1
J U R N A L S E N I P E R T U N J U K A N
Jurnal Seni Pertunjukan
Vol 1 No.1 Maret 2017 Hal. 1-85, ISSN : 2597-9000 (Online)
Terbit dalam dua kali setahun, Jurnal Laga-Laga merupakan Jurnal Ilmiah Berkala tentang Seni Pertunjukan maupun ilmu pengetahuan yang memiliki keterkaitan dengan ranah kajian tersebut. Pengelolaan Jurnal Laga-Laga berada di dalam lingkup Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Alamat Redaksi : Gedung Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Jalan Bahder Johan. Padangpanjang-27128.Sumatera Barat.Telpon (0752)-485466.
Fax (0752)-82803. www.journal.isi-padangpanjang.ac.id /email: [email protected] Penanggung Jawab
Dekan FSP ISI Padangpanjang Pengarah
Rozalvino Ferry Herdianto Ketua Penyunting
Yunaidi Penyunting
Hanefi Yurnalis Idun Ariastuti Ninon Syofia
Yusnelli Emridawati
Syahrul Desi Susanti Mitra Bebestari Novesar Jamarun
Ediwar Hajizar Nursyirwan Andar Indra Sastra Koordinator Redaktur
Saaduddin Redaktur Erfaliza Yusnayetti Amelia Fitri Leni Sandra Dewi Tata Letak dan Desain Sampul
Aryoni Ananta Web Jurnal Vera Novaliza
Rahmadhani Penerjemah Eliapma Syahdiza
Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1 No.1 Maret 2017
DAFTAR ISI
Penulis
Sillaturrahmi 1 - 7
8 - 14
15 - 26
27 - 35
36 - 43 44 - 51
52 - 58
59 - 65 66 - 75
76 - 85 Adiyanto
Dwi Okta Renanda, Suryati, Umilia
Rokhani Yudhi Panji
Pratama
Andesta Lusiana Suci Rahmadani
Wiky Indra
Putri Mulkiah Aan Nursyam
Aidil Efendi
Dikia Kubano Dalam Upacara Baralek Kawin Di Kenagarian Pangkalan Kecamatan Pang- kalan Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Kota
Arransemen Lagu Bangun Pemudi Pemuda Dan Maju Tak Gentar Dalam Permainan Drum Band Di SDN 02 Koto Tangah Tilatang Kamang Kabubaten Agam
Eksplorasi Organ Vokal Dan Proses Latihan Beatbox Pada Komunitas Beatboxing Of Jogja Di Taman Budaya Yogyakarta
Pemeranan Tokoh Kardiman Dalam Lakon Senja Dengan Dua Kematian Karya Kird- jomulyo
Pijak Baisi
Pertunjukan Tari Zapin Pecah Tiga Dalam Upacara Malam Bainai Pada Masyarakat Melayu Deli Sumatera Utara
Alih Wahana Dan Rancangan Dramaturgi Naskah Randai Parang Kamang Dengan Gaya Realisme Sosial
Bentuk Tari Kipas Di Desa Perentak Kecama- tan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin Provinsi Jambi
Bentuk Penyajian Tari Adok Bukit Junjung Sirih Di Nagari Paninggahan Kabupaten So- lok
Tabrakan Sejalan
Judul Hlm
27
PEMERANAN TOKOH KARDIMAN DALAM LAKON SENJA DENGAN DUA KEMATIAN
KARYA KIRDJOMULYO
Yudhi Panji Pratama
Institut Seni Indonesia Padangpanjang [email protected]
ABSTRAK
Aktor merupakan unsur inti dalam seni peran dan seni teater pada umumnya. Namun perlu diin- gat, dalam berperan tidak semua aktor berhasil dalam membawakan karakter yang ia perankan.
Lakon Senja dengan Dua Kematian karya Kirdjomulyo, merupakan lakon realis psikologis, karena karakter dari masing-masing tokoh di dalam naskah tersebut memiliki tekananan secara psikologis yang disebabkan kekecewaan terhadap tokoh lain, dan mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Perasaan kecewa dan dendam terhadap istrinya, menjadikan tokoh Kardiman me- miliki dinamika psikologis yang berubah-ubah karena istrinya tidak dapat melupakan kekasih lamanya. Anaknya, Wijasti menganggap semua yang terjadi adalah karena kesalahan Kardiman.
Wijasti tidak pernah mengetahui bahwa Kardiman bukan bapak kandungnya, karena Kardiman selalu menutupi aib istrinya. Pendekatan akting presentasi digunakan sebagai rujukan untuk mengaplikasikan tokoh Kardiman ke atas pangung. Pemeran dituntut untuk terlibat dalam situasi dan kondisi tokoh dalam naskah dan disesuaikan dengan kebiasaan dan hal-hal yang khas dalam pribadi pemeran dengan atributnya yang dekat dengan keseharian (Sitorus, 2002:
6). Metode yang pemeran gunakan yaitu metode akting “to be” yang digagas oleh Stanislavski, serta metode indentifikasi karakter yang dibuat oleh Eka D. Sitorus.
Kata kunci : Pemeranan, Tokoh Kardiman, Senja dengan Dua Kematian, Presentasi, Stan - islavky.
ABSTRACT
Actor is generally the core element in acting and theater. However, it needs to be remembered that in acting not all actors succeed in playing their roles. The play of Senja dengan Dua Ke- matian written by Kirdjomulyo is psychological realist play because character of each figure in that script has psychological pressure for disappointment toward other figures and seeking oth- ers’ mistakes. Kardiman figure’s disappointment and resentment toward his wife results on his changeable psychological dynamics because his wife cannot forget her old lover. His daughter, Wijasti considers all that happens are because of Kardiman’s fault. Wijasti never knows that Kardiman is not her biological father because Kardiman always covers up his wife’s disgrace.
The approach of acting presentation is used as reference of applying Kardiman’s figure on stage. Actors are demanded to get involved in figures’ situation and condition in script adjusted to actors’ personal habit and unique things with attributes that’s close to their daily life (Sitorus, 2002: 6). Method used by actors is the acting method of “to be” created by Stanislavski, and method of character identification made by Eka D. Sitorus.
Keywords : Characterization, Kardiman figure,
28. VOL 1 NO.1 MARET 2017 - LAGA-LAGA PENDAHULUAN
Pemeranan merupakan unsur penting dalam seni teater, istilah pemeranan disebut juga dengan seni peran atau seni akting. Se- orang pemeran dikenal dengan sebutan aktor, aktris, pemain, tokoh, dan sebagainya. Aktor merupakan unsur inti dalam seni peran dan seni teater pada umumnya. Namun perlu di- ingat, dalam berperan tidak semua aktor ber- hasil dalam membawakan karakter yang ia perankan.
Seorang pemeran juga membutuhkan kepekaan rasa (sensibilitas). Hal ini pent- ing untuk menciptakan ‘ansamble’ dalam permainan. Artinya, seorang pemeran tidak hanya bertugas mengekspresikan karakter tokoh yang ia perankan, tetapi juga harus dapat memberikan respon terhadap ekspresi karakter yang ditampilkan oleh pemeran lain.
Dengan demikian, persoalan rasa atau emosi tidak hanya terbatas pada kepekaan rasa se- cara individual, tetapi juga memperhitung- kan emosi pemeran lain yang sedang tampil secara bersamaan. Hal inilah yang kemudian lazim disebut sebagai pengasahan ‘sukma”.
Harymawan menjelaskan bahwa :
“Seorang aktor dalam melakukan kewajiban- nya sebagai aktor harus memiliki sukma yang telah masak. Dengan kata lain seorang aktor mempunyai sukma yang dapat hidup dalam situasi kehendak pengarang sehingga tokoh yang telah dibangun pengarang menjadi to- koh yang hidup oleh aktor”. (Harymawan, 1998: 31)
Artinya seorang aktor harus dapat menyampaikan situasi dan kehendak penga- rang lakon. Lakon Senja dengan Dua Kema- tian karya Kirdjomulyo inilah yang kemudian menjadi acuan bagi pemeran dalam menyam- paikan pesan cerita kepada penonton sesuai dengan keingginan pengarang.
Lakon Senja dengan Dua Kematian karya Kirdjomulyo menceritakan tentang kehidupan seorang laki-laki bernama Kardi- man, yang suka berjudi dan mabuk-mabukan.
Kardiman juga menikahi seorang wanita yang hamil diluar nikah untuk menutupi aib keluarga wanita tersebut. Tidak bertanggung- jawabnya ayah kandung Wijasti, serta cinta
yang mendalam ibu Wijasti terhadap lelaki tersebut, membuat ibu Wijasti tidak pernah bisa melupakannya. Hal inilah yang membuat Kardiman merasa kecewa dan tidak pernah betah dirumah. Kardiman kembali dengan kebiasaan buruknya yaitu berjudi, mabuk- mabukan, serta main perempuan.
Kebiasaan buruk Kardiman tersebut berakibat buruk terhadap keluarganya sendi- ri, tanpa ia sadari, Kardiman telah meniduri kekasih sahabatnya sendiri, Karnowo. Hal ini membuat Karnowo ingin menghancur- kan Kardiman dengan mendekati anaknya, Wijasti. Karnowo yang memiliki uang men- coba merayu Kardiman, agar dirinya dapat menikahi Wijasti. Kardiman menyetujui hal tersebut tanpa mengetahui tujuan asli Kar- nowo. Kardiman menyetujui keinginan Kar- nowo karena ia juga memiliki hutang yang banyak pada Karnowo. Selama ini uang yang digunakan Kardiman untuk berjudi, membeli minuman keras dan bermain wanita adalah uang yang ia pinjam dari Karnowo.
Tokoh Kardiman dalam lakon Senja dengan Dua Kematian memiliki sifat dan kebiasaan yang buruk sebagai seorang laki- laki dan juga sebagai seorang bapak. Dia selalu pulang larut malam dan bahkan mem- buat kegaduhan di dalam rumah, padahal dia mengetahui bahwa istrinya sedang sakit keras. Kardiman tidak pernah ingin mencari nafkah bahkan sebaliknya, dia menghabiskan harta benda yang ia miliki untuk berjudi serta main perempuan.
Perasaan kecewa dan dendam ter- hadap istrinya, menjadikan tokoh Kardiman memiliki dinamika psikologis yang berubah- ubah karena istrinya tidak dapat melupakan kekasih lamanya. Anaknya, Wijasti men- ganggap semua yang terjadi adalah karena kesalahan Kardiman. Wijasti tidak pernah mengetahui bahwa Kardiman bukan bapak kandungnya, karena Kardiman selalu menu- tupi aib istrinya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya Kardiman sangat menyayangi ke- luarganya, namun di sisi lain Kardiman juga menyalahkan keluarganya sebagai penyebab penderitaan yang ia alami dalam hidupnya.
Tekanan secara psikologis itulah yang membuat sifat-sifat Kardiman tidak
29 pernah dapat ditebak. Kompleksitas karak-
ter Kardiman inilah yang menjadi ketertari- kan pemeran untuk dapat menghadirkannya ke atas panggung. Tidak semua orang pernah mengalami hal seperti apa yang dialami oleh Kardiman. Karakter tokoh Kardiman seperti yang telah dijelaskan di atas, pemeran hadir- kan dengan menggunakan akting presentasi.
Pemeran dituntut untuk terlibat dalam situasi dan kondisi tokoh dalam naskah dan disesuai- kan dengan kebiasaan dan hal-hal yang khas dalam pribadi pemeran dengan atributnya yang dekat dengan keseharian (Sitorus, 2002:
6). Metode yang pemeran gunakan untuk mencapai semua yang telah dijelaskan dia- tas yaitu metode akting “to be” yang digagas oleh Stanislavski.
PEMBAHASAN
Kepekaan dalam pemeranan meru- pakan nilai luhur dari akting, karena tujuan dasar seorang aktor adalah menyampaikan pesan dalam lakon yang dibuat oleh penulis kepada penonton. Japi Tambayong juga men- yampaikan bahwa:
“Wujud yang kasat mata dari suatu seni per- gerakan tubuh, yang menirukan prilaku ma- nusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu kemudian dirancang lalu diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton” (Japi Tambayong, 2000: 9)
Segala bentuk yang menyuguhkan prilaku manusia dengan realitasnya disebut sebagai naskah realisme. LakonSenja den- gan Dua Kematian karya Kirdjomulyo lebih mengedepankan nilai-nilai dan bentuk re- alitas sosial kehidupan manusia dan realitas psikologi yang dialami. Lakon Senja Dengan Dua Kematian merupakan naskah Well made play dimana ciri-ciri naskah well made play alur atau plot tersusun dengan rapi, penggam- baran karakter dan situasinya dapat teriden- tifikasi dengan jelas, terdapat suspense dan konflik, serta akhir yang logis.
Lakon Senja Dengan Dua Kematian seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa setiap tokohnya memiliki tekanan secara psikologis. Japi Tambayong menjelaskan,
bahwa: “Setiap karakter dari semua naskah drama yang baik, pasti menunjukan peruba- han jiwa peran dari awal cerita ke akhir ce- rita. Perubahan itu pulalah yang membentuk drama sebagai instansi dari gambaran nyata manusia menghadapi tantangan dalam ke- hidupannya. Ketika ia berubah, karena tan- tangan kehidupan itu juga menarik karena tidak diam, maka perubahan yang diperhati- kannya adalah bergumulnya jiwa untuk men- capai solusi drama: kebaikan mengalahkan kejahatan”. (Japi Tambayong, 2000: 37)
Lakon Senja dengan Dua Kema- tian merupakan naskah realisme psikologis, yang lebih mengacu dan bertitik fokus pada psikologi tokoh yang ada di dalamnya. Kird- jomulyo membuat lakon Senja dengan Dua Kematian, karena ia banyak menemukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka perbuat. Hal ini digambarkan Kirdjomulyo dalam sebuah ke- hidupan rumah tangga yang setiap tokohnya tidak bertanggung jawab, baik terhadap istri, anak maupun lingkungannya.
Lakon ini juga lebih mengedepankan nilai-nilai dan bentuk realitas sosial kehidu- pan manusia dan realitas psikologi yang di- alami. Hal ini digambarkan melalui tokoh Kardiman yang selalu mencari kesalahan anak dan istrinya. Kardiman yang awalnya menikahi ibu Wijasti karena perasaan say- ang, mulai kecewa karena mengetahui bahwa ibu Wijasti masih mencintai laki-laki yang telah menghamilinya. Padahal, ayah kandung Wijasti tidak pernah bertanggungjawab ter- hadap perbuatan yang telah ia lakukan pada ibu Wijasti.
Kardiman memiliki sifat dan kebi- asaan yang buruk sebagai seorang laki-laki dan juga sebagai seorang bapak. Dia se- lalu pulang larut malam dan bahkan mem- buat kegaduhan di dalam rumah, padahal dia mengetahui bahwa istrinya sedang sakit keras. Kardiman tidak pernah ingin mencari nafkah bahkan sebaliknya, dia menghabis- kan harta benda yang ia miliki untuk berjudi serta main perempuan. Perasaan kecewa dan dendam terhadap istrinya, menjadikan to- koh Kardiman memiliki dinamika psikologis
30. VOL 1 NO.1 MARET 2017 - LAGA-LAGA yang berubah-ubah karena istrinya tidak da- pat melupakan kekasih lamanya.
Wijasti menganggap semua yang ter- jadi adalah karena kesalahan Kardiman, ka- rena selama ini ia tidak pernah mengetahui bahwa Kardiman bukan bapak kandungnya, karena Kardiman selalu menutupi aib istrin- ya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya Kardiman sangat menyayangi keluarganya, namun di sisi lain ia juga menyalahkan kelu- arganya sebagai penyebab penderitaan yang ia alami dalam hidupnya. Tekanan inilah yang membuat sifat-sifat Kardiman tidak per- nah dapat ditebak.
Seorang aktor mengetahui bahwa ekspresi, aksi-aksi karakter tergantung dari identifikasi dengan pengalaman pribadinya sendiri (Stanislavsky menyebutnya dengan istilah the magic if ) dengan kata lain, si ak- tor dengan sengaja menggunakan nalurinya untuk memainkan perannya. (Eka D Sitorus, 2002: 29). Pemeran melakukan tinjauan ul- ang terhadap pengalaman pribadi serta mel- akukan observasi terhadap lingkungan seki- tar. Hal ini bertujuan agar pemeran mampu memainkan karakter tokoh Kardiman, ber- dasarkan observasi yang telah dilakukan se- hingga pemeran dapat ‘menjadi’ Kardiman yang sebenarnya.
Metode Pemeranan
Metode yang pemeran gunakan dalam memerankan tokoh Kardiman adalah metode akting to be Stanislavsky. Metode ak- ting Stanilavsky berguna untuk memudahkan pemahaman tokoh dalam menciptakan peran.
Proses penciptaan karakter dilakukan pemer- an dengan menggunakan beberapa tahapan- tahapan sebagai berikut :
1. Motivasi, artinya pemeran memotivasi di- rinya sendiri agar mampu memainkan peran yang jujur dan tidak dilebih-lebihkan. Tahap ini dilakukan dalam pencarian makna (inter- pretasi) hingga kalimat dalam dialog.
2. Imajinasi, artinya seorang pemeran harus menempatkan dirinya sebagai sitokoh dengan karakter yang dimilikinya. Pada lakon Senja dengan Dua Kematian, pemeran menempat- kan posisi sebagai seorang laki-laki yang
hidup dalam tekanan yang disebabkan oleh perbuatanya sendiri. Sikap serba salah, dan keinginan yang tak pernah terpenuhi mem- buat tokoh Kardiman memiliki karakter yang berubah-ubah. Pada tahap ini pengembangan imajinasi pemeran lakukan dengan peman- ggilan kembali pengalaman hidup pemeran (Emotional Re-call)
3. Konsentrasi, artinya proses pemusatan fikiran pada lakon yang dimainkan. Pemeran berusaha sebaik mungkin menyerahan se- luruh hati dan jiwa ke dalam karakter yang dipilih sehingga penonton hanya melihat to- koh Kardiman di atas panggung. Konsentrasi dilakukan dengan pengolahan pernafasan dan pemusatan perhatian pada karakter dan perkembangan emosinya dalam lakon.
4. Ingatan emosi, hal ini berguna untuk dalam pencarian dan penempatan emosi si tokoh.
Pemeran mencoba menghayati kembali apa yang pernah dirasakan dalam kehidupan nya- ta, sesuai dengan perasaan yang dikehendaki untuk kemudian ditransformasikan ke dalam pertunjukan.
5. Selain itu pemeran juga melakukan ob- servasi untuk melengkapi keperluan kara- ter tersebut. Pemeran melakukan observasi melalui film, atau kembali melihat ke hal atau peristiwa nyata yang mirip dengan konflik yang dialami oleh tokoh Kardiman.
A. Proses Latihan
Proses latihan merupakan aktivitas yang terstruktur untuk membantu pemeran menemukan jati dirinya sehingga pemeran mampu mengembangkan diri. Proses latihan adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahapan-tahapan tertentu dengan men- gacu pada konsep pemeranan. Latihan teknis merupakan proses pengenalan pemeran den- gan penataan panggung, busana, suara, ca- haya dan property. Adapun tahapan proses latihan teknis dalam membangun akting dan karakter tokoh Kardiman dalam lakon Senja dengan Dua Kematian karya Kridjomulyo adalah sebagai berikut:
31 1. Reading
Reading merupakan tahapan awal setelah casting yang bermanfaat untuk me- mahami teks lakon. Di samping itu, proses reading membantu aktor menemukan diksi, intonasi dan mempertegas artikulasi. Dinami- ka dan tempo dialog, juga ketepatan aksi dan reaksi verbal yang dibutuhkan akan lebih mu- dah terbangun. Orientasi lainnya dari reading adalah untuk menemukan karakter serta peru- bahan emosi setiap tokoh dalam lakon sesuai dengan tuntunan sutradara. Dengan reading para pemeran akan lebih akrab dengan dia- lognya sehingga hubungan antar tokoh akan lebih mudah tercipta. Hal ini bertujuan agar pemeran tidak melenceng dari struktur lakon.
Proses awal reading lakon Senja dengan Dua Kematian, dilakukan dengan membaca di- alog masing-masing hingga akhir. Kemudian dilanjutkan dengan dramatik reading, dimana para tokoh membaca dialog dengan ‘memas- ukan’ feel dan emosi tokoh ke dalam dirinya.
Hal ini bertujuan untuk agar para aktor lebih cepat menemukan karakter dari tokoh yang ia perankan. Pada tahap ini, pemeran melaku- kan reading sambil berdiri dan berjalan men- cari blocking. Hal ini bertujuan untuk mem- permudah pemeran membangun suasana dan secara tidak langsung juga menciptakan blocking yang akan digunakan.
2. Blocking
Blocking adalah kedudukan pemeran saat bermain di atas panggung. Pada tahapan latihan lakon Senja dengan Dua Kematian, proses blocking dilakukan para aktor untuk merespon setiap dialog yang diucapkan serta membangun suasana yang dalam lakon. Pada tahap pencarian blocking, pemeran mengu- rutkan menjadi dua tahapan sebelum akhirn- ya menemukan kecocokan diantaranya:
a. Blocking Kasar
Dalam tahap ini pemeran berusaha menemukan posisi yang menurutnya cocok.
Ini merupakan kebebasan kreatifitas pemer- an dalam pencarian pola, gesture dan move secara acak yang seringkali masih berubah- ubah. Blocking kasar juga berguna untuk mengukur kemampuan dramatik pemeran
terkait dengan kesadaran ruang serta elas- tisitas tubuhnya. Eksplorasi yang dilakukan pemeran itulah yang nanti akan diseleksi sutradara sesuai dengan kebutuhan irama, dramatik, suasana serta komposisi panggung.
b. Blocking Halus
Blocking halus adalah tahap penyem- purnaan blocking kasar yang telah dilaku- kan aktor dalam proses latihan-latihan sebe- lumnya. Dalam bloking halus ini sutradara dan aktor bekerja sama menemukan pola yang sesuai dengan peran serta kenyamanan sang aktor untuk bergerak, tujuannya untuk mengembangkan penghayatan peran, men- ciptakan inner akting dan mengembangkan permainan yang bersifat kolektif.
3. Pengenalan Property dan Kostum
Tahapan ini bermanfaat sebagai pen- genalan dan pengakraban pemain dengan property maupun kostumnya. Maka latihan dilakukan menggunakan property atau hand- property yang dibutuhkan oleh pemain. Be- gitu pun halnya dengan kostum, beberapa minggu sebelum pertunjukan para pemeran latihan menggunakan kostum untuk melihat kecocokan serta kenyamanan para pemeran menggunakannya agar tidak mengganggu bentuk permainannya. Kostum yang digu- nakan juga harus sesuai dengan postur tubuh aktor dan juga latar tempat, sosial dan waktu dalam lakon.
Pada tahap ini, pemeran mulai meng- gunakan property sejak tiga minggu sebelum pementasan. Sedangkan pengenalan kostum dan handproperty lainnya dilakukan sem- inggu sebelum pementasan. Pemeran meng- gunakan kostum yang sesuai dengan latar waktu, sosial, dan fisik tokoh yang pemeran perankan. Penggunaan property dan kostum perlu dilakukan lebih cepat, hal ini bertujuan agar pemeran cepat menyesuaikan diri den- gan kostum dan property yang nantinya akan digunakan pada saat pementasan.
4. Latihan Dengan Musik
Kehadiran musik dimaksudkan untuk membantu mempertegas suasana dan emosi para pemeran. Pemusik hadir pada saat para
32. VOL 1 NO.1 MARET 2017 - LAGA-LAGA pemeran sudah selesai dengan permasalahan hafalan dialog dan paham dengan karakter to- koh masing-masing. Pada tahap ini, awalnya pemusik hadir hanya untuk menyaksikan lati- han hingga selesai, baru setelah itu penata musik dapat menentukan instrument yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan. Instru- ment yang diberikan bertujuan sebagai pen- gantar suasana dalam pertunjukan nantinya.
Maka dari itu, para aktor juga harus mampu mengikut alunan instrument yang diberikan untuk mendukung suasana dan emosi aktor.
Pada proses latihan pementasan Senja dengan Dua Kematian, pemeran melakukan latihan dengan musik seminggu sebelum pe- mentasan. Sebelumnya, penata musik sudah melihat latihan dan mulai mencari instrumen dan nada yang cocok dengan adegan tersebut.
Kemudian proses dilanjutkan dengan latihan gabungan menggunakan sistem cut to cut un- tuk menyesuaikan dengan mood permainan, agar tercipta keselarasan antara musik, sua- sana dan permainan para aktor. Setelah itu, pemeran dan musik mulai menyatukan per- mainan sehingga emosi yang dimainkan menyatu. Setelah segala unsur dalam musik dan pemeran menyatu, maka terjalin dinami- ka yang akan dihadirkan.
5. Finishing
Finishing merupakan tahap peny- empurnaan atau pematangan dari keseluru- han tahap di atas. Artinya pengembangan kemampuan interaksi aktor terkait dengan elemen-elemen panggung meliputi properti, setting, musik, dan kostum yang digunakann- ya. Kemudian menyempurnakan hal-hal keci, seperti penggunaan bussines acting, agar menyatu dengan keutuhan perannya sehingga setiap gerak dan ucapannya terkesan wajar (tidak dibuat-buat). Berbagai elemen pang- gung yang terkait juga tentunya harus mel- akukan penyelaras akhir seperti penggunaan handprop, letak set, efek pencahayaan, dan daya dukung musik terhadap emosi dan sua- sana kejadian serta kontekstual pilihan instru- men atas latar cerita. Pada tahap ini pemeran melengkapi semua unsur-unsur yang dibu- tuhkan untuk melengkapi permainan di atas
panggung nantinya. Elemen-elemen yang ada di atas panggung juga dilengkapi seperti sett dan property, sesuai dengan lakon yang dipentaskan.
6. Gladi Resik (GR)
Gladi Resik adalah latihan terakhir yang sedapat mungkin serupa dengan pertun- jukan. Pemeran bermain menggunakan sett dan property utuh dilengkapi dengan elemen- elemen pendukung seperti musik, kostum, rias dan tata cahaya. Gladi Resik dilakukan untuk melihat kekurangan-kekurangan yang harus dilengkapi sebelum pertunjukan sebe- narnya. Pada proses gladi resik, pemeran ber- main seolah-olah melakukan pertunjukan se- benarnya, tidak hanya kekuarangan dari segi artistik namun kekurangan aktor dalam ber- main juga akan terlihat dan dapat diperbaiki sebelum pertunjukan.
7. Pementasan
Pementasan merupakan hari penen- tuan, saat seluruh kemampuan pemeran yang telah dilatih akan dituangkan secara langsung dihadapan penonton. Kejadian-kejadian tak terduga di luar proses bisa saja terjadi, hal inilah yang menuntut kecerdasan dan ketepa- tan berfikir seorang pemeran. Para pemeran harus mampu mengambil tindakan antisipasi (improvisasi) untuk mengatasi kesalahan- kesalahan sebelum diketahui penonton se- hingga pertunjukan dapat terus berlangsung.
Adapun pertunjukan naskah Senja dengan Dua Kematian karya Kirdjomulyo ini dilak- sanakan pada hari selasa, tanggal 24 Janu- ari 2017. Berikut ini foto pertunjukan Senja Dengan Dua Kematian Karya Kirdjomulyo.
33
Gambar 1.
Adegan I. Karnowo membujuk Kardiman agar mau menikahkan Wijasti dengannya.
(Foto. Asriel Fahmi, 2017)
Gambar 2.
Adegan II. Kardiman mengatakan pada Wijasti bahwa selama ini Ibu Wijasti
tidak pernah mencintainya sebagai seorang suami (Foto. Asriel Fahmi, 2017)
Gambar 4.
Adegan XI. Setelah memperkosa Wijasti untuk membalaskan dendamnya terhadap Kardiman,
Karnowo pergi meninggalkan Wijasti begitu saja.
(Foto. Asriel Fahmi, 2017)
B. Rancangan Artistik 1. Setting
Setting merupakan tempat kejadian cerita yang terkait dengan tempat, waktu ser- ta suasana kejadian. Setting yang digunakan dalam pementasan Senja dengan Dua Kema- tian karya Kirdjomulyo adalah sebuah rumah besar yang mengambarkan bahwa dulunya keluarga tersebut pernah kaya. Rumah terse- but menggambarkan kondisi sosial dari tokoh Kardiman, yang memiliki status ekonomi menengah ke bawah. Dalam rumah tersebut Satu set kursi tamu, televisi lengkap dengan mejanya dan terdapat dua kamar, yakni kamar wijasti serta kamar kardiman.
2. Properti
Properti dan handproperty berguna untuk menunjang permainan yang terkait dengan teknik akting. Pengenalan lebih awal terhadap properti sangat mendukung keakra- pan pemeran dengan properti yang digunakan agar eksplorasi aktor terhadap peran terjalin sempurna. Sama halnya dalam pementasan Senja dengan Dua Kematian yang menggu- nakan beberapa property untuk mendukung peran, diantaranya kursi tamu lengkap den- gan mejanya, televisi, kursi santai wijasti beserta meja, kalender, jam dinding serta se- buah lukisan usang. Sedangkan handproperty yang digunakan dalam pementasan Senja dengan Dua Kematian adalah rokok, cangkir besi, serta teko, uang palsu.
3. Musik
Keberadaan musik berguna untuk penguat suasana baik bagi pemeran maupun penonton. Musik dalam pementasan Senja dengan Dua Kematian karya Kirdjomulyo bertujuan untuk menegaskan pada setiap ade- gan maupun pergantian adegan serta menun- jang emosi pemeran. Karakter musik yang digunakan dalam pementasan Senja dengan Dua Kematian menyesuaikan dengan peru- bahan suasana serta penekanan-penekanan (suspen) sesuai alur lakon. Pembentukan ac- cord maupun musik didasarkan pada musik tema yang bertolak pada suasana yang domi-
34. VOL 1 NO.1 MARET 2017 - LAGA-LAGA nan dalam lakon. Musik dalam pementasan Senja dengan Dua Kematian menggunakan beberapa instrument barat yang mengguna- kan alat musik gitar, contra bass,Violin (bio- la), clarinet, cello. Sebagai tambahan dalam membangun suasana pementasan, pemeran juga menggunakan instrumen vokal.
4. Kostum dan Rias
Kelengkapan suatu pementasan me- merlukan semua hal yang mendukung terkait dengan lakon, untuk itu ada suatu tatanan rias dan kostum yang dirancang untuk memberi penajaman karakter tokoh yang dimainkan.
Penegasan itu meliputi penegasan fisik, psikis dan sosial tokoh.
Pada pementasan Senja dengan Dua Kematian, tokoh Kardiman awalnya meng- gunakan pakaian kemeja serta celana dasar dan memakai jaket, lalu pada adegan Kardi- man yang sekarat menggunakan kaos berke- rah.
5. Tata Cahaya
Secara mendasar pencahayaan diman- faatkan sebagai penerangan namun dalam pe- mentasan teater lebih spesifik pencahayaan berguna sebagai pendukung suasana, pen- anda waktu dan spasi antar adegan. Dalam pementasan Senja dengan Dua Kematian agar pencahayaan dapat mendukung suasana maka kombinasi serta intesitas warna dari ca- haya harus diperhitungkan, begitu juga seba- gai penanda waktu. Seperti pergantian waktu kejadian menggunakan teknik black in/out ataupun fade in/out. Secara keseluruhanefek cahaya yang digunakan adalah general, untuk mengambarkan suasana di rumah.
PENUTUP
Pemeranan merupakan unsur penting dalam seni teater, istilah pemeranan disebut juga dengan seni peran atau seni akting. Se- orang pemeran dikenal dengan sebutan ak- tor, aktris, pemain, tokoh, dan sebagainya.
Aktor merupakan unsurinti dalam seni peran dan seni teater pada umumnya. Namun perlu diingat, dalam berperan tidak semua aktor
berhasil dalam membawakan karakter yang iaperankan.
Kirdjomulyo merupakan seorang sa- trawan yang dijuluki seniman serba bisa.
Lakon Senja dengan Dua Kematian merupa- kan naskah realisme psikologis, yang lebih mengacu dan bertitik focus pada psikologi tokoh yang ada di dalamnya. Kirdjomulyo membuat lakon Senja dengan Dua Kematian, karena ia banyak menemukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka perbuat. Hal ini digambarkan Kirdjomulyo dalam sebuah kehidupan rumah tangga yang setiap tokohnya tidak bertang- gung jawab, baik terhadap istri, anak mau- pun lingkungannya.
Melalui lakon Senja dengan Dua Ke- matian karya Kirdjomulyo, pemeran ingin menyampaikan pesan, bahwa banyak orang- orang yang tidak bertanggung jawab dan se- lalu ingkar dengan janji yang telah mereka buat. Sifat seperti ini dapat kita lihat dari be- berapa pejabat yang selalu mengumbar janji dan tidak sedikit dari mereka yang mening- galkan tanggung jawab serta mencari kesala- han orang lain.
Karakter tokoh Kardiman seperti yang telah dijelaskan di atas, pemeran had- irkan dengan menggunakan akting presen- tasi. Pemeran dituntut untuk terlibat dalam situasi dan kondisi tokoh dalam naskah dan disesuaikan dengan kebiasaan dan hal-hal yang khas dalam pribadi pemeran dengan atributnya yang dekat dengan keseharian (Sitorus, 2002: 6). Metode yang pemeran gunakan untuk mencapai semua yang telah dijelaskan diatas yaitu metode akting “to be”
yang digagas oleh Stanislavski, serta metode indentifikasi karakter yang dibuat oleh Eka D. Sitorus dalam bukunya The art of acting, serta metode.
Melalui pertunjukan Senja dengan Dua Kematiankarya Kirdjomulyo, pemeran ingin menyampaikan pesan, bahwa banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan selalu ingkar dengan janji yang telah mereka buat. Sifat seperti ini dapat kita lihat dari beberapa pejabat yang selalu mengum- bar janji dan tidak sedikit dari mereka yang
35 meninggalkan tanggung jawab serta mencari
kesalahan orang lain.
Tidak hanya permasalahan tanggung jawab, pertunjukan Senja dengan Dua Kema- tian juga mengajarkan kita untuk tidak me- nilai orang lain hanya berdasarkan apa yang kita lihat. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang memiliki alasan tersendiri.
Hal ini terlihat pada tokoh Kardiman yang sebenarnya menyayangi Wijasti seperti anak kandungnya sendiri. Namun Wijasti yang tidak mengetahui apa-apa, selalu menyalah- kan Kardiman.
KEPUSTAKAAN
Harymawan, Dramaturgi, Bandung: CV.
Rosdakarya, 2002.
Mitter, Shomit, TerjemahanYudiaryani, Stan islavsky, Brecht, Grotowsky, Brook:
SistemPelatihanLakon, MSPI dan Arti Yogyakarta, Yogyakarta. 2002.
Panuti Sudjiman, Memahami Cerita-cerita Rekaan,Jakarta: Pustaka Jaya, 1988.
Rikrik El Saptaria, Panduan Praktis Akting Untuk Film & Teater, Jakarta:
Rekayasa Sains, 2006
Sitorus, D Eka. The art of acting: Seni Peran Untuk Teater, Film dan TV. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama. 2003.
Stanislavsky, Konstantin, Terjemahan Asrul Sani.Persiapan Seorang Aktor. Jakarta:
Pustaka Jaya, 1980.
Tambayong, Yapi. Seni Akting, Catatan- Catatan Dasar Seni Kreatif Seorang Aktor. Bandung: PT Remaja Rosda
karya. 2002
Yudiaryani. Panggung Teater Dunia.Yogya karta: Pustaka Gondho Suli. 2002.
36. VOL 1 NO.1 MARET 2017 - LAGA-LAGA