• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kaidah Fikih Al Masyaqqah Tajlib Taisir

N/A
N/A
iqbal

Academic year: 2025

Membagikan "Kaidah Fikih Al Masyaqqah Tajlib Taisir"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

Kaidah Fikih:

Al-Masyaqqah Tajlib At-Taisiir (Kesulitan Mendatangkan Kemudahan)

Makna Kaidah

اْ لْ م

ْ شْ ق

ْ تْ ل ْ ةْ

ْ ب

ْ

ْ تلا

ْ يْ س

ْ ي

ْ

ْ Kesulitan mendatangkan kemudahan

Dalam penggalian Hukum Islam, kita mengenal kaidah

Kesulitan itu mendatangkan kemudahan”. Yang dikenal dengan nama: ﺭﻳﺳﻳﺗﻟﺍ ﺏﻟﺟﺘ ﺔﻗﺷﻣﻟﺍ . Kaidah ini merupakan dasar penting sumber syariah. Mayoritas dispensasi syar’i didassari oleh kaidah ini, selain menjadi Kaidah Fiqhiyah, kaidah ini juga menjadi kaidah ushuliyah al-ammah. Bahkan menjadi kaidah yang memiliki sifat qath’iy, karena dalil-dalil yang mendasari dan menjadi landasan tumpuannya sangat sempurna. Sesungguhnya syari’ah tidak menuntut seseorang untuk melakukan sesuatu yang menjatuhkannya pada kesulitan, atau sesuatu yang tidak sesuai dengan karakter dan hati nuraninya. Kemudahan dan keringanan adalah tujuan dasar dari

“pemilik syari’ah yang bijaksana” dalam memberlakukan

(2)

2

syari’ah Islam.1 Rasulullah Saw. bersabda: Aku diutus dengan membawa agama yang benar dan mudah. (HR. Ahmad).2 hadits Nabi tersebut menunjukkan bahwa Allah menghendaki kemudahan dengan umat Nabi Muhammad Saw. dan tidak menghendaki kesulitan.3

Kesulitan sesuatu bisa terjadi secara insidental dan secara kontinyu. Orang yang menderita sakit-berdasarkan perkiraan medis yang tidak memungkinkan sembuh secara biasa, akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, kesulitan tersebut diatasi dengan cara memberi dispensasi, mengganti, dan mengubahnya.

Sedangkan orang yang berpergian jauh-berdasarkan kebiasaan – mengalami kelelahan dan karenanya berat dalam melaksanakan kewajiban. Itupun diatasi dengan cara memberikan keringanan.4

Al-Masyaqqah menurut arti bahasa adalah at-ta'ab yaitu kelelahan, kepayahan, kesulitan, dan kesukaran. Seperti terdapat dalam QS. An-Nahl (16): 7, Allah ta’ala berfirman:

1 Ahmad Sudirman Abbas, Qawa’id Fiqhiyyah Dalam Persepektif Fiqh, Anglo Media, Jakarta, 2004, Hlm. 77.

2 Ahmad bin Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad, Daar Ihya At-Turats Al- Araby, Kairo, 1993, Jilid 5, Hlm. 266.

3 Muchlis Usman, Kaidah-Kaidah Istinbath Hukum Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, Hlm. 128.

4 Jaih Mubarok, Op. Cit., Hlm. 138.

(3)

3

ُ لِمۡ تََو َ و كَتُ ۡمَّلُ ٖ َلََبُ َٰلَِإُ ۡم كَلاَقۡثَأ ُ

ُ ِ قِشِبُ َّ

لَِّإُ ِهيِغِلٰ َبُ ْاو ن

ُ ِس فن َ ۡ لۡ ٱ

ُٞميِحَّرُ ٞفو ءَرَلُۡم كَّبَرَُّنِإ ُ ٧ُ

ُ

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sedangkan at-taysir secara etimologi berarti kemudahan, seperti di dalam hadis nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim disebutkan:

ْ إْ ن

ْ دلا ْ

ْ يْ ن

ْ سْ ر ْْ ي

"Agama itu mudah.” Yusrun lawan dari kata usrun (sukar, sulit).

Secara bahasa, al-masyaqqat berarti at-ta’ab (kelelahan, kepenatan, keletihan), Sedang arti kata al-taysir adalah al- suhulat (gampang, mudah, ringan), dan al-luyunat (lunak, halus, dan ramah). Adapun makna terminlogi kaidah asasi di atas adalah :

ْ إﻥ

ْﺍ

ْ ل ﺣ ﻜ ﻡﺎ

ْﺍْ ل

ْْ يْ ن ْ ت

ْ شْ أ

ْ نْ ْْ ع

ْ تْ ط

ْ بْ يْ ق

ْ ﺣْﺎ ْ ه

ْ رْ ج

ْْ عْ ل

ْ لاْى

ْ مْ ﻜ

ْ ل

ْْ وْ م ْ ف

ْ شْ ق

ْ ةْ

ْ ف

ْ

ْ نْ ف

ْ س

ْ هْْ

أْ وْ

ْ مْ لﺎ

ْ ف ْ هْ

ْ شلﺎ

ْ رْ يْ ع

ْ تْ ف ْ ةْ

ْ فْ ه

ْ بْﺎ

ْ يْﺎ

ْ قْ ع

ْ ت ْ

ْ ت

ْ دْ رْ ة ْْ ق

ْْ لا

ْ مْ ﻜ

ْ ل

ْْ د ْ ف

ْ وْ ن

ْ سْ ر ْْ ع

ْ

ْ أْ وْ

ْ ﺣْ ر

ْ ج

5

5 Muhammad Shidqi bin Ahmad Al-Burnu, Op. Cit., Hlm. 218.

(4)

4

“Hukum yang praktiknya menyulitkan mukallaf, pada diri dan sekitarnya terdapat kesulitan, maka syari’at meringankannya sehingga beban tersebut berada di bawah kemampuan mukallaf tanpa kesulitan dan kesusahan.”

Jadi makna kaidah tersebut adalah kesulitan menyebabkan adanya kemudahan. Maksudnya adalah bahwa hukum-hukum yang dalam penerapannya menimbulkan kesulitan dan kesukaran bagi mukallaf (subyek hukum), maka syari’ah meringankannya sehingga mukallaf mampu melaksanakannya tanpa kesulitan dan kesukaran.6 Salah satu sebab yang dapat mendatangkan keringanan ialah kondisi terpaksa. Yaitu, suatu keadaan yang membahayakan7 kelangsungan hidupnya. Setiap akad yang dilakukan dalam keadaan terpaksa maka akad tersebut tidak sah. Misalnya:

minum arak hukumnya haram, tetapi karena ia dipaksa orang yang lebih kuat, dengan ancaman akan dianiaya kalau tidak mau minum, maka meminumnya menjadi tidak haram.8

6 H.A. Djazuli, Op.Cit., Hlm. 55.

7 Toha Andiko, Ilmu Qowaid Fiqhiyyah, Teras, Yogyakarta, 2011, Hlm. 90.

8 Adib Bisri, Terjemah al-Faraidul Bahiyyah Risalah Qawa-id Fiqh, Menara Kudus, Kudus, 1977, Hlm. 18.

(5)

5 Dasar Hukum Kaidah

Apabila kaidah-kaidah ini dikembalikan kepada Al- Quran dan Hadis, maka terdapat banyak ayat dan hadis Nabi yang menunjukkan akurasi kaidah al-masyaqqah tajlib taysir, diantaranya:

ُ رۡه َش

ُ

َُنا َضَمَر ٱ

ُ يِ َّ

لَّ

ُِهيِفُ َلِزن أ ُ ٱ

ُ ناَءۡر قۡل

ُ ٖتٰ َنِ يَبَوُ ِساَّنلِ لُىٗد ه ُ

َُنِ م ٱ

ُٰىَد ه ۡ ل

َُُو

ُ ِناَقۡر ف ۡل ٱ

ُ م كنِمَُدِهَشُنَمَف ُ ٱ

َُرۡه َّشل

ُنَمَوُُۖ هۡم صَيۡلَف ُ

َُمَُن َكَ

ُ ديِر يََُۗرَخ أٍُماَّي َ

أُ ۡنِ مُٞةَّدِعَفُٖرَفَسُٰ َ َعَلُۡوَأُاًضيِر ٱ

ُ َّللّ

ُ م كِب ُ

ٱ

َُ ۡس يۡل

ُ م كِبُ ديِر يُ لََّو َ ُ ٱ

َُ ۡس عۡل

ُْاو لِم ۡك ِلَِو ُ

َُةَّدِعۡل ٱ

ُْاو ِ بّ َك ِلَِو ُ ٱ

َُ َّللّ

ُ

َُنو ر ك ۡشَتُۡم كَّلَعَلَوُۡم كٰىَدَهُاَمُٰ َ َعَل ١٨٥

ُ

ُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki

(6)

6

kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah (2): 185).

Juga firman Allah ta’ala:

ُ َ لَّ

ُ فِ لَك ي ُ ٱ

ُ َّللّ

َُمُاَهۡيَلَعَوُ ۡتَب َسَكُاَمُاَهَلُۚاَهَعۡس وُ َّ ُ

لَِّإُا ًسۡفَن

ُا

َُۗۡتَب َسَتۡك ٱ

ُ

ُ َ

لََّوُاَنَّبَرُۚاَن ۡ أ َطۡخ َ

أُ ۡو َ أُ اَنيِسَّنُنِإُ اَنۡذِخاَؤ تُ َلَُّاَنَّبَر

ُ هَتۡلَ َحَُاَمَكُاٗ ۡصِۡإُ اَنۡيَلَعُ ۡلِمۡ َتَ

ۥُ

ُ َ َعَل ٱ

َُنيِ َّ

لَّ

َُنَّبَرُۚاَنِلۡبَقُنِم ُ اُ

ُ َ لََّو

ُِهِبُاَ َلََُةَقاَطُ َلَُّاَمُاَنۡلِ مَ تَ

ُُۖۦُ

َُوٱ

ُ فۡع

ُ

َُوُاَّنَع

ُۡرِفۡغ ٱ

ُ

َُوُاَ َلَ

ُۚ اَنۡ َحَۡر ٱ

ُ

َُفُاَنٰىَلۡوَمُ َتن َ أ ٱ

اَنۡ صُن

ُ

ُ َ َعَل ٱ

ُِمۡوَقۡل

َُنيِرِفٰ َكۡل ُٱ

ُ ٢٨٦

ُ

ُ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri

(7)

7

maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.

Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (QS. Al-Baqarah (2): 286).

Demikian juga firman Allah ta’ala:

ُ ديِر ي

ُٱ

ُ َّللّ

ُ َقِل خَوُۚۡم كنَعُ َفِ فَ يُُن َ ُ أ

ُ نٰ َسنِ ۡ ٱ لۡ

ُاٗفيِع َض ُ ٢٨ُ

ُ

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisa (4): 28).

Sedangkan hadis-hadis yang menguatkan kaidah diatas antara lain:

ْ إْ ن

ْ دلا ْ

ْ يْ ن

ْ نْ د ْْ ع

ْ

ْ الل

ْ لاْ ن ْ

ْ فْ يْ

ْ سلا ةْ

ْ م

ْ حْ ة

"sesungguhnya agama di sisi Allah adalah yang ringan dan mudah ". (HR. Al-Bukhari).

Tingkatan Al-Masyaqqah

Al-Masyaqqah itu pada dasarnya bersifat individual.

Tetapi ada standar umum yang sesungguhnya bukan masyaqqah dan karenanya tidak menyebabkan keringanan di dalam pelaksanaannya, seperti berwudhu pada musim dingin, atau terasa berat puasa pada musim panas. Sebab, apabila dibolehkan keringanan dalam masyaqqah tersebut akan menyebabkan

(8)

8

hilangnya kemaslahatan ibadah dan ketaatan dan menyebabkan lalainya manusia di dalam melaksanakan ibadah.

Adapun yang dikehendaki dengan kaidah tersebut bahwa kita dalam melaksanakan ibadah itu tidak ifrath (melampaui batas) dan tafrith (kurang dari batas). Oleh karena itu, para ulama membagi masyaqqah ini menjadi tiga tingkatan, yaitu : 1. Al-Masyaqqah Al-Azhimmah (kesulitan yang sangat

berat), seperti kekhawatiran akan hilangnya jiwa dan atau rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa dan atau anggota badan menyebabkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna. Masyaqqah semacam ini membawa keringanan.

2. Al-Masyaqqah Al-Mutawassithah (kesulitan yang pertengahan, tidak sangat berat juga tidak sangat ringan).

Masyaqqah ini harus dipertimbangkan, apabila lebih dekat kepada masyaqqah yang sangat berat, maka ada kemudahan disitu. Begitu juga sebaliknya.

3. Al-Masyaqqah Al-Khafifah (kesulitan yang ringan), seperti terasa lapar waktu puasa, terasa lelah saat tawaf dan sai.

(9)

9

Macam-macam Rukhshah (Keringanan)

Adapun macam-macam Rukhshah:9 Pertama, Takhfif Isqath (keringanan dalam bentuk pengguguran kewajiban), misalnya pengguguran kewajiban shalat jum’at, haji, umrah, jihad dan kewajiban-kewajiban lain karena adanya berbagai alasan hukum yang sah (‘udzur). Kedua, Takhfif Tanqish (keringanan dalam bentuk pengurangan), misalnya dalam kasus shalat qashar. Ketiga, Takhfif Ibdal (keringanan dalam bentuk penggantian), misalnya shalat dengan posisi berdiri diganti dengan posisi duduk dan berbaring atau dengan isyarat. Keempat, Takfif Taqdim (keringanan dalam bentuk pendahuluan), misalnya kebolehan melakukan jama’

taqdim, pembayaran zakat sebelum jatuh tempo, pembayaran zakat fitrah selama bulan Ramadhan. Kelima, Takhfif Ta’khir (keringanan dalam bentuk penundaan), misalnya keringanan untuk menjamak ta’khir shalat, penundaan orang puasa Ramadhan bagi orang sakit dan musyafir. Keenam, Takhfif tarkhish (keringanan dalam bentuk dispensasi), misalnya memakan barang najis untuk keperluan pengobatan.

Ketujuh, Takhfif Taghyir, yaitu keringanan dalam bentuk

9 Ma’shum Zein. Pengantar Memahami Nadhom Al-Faroidul Bahiyyah, Darul Hikmah, Jombang, 2010, Hlm. 120.

(10)

10

berubahnya cara yang dilakukan, seperti shalat pada waktu khauf (takut/kekhawatiran), misalnya pada waktu perang.

Derivasi (Turunan) Kaidah dan Contoh Penerapannya

1

ا ذإ

.

ْ ر م لاْ ق ﺎض ْ

ْ ع س ت ْْ إ

“apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas”.

Kaidah ini sesungguhnya dapat merupakan cabang kaidah al-masyaqqah tajlib al-taisir, sebab al-masyaqqah itu adalah kesempitan atau kesulitan, seperti boleh berbuka puasa pada bulan Ramadhan karena sakit atau bepergian jauh. Sakit dan bepergian jauh merupakan suatu kesempitan, maka hukumnya menjadi luas yaitu kebolehan berbuka. Akan tetapi apabila orang sakit itu sembuh kembali, maka hukum wajib melakukan saum itu kembali pula.

2

ْ ع س ت إْا ذ إ

.

ْْ ا

ْ مْ رْ ْ ل

ْ ق ﺎض

“apabila suatu perkara menjadi meluas maka hukumnya menyempit”. Kaidah ini juga dimaksud untuk tidak meringankan yang sudah ringan. Sehingga kaidah ini digabungkan menjadi satu dengan kaidah sebelumnya yaitu:

(11)

11

ْ ر م لاْ ق ﺎضْا ذ إ

ْ ع س ت إْا ذ إ وْ ع س ت إ ْ

ْ ق ﺎض

“apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas dan apabila suaru perkara menjadi meluas maka hukumnya menyempit”.

3

ْ إ

.

ْ ع تْا ذ

ْ رﺎ ص يْ ل ص لاْ ر ْ ذ

ْ ل د ب لاْ لَإ ْ

“Apabila perkara yang asli sukar dikerjakan maka berpindah kepada penggantinya”.

Contohnya: tayamum sebagai pengganti wudhu.

Seseorang merampas harta orang lain, wajib mengembalikan harta aslinya. Apabila harta tersebut telah rusak atau hilang maka dia wajib mengganti dengan harganya. Demikian juga halnya dengan orang yang meminjam suatu benda, kemudian benda itu hilang misalnya buku, maka penggantinya buku yang sama baik judul, penerbit maupun cetakannya atau diganti dengan harga buku tersebut dengan harga di pasaran.

4

ْ مﺎ

.

ْ ر ح تلاْ ن ﻜ يُ ْ لْ

ْ و ف ع مْ ه ن م ْ زْ

ْ ه ن ع ْ

“Apa yang tidak mungkin menjaganya (menghindarkannya), maka hal itu dimaafkan”.

Contohnya: pada waktu sedang shaum, kita berkumur- kumur, maka tidak mungkin terhindar dari rasa air di mulut atau contoh lain misalnya masih terdapat sisa-sisa darah pada pakaian yang sulit dibersihkan dengan cara dicuci.

(12)

12

5

لاْ ر

.

ْ ص ْ خ

ْ لْ ْ

ْ ن تﺎ

ْ ل بِْ ط

ْ مْ عﺎ

ْ ص ي

“Keringanan itu tidak dikaitkan dengan kemaksiatan”.

Kaidah ini digunakan untuk menjaga agar keringanan- keringanan di dalam hukum tidak disalahgunakan untuk melakukan maksiat (kejahatan atau dosa). Seperti: orang bepergian dengan tujuan melakukan maksiat, misalnya untuk membunuh orang atau berjudi atau berdagang barang-barang yang diharamkan, maka orang semacam itu tidak boleh menggunakan keringanan-keringanan di dalam hukum Islam.

Misalnya, orang yang bepergian untuk berjudi lalu dia kehabisan uang dan kelaparan. Kemudian dia makan daging babi. Maka dia tidak dipandang sebagai orang yang menggunakan rukhsah, tetapi tetap berdosa dengan makan daging babi tersebut.

Lain halnya dengan orang bepergian dengan tujuan yang dibolehkan seperti untuk kasb al-halal (mencari mata pencaharian/usaha yang halal), kemudian kehabisan uang dan kelaparan, serta tidak ada makanan kecuali yang diharamkan.

Maka memakan daging babi tersebut diperbolehkan.

6

ْ ت ر ذ ع تْا ذ إ

.

ْ رﺎ ص يْ ة ق ي ق لا ْ

ْ زﺎ ج م لاْ لَإ ْ

“Apabila suatu kata sulit diartikan dengan arti yang sesungguhnya, maka kata tersebut berpindah artinya kepada arti kiasannya”.

(13)

13

Contohnya: seseorang berkata “saya wakafkan tanah saya ini kepada anak kyai Ahmad”. Padahal semua tahu bahwa anak kyai tersebut sudah lama meninggal, yang ada adalah cucunya, maka yang dijadikan pedoman ialah kata kiasannya bukan kata sesungguhnya. Sebab, tidak mungkin mewakafkan harta kepada yang sudah meninggal dunia.

7

ْ ل م ه يْ م لا ﻜ لاْ لﺎ م ع إْ ر ذ ع تْا ذ إ

.

“Apabila sulit mengamalkan suatu perkataan, maka perkataan tersebut ditinggalkan”.

Contohnya: apabila seseorang menuntut warisan dan mengaku bahwa dia adalah anak dari orang yang meninggal, kemudian setelah diteliti dari akta kelahirannya, ternyata dia lebih tua dari orang yang meninggal yang diakuinya sebagai ayahnya. Maka perkataan orang tersebut ditinggalkan dalam arti tidak diakui perkataannya.

8

ْ مْ ما و دلاْ فْ ر ف ت غ ي

.

ﺎْ ل

ْ ءا د ت ب لإاْ فْ ر ف ت غ ي ْ

“Bisa dimaafkan pada kelanjutan perbuatan dan tidak bisa dimaafkan pada permulaannya”.

Contohnya orang yang menyewa rumah dan diharuskan membayar uang muka oleh pemilik rumah. Apabila sudah habis pada waktu penyewaan dan dia ingin memperbaharui sewanya dalam arti melanjutkan sewanya, maka dia tidak perlu

(14)

14

membayar uang muka lagi. Demikian pula untuk memperpanjang izn perusahaan, seharusnya tidak diperlukan lagi persyaratan-persyaratan yang lengkap seperti waktu mengurus izinnya pertama kali.

9

ْ مْ ءا د ت ب لإاْ فْ ر ف ت غ ي

.

ﺎْ ل

ْ ر ف ت غ ي ْ

ْ ما و دلاْ ف ْ

“Dimaafkan pada permulaan tapi tidak dimaafkan pada kelanjutannya”.

Dhabit ini terjadi pada kasus tertentu yaitu orang yang melakukahn perbuatan hukum karena tidak tahu bahwa perbuatan tersebut dilarang. Contohnya: pria dan wanita melakukan akad nikah karena tidak tahu bahwa diantara keduanya dilarang melangsungkan akad nikah baik karena nasab, mushaharah )persemendaan), maupun karena sepersusuan. Selang berapa tahun baru diketahui bahwa antara keduanya itu ada hubungan nasab atau hubungan persemendaan, atau sepersusuan yang menghalangi sahnya pernikahan. Maka pernkahan tersebut harus dipisah dan dilarang melanjutkan kehidupan sebagai suami istri.

Contoh lainnya: seorang yang baru masuk Islam, lalu minum minuman keras karena kebiasaannya sebelum masuk Islam dan tidak tahu bahwa minuman semacam itu dilarang )haram). Maka orang tersebut dimaafkan untuk permulaannya karena ketidaktahuannya. Selanjutnya, setelah dia tahu bahwa

(15)

15

perbuatan tersebut adalah haram, maka ia harus menghentikan perbuatan haram tersebut.

10

ْ و تلاْ ف ر ف ت غ ي

.

ْ لﺎ مْ ع ب ا

ْ ه ي غْ فْ ر ف ت غ ي ْ

“Dapat di maafkan pada hal yang mengikuti dan tidak di maafkan pada yang lainnya”.

Contohnya: penjual boleh menjual kembali karung bekas tempat beras, karena karung mengikuti kepada beras yang dijual.

Demikian pula boleh mewakafkan kebun yang sudah rusak tanamannya karena tanaman mengikuti tanah yang diwakafkan.

Latihan

1. Jelaskan pengertian kata Al-Masyaqqah dan kata At- Taisir menurut bahasa dan jelaskan makna kaidah Al- Masyaqqah Tajlib Taisir !

2. Tuliskan sebuah ayat dan hadits yang menjadi dasar hukum kaidah Al-Masyaqqah Tajlib Taisir !

3. Salah satu derivasi kaidah di atas ialah kaidah fikih yang berbunyi :

ْ ع تْا ذ ْ إ

ْ رﺎ ص يْ ل ص لاْ ر ْ ذ

ْ ل د ب لاْ لَإ ْ

Terjemahkanlah kaidah tersebut dan berikanlah contoh penerapannya!

Referensi

Dokumen terkait

(2) Setiap orang atau badan dilarang berdagang, menjajakan barang dagangan, melakukan usaha tertentu dengan harapan imbalan di jalan, bantaran jalan, trotoar, jalur hijau,

4) Perbuatan itu pada dasarnya boleh dilakukan karena mengandung mas}lah}ah}, tetapi memungkinkan juga perbuatan itu membawa kepada mafsadah. 14 Misalnya sekelompok orang

Pada dasarnya, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbâh juga tidak berbeda pendapat ketika menjelaskan tentang larangan Allah untuk membunuh orang lain tanpa sebab yang

Misalnya pada relief 0-10 ada adegan yang menggambarkan "m enghalangi orang-orang lain untuk membunuh ", pada adegan sebelah kanan, digambarkan tiga orang

Tujuan penelitian ini untuk menganalisa dan menginterpretasikan tentang pengaturan waktu berdagang, pengaturan jumlah pedagang, pengaturan jenis barang dagangan dan pengaturan

c- Di dalam urusan agama, misalnya untuk dakwah Islam, apabila orang-orang mukmin Mekah yang belum berhijrah meminta pertolongan kepada orang-orang mukmin Madinah,

Menurut WTO (1986), wisatawan internasional ialah setiap orang yang bepergian ke negara yang lain dari negara tempat tinggalnya, tujuan kunjungannya bukan untuk melakukan

Di antara syarat-syarat jual beli ada yang berkaitan dengan orang yang melakukan akad dan ada yang berkaitan dengan barang yang dijadikan sebagai akad, yaitu harta yang ingin