KAIDAH-KAIDAH TAFSIR
Di susun oleh :
Nama : Dian Ayu Lestari(3032022025) Mata Kuli: Qawait Tafsir Jurusan: Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Semester/unit:3/I (Satu)
Dosen Pembimbing:. Cut Fauziah, Lc. M.T.H
A. PENDAHULUAN
Tujuan mempelajari ilmu-ilmu Al Qur’an, pada dasarnya adalah menjadi kodrat manusia untuk memahami dan mengenal pencipta-Nya, memahami kalam Allah SWT yang menerangkan tentang umat muslim dimasyarakat dan manusia sebagai hamba Allah SWT. Sesuai dengan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga dibutuhkannya mufassir untuk mengungkap makna yang terkandung didalam firman Allah SWT yang tertuang didalam Al Qur’an, sehingga kita dapat memahami isi dari Al Qur’an tersebut dengan jelas.
Untuk mengungkap kandungan yang ada dalam ayat dan surat Al Qur’an dapat diperoleh dari mufassir yang memiliki berbagai persyaratan yang harus dikuasainya baik dari segi akademik dan persyaratan-persyaratan lainnya. Al Qur’an adalah sumber dari ajaran Islam, sebagai petunjuk bagi umat Islam yang tidak akan ada batas waktunya. Yang isinya penuh dengan berbagaimacam informasi baik yang berhubungan dengan Sang Pencipta maupun Ilmu pengetahuan. Umat Islam dituntut untuk dapat memahami serta merealisasikan petunjuk tersebut, ini membuat kita harus dapat mengkaji dari kandungan ayat ayat yang terkandung didalam Al Qur’an, sehingga dapat dipahami dan diamalkan.
Persyaratan fisik dan psikis seperti yang umumnya berlaku pada dunia keilmuan lainnya ialah mufassir itu haruslah dari orang dewasa yang memiliki akal sehat dan secara psikis memiliki etika penafsiran yang lazim dikenal dengan istilah adab al-mufassir, yaitu harus sehat Itikadnya, bagus niatnya, lurus tujuannya dan baik akhlaknya serta patut diteladani amal perbuatannya. Kesemuanya baru lengkap jika memenuhi syarat utama haruslah seorang Muslim.
Adapun persyaratan akademik yang harus dipenuhi oleh parah mufassir ialah menguasai ilmu- ilmu yang akan diuraikan sesuai ayat yang ditafsirkan.
Para mufassir pada dasarnya dituntut supaya memiliki kemampuan akademik dalam penafsiran Al Qur’an terutama ilmu-ilmu yang tergolong ke kelompok ilmu-ilmu Al Qur’an, sebagian ulama salaf yang memegang prinsip bahwa setiap kata dalam Al Qur’an memiliki empat macam dimensi makna, yakni makna lahir, makna bathin, serta mempunyai hadd, dan mathla.
B. Pengertian kaidah tafsir
Kaidah-kaidah tafsir dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah Qawȃid at tafsȋr, terdiri dari dua kata yaitu Qawȃid at tafsȋr. Qawaid adalah kata jamak (plural) dari kata mufrad (singular) qaidah, bentuk feminin (muannats) dari kata mudzakkar (maskulin) qa‟idah. Secara harfiah, qaidah berarti dasar, asas, panduan, prinsip, atau dapat juga diartikan dengan peraturan, model, contoh dan cara. Menurut ahli tafsir kaidah adalah Hukum (aturan) yang bersifat menyeluruh atau umum (kulli) yang dengan aturan-aturan yang umum itu bisa dikenali hukum- hukum yang partikular (juz‟i).
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Qawȃid at tafsȋr seperti yang didefinisikan Khalid Utsman al-Sabt yakni kaidah-kaidah tafsir ialah rangkaian aturan yang bersifat umum (global) yang mengantarkan (menuntun) seseorang (mufassir) untuk mengistibatkan (menggali) makna-makna Al-Qur‟an al Azhim dan mengenali cara memperoleh atau menghasilkan pemahaman itu sendiri.
Dengan mengacu kepada definisi qawaid al-tafsir yang dikemukakan oleh al-Sabt diatas, dapat kta pahami yang dimaksud dengan kaidah-kaidah tafsir adalah suatu aturan yang mengatur tentang tata cara serta mekanisme penafsiran Al Qur’an yang harus dipegang oleh mufassir dalam membuat penafsiran Al Qur’an yang benar, baik serta tepat secara isi dan makna. Jika tidak memiliki tata cara penafsiran yang baku justru ini dapat menyesatkan para mufassir dalam menafsirkan ayat Al Qur’an dan berdampak pada masyarakat luas. Kaidah itu bukan hanya diaplikasikan untuk satu ayat saja tapi dapat digunakan untuk ayat-ayat yang lain yang makna atau isinya yang terkait atau yang isinya menyatakan demikian, sehingga harus memahami hal- hal yang harus dipahami dari isi ayat tersebut karena tidak semua magfiroh menunjukkan sebagian.
Kaidah adalah suatu pedoman yang dapat diaplikasikan untuk seluruh ayat-ayat yang serupa maknanya atau isinya dalam Al Qur’an. Dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, terdapat norma-norma dasar penafsiran yang harus beanr-benar dipahami oleh mufassir, akan menjadi pembahasan kita di dalam menjelaskan kaidah-kaidah tafsir.
C. Fungsi Kaidah Tafsir
Dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an mufassir perlu memahami kaida-kaidah penafsiran, sehingga tidak lepas dari aturan pokok didalam menafsirkan Al Qur’an. Dalam arti, menarik makna-makna yang mengantarnya mengungkap rahasia dan menjelaskan kemusykilan yang boleh jadi timbul dari ungkapan-ungkapan al-Qur‟an. Oleh karena itu, kaidah-kaidah tafsir ibarat alat yang membantu terhindar dari kesalahan, membedakan antara penafsiran yang diterima dengan penafsiran yang hendaknya ditolak. Sehingga kaidah ini berfungsi untuk menjelaskan makna yang diinginkan dari setiap ayat. Misalnya ayat kedua dari surat Al Baqarah Arab-Latin:
żālika al-kitābu lā raiba fīh, hudan lil-muttaqīn Terjemah Arti: Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa Disini kata “żālikal” isyarat yang menunjuk jauh, apakah ini yang dimaksud dalam ayat tersebut yang dikaitkan dengan Al Qur’an, ternyata “żālika” bukan dimaknai secara harfiah tetapi lebih kepada makna kedekatan, karena, untuk dapat memahami Al Qur’an dengan baik maka seseorang itu harus ada kedekatan yang terkait dengan Al Qur’an yang bisa di buktikan dengan gemar membacanya, senang memahami maknanya, serta selalui siap untuk melaksanakan ajaran-ajarannya, dengan demikian “żālika” ini tidak dimaknai secara harfiah menunjuk yang jauh tetapi lebih kepada pengagungang Al Qur’an memiliki nilai sakral, hebat, serta dapat dijadikan pedoman-pedoman kehidupan.
Sehingga dapat dikatakan fungsi dari kaidah tafsir adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas terhadap isi dari Al Qur’an itu sendiri sehingga maknanya gampang dipahami dan mudah dilaksanakan. Menjadi tolak ukur bagi mufassir dalam penafsiran yang dia temukan atau kemukakan serta patokan yang dapat menghindarkannya dari kesalahan sebagaimana fungsi kaidah-kaidah yang lain.
D. Metode Pembahasan
Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk menggambarkan macammacam kaidah dalam penafsiran Al Qur’an,dengan merujuk kitab Qawa'id al-Tafsir: Jam'an wa Dirasatan yang di karang Khalid bin Utsman al-Sabt yang akan di bahas di bawah ini
. E. Pebahasan
1) kaidah Tentang Asbabun Nuzul
Secara etimologi, asbabun nuzul artinya sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu.1 Adapun berdasarkan definisi yang dikemukakan para ulama, asbabun nuzul artinya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya ayat, baik sebelum maupun sesudah turunnya, dimana kandungan ayat tersebut berkaitan atau dapat dikaitkan dengan peristiwa itu.2 Sababun nuzul atau sebab turunnya ayat mengerucut pada dua hal berikut3:
Terjadi suatu peristiwa, kemudian Al-Quran turun berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Contohnya ialah riwayat dari Ibnu Abbas berkaitan dengan dakwah yang dilakukan Rasul Saw di bukit Shafa ketika turun perintah untuk berdakwah kepada kaum kerabat (Q.S. Asy- Syu’ara: 214). Ketika itu Abu Lahab mengejek Rasul Saw dengan berkata, “Celakalah engkau! Untuk inikah kau kumpulkan kami?” Kemudian Abu Lahab beranjak pergi, lalu turunlah ayat: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”
(Q.S. Al-Lahab: 1)
Rasulullah ditanya tentang sesuatu, lalu Al-Quran turun berisi penjelasan hukum terkait pertanyaan yang diajukan, seperti kasus Khaulah binti Tsa’labah ketika di-zhihar oleh suaminya.
Kendatipun demikian, ini tidak berarti bahwa seluruh ayat turun berdasarkan sababun nuzul, sebab tidak semua Al-Quran turun bertepatan dengan suatu peristiwa atau karena adanya pertanyaan. Oleh karena itu turunnya ayat-ayat Al-Quran terbagi kepada kepada 2
1 DR. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulum Al-Quran, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), Cet. Pertama, hlm 60
2 M. Quraish Syihab, Kaidah-kaidah Tafsir, (Tangerang, Lentera Hati, 2013), hlm 202
3 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet. Ketiga, hlm 124
bagian, yaitu ayat-ayat yang turun secara langsung di permulaan tanpa didahului sebab-sebab khusus, inilah yang paling banyak terdapat dalam Al-Quran; dan ayat-ayat yang turun karena adanya akibat berupa peristiwa yang terjadi atau pertanyaan.4
Terdapat kaidah-kaidah yang disusun para ulama tafsir mengenai pembahasan asbabun nuzul ini. kaidah-kaidah tersebut yaitu sebagai berikut.
1. عاَم سلا َو لْقَّنلا ىَلَع ٌف ْوُق ْوَم باَبْسَ ْلْا ْي ف ُل ْوَقْلا
“Pernyataan mengenai sebab turunnya ayat (sababun nuzul) ditetapkan berdasarkan penukilan dan sima’ (riwayat).”
Berdasarkan kaidah ini, maka asbabun nuzul itu harus berdasarkan pada riwayat atau pernyataan para sahabat, tidak boleh berdasarkan ra’yu (pemikiran) atau pendapat pribadi.
2. عْف َّرلا ُمْكُح هَل ل ْو ُزُّنلا ُبَبَس
“Sebab turunnya ayat mengindikasikan pengangkatan (naiknya) hukum.”
Adanya hukum tertentu yang muncul dari adanya sababun nuzul dapat dilihat dari redaksi sababun nuzul itu di dalam riwayat. Di dalam riwayat-riwayat, penyebutan sababun nuzul terbagi kepada 2 macam redaksi, yaitu5:
a. Redaksi sharih (tegas) yang menjelaskan sebab turunnya ayat, yaitu ketika perawi (sahabat) berkata “sababun nuzul ayat ini adalah seperti ini”, atau menyebutkan suatu peristiwa ataupun pertanyaan kemudian karena hal itu dikatakanlah: “fanazalat (maka turunlah ayat)”, atau “tsumma nuzilat (kemudian diturunkan ayat)”, atau “fa auhaallaah ilaa nabiyyihi (maka Allah mewahyukan kepada Nabi)”.
b. Redaksi tidak sharih (tidak tegas) yang masih mengandung unsure kemungkinan, yaitu ketika perawi mengatakan “Ayat ini turun berkenaan dengan ini dan itu..” atau “Aku kira ayat ini turun berkenaan dengan ini dan itu..” Dengan redaksi seperti itu, perawi tidak memastikan sebab turunnya ayat, karena terkadang dimaksudkan sebagai sebab turunnya ayat atau terkadang juga sebagai makna ayat atau maksud yang lain.
Dari kedua macam redaksi sababun nuzul di atas, muncullah dua kemungkinan dalam menetapkan adanya pengangkatan hukum. Jika redaksinya menggunakan jenis pertama, maka tidak diragukan lagi bahwa ia mengandung pengangkatan hukum;
sedangkan jika redaksinya menggunakan jenis kedua, para ulama masih berselisih apakah ia menyebabkan pengangkatan hukum atau tidak.6
Contoh yang pertama ialah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Al-Barra r.a ia berkata: “Orang-orang arab ketika melakukan ihram pada masa jahiliyah, mereka mendatangi Baitullah dari bagian belakang, maka Allah menurunkan ayat, “..dan bukanlah kebaikan itu engkau mendatangi baitullah dari arah belakang..” (Q.S. Al-Baqarah: 198)
4 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 53
5 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet. Ketiga, hlm 137-138
6 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 55
Adapun contoh yang kedua ialah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dengan sanad dari Hudzaifah r.a mengenai firman Allah Swt.: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..” Ia berkata ayat ini turun mengenai nafqah.
3. سْكَعْلا َو ُهَلْبَق ُن ْوُكَي ًة َراَت َو , مْكُحْلا رْي رْقَت َعَم ُن ْوُكَي ًة َراَت نآ ْرُقْلا ُل ْو ُزُن
“Turunnya Al-Quran terkadang bersamaan dengan keputusan hukum, atau terkadang sebelum keputusan hukum atau sebaliknya (setelah adanya keputusan hukum).”
Kaidah di atas menyatakan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang turun terkadang bersamaan dengan penetapan hukum mengenai hal yang dibicarakan oleh ayat tersebut sebagai syari’at bagi ummat. Dan ini merupakan keumuman dalam penurunan ayat Al- Quran. Contohnya dalam hal ini seperti penetapan hukum khamr dan kewajiban shaum.
Di samping itu, terkadang ada pula ayat yang turun sebagai isyarat akan suatu hukum namun pensyari’atannya belum ditetapkan, baik jarak waktu antara turunnya ayat dan pensyari’atannya itu panjang ataupun pendek. Contohnya ialah firman Allah Swt.:
۞ ىَّلَصَف ه ب َر َمْسا َرَكَذ َو ۞ ىَّك َزَت ْنَم َحَلْفَأ ْدَق Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (Q.S. Al-A’la: 14-15)
Sebagian salaf menafsirkan ayat ini dengan perintah zakat fithrah dan shalat ‘id.
Kedua hukum itu disyari’atkan di Madinah, sedangkan surat tersebut diturunkan di Mekah. Atas dasar penafsiran ini, maka diketahui bahwa hukum dalam ayat tersebut turun sebelum disyari’atkannya.
Adapun contoh ayat yang turun setelah adanya pensyari’atan hukum mengenai hukum yang dikandung ayat tersebut. Contohnya ialah ayat tentang wudhu.
4. لْو ُزُّنلا رركَت ُمَدَع ُلْصَ ْلَْا
“Ashal dalam penurunan ayat ialah tidak adanya pengulangan penurunan (lebih dari satu kali).”
Dalam kaidah tersebut, Khalid bin Utsman As-Sabt menjelaskan bahwa memang secara asalnya tidak ada pengulangan. Namun ia melanjutkan bahwa apabila terdapat riwayat yang sanadnya shahih dan redaksinya sharih (jelas) tentang adanya kejadian proses pengulangan turunnya ayat, maka riwayat tersebut dapat dikeluarkan dari ketetapan kaidah asal tersebut. Sehingga, dapat dipahami bahwa bisa dipungkiri memang terdapat beberapa riwayat yang menunjukkan keberadaan pengulangan turunnya ayat Al- Quran.7
Terjadinya proses pengulangan turunnya ayat A-Quran tersebut memiliki tiga fungsi utama, yaitu: Pertama, sebagai pengingat (tadzkir) terhadap suatu hukum yang terkandung dalam ayatyang telah diturunkan sebelumnya; kedua, sebagai bentuk penegasan dan penekanan (ta’kid) atas ayat yang diturunkan ulang tersebut; ketiga, sebagai penjelas bahwa kejadian yang baru tersebut masuk dalam ketetapan hukum sebuah ayat yang telah disampaikan sebelumnya. Selain itu, terjadinya pengulangan
7 Moch Rafly Tri Ramdhani, Mungkinkah Terjadi Pengulangan Turunnya Ayat Al-Quran?, https://tafsiralquran.id/mungkinkah-terjadi-pengulangan-turunnyaayat-al-quran/ , (diakses pada 28 Maret 2020).
turunnya ayat tersebut merupakan bentuk penurunan ayat yang sama namun dengan huruf yang berbeda.
Contoh ayat yang diturunkan berulang seperti Q.S. Ar-Rum ayat 1-28:
۞ ُمو ُّرلا تَب لُغ ۞ ملا
“Alif laam miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi.”
Imam At-Tirmidzi mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id r.a ia berkata: “Pada saat hari Badar, pasukan Romawi mengalahkan pasukan Persia, maka orang-orang mukmin merasa terkejut. Maka turunlah ayat, “Alif laam miim (1). Telah dikalahkan bangsa Romawi (2). di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (3). Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman (4).” (Q.S. Ar-Rum: 1-4). Maka orang-orang mukmin bergembira atas kemenangan Romawi tersebut.” Penggalan hadits tersebut menunjukkan bahwa ayat di atas diturunkan di Madinah setelah hijrah. Sedangkan terdapat hadits dari Ibnu Abbas r.a bahwa ayat tersebut diturunkan di Mekah, yakni pada kisah pertaruhan yang terjadi diantara Abu Bakar r.a dan orang-orang musyrik. Dengan hal ini, jelas bahwa Q.S. Ar- Rum tersebut diturunkan di Mekah setelah hijrah.
Kedua riwayat tentang penurunan ayat di atas terjadi dalam rentang beberapa tahun, dan keduanya merupakan riwayat yang shahih serta redaksi sababun nuzulnya juga sharih (jelas). Maka dengan demikian, Q.S. Ar-Rum di atas mengandung dua kali penurunan.
5. سْكَعْلا َو ةق رَفَتُم ةَل زاَّنلا تاَي ْلْا َو اًد حا َو ل ْو ُزُّنلا ُبَبَس ُن ْوُكَي ْدَق
“Satu sababun nuzul dapat berlaku untuk beragam ayat, dan sebaliknya.”
Di dalam Al-Quran, terdapat ayat-ayat yang turun dengan asbabun nuzul yang sama. Hal itu dikarenakan beberapa ayat tersebut turun terkait suatu kejadian. Contohnya ialah hadits riwayat Sa’id bin Manshur, Abdurrazaq, At-Tirmidzi, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabrani dan Hakim dari Ummu Salamah, ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebut sedikitpun tentang kaum wanita dalam hijrah.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya Q.S. Ali Imran: 195: “Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki maupun perempuan..”9
Dalam riwayat lain dari Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ath- Thabrani dan Ibnu Mawardaih dari Ummu Salamah r.a ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw., ‘Wahai Rasulullah, kenapa kami tidak disebut di dalam Al-Quran seperti halnya kaum lelaki?’ Kemudian pada suatu hari tidak ada yang membuatku untuk memperhatikan melainkan seruan Rasulullah di atas mimbar membaca Q.S. Al-Ahzab:
35: “Sungguh laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin,..” Al- Hakim juga meriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa ia berkata, “Kaum laki-laki berperang sementara kaum wanita tidak, dan kami hanya mendapatkan separuh warisan?”
8 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 62
9 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet. Ketiga hlm 148-149
Kemudian turunlah Q.S. An-Nisa: 32: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain..” Ketiga ayat di atas turun karena satu sebab yang sama.10
Adapun contoh adanya beberapa sababun nuzul untuk satu wahyu ialah seperti turunnya Q.S. Al-Ikhlas. Surah Al-Ikhlas turun sebagai tanggapan atau sanggahan terhadap orang-orang musyrik Mekah sebelum hijrah dan juga terhadap kaum ahli kitab yang ditemui di Madinah sesudah hijrah.11
6. ْنإَف , حْي رَّصلا ىَلَع َرَصَتْقاَف ,ة َرْب عْلا َّمُث , حْي حَّصلا ى َلَع َرَصَتْقاَف ت ْوُبُّثلا ىَلإ رظُن , ل ْو ُزُّنلا بَبَس ْي ف تاَي و ْرَمْلا ْتَدَّدَعَت اَذ ا حْي ج ْرَّتلا وأ ل ْوُزُّنلا را َرْك ت ب َم كُح َدَعاَبَت ْنإ َو , عْي مَجْلا ىَلَع لمُح ُناَم َّزلا َب َراَقَت
“Apabila terdapat sejumlah riwayat tentang sebab turunnya ayat, hendaklah dilihat dahulu dari kekuatan (riwayat)nya lalu pilih yang shahih. Kemudian diperhatikan ungkapan/kalimatnya lalu pilih yang jelas. Kemudian apabila waktunya berdekatan, maka dapat digabungkan; namun apabila berjauhan maka ia dihukumi turun secara berulang atau tarjih
Terkadang ada beberapa riwayat yang berlainan dalam menyebutkan sababun nuzul satu ayat. Menghadapi kondisi demikian, sikap seorang mufassir ialah memperhatikan keshahihan riwayat dan ke-sharih-an redaksinya.
a. Apabila ada sejumlah ayat dan semuanya menyebut sebab turunnya ayat, lalu sanad salah satu diantaranya shahih sedang yang lainnya tidak shahih, maka yang menjadi acuan dalam hal ini adalah riwayat yang shahih.
b. Apabila riwayat-riwayat yang ada sama-sama shahih, lalu ditemukan adanya hal-hal yang me-rajih-kan (menguatkan) salah satu dari riwayat-riwayat tersebut, atau salah sdatu diantara riwayat-riwayat itu lebih shahih, maka yang didahulukan adalah riwayat yang rajih.
c. Apabila redaksi sebab turunnya ayat tidak tegas, maka kedua redaksi ini tidak saling menafikan satu sama lain, karena yang dimaksud adalah tafsir ayat.
d. Apabila salah satu redaksi tidak secara tegas menyebut sebab turunnya ayat, sementara redaksi lain menyebutkan sebab turunnya ayat yang berlainan secara tegas, maka yang menjadi patokan adalah nash yang menyebutkan sebab turunnya ayat. Adapun redaksi lainnya yang tidak tegas dimasukkan dalam kandungan-kandungan ayat.
e. Apabila riwayat-riwayat yang ada riwayatnya sama-sama rajih (kuat) dan redaksinya tegas, maka semua riwayat yang ada digabungkan jika memungkinkan, sehingga suatu ayat turun setelah adanya dua sebab atau lebih karena waktu kejadiannya hampir berdekatan.
f. Apabila tidak bisa disatukan karena rentang waktunya jauh, maka riwayat-riwayat tersebut diartikan demikian, bahwa ayat tersebut turun lebih dari satu kali dan terjadi pengulangan
Selain kaidah-kaidah di atas, terdapat kaidah mengenai ‘ibrah atau ungkapan asbabun nuzul yang menunjukkan keumuman dan kekhususan lafazh serta keumuman dan kekhususan sebab. Dalam hal ini pendapat para ulama terbagi kepada dua kelompok:
10 Ibid, hlm 149-150
11 Drs. H. Ahmad Izzan, M.Ag., Ulumul Quran: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Quran, (Bandung:
Tafakur (Kelompok Humaniora, 2011), Cet. Keempat, hlm 105
Pertama, ulama yang mengambil kaidah ببسلا صوصخب لا ظفللا مومعب ةَرْب عْلا (keumuman lafazh menjadi acuan, bukan kekhususan sebab). Diantara contohnya ialah pendapat Ibnu Abbas mengenai Q.S. Al-Maidah ayat 8 tentang kejahatan pencurian yang berlaku umum, tidak hanya bagi pelaku pencurian seorang wanita dalam asbabun nuzul ayat tersebut.12 Kedua, ulama yang mengambil kaidah ظفللا مومعب لا ببسلا صوصخب ةربعلا (kekhususan sebab menjadi acuan, buka keumuman lafazh). Hal itu karena lafazh yang umum itu menunjukkan sebab yang khusus. Oleh karenanya, untuk dapat diberlakukan kepada kasus selain yang menjadi sebab turunnya ayat, diperlukan dalil lainnya seperti qiyas dan sebagainya.13
Perlu diberikan catatan bahwa perbedaan pendapat di atas hanya terjadi pada kasus ayat yang bersifat umum dan tidak terdapat petunjuk bahwa ayat tersebut berl;aku khusus. Jika ternyata ada petunjuk demikian, seluruh ulama sepakat bahwa hukum ayat itu hanya berlaku untuk kasus yang disebutkan itu.14
A. Kaidah-kaidah Tentang Tempat Turunnya Ayat (Makkiy & Madaniy)
Tempat penurunan ayat Al-Quran terbagi kepada 2 macam, yaitu makkiy dan madaniy.
Ayat-Al-Quran yang turun sebelum hijrahnya Nabi Saw disebut ayat makiyyah, sedangkan ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut ayat madaniyyah, dimana pun tempat atau lokasi ayat itu diturunkan.15
Para ulama menyusun kaidah mengenai tempat turunnya ayat atau konsep Makkiy dan Madaniy ini sebagai berikut.
1. لْي زْنَّتلا ا ْوُد هَش ْنَم لْقَن ب ي نَدَمْلا َو يكَمْلا ُف َرْعُي اَمَّنإ
“Penamaan makkiy dan madaniy suatu ayat diketahui dari penukilan orang yang menyaksikan peristiwa turunnya ayat tersebut
Studi Makkiyah-Madaniyyah adalah studi sejarah tentang kejadian tertentu yang memerlukan penyaksian langsung. Oleh karena itu, atak ada jalan lain yang dapat membantu di dalam memahami ayat-ayat mana saja yang termasuk ayat-ayat Makkiyah atau Maadaniyyah, kecuali dengan riwayat dari para sahabat Rasulullah Saw., karena merekalah yang mengikuti perjalanan hidup Rasulullah Saw.16 Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud r.a bahwasanya ia berkata: “Demi Tuhan yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidaklah turun satu ayat dari kitab Alah Swt kecuali akulah yang paling mengetahui tentang apa ia diturunkan dan dimana ia diturunkan.”17
Contohnya seperti yang diriwayatkan mengenai firman Allah Swt.:
اًب يَط اًدي عَص اوُمَّمَيَتَف ًءاَم اوُد جَت ْمَلَف Artinya: “..lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (Q.S. Al-Maidah: 6)
Mengenai ayat itu, Imam Bukhari dan Muslim dmengeluarkan hadits dari Aisyah r.a.
bahwa ia berkata: “Kami telah keluar bersama Rasulllah Saw di sebagian safarnya, hingga
12 DR. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulum Al-Quran, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), Cet. Pertama, hlm 77
13 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet. Ketiga hlm 137
14 DR. Rosihon Anwar, M.Ag., Ulum Al-Quran, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), Cet. Pertama, hlm 77
15 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 76
16 Drs. H. Ahmad Izzan, M.Ag., Ulumul Quran: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Quran, (Bandung:
Tafakur (Kelompok Humaniora, 2011), Cet. Keempat, hlm 67
17 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 77
kami berada dalam peperangan atau di tengah pasukan perang, Allah menurunkan ayat tentang tayammum.”
Tidak ada sedikitpun penjelasan dari Rasulullah Saw mengenai makkiy-madaniyy ini, karena mengetahui ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah tidaklah wajib bagi umat, kecuali hanya sebatas untuk membedakan antara nasikh dan mansukh saja.18
Sebenarnya, kebanyakan para ahli yang membahas mengenai Makkiy-Madaniy ini mengatakan bahwa dinamainya suatu ayat termasuk makkiyah atau madaniyyah itu dilihat juga dari kandungan maknanya dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan tertentu yang berkaitan dengannya. Oleh karena itu, penentuan hukum makiyyah-madaniyyah tanpa menggunakan riwayat ini dipertimbangkan dengan dua keadaan: pertama, diterima jika dihasilkan dari penelitian yang mendalam, tanpa mengecualikan pendapat ulama mengenai kedudukan surat atau surat-surat tersebut; kedua, ditolak jika tanpa melakukan ijtihad dan penyelidikan yang sungguh juga tanpa memperhatikan riwayat naqli yang ada tentangnya.19
Contoh ijtihad yang ditolak ialah pendapat mengenai Q.S. Al-A’la bahwasanya ia diturunkan di Madinah karena menyebutkan syariat shalat id dan zakat fithri pada redaksi ayat 14-15, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” Dan alasan tersebut tidaklah benar. Sekiranya maknanya shahih, sesungguhnya ayat tentang syari’at itu telah turun sebelum ditetapkan hukumnya di Madinah sebagaimana telah dijelaskan di kaidah sebelumnya.
2.
ُن ْوُكَي ر َوُّسلا َن م ي نَدَمْلَا ىَلَع , ٍضْعَب َعَم ُهضْعَب ي نَدَمْلا َو , ٍضْعَب َعَم ُهضْعَب ي كَمْلا اَذَك َو ,ي كَمْلا ىَلَع مْهَفْلا ْي ف ًلا زَنُم
لْي زْنَّتلا ْي ف ه بْي ت ْرَت
“Surat-surat madaniyyah diturunkan untuk memberikan pemahaman terhadap surat- surat makiyyah. Begitu pula sebagian surat makiyyah saling melengkapi pemahaman terhadap surat lainnya, dan sebagian surat madaniyyah saling melengkapi pemahaman terhadap surat lainnya; hal itu didasarkan pada susunannya dalam penurunan.”
Sesungguhnya keseluruhan risalah yang dibawa para Nabi Allah ialah seperti bahan bangunan yang terhubung satu sama lain untuk membentuk sebuah bangunan tinggi sebagai bimbingan dan kebahagiaan untuk umat manusia. Begitu pula jika dinisbatkan kepada syari’at islam yang mana syari’at-syari’at yang ada saling berhubungan dengan syari’at sebelumnya. Dengan begitu sebagian ayat berkaitan dengan sebagian lainnya di dalam syari’at, ayat yang turun lebih akhir menjadi penjelas dan penyempurna bagi ayat yang lebih dahulu turun.20
Hal itu menunjukkan bahwa makna ayat madaniyyah secara keumuman itu membentuk makna ayat makkiyah, sebagaimana setiap ayat yang turun kemudian itu menyempurnakan ayat sebelumnya. Hal ini diketahui dari pengkajian, yaitu bahwa secara umum ayat yang turun di akhir itu menjadi penjelas bagi yang mujmal, pengkhusus bagi yang umum, pengikat bagi yang mutlak, perinci bagi yang belum terinci, serta penyempurna bagi yang belum jelas sempurna.21
18 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet.
Ketiga, hlm 95
19 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 78
20 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 80-81
21 Ibid, hlm 81
Contoh implementasi kaidah ini ialah disebutnya bagian awal surat Al-An’am sebagai surat makkiyah yang mana ayat-ayatnya memuat dasar-dasar agama dan aqidah serta mencakup keseluruhan syari’at. Kemudian ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, turunlah bagian awal surat Al-Baqarah yang memperinci aturan-aturan dan menjelaskan jenis perbuatan mukallaf serta mempertegas kaidah-kaidah taqwa yang ada pada surah Al-An’am.22
B. Kaidah-kaidah Tentang Ragam Huruf dan Qiroat yang Digunakan Al-Quran Ketika Diturunkan
1.
اَمْثُعْلا ف حاَصَمْلا دَحأ ْتَقَفا َو َو ,ٍهْج َو ب ْوَل َو ةَّي ب َرَعْلا تَقَفا َو ٍةَءا َر ق ُّلُك ةَحي ح صلا ةَءا َر قْلا َي هَف اَهُدَنَس َحَص َو , ًلااَم تْحا ْوَل َو ةَّي ن
“Setiap bacaan (qiroat) yang memiliki kesesuaian dengan bahasa Arab walaupun dalam satu aspek; dan sesuai dengan salah satu diantara mushaf-mushaf utsmani walaupun masih mengandung kemungkinan; serta shahih sanadnya; maka ia termasuk bacaan (qiroat) yang shahih.”
Tolak ukur dalam kaidah-kaidah qiraah yang sahih menurut para ulama adalah sebagai berikut23:
1) Sesuai dengan salah satu dari berbagai ragam bahasa Arab, tanpa menelaah ia termasuk ragam bahasa Arab yang fasih atau afshah (lebih fasih). Sebab, qiraah adalah sunah yang harus diikuti, wajib diterima, dan jalan untuk mengarah kepadanya adalah dengan menggunakan sanad, bukan dengan ra'yu (akal/rasio).
Sebagai contoh adalah penulisan firman Allah: ميقتسملا طارصلا اندهأ "Tunjukilah kami jalan yang lurus." (Al-Fâtihah: 6). Para shahabat menulis kata (طارصلا) menggunakan huruf shad sebagai ganti huruf sin. Mereka tidak menggunakan huruf sin, padahal huruf sin adalah aslinya. Walaupun hal ini menyalahi kaidah tulisan dari satu ragam, tapi ia telah datang sesuai dengan asal mula kata tersebut secara bahasa yang telah dikenal.
2) Sesuai dengan salah satu mushaf Utsmani, meski hanya bersifat kemungkinan. Sebab, ketika menulis mushaf-mushaf Utsmani, para shahabat berijtihad dalam membuat rasm (bentuk lisan/khat) sesuai bahasa-bahasa qiraah yang mereka ketahui.
fdriir siai airdr hdti tdasirih ia riraa agaaid tgaiia aghai haariQ, a as agaaid tgaiia siai hgrhgri di sebagiannya saja. Contohnya ialah qiroah Ibnu Amir: ربزلابو ...باتكلابو (Q.S. Ali-Imran: 184). Ibnu Amir menuliskan huruf ba pada kedua kata tersebut, dan tulisan seperti ini tertera dalam mushaf yang ada di Syam, padahal pada qiroah imam yang lain dan yang tertulis di mushaf yang ada pada kita sekarang ini adalah tanpa huruf ba.
Adapun yang dimaksud dengan kesesuaian yang bersifat kemungkinan adalah yang semisal dengan hal di atas, seperti dalam bacaan:
نيدلا موي كلم
"Yang menguasai di Hari Pembalasan." (Al-Fatihah: 4)
22 Ibid, hlm 81
23 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet. Ketiga
hlm 260
Sesungguhnya, lafal كلم ditulis dalam semua mushaf Al-Qur'an tanpa menggunakan huruf alif. Dengan begitu, lafal tersebut bisa dibaca panjang maaliki, juga bisa dibaca pendek tanpa alif.
3) Shahih sanadnya. Sebab, qiroah adalah sunah yang diikuti, yang didasarkan pada kebenaran penukilan dan keshahihan riwayat.
Itulah tiga kaidah untuk sebuah qiraah yang sahih. Apabila sebuah qiraah memenuhi tiga rukun di atas; (1) sesuai dengan bahasa Arab, (2) sesuai dengan tulisan mushaf, (3) dan sahih sanadnya, maka qiraah tersebut adalah sahih Dan kapan saja salah satu rukun atau lebih dari rukun-rukun tersebut hilang, maka qiraah tersebut dinamakan dengan qiraah dhaif, syadz, atau batil.
2. تاَي ْلْا دُّدَعَت ةَل زْنَم ب تاَءا َر قْلا ُع ُّوَنَت
“Macam-macam qiroat selaras dengan (atau menyebabkan) tingkatan bilangan ayat.”
Maksud dari kaidah ini adalah apabila setiap qiroat memiliki satu makna yang berbeda dengan makna yang ada pada qiroat lain dalam satu tempat (lafazh) dan tidak memungkinkan untuk disatukan namun keduanya bersepakat dalam segi yang lain, keduanya tidak disebut kontradiksi, melainkan menjadi memiliki tingkat dua ayat.24
Contohnya seperti firman Allah: َنو ُر َخْسَي َو َتْب جَع ْلَب (Q.S. Ash-Shaffat: 12). Dalam salah satu qiroah lain dhomir ta nya berharakat dhommah. Qiroat yang membacanya dengan fathah dhomirnya dikembalikan kepada Nabi Saw; sedang qiroat yang membacanya dengan rafa’ (berharakat dhommah) dikem,balikan kepada Allah Swt.
3.
َي زلا َن م َك لَذ َناَك ٍةَد حا َو تاَذ ىَلإ اَتَداَع َو ,اَمهضراَعَت ْرهْظي ْمَل َو ,اَهاَنْعَم َفَلَتْخا اَذإ ُتاَءا َر قْلا تاَّذلا ه ذَه ل مْكُحْلا ْي ف ةَدا
“Qiroat-qiroat yang berselisih maknanya namun tidak jelas pertentangan keduanya, keduanya dikembalikan kepada hakikat yang satu sebab hal itu merupakan tambahan pada hukum hakikat tersebut ”
Dalam kaidah ini, ketika ada dua macam qiroat yang makna keduanya berkaitan dengan hakikat yang sama, akan tetatp masing-masing menunjukkan pada pemberian sifat yang berbeda terhadap qiroat yang lainnya. Contohnya dalam firman Allah Swt.: ىَّتَح َن ْرُهْطَي (Q.S. Al-Baqarah: 222). Dalam qiroat lain dibaca َن ْر ه طَي ىَّتَح. Makna yang terkandung pada qiroat yang pertama ialah berhentinya darah haid bersama kemungkinan dengan mandinya. Adapun makna yang digunakan pada qiroat kedua lebih signifikan yakni mandi atau bersuci.25
4. اًضْعَب اَهُضْعَب ُن يَبُي ُتاَءا َر قْلا
“Qiroat-qiroat itu sebagiannya menjelaskan sebagian yang lain.”
Ragam qiroat yang ada ikut andil dalam proses penafsiran. Terkadang makna yang terkandung dalam salah satu qiroat menjelaskan makna lafazh yang ada pada qiroat lain.
Baik qiroat mutawatir dengan qiroat mutawatir pula, atau qiroat mutawatir dengan qiroat ahad, sehingga dalam hal ini qiroat ahad dapat menafsirkan qiroat mutawatir.
Contoh qiroat mutawatir yang memberikan penafsiran terhadap qiroat yang mutawatir pula seperti redaksi qiroat pada kalimat: ءاَس نلا ُمُتْسَم َلا ْوَأ (Q.S. Al-Baqarah: 43),
24 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 88
25 Ibid, hlm 89
dan di dalam qiroat lain ditulis ُمُتْسَمَل yang bermakna menyentuh secara umum, baik jima’
ataupun selainnya. Sedang makna pada qiroat pertama hanya mengarah pada makna jima’. Adapun contoh qiroat ahad yang memberikan penafsiran terhadap qiroat mutawatir seperti redaksi kalimat pada qiroat mutawatir: ىَطْس ُوْلا ةلاَّصلا َو تا َوَلَّصلا ىَلَع اوُظ فاَح “…” (Q.S.
Al-Baqarah: 238). Lafazh ash-shalaatul wustha pada ayat tersebut dijelaskan oleh qiroat ahad dari Hafshah dan Aisyah dengan redaksi qiroatnya: ىَطْس ُوْلا ةلاَّصلا َو تا َوَلَّصلا ىَلَع اوُظ فاَح رْصَعْلا ة َلاَص “…”26
5. داَحلآْلا رَبَخ ةَل زْنَم اَهَل ًلاْي زْنَت– اَهُدَنَس َحَص اَذإ– ةَذاَّشلا ةَءا َر قْلا ب ُلَمْعُي
“Diamalkannya qiroah syadz (apabila shah sanadnya) sebagai penurunan baginya pada tingkatan khabar ahad .”
Apabila suatu qiroat kuat dari segi sanad namun bertentangan dari segi rasm atau bahasa arab maka tingkatannya sebagaimana tingkatan hadits yang mana apabila ia shahih ia layak untuk diamalkan sesuai kebutuhan. Contohnya seperti firman Allah tentang kaffarat orang yang menyalahi janji: ماَّيأ ةَث َلاَث ُمَي صَف “..Maka berpuasalah tiga hari..”
(Q.S. Al-Maidah: 88). Terdapat redaksi qiroat ahad dari Ibnu Mas’ud r.a: ماَّيأ ةَث َلاَث ُمَي صَف تاعباتتم “..Maka berpuasalah tiga hari berturut-turut..” Maka karena sanad qiroat Ibnu Mas’ud tersebut shahih, ia dapat diamalkan dalam berpuasa kaffarat janji.27
6. ةَل طاَب َي هَف عْمَجْلا ن كْمي ْمَل َو اَهْيَلَع عمجمْلا َة َر تا َوَتُمْلا َةَءا َر قْلا تفلاَخ ْنإ ُةَذاَّشلا ُةَءا َر قْلا
“Qiroat syadz apabila menyelisihi qiroat mutawatir yang telah dihimpun dan ia tidak memungkinkan untuk disatukan maka ia bathil.”
Pada dasarnya sebagaimana diterangkan sebelumnya, bahwa qiroat ahad dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum. Namun, hal itu terikat dalam kaidah ini, yakni tidak ada pertentangan antara qiroat yang mutawatir sehingga tidak ada alasan untuk disatukan keduanya. Maka apabila qiroat ahad tersebut bertentangan, hal itu menunjukkan bahwa qiroat itu bathil. Karena itu ia dihapus atau ia tidak kuat. Sebagaimana telah diketahui bahwa shahihnya satu qiroat itu tidak hanya dipandang dari kesambungan sanadnya dan kebenaran penukilannya, namun juga harus diperhatikan selamatnya ia dari cacat pada sanad ataupun matan. Dan ketika keadaan suatu qiroat bertentangan dengan qiroat mutawatir, disematkan padanya cacat yang parah.28
Contohnya ada pada firman Allah:
َّوَّطَي ْنَأ هْيَلَع َحاَنُج لاَف َرَمَتْعا وَأ َتْيَبْلا َّجَح ْنَمَف َّللَّا ر ئاَعَش ْن م َة َو ْرَمْلا َو اَفَّصلا َّن إ اَم ه ب َف
Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya.” (Q.S. Al-Baqarah: 158)
Qiraat yang lain ada yang membacanya: اَم ه ب َفوطَي َّلاَأ هْيَلَع َحاَنُج لاَف “maka tidak ada dosa baginya tidak mengerjakan sai antara keduanya” Qiraat ini tidak mutawatir dan menyelisihi qiraat yang pertama. Selain itu, nafiy (peniadaan) dan itsbat (penetapan) tidak bisa disatukan karena keduanya menuntut hal yang berbeda.
7. ةغُل ا ْوُشف َلا َو ,ةي ب َرَع ساَي ق اهدرَي ْمَل ْتَتبَث اَذإَف,اَهْيَلإ ريصمْلا َو اَهل ْوُبَق ُم زْلَي ٌةَعبتُم ٌةَّنُس ُةَءا َر قْلا
“Qiroat adalah sunnah mutaba’ah (yang diikuti) yang pasti penerimaannya juga pengembalian kepadanya, maka apabila qiroat itu kuat, ia tidak dinyatakan oleh qiyas
26 Ibid, hlm 91
27 Ibid, hlm 93
28 Ibid, hlm 93-94
arab dan tidak disebarkan (dikenalkan) secara bahasa.”
Qiraah yang sahih hendaknya dijadikan penentu kebenaran kaidah-kaidah bahasa dan nahwu, bukan sebaliknya menjadikan kaidah-kaidah bahasa dan nahwu sebagai alat hukum yang menentukan Al-Qur'an (sah dan tidaknya sebuah qiraah. Sebab, Al-Qur'an adalah sumber utama dan asli untuk menyimpulkan kaidah kaidah bahasa, di samping Al- Qur'an mengandalkan keabsahan penukilan dan periwayatan yang menjadi sandaran para imam qurra', dalam berbagai raga bahasa.
Abu Amr Ad-Dani berkata, "Para imam qurra' tidak menetapkan sedikit pun dari huruf-huruf Al-Qur'an berdasarkan apa yang paling populer dalam bahasa Arab dan apa yang paing sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab. Akan tetapi, mereka menetapkan berdasarkan apa yang paling valid dalam periwayatan dan paling shahih dalam penukilan.
Dan jika sebuah qiraah telah valid, maka kaidah tata bahasa Arab dan kepopuleran dialek tidak bisa menolaknya. Sebab, qiraah adalah sunnah yang diikuti, wajib diterima dan dijadikan acuan.”29
Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit , ia berkata, "Qiraah adalah sunah yang diikuti."" Al-Baihaqi berkata, "Maksudnya (perkataan Zaid), mengikuti orang-orang sebelum kita terkait huruf-huruf Al-Qur'an adalah sunah yang harus diikuti, tidak boleh menyalahi mushaf yang menjadi pedoman, dan tidak boleh menyalahi qiraah-qiraah yang masyhur, meskipun yang selain itu lebih lazim menurut bahasa."30
8.
َق ْنم َو ,اَه دَع هْي ف ْتَلزن ٍف ْرَح ب أ َرَق ْنمَف , ةَعْبَّسلا ف ُرْح ْلْا ضْعَب ْي ف ة َر ْوُّسلا َعَم ْتَلزن ُةَلَمْسَبْلا اَه دعي ْمَل َك لَذ رْيَغ ب أ َر
“Basmalah diturunkan bersamaan dengan diturunkannya surat pada sebagian huruf yang tujuh; maka siapa yang membaca dengan satu huruf yang ada padanya ia telah menghitung basmalah-nya, dan siapa yang membaca dengan selain huruf-huruf itu, ia tidak menghitung basmalah-nya.”
Telah banyak perbedaan pendapat serta perdebatan panjang mengenai basmalah ini, apakah ia berdiri sendiri sebagai pemisah diantara surat-surat, atau bagian ayat dari surat Al-Fatihah, atau juga bagian ayat dari surat lainnya.
Menurut Khalid bin Utsman As-Sabt dalam kitabnya Qawaid At-Tafsir Jam’an wa Diroosan, bahwa yang paling baik diterima ialah bahwa basmalah dalam sebagian qiraat seperti qiraat Ibnu Katsir, merupakan satu ayat dari Al-Quran, dan pada sebagian qiraat yang lain ia bukan termasuk ayat Al-Quran, dan ini bukanlah suatu masalah yang asing.
9.
َتَءا َر قْلا ْتتَبَث اَذإ اَمهاَدْحإ ْحَّج َرُت ْمَل نا
هي ج ْوَّتلا ي ف – ْلَّضَفُي ْمَل ناَبا َرْع ْلْا َفَلَتْخا اَذإ َو ,ى َرْخ ْلْا طقسُي ُداَكي اًحْي ج ْرَت –
ى َرْخ ْلْا َن م دوجأ نْيَتَءا َر قْلا ىَدْحإ َّنأ ب ُلاَقُي َلا اَمَك ,با َرْعإ ىَلَع با َرْعإ
“Apabila 2 qiroat sama-sama kuat yakni salah satunya benar-benar tidak ada yang lebih kuat (dalam pengarahannya) ia hampir dapat menjatuhkan (membatalkan) yang lainnya;
dan apabila berselisih dua susunan kalimat, tidak lah diutamakan susunan yang satu atas yang satunya lagi sebagaimana tidak dikatakan bahwa salah satu dari dua qiroat lebih baik dari yang lainnya .”
29 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet.
Ketiga, hlm 262-263
30 Ibid, hlm 263
Kaidah terakhir ini menjelaskan diantara adab yang harus diperhatikan dalam memuliakan kalam Allah Swt, yakni tidak membeda-bedakan tingkatan 2 qiroat yang sama-sama kuat (mutawatir) walaupun segi i’rab diantara keduanya berbeda. Hal tersebut ditunjukkan oleh Rasulullah Saw melalui haditsnya bahwa Al-Quran telah diturunkan dengan tujuh huruf. Pernyataan tersebut menandakan bahwa setiap qiroat itu baik sehingga tidak boleh mengutamakan salah satu qiraat dari qiraat yang lain.
Syaikh Syihabbudin Abu Syamah berkata, “Kebanyakan para penulis kitab qiraat dan tafsir itu mengangkat bahasan antara bacaan maliki (Q.S. Al-Fatihah: 4) dan maaliki dan sebagian mereka melebihkan batasannya hingga menjatuhkan riwayat qiraat yang lain. Dan ini bukanlah hal yang baik setelah diketahui bahwa kedua qiraat tersebut sama- sama kuat.31
C. Kaidah-kaidah Tentang Urutan Ayat dan Surat
Al-Qur'an terdiri atas surah-surah dan ayat-ayat. Ada yang pendek dan ada pula yang panjang. Ayat adalah rangkaian kata dari Kalam Allah yang termasuk di dalam suatu surah Al-Qur'an. Dan surah adalah rangkaian ayat-ayat Al Qur'an yang memiliki bagian awal dan penggalan. Khalid bin Utsman As-Sabt menuliskan satu kaidah mengenai penyusunan ayat dan surat di dalam Al-Quran dalam kitabnya Qawaid At-Tafsir Jam’an wa Diraasah sebagai berikut:
ر َوُّسلا ن ْوُد تاَيلآْلا ي ف ٌي فْي ق ْوَت ُبْي ت ْرَّتلا Artinya: “Penyusunan itu bersifat tauqifi dalam (menyusun) ayat, bukan surat.”
Urutan ayat-ayat di dalam Al-Qur'an bersifat tauqifi (mengacu pada dalil) dari Rasulullah Saw. Jibril menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an kepada Rasulullah dan memberitahukan kepada beliau letaknya di surah yang mana, atau letaknya di ayat-ayat yang sudah turun sebelumnya. Kemudian, Rasulullah memerintahkan para pencatat wahyu untuk menulis ayat-ayat yang turun di tempatnya di surah yang mana atau di ayat-ayat mana yang sudah turun sebelumnya. Beliau berkata kepada mereka, "Letakkan ayat-ayat ini di surah yang menyebut ini dan itu, atau letakkan ayat ini di tempat ini ...," seperti yang disampaikan oleh shahabat-shahabat beliau.
Sebagian ulama menukil ijmak terkait hal ini, di antaranya adalah Az-Zarkasyi dalam kitabnya Al-Burhan dan Abu Ja'far bin Zubair dalam Al Munasabat. Keduanya mengatakan,
"Urutan ayat-ayat di dalam surah-surah didasarkan pada petunjuk dan perintah Nabi , tanpa adanya perbedaan pendapat di antara kaum muslimin terkait hal ini." Imam As-Suyuthi juga menetapkan hal tersebut melalui pernyataannya, "Ijmak dan nash-nash yang memiliki kesamaan menunjukkan bahwa urutan ayat-ayat Al Qur'an bersifat tauqifi, tidak ada syubhat terkait hal itu."32
Ada beberapa hadits pula yang menunjukkan keutamaan ayat-ayat dari beberapa surah tertentu. Konsekuensinya, urutan ayat-ayat bersifat tauqifi, karena andai saja posisinya berubah, tentu hadits-hadits tersebut tidak benar. Dengan demikian, jelas bahwa urutan ayat- ayat Al-Quran seperti yang tertera di dalam mushaf yang beredar di tangan kita, bersifat tauqifi tanpa perlu diperdebatkan.
31 Khalid bin Utsman As-Sabt, Qawaid At-Tafsir wa Diraasah, (Madinah: Daar Ibnu Affan, 2006), hlm 98
32 Syaikh Manna Al-Qaththan, Dasar-dasar Ilmu Al-Quran [Terj.], (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2018), Cet.
Ketiga, hlm 212
Adapun mengenai urutan surat, pendapat para ulama terbagi kepada tiga33: pertama, bersifat tauqifi dikarenakan Rasulullah membaca sejumlah surah-surah secara berurutan di dalam shalat; kedua, didasarkan pada ijtihad para sahabat dibuktikan dengan urutan surah yang berbeda-beda dalam mushaf mereka; ketiga, sebagian bersifat tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad sahabat.
Jika dikaji kembali ketiga pendapat di atas, jelaslah bahwa pendapat kedua tidak bersandar kepada dalil yang menjadi acuan. Adanya beberapa sahabat yang berijtihad untuk menyusun mushaf-mushaf pribadi itu semata-mata atas kemauan mereka sendiri sebelum Al-Quran disatukan menjadi satu urut pada masa Utsman. Adapun hadits mengenai belum diurutkannya surah al-Anfal dan At-Taubah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dalam sanad semua haditsnya terdapat rawi yang dha’if sehingga hadits ini maksimal menunjukkan tidak tertibnya dua surah ini saja. Dan terkait pendapat ketiga, dalil-dalilnya fokus menyebut nash-nash yang menunjukkan urutan surah-surah secara tauqifi, sementara untuk surat-surat yang didasarkan pada ijtihad sahabat tidak ditopang yang menunjukkan akan hal itu, karena adanya urutan tauqifi yang berdasarkan dalil bukan berarti yang selainnya berdasarkan hasil ijtihad, dan itupun hanya sedikit sekali. Dengan demikian menurut pendapat yang kuat, urutan surah-surah Al-Qur'an juga bersifat tauqifi, sama seperti urutan ayat-ayatnya.
2) (AL-WASHFU
Berkata Ibnu Faris و ص ف asalnya menjadi satu dia mensifati unuk memperantik akan sesuatu dan memperjelas akan penjelasan. Dan sifatnya itu: tanda akan lazim bagi suatu kalimat. Menurut istilah:
Berkata sebagian yang berpendapat : ungkapan setiap dari tiap – tiap perintah si zaed atas suau zat. Mereka memahami akan pesian suatu zatnya, bukti adanya atau pasif adanya. Dan atasnya iu ada penjelasan atau pensifatan kepada na’at.
Dan pendapat lain tentang pengertian ini :suatu yang menunjuki atas si zaed kepada zatnya yang jelas (putih) atau layak (seperti alam).
Dan pendapat lain : isim dal sebagian keadaan zat seperti : يوطل) panjang) ريصق) pendek) لقاع) beraqal)13 dll
Adapun Qawaid Washaf sebagai berikut:
غلبا وهف لعفلا ةينب نم فاصولا نم ناك ام لك
Tiap – tiap suatu yang ada sifatnya itu memindahkan dari pada fiel maka dianya penyampaian (beri kabar).
Suatu isim yang menunjukkan kepada bukti dan fiel menunjukkan kepada perubahan, adanya pensifatan dengan isim yang disampaikan daripada pensifatan dengan fiel.
Tiap keduanya ini pemindahan sifat daripada fiel maka dianya menyampaikan daripada selainnya bagi makna yang terdaulu.
Contoh : Q.S Al – Fatihah : 3
33 Ibid, hlm 214-216
( ( ميحرلا نمحرلا : ىلاعت هلوق3 Qaidah ini adalah adanya نYمحرلا disampaikan daripada مYيحرلا karena berkata محر maka dianya itu محار dan ميحر seperti ردق menjadi رداق dan ريدق . Adapun نمحرلاmaka bukanlah محر akan tetapi dianya ةمحرلا.
ةحضوم يهف ةفرعملل تءاج ناو ةصصخم يهف ةركنلل تعقو اذا ةفصلا
Sifat apabila ia memberi tanda bagi nakirah maka ianya itu pengkhususan, dan jika datang ia ma’rifah maka dianya itu penjelasan.
PenjelaSan dalam qaidah ini:
Pertama, pensifatannya, suatu perintah daripada na’at قبس.
Yang kedua, dengan pengkhususan , dikeluarkan isem daripada suatu bagian dengan bagian yang lain berhubungan dengannya.
Yang ketiga, dengan penjelasan, ziadah (tambahan) dari gaya bahasa Contoh :
Contoh pada pensifatan yang khusus. Q.S Ghafir : 28
(رفاغ(...نوعرف لآ نم نمؤم لجر لاقو : ىلاعت لاق
Contoh pada pensifatan penjelasan.
Q.S Al – A’raf :157
(157: فارعلا( يملا يبنلا لوسرلا نوعبتي نيذلا : ىلاعت لاق
هيلا فاضملا ىلعؤارجا زاج ،ددع امهلوا نيفياضتم دعب ةفصلا تعقو اذا
Sifat apabila memberi tanda kepada 2 gabungan atau salah satu keduanya itu bilangan / penyebutan. Boleh pembuatannya kepada mudhaf dan mudhaf ilaih.
Contoh:
Q.S Al-Muluq : 3
(كلملا( اقابط تاوامس عبس قلخ نيذلا : ىلاعت لاق
."ءاتلا" نم تدرج بسنلا اهب ديرا ناو "ءاتلا" اهقحلا لعفلا اهب ديرا نإ ثانلاب ةصتخملا فاصولا
Pensifatan khusus kepada muannats, jika diinginkan dengan fiel bagi haknya ت dan jika diinginkan dengan nasab dianya pensifatan lepas daripada ت.
Contoh :
Q.S Al – Hajj : 2
(2: جحلا( تعضرا امع ةعضرم لك لهذت اهنورت موي : ىلاعت لاق Asy-syanqity berkata: ةعضرم لك artinya tiap – tiap perempuan itu dirawat oleh yang melahirkan (ibu), berkata musannif ةعضرم dan bukan mengatakannya عضرمdianya tidak ditentukan dalam ilmu bahasa jika pensifatan yang khusus
dengan haq ت dan dimaksud dengan nasab di lepaskan daripada ت , maka jika berkata dianya itu عضرم yang dimaksud dengan zatnya عاضر dilepaskan daripadanya ت.
3) AD- DHAMAIR
رئامضلا bentuk jama’ dan bentuk mufrad nya adalah ريمض yang bermakna suatu kata gunanya untuk kata ganti nama orang, yang berupa mutakallim, mukhattab, ghaib, dan sebaliknya.
Qawaid Dhamair adalah sebagai berikut:
1. هيلع لمح وعيمجلا ىلع لمحلا نكمأو روكذم نم رثكأ ىلا هدوع لمتحي ريمض ناك اذا Apabila ada ayat yang disebutkan bisa jadi ditunjuk pada jama’.
Qaidah ini, akan dibahas berkaitan dengan kata ganti dalam ayat, ganti dengan makna yang banyak disebutkan jama’ dan beragam lafazhnya. Jika terdapat dengannya muhtamalah maka setiap nya itu shahih dan tidak ada salah menyalahi dalam memaknakan sebuah makna, dan dapat dijadikan sebuah tempat daripada makna atau selainnya. Dan akan datang dengan beberapa penjelasan tentang qaidah ini dengan maksud menyebutkan suatu qaidah yang umum.
contoh :
Q.S. Al - Insyiqaq :6
( : قاقشنلا( هيق لمف احدك كبر ىلا حداك كنا ناسنلا اهيااي : ىلاعت لاق6 Maka dhamair yang terdapat dalam هYلمف يق itu menunjukkan kepada كYبر ada juga yang berpendapat لمف هيق itu menunjukkan kepada حداكلا , keduanya itu menunjukkan makna shahih dengan maksud, yang pendapat pertama menunjukkan kepada كY برyaitu dengan makna “kamu pasti bertemu dengan tuhanmu”, dengan pendapat yang kedua menunjukkan kepada حداكلا) perbuatan) dengan makna “kamu pasti bertemu denagn perbuatanmu”. Di dalam akhirat kelak orang yang berbuat baik dengan sungguh – sungguh itu emang pasti bertemu dan melihat langsung dengan perbuatannya itu.
2. فاضملل هدوع لصلاف ,ريمض امهدعب ءاجو هيلا فاضمو فاضم درو اذا
Apabila terdapat mudhaf dan mudhaf ilieh sesudahnya ada dhamir maka kembali kepada dasarnya itu mudhaf.
Adanya mudhaf terdapat pada dasarnya itu dhamir, dan bentuk pada dasar nya dhamir itu daripada tiap – tiap keduanya individu. Adapun jika ada bersamaan dalil pada dasar salah satu daripadanya nampak, maka tidaklah isykal pada dasarnya itu tidak menunjukkan kepada kesamaan.
Dan sesungguhnya pada qaidah ini menunjukkan kepada mudhaf hal keadaan kesamaan sharaf salah satu keduanya.
contohnya :
Menunjukkan kepada mudhaf: Q.S. Ibrahim : 34
(34: ميهربا( اهوصحت ل ا ةمعن اودعت ناو : ىلاعت لاق
Yang menunjukkan kepada mudhaf ialah ةمعن ا ل اهوصحت” ha” merupakan dhamir dengan maksud menunjukkan kepada mudhaf yaitu “nikmah”.
Menunjukkan kepada mudhaf ilieh. Q.S An- Nahl :114
(114 : لحنلا( نودبعت هايا متنكنا ا ةمعن اوركشاو : ىلاعت لاق Yang menunjukkan kepada mudhaf ilieh ialah ةمعن ا متنكنا هايا , هايا merupakan dhamir dan mudhaf ilieh nya tertuju kepada ا bukan kepada ةمعن.
ريغل وهو لصتم ريمضلا ءيجي دق20 ه, هل وه ام سبلم ىلع ادئاع وا
Adanya dhamir muttasil suatu hal dari yang lainnya, atau adanya dasar pemakaiannya padanya dhamir muttasil.
Terdapat maksud dari qaidah ini seperti contoh yang dibawah ini :
Menunjukkan kepada dhamir muttasil. Q.S. Al – Mukminun : 12
(12: نونمؤملا( نيط نم ةللس نط ناسنلا انقلخ دقلو : ىلاعت لاق Yang menunjukkan dengan dhamir muttasil ialah ناسنلا yang dianya menunnjukkan kepada nabi Adam as
Menunjukkan kepada dhamir malabis Q.s. An – nazi’at : 46
(تاعزانلا( اهاحض وا ةيشع لا : لاعت لاق : فن ةيشعلا ىحض ل اهموي ىحض
اهل ىحض هنل ,اهس ,maksudnya
4) AL – ADHAWATULLATI YAHTAJU ILAIHIL MUFASSIR
a. Kaidah pertama : Setiap huruf yang mempunyai makna berlainan, kemudian dipakai pada makna yang lain, maka huruf itu tidak terlepas dari makna yang pertama secara keseluruhan, tetapi pada huruf tersebut masih mengandung maknamakna yang lain beserta bercampur dengan makna yang pertama. Dan makna pada qaidah itu sudah terang/jelas tidak perlu kepada syarah.
b. Kaidah Kedua : Menurut dalil diatas huruf-huruf yang berbeda-beda makna dengan beberapa jawaban. Dan makna kaidah itu nyata dari cacat kalam diatas contoh yang akan datang.
Contohnya : Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 223
(223( متءش ىنا مكثرح اوتاف Artinya: “Datangi olehmu akan ladangmu sebagaimana kamu kehendaki”
Makna harsah tempat bercocok tanam.
c. Kaidah Ketiga : bagi setiap huruf dari pada huruf-huruf yang ma’ani itu satu wajah yang lebih utama dari pada yang lain, maka tidak boleh berpaling dari huruf ma’ani kepada yang lain kecuali dengan dalil.
5. WUJUHU MUKHATABAH
Lafal mukhatabah adalah perincian pembagian khitab(pembicaraan), atau memalingkan lafal mukhatabah. Jadi makna dari mukhatabah adalah memperbagus kalam dari suatu makna yang berbeda. Mukhatabah ini sama dengan iltifat(perpalingan) pada kalam(perkataan) dengan segala pembagiannya yang berbeda, atau memempertempatkan pembicaraan tersebut kepada orang yang berbicara atau mendatangkan makna lafal madhi dengan shirat mudhare' atau shirat musta'bal ataupun yang lainnya. Dari semua pembagian perpalingan di atas itu nyata merupakan kalam orang Arab.
Qaidah wujuhu mukhtabah adalah sebagai berikut:
.بطاخما نع ريخلا هجو ىلع انايحا ملكلا ئدبت نا برعلا نأش نم
Sebagian daripada orang Arab kadang-kadang memulai kalam(perkataan) dari jalan yang khabar kepada yang ghaib kemudian dikembalikan kepada khabar dari si mutakallem(pembicara) dan begitu juga sebaliknya,
.سكعلاو بئاغلا نع ريخلا ىلإ لقتنت مث ملكتملا نع ريخلا هجو ىلع ملكلا ئدتبت ةراتو
Sebagian daripada orang Arab juga memulai kalamnya dengan berdasarkan atas dasar si mutakallem dipindahkan kepada khabar yang ghaib dan sebaliknya,
Dan kadang-kadang orang Arab juga memulai kalamnya atas wajah khabar dari si mutakallem, ini sama juga seperti sesuatu yang dipindahkan dari pembicaraan yang pertama atau kedua ataupun yang lainnya, dan dipindahkan pula dari khabar dengan fiil yang musta'mal kepada fiil amar dan dari fiil madhi ke fiil mudare' dan begitu juga sebaliknya.
contoh :
Contoh iltifat daripada ghribah kepada khitab25 . Q.S Hud :3
( : دوه( ريبك موي باذع مكيلع فاخا يناف اولوت ناو : ىلاعت لق3 Maka kata "نا اولوت "Maknanya berpaling, dan ini merupakan khabar daripada ghaib. Kemudian berfirman " يناف فاخا مكيلع "Dan ini meruapakan khabar dari jalan khitab.26 2)
Contoh iltifat dari khitab kepada ghaib.27 Q.S Al-Fatihah :7
( : ةحتافلا( مهيلع تمعنا نيذلا طارص : ىلاعت لق7 Pada ayat tersebut tidak boleh di katakan "ريغ نيذلا بضغ مهيلع "berbeda sperti lafal " تعنا مهيلع "karena lafal ini merupakan tempat mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan nikmat Allah. Maka mensandarkan nikmatnya allah, kepada Allah adalah mukhatab. Dan kalam mukhatab lebih bagus daripada kalam mereka.
Contoh iltifat dari sifat muttakallim kepada yang ghaib
Q.S Al-A’raf :158
ينإ سانلا اهيياي لق : ىلاعت لق يذلا يملا يبنلا هلوسرو لاب اونمآف هلوق ىلا اعيمج مكيلا ا لوسر
لاب ونمؤي(فرعلا( هتاملكلاو Pada lafaz هتاملكو لاب ننمؤي يذلا يملا يبنلا هلوسرو لاب اونماف tidak boleh di baca "ونماف لاب يبو
"Karena pada lafal "يبو "tersebut mempunyai dua faedah
Untuk mendhafa' tummah dari pada dirinya dengan bermaksiat.
Memberitahukan mereka atas kebenaran yang telah disifatkan kepada nabi yaitu "ummi"(tidak bisa membaca dan menulis) dan kata ummi tersebut merupakan tanda akan kenabiannya
Contoh iltifat dari ghribah kepada mutakallem. Q.S Fathir :9
(رطاف( هاتقسف اباحس ريثتف حايرلا لسرا يذلا او : ىلاعت لاق
Contoh perhitungan dari mutakallem kepada khatib. Q.S Yasiin :22
(22: سي( نوعجرت هيلاو يبرطف يذلا دبعا ل يلامو : ىلاعت لق Berfirman Allah Q. S Yasin ayat 22 "نوعجرت هيلاو يبرطف يذلا دبعا ل يلامو "Dan yang benar "هيلاو عجرا "Jadi simutakallem beralih dari khitabnya, dan dia bercanda bahwa dia menerima kalam dalan konteks saran, dia menasihati rakyatnya dengan baik, dan melihat bahwa dia menginginkan mereka apa yang diinginkan untuk dirinya sendiri, kemudian dia berpaling kepada mereka karena sedang dalam kondisi mengancam meraka dan mengundang mereka kepada Allah.
Contoh perpalingan daripada fiil mustaqbal kepada fiil amar. Q.S Hud :54
(4 :دوه( هنود نم نوكرشت امم ءيرب ينا اودهشاو ا دهشا ينا : ىلاعت لاق Firman akan khabar dari perkataan nabi Hud a.s untuk kaumnya berfirman Allah Q.S
" dibaca boleh tidak Dan" 54 ”هنود نم نوكرشت امم ءىرب ينا اودهشاو ا دهشا ينا ayat Hud مكدهشاو
"Dengan contoh mustaqbal diatas yang di mas'urkan dengan kesaksian yang sama oleh keduanya pada kebenaran dan akan apa bila berlanjut(berkepenjangan) kepada berolok-olok maka akan mebinasakan akan kesaksian mereka yang dianggap tidak berkesan dan tidak berbekas.
Contoh iltifat antara khitab yang satu kepada yang dua atau kepada khitab jama’.
Contoh tentang ini sama seperti talahud yang pembagiannya ada beberapa pembagian yaitu sebagai berikut :
a. Contoh iltifat daripada yang satu kepada yang 2 a. Q.S Yunus : 78 سنوي( ضرلا يف ءايربكلا امكل نوكتو انءابآ هيلع اندجو امع انتفلتل اثتنجا : ىلاعت لاق
5) IDHAR, IDHMAR
Pengertian idhar menurut bahasa : tidak sebanding daripada ikhfa dan idmar, Ibnu Faris berkata: ظ ه ر menjadi satu kalimat yang sempurna menunjukkan yang kuat dan lapang.
Dengan demikian: رهظ -رهظي – وهف رهاظ –روهظ makna dari kalimat tersebut adalah terbuka, jelas, lapang.
Pengertian idhar menurut istilah : suatu hal yang ditasrehkan dengan lafazh dan dilapangkan dengan maudhu’ yang kaya dengan dhamirnya.
Pengertian idhmar menurut bahasa : Ibnu Faris berkata : ض م ن asal daripada keduanya itu shahih, salah satu keduanya itu menunjukkan kepada yang halus dan pada akhirnya tidak nampak dan tertutup.
Idhmar itu merupakan suatu yang ghaib tidak bisa diharapkan, sesuatu yang ghaib dari sisi dan tidak ada daripadanya atas kepercayaan, dianya itu dhimar. Dan demikian lagi, daripada menjatuhkan sebagian lafazh – lafazh dan istighna’ daripadanya dhamir : idhmar
Pengertian idhmar menurut istilah : menjatuhkan sesuatu lafazh dengan tidak adanya makna
Maka dianya apa yang meninggalkan sebutan daripada lafazh dan yang dimaksud adalah niat dan taqdir.
qawaidnya adalah sebagai berikut :
ةتكنل نوكي امنا هسكعو رامضملا عضوم رهاظلا عضو
asal/ dasar daripada asma’ bahwa adanya dhahir, dan asli dari muhaddas juga seperti itu. seperti asal/dasar dalamnya apabila disebutkan terdapat mudhmar untuk menghilangkan daripadanya itu dengan dhahir sebelumnya, maka apabila ada yang berpendapat ini gagal, maka ini pasti berbeda dengan lelucon yang diinginkan pembicara. dan semakin banyak mendengar kata – kata orang arab, itu semakin bisa mengetahui makna – makna yang tepat.
contoh :
letaknya dhahir diposisi mudhmar
ةرقبلا( ميلع ءيش لكب او ا مكملعيو ا اوقتاو : ىلاعت لاق : Asal yang dimaksud dengan ayat ini ialah : وهو لكب ءيش ميلع lafazh yang dikeluarkan itu dari asal maksud ta’dim. Wallahu ‘alam.
ةلداجملا ( .... ناطيشلا بزح نا لا ناطيشلا بزح كئلوا : ىلاعت لاق : Asal yang dimaksud ayat ini adalahن YYبز شلاYYلا نا ح menjadi مYYلا هنا lafazh ini dijadikan kepada ihanah (memperkecil) dan at – tahqir (memperdikit)
لوطلا دعب ارهاظ هتداعاو هظفلب هتداعا نم نسحا انعمب رهاظلا ةداع
Tidak menutupi akan pengulangan lafazh pada posisi yang berdekatan dari apa yang membebani apa yang didengar, drngan keadaan ini adanya lafazh – lafazh kalimat yang satu.
Adapun tiap – tiap yang satu daripada lafazh – lafazh pada kalimat mutsaqqal dari yang lainnya maka jika ada yang memudahkan dari yang sebelumnya, untuk memisahkan 2 kalimat sesudahnya.
contoh :
Dhahir yang sesuai dengan maknanya pada posisi yang benar pada keadaan tersebut
نيذلاو : ىلاعت لاق فارعلا( نيحلصملا رجا عيضن لانا ةلصلا اوماقاو باتكلاب نوكسمي
Diawal ayat tersebut dalam pembahasan ini menyebutkan lafazh akhir yang menunjuki sebelumnya : نيذلاو نوكسمي باتكلاب ditambahkan bacaan diawal kalimat عيضناناف ل
(ةفرعم وا ناك ةركن( نياعم لكل اورامضي نا برلا نأش نم