SISTEM BAGI HASIL DAN POLA HUBUNGAN SOSIAL
ANTARA PETANI PEMILIK DENGAN PETANI PENGGARAP DI JORONG GUGUAK RANG PISANG KECAMATAN KAMANG MAGEK
KABUPATEN AGAM
ARTIKEL
NIDIA SUPRATILOVA NPM: 10070238
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2015
Sharing System and Patterns of Social Relations Between Farmers Own The Farmer Cultivators Bananas In Jorong Guguak Rang District of Kamang Magek
Nidia Supratilova1Nilda Elfemi M.Si2Yuhelna M.A3 Program Studi Pendidikan Sosiologi
STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
Profit-sharing system is a very complex issue and the issue arises in every aspect of the lives of farmers. These problems include on the result itself and problems related to social relationships between landowners and rice cultivators. Constriction that occurs in agricultural land led to a lack of labor agreements to the farmers, while the results are closely related to employment. With the result means the chance cultivate land within a certain period, one of the factors that led to the limited employment opportunities in the agricultural sector is increasing acreage same owner. This study aims to 1) describe the pattern of results conducted between farmers and sharecroppers owner 2) describe the social relations in the work occurring between farmers cultivators with farmers.The theory used in this study is the Social Interaction theory proposed by George Simmel. The approach used in this study is qualitative descriptive type. technique taking informants conducted by purposive sampling with 10 informants. The type of data in this study are primary and secondary data. Data were collected through observation, interviews and document the unit of analysis is a group. The data analysis model used by researchers is an interactive analysis model according to Miles and Huberman, which consists of four stages: the data collection, the data reduction, the data presentation, and noun conclusions. Based on the research that has been done on the system and the results of the social relationship between the owner of the cultivators farmer Jorong Guguak Rang Pisang District of Kamang Magek showed that. 1) the sharing system between owner and cultivators farmers for ½: ½ good results penen increased or decreased remain divided two. 2) pattern of the relationship between the owner of the cultivators farmer a) the forms of cooperation that is the owner of the cultivators farmer looks at owner gives land and the results will be shared equally by peasants, farmers owners make an agreement that will not there is a dispute, if any event owner and cultivators farmers help each other. This systems from the existence of social relations among people who developed into a special relationship (labor relations) in the system for the results, it can not be separated from social and cultural systems.
Keyword: Sharing System and Patterns of Social Relations
1Mahasiswa program studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
2Pembimbing I. staf pengajar Program Studi Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
3Pembimbing II. Staf pengajar Program Studi Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Di lihat dari data BPS 2012 jumlah penduduk Sumatera Barat adalah 3.300.000 jiwa yang tersebar di daerah perkotaan dan pedesaan. Jumlah penduduk yang tinggal di daerah pedesaan adalah 1.679.690 jiwa dan di perkotaan 1.620.310 jiwa. Ini menunjukan bahwa sebagian besar penduduk Sumatera Barat yang di pedesaan dengan mata pencarian utamanya adalah sebagai petani, yang terbesar di berbagai kabupaten-kabupaten di Sumatera Barat (BPS , Sumatera Barat, 2012).
Masyarakat Indonesia dikenal dengan masyarakat agraris atau pertanian, karena sebagian besar penduduknya bermukiman di pedesaan dan hidup dari sektor pertanian, tentunya memiliki lahan yang banyak untuk mengembangkan lahan pertanian. Hal ini berarti masalah pertanian menduduki posisi yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Karena arah dan kebijaksanaan umum terutama dalam bidang pertanian di tujukan untuk meningkatkan hasil dan mutu produksi pendapatan serta taraf hidup petani.
Maka masalah yang terdapat di Jorong Guguak Rang Pisang pada umumnya masalah kemiskinan.
Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan para petani di antaranya melalui intensifikasi dan ekstensifikasi dalam bidang pertanian.
Intensifikasi pertanian merupakan suatu usaha dalam meningkatkan produksi pertanian dilahan yang sudah ada dengan cara Panca Usaha Tani. Sedangkan ekstensifikasi pertanian adalah peningkatan produksi pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian (Dianto dalam akhsin 1998).
Dalam mengelola lahan pertanian umumnya para petani di desa banyak yang melakukan pengolahan secara tradisional, dimana penggelolaan dengan bercocok tanam didapatkan secara turun temurun. Akan tetapi ada juga sebagian dari petani yang telah mengolah lahan pertaniannya secara modern dengan menggunakan teknologi yang didukung oleh mesin-mesin sebagai alat untuk membantu para petani dalam menggarap lahan pertaniannya.
Kondisi yang terdapat di Jorong Guguak Rang Pisang, dengan adanya area sawah maka warga yang tinggal disana melalukan sistem bagi hasil. Biasanya sistem bagi hasil terjadi bermula dari ada masyarakat yang tidak memiliki sawah, sedangkan mereka harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya,
petani memiliki tenaga yang cukup dan merasa sanggup untuk menggelola sawah. Maka petani penggarap mencari seseorang yang mempunyai sawah yang luas dan meminta kepada orang tersebut diolahnya. Dan karena rasa tolong menolong di dalam masyarakat sangat kuat maka petani yang memiliki sawah yang luas menyerahkan sawahnya kepada petani penggarap untuk diolah dengan cara sistem bagi hasil.
Sistem bagi hasil adalah suatu bentuk ikatan ekonomi sosial, yang mana si pemilik tanah menyerahkan tanahnya untuk digarap oleh orang lain (penyakap) dengan persyaratan-persyaratan yang disetujui bersama. Persyaratan itu umumnya mengenai beban dan resiko yang di tanggung bersama serta mengenai besarnya bagian yang diterima masing-masing pihak. Persyaratan mengenai bagi hasil ini adalah kenyataannya tergantung pada keadaan setempat yakni menyangkut perimbangan kekuatan antara pemilik tanah dan penggarap. (Rahardjo, 1999).
Masalah yang berhubungan dengan sistem bagi hasil merupakan masalah yang sangat komplek dan masalah tersebut muncul dalam setiap aspek kehidupan petani. Masalah tersebut mencakup tentang bagi hasil itu sendiri dan masalah yang menyangkut hubungan sosial diantara pemilik lahan dan penggarap sawah. Penyempitan yang terjadi dalam lahan pertanian menyebabkan kurangnya kesepakatan kerja kepada masyarakat petani, sedangkan bagi hasil berhubungan erat dengan kesempatan kerja.
Dengan bagi hasil berarti memperoleh kesempatan mengolah lahan dalam jangka waktu tertentu, salah satu faktor yang menyebabkan semakin sempitnya kesempatan kerja disektor pertanian yaitu bertambahnya pemilik areal yang sama.
Adapun tujuan dari sistem bagi hasil adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehari-hari dan juga untuk modal penanaman kembali sawah yang sudah di panen. Untuk mencukupi semua itu petani sangat tergantung dengan hasil panen yang telah di bagi dengan pemilik sawah. Akan tetapi hasil panen yang telah dibagi tersebut sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehingga menggakibatkan banyak petani yang menggarap yang termasuk dalam garis kemiskinan (Titi Soentoro, 1989).
Dalam mengatasi kondisi ekonomi petani penggarap berusaha agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja keras untuk mengatasinya. Maka petani tersebut akan melakukan sistem bagi hasil dengan cara mencari petani pemilik yang tidak bisa
1
mengolah sawahnya sendiri. Para petani biasanya memanfaatkan pola-pola sosial yang ada didesanya untuk mengatasi kesulitan- kesulitan yang dihadapinya. Tindakan-tindakan petani dalam mengatasi kesulitan dengan menggunakan pola-pola yang ada didalam masyarakat dan mempunyai alasan yang kuat untuk dilakukan. Dengan adanya sistem bagi hasil tersebut maka akan terjadi pola hubungan kerja diantara mereka (Rahardjo, 1999).
Sawah yang bisa dijadikan untuk bagi hasil tersebut adalah sawah milik pribadi atau sawah yang dibeli sendiri oleh petani pemilik yang kemudian diserahkan kepada petani penggarap untuk diolah karena petani pemilik memiliki pekerjaan lain selain petani seperti berdagang. Biasanya petani pemilik lebih senang menyerahkan sawahnya digarap oleh keluarganya sendiri, selain sawahnya akan dirawat dengan baik petani pemilik juga bisa membantu masyarakat yang lain dengan cara mengolah sawah yang nanti hasilnya akan dibagi dua sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Tetapi biasanya pemilik sawah akan memberikan bagian yang lebih kepada petani penggarap karena usaha pengelolahan sawah dari awal samapai panen serta bibit ditanggung oleh petani penggarap.
Masalah yang terdapat dalam penelitian ini bagaimana pola bagi hasil yang dilakukan antara petani pemilik dan petani penggarap dan bagaimana bentuk hubungan sosial dalam pekerjaan antara petani penggarap dengan petani pemilik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola bagi hasil yang dilakukan petani pemilik dan petani penggarap dan Untuk mendeskripsikan hubungan sosial dalam pekerjaan yang terjadi diantara petani penggarap dengan petani pemilik.
Teori yang di gunakan untuk memahami masalah penelitian ini adalah teori interaksi sosial yang di kemukakaan oleh George Simmel. Teori interaksi sosial adalah hubungan yang dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok (Setiadi dan Kolip, 2011:64).
Teori interaksi sosial dalam pemikiran Simmel menjelaskan bahwa salah satu perhatian utamanya ialah interaksi (asosiasi- asosiasi) di kalangan aktor-aktor yang sadar dan maksud Simmel ialah melihat sederetan luas interaksi yang mungkin tampak sepele pada suatu ketika tetapi sangat penting pada saat lainnya. Perhatiannya bukan ungkapan Durkheimian mengenai minat pada fakta-fakta social tetapi suatu pernyataan mengenai fokus berskala kecil bagi sosiologi (George Ritzer, 2012: 282).
Dalam sudut pandangan Simmel ini dunia nyata terdiri dari peristiwa-peristiwa, tindakan-tindakan, interaksi-interaksi dan seterusnya yang tidak terhitung banyaknya.
Untuk menangani simpang siur kenyataan (‘isi-isi”), manusia menatanya dengan memaksa pola-pola atau bentuk-bentuk kepadanya, dengan demikian menurut Simmel tugas para sosiolog adalah melakukan secara persis apa yang dilakukan oleh orang awam, yakni memaksakan sejumlah terbatas bentuk- bentuk pada realitas sosial, pada interaksi secara khusus, sehingga ia dapat dianalisis dengan lebih baik (George Ritzer, 2012: 283).
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Tipe penelitian deskriptif adalah berusaha untuk menggambarkan dan menjelaskan secara terperinci tentang masalah yang akan diteliti (Moleong, 2005:4 & 11).
Metode ini dipilih karena dengan metode ini bisa melihat dan mengamati secara langsung perilaku formal sehingga data diperoleh bisa akurat.
Informan penelitian adalah menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: 1) Masyarakat Petani Pemilik di Jorong Guguak Rang Pisang. 2) Masyarakat Petani Penggarap di Jorong Guguak Rang Pisang. 3) Warga di Jorong Guguak Rang Pisang. Informan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang, adapun informan dalam penelitian ini yakni Wali Jorong Guguak Rang Pisang berjumlah 1 orang, petani pemilik yang berjumlah 2 orang, petani penggarap 4 orang dan warga masyarakat berjumlah 3 orang.
Teknik penggumpulan data kualitaf dalam penelitian ini menggunakan cara sebagai berikut :
1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan terhadap objek secara langsung. Observasi merupakan teknik pengamatan dan pencatatan sistem dari fenomena-fenomena yang diselidiki.
Observasi dilakukan untuk menemukan data dan informasi dari gejala atau fenomena secara sistematis didasarkan pada tujuan penyelidikan yang telah dirumuskan (Mahmud, 2011:168).
2
Metode observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai sistem bagi hasil dan pola hubungan sosial antara petani pemilik dengan petani penggarap. Pada saat melakukan observasi peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian, melakukan pengamatan serta melakukan pencatatan data yang diperoleh masih berupa gambaran umum. Hal ini karena nantinya data tersebut akan diolah dan di analisis. Dalam penelitian ini yang menjadi objek observasinya adalah petani pemilik dan petani penggarap.
2. Wawancara
Wawancara yaitu, tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung kepada informan, maksudnya ialah proses memperoleh data untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab tatap muka antara pewawancara dengan responden (informan).
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara tidak terstruktur atau bebas yang memberikan kesempatan kepada informan untuk mengeluarkan pikiran, pandangan dan perasaannya tanpa diatur atau terikat oleh penelitian. Wawancara yang digunakan ini dimaksudkan untuk mengetahui alasan para petani melakukan sistem bagi hasil dan untuk mengetahui proses bagi hasil yang mereka lakukan dan bentuk hubungan sosial antara petani pemilik dan petani penggarap.
Selain itu, teknik lainnya yaitu studi literatur yang juga penting dalam penelitian ini adalah, studi yang dilakukan sebelum, selama dan sesudah penelitian, beberapa buku, skripsi yang relevan dengan permasalahan penelitian datanya bersifat sekunder.
Wawancara lebih banyak dilakukan pada sabtu dan minggu selain itu juga ketika petani berada di rumah, karena informan lebih mudah untuk ditemui dan tidak sedang melakukan aktivitas di sawah. Sebelum melakukan wawancara peneliti terlebih dahulu memperkenalkan diri dan juga menyampaikan maksud dan tujuan untuk melakukan wawancara, peneliti juga menanyakan apakah informan bersedia secara sukarela untuk di wawancarai.
Orang yang di wawancarai adalah petani
yang berada di Jorong Guguak Rang Pisang. Penulis telah melakukan wawancara dari tanggal 10 November sampai dengan 8 Desember. Ada pun yang ingin di tanyakan kepada informan tersebut mengenai sistem bagi hasil dan pola hubungan sosial antara petani pemilik dengan petani penggarap di Jorong Guguak Rang Pisang.
3. Studi Dokumen
Dokumen adalah metode penelitian yang dilakukan terhadap informasi yang di dokumentasikan dalam bentuk rekaman, gambar, suara, tulisa, dan dokumen-dokumen lainnya. Bentuk rekaman biasanya dikenal dengan penelitian analisis dokumen atau analisis isi. Dengan analisis isi peneliti bekerja secara objektif dan sistematik untuk mendeskripsikan isi bahan komunikas (arikunto, 2010:244).
Dalam penelitian ini peneliti sangat membutuhkan dokumen untuk melengkapi data yang dibutuhkan dalam penelitian, dokumen yang dibutuhkan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah informasi yang berupa dokumentasi berhubungan dengan surat-surat atau tulisan yang berkaitan dengan sistem bagi hasil dan pola hubungan sosial antara petani pemilik dengan petani penggarap di Jorong Guguak Ran Pisang Kecamatan Kamang Magek.
Analisis data yang dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan (Sugiono, 2013:247). Penelitian dilakukan di Jorong Guguak Rang Pisang Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam karena masyarakatnya di Jorong ini umumnya bermata pencarian sebagai petani sawah tetapi tidak semua dari masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang yang memiliki lahan persawahan yang luas sehingga ada dari sebagian masyarakatnya yang menggarap sawah orang lain sekaligus merangkap sebagai buruh tani tapi mereka tetap menggarap sawah sendiri yang luasnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pola Bagi Hasil Antara Petani Pemilik dengan Petani Penggarap
Pertanian sawah merupakan pekerjaan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang, hal ini dilakukan karena masyarakatnya banyak yang menjadi
3
pertanian persawahan. Sawah yang terdapat di Guguak Rang Pisang merupakan sawah irigasi sehingga dalam penggunakan air masyarakat petani tidak kesulitan mendapatka air untuk sawah mereka karena Jorog banyak dialiri sungai yang bisa dimanfaatkan untuk pengairan sawah.
sawah yang dimiliki oleh masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang yaitu sawah yang didapatkan secara turun temurun dari orang tuanya dan ada juga yang memiliki sawah tersebut dengan cara membeli sendiri sawah tersebut dengan hasil jerih payahnya selama berkeluarga dan sawah tersebut dijadikan aset untuk masa depan anak cucunya. Sedangkan sawah pribadi yang dimiliki oleh para petani penggarap tidak mencukupi kehidupan keluarganya dan hanya cukup untuk kebutuhan makan dari panen ke panen. Sedangkan untuk keperluan lainnya dan biaya sekolah anak- anaknya, mereka harus menggarap sawah yang lebih banyak dan hal itu dilakukan dengan cara bagi hasil yang dilakukan diantara petani.
Bagi hasil pertanian adalah suatu ikatan atau perjanjian kerja sama antara petani pemilik dengan petani sebagai penggarap.
Upah dari penggarap lahan tersebut diambil atau diberikan dari hasil pertanian yang diusahakan, setelah selesai panen atau sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati ketika pertama kali mengadakan transaksi.
Terjadinya sistem bagi hasil di Jorong Guguak Rang Pisang dilatar belakangi oleh adanya pemilik lahan yang tidak dapat menggarap sendiri lahannya karena bukan berprofesi sebagai petani dan tidak menetap di Jorong Guguak Rang Pisang atau tidak dapat menggarap lahannya karena kewalahan dalam menangani semua lahan yang dimilikinya.
Meskipun petani yang bersangkutan memiliki lahan, namun lahan yang dimiliknya tersebut tidak mampu memberikan hasil untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Sebagai konsekuensi dari adanya perbedaan status petani sebagai petani pemilik dan petani penggarap dalam mengelola sebidang lahan usaha tani. Maka hasil pengelolaan tentunya akan dibagi sesuai kesepakatan masing-masing pihak dan kebiasaan-kebiasaan yang umum berlaku di suatu daerah.oleh karena itu kesepakatan bagi hasi berbeda-beda di setiap daerah.
Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem bagi hasil tidak hanya berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, namun perbedaan juga terjadi antara satu petani penggarap dengan petani penggarap lainnya dalam satu daerah, sebagaimana yang terjadi di Jorong Guguak Rang Pisang.
Pola bagi hasil yang dilakukan oleh masyarakat tani Jorong Guguak Rang Pisang di tentukan pula oleh musim tanam yang berlangsung dan juga dimulai dengan adanya kesepakatan diantara kedua belah pihak yang terlibat yaitu petani pemilik dan petani penggarap. Bentuk bagi hasil yang dilakukan oleh masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang dikenal dengan istilah Mampasaduoi sawah.
Bentuk bagi hasil yang dilakukan ini yaitu dimana pembagian hasil pada dasarnya pendapatan yang diperoleh petani setelah bagi hasil dilakukan dengan pengeluaran biaya- biaya produksi kemudian hasil tersebut dibagi dengan pihak pemilik lahan dan pihak penggarap lahan yang terlibat sesuai dengan perjanjian bagi hasil yang telah disepakati oleh bersama dari awal. Bagi hasil ini dilakukan setelah panen, dan diantara petani pemilik dan penggarap mendapatkan hasil yang sama setelah uang pupuk dikeluarkan yaitu serdua- seperdua.
Pola bagi hasil ini dimulai dari adanya keinginan antara petani penggarap untuk menggarap sawah orang lain, namun ada juga dari petani pemilik yang mencari sendiri petani penggarap dengan alasan-alasan tertentu.
Tetapi yang lebih banyak terjadi di Jorong Guguak Rang Pisang adalah petani penggarap yang mencari petani pemilik untuk melakukan kerja sama dengan cara sistem bagi hasil.
Penawaran ini jika disetujui berarti kesepakatan kedua belah pihak adalah seperdua-seperdua dan biaya penggarap dari penggolahan hingga panen ditanggung penggarap kecuali uang pupuk, uang pupuk di tanggung oleh pemilik sawah.
Pembagian hasil ini merupakan tahap terakhir dalam hubungan kerjasama yang dilakukan oleh petani pemilik dengan petani penggarap. Pembagian yang dilakukan disini yaitu berupa uang setelah panen. Kegiatan pembagian hasil ini dilakukan setelah hasil panen padi tersebut dijual pada toke. Setelah padi dijual dan uang diterima dari toke maka barulah dimulainya pembagian hasil antara pemilik dengan penggarap. Semua uang yang diterima dari penjualan hasil panen tersebut diserahkan kepada petani pemilik dan barulah petani pemilik membagi dua setelah uang pupuk dikeluarkan dan pembagian hasil penjualan panen ini dilakukan dirumah petani pemilik. Pembagian ini dilakukan seperti yang telah disepakati sebelumnya oleh kedua belah pihak yaitu pemilik dan penggarap sebesar ½ :
½ baik hasil panen tersebut meningkat atau menurun tetap dibagi dua.
Pembagian hasil yang dilakukan separdua-seperdua tersebit diluar uang pupuk, uang pupuk tersebut di tanggung oleh pemilik
4
lahan sehingga petani penggarap ringan dengan biaya karena uang pupuk sudah ditanggung sama pemilik, seperti itulah sistem bagi hasil yang dilakukan oleh petani pemilik dan petani penggarap di Jorong Guguak Rang Pisang.
apabila petani penggarap tidak sanggup lagi mengelola sawah yang digarapnya, maka sawah tersebut bakalan diberikan kepada si pemilik sawah tersebut. Seperti itulah perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak antara penggarap dan pemilik sawah.
Seperti itulah kesepakatan perjanjian yang diucapkan kedua belah pihak.
Masyarakat di Minangkabau memiliki prinsip sosial yang “senasib sepenanggungan”
yaitu perasaan yang sama-sama ikut merasakan kesulitan yang sedang dialami oleh anggota masyarakat yang lain. Hal ini juga mempengaruhi pemilik sawah untuk memutuskan penggarapan sawah yang dimilikinya. Mereka ikut bertanggung jawab terhadap petani yang ekonominya lemah terutama yang masih kerabat mereka. Wujud dari rasa solidaritas tersebut membuat pemilik sawah menyerahkan sawahnya dengan sistem bagi hasil. Dengan menerapkan system bagi hasil ini, maka pemilik sawah merasa lelah ikut membantu perekonomian rumah tangga petani penggarap dengan memberikan sawahnya kepada petani penggarap untuk digarap.
2. Pola Hubungan Sosial Antara Petani Pemilik dengan petani Penggarap
Pola hubungan antara petani pemilik dengan petani penggarap merupakan bentuk dari hubungan sosial. Pola hubungan sosial disini terbentuk karena terjadinya interaksi sosial antara sesama individu yang mempunyai kepentingan yang sama. Bentuk hubungan sosial yang terdiri dari adanya kerja sama.
a. Kerja Sama
Pemilik sawah yang melakukan kerja sama dengan petani penggarap pada Jorong Guguak Rang Pisang memang tinggal di Jorong Guguak Rang Pisang dan juga mempunyai sawah yang berada di luar nagari tempaat tinggalnya, sawah tersebut digarap oleh orang lain. Petani pemilik dalam melakukan kerjasama dengan petani penggarap memiliki pertimbangan- pertimbangan tertentu seperti keterbatasan waktu yang dimiliki petani pemilik untuk melakukan penggarapan sawahnya sendiri.
Pekerjaan petani pemilik sebagai pedagang memungkinkan terjadinya interaksi dalam segala bidang kehidupan yaitu sebagai
pedagang dengan petani penggarap yang akan mempenggaruhi pemilik untuk memutuskan hubungan kerja sebagai pemilik sawah.
Dengan menggarap sawah pemilik bisa menciptakan kerja sama namun tidak hanya dengan kerabat mereka saja, namun dengan warga sekeliling tempat tinggal mereka pun melalukan kerjasama. Hubungan sosial disini dapat dilihat dalam bentuk kerja sama yang dilakukan diantara petani. Kerja sama yang dilakukan bukan hanya dengan kerabat melainnka dengan warga di sekitar lingkungannya.
Adanya hubungan kerja sama terdapat pada masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang seperti dalam bentuk hubungan sosial ini bukan saja terbentuk dalam satu waktu saja tetapi sudah berlangsung sejak lama, sejak adanya keinginan dari masyarakat tersebut untuk melakukan sistem pembagian hasil sawah. Hubungan-hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang berkembang menjadi pola-pola hubungan khusus (hubungan kerja) antara petani pemilik dengan petani penggarap.
Pola hubungan ini didasari oleh pemahaman pelaku terhadap kebudayaan yang mengatur tingkah laku dan tata cara berinteraksi sesamanya atau apa yang disebut oleh Goodenaugh sebagai pola bagi yang merupakan sistem aturan, sistem nilai maupun pedoman bagi tingkah laku manusia dan pola dari tindakan yang merupakan aktivitas tindakan manusia itu sendiri. Masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang melakukan bagi hasil dengan sistem mampasaduoi sawah dan melibatkan dua belah pihak yang bekerjasama yaitu petani pemilik dan petani penggarap yang bersifat timbal balik, dimana pemilik sawah membutuhkan tenaga untuk menggarap sawahnya dan dilain pihak petani penggarap membutuhkan sawah tersebut untuk digarapnya.
Hubungan sosial yang terjadi diantara petani tersebut dapat berupa hubungan kerja, yang dapat menyebabkan mereka bisa saling bekerja sama. Hubungan kerja yang terdapat dalam penggolahan sawah dengan cara mampasaduoi sawah melibatkan petani pemilik sebagai orang yang memiliki sawah dan petani penggarap sebagai orang yang akan menggarap sawah. Adapun istilah petani penggarap yang dikatakan oleh masyarakat Jorong Guguak Rang Pisang karena mereka bukan saja bekerja menggarap sawah orang lain saja,tetapi menggarap sawah milik sendiri yang tidak begitu luas.
Hubunga kerja sama yang terdapat di Jorong Guguak Rang Pisang dimana di dalam masyarakatnya tidak pernah saling membeda-
5
bedakan warganya yang mana ketika mereka mengalami kesulitan maka mereka saling tolong menolong dan masyarakatnya bisa menyesuaikan diri dimana mereka berada.
Di dalam bentuk kerja sama di Jorong Guguk Rang Pisang untuk mengurangi pertentangan perorangan maka pemilik lahan memberikan lahan atau sawahnya kepada petani penggarap yang bukan kerabatnya sendiri, melain kan orang lain yang sudah mereka percayai dan mereka kenal.
Hubungan yang terjadi antara petani pemilik dengan petani penggarap bukanlah hubungan dengan kerabatnya, tetapi melainnya bukan kerabat mereka, di karenakan apabila sistem bagi hasil antara petani pemilik dengan petani penggarap dilakukan dengan kerabat sendiri maka petani pemilik merasa sulit melakukan perjanjian yang benar-benar kuat, dikarenakan hubungan kerabat itu paling sulit melakukan kerja sama yang baik. Maka di Jorong Guguak Rang Pisang melakukan pola hubungan sosial antara petani pemilik ini sebagian besarnya bukan dengan kerabat mereka sendiri. Bukan hubunga tersebut tidak bisa dikatakan sebagai hubungan patron-klien seperti yang dikatakan dalam Antropologi karena dalam hal ini bentuk hubungan yang terjadi yaitu hubungan kekeluargaan, dimana pemilik sawah akan memberikan sawahnya untuk diolah dan digarap dengan baik kepada orang yang benar-benar dipercayainya. Hal ini dapat dilihat apabila ada diantara petani penggarap yang terkena musibah atau suatu kesusahan, maka petani pemilik secara kekeluargaan atau ikut merasakan apa yang dirasakan oleh petani penggarap, maka petani pemilik dengan sukarela akan memberikan bantuan dan begitu juga sebaliknya.
Di Jorong Guguak Rang Pisang petani pemiliknya tidak merasa rugi dikarenakan petani pemilik merasa untung uang bagi hasil lahanya bias di simpan untuk keperluan yang mendadak,di karenakan petani pemilik ini hanya menanggung uang pupuknya saja.
Sedangkan petani penggarap merasa kadang- kadang merasa rugi apabila tanaman padinya ada masalah maka asil yang di peroleh bakalan sedikit , kalau untungnya bagi petani penggarap ini mereka bisa memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan di Jorong Guguak Rang Pisang, dari hasil penelitian yang dilakukan selama dua bulan tersebut penulis dapat menghasilkan kesimpulan
1. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa masyarakat di Jorong Guguak Rang Pisang umunya hidup dari hasil pertanian sawah.
Pertania sawah yang dilakukan di Jorong Guguak Rang Pisang tersebut merupakan sawah irigasi. Sawah yang dimiliki oleh masyarakat tidak sama rata ada yang memiliki sawah banyak dan ada yang hanya memiliki sawah sedikit. Dengan hasil panen yang dimiliki oleh masyarakat yang mempunyai sawah sedikit-tidak mencukupi semua kebutuhan keluarga. Dalam menghadapi kondisi seperti itu maka para petani yang berada di Jorong Guguak Rang Pisang melakukan kerjasama dengan petni pemilik dalam penggarapan sawah dengan cara sistem bagi hasil yanh oleh masyarakat setempat disebut dengan mampasaduoi sawah. Pembagian hasil yang dilakukan di Jorong Guguak Rang Pisang ini separdua- seperdua tersebut diluar uang pupuk, uang pupuk tersebut di tanggung oleh pemilik lahan sehingga petani penggarap ringan dengan biaya karena uang pupuk sudah ditanggung sama pemilik.
2. Pola hubungan sosial antara petani pemilik dengan petani penggarap dilihat dari bentuk- bentuk interaksi sosial yaitu kerja sama.
Bentuk hubungan kerja sama antara pemilik dengan penggarap terlihat pada petani pemilik memberikan lahannya dan hasilnya nanti dibagi sama rata dengan petani penggarap, petani pemilik membuat perjanjian agar nantinya tidak ada perselisihan, apabila ada acara petani pemilik dan penggarap saling membantu satu sama lain. Hal ini bermula dari adanya hubungan sosial diantara masyarakat yang berkembang menjadi hubungan yang lebih khusus (hubungan kerja) dalam sistem bagi hasil, hal ini tidak terlepas dari sistem sosial dan budaya setempat.
Saran
Penelitian tentang bagi hasil padi di Jorong Guguak Rang Pisang masih bersifat dangkal dan masih banyak hal-hal dikaji. Maka penulis mengharapkan adanya penelitian yang lebih mendalam tentang sistem bagi hasil padi ini.
Walaupun pada masa sekarang ilmu Antropologi telah melebarkan sayapnya kebeberapa bidang lainnya. Namun hendaknya kajian tentang petani dan permasalahannya tidak disingkirkan begitu saja. Bagaimana masyarakat Indonesia masih bergerak disektor pertanian terutama masyarakat pedesaan. Dan bagi peneliti lain agar dapat mengembangkan kepada variabel yang lain. Sehingga hasil 6
penelitian lebih konprehensif dimasa yang akan dating.
DAFTAR PUSTAKA
Akhsin. 1998. Pola Hubungan Kerja Petani Tomat dengan Pemilik Modal (skripsi Antropologi FISIB Unand).
BPS, 2012. Penduduk Sumatera Barat.
George, Ritzer. 2012. Teori Sosiologi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Moleong, lexy J. 2013, Metodologi Penelitian Kualitatif : Bandung. PT Remaja
Rosdakarya.
Moleong, lexy J. 2013, Metodologi Penelitian Kualitatif : Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Rahardjo, M.Si. 1999. Pengantar sosiologi pedesaan dan pertanian: Yogyakarta.
Gajah Mada University.
Setiadi, Elly & Kolip, Usman. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Pemecahan. Jakarta: Kencana.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kualitatif Kuantitatif. Bandung : Alfabeta.
Titi ,Soentoro, Soeyanto.1989. Sosiologi Pertanian. Yayasan Obor Indonesia.
7