• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN "

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Seminar Proposal Guna Melanjutkan Penelitian pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

ROSMIDA

10533 6003 09

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2013

(2)

iii

HALAMAN JUDUL………. i

KATA PENGANTAR……….. ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I: PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

BAB II: KAJIAN PUSTAKA ... 7

A. Kajian Pustaka ... 7

1. Hasil Penelitian Yang Relevan ... 7

2. Tinjauan Umum Karya Sastra ... 8

1. Pengertian Karya Sastra………...……… 8

2. Ciri-Ciri Karya Sastra………...……..………....10

3. Menulis Naska Drama………...………….………12

4. Pengertian Drama………...………14

5. Unsur-Unsur Drama………...………17

6. Pembelajaran Model Core (Connecting, Organizing) …….……20

B. Kerangka Pikir ……… 21

C. Hipotesis Tindakan………. 22

(3)

iii

C. Bentuk Dan Desain Penelitan………... 24

D. Prosedur Penelitian………... 25

E. Instrumen Penelitian ……… 28

F.Teknik Pengumpulan Data………. 29

G. Teknik Analisis Data ………... 30

H. Indikator Kebethasilan………. 30

DAFTAR PUSTAKA………. 31

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Komponen keterampilan berbahasa yang perlu diperhatikan dalam membimbing, mengarahkan dan mengembangkan siswa kearah kemampuan berbahasa secara kreatif, yaitu kemampuan menyimak (listening skills), kemampuan berbicara ( speaking skills), kemampuan membaca (reading skills), dan kemampuan menulis (writing skills) (Tarigan, 1985). Dari keempat komponen keterampilan tersebut, keterampilan yang satu dengan keterampilan yang lainnya saling berkaitan melalui urutan yang teratur.

Secara umum keterampilan menyimak dan berbicara sudah dimulai pada saat anak masih usia prasekolah. Keterampilan membaca dan menulis diperoleh setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Kiranya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa keterampilan menulis merupakan cirri dari orang atau bangsa yang terpelajar. Sehubungan dengan hal ini ada seorang penulis yang menyatakan bahwa menulis digunakan oleh seorang terpelajar untuk mencatat, meyakinkan, melaporkan serta mempengaruhi orang lain dan maksud dari tujuan seperti itu

1

(5)

hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang dapat menyusun buah pikiran dan mengutarakannya dengan jelas. Kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata dan struktur kalimat (Tarigan, 1985).

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tidak secara tatap mukadengan orang lain. Menulis juga merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.

Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan-latihan dan praktek yang sering kali dan secara teratur, maka tidak heran jika ada yang menjadikan kegiatan menulis sebagai salah satu sumber mata pencaharian tetap, bahkan tidak jarang seseorang menjadi terkenal hanya karena hasil dari kegiatan menulis.

Salah satu hasil kegiatan menulis diantaranya adalah karya sastra. Karya sastra yang dapat ditemukan dalam bentuk tulisan antara lain adalah: puisi, cerpen ataupun naskah drama. Naskah drama merupakan hasil karya tulis genre sastra imajinatif yang mengungkapkan cerita melalui dialog para tokohnya. Naskah drama sebagai karya sastra seharusnya hanya bersifat sementara, sebab naskah drama hanya ditulis sebagai dasar untuk dipentaskan, tetapi naskah drama selalu digolongkan sebagai karya sastra.

Di antara bentuk karya sastra hasil kegiatan menulis seperti yang telah diuraikan di atas, ada yang dapat diubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.

(6)

Naskah drama misalnya dapat diubah ke bentuk prosa atau sebaliknya dari bentuk prosa ke dalam bentuk naskah drama. Pada penelitian ini yang menjadi fokus pembahasan adalah pengubahan naskah drama ke dalam bentuk prosa. Namun demikian, pengubahan dari suatu bentuk sastra ke bentuk sastra lainnya tidak begitu mudah untuk dilakukan. Seperti dikemukakan sebelumnya, untuk melakukan hal tersebut diperlukan ketekunan dan latihan secara terus menerus dan teratur.

Penelitian yang relevan dengan judul yang diangkat oleh penulis pernah dilakukan oleh:

1. Supratia pada tahun 1999, dengan judul penelitian “Tingkat Kemampuan Siswa Kelas I SMP Negeri 15 Makassar dalam Mengubah Naskah Percakapan Drama ke Bentuk Prosa”. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu masih sangat kurang (belum memadai).

2. Adrian pada tahun 2007, dengan judul penelitian “Kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Pamboang dalam Mengubah Naskah Percakapan Drama ke Bentuk Prosa Narasi”. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah masih sangat kurang (belum memadai).

3. Mutmainna pada tahun 2008, dengan judul penelitian “Kemampuan Siswa Kelas XI SMA Mauhammadiyah Kalosi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang Mengubah Naskah Cerpen Ke dalam Bentuk Naskah Drama”.

(7)

Seperti pada penelitian yang pertama dan ke dua juga masih sangat kurang (belum memadai).

Hasil dari penelitian di ataslah yang mendorong penulis untuk mengangkat judul yang relevan.

Berdasarkan uraian di atas, sebagai upaya untuk memasyarakatkan budaya menulis di kalangan SMP maka penulis mencoba mengkaji permasalahan tersebut untuk mengetahui sejauh mana keterampilan menulis yang dimiliki oleh siswa khususnya dalam mengubah satu bentuk sastra ke bentuk sastra lainnya. Untuk maksud tersebut penulis mengangkatnya dalam sebuah penelitian dengan judul

“Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam Mengubah Naskah Percakapan Drama ke Bentuk prosa “.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas dan untuk lebih mengarahkan penelitian maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: “Bagaimana tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke dalam bentuk prosa?”

(8)

C. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang telah diajukan, yaitu untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke dalam bentuk prosa.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini diantaranya adalah:

1. Sebagai informasi dasar tentang kemampuan menulis yang dimiliki oleh siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah bentuk sastra yang satu ke bentuk sastra lainnya, khususnya mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa.

2. Sebagai bahan acuan guru mata pelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia dan apresiasi siswa terhadap karya sastra, khususnya drama dan prosa.

3. Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang akan mengkaji masalah yang relevan dengan masalah penelitian ini.

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Tinjauan Umum Karya Sastra 1. Pengertian Karya Sastra

Sastra merupakan bagian dari karya seni yang keduanya merupakan unsur integral dari kebudayaan dan usianya sudah sangat tua. Kehadiran kedua unsur tersebut hampir bersamaan dengan kehadiran manusia di muka bumi, baik dari segi aspek manusia yang bermanfaat bagi pengalaman hidupnya maupun dari aspek penciptanya yang mengekspresikan pengalamam batinnya ke dalam sastra (Zulfanhur, 1996).

Karya sastra dapat didefinisikan berdasarkan dari mana meninjaunya.

Misalnya Semi (1988), mengatakan bahwa sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Berdasarkan definisi tersebut berarti sastra adalah seni, bukan ilmu pengetahuan. Sastra memiliki jiwa dan badan, jiwa sastra berupa pikiran, perasaan dan pengalaman manusia, sedangkan badannya adalah ungkapan bahasa yang indah sehingga mampu memberikan hiburan bagi pembacanya.

6

(10)

Menurut Zulfanhur (1996), sastra derasal dari kata “ Sas” dan “ Tra”.

“Sas” dalam bahasa Indonesia mempunyai pengertian mengajar, mengarahkan, member petunjuk; dan “Tra” berarti sarana, alat. Maka dari itu sastra dapat di artikan sebagai alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Selanjutnya Teeuw dalam Zulfanhur (1996) menambahkan bahwa penambahan awalan “ su-“ pada kata sastra berarti baik dan indah, sehingga

Susastra” dapat dibandingkan dengan “bellesletres” (Perancis), yaitu sastra yang bernilai estetik; atau “belletrie” (Belanda), atau “letterkunde” (Belanda) bermakna sastra indah. Terjemahan harfiah dari “litterature” (Latin) yang berarti puisi, sastra. Jadi, susastra adalah ciptaan Jawa atau Melayu yang timbul kemudian.

Ditinjau dari segi penciptanya, karya sastra merupakan pengalaman batin penciptanya mengenai masyarakat dalam satu kurung waktu dan situasi budaya tertentu. Di dalam suatu karya sastra dilukiskan keadaan kehidupan sosial suatu masyarakat, peristiwa-peristiwa, ide dan gagasan, serta nilai-nilai yang diamanatkan pencipta lewat tokoh-tokoh cerita. Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai aspek kehidupannya sehingga karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayaan serta zamannya (Aminuddin, 1990).

(11)

Dari uraian di atas, dapat dirumuskan pengertian sastra sebagai berikut:

1. Sastra adalah kegiatan kreatif sebuah karya seni yang bentuk dan ekspresinya bersifat imajinatif;

2. Sastra adalah tulisan bernilai seni mengenai suatu subjek khusus kehidupan manusia dalam suatu negeri pada suatu masa;

3. Sastra adalah ekspresi dari kehidupan dengan media bahasa yang khas;

4. Sastra merupakan suatu ciptaan, sebuah kreasi yang berunsur fiksionalitas yang merupakan luapan emosi spontan;

5. Sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kongkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

2. Ciri-ciri Karya Sastra

Badrun (1983), mengatakan bahwa keindahan dalam seni sastra dibangun oleh seni kata. Yang dimaksud dengan seni kata ialah penjelmaan pengalaman jiwa diekspresikan ke dalam keindahan kata itu, maka sastra sebaiknya bersifat imajinatif. Walaupun karya sastra bersifat imajinatif, namun ia berangkat dari kenyataan hidup secara objektif. Dia berangkat dari fenomena kehidupan nyata yang dapat dihayati, dirasakan, dan dimengerti.

Pada tataran karya sastra, faktor-faktor, fenomena kehidupan yang diangkat itu menjadi fiksi makna. Meskipun ia menggunakan bahan-bahan dari kenyataan

(12)

objektif (realita hidup di masyarakat), kenyataan imajinatif dalam karya sastra tidak identik lagi dengan kenyataan objektif tadi.

Ungkapan pengalaman manusia dalam bentuk bahasa yang ekspresif dan mengesankan terdiri dari berbagai bentuk. Ciri tiap bentuk sastra memang tidak mudah untuk membedakannya. Pengertian sastra tidak dapat diterapkan secara menyeluruh terhadap semua jenis atau bentuk sastra. Jenis sastra ada bermacam jenis dan ragamnya dan semuanya menuntut dinamai “karya sastra”.

Ciri karya sastra yang menuntut adanya nilai seni boleh dikatakan tidak ada permasalahan, karya semua karya sastra harus memiliki nilai seni atau estetiknya.

Namun dalam dua hal lain, yakni sifat khayali dan penggunaan bahasa yang mengharuskan adanya penggolongan sastra.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri karya sastra (Harjana, 1985) adalah:

1. Sastra bersifat khayali (fictionality): maksudnya, lewat daya imajinasinya pengarang ingin mengungkapkan kenyataan-kenyataan hidup nyata dan menafsirkannya menjadi kenyataan imajinatif kehidupan lebih bermakna dan menarik bagi peminat;

2. Sastra mengandung nilai estetik (keindahan seni)sehingga karya sastra punya daya pesona tersendiri. Nilai estetik ini memiliki criteria seperti keutuhan, keseimbangan, keselerasan, dan focus atau tekanan;

(13)

3. Sastra memakai bahasa yang khas.

Menurut Sumarjo (1984), pada garis besarnya pembagian karya sastra dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:

1. Sastra nonimajinatif

Karya nonimajinatif dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:

a. Esai b. Kritik c. Bigrafi d. Memoar e. Catatan harian f. Sejarah 2. Sastra imajinatif;

Sastra imajinatif dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:

a. Puisi

 Epilog

 Lirik

 dramatik b. Prosa

 Prosa narasi, yang terdiri atas:

 Novel

(14)

 Cerpen

 novelet

 drama, yang terdiri atas:

 Tragedi

 Komedi

 Melodrama 3. Pengertian Drama

Pada dasarnya drama adalah salah satu karya sastra. Bedanya dengan bentuk karya sastra lainnya yaitu drama bukanlah sekedar teks yang dipentaskan, dimainkan, dilakonkan. Karena itu penikmatnya melalui proses menyaksikan, menonton pementasan drama.

Secara harfiah drama berasal dari bahasa Yunani yaitu Draomai yang berarti berbuat atau bertindak. Menurut Moulton (1970), drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak. Istilah drama ini kemudian menjadi istilah umumyang maksudnya adalah suatu cerita yang dipertunjukkan di atas pentas oleh para pelaku dengan perbuatan (Tjokroatmojo, 1985).

Secara umum drama adalah kualitet komunikasi, situasi, action (segala yang terlibat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan dan ketegangan pada pendengar atau penonton. Kata drama, oleh Belanda ketika menjajah Indonesia diganti menjadi Toneel yang artinya pertunjukan. Kemudian

(15)

Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegara VII menciptakan istilah baru yakni Sandiwara, istilah ini diciptakan untuk mengganti istilah toneel yang tampaknya terlalu ke Barat-baratan. Sandiwara sendiri terdiri dari dua kata, yakni “sandhi”

dan “wara”. Sandhi artinya rahasia dan wara artinya pengajaran. Jadi sandiwara berarti pengajaran yang dilakukan secara rahasia, dalam hal ini diartikan sebagai perlambangan. Kata ini populer sampai tahun 1945, dan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan barulah kata drama dipopulerkan kembali.

Morris dalam Tarigan (1985), mengemukakan bahwa drama berasal dari bahasa Greek, yaitu dari kata kerja dran yang berarti berbuat, to act atau tudo.

Dari pengertian secara harfiah tersebut dapat dipahami bahwa drama mempunyai penekanan utama dan sebagai hakikatnya adalah gerak atau berbuat.

Selanjutnya menurut Sumadjo (1985), drama adalah karya sastra yang dituliskan dalam bentuk dialog dengan maksud untuk dipertunjukkan. Definisi lain dikemukakan oleh Moeliono (1990), bahwa drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (acting) dan dialog yang dipentaskan.

Dari beberapa pengertian drama yang dikemukakan oleh para ahli, menurut Tarigan (1985), pada dasarnya semua pengertian tersebut memiliki penekanan yang sama. Penekanan yang dimaksud adalah:

(16)

1) Drama adalah salah satu cabang ilmu sastra.

2) Drama dapat berbentuk prosa atau puisi.

3) Drama lebih mementingkan dialog.

4) Drama adalah lakon yang dipentaskan.

5) Drama adalah seni yang menggarap lakon-lakon melalui penulisan hingga pementasannya.

6) Drama membutuhkan ruang, waktu dan audiens.

7) Drama adalah hidup yang disajikan dalam gerak.

8) Drama adalah sejumlah kejadian yang memikat hati.

Menurut beberapa ahli, seperti yang dikemukakan oleh Nusu (1992), mendefinisikan drama adalah berbagai artian, yaitu:

a. Drama adalah konflik dari sifat manusia yang merupakan sumber pokok dalam drama,

b. Drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan maksud dipertunjukkan oleh actor,

c. Drama adalah bentuk seni yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak atau action dan percakapan atau dialog,

d. Drama adalah hidup yang ditampilkan dalam bentuk gerak.

Dari beberapa batasan mengenai karya drama,perlu ada penyelarasan mengenai hakikatnya, sebab batasan tersebut hanya memberi penekanan bahwa

(17)

drama adalah karya sastra yang dipentaskan atau dilakonkan. Padahal sesungguhnya drama drama tidak selamanya untuk dipentaskan tetapi terdapat beberapa drama untuk dibaca.

Bertolak dari hal tersebut di atas, Tarigan (1985), mengemukakan bahwa berbicara tentang drama kita akan selalu bertemu dengan istilah text play, repertoire theatre. Terutama sastra Indonesia kita menemukan dua bagia pengertian drama, yaitu:

1) Drama sebagai texs play adalah bacaan, dan

2) Drama sebagai theatre atau performance adalah seni kolektif atau dipentaskan atau dipertunjukkan.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa drama diartikan sebagai suatu karya sastra berupa cerita yang disusun dalam bentuk dialog yang mengandung potret cerita kehidupan manusia yang akan dipentaskan atau dibacakan.

4. Unsur-unsur Drama

Drama pada dasarnya mempunyai unsur pokok, yakni lakon atau naskah, pemain, tempat dan penonton. Dari keempat unsur pokok tersebut, yang akan ditelaah atau dibahas adalah unsur yang pertama yakni unsur naskah (Zulfanhur, 1996).

(18)

Pada permulaan pertumbuhan seni drama modern di Indonesia, para pemainlah yang mengarang dialognya. Kepada mereka hanya diberikan garis besar jalan cerita yang akan ditampilkan dan oleh mereka secara spontan atau garis besarnya dibicarakan sebelum naik pentas. Namun kemudian mengalami perkembangan sehingga pada akhirnya dialog yang akan dipertunjukkan berdasarkan naskah yang sudah siap lebih dahulu. Dengan demikian, drama mempunyai hubungan dengan seni sastra.

Naskah drama tidak disusun khusus untuk dibacakan seperti dengan novel atau cerita pendek, tetapi lebih dari itu. Dalam penciptaan naskah drama dipertimbangkan kemungkinan naskah itu dapat diterjemahkan dalam unsur penglihatan, suara dan gerak laku. Walaupun begitu kita masih dapat menikmati sebuah drama, yaitu drama bacaan misalnya closet drama.

Naskah drama merupakan karya tulis yang isinya melalui percakapan itu disebut wawancang atau dialog. Bila ada bagian yang bukan dialog, yaitu bagian yang biasanya ditulis dalam tanda kurung disebut kaamangung, sedangkan dialog biasanya ditulis atau dicetak lepas, tidak ditempatkan dalam tanda kurung.

a. Nilai-nilai Dalam Drama

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (Poerwardarminta, 1984), drama berarti lakon (tragedy, komedi dan sebagainya) yang dipentaskan. Lakon atau drama ini berdasarkan naskah tertulis atau secara improvisasi yang dalam

(19)

pementasannya di atas panggung disampaikan gerak atau laku dan percakapan (dialog) dengan atau tanpa musik dan tari, dihadapan penonton, sedangkan lakon itu sendiri berisi masalah-masalah kehidupan manusia.

b. Istilah-istilah Dalam Drama

Di Indonesia dikenal beberapa peristilahan drama yaitu:

1. Drama, yaitu hidup yang dilukiskan dengan gerak (Moulton, 1985).

2. Sandiwara, yaitu berasal dari bahasa Jawa, terdiri dari dua kata, yakni “sandi” yang berarti rahasia atau samar dan “wara”

yang artinya pengajaran. Dengan demikian sandiwara berarti pengajaran yang diberikan secara rahasia.

3. Tonil, yaitu beasal dari bahasa Belanda “toneel”yang berarti pertunjukan. Istilah ini mulai dikenal sejak zaman Belanda.

4. Komedi, yaitu bentuk pementasan tentang kehidupan manusia dengan penuh kelucuan.

5. Lakon, yaitu berasal dari bahasa Jawa yang berarti perjalanan cerita.

6. Teater, yaitu gedung pertunjukan.

(20)

7. Drama turgi, yaitu ajaran tentang masalah dan konvensi drama (cara berdiri, cara berbalik, tokoh utama berdiri disebelah kiri dan depan panggung).

c. Sejarah Drama

Drama sudah ada sejak sebelum masehi, sekitar tahun 490 SM. Naskah yang tertua “The Suppliant” karangan Aeschylus (525-456). Drama pada zaman Yunani kuno erat dengan upacara agama. Pada waktu itu drama berasal dari dhythiramb yang berarti nyanyian puja Dewa Dionysus. Dalam penyajian, penonton berkerumun sekitar bukit Acropalis. Upacara dilakukan disebuah dataran, ditengah dataran terdapat altar. Posisi penonton sama dengan stadion.

Awal abad ke-VI sebelum masehi, Thepsis menambah seorang pemain sebagai pimpinan disamping narrator. Pemain ini memerangkan berbagai watak dengan memakai kedok sesuai dengan cerita. Sesudah periode itulah drama berkembang lagi dalam bentuk dialog yang lebih luas. Di Indonesia sebelum abad ke- XX belum ada naskah dan pentas, yang ada hanya kisah-kisah yang disajikan secara lisan. Drama pada waktu itu dilakukan di istana atau di lapangan.

Pada awal abad XX mulai ada pentas tetapi belum memakai naskah. Naskah mulai timbul pada zaman Pujangga Baru. Grup amatir memakai naskah,

(21)

sedangkan grup profesional tidak memakai naskah. Sedangkan pada zaman Jepang, rombongan profesional maupun amatir memakai naskah. Hal ini disebabkan oleh adanya sensor Jepang yang paling ketat.

Perkembangan pada dewasa ini kelihatan makin maju. Rombongan profesional tidak memakai naskah, organisasi amatir masih memakai naskah ang tetapi mengabaikan pengarang, penyadur dan penyalin. Akhir-akhir ini tidak mengherankan bahwa timbul drama yang tidak memakai dialog kata tetapi dilakukan dengan gerak.

5. Pengertian dan Jenis-jenis Prosa

Prosa dalam bahasa Inggris disebut Prose, prosa bahasa bukan dalam bentuk baris-baris puisi. Maksudnya prosa mempunyai ciri-ciri ditulis dalam bentuk cerita atau narasi yang bebas bentuknya. Namun ada juga yang menyatakan bahwa prosa berasal dari bahasa Latin “oratio provorsa” yang berarti ucapan langsung, bahasa percakapan, sehingga prosa berarti bahasa bebas, bercerita, ucapan langsung. Makna prosa secara etimologi ini dimaksudkan ialah mengungkapkan apa yang dirasakan, diketahui dan dimaksudkan pengarang, langsung ucapkan dengan bahasa yang langsung dan bebas, tidak memerlukan bahasa yang rumit seperti puisi (Zulfanhur,1996).

(22)

Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa prosa adalah karangan bebas yang mengekspresikan pengalaman batin pengarang mengenai masalah kehidupan dalam bentuk dan sisi.

Agar penulis mengetahui termasuk ke dalam jenis karangan apa tulisan yang dibuatnya, di bawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai pembagian jenis karangan.

a. Penggolongan menurut Weaver (dalam Tarigan, 985: 227) meliputi:

1) Eksposisi, yang mengcakup definisi dan analisis;

2) Deskripsi, yang mengcakup deskripsi ekspositori dan deskripsi literer;

3) Narasi, yang mengcakup urutan waktu, motif, konflik, titik pandang dan pusat minat;

4) Argumentasi, yang mengcakup deduksi dan induksi.

b. Penggolongan menurut Tarigan (1987) meliputi:

1) Berdasarkan apakah wacana itu disampaikan dengan media lisan, maka wacana dapat diklasifikasikan atas wacana tulis dan wacana lisan;

2) Berdasarkan langsung tidaknya pengungkapan wacana dapat diklisifikasikan atas wacana langsung dan wacana tidak langsung;

(23)

3) Berdasarkan cara membeberkan atau cara menuturkannya, maka wacana dapat diklasifikasikan atas wacana pembeberan dan wacana penuturan;

4) Berdasarkan bentuknya, wacana dapat dibagi atas wacana prosa, wacana puisi dan wacana drama.

c. Penggolongan menurut Nafiah (1981) meliputi:

1) Bentuk narasi (cerita);

2) Bentuk deskripsi (lukisan);

3) Bentuk eksposisi (paparan); dan 4) Bentuk persuasi (argumentasi).

d. Penggolongan menurut D’ Angelo (dalam Ahmadi, 1990) meliputi:

1) Wacana informatif;

2) Wacana persuasif;

3) Wacana sastra;

4) Wacana ekspresi pribadi.

e. Penggolongan menurut Fachruddin (1988) meliputi:

1) Wacana pemaparan (eksposisi);

2) Wacana pemerian (deskripsi);

3) Wacana pengisahan (narasi);

4) Wacana pendalihan (argumentasi).

(24)

Berdasarkan pemaparan di atas, yang lazim dikenal dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah eksposisi, deskripsi, narasi, dan argumentasi.

Dalam penelitian ini yang menjadi pokok pembicaraan adalah karangan narasi.

Jadi, pembahasan selanjutnya difokuskan pada wacana narasi dan hal-hal yang berhubungan dengan wacana tersebut.

Menurut Tarigan (1985), wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.

Wacana pada dasarnya tidak lain dari pernyataan dan perasaan baik mengenai benda atau keadaan yang nyata maupun yang diharapkan atau yang dicita-citakan, dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alatnya. Secara harfiah, kata wacan artinya adalah yang dibaca. Sesuai dengan wujudnya itu, wacana ditujukan kepada pihak penanggap (pembaca yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, waktu dan tempatnya tidak pula tentu dan dilaksanakan tidak dengan cara bertatap muka). Keadaan yang demikian itu menurut penyajian yang cermat, teratur dan jelas agar hal dimaksudkan penulis dipahami oleh pembaca.

Dari pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan wacana adalah subjek yang mengandung seperangkat preposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan rasa kepaduan atau rasa kohesi. Selain itu, juga dibutuhkan keteraturan atau kerapian susunan yang menimbulkan rasa koherensi.

(25)

Sebagai wujud pernyataan pikiran dan perasaan, wacana tentu mempunyai berbagai macam kemungkinan tujuan.

b. Ciri-ciri Wacana Narasi

Wacana narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang sudah terjadi. Topik atau tema yang umum dan merupakan sumber gagasan yang paling mudah digali dalam wacana ini adalah pengalaman pribadi yang pernah kita alami untuk dijadikan sebagai topic karangan.

Peristiwa-peristiwa yang dialami di rumah, di sekolah, di perjalanan, ataupun ditempat-tempat lain yang paling berkesan dalam batin, kita pilih kemudian kita ungkapkan kembali dalam bentuk karangan.

Agar cerita yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan ini terjelma pada angan- angan pembaca, maka yang perlu dipersiapkan sekaligus sebagai syarat wacana narasi adalah:

1. Peristiwa yang akan diceritakan dirinci dari peristiwa kecil sampai peristiwa itu memuncak.

2. Latar belakang yang menyebabkan timbulnya peristiwa itu diungkapkan hidup-hidup.

3. Watak dan tingkah laku tokoh digambarkan dengan jelas.

4. Urutan penyajian cerita (alur) seperti berikut:

a. Pengungkapan suasana atau latar belakang.

(26)

b. Penampilan tokoh disertai wataknya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka secara skematis kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(27)

BAGAN KERANGKA PIKIR

Pembelajaran Bahasa Indonesia

Keterampilan Menulis

Parafrase Drama

Naskah drama Prosa narasi

Mempunyai babak (babak 1, 2, 3 dst)

Mempunyai adegan yang biasanya ditulis di dalam kurung

Berbentuk percakapan

Bentuk karangan bebas tanpa susunan metrik

Bersifat naratif sebagai akibat sintaksis

Bersifat efik

Analisis

Temuan

(28)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Variabel dan Desain Penelitian

1. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini hanya akan diamati satu variabel (variabel tunggal), yaitu kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi.

2. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percarcakapan ke bentuk prosa narasi.

Adapun langkah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu siswa dikumpulkan dalam satu ruangan kemudian diberi naskah percakapan drama untuk diubah ke dalam bentuk karangan prosa narasi. Untuk memperoleh data yang maksimal dan lebih efektif, maka dalam penelitian ini ditentukan variabel yang akan diteliti

25

(29)

kemudian dirumuskan masalah yang akan menjadi topik permasalahan. Langkah selanjutnya, menyelidiki variabel dan memberikan definisi operasional variabel.

Pada penelitian tersebut dilakukan pembahasan sesuai dengan variabel yang diteliti dengan batasan-batasan rumusan masalah yang ada. Dengan demikian, laporan hasil penelitian ini betul-betul dapat menjawab permasalahan yang ada.

B. Batasan Istilah

Untuk menghindari kesalahan persepsi maka secara operasional variabel dalam pengertian ini didefinisikan sebagai berikut:

Kemampuan siswa mengubah naskah percakapan drama ke dalam bentuk prosa adalah tingkat kesanggupan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Botolempangan Kabupaten Gowa untuk mengubah bentuk suatu karya sastra dalam hal ini percakapan naskah drama pada buku teks pelajaran bahasa Indonesia menjadi bentuk karangan bebas dalam hal ini adalah prosa narasi.

(30)

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Keacamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa tahun pelajaran 2009/2010. Dari hasil observasi yang dilakukan pada sekolah yang menjadi lokasi penelitian, diketahui bahwa jumlah keseluruhan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa adalah 114 siswa yang tersebar pada tiga kelas parallel, yaitu kelas VIIIa, kelas VIIIb, kelas VIIIc.

Untuk lebih jelasnya jumlah dan penyebaran siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa sebagai populasi penelitian berdasarkan kelas ditunjukkan pada tabel 3.1 berikut ini:

Tabel 3.1. Penyebaran Siswa Kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa sebagai Populasi Penelitian.

No. Kelas Jumlah siswa Jumlah

Laki-laki Perempuan 1

2 3

VIIIa VIIIb VIIIc

15 15 16

22 23 23

37 38 39

Jumlah 114

Sumber Data: Kantor tata usaha SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa.

(31)

2. Sampel

Jumlah populasinya lebih dari 100 orang dan bersifat homogen, artinya siswa kelas VIII pada SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa tidak dikelompokkan tingkat prestasi belajar yang diperoleh pada semester sebelumnya, maka pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling). Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik ini dimaksudkan agar diperoleh sampel yang bersifat mewakili semua populasi atau refresentatif. Cara pengambilan sampel secara acak dilakukan dengan cara me-Lot ketiga kelas yang menjadi populasi, kemudian kelas yang muncul itulah yang menjadi sampel penelitian.

Penarikan sampel dengan teknik random sampling ini, sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Arikunto (1993) bahwa:

“Apabila subjek penelitian kurang dari 100 orang, lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjek besar, diambil antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau tergantung dari (a) kemampuan peneliti dari segi waktu, tenaga, dan dana; (b) luas sempitnya wilayah pengamatan; dan (c) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti”.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas dan jumlah populasi yang ada maka diambil sampel sebanyak 37 orang siswa dari seluruh jumlah siswa kelas VIII yang ada.

(32)

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini maka digunakan dua teknik pengumpulan data, adapun teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Dokumentasi

Metode ini digunakan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu data tertulis tentang jumlah, karakteristik, dan penyebaran siswa kelas VIII SMP Neger I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa sebagai populasi penelitian. Untuk maksud tersebut, data tentang populasi penelitian diperoleh pada kantor tata usaha SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa.

2. Bentuk tes

Unuk mendapat data yang akan menggambarkan tentang tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa maka digunakan bentuk tes tertulis, yakni tes mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi sebagai sumber data primer. Dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan beberapa tahap pelaksanaan.

(33)

a. Tahap persiapan

Pada tahap ini, siswa yang terpilih sebagai sampel penelitian dikumpulkan pada suatu ruangan tertentu. Selanjutnya, diberi pengarahan tentang maksud dan tujuan serta teknik pelaksanaan tes

b. Tahap pelaksanaan

Pada tahap ini, kepada siswa yang terpilih sebagai sampel penelitian, diberikan naskah percakapan drama untuk diubah menjadi prosa narasi.

Naskah percakapan drama yang digunakan dalam penelitia ini berjudul ” Tumbang “ yang dikutip dari buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia.

c. Tahap evaluasi

Pada tahap ini, dilakukan pemeriksaan terhadap hasil tes kemampuan mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi yang telah dilakukan siswa. Untuk menentukan besarnya nilai yang diperoleh siswa, maka digunakan beberapa kriteria tertentu. Krteria – kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Kesesuaian tema antara dialog drama percakapan drama dengan bentuk prosa ( bobot 25 ).

2. Isi prosa narasi ( bobot 20 ).

3. Penggunaan ejaan yang tepat ( bobot 15 ).

4. Penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah ( bobot 10 ).

(34)

5. Kepaduan antara paragraf yang satu dengan paragraf yang lain (bobot 10 ).

6. Pesan yang ingin disampaikan ( bobot 20 )

E. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Teknik analisis deskriptif ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik variabel penelitian dalam bentuk nilai tertinggi, nilai terendah, rata – rata, modus dan persentase.

Pedoman yang digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi mengacu pada rentang yang digunakan di SMP, yaitu 0 – 10.

Interval nilai dan kategori yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi adalah sebagai berikut:

(35)

Interval Nilai Kategori 9,5 – 10,0 Sangat tinggi

7,5 – 9,4 Tinggi

5,5 – 7,4 Sedang

3,5 – 5,4 Rendah

1,5 – 3,4 Sangat rendah

Tolok ukur kemampuan siswa ditetapkan bahwa jika jumlah siswa mencapai 85 % yang mendapat nilai 6,5 ke atas, dianggap mampu dan jika jumlah siswa kurang dari 85 % yang mendapat nilai 6,5 dianggap tidak mampu.

( Depdikbud, 1994: 39).

(36)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penyajian Analisis Data

Sesuai dengan jenis penelitian yang dilakukan, hasil penelitian ini adalah hasil kuantitatif. Hasil kuantitatif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil yang dinyatakan dalam bentuk angka yang mengukur kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi.

Penyajian hasil analisis data dilakukan sesuai dengan teknik analisis data yang telah diuraikan di bab sebelumnya. Untuk kepentingan standarisasi hasil pengukuran (skor) dilakukan transformasi dari skor di dalam nilai berskala 1-10 dan menetapkan tolok ukur kemampuan siswa.

33

(37)

Data yang berupa skor dari hasil tes 37 siswa yang diambil dari 3 kelas sebagai sampel dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut ini:

Tabel 3.2. Distribusi Frekuensi Nilai Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam Mengubah Naskah Percakapan Drama ke Bentuk Prosa Narasi.

No Kode Sampel Nilai

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

09016 09025 09026 09020 09073 09010 09003 09029 09021 09027 09022 09002 09030 09015 09017

8,5 7,0 6,0 7,0 7,5 7,0 7,0 7,5 6,0 5,0 7,0 6,0 6,0 6,0 6,0

(38)

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

09023 09024 09025 09028 09031 09010 09009 09005 09004 09006 09018 09074 09080 09072 09060 09055 09054 09050 09049 09048

7,0 6,0 5,5 5,5 7,5 6,0 6,5 7,5 7,5 7,5 8,0 7,0 8,0 7,0 7,0 5,0 6,0 8,0 8,0 7,0

(39)

36.

37.

090390 09040

6,0 6,0

Jumlah

242

Rata-rata

6,5

Sumber Data: Data Primer Penelitian (2010)

Data pada tabel 3.2 menunjukkan keseluruhan nilai yang diperoleh sampel yang menggamberkan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh rangkuman karakteristik distribusi tingkat kemampuan sampel mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi.

(40)

Untuk lebih jelasnya, rangkuman karakteristik distribusi nilai tersebut ditunjukkan pada tabel 3.3 berikut ini.

Tabel 3.3. Rangkuman Distribusi Nilai yang Menggambarkan tingkat Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa Mengubah Naskah Percakapan Drama ke bentuk Prosa Narasi.

No. statistik Nilai statistik

1.

2.

3.

4.

5.

Jumlah sampel Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rata-rata Modus

37 8,5 5,0 6,5 6,0 Sumber Data: Data Primer Penelitian (2010)

Data pada tabel 3.3 terlihat bahwa dari 37 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang menjadi responden penelitian yang menunjukkan tingkat kemampuan mengubah naskah percakapan dama kedalam bentuk narasi dari hasil analisis dekriftif diperoleh:

1. Nilai tertinggi yang diperoleh melalui tes kemampuan mengubah bentuk percakapan drama kedalam bentuk prosa narasi siswa kelas VIII SMP Negeri I Bonolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa adalah 8,5.

(41)

2. Nilai terendah yang diperoleh melalui tes kemampuan mengubah bentuk percakapan drama kedalam bentuk prosa narasi siswa kelas VIII SMP Negeri I Bonolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa adalah 5,0

3. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bonto Lempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa adalah 6,5 4. Nilai modus yang diperoleh siswa kelas VIII SMP Negeri 1

Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa adalah 6,0 Selanjutnya, jika keseluruhan nilai yang diperoleh responden dikelompokkan dalam lima kategori, maka distribusi frekuensi, persentasi dan kategori tingkat kemampuan siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempanganan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi ditunjukkan pada tabel 3.4 berikut ini:

(42)

Tabel 3.4 Distribusi Frekuensi, Persentase dan Kategori Tingkat Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah Percakapan Drama ke Bentuk Prosa Narasi

No Interval nilai frekuensi persentase kategori 1.

2.

3.

4.

5.

9,5-10,0 7,5-9,4 5,5-7,4 3,5-5,4 1,5-3,4

0 11 24 2 0

0,0 29,7 64,8 5,4 0,0

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Sumber Data: Data Primer Penelitian (2010)

Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada tabel 3.4 menunjukkan bahwa dari 37 siswa orang siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang menjadi responden, kategori tingkat kemampuan mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tidak ada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang memiliki tingkat kemampuan mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi yang dikategorikan sangat tinggi.

(43)

2. Terdapat 11 atau sekitar 29,72% siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan yang memiliki kemampuan mengubah naskah percakapan drama ke dalam bentuk prosa narasi yang dikategorikan tinggi.

3. Terdapat 24 atau sekitar 64,86% siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang memiliki tingkat kemampuan mengubah naskah percakapan drama ke dalam bentuk prosa narasi yang dikategorikan sedang.

4. Terdapat 2 atau sekitar 5,4% siswa kelas VIII SMP Negeri Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang memiliki tingkat kemampuan mengubah naskah percakapan drama kedalam bentuk prosa narasi yang dikategorikan rendah.

5. Tidak ada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang memiliki tingkat kemampuan mengubah naskaha percakapan drama ke dalam bentuk prosa narasi yang dikategorikan sangat rendah.

(44)

Untuk lebih jelasnya frekuensi dan distribusi tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah percakapan naskah drama ke bentuk prosa narasi dapat digambarkan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut:

ST T S R SR Keterangan:

ST = Sangat Tinggi T = Tinggi

S = Sedang R = Rendah

SR = Sangat Rendah

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa secara

(45)

umum tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Bontolempangan mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi dikategorikan tinggi. Hasil temuan penelitian didukung oleh beberapa fakta dan data seperti yang terlihat pada tabel 4.3 yakni:

1. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 6,5 dari 11 tertinggi yang bisa dicapai. Artinya nilai rata-rata tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi adalah 6,5.

Jika nilai rata-rata ini di konversi masukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi dan pengategorian, maka tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi dikategorikan sedang karena berada pada interval nilai 5,5 sampai 7,4.

2. Nilai modus yang diperoleh siswa adalah 6,0. Jika nilai modus ini di konversi ke dalam tabel distibusi frekuensi dan pengategorian, maka gambaran tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi dikategorikan sedang karena pada interval nilai 5,5 sampai 7,4.

(46)

3. Besarnya frekuensi serta persentase kelompok siswa yang memiliki rentang nilai antara 5,5 sampai 7,4 yang dalam tabel distribusu frekuensi berada pada kategori sedang.

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi belum memadai.

Kenyataan ini juga didukung oleh fakta yang mengungkapkan bahwa dari 37 siswa kelas VIII SMSP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang menjadi responden dalam penelitian ini, sebanyak 29,7% dikategorikan tinggi dan 64,8% yang memiliki tingkat kemampuan yang dikategorikan sedang.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di atas menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai 6,5 ke atas sejumlah 21 orang atau 56,75%, berarti yang memperoleh nilai di bawah 6,5 sejumlah 16 orang atau 43,24%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi belum memadai. Kriteria ini didasarkan pada prinip belajar tuntas yang menyatakan bahwa ketaatan belajar dikatakan tercapai bila sejumlah siswa atau 85% dari jumlah siswa mencapai nilai 6,5.

(47)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian analisis data dan pembahasan hasil pnelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka temuan pnelitian ini disimpulkan sebagai berikut:

1. Secara umum tingkat tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi dikategorikan sedang, hal ini terlihat dari tingginya persentase dan frekuensi siswa (64,86%) yang memiliki nilai yang berada pada rentang nilai 5,5 sampai 7,4.

2. Frekuensi dan persentase siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang memiliki tingkat kemampuan mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi yang dikategorikan tinggi sebanyak 29,72% atau sekitar 11 orang siswa dan berada pada rentang nilai 7,5 sampai 9,5.

3. Berdasarkan pada prinsip belajar tuntas yang menyatakan bahwa ketaatan belajar dikatakan tercapai bila sejumlah siswa atau 85% dari

44

(48)

jumlah siswa mencapai nilai 6,5 maka kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi belum memadai.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini, maka penulis dapat mengemukakan saran sebagai berikut:

1. Secara umum tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi belum memadai, dengan demikian disarankan kepada guru mata pelajaran studi bahasa Indonesia untuk lebih meningkatkan kemampuan tersebut misalnya dengan memberikan banyak latihan menyadur.

2. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi pedoman dan bahan pertimbangan bagi guru di sekolah yamg bersangkutan untuk lebih meningkatkan kualitas pengajaran, khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

3. Bagi peneliti yang berminat dalam penelitian pendidikan, kiranya dapat menyumbangkan pikiran dengan cara melakukan penelitian yang serupa pada sekolah-sekolah lain.

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 1985. Prosedur Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Adrian. 2007. Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri I Pamboang dalam Mengubah Naskah Percakapan Drama ke Bentuk Prosa Narasi. Skripsi, tidak diterbitkan. Makassar, FKIP UNISMUH.

Badrun, A. 1983. Pengantar Ilmu Sastra. Surabaya: Usaha Nasional.

Depdikbud. 1994. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Depdikbud. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdikbud. 1997. Citra Manusia dalam Drama Modern 1960 – 1980. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Harjana, A. 1985. Kritik Sastra,Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Mutmainna, R. 2008. Kemampuan Siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah Kalosi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang Mengubah Naskah Cerpen ke dalam Bentuk Naskah Drama. Skrips. tidak diterbitkan. Makassar, FKIP UNISMUH.

Nafiah, A. H. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang. Surabaya: Usaha Nasional.

Nusu, A. R. 1992. Apresiasi Sastra I. Ujung Pandang: FPBS IKIP Ujung Pandang.

Semi, M. A. 1988. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Sumarjo, J. 1884. Memahami kesusastraan. Bandung: Alumni.

Surana. 1995. Materi Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Tiga Serangkai.

Supratia. 1999. Tingkat Kemampuan Siswa Kelas I SMP Negeri 15 Makassar dalam Mengubah Naskah Percakapan Drama ke Bentuk Prosa. Skripsi, tidak diterbitkan. Makassar, FKIP UNISMUH.

46

(50)

Tarigan, H. G. 1985. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:

Angkasa.

, H. G. 1985. Prisip – Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Tjokroatmojo, dkk,. 1985. Pendidikan Seni Drama ( suatu pengantar). Surabaya:

Usaha Nasional.

Zulfanhur, Z. F. ; Sayuti, K.; dan Zuniar, Z. A. 1996. Teori Sastra. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

(51)

ABSTRAK

HAWATIA, 2006. “Kemampuan Mengubah Naskah Drama Ke dalam Bentuk Narasai Siswa Kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa”. Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa yang berjumlah 114 sedangkan sampel sebanyak 37% dari populasi atau sebanyak 37 siswa. Untuk mendapatkan data yang akurat, digunakan tes sebagai instrument penelitian. Siswa diberi tugas mengubah naskah percakapan drama ke dalam bentuk prosa narasi. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik ragam persentase.

Hasil penelitian ini menunjukkan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa secara umum dapat disimpulkan belum memadai, karena jumlah siswa jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas 6,5 hanya sebanyak 21 siswa atau sebesar 56,75% , hasil ini belum mencapai prinsip belajar tuntas yang menyatakan bahwa ketaatan belajar dikatakan tercapai bila jumlah siswa mencapai 85% dari jumlah siswa yang mendapat nilai minimal 6,5. Belum maksimalnya kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri I Bontolempangan Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa dalam mengubah naskah percakapan drama ke bentuk prosa narasi disebabkan masih kurangnya penguasaan siswa terhadap karya sastra khususnya prosa, dan juga proses belajar mengajar di sekolah tersebut kurang maksimal.

ix

(52)

Lampiran II

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Sekolah : SMP Negeri 1 Bontolempangan Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas/ Semester : VIII/ Ganjil

Pertemuan ke : I

Alokasi Waktu : 4X 45 Menit

Standar Kompetensi : 16. Menulis naskah drama

Kompetensi Dasar : 16.1. Mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama.

16.2. Menarasikan pengalaman manusia pada naskah drama Indikator : 1. Mampu mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog

naskah drama

2. Mampu menarasikan pengalaman manusia pada naskah drama.

3.Mampu mengaitkan isi drama dengan kehidupan sehari- hari.

I. Tujuan pembelajaran:

 Siswa mampu mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama.

(53)

 Siswa mampu menarasikan pengalaman manusia pada naskah drama.

 Siswa mampu mengaitkan isi drama dengan kehidupan sehari-hari.

II. Materi Pembelajaran

 Mendeskripsikan dan menarasikan pengalaman manusia pada naskah drama.

III. Metode Pembelajaran

 Ceramah

 Tanya jawab

 penugasan

IV. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan I

1. kegiatan awal

 Apersepsi (Mengecek kehadiran siswa, menyampaikan kompetensi dasar, indikator, dan materi yang akan di ajarkan).

2. kegiatan inti

1. Menjelaskan materi mengenai drama dan prosa narasi.

2. Memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan tanya jawab dengan guru.

3. kegiatan akhir

Guru dan siswa menyimpulkan materi.

(54)

Pertemuan II

1. Kegiatan awal

 Apersepsi (baca do’a dan memberikan motivasi pada siswa)

2. Kegiatan inti

1. Membagikan naskah drama yang akan di ubah menjadi prosa narasi kepada siswa.

2. Siswa di tugaskan mengubah naskah percakapan drama menjadi prosa narasi.

3. Kegiatan akhir

 Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa

V. Alat/ Sumber Belajar

 Cerdas Berpikir Bahasa dan Sastra Indonesia kelas 2 “Ganeca”

 Kompeten Berbahasa Indonesia kelas XI “Erlangga”

VI. Instrument Penilaian

 Unjuk kerja Soal Instrument

 Ubalah naskah percakapan drama yang berjudul“ Tumbang”!

Kriteria Penilaian

(55)

No. Aspek yang di nilai Skor maksimal Skor perolehan 1.

2.

3.

4.

5.

6.

Kesesuaian tema antara dialog drama percakapan drama dengan bentuk prosa.

Isi prosa narasi.

Penggunaan ejaan yang tepat.

Penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah.

Kepaduan antara paragraf yang satu dengan paragraf yang lain.

Pesan yang ingin di sampaikan

25 20 15 10 10 20

25 15 10 5 10 15

Jumlah 100 80

Makassar, Oktober 2010 Mengetahui

Guru Pambimbing Mahasiswa peneliti

Dahlan. S.Pd Hawatia

Kepala Sekolah

Muh. Djihad. S.Pd

(56)

KEMAMPUAN MENGUBAH NASKAH PERCAKAPAN DRAMA KE DALAM BENTUK NARASI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I

BONTOLEMPANGAN KECAMATAN BONTOLEMPANGAN KABUPATEN GOWA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammadiyah Makssar

Oleh:

HAWATIA 105333570 06

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2010

Gambar

Tabel  3.1.  Penyebaran  Siswa  Kelas  VIII  SMP  Negeri  I  Bontolempangan   Kecamatan  Bontolempangan  Kabupaten Gowa  sebagai  Populasi  Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas, maka data dianalisis berdasarkan teori sintaksis. Kata negasi dapat digambarkan secara langsung maupun secara tidak langsung. Kata negasi adalah

Pada tahun 2008 Penulis masuk di Universitas Muhammadiyah Makassar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra

Istilah quotpopulasiquot maksudnya adalah kumpulan organisme dari satu spesies jenis dan biasanya didefinisikan sebagai suatu kumpulan mahluk hidup dengan berbagai karakter yang

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran terhadap guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA khususnya guru bahasa Indonesia kelas X Semester II

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Masing- masing putaran dirancang melalui 4 komponen yakni perencanaan, aksi, observasi, dan refleksi. Kajian ini

Media tempel merupakan salah satu jenis media pembelajaran yang mudah didapat, murah, mudah dalam penggunaannya dan menarik. Media tempel yang dimaksud dalam

“Transliterasi dan Terjemahan Naskah ” Safinatun Najah ” Koleksi pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep-Madura (Sebuah Tinjauan Filologi Kajian Isi

Selanjutnya tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini yaitu ingin mengetahui bentuk interferensi bahasa Bugis terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi siswa baik