KERTAS POSISI
PARADOKS UU CIPTA KERJA
LATAR BELAKANG
Secara harfiah, kata “Omnibus” berasal dari Bahasa Latin, yaitu “omnis” yang berarti banyak dan lazimnya dikaitkan dengan sebuah karya sastra hasil penggabungan beragam genre, atau dunia perfilman yang menggambarkan sebuah film yang terbuat dari kumpulan film pendek.
Berdasarkan definisi tersebut, jika dikaitkan dengan undang-undang, maka dapat dimaknai sebagai penyelesaian berbagai pengaturan sebuah kebijakan tertentu, tercantum dalam berbagai undang- undang. Dilihat dari segi hukum, kata omnibus lazimnya disandingkan dengan kata law atau bill yang berarti suatu peraturan yang dibuat berdasarkan hasil kompilasi beberapa aturan dengan substansi dan tingkatannya berbeda. Menurut Audrey O'Brien (2009), Omnibus Law adalah suatu rancangan undang-undang (bill) yang mencakup lebih dari satu aspek yang digabung menjadi satu undang- undang. Undang-Undang Omnibus Law merupakan sebuah alat yang digunakan pemerintah untuk mendapatkan investasi melalui cara-cara kolonial.
Konsep ini mirip sekali dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang menerbitkan aturan Koeli Ordonantie untuk menjamin pengusaha dapat mempekerjakan kuli perkebunan tembakau dengan upah sangat murah dan tanpa perlindungan. Para buruh juga diancam hukuman kerja paksa sementara pengusaha yang melanggar aturan hanya dikenakan sanksi denda ringan.
Tujuan awal dari UU Omnibus Law adalah untuk mengharmonikan sebelas cluster regulasi dari berbagai undang-undang. Seharusnya dibutuhkan waktu yang lebih panjang untuk merumuskannya, karena undang-undang yang akan direvisi menyangkut hajat hidup orang banyak. Di antaranya yaitu penyederhanaan perizinan tanah, persyaratan investasi, pengendalian lahan, kemudahan berusaha, serta ketenagakerjaan. Dalam hal ini, setidaknya terdapat tujuh puluh sembilan undang- undang dan berisi 1.244 pasal yang harus dilihat dan diidentifikasi satu per satu. Sejatinya sejak awal pembuatan Undang-Undang Omnibus Law ini sudah cacat secara prosedural sejak pembahasan prolegnas, kemudian penyusunan draft oleh Kemenko Perekonomian RI, Naskah Akademik dan draf RUU tidak dapat diakses oleh masyarakat sampai pada saat pengesahan UU
Omnibus Law yang Rapat paripurnanya terbilang kilat dan mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, rapat tersebut hanya berjarak dua hari sejak pengesahan tingkat I pada Sabtu 3 Oktober 2020.
Pada Tahun 1971, G.J. Stigler memperkenalkan sebuah konsep yang dikenal dengan regulatory capture. Secara sederhana, konsep ini mencoba untuk mengulik tujuan sebenarnya pemerintah atau badan parlemen membuat suatu undang-undang yang mengikat publik. Ternyata pembentukan suatu undang-undang dapat dipengaruhi oleh kepentingan kelompok tertentu.
Sehingga peraturan perundang-undangan yang seharusnya ditujukan bagi kepentingan dan kebutuhan masyarakat malah dimanfaatkan oleh sekelompok orang demi kepentingannya. Situasi seperti ini lah yang disebut dengan regulatory capture. Salah satu ciri terjadinya hal tersebut adalah keterbatasan akses bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai proses pembentukan sebuah undang-undang. Informasi yang tidak berimbang antara masyarakat dengan sekelompok orang berkepentingan inilah yang tidak mengindahkan hak untuk memperoleh informasi bagi seluruh masyarakat. Ciri-ciri di atas menjadi tak asing jika kita melihat proses pembentukan UU Cipta Kerja. Selain keterbatasan akses masyarakat untuk mendapatkan informasi pada saat pembentukan UU Cipta Kerja, masyarakat juga tidak dilibatkan pada tahap pembahasan hingga tahap final.
Sejak UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang terdiri atas 1.187 halaman ditandatangani oleh Presiden Jokowi serta disetujui oleh pemerintah dan DPR pada rapat paripurna, banyak kritikan dari buruh, pekerja, dan akademisi. Pada klaster ketenagakerjaan dinilai banyak pasal yang akan menghilangkan hak-hak buruh. Ada 6 catatan yang menjadi yang bisa menghilangkan hak-hak kerja sebagai buruh yaitu, masifnya sistem kerja kontrak; Praktik outsourcing yang semakin meluas; Jam lembur buruh yang semakin eksploitatif; Berkurangnya hak istirahat dan cuti bagi buruh; Hak kompensasi pesangon bagi buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) jumlahnya dipangkas; dan Mudahnya praktik PHK bagi para buruh.
Undang-Undang Cipta Kerja ini tidak ada jaminan bagi siapapun akan kepastian para investor akan berinvestasi di Indonesia. Akan tetapi, kepastian hilangnya hak-hak kerja bagi buruh sudah dipastikan sejak UU ini disahkan.
POLEMIK UNDANG-UNDANG CIPTA KERJA
1. Cacat Prosedur
Kebijakan reformasi regulasi menggunakan konsep Omnibus Law yang dilakukan pemerintah Indonesia menuai banyak kontroversi, lahirnya UU Cipta Kerja sebagai salah satu langkah realisasi Omnibus Law pun turut menuai banyak kontra dari masyarakat. Penyusunan UU Cipta Kerja yang ditenggat waktu kan hanya selama 100 hari oleh Presiden Joko Widodo, ketidaktransparanan pemerintah selama pembuatan UU Cipta Kerja, dan tidak melibatkan banyak pihak dalam proses pembuatannya menjadi alasan-alasan dibalik opini kontra masyarakat terhadap UU ini. Cacat prosedur ini diperparah dengan proses pembahasan UU yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19 dimana semua lapisan elemen masyarakat sedang fokus bahu-membahu menangani dampak pandemi ini. Hal-hal tersebut menjadi alasan penyusunan UU Cipta Kerja ini dinilai cacat prosedur sejak awal perancangan.
RUU Cipta Kerja diserahkan Pemerintah kepada DPR pada 12 Februari 2020. Pemerintah mempersiapkan RUU Cipta Kerja yang berkonsep Omnibus Law dengan harapan dapat membangun perekonomian Indonesia dengan menarik banyak investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Lahirnya UU Cipta Kerja diharapkan mampu menciptakan produk hukum yang sederhana serta menjadi sistem hukum yang kondusif. Proses penyusunan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) pada akhirnya disahkan 5 Oktober 2020 dan mulai diterapkan pada tanggal 2 November 2020.
2. Kondisi Buruh Pasca Regulasi
Dampak yang sangat dirasakan oleh buruh atau pekerja dengan adanya regulasi ini atau disahkannya UU Cipta Kerja sektor ketenagakerjaan adalah hadirnya regulasi tersebut sangat tidak memihak kepada buruh ataupun pekerja yang seharusnya dilindungi oleh Undang-Undang itu sendiri, melainkan kepada penguasa. Hal tersebut dapat dilihat dari banyak pasal yang saling menghilangkan pasal lainnya. Dari upah minimum dalam pasal 88 UU Cipta Kerja menghapus ketentuan rinci mengenai perhitungan upah (tidak ada lagi ketentuan upah minimum), selanjutnya penghitungan upah dalam pasal 88B berisikan bahwa upah ditetapkan berdasarkan satuan waktu
dan/atau satuan hasil, dari satuan hasil tersebut tentunya sesuai dengan kemampuan perusahaan serta tidak adanya pengawasan jika terjadi pelanggaran.
Waktu kerja dan lembur yang terdapat pada pasal 79 UU Cipta Kerja ayat 1b disebutkan bahwa istirahat mingguan satu hari untuk enam hari kerja, sedangkan sebelumnya dalam UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa istirahat mingguan satu hari untuk enam hari kerja dalam satu minggu atau dua hari untuk lima hari kerja dalam satu minggu. Dalam ketentuan UU Cipta Kerja juga waktu lembur di perpanjang menjadi empat jam dalam satu hari dan delapan belas jam dalam satu minggu, sedangkan yang sebelumnya dari ketentuan UU Ketenagakerjaan 32/2003 pasal 78 yang menyebutkan bahwa waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak tiga jam dalam satu hari dan empat belas jam dalam satu minggu.
Kondisi lainnya juga dirasakan oleh para buruh yaitu perihal pesangon yang dikurangi.
Dihapusnya pasal 162-166 dalam UU Ketenagakerjaan yang berisi rincian jumlah pesangon, penghargaan masa kerja, serta uang pengganti bagi pekerja yang mengundurkan diri. Juga tentang PHK yang sangat mudah dilakukan oleh perusahaan secara sepihak. Dari beberapa dampak yang dirasakan oleh buruh atau pekerja dengan adanya UU Cipta Kerja dan turunannya, tentu hal tersebut dirasa sangat merugikan dan terlihat keberpihakan pemerintah selaku pemangku kebijakan yang seharusnya melindungi para buruh atau pekerja yang ada di Indonesia melalui hukum dan kebijakan yang dikeluarkan.
Peraturan Turunan UU Cipta Kerja yang Merugikan Tenaga Kerja
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa hadirnya UU Cipta Kerja mengundang banyak protes dan penolakan yang terus terjadi pada kalangan buruh dan masyarakat umum. Proses pengesahan yang tidak transparan dan tidak melibatkan partisipasi publik, cacat prosedur hukum, dan tidak memperhatikan perspektif perlindungan kesejahteraan para buruh tentu menuai protes dalam berbagai aksi. Ditambah lagi dengan adanya peraturan turunan yang diterbitkan oleh pemerintah, yaitu 45 Peraturan Pemerintah (PP) dan 4 Peraturan Presiden (Perpres), semakin meningkatkan gelombang penolakan dan protes yang dilakukan oleh kaum buruh. Menurut Ketua Umum KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia), Nining Elitos, mengatakan bahwa pemerintah sudah tidak lagi berpihak kepada kepentingan rakyat. Berkaitan dengan hal tersebut, Presiden KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia), Said Iqbal, meminta Presiden Joko Widodo
agar menunda pemberlakuan 4 PP, yaitu nomor 34, 35, 36, dan 37 karena dianggap merugikan para buruh atau tenaga kerja.
Pada PP 34 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA), masuknya tenaga kerja asing dinilai dapat mengancam lapangan pekerjaan orang Indonesia karena merujuk pada hilangnya syarat izin tertulis dari menteri tenaga kerja untuk TKA yang sebelumnya terdapat pada UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Hal ini melanggar UUD 1945 karena mempekerjakan buruh kasar yang merupakan TKA. Selain itu, pada PP 35 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, serta Pemutusan Hubungan Kerja, kompensasi yang diberikan untuk pekerja PKWT yang diberhentikan dianggap lebih rendah dibandingkan pada UU Ketenagakerjaan sebelumnya. Mekanisme kompensasi terbaru, perusahaan diperbolehkan membayar pesangon sebesar setengah dari ketentuan yang telah ditetapkan, berbeda dengan UU Ketenagakerjaan yang mewajibkan pembayaran upah hingga sisa kontrak.
Oleh karena itu, aturan turunan UU Cipta Kerja terutama pada PP 35 dan 36 condong lebih mengatur tentang kesepakatan antara buruh dengan pengusaha, sedangkan pada UU Ketenagakerjaan sebelumnya, yaitu UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memuat aturan yang tegas dalam melindungi para buruh atau tenaga kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah telah lalai dalam upaya meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.
Kebijakan yang Bermasalah dalam PP 34/2021
Pada pasal 6 ayat 1 “Setiap pemberi kerja TKA yang mempekerjakan TKA wajib memiliki RPTKA yang disahkan oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk” dalam pasal 6 ayat 1 dapat dilihat bahwa berkas perusahaan sangatlah mudah dipenuhi untuk mempekerjakan tenaga kerja asing dan pada pasal 14 ayat 4 disebutkan, “Data calon TKA dan dokumen dilakukan verifikasi oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk paling lama dua hari kerja.” dari ayat tersebut singkatnya waktu verifikasi dikhawatirkan tidak bisa memfilter pemalsuan data yang bisa saja dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Hal tersebut dapat dilihat juga pada pasal 19 ayat 3 dengan persyaratan TKA yang dianggap mudah untuk masuk ke ruang lingkup pekerjaan di Indonesia, dirasa mengkhawatirkan bila TKA tersebut menyentuh perusahaan startup di Indonesia. Perusahaan startup sendiri yang basisnya swasta dan tanpa batasan waktu pekerjaan (atau lebih lama dari yang negeri) dikhawatirkan akan lebih memilih mempekerjakan TKA.
Apabila melihat dengan kejadian lapangan di Indonesia, banyak perusahaan swasta lebih memilih untuk mempekerjakan TKA karena dianggap lebih elit secara pendidikan. Lalu ada kekhawatiran juga pada ayat 7 tertera aturan tentang rangkap jabatan, tetapi hal tersebut tidak menjelaskan batasan rangkap jabatannya. Dengan hal ini dikhawatirkan akan menjadi power bagi WNA untuk memiliki jabatan dimanapun. Jika dalam PP Nomor 34 tahun 2021 tentang penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang tertera pada pasal 2 ayat 1 menyebutkan, setiap pemberian kerja TKA wajib mengutamakan penggunaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pada semua jenis jabatan tersedia. Namun, dalam pasal 2 ayat 2 dalam hal jabatan pada ayat 1 belum dapat diduduki oleh tenaga kerja Indonesia, jabatan tersebut hanya dapat diduduki oleh TKA. Kemudahan TKA menduduki jabatan tertinggi dapat dilihat pada pasal 5 ayat 5 dinyatakan bahwa TKA dipekerjakan paling lama sampai berakhirnya jangka tersebut dengan "Pengesahan" RPTKA pemberi kerja TKA.
Kata Pengesahan berarti memberikan peluang kepada TKA dalam bekerja di berbagai bidang keahlian tanpa adanya izin atau hanya sebagai persyaratan biasa saja.
Perusahaan-perusahaan swasta yang memiliki waktu yang panjang atau tanpa batasan, bisa memberikan peluang mereka menjadi direksi ataupun pimpinan karena pengesahan RPTKA.
Dengan demikian PP mengijinkan TKA untuk menduduki posisi tinggi dan strategis di perusahaan, contoh direksi atau komisariat. Hal ini sangat merugikan tenaga kerja Indonesia yang akan menjadi budak di negerinya. Permasalahan tersebut sudah nyata adanya di Indonesia dengan data yang membuktikan bahwa jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia pada 2020 mencapai 98.902 orang. Dari data tersebut TKA asal China menduduki peringkat pertama, yaitu 35.781 orang atau setara 36,17%. Disusul dengan Jepang 12.823 orang, Korea Selatan 9.097, India 7.356 orang, Malaysia 4.816 orang, Philipina 4.536 orang, Amerika Serikat 2.596 orang, Australia 2.540 orang, Inggris 2.176 orang, Singapura 1.994 orang, dan 15.187 dari negara lainnya. Plt Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta & PKK) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Aris Wahyudi, menyampaikan bahwa terjadi penurunan pengajuan penggunaan TKA oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia lantaran pandemi Covid-19.
Selain permasalahan banyaknya TKA di Indonesia, ada permasalahan lain dalam perizinan yang telah terjadi saat Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M Hanif Dhakiri, menemukan 18 tenaga kerja asing (TKA) yang diduga melanggar izin kerja di Indonesia. Hal tersebut didapat setelah Hanif melakukan inspeksi mendadak (sidak) tenaga kerja asing di PT. Hua Xing Industri,
jalan Narogong Km 20, Cileungsi, Bogor. Dari sidak di perusahaan yang bergerak di bidang peleburan baja ini ditemukan 38 TKA asal Tiongkok, semuanya memiliki izin. Namun, 18 TKA terindikasi melakukan pelanggaran izin dan akan dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh pengawas ketenagakerjaan, Imigrasi, dan kepolisian setempat. Pelanggaran izin yang dimaksud adalah izin bekerja tidak sesuai dengan jabatannya misalnya pekerja teknisi listrik tetapi menjadi marketing.
Ditemukan juga pelanggaran lokasi kerja, misalnya perizinannya di Tangerang namun pada nyatanya bekerja di Bogor.
Kebijakan yang Bermasalah dalam PP 35/2021
Terdapat beberapa masalah yang menjadi sorotan, diantaranya yaitu hak kompensasi dan uang pesangon pekerja yang lebih kecil dibandingkan dengan uang pesangon pada UU Ketenagakerjaan sebelumnya, durasi kontrak kerja yang memungkinkan lebih panjang, dan penghilangan kewajiban untuk melakukan bipartite.
1. Kompensasi pesangon PHK
Uang pesangon merupakan uang yang dibayarkan oleh pengusaha kepada pegawai, dengan nama dan dalam bentuk apapun, sehubungan dengan berakhirnya masa kerja atau terjadi pemutusan hubungan kerja, termasuk uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak. Salah satu tujuan pemberian uang pesangon yaitu sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan kepada karyawannya yang tidak lagi mendapatkan upah setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sehingga dengan begitu uang pesangon dapat digunakan karyawan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sampai mereka mendapatkan pekerjaan lagi. Dengan begitu, pengusaha akan mempertimbangkan sebelum melakukan pemutusan kerja karena terdapat konsekuensi finansial yang diatur untuk terjadi keadilan hak tenaga kerja. Hal tersebut efektif untuk meminimalisir adanya pemutusan kerja.
Namun dalam aturan turunan UU Cipta Kerja, yaitu PP 35/2021 terdapat aturan yang berpotensi mengurangi kewajiban pembayaran pesangon oleh perusahaan. Perusahaan diperbolehkan membayar pesangon sebesar setengah dari ketentuan yang telah ditetapkan, berbeda dengan UU Ketenagakerjaan yang mewajibkan pembayaran upah hingga sisa kontrak. Hal ini mengakibatkan kaum buruh kehilangan hak untuk mendapatkan sisa upah yang sebelumnya mereka
terima pada UU Ketenagakerjaan sebelumnya. Dari total 66 pasal yang terdapat dalam PP 35/2021, terdapat sekitar 24 pasal yang mengatur secara rinci tentang PHK, mulai dari tata cara, alasan, hingga besaran pesangon yang diterima.
Alasan PHK UU No.
13/2003
PP No.
35/2021
Pensiun 2x 1,75x
Melanggar PP/PK/PKB 1x 0,5x
Perusahaan pailit 1x 0,5x
Perusahaan melakukan efisiensi 2x 1x
Perusahaan tutup akibat force majeure 1x 0,5x
Perubahan kepemilikan perusahaan dan pengusaha tidak bersedia mempekerjakan pekerja/buruh
2x 1x
Pengusaha melakukan tindakan melanggar norma kepada pekerja 2x 1x
Tabel 1. Perbandingan uang pesangon menurut alasan PHK
Berdasarkan data dari tabel tersebut, semakin meyakini bahwa PP 35/2021 berpotensi merugikan kalangan buruh atau tenaga kerja. Jika dilihat dari beberapa ketentuan pasal yang dikurangi dari UU sebelumnya, maka dapat dipastikan semakin melemahkan posisi buruh dalam mendapatkan haknya dalam menghindari pemutusan kerja. Dengan demikian, para pengusaha memiliki keuntungan dalam meningkatkan produksi yang akan dihasilkan dengan mudah dengan melakukan pemangkasan karyawan atau PHK. Dengan disahkannya PP 35 2021, para pengusaha hanya perlu membayar separuh dari pesangon yang artinya tidak perlu membayar pesangon penuh
untuk sisa kontrak tenaga kerja yang sebelumnya diatur jelas dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Selain memangkas nominal pesangon PHK, Pekerja kontrak pun terkena imbas atas disahkannya peraturan ini. Pekerja Kontrak diartikan secara hukum adalah Pekerja dengan status bukan pekerja tetap atau dengan kalimat lain pekerja yang bekerja hanya untuk waktu tertentu berdasarkan kesepakatan antara pekerja dengan perusahaan pemberi kerja. Dalam istilah hukum pekerja kontrak sering disebut “Pekerja PKWT”, maksudnya pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. PKWT berdasarkan selesainya suatu pekerjaan tertentu dibuat untuk pekerjaan yang sekali selesai atau yang sifatnya sementara.
Dalam aturan PP 35/2021 terdapat dua poin yang disorot yang berpotensi merugikan para pekerja kontrak. Pertama, terkait penghapusan ganti rugi atas pemutusan kontrak, dalam UU Ketenagakerjaan sebelumnya diatur bahwa pada saat pengusaha kedapatan ingin memutus kontrak kerja dalam masa kerja yang masih berjalan, maka perusahaan wajib untuk memberikan upah sebesar upah dari masa kerja yang belum dijalani, artinya perusahaan tetap membayar upah sisa masa kontrak pekerja. Sedangkan pada peraturan terbaru, kewajiban pemberian ganti rugi tersebut diganti dengan pemberian kompensasi sesuai dengan waktu kerja yang telah dilakukan. Ditambah lagi besaran kompensasi jauh lebih kecil dibandingkan dengan ganti rugi pemutusan kontrak sebelumnya, yakni dalam 12 bulan masa kerja yang telah dilakukan, diberikan kompensasi sebesar 1 bulan upah.
Kedua, terkait diperpanjangnya jangka waktu PKWT, jika dilihat dari peraturan sebelumnya mengatur bahwa PKWT paling lama dilaksanakan untuk 2 tahun dengan opsi perpanjangan 1 tahun.
Sedangkan pada aturan terbaru mengatur bahwa jangka waktu kontrak paling lama adalah 5 tahun dengan opsi perpanjangan jika pekerjaan belum selesai dengan ketentuan jangka waktu keseluruhan PKWT serta perpanjangannya tidak lebih dari 5 tahun. Hal ini dapat berimbas pada karyawan kontrak karena tidak mendapatkan hak yang sepadan jika dibandingkan dengan karyawan tetap, seperti dana pensiun, jaminan kehilangan pekerjaan, dan jaminan asuransi. Di luar dari pemerintah yang akan memberlakukan kompensasi dalam hal adanya pemutusan kontrak, hal ini masih tidak sebanding dengan peraturan yang sebelumnya karena dapat mengeksploitasi tenaga kerja dalam waktu tertentu. Kompensasi tersebut diberikan kepada buruh yang telah menjalani masa kerja paling sedikit 1 bulan secara terus-menerus.
2. Penghilangan bipartit sebelum melakukan PHK
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 Angka 10 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut UU PPHI menyebutkan bahwa perundingan bipartit adalah perundingan antara pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial.
Dengan adanya peraturan baru, para pengusaha kini tidak diwajibkan untuk melakukan bipartite dalam melakukan pemutusan hubungan kerja. Hal ini membuat hak buruh semakin terkikis bilamana terjadi perselisihan hubungan industrial. Para pengusaha cukup memberikan surat pemberitahuan tertulis tentang PHK kepada pekerja terkait. Dalam teknisnya, ketika dalam 14 hari pekerja tersebut tidak memberikan respons terhadap adanya pemberitahuan PHK, maka pengusaha secara sah berhak melakukan pemutusan hubungan kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah saat ini semakin abai dalam upaya menyejahterakan hak tenaga kerja. Berdasarkan hal tersebut, kebijakan terkait teknis PHK dinilai tidak relevan untuk diimplementasikan.
Kebijakan yang Bermasalah dalam PP 36/2021
Terdapat perubahan formula penghitungan upah minimum sektoral untuk buruh dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan dibandingkan PP 78/2015 tentang Pengupahan. Misalnya dikutip dari pasal 25 PP 36/2021 upah minimum terdiri atas upah minimum provinsi dan upah minimum kabupaten/kota dengan syarat tertentu. Dengan aturan tersebut maka Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota dihapuskan. Hal ini berimbas pada buruh karena berpotensi menimbulkan ketidakadilan. Karena tujuan upah sektoral sebenarnya agar setiap industri memiliki perbedaan.
1. Penghapusan upah minimum sektoral
Dalam perundangan lama pada PP Nomor 78/2015, penetapan upah sektoral masih diatur.
Disebutkan bahwa, setiap tahun kepala daerah harus menetapkan standar upah berdasarkan sektor usaha, selain upah minimum provinsi atau kota. Pada umumnya, upah sektoral lebih tinggi dibandingkan standar upah minimum wilayah, baik kota maupun provinsi. Pada 2020 di Kota Bekasi, misalnya, upah sektoral lebih tinggi 7,6 persen hingga 12,2 persen dari upah minimum kota, sekitar Rp5,2-5,0 juta per bulan. Pada periode yang sama, upah minimum kota hanya Rp4,6 juta per
bulan. Sebuah selisih yang tidak sedikit. selain itu, pada UU Ketenagakerjaan mengatur pemberlakuan sistem minimum pengupahan berdasarkan jenis pekerjaan. Regulasi ini bertujuan sebagai standarisasi upah pekerjaan satu dengan yang lainnya. Imbas dari dihapusnya upah minimum sektoral ini menyebabkan timbulnya ketidakadilan akibat adanya kesamaan pembayaran upah yang diberikan pada buruh walaupun bekerja pada sektor yang berbeda, misalnya buruh yang bekerja di sektor pertambangan dengan mereka yang bekerja di perusahaan baju akan memiliki upah yang sama besar selama mereka bekerja pada satu wilayah. Ditambah lagi dengan adanya penerapan batas atas dalam UMP yang terindikasi akan membatasi upah di titik tertentu.
Pada Pasal 25 hingga 30 dijelaskan berbagai aturan penetapan upah minimum baik itu provinsi atau kabupaten/kota yang dilakukan tiap tahunnya. Selain itu, pada Pasal 25 ayat 2 dijelaskan adanya batas atas dan batas bawah upah minimum pada wilayah yang bersangkutan.
Batas atas upah minimum sebagaimana dimaksud ayat 2 merupakan acuan nilai upah minimum tertinggi yang dapat ditetapkan dan dihitung menggunakan formula sebagai berikut:
Batas atas upah minimum = (rata-rata konsumsi per kapita x rata-rata banyaknya anggota rumah tangga)/rata-rata banyaknya ART bekerja pada setiap rumah tangga.
Sementara rumus batas bawah upah minimum adalah sebagai berikut:
Batas bawah upah minimum = batas atas upah minimum x 50 persen.
2. Pengubahan penetapan upah minimum
Berbeda dengan aturan sebelumnya atau PP 78/2015 dimana penetapan upah minimum dilakukan setiap tahun berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan hidup layak tersebut terdiri atas beberapa komponen yang ditinjau dalam jangka waktu 5 tahun. Namun dengan adanya regulasi terbaru, penetapan upah minimum provinsi diubah mekanismenya berdasarkan kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan. Dalam teknisnya, penetapan UMK ini didasarkan pada pertumbuhan ekonomi atau inflasi di suatu wilayah. Pengubahan cara perhitungan upah minimum tersebut menuai penolakan dan pertentangan dari para buruh. Hal ini akibat dari dihilangkannya faktor kebutuhan hidup layak dalam indikator penetapan upah minimum. Dengan demikian, para buruh kini jauh lebih sulit dalam menuntut kenaikan upah.
KESIMPULAN
Undang-Undang Omnibus Law merupakan sebuah alat yang digunakan pemerintah untuk mendapatkan investasi melalui cara-cara kolonial. Pada klaster ketenagakerjaan dinilai banyak pasal yang akan menghilangkan hak-hak buruh yang dapat dilihat dari banyak pasal yang saling menghilangkan pasal lainnya, hal tersebut tentu saja melanggar UUD 1945. Terdapat beberapa masalah yang menjadi sorotan, diantaranya yaitu hak kompensasi dan uang pesangon pekerja yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya, durasi kontrak kerja yang memungkinkan lebih panjang, dan penghilangan kewajiban untuk melakukan bipartite. Jika dilihat dari beberapa ketentuan pasal yang dikurangi dari UU sebelumnya, maka dapat dipastikan semakin melemahkan posisi buruh dalam mendapatkan haknya dalam menghindari pemutusan kerja. Dengan demikian, para pengusaha memiliki keuntungan dalam meningkatkan produksi yang akan dihasilkan dengan mudah dengan melakukan pemangkasan karyawan atau PHK. Hal ini juga dapat berimbas pada karyawan kontrak karena tidak mendapatkan hak yang sepadan jika dibandingkan dengan karyawan tetap, seperti dana pensiun, jaminan kehilangan pekerjaan, dan jaminan asuransi. Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) masuknya tenaga kerja asing juga dinilai dapat mengancam lapangan pekerjaan orang Indonesia karena mempekerjakan buruh kasar yang merupakan TKA, hal ini sangat merugikan tenaga kerja Indonesia yang akan menjadi budak di negerinya. Penghapusan upah minimum sektoralpun menjadi sebuah permasalahan, dimana upah yang didapatkan buruh berselisih yang tidak sedikit.
PERNYATAAN SIKAP DAN TUNTUTAN KM IPB TERHADAP UU CIPTA KERJA
SIKAP
1. Menolak UU Nomor 11 Tahun 2020.
2. Mendukung penuh tuntutan buruh untuk membatalkan UU Nomor 11 Tahun 2020.
3. Mendukung penuh tuntutan buruh untuk memeberlakukan kembali upah minimum sektoral.
TUNTUTAN
1. Menuntut Pemerintah untuk membatalkan UU Nomor 11 Tahun 2020.
2. Menuntut Pemerintah untuk memberlakukan kembali upah minimum sektoral.
DAFTAR PUSTAKA
Febrinandez, Hemi L. Cacat Prosedural Ciptakerja (detik.com) (Diakses). (Diakses dari:
https://news.detik.com/kolom/d-5203002/cacat-prosedural-uu-cipta-kerja).
Mashabi, Sania. (2021). Aturan Turunan UU Cipta Kerja Dinilai Bisa Batal Otomatis, jika...
(kompas.com). (Diakses dari: https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/menilik-aturan- turunan-uu-cipta-kerja-klaster-ketenagakerjaan-yang-dinilai-kspi-rugikan-pekerja/ar-
BB1e1LDM).
O’Brien, Aurey and Bose, Robert. (2009). House of Commons Procedure and Practice. Editions Yvon Blais. Vol2 : 724,725.
Prabowo, Dani. (2021). Menilik Aturan Turunan UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan yang Dinilai KSPI Rugikan Pekerja (msn.com). (Diakses dari: https://www.msn.com/id- id/berita/nasional/menilik-aturan-turunan-uu-cipta-kerja-klaster-ketenagakerjaan-yang-dinilai- kspi-rugikan-pekerja/ar-BB1e1LDM).
Pemerintah Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Thea, Ady (2021). Beginilah Alur Proses PHK Sesuai UU Cipta kerja (hukumonline.com). (Diakses dari: https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt606aa597aeace/begini-alur-proses-phk- sesuai-uu-cipta-kerja/)
Thea, Ady (2021). Sejumlah Substansi UU Cipta Kerja yang Dinilai Ruginakan Buruh (hukumonline.com). (Diakses dari:
https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5fa28130dfb31/sejumlah-substansi-uu-cipta- kerja-yang-dinilai-rugikan-buruh)
[RI]. Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2021 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Jakarta (ID) : RI.
[RI]. Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja, dan Pemutusan Hubungan Kerja. Jakarta (ID) : RI.
[RI]. Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan. Jakarta (ID) : RI.
[RI]. Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan. Jakarta (ID) : RI.
Yahya, Achmad N. (2021). 8 Poin UU Cipta Kerja yang Disorot Buruh, dari Sistem Kerja Kontrak
hingga Alasan PHK (kompas.com). (Diakses dari:
https://nasional.kompas.com/read/2020/11/03/16492141/8-poin-uu-cipta-kerja-yang-disorot- buruh-dari-sistem-kerja-kontrak-hingga?page=all