occidentale L) selama 5 minggu pengamatan maka diketahui bahwa jumlah rata-rata dari pertumbuhan tanaman yaitu mulai dari 0,1 sampai dengan 0,35. Nilai rata-rata dari pertumbuhan tanaman dapat dilihat pada (Tabel 3.)
Tabel 4 menjelaskan bahwa rata-rata pertambahan diameter jambu mete (A. ocidentale L) tertinggi terdapat pada sampel perlakuan C1 dengan penambahan cocopeat sebanyak 30 gr dan pada perlakuan C2 dengan penambahan cocopeat sebanyak 40 gr ulangan 1 (satu) pengamatan minggu ke 3 dan minggu ke 5 adalah 0,35 cm. Sedangkan rata-rata pertambahan diameter jambu mete (A. occidentale L) terendah terdapat pada setiap perlakuan dan setiap ulangan dengan nilai rata-rata 0,1. Hasil yang sama juga dapat diperoleh dari hasil penelitian Irawan (2018), bahwa pertumbuhan jumlah diameter dan jumlah tinggi tanaman pada pencampuran media tanam cocopeat memiliki nilai yang sangat rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman pada media tanah. Hal ini terjadi dikarenakan media tanam yang diggunakan hanya cocopeat dan tanpa adanya penambahan media tanam tanah atau media tanam lainya.
Tabel 4. Rata-Rata Pertambahan Diameter Tanaman.
Perlakua
n Ulangan
Rata-Rata Diameter Tanaman 10
hari Ke- (cm) Rata-Rata Gabungan (cm)
I II III IV V
SG
1 0,15 0,15 0,2 0,2 0,2
2 0,1 0,1 0,2 0,2 0,2 0,54
3 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2
rata-rata 0,15 0,15 0,2 0,2 0,2
C1 (30gr)
1 0,1 0,25 0,3 0,35 0,3
2 0,15 0,25 0,3 0,3 0,3 0,78
3 0,2 0,2 0,3 0,3 0,3
rata-rata 0,15 0,23 0,3 0,3 0,3
C2 (40gr)
1 0,15 0,3 0,3 0,4 0,35
2 0,2 0,2 0,3 0,4 0,4 0,88
3 0,15 0,2 0,3 0,35 0,4
rata-rata 0,15 0,23 0,3 0,38 0,38
C3 (50gr) 1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1
2 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,30
3 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1
rata-rata 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024.
Pertumbuhan diameter tanaman dapat dilihat dengan adanya pengaruh media tanam cocopeat dengan melakukan analisis sidik ragam. Hasil analisis sidik ragam Diameter tanaman dapat dilihat pada (Tabel 5).
Tabel 5. Analisis Sidik Ragam Diameter Tanaman.
SK DB JK KT F.hit F. tabel
0,05 0,01
Perlakuan 3 0,07 0,02 100,86 3,1 4,94
Galat 8 0,00 0,00
Total 11 0,07
** berpengaruh sangat nyata
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024.
Hasil analisis sidik ragam pada tabel 5 dimana F hit > F tabel ini menunjukan bahwa ada pengaruh nyata pada penambahan cocopeat pada media tanam terhadap pertambahan diameter tanaman Jambu Mete (Ancardium occidentale L). Media tanam ini berpengaruh baik dalam pertambahan diameter tanaman sehingga hasil pertumbuhan yang diperoleh pun sangat tinggi, terlihat dengan adanya pengaruh yang nyata pada hasil analisis sidik ragam.
1 2 3 4 5 0.00
0.05 0.10 0.15 0.20 0.25 0.30 0.35 0.40 0.45
0.15 0.15
0.20 0.20 0.20
0.15 0.23
0.30 0.30 0.30
0.15
0.23
0.30
0.38 0.38
0.10 0.10 0.10 0.10 0.10
Rata-Rata Pertambahan Diameter Jambu Mete
SG C1 C2 C3
Pengamatan
Nilai Rata-Rata
Gambar 3, Diagram Pertambahan Diameter Tanaman Jambu Mete.
Dari diagram batang pertumbuhan diamter tanaman, menjelaskan bahwa minggu 1, pertumbuhan diamater terendah berada pada perlakuan SG C1, C2, C3.
pada minggu kedua dan ketiga petumbuhan diameter terendah berada pada perlakuan C3 sedangkan nilai tertinggi berada pada perlakuan C2 sedangkan yang terendah berada pada perlakuan C3.
D. Jumlah Daun Tanaman
Hasil penelitian yang dilakukan pada media tanam cocopeat terhadap pertambahan jumlah daun tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L) selama 5 minggu pengamatan dilihat rata-rata jumlah daun yaitu antara 1 cm sampai 14,5 cm. Rata-rata pertambuhan jumlah daun dapat dilihat pada (Tabel 6).
Tabel 6. Rata-Rata Pertambahan Jumlah Daun (Helai) Perlakuan Ulangan
Rata-Rata Jumlah Daun 10 hari
Ke- (cm) Rata-Rata
Gabungan
I II III IV V (cm)
SG
1 4 6 7 8 5
18,20
2 3 5 8 7 6
3 5 7 8 7 5
rata-rata 4 6 7,67 7,33 5,33
C1 (30gr)
1 4 6 9 12 14
27,80
2 5 8 10 12 12
3 5 8 11 12 11
rata-rata 4,67 7,33 10 12 12,33
C2 (40gr)
1 5 7 11 12 14
31,40
2 6 9 11 13 14
3 5 9 12 14 15
rata-rata 5,33 8,33 11,33 13 14,33
C3 (50gr)
1 4 5 6 4 1
11,80
2 5 6 5 3 1
3 4 6 5 3 1
rata-rata 4,33 5,67 5,33 3,33 1
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024.
(Tabel 6) menjelaskan bahwa rata-rata Jumlah daun tanaman jambu mete (A. ocidentale L) tertinggi terdapat pada sampel perlakuan C2 dengan penambahan cocopeat sebanyak 40 gr ulangan 3 pengamatan minggu ke 5 adalah 15 cm. Sedangkan rata-rata jumlah daun tanaman jambu mete (A.
occidentale L) terendah terdapat pada sampel perlakuan C3 dengan penambahan cocopeat sebanyak 50 gr ulangan 1,2 dan ulangan 3 pengamatan minggu ke 1,2 dan minggu ke 3 adalah nilai rata-rata 1 cm.
(Wanginaya 2019) menyatakan bahwa semakin banyak jumlah daun pada suatu tanaman maka semakin banyak pula cahaya yang terserap oleh tanaman untuk proses fotosintesis, maka berpengaruh untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman.
Pertambahan jumlah daun tanaman dapat dilihat dengan melakukan analisis sidik ragam. Hasil Analisis sidik ragam jumlah daun tanaman dapat dilihat pada (Tabel 7).
Tabel 7. Analisis Sidik Ragam Jumlah Daun Tanaman (helai).
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024
** berbeda sangat nyata
Hasil analisis sidik ragam pada (Tabel 7) menunjukan bahwa F hit > F tabel menunjukan bahwa ada pengaruh nyata pada pertambahan jumlah daun terhadap perlakuan yang diberikan. Berarti perlakuan yang diberikan sangat berpengaruh sebesar 95%.
Dari diagram batang dibawah menjelaskan bahwa, pada minggu pertama pertambahan jumlah helai daun yang tertinggi berada pada pengamatan ke tiga sedangkan yang terendah berada pada pengamatan pertama. Pada minggu kedua, pertambahan helai daun terendah berada pada pengamatan pertama sedangka yang tertinggi berada pada pengamatan ke empat dan lima. Dan pada minggu ke empat, pertambahan helai daun tertinggi berada pada pengamatan ke dua sedangkan yang terendah berada pada pengamatan ke lima.
SK DB JK KT F.hit F. Tabel
0,05 0,01
Perlakuan 3 0,57 0,19 19,37 3,1 4,94
Galat 8 0,08 0,01
Total 11 0,65
1 2 3 4 0.00
2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00
4.00
5.00 5.00 5.00
6.00 7.00 8.00
6.00 8.00
10.00 11.00
5.00 7.00
12.00 13.00
3.00 5.00
12.00
14.00
1.00
Rata-Rata Pertambahan Helai Daun Jambu Mete
Pengamatan I Pengamatan 2 Pengamatan 3 Pengamatan 4 Pengamatan 5
Perlakuan
Nilai Rata-Rata
Gambar 4, Diagram Pertambahan Jumlah Helai Daun Tanaman Jambu Mete.
Secara keseluruhan yang diperoleh bahwa perlakuan yang diberikan pada tanaman Jambu Mete (A. occidentale L) dengan menggunakan campuran media tanam tanah, pupuk kandang dan arang sekam dengan pencampuran cocopeat menunjukan hasil bahwa penambahan cocopeat sebanyak 30 gr, 40 gr, dan 50 gr seluruhnya memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman Jambu Mete (A.occidentale) pada setiap variabel pengamatan, yaitu pertambahan tinggi tanaman, diameter batang tanaman dan jumlah helai daun. Proses pertambahan tetap terjadi pada tanaman Jambu Mete (A. occidentale) secara normal, hal ini dibuktikan dengan adanya pertambahan tinggi, diameter batang dan jumlah helai daun pada setiap minggu pengamatan.
Salah satu kelebihan penggunaan cocopeat adalah tekstrunya yang mirip dengan tekstur tanah sehingga memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah yang banyak dalam media tanam. Cocopeat memiliki kemampuan menahan air dan unsurhara dalam media tanam sehingga dapat mempertahankan kelembaban dan kesuburan media tanam.(Kuntardina et.
al,2022). Jambu mete (A. occidentale L.) adalah jenis tanaman yang memiliki cukup air pada awal pertumbuhan dan musim kemarau. Namun jika kelebihan maka akan mepengaruhi proses pertumbuhannya. Penambahan media cocopeat sebanyak 50 gr diduga berlebihan dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman jambu mete. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2 dan 3, tanaman jambu mete mati pada minggu kelima diduga akibat media tanam memiliki kelembaban yang tinggi, ini dibuktikan dengan tanah yang kondisinya lebih basah.
Jumlah air dalam media tanam yang berlebihan inilah yang diduga menjadi penyebab akar tanaman rusak bahkan busuk sesuai dengan yang dituliskan oleh (Mubin et.al 2021).Hal ini dapat dilihat pada gambar 5 dan gambar 6.
Gambar 5. Hasil tanaman minggu ke-4 Gambar 6. Hasil tanaman minggu ke-5
PENUTUP
Hasil pertumbuhan dari tanaman jambu Mete (Anacardium occidentale L) menunjukan hasil yang baik karena dilihat dari hasil pengukuran Diameter tanaman, Jumlah daun tanaman, dan tinggi tanaman rata-rata pertumbuhanya signifikan.Tinggi tanaman menunjukan bahwa ada pengaruh nyata terhadap setiap perlakuan yang diberikan karena hasil F hitung lebih besar dari pada F tabel. Nilai F hitung yakni 61,66 maka dari itu pertumbuhan untuk tinggi tanaman menggunakan media tanam cocopeat menunjukan bahwa ada pengaruh nyata. Diameter tanaman menunjukan bahwa ada pengaruh nyata terhadap setiap perlakuan yang diberikan karena hasil F hitung lebih besar dari pada F tabel. Nilai F hitung yakni 100,86 maka dari itu pertambahan untuk diameter tanaman menggunakan media tanam cocopeat menunjukan hasil bahwa ada pengaruh yang nyata. Jumlah Daun tanaman menunjukan bahwa ada pengaruh nyata terhadap setiap perlakuan yang diberikan karena hasil F hitung lebih besarl dari pada F tabel. Nilai F hitung yakni 19,37 maka dari itu pertambahan jumlah daun pada tanaman menggunakan media tanam cocopeat menunjukan hasil bahwa ada pengaruh yang nyata.
DAFTAR PUSTAKA
Allokarua, H. K., Wardah, W., & Zulkaidhah, Z, (2018). Pengaruh Berbagai Takaran Dan Intensitas Pemberian Air Kelapa Terhadap Pertumbuhan Semai Jambu Mete. Forestsains, Vol:18, No:1, Hal: 1-6.
Ari Kuntardina, Widya Septiana, & Qirana Wahida Putri (2022). Pembuatan Cocopeat Sebagai Media Tanam Dalam Upaya Peningkatan Nilai Sabut Kelapa” Vol:6, No:1.
Asmawati, A., & Kumalawati, Z. (2018). Pemanfaatan kompos berbagai kotoran ternak dan Aplikasinya pada media tanam bibit kakao (Theobroma Cacao
l). Agroplantae: Jurnal Ilmiah Terapan Budidaya dan Pengelolaan Tanaman Pertanian dan Perkebunan, Vol:7 No 2, Hal 20-27.
Bambang P, Pardono, Eddy T, Puji H, Sulasndjari, Heri W, Sulistyo, Supriyono,Wisnu A. (2020) Pengaruh Berbagai Asal Benih Induk Dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Jambu Mete. Vol:4 No:2 Hal: 111- 115
Dalimoenthe dan Salwa Lubnan. (2016) "Pengaruh media tanam organik terhadap pertumbuhan dan perakaran pada fase awal benih teh di pembibitan."
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol:16 No:1., Hal:1-11.
Dimas R.(2017) “Pemanfaatan Cocopeat Sebagai Media Tumbuh Segon Laut (Paraserianthes Falcatia) dan Merbau Darat (Instia Palembanica)”.
Universitas Lampung, Bandar Lampug.
Irawan (2018) “ kesesuaian Penggunaan Cocopeat Sebagai Media Sapih Pada Politube Dalam Pembibitan Cempaka” Balai Kehutanan Manado. Vol:
(12). No:2
Nadia, Dinda, Sahrial Sahrial, and Addion Nizori.(2023) Pengaruh Variasi Perendaman Serbuk Kelapa Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Cocopeat Sebagai Media Tanam Hidroponik. Diss. UNIVERSITAS JAMBI.
Nindita dan A. Devi.(2017) "Pertambahan Jumlah Daun pada Tanaman." jurnal Holtikultura indonesia, Vol:14, No: 2, Hal: 107-117.
Putra dan Bela (2019). Peranan Pupuk Kotoran Kambing Terhadap Tinggi Tanaman, Jumlah Daun, Lebar dan Luas daun Total Pennisitum purpureum cv. Mott. Stock Peternakan, Vol: 1, No:(2).
Putra, Arif Triansyah, and Rina Ekawati.(2023) "Pemanfaatan Abu Sekam Padi dan Arang Kayu Sebagai Salah Satu Alternatif Penggunaan Top Soil untuk Media Tanam Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery." J.Agroteknika.Vol (6).
No(2). Hal149-160.
Raksun, A. (2016). Aplikasi Pupuk Organik Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Jambu Mete (Anacardium Occidentale L.). Jurnal Biologi Tropis.
Ramadhan (2017). Pemanfaatan cocopeat sebagai media tumbuh sengon laut (Paraserianthes falcataria) dan merbau darat (Intsia palembanica).
Rosa, E, Bustami, B, & Mardhiah, A. (2017). Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Akibat Pemberian Jenis Amelioran Dan Dosis Pupuk NPK. Jurnal Agriflora, Vol:1.,No:
(2).,Hal:93-101.
Rosman, R. (2018). Peningkatan produksi jambu mete nasional melalui perbaikan teknologi budidaya berbasis ekologi. Perspektif, 17(2), 166-174.
Rustiawati Y, Yatim,H, dan Triantoro,B (2020). faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usaha tani jambu mete (A.D.L) di desa malik makmur.celebes agricaltural, (1) 7-14
Rusmin dan Devi.(2017) "Peningkatkan viabilitas benih jambu mete (Anacardium occidentale L.) melalui invigorasi." Jurnal Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat.Vol(19).No(1).Hal56-63.
Saziati, ochih., Aji,A,A., Wafa.Shafira. (2021). Penggunaan Cocopeat Sebagai Pengganti Topsoil Dalam Upaya Perbaikan Kualitas Lingkungan di Lahan
Pascatambang di Desa Toba, Kabupaten Sanggau. J. Ilmu Lingkungan Pontianak. No(2).Vol(19). Hal432-443.
Setiawati, Ajeng, Diah., Joko, S, Sirajuddin,H,A. (2021). Pemanfaatan Limbah Serabut Kelapa Sebagai Media Tanam Di Desa Malaka Kabupaten Lombok Utara.J.AbdiMasTPB.No(1).Vol(4).Hal10-17.
Soedradjat, Raden, Parawita, D, Siti.Kamalia. (2017). Teknologi hidroponik sistem sumbu pada produksi selada lollo rossa (lactuca sativa l.) Dengan penambahan cacl2 sebagai nutrisi hidroponik.J.Agroteknologi. No(01).
Vol(11).Hal:96-104
Subehi, Luki, Hendro Wibowo. (2016) Characteristics of rainfall-discharge and water quality at Limboto Lake, Gorontalo, Indonesia. Bandung, Indonesia:
Bandung Institute of Technology.
Tamburaka dan IrmawattyP. (2018) "Strategi Pengembangan Jambu Mete Untuk Mendukung Perekonomian Petani Di Kabupaten Muna." Mega Aktiva:
J.Ekonomi dan Manajemen.No(1).Vol(5).Hal :25-32.
Wahid, R. A., & Usman, K. (2021). Pegaruh Media Terhadap Pertumbuhan Bibit Jambu Mete (Anacardium occidental. L). Jurnal Silva Samalas, Vol:(4), No,(1), Hal:33-38.
Wangiyana, (2019) “ aplikasi zat Pengatur Tumbuh dan Kegiatan Pruning Dalam Optimalisasi Budidaya Gaharu “ Vol:4, No:2, Hal: 36-42.
Winten, K. T. I., Wisardja, I. P., & Suryadharma, P. (2015). Pertumbuhan Bibit Jambu Mete (Anacardium Occidentale L.) Pada Berbagai Komposisi Media Tanam Dan Dosis Pupuk Urea. Jurnal Ganec Swara, Vol:9, No 1, Hal:60-69.