• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal - Teknologi Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Jurnal - Teknologi Lingkungan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Jurnal p - ISSN 1411-318X e - ISSN 2548-6101

Teknologi Lingkungan

Jurnal Teknologi Lingkungan pertama kali terbit tahun 2000, sampai dengan tahun 2012 terbit 3 kali setahun, dan mulai tahun 2013 terbit 2 kali setahun

Akreditasi Nomor: 200/M/KPT/2020

Penanggung Jawab

Dr. Dip. Ing. Muhammad Abdul Kholiq, M.Sc.

Ketua Dewan Redaksi

Dr. Joko Prayitno Susanto, M.Eng., PU (Produksi Bersih) Dewan Redaksi

Dr. Muhammad Hanif, M.Eng. (Bioteknologi Lingkungan) Ir. Joko Prayitno, Ph.D (Mikrobiologi)

Dr. Wahyu Purwanta, MT (Limbah Padat dan Udara)

Drs. Satmoko Yudo, M. Eng. (Manajemen Database Informasi Lingkungan) Dr. Ahmad Shoiful, S.T., M.A (Pengolahan Limbah)

Redaksi Pelaksana Iif Miftahul Ihsan, S.Si

Iin Parlina, S.T., M.S Reba Anindyajati Pratama, M.T

Dian Purwitasari Dewanti, M.T Anies Ma'rufatin, M.Si Rizky Pratama Adhi, M.Sc

Karina Anggraeni, S.T Regina Dea Tilottama, S.T Muhammad Haqqiyuddin Robbani, M.T

Mitra Bebestari

Prof.Dr.Ir.Kardono,M.Eng.(Kualitas Udara dan Lingkungan) Prof. Dr. Ir. Yudhi Soetrisno Garno, M.Sc. (Dinamika Kualitas Perairan)

Prof. Dr. Titin Handayani, M.Si (Produksi Tanaman dan Holtikultura) Prof. Dr. Edvin Aldrian, B.Eng, M.Sc (Meteorologi)

Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si. (Manajemen Limbah Padat) Dr. Sri Puji Ganefati, S.K.M., M.Kes. (Kesehatan Lingkungan) Dr. Arif Dwi Santoso, S.Pi., M.Eng., PU (Oseanografi Biologi) Dr.rer.nat. Rahmania Admirasari Suhargo Arif, S.Si., M.Sc (Mikrobiologi)

Ir. Heru Sri Naryanto, M. Sc (Geologi Lingkungan) drh. Wage Komarawidjaja, M. Si. (Toksikologi Perairan) Dr. Ir. Agus Sudaryanto, M.Sc (Pencemaran Lingkungan)

Ir. Adi Mulyanto, M.Sc. (Pengolahan Limbah)

Dr. Ir. Tusy Augustine Adibroto, M.Si. (Perencanaan Wilayah dan Kota) Dr. Albertus Sulaiman, S.Si., M.Si. (Fisika Teoritis)

Ir. Nusa Idaman Said, M. Eng. (Pengolahan Air Minum dan Limbah) Dr. Hanies Ambarsari, B.Sc., M.Appl.Sc. (Mikrobiologi Lingkungan)

Alamat Redaksi Pusat Teknologi Lingkungan

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Gedung Geostek 820, Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan 15314 Telp.021-75791377 ext. 4006 | Fax. 021-75791407

http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL

(4)

i

PENGANTAR REDAKSI

Dengan penuh rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) Volume 22 Nomor 2 Tahun 2021 kembali hadir kehadapan pembaca sekalian. JTL terakreditasi SINTA 2, terbit 2 (kali) dalam setahun, memuat hasil penelitian, pengembangan teknologi dan kerekayasaan dalam bidang lingkungan.

Pada edisi kali ini memuat 14 (empat belas) artikel ilmiah oleh penulis dari berbagai instansi, yaitu kajian timbulan limbah infeksius rumah sakit (ITB), Life Cycle Assessment pengelolaan sampah di TPA Gunung Panggung Kabupaten Tuban, Jawa Timur (UGM), efek paparan subletal limbah cair industri penyamakan kulit terhadap rasio konversi pakan dan laju pertumbuhan ikan nila (Universitas Andalas), penanganan sampah plastik pada produksi paving block (Universitas Lancang Kuning), tingkat kebisingan lalu lintas di sekolah tepi jalan (ITENAS Bandung), pemanfaatan limbah biomassa sebagai bahan baku adsorben dalam penurunan konsentrasi amonia sebagai parameter bau dalam air limbah (BPPT), pengolahan air limbah tekstil dengan adsorbsi menggunakakan karbon aktif (Universitas Pertamina), produksi bersih pengolahan limbah cair di PT aetra air jakarta menggunakan decanter (Universitas Sahid Jakarta), pembentukan pupuk struvite dari limbah cair industri tempe dengan proses aerasi (UPN Veteran Jawa Timur), deodorisasi sludge limbah industri makanan untuk pakan maggot BSF (BPPT), kelayakan air Danau Toba di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara untuk air baku dan rekreasi air (BPPT), perhitungan reduksi emisi gas buang melalui penentuan rute distribusi beras di Kota Bandung (Universitas Widyatama, Bandung) pengolahan limbah cair industri pakan ternak dengan kombinasi proses aerasi dan biologi aerob (UPN V Jawa Timur), investigasi kinerja biofilter di dalam proses pengolahan air minum (BPPT).

Semua artikel tersebut telah melewati proses telaah sesuai standar tata kelola jurnal terakreditasi nasional dan setiap proses terekam di dalam Open Journal System JTL. Kami terus menghimbau para peneliti, perekayasa, praktisi dan akademisi di bidang teknologi lingkungan untuk menjadikan JTL sebagai wadah dalam rangka membangun jaringan komunikasi dan penyebarluasan informasi ilmiah.

Penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada para penulis, mitra bebestari, editor dan berbagai pihak atas kontribusinya sehingga JTL Vol. 22 No. 2 Tahun 2021 ini dapat diterbitkan.

Semoga terbitan ini dapat menjadi bahan rujukan dan memberikan kontribusi pengetahuan yang bermanfaat.

Kami menyadari bahwa dalam pengelolaan sebuah jurnal ilmiah dibutuhkan integritas dan komitmen yang tinggi, oleh karena itu kami sangat terbuka untuk menerima sumbang saran dan pemikiran bagi perbaikan dan kemajuan JTL kedepan.

Serpong, Juli 2021

Redaksi

(5)

ii

UCAPAN TERIMA KASIH KEPADA MITRA BESTARI

Jurnal Teknologi Lingkungan mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para mitra bestari yang telah berpartisipasi sebagai penelaah dalam JTL Volume 22, Nomor 2, Juli 2021 Prof. Dr. Ir. Kardono, M.Eng.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Prof. Dr. Ir. Yudhi Soetrisno Garno, M.Sc Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Prof. Dr. Titin Handayani, M.Si.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Prof. Dr. Edvin Aldrian, B.Eng, M.Sc Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr. Sri Puji Ganefati, S.K.M., M.Kes.

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta Dr. Arif Dwi Santoso, S.Pi., M.Eng.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr.rer.nat. Rahmania Admirasari Suhargo Arif, S.Si., M.Sc Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Ir. Heru Sri Naryanto, M. Sc.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi drh. Wage Komarawidjaja, M. Si.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr. Ir. Agus Sudaryanto, M.Sc.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Ir. Adi Mulyanto, M.Sc.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr. Ir. Tusy Augustine Adibroto, M.Si.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr. Albertus Sulaiman, S.Si., M.Si.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ir. Nusa Idaman Said, M. Eng.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr. Hanies Ambarsari, B.Sc., M.Appl.Sc.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Serpong, Juli 2021

Redaksi

(6)

iii

DAFTAR ISI

i Kata Pengantar

Ucapan Terima Kasih Daftar Isi

ii iii

138-146 Venny Ulya Bunga, Enri

Damanhuri Kajian Timbulan Limbah Infeksius Rumah Sakit Kota Bandung dan Cimahi

147-161

Rahmah Arfiyah Ula, Agus Prasetya, Iman Haryanto

Life Cycle Assessment

(LCA) Pengelolaan Sampah di TPA Gunung Panggung Kabupaten Tuban, Jawa Timur

162-169

Taufiq Ihsan, Tivany Edwin, Vira Elza

Efek Paparan Subletal Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit terhadap Rasio Konversi Pakan dan Laju Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis

niloticus)

170-177

Zainuri

Penanganan Sampah Plastik pada Produksi

Paving Block

178-189

Mila Dirgawati, Gita Nur Apriani,

Astien Arsten Asyari, R. Triyogo Traffic-related Noise at Roadside Schools:

Assessment and Prediction in Urban Setting

190-198

Tia Agustiani, Asep Saefumillah, Hanies Ambarsari

Studi Pemanfaatan Limbah Biomassa sebagai

Raw Material

Adsorben SiC dalam Penurunan Konsentrasi Amonia sebagai Parameter Bau dalam Air Limbah

199-205

Iva Yenis Septiariva, I Wayan Koko Suryawan, Ariyanti Sarwono

Reactive Black

5 (RB5): Pengolahan Air Limbah Tekstil dengan Adsorbsi Menggunakan

Powdered

Karbon Aktif

206-214

Tatan Sukwika, Said Azmi

Muhammad

Produksi Bersih Pengolahan Limbah Cair

Menggunakan

Decanter

pada PT Aetra Air Jakarta 215-221

Luluk Edahwati, Sutiyono, Rizqi

Rendri Anggriawan

Pembentukan Pupuk Struvite dari Limbah Cair Industri Tempe dengan Proses Aerasi

222-230 Susi Sulistia, Charlena,

Hanies Ambarsari

Deodorisasi

Sludge

Limbah Industri Makanan untuk Pakan Maggot BSF (Black Soldier Fly) dengan Teknik Biosorps

231-239

Joko Prayitno Susanto, Agung

Riyadi, Yudhi Soetrisno Garno

Kelayakan Air Danau Toba di Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Untuk Air Baku dan Rekreasi Air 240-248

Muchammad Fauzi, Deryl

Baharudin Sopandi, Verani Hartati

Perhitungan Reduksi Emisi Gas Buang Melalui

Penentuan Rute Distribusi Beras di Kota Bandung

249-256

Ketut Sumada, Novika Cahya

Pengolahan Limbah Cair Industri Pakan Ternak

(7)

iv

Chaerani, Melandy Dwi

Priambodo, Erwan Adi Saputro

dengan Kombinasi Proses Aerasi dan Biologi Aerob 257-266

Nusa Idaman Said, Satmoko

Yudo, Wahyu Widayat

Investigasi Kinerja Biofilter di Dalam Proses Pengolahan Air Minum Studi Kasus: Instalasi Pengolahan Air Minum Palyja Taman Kota

Indeks Kata Kunci

Indeks Penulis

(8)

170 Penanganan Sampah Plastik pada Produksi Paving Block (Zainuri)

Penanganan Sampah Plastik pada Produksi Paving Block Handling of Plastic Waste in Paving Block Production

ZAINURI

Universitas Lancang Kuning, Jl. Yos Sudarso Km. 08 Rumbai, Pekanbaru – Riau, 28265 Email: [email protected]

ABSTRACT

Efforts to handle waste are continuously carried out, starting from the lowest layer, namely households, to large factories that produce garbage every day. Waste production that is not balanced with the handlers causes waste to be a problem for the environment. One type of waste that is difficult to decompose by nature (non-biodegradable) is plastic waste, which occupies the most considerable quantity of other types of waste. Based on statistical data, the amount of non-biodegradable waste that is disposed of in the final disposal site every day in several cities in Indonesia is 6,598.23 tons/day. This study aims to calculate the reduction in plastic waste if it is used in making paving blocks. Almost all variations are included in quality D outlined in SNI 03-0691-1996. Only two variations have below the required standard, namely 10%

plastic:90% sand and 60% plastic:40% sand. In the variation 70% plastic:30% sand, the plastic weight needed is 796.32 kg and in the variation 80% plastic:20% sand, the need for plastic waste drops to 793.60 kg. The variation 70% plastic:30% sand is recommended for production because it absorbs the most plastic waste from the calculations made. This study concluded that the potential for reducing plastic waste if it is used for the production of paving blocks is 3.9816 tons/day in the job mix with a variation of 70% plastic:30%

sand.

Keywords: inorganic, paving blocks, plastic, garbage

ABSTRAK

Upaya penanganan sampah terus dilakukan mulai dari lapisan terbawah yaitu rumah tangga hingga pabrik besar yang menghasilkan sampah setiap hari. Produksi sampah yang belum berimbang dengan penanganan menyebabkan sampah masih menjadi masalah bagi lingkungan. Salah satu jenis sampah yang sulit diuraikan oleh alam (non-biodegradable) adalah sampah plastik, menempati kuantitas terbesar dari jenis sampah lainnya. Berdasarkan data statistik, jumlah sampah non-biodegradable yang dibuang ke TPA sampah setiap hari di beberapa kota di Indonesia sebesar 6.598,23 ton/hari. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung potensi pengurangan sampah plastik apabila dimanfaatkan dalam pembuatan paving block. Hampir semua variasi masuk dalam mutu D yang digariskan dalam SNI 03-0691-1996. Hanya dua variasi memiliki kekuatan di bawah standar yang disyaratkan yaitu variasi 10% plastik:90% pasir dan 60%

plastik:40% pasir. Pada variasi 70% plastik:30% pasir, berat plastik yang dibutuhkan 796,32 kg dan pada variasi plastik 80%:20% pasir, kebutuhan sampah plastik turun menjadi 793,60 kg. Dari perhitungan yang dilakukan maka variasi 70% plastik:30% pasir yang direkomendasikan untuk diproduksi sebab menyerap paling banyak sampah plastik. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa potensi pengurangan sampah plastik jika dimanfaatkan untuk produksi paving block adalah sebesar 3,9816 ton/hari pada job mix dengan variasi 70% plastik:30% pasir.

Kata kunci: non-biodegradable, paving block, plastik, sampah

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Upaya penanganan sampah terus dilakukan mulai dari lapisan terbawah penghasil sampah yaitu rumah tangga hingga pabrik-pabrik besar yang selain produk juga pasti menghasilkan limbah yang harus dibuang setiap harinya.

Produksi sampah yang belum berimbang dengan langkah-langkah penanganan menyebabkan sampah masih menjadi masalah bagi lingkungan.

Salah satu jenis sampah yang sulit diuraikan oleh alam adalah sampah non-biodegradable. Sampah plastik menempati kuantitas terbesar dari jenis sampah lainnya. Berdasarkan data statistik, jumlah sampah anorganik yang dibuang ke TPA sampah setiap hari di beberapa kota di Indonesia sebesar 6.598,23 ton(1). Jumlah yang diproduksi demikian besar, saat ini upaya untuk mengurangi sampah yang menumpuk di TPA belum mampu mengurangi tumpukan yang menggunung, bahkan gunung sampah makin hari makin tinggi.

(9)

Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22, No. 2, Juli 2021, 170-177 171 Sampah non-biodegradable terbanyak yang

didominasi oleh plastik sangat sulit hancur secara alami. Kebutuhan plastik mengalami peningkatan sehingga diproduksi dengan peningkatan 200 ton per tahun di Indonesia(2). Peningkatan penggunaan kemasan plastik disebabkan keunggulan plastik yang kedap air dan dapat melindungi produk lain menjadikan komoditi tersebut primadona yang masih sulit dicari penggantinya sehingga produksinya terus meningkat dan sulit untuk dikurangi.

Kelemahan bahan plastik yang menonjol berasal dari keunggulannya sendiri yaitu ketahanannya terhadap alam sehingga sulit diurai oleh alam. Hal ini sesuai dengan pernyataan umum bahwa bahan plastik memiliki sifat yang sulit terurai di mana plastik memerlukan waktu ratusan tahun agar dapat terurai secara sempurna(3). Pada akhirnya manusia merasakan dampak dari keteledoran mengelola sampah plastik sehingga menjadi masalah lingkungan yang cukup berat seperti perbincangan akhir-akhir ini tentang pulau terapung yang dibentuk oleh sampah plastik yang membahayakan biota laut, terutama ikan besar yang tanpa sengaja memasukkan plastik tersebut ke dalam lambungnya.

Dampak kesadaran akan masalah yang ditimbulkan oleh sampah plastik adalah munculnya upaya untuk mengurangi sampah plastik dengan memanfaatkan atau mendaur ulang menjadi komoditi yang bermanfaat. Salah satu upaya yang cukup marak akhir-akhir ini adalah pendirian bank sampah di banyak tempat.

Bank sampah dimaksudkan sebagai tempat yang disediakan untuk sampah-sampah khusus, terutama sampah plastik dan kemudian sampah tersebut dimanfaatkan kembali dalam bentuk produk yang dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Beberapa kendala yang menghambat perkembangan bank sampah dan masih diperlukan terobosan lain dalam penanganan masalah sampah plastik.

Penelitian yang melakukan studi literatur tentang masalah sampah plastik dan berkesimpulan bahwa sampah plastik memiliki bahaya yang cukup besar bagi keberlangsungan hidup manusia, oleh karena itu diperlukan suatu usaha yang serius oleh berbagai pihak untuk mengelolanya(4). Selain bahaya yang ditimbulkan, sampah plastik sekaligus memiliki potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai produk dan jasa kreatif. Kegiatan kreasi sampah plastik dapat menjadi salah satu gerakan pemberdayaan komunitas dan memperluas lapangan pekerjaan serta membuka kemungkinan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Contoh pendaur- ulangan sampah plastik yang bernilai ekonomis seperti dijadikan sumber energi, gas, dan minyak serta tidak melulu pada kerajinan tangan saja(5).

Pemilihan cara memproses sampah sesuai pendapat responden dari empat kriteria yang ditentukan lebih menitikberatkan pada kriteria lingkungan dengan kata lain responden masih memikirkan kelestarian lingkungan dan sistem pengelolaan sampah yang lebih dipilih adalah pemrosesan sampah secara komunal di setiap kelurahan(6). Ada tiga cara untuk menanggulangi sampah dalam rangka meminimalkan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah plastik itu sendiri yaitu mengurangi penggunaan kantong plastik dengan pengganti alat/bahan lain seperti kain untuk membungkus barang (furoshiki), pengolahan limbah plastik menggunakan metode fabrikasi, dan penggunaan plastik biodegradable yang lebih mudah terurai di alam(7). Solusi ini mungkin dapat ditindaklanjuti namun pelaksanaannya pasti tidak mudah sebab untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat tidaklah mudah.

Hasil penelitian tentang pengelolaan sampah di salah satu kota yang ada di Indonesia yang menyatakan bahwa sistem pengelolaan sampah plastik melibatkan empat pihak, yaitu rumah tangga sebagai penghasil sampah, pemulung sebagai agen pemilah sampah, bank sampah, dan pengepul sebagai pengolah sampah plastik, serta pemerintah sebagai pengelola sampah(8). Upaya pengolahan sampah lebih diarahkan pada penanganan sampah dalam bentuk pakai ulang (reuse), daur ulang (recycle), dan penimbunan.

Upaya ini bisa juga diikuti oleh kota-kota lain dalam masalah penanganan sampah plastik, termasuk kota Pekanbaru yang menghasilkan sampah anorganik 314,96 ton setiap hari.

Penelitian dalam upaya pemanfaatan limbah plastik untuk bahan konstruksi paving block terus dilakukan(9-16). Sifat plastik yang dapat mengikat bahan lain menimbulkan pemikiran untuk menjadikannya sebagai bahan pengikat pengganti semen. Banyak produk konstruksi menggunakan semen sebagai bahan pengikat seperti beton. Substitusi semen dengan plastik tidak dapat dilakukan sebelum dilaksanakan penelitian. Material konstruksi selalu mempertimbangkan kekuatan produk agar penggunaannya tidak akan menimbulkan petaka kegagalan bangunan. Jika plastik terbukti dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengikat pada material konstruksi, maka tindakan produksi akan dapat mengurangi limbah plastik yang mencemari lingkungan.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung potensi pengurangan sampah plastik apabila dimanfaatkan dalam pembuatan paving block yang menggunakan plastik sebagai bahan pengikat agregat halus. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan oleh pengusaha paving

(10)

172 Penanganan Sampah Plastik pada Produksi Paving Block (Zainuri) block, pemerintah, dan masyarakat sebagai

konsumen dalam upaya mengurangi sampah plastik yang setiap hari diproduksi.

2. BAHAN DAN METODE 2.1 Bahan

Paving block adalah material konstruksi yang terbuat dari tiga macam bahan dasar yaitu pasir, semen dan air. Penelitian ini menggantikan semen dengan plastik sehingga bahan-bahan yang digunakan adalah pasir beton atau agregat halus, plastik sebagai pengikat, dan gas.

Peran semen dapat digantikan oleh plastik untuk material tertentu dalam hal ini produk paving block. Plastik yang digunakan dalam penelitian ini adalah plastik botol air mineral. Sampah plastik pada penelitian ini diperoleh dari pengumpul sampah di daerah Muara Fajar - Pekanbaru, yang telah memisahkan dan mencacah plastik menjadi potongan-potongan kecil. Pasir beton yang digunakan berasal dari Kabupaten Kampar. Apa yang berbeda dari pembuatan paving block konvensional adalah penggunaan air yang diganti dengan gas (api) dalam proses pengikatan bahan yaitu untuk melelehkan plastik agar fungsinya sebagai pengikat dapat bekerja pada bahan lain.

2.2 Metode

Pembuatan sampel produk untuk mengukur kekuatan material dilakukan dengan pendekatan eksperimen dan dilaksanakan di Laboratorium Program Studi Teknik Sipil, Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama delapan bulan, mulai pada bulan Maret hingga November 2020.

Plastik yang akan dicampurkan dalam adukan untuk membuat sampel dipisahkan dalam beberapa variasi yaitu 10%; 20%; 30%; 40%;

50%; 60%; 70%; dan 80% dari berat seluruh bahan yang digunakan. Setiap variasi bahan dibuat sebanyak lima buah sampel untuk pengujian kuat tekan. Pengujian diberlakukan sama dengan produk beton yaitu ketika sampel sudah berumur 28 hari.

Peralatan yang digunakan untuk pembuatan sampel penelitian adalah Concrete Compression Machine, kompor gas, pisau, spatula, kuali, saringan agregat, cetakan kubus ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm, mistar, timbangan dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh.

Sampel dibuat dengan komposisi yang direncanakan dengan cara memanaskan plastik di atas kompor gas, setelah cair dicampurkan pasir beton dan diaduk merata lalu dituangkan ke dalam cetakan. Setelah sampel mengeras, dapat dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan pada suhu ruangan selama 28 hari dan selanjutnya dilakukan pengujian kuat tekan dan porositas. Hasil pengukuran dari uji kuat tekan yang dilakukan

dapat menentukan bahwa produk yang dihasilkan layak atau tidak layak sesuai standar yang berlaku. Rumus yang digunakan untuk uji kuat tekan dilakukan sebagai berikut(17):

fc′ =P

A…... (1) Keterangan:

fc’ : Kuat tekan beton (MPa) P : Beban maksimum (kN)

A : Luas penampang tertekan benda uji (mm2)

Rumus yang digunakan untuk uji porositas sebagai berikut(18):

Porositas (%) =Mb−Mk

Mk × 100%…... (2) Keterangan:

Mb : Massa basah benda uji (gram) Mk : Massa kering benda uji (gram)

Produksi paving block yang dihasilkan pada penelitian ini harus memenuhi persyaratan kekuatan fisik yang ditentukan sebagai berikut(19):

Tabel 1. Kekuatan fisik paving block

Mutu Kegunaan

Kuat Tekan

(MPa) Porositas Rerata (%) Rerata Min

A Perkerasan jalan

40 35,0 3

B Tempat parkir mobil

20 17,0 6

C Pejalan kaki 15 12,5 8

D Taman kota 10 8,5 10

Hasil yang direkomendasikan untuk diproduksi, memberikan gambaran bahwa sampah plastik dapat dikurangi dengan cara ini.

Pengurangan sampah plastik sesuai dengan komposisi yang direkomendasikan berdasarkan mutu produk yang harus dicapai. Perhitungan sampah plastik yang dapat dimanfaatkan dilakukan dengan menggunakan asumsi logis dan angka-angka yang pasti.

Gambar 1. Sampel penelitian 5 cm x 5 cm x 5 cm

(11)

Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22, No. 2, Juli 2021, 170-177 173 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengujian kuat tekan dan porositas paving block

Hasil pengujian nilai kuat tekan dan porositas produk dari delapan variasi sampel memperlihatkan nilai rata-rata kuat tekan dan nilai rata-rata porositas yang diperoleh seperti tertera dalam Tabel 2 berikut ini. Hampir semua variasi masuk dalam mutu D yang digariskan dalam SNI 03-0691-1996 dan artinya produk paving block yang dihasilkan dapat digunakan untuk pekerjaan taman kota. Hanya dua variasi memiliki kekuatan di bawah yang diisyaratkan yaitu variasi 10%

plastik:90% pasir dan 60% plastik:40% pasir.

Kegagalan variasi 10% plastik:90% pasir disebabkan daya ikat bahan lemah akibat jumlah pengikat yang terlalu sedikit bila dibandingkan dengan bahan yang harus diikat sehingga ikatan yang terbentuk menjadi lemah dan produk cepat hancur bila diberi tekanan sedikit saja. Variasi 60% plastik:40% pasir memiliki nilai kuat tekan yang sedikit melenceng dari tren yang terjadi. Hal ini paling mungkin disebabkan oleh kesalahan dalam pengerjaan produk secara manual; adukan yang kurang merata atau keterlambatan dalam memasukkan ke cetakan sehingga plastik sebagai pengikat telah mengeras sebelum seluruh bahan terdistribusi merata di cetakan.

Tabel 2. Kuat tekan dan porositas rata-rata paving block

No. Variasi Sampel Plastik : Pasir

Job Mix untuk 1 m3 Berat Rata-rata

(gram)

Kuat Tekan Rata-rata (MPa)

Porositas Rata-rata Plastik (kg) Pasir (%)

(kg)

1 10%:90% 171,36 1.542,24 214,20 1,46 9,0

2 20%:80% 393,60 1.574,40 246,00 9,20 0,9

3 30%:70% 534,72 1.247,68 222,80 10,67 0,2

4 40%:60% 560,64 840,96 175,20 11,09 0,2

5 50%:50% 600,80 600,80 150,20 9,73 0,3

6 60%:40% 720,00 480,00 150,00 7,22 0,5

7 70%:30% 796,32 341,28 142,20 9,62 0,4

8 80%:20% 793,60 198,40 124,00 8,68 0,4

Hasil terbaik di antara tujuh variasi lain diperoleh variasi campuran 40% plastik dan 60%

pasir dengan nilai kuat tekan rata-rata 11,09 MPa.

Jika mengutamakan kekuatan produk, variasi ini dapat direkomendasikan. Namun jika mempertimbangkan nilai manfaat terhadap pelestarian alam dalam hal pengurangan sampah plastik, maka variasi yang menggunakan lebih banyak sampah plastik lebih direkomendasikan.

Dengan porsi 80% plastik dan 20% pasir nilai kuat tekan rata-rata yang diperoleh 8,68 MPa telah melebihi nilai yang disyaratkan oleh SNI untuk Mutu D pada produk paving block sehingga variasi ini lebih direkomendasikan dari variasi lainnya untuk diproduksi.

Pada variasi 10% plastik:90% pasir, nilai porositas menempati angka tertinggi, jauh melebihi nilai porositas variasi lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya bahan pengikat sehingga terdapat banyak pori dalam produk. Ikatan yang lemah dan pori-pori produk yang banyak menyebabkan air yang terserap akan lebih besar sehingga nilai porositas jauh lebih tinggi dari variasi lainnya. Hasil pengujian porositas memperlihatkan tren berbanding terbalik dengan hasil pengujian kuat tekan. Pada variasi 60% plastik:40% pasir nilai porositas agak melenceng, sama seperti halnya dengan nilai pengujian kuat tekan. Dengan alasan yang sama

seperti sebelumnya, maka nilai ini dapat dimaklumi.

Nilai porositas produk dengan porsi yang direkomendasikan sebesar 0,2% menempati mutu A sesuai standar SNI yang mengacu pada bahan beton. Dengan demikian dinyatakan bahwa produk paving block yang dihasilkan memiliki mutu yang baik dari segi porositas. Bila dihubungkan dengan kepentingan lingkungan, nilai porositas yang rendah tidak mempengaruhi penyerapan air ke tanah secara signifikan sebab penyerapan air ke dalam tanah melalui celah antar paving block. Jika model paving block yang dibuat sengaja diberi lubang pada bagian tengah, maka penyerapan air dalam tanah akan lebih besar.

Gambar 2. Pengujian kuat tekan dan porositas

(12)

174 Penanganan Sampah Plastik pada Produksi Paving Block (Zainuri) 3.2 Berat rata-rata paving block

Berat produk diperhitungkan untuk mengetahui secara pasti kebutuhan bahan dalam menghasilkan produk yang dimaksud. Perubahan komposisi bahan akan mempengaruhi berat produk. Pasir memiliki berat jenis yang lebih besar bila dibandingkan dengan berat jenis plastik.

Semakin banyak penggunaan pasir pada campuran maka berat produk akan bertambah.

Dengan demikian komposisi dari kedua bahan utama tersebut secara langsung akan mempengaruhi berat produk yang dihasilkan.

Setiap sampel yang dibuat dari kelompok komposisi ditimbang dan selanjutnya nilai rata- rata berat produk dari masing-masing kelompok dengan komposisi yang berbeda dibandingkan.

Berat yang paling ringan dengan kekuatan memenuhi standar yang berlaku menjadi pertimbangan dalam menentukan job mix yang optimal dan dipilih sebagai job mix yang direkomendasikan sebab berat yang paling ringan mengindikasikan pemakaian plastik yang lebih banyak. Dengan demikian kontribusi pengurangan limbah plastik di alam akan semakin besar. Hasil pengujian terhadap berat kering rata- rata paving block masing-masing variasi sampel dapat dilihat pada Tabel 2.

Berat sampel memperlihatkan tren menurun dengan semakin banyaknya plastik yang digunakan, artinya bila plastik yang digunakan makin banyak maka produk akan semakin ringan.

Hal tersebut dimaklumi sebab berat jenis plastik lebih kecil dari berat jenis pasir. Dengan volume sampel 125 cm3 berat rata-rata produk terendah pada variasi 80% plastik dan 20% pasir sebesar 124 gram. Keunggulan berat produk yang kecil adalah lebih mudah dalam mengangkutnya. Bila kekuatan yang dimiliki telah memenuhi standar mutu SNI maka produk dengan berat paling ringan di antara lainnya lebih direkomendasikan.

3.3 Job mix paving block

Job mix diperhitungkan dalam satuan meter kubik sehingga kebutuhan bahan setiap variasi dapat dilihat dalam Tabel 2. Analisis berat bahan yang diperlukan dapat dihitung setelah berat rata- rata sampel diketahui untuk memproduksi 1 m3 paving block. Contoh perhitungan pada job mix dengan variasi 70% plastik:30% pasir adalah sebagai berikut:

Berat rata-rata job mix untuk cetakan (5 x 5 x 5) cm dengan sampel paving block 142,20 gram adalah:

Volume untuk 1 cetakan

= 0,05 m × 0,05 m × 0,05 m = 0,000125 m3 Berat sampah plastik

= 142,20 g × 70% = 99,54 g = 0,09954 kg

Berat pasir beton

= 142,20 g × 30% = 42,66 g = 0,04266 kg Berat job mix untuk 1 m3 adalah:

Jumlah untuk 1 m3 sampel

= 1 m3

0,000125 m3= 8.000 buah Berat sampah plastik

= 0,09954 kg × 8.000 buah = 796,32 kg Berat pasir beton

= 0,04266 kg × 8.000 buah = 341,28 kg

Semakin besar persentase penggunaan plastik, maka plastik yang digunakan semakin banyak dengan tren meningkat walaupun berat rata-rata produk menurun mengingat plastik memiliki berat jenis yang lebih kecil dari berat jenis pasir. Jika penurunan berat rata-rata produk pada kelompok tertentu dengan selisih yang besar maka berat kebutuhan bahan plastik dapat mengalami penurunan seperti yang terjadi pada variasi 80% plastik dan 20% pasir. Pada porsi 70% plastik dan 30% pasir berat plastik yang dibutuhkan 796,32 kg dan pada penambahan porsi plastik menjadi 80% kebutuhan sampah plastik sedikit turun menjadi 793,60 kg. Walau angka penurunan berat plastik hanya kecil, namun hal itu tetap diperhitungkan.

Dampak penurunan berat produk yang cukup signifikan mempengaruhi jumlah bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi produk. Jika berorientasi pada lingkungan maka varian yang dipilih adalah yang paling banyak menyerap sampah plastik. Dari perhitungan yang dilakukan maka variasi 70% plastik dan 30% pasir yang paling direkomendasikan untuk diproduksi sebab menyerap paling banyak sampah plastik untuk memproduksi paving block yang sesuai dengan mutu D berdasarkan standar yang berlaku.

3.4 Kontribusi terhadap pengurangan sampah plastik

Sampah plastik sudah menjadi masalah dunia. Bahkan akumulasi sampah plastik terkumpul telah membentuk pulau terapung yang terus bergerak dan mempengaruhi habitat laut di sekitarnya. Seperti habitat ikan besar yang terganggu karena secara tidak sengaja mengonsumsi plastik dan dapat menyebabkan kematian ikan tersebut. Demikian serius dampak dari sampah plastik yang mencemari perairan sehingga dunia merasa perlu mencari solusi atau penanganan polusi yang disebabkan oleh sampah plastik.

Sampah juga menjadi masalah di Indonesia terutama di kota-kota besar yang penduduknya

(13)

Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22, No. 2, Juli 2021, 170-177 175 banyak dan padat. Sampah yang menumpuk dan

terus bertambah menyebabkan sampah-sampah tersebut menggunung dan pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan belum efektif.

Pengurangan yang terjadi tidak mampu mengimbangi pertambahan jumlah setiap hari.

Berikut volume sampah yang dibuang ke TPA setiap hari di beberapa kota di Indonesia(1).

Tabel 3. Volume sampah terangkut per hari menurut jenis sampah dan kota

Kota Sampah Anorganik (ton)

2017 2018

Banda Aceh 83,60 85,20

Medan 662,00 742,80

Padang 0,11 118,27

Pekanbaru 159,40 314,96 Bandar Lampung 340,00 360,00 Pangkal Pinang 146,40 98,82 DKI Jakarta 3.139,96 3.139,96

Bandung 492,01 566,26

Surabaya 738,83 761,57

Banjarmasin 190,37 118,30

Tanjung Selor - 67,00

Kendari 68,70 71,60

Gorontalo 52,75 50,77

Ambon 45,48 55,74

Ternate 12,51 13,70

Jayapura 14,13 33,28

Jumlah 6.146,25 6.598,23 Sampah anorganik yang dihasilkan oleh beberapa kota di Indonesia pada tahun 2018 adalah sebanyak 6.598,23 ton per hari(1). Jika dibiarkan terus menumpuk maka sampah anorganik tersebut dapat menimbulkan masalah bagi kota-kota yang ada di Indonesia. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengurangi sampah anorganik terutama sampah plastik. Beberapa bank sampah dibuat untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik guna didaur ulang (recycle) menjadi produk terpakai dan memiliki nilai ekonomis.

Upaya untuk mengurangi sampah sudah digaungkan sejak lama, namun belum terlihat adanya pengurangan volume sampah sebagai dampak pertambahan penduduk yang terus terjadi. Upaya untuk mengurangi (reduce) sampah plastik salah satunya mengganti kantong plastik dengan kantong kertas atau menggalakkan berbelanja membawa tas belanja. Meskipun hal tersebut dilakukan, sampah plastik yang dihasilkan tiap hari masih terus meningkat.

Tas belanja biasanya terbuat dari plastik yang dapat digunakan berulang kali. Bila terkena noda, tas belanja seperti itu dapat dibersihkan kembali. Penggunaan berulang atau pemakaian

kembali (reuse) wadah yang terbuat dari plastik dapat mengurangi sampah plastik, namun tetap saja pada suatu saat produk tersebut menjadi sampah anorganik yang susah terurai di alam.

Penelitian ini mengupayakan agar limbah plastik yang telah terkumpul tersebut dapat dimanfaatkan dalam pembuatan material bangunan salah satunya produk paving block, dalam hal ini dilakukan tindakan daur ulang (recycle) terhadap limbah plastik. Paving block biasanya digunakan untuk pekerjaan perkerasan jalan, tempat parkir, pejalan kaki dan pedestrian taman kota. Tujuan dari pemakaian paving block ini adalah untuk menutupi permukaan tanah agar terlihat lebih rata dan rapi, tidak mengalami pengikisan oleh air di musim penghujan, serta tidak terlalu berdebu pada musim kemarau.

Pemakaian paving block pada permukaan tanah lebih baik bagi lingkungan bila dibandingkan dengan beton sebab masih memungkinkan peresapan air melalui celah antar paving block sehingga dapat dikatakan produk paving block ramah lingkungan.

Sampel-sampel penelitian yang dibuat diuji dengan pengujian standar sesuai yang disyaratkan oleh SNI 03-0691-1996. Hasil pengujian tersebut memperlihatkan bahwa job mix yang banyak menggunakan sampah plastik dari beberapa rancangan job mix yang dibuat adalah variasi 70% plastik:30% pasir. Apabila produk tersebut telah diproduksi dan dipasarkan maka dapat diperhitungkan berapa besar pengurangan sampah plastik yang dimanfaatkan untuk kebutuhan produksi paving block tersebut.

Perhitungan pengurangan sampah plastik karena dimanfaatkan untuk produksi paving block adalah; diasumsikan produksi normal 5 m3 per hari seperti informasi yang diberikan oleh salah satu UMKM pembuat paving block di kota Pekanbaru (1 m3 dapat menutupi luas permukaan tanah 12,667 m2 bila ketebalan paving block 6 cm) dengan waktu produksi selama 365 hari per tahun.

Maka kebutuhan sampah plastik pada job mix dengan variasi 70% plastik:30% pasir adalah:

Berat 1 m3 paving block

= ( 1 m3

0,000125 m3) × (142,20 g m⁄ 3

1.000 g kg⁄ ) = 1.137,6 kg m⁄ 3 Kebutuhan sampah plastik per hari adalah

= 70% × 1.137,6 kg m 3× 5 m3= 3.981,6 kg = 3,9816 ton

Kebutuhan sampah plastik per tahun adalah

= 365 hari tahun × 3,9816 ton = 1.453,284 ton

Persentase pengurangan sampah plastik per m3 paving block adalah

=

(70% × 1.137,6 kg m 3 1000 kg ton )

6.598,23 kg ton × 100% = 0,0121% / m3hari

(14)

176 Penanganan Sampah Plastik pada Produksi Paving Block (Zainuri) Tabel 4. Pengurangan sampah plastik per

hari di Indonesia Variasi

Sampel Plastik:Pasir

Sampah Plastik (ton/hari)

Sampah Plastik (%/m3/hari)

20%:80% 1,9680 0,006

30%:70% 2,6736 0,008

40%:60% 2,8032 0,008

50%:50% 3,0040 0,009

70%:30% 3,9816 0,012

80%:20% 3,9680 0,012

Dengan beroperasinya satu UMKM yang memproduksi 5 m3/hari paving block menggunakan job mix yang direkomendasikan pada penelitian ini maka potensinya dalam mengurangi sampah plastik sebesar 0,012% x 5 m3/hari = 0,06 % dari sampah anorganik harian yang diproduksi penduduk kota-kota di Indonesia(1). Secara matematis, andil sebuah UMKM yang memproduksi paving block plastik mungkin terlihat kecil sekali, namun dapat dibayangkan bila banyak UMKM yang memproduksi produk yang sama di seluruh Indonesia yang jumlahnya ribuan UMKM sejenis.

Bila ada 1.000 UMKM di Indonesia yang memproduksi komoditi yang sama dengan jumlah produksi harian yang sama pula maka sampah plastik yang terserap dapat mencapai 0,06% x 1.000 UMKM = 60%. UMKM yang memproduksi komoditi tersebut di seluruh Indonesia belum terdata sehingga perhitungan hanya menggunakan asumsi logis saja.

Pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan pengganti semen pada pembuatan paving block hanya merupakan salah satu alternatif dalam penanganan sampah plastik. Potensi sampah plastik lainnya masih banyak. Sudah ada yang melakukan penelitian untuk memanfaatkan limbah plastik seperti membuat kerajinan, dijadikan bahan bakar, sebagai pengganti agregat pada beton, dan lain-lain. Setelah potensi sesuatu itu ditemukan, tindak lanjut adalah memproduksi dan menawarkan produk.

Permasalahan yang dihadapi dalam memproduksi produk baru adalah memperkenalkan produk pada konsumen.

Perkenalan produk melalui promosi memerlukan biaya tambahan dan keefektifannya juga belum terukur. Kapasitas produksi tergantung dari jumlah permintaan konsumen. Hasil penelitian ini dapat digunakan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat sehingga upaya tindak lanjut agar hasil penelitian berdaya guna. Apabila dibarengi dengan promosi yang baik maka tujuan dari penelitian ini dalam pemanfaatan sampah plastik akan tercapai dengan baik.

4. KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah potensi pengurangan sampah plastik terhadap lingkungan sebesar 3,9816 ton/hari dengan variasi 70%

plastik:30% pasir untuk setiap UMKM yang memproduksi 5 m3/hari produk paving block plastik. Kontribusi UMKM yang memproduksi paving block plastik terhadap potensi pengurangan sampah plastik sangat signifikan mencapai 60% dari jumlah sampah yang diproduksi setiap hari di seluruh Indonesia.

PERSANTUNAN

Penulis menyampaikan terima kasih kepada LPPM Universitas Lancang Kuning atas dukungan pembiayaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Laboratorium Program Studi Teknik Sipil Universitas Lancang Kuning yang telah menyediakan fasilitas penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Pusat Statistik Indonesia. (2019).

Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2019

“Hutan dan Perubahan Iklim. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

2. Surono, U.B., & Ismanto. (2016). Pengelolaan Sampah Plastik Jenis PP, PET dan PE Menjadi Bahan Bakar Minyak dan Karakteristiknya. Jurnal Mekanika dan Sistem Termal (JMST), 1(1), 32-37.

3. Nursyamsi dan Theresa, V. (2017). Pengaruh Penambahan Limbah Plastik HDPE Sebagai Substitusi Pasir Pada Campuran Batako.

Universitas Sumatera Utara. Medan.

4. Putra, H.P., & Yuriandala, Y. (2010). Studi Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Produk dan Jasa Kreatif. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan, 2(1), 21-31.

5. Purwaningrum, P. (2016). Upaya Mengurangi Timbunan Sampah di Lingkungan. Jurnal Teknik Lingkungan, 8(2), 141-147.

6. Chaerul, M., Agustina, E., & Widyarsana, I.M.W. (2020). Analisis Multikriteria dalam Pemilihan Sistem Pemrosesan Sampah di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Jurnal Teknologi Lingkungan, 21(2), 131-137.

7. Nasution, R.S. (2015). Berbagai Cara Penanggulangan Limbah Plastik. Journal of Islamic Science and Technology, 1(1), 97-104.

8. Septiani, B.A., Arianie, D.M., Risman, V.F.A.A., Handayani, W., & Kawuryan, I.S.I.

(2019). Pengelolaan Sampah Plastik di Salatiga: Praktik dan Tantangan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 17(1), 90-99.

9. Sultan, M.A., Tata, A., & Wanda, A. (2020).

Penggunaan Limbah Plastik PP Sebagai

(15)

Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22, No. 2, Juli 2021, 170-177 177 Bahan Pengikat pada Campuran Paving

block. Siklus: Jurnal Teknik Sipil, 6(2), 95-102.

10. Dermawan, M.H. (2011). Model Kuat Tekan, Porositas Dan Ketahanan Aus Proporsi Limbah Peleburan Besi Dan Semen Untuk Bahan Dasar Paving block. Jurnal Teknik Sipil

& Perencanaan, 1(3), 41-50.

11. Indrawijaya, B., Wibisana, A., Setyowati, A.D., Iswandi, D., Naufal, D.P., & Pratiwi, D. (2019).

Pemanfaatan Limbah Plastik LDPE Sebagai Pengganti Agregat Untuk Pembuatan Paving block Beton. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia UNPAM, 3(1), 1-7.

12. Enda, D., Sastra, M., Lizar, Zulkarnain, &

Rahman, B. (2019). Penggunaan Plastik Tipe PET Sebagai Pengganti Semen Pada Pembuatan Paving block. Jurnal Inovtek Polbeng, 9(2), 214-218.

13. Sari, K.I., & Nusa, A.B. (2019). Pemanfaatan Limbah Plastik HDPE (High Density Polyethylene) Sebagai Bahan Pembuatan Paving block. Buletin Utama Teknik, 15(1), 29- 33.

14. Yusrianti, Noverma & Hapsari, O.E. (2019).

Analisis Sifat Fisis Penyerapan Air Pada Paving block Dengan Campuran Variasi

Limbah Abu Ketel Dan Limbah Botol Plastik.

Ad-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan, 5(1), 01- 08.

15. Handayasari, I., & Artiani, G.P. (2019).

Perbandingan Kuat Tekan Paving block Ramah Lingkungan Berbasis Limbah Botol Plastik Kemasan Air Mineral Dengan Limbah Cangkang Kerang Dan Limbah Botol Kaca Sebagai Bahan Substitusi Terhadap Semen.

Construction and Material Journal, 1(1), 21- 27.

16. Amran, Y. (2015). Pemanfaatan Limbah Plastik Untuk Bahan Tambahan Pembuatan Paving block Sebagai Alternatif Perkerasan Pada Lahan Parkir di Universitas Muhammadiyah Metro. TAPAK, 4(2), 125- 129.

17. SNI 03-1974-1990. (1990). Tata Cara Pengujian Kuat Tekan Beton. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

18. SNI 03-6433-2000. (2000). Standar Nasional Indonesia Pengujian Absorpsi. Badan Standardisasi Nasional (BSN). Jakarta.

19. SNI 03-0691-1996. (1996). Persyaratan Mutu Bata Beton (Paving block). Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

(16)

INDEKS KATA KUNCI A Adsorben, 190, 191, 192, 193, 196, 197

Adsorpsi, 190, 191, 193, 195, 196, 197, 199

Adsorption, 199, 200, 201, 202, 203, 204, 205

Aerasi, 249, 250, 251, 253, 254, 255

Aerobik, 257, 264

Air bersih, 231, 232, 233 Air limbah, 162, 199

Air minum, 257, 258, 259, 260

Amonia, 222, 224, 225, 226, 227, 229, 230

Amonium, 190, 191, 192, 193, 195, 196, 197, 257, 258, 259, 262, 263, 264

B Baku mutu, 163, 167

Biofilter, 257, 259, 260, 262, 264

Biological Oxygen Demand, 249

Biomassa, 190, 191

Biosorben, 222, 223, 224, 225, 226, 227, 228, 229, 230 Biosorpsi, 222, 223, 224, 226, 227, 228

Biota sungai, 162

Black Soldier Fly, 222, 223, 224, 229, 230

C

Chemical Oxygen Demand, 249

D Dampak lingkungan, 147, 148, 149, 152, 156, 157, 158, 159 Danau toba, 231, 232, 233, 234, 235, 236, 237, 238, 239

Decanter, 206, 207, 208, 209, 210, 211, 212, 213, 214

Deodorisasi limbah, 222

Distribusi beras, 240, 241, 242, 245

E Emisi gas buang, 240, 242, 245, 247, 248 Emisi karbon, 240, 241, 243

Emisi, 147, 148, 149, 150, 151, 152, 156, 157, 2, 158, 159, 240, 241, 242, 243, 244, 245, 246, 247, 248

Energi, 240, 241, 244

Environmental noise pollution, 179

F Fermentasi anaerob, 147, 150

(17)

Filtrasi pasir cepat., 257, 263, 264

Filtrasi, 257, 258, 259, 260, 262, 263, 264, 265

G Gunung panggung, 147, 148, 149, 150, 153, 159

I Ikan nila, 162, 163, 164, 165, 166, 167 Industri tekstil, 199

Industri tempe, 215, 216, 217, 220

J Jawa barat, 240, 241, 248

K Karbon aktif, 199

Kawasan ekonomi khusus, 231 Kebisingan lalu lintas jalan, 178 Kekeruhan, 258, 259, 260, 261, 264 Kendaraan bermotor, 245

Klorinasi, 258, 259, 260, 263, 264 Koagulan, 207, 209, 213, 214 Kontaminasi, 166

Kota bandung, 138, 139, 140, 240, 241, 242, 245, 248 Kristalisasi, 215, 216

L

Langmuir Isotherm, 199, 203 Life Cycle Assessment, 147, 159

Limbah cair, 162, 163, 164, 165, 166, 167, 215, 216, 217, 220, 249, 250, 251, 255 Limbah industri makanan, 222

Limbah infeksius, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 144, 145 Limbah lumpur, 206, 207, 210, 212, 213, 214

Limbah organik, 222, 223, 224, 229 Limbah rumah sakit, 216

Lingkungan, 170, 172, 174, 175, 176, 177, 178, 241, 242, 243, 244, 248

M Maggot, 222, 223, 224, 225, 228, 229, 230 Mikroba, 222, 223, 227, 249, 250, 251, 254, 255 Minimalisasi limbah, 243

Model cortn, 178

(18)

O Oksigen terlarut, 232, 236, 257, 258, 259, 263, 264

P Paparan, 162, 163, 164, 165, 166, 167

Paving block, 170, 172, 173, 174, 175, 176, 177

Pemanasan global, 147, 148, 149, 152, 153, 156, 157, 158, 159, 161 Pencemaran udara, 242, 244, 245

Pengelolaan limbah, 138, 139, 140, 143, 145, 190

Pengelolaan sampah, 147, 148, 149, 150, 157, 158, 159, 160 Pengiriman berbagi, 240, 242, 246, 247, 248

Pengolahan limbah, 249, 250, 251, 255

Pengomposan, 147, 148, 149, 150, 151, 152, 153, 9, 156, 157, 2, 158, 159 Penyamakan kulit, 162, 163, 164, 165, 166, 167

Pewarna sintetis, 199

Plastik, 170, 172, 173, 174, 175, 176, 177 Polutan, 257, 258, 259, 262, 264

Produksi bersih, 206, 207, 213, 214 Proses aerasi, 215, 217, 220 Pupuk kandang, 222, 224, 226, 228 Pupuk, 215, 216, 217, 219, 220

R Rasio konversi pakan, 162, 163, 164, 165, 166, 167

Reactive Black,

199, 200, 201, 205

Reduksi emisi, 240

Removal efficiency, 199, 202

Rumah sakit, 138, 139, 140, 142, 144, 145, 146

S Sabut kelapa, 190, 191, 192, 193, 194, 197 Sampah anorganik, 170, 172, 176, 177

Sampah plastik, 170, 172, 173, 174, 175, 176, 177 Sampah, 243

Sarang tawon, 257, 259, 262, 264

Sedimentasi, 258, 259, 260, 262, 263, 264 Sektor logistik, 243

Sem, 215, 216, 217, 219, 220

Serbuk gergaji kayu, 190, 191, 192, 193, 194, 197 Silikon carbida, 190, 191

Sludge, 222, 223, 224, 225, 226, 227, 228, 229

Spektrofotometri, 190, 192, 193

Struvite, 215, 216, 217, 219, 220, 221

T

Textile industry, 199, 200

Textile wastewater, 199, 200, 204

(19)

Timbulan limbah, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 145 Tingkat kebisingan, 178

Toksisitas, 163, 164

Transportasi, 240, 241, 242, 244, 246

U Unit perawatan, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 144, 145

V Volume lumpur, 206, 207, 209, 210, 212, 213

W

Wastewater, 199, 200, 201, 202, 203, 204, 205

Wisata air, 231

Z Zat organik, 249, 250, 258, 259

(20)

INDEKS NAMA PENULIS A Agung Riyadi, 231

Agus Prasetya, 147 Ariyanti Sarwono, 199 Asep Saefumillah, 190 Astien Artsen Asyari, 178

C Charlena, 222

D Deryl Baharudin Sopandi, 240

E Enri Damanhuri, 138 Erwan Adi Saputro, 249

G Gita Nur Apriani, 178

H Hanies Ambarsari, 190, 222

I I Wayan Koko Suryawan, 199 Iman Haryanto, 147

Iva Yenis Septiariva, 199

(21)

J Joko Prayitno Susanto, 231

K Ketut Sumada, 249

L Luluk Edahwati, 215

M Melandy Dwi Priambodho, 249 Mila Dirgawati, 178

Muchammad Fauzi, 240

N Novika Cahya Chaerani, 249 Nusa Idaman Said, 257

R R. Triyogo, 178

Rizqi Rendri Anggriawan, 215

S Said Azmi Muhammad, 206 Satmoko Yudo, 257

Susi Sulistia, 222 Sutiyono, 215

T Tatan Sukwika, 206

Taufiq Ihsan, 162

Tia Agustiani, 190

Tivany Edwin, 162

(22)

V Venny Ulya Bunga, 138 Verani Hartati, 240 Vira Elza, 162

W Wahyu Widayat, 257

Y Yudhi Soetrisno Garno, 231

Z Zainuri, 170

(23)

Pusat Teknologi Lingkungan

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Gedung Geostek 820, Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan 15314 Telp.021-75791377 ext. 4006 | Fax. 021-75791407

http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL

Gambar

Gambar 1. Sampel penelitian 5 cm x 5 cm x 5 cm
Tabel 1. Kekuatan fisik paving block
Tabel 2. Kuat tekan dan porositas rata-rata paving block
Gambar 2. Pengujian kuat tekan dan porositas
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dosis optimum penambahan aktivator pada variasi bahan kompos campuran sampah organik adalah penambahan 15 ml lindi tanpa campuran MOL nasi basi (K3) yang dibuktikan

Faktor penghambat dalam pelaksanaan surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang pengurangan sampah plastik melalui program kantong plastik

Dari koefisien variasi, terlihat tingkat fluktuasi konsentrasi Nitrit effluent IPAL Banyumanik 2013 tipe Shallow sewer merupakan yang paling tidak stabil/heterogen,

Tujuan dari kegiatan ini adalah Memasyarakatkan teknologi pirolisis secara sederhana dan handal dalam rangka pengolahan sampah plastik menjadi sebuah bahan bakar minyak

Simpulan hasil pembahasan sebagai jawaban permasalan penelitian ini, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta telah melakukan beberapa upaya dalam pengelolaan sampah plastik di

Unit variasi flokulasi yang pertama menggunakan gravelbed flocculator dengan potongan pipa 1” dengan ukuran 2cm, potongan pipa ini di fungsikan sebagai ruang antar

Berdasarkan dari proses klasifikasi 1120 record dataset pembelian material plastik injection yang telah dilakukan pengujian menggunakan cross validation sebanyak

Dari hasil pengujian karakteristik bahan bakar dan durasi proses pirolisis maka dapat diketahui keseimbangan energi pada setiap variasi campuran limbah plastik