• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA: Persepsi

N/A
N/A
marchel

Academic year: 2023

Membagikan "KAJIAN PUSTAKA: Persepsi"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Persepsi

Setiap orang mempunyai persepsi sendiri mengenai apa yang dipikirkan, dilihat, dan dirasakan. Hal tersebut sekaligus berarti bahwa persepsi menentukan apa yang akan diperbuat seseorang untuk memenuhi berbagai kepentingan baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan masyarakat tempat berinteraksi.

Persepsi inilah yang membedakan seseorang dengan yang lain. Persepsi menurut Rahmadani (2015) dihasilkan dari kongkritisasi pemikiran, kemudian melahirkan konsep atau ide yang berbeda-beda dari masing-masing orang meskipun obyek yang dilihat sama. Berikut pengertian persepsi menurut beberapa ahli.

Persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2017:863) adalah tangggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Persepsi menurut Walgito (2015:69) adalah suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera. Persepsi merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Karena itu dalam penginderaan orang akan mengaitkan dengan stimulus, sedangkan dalam persepsi orang akan mengaitkan dengan objek. Dengan persepsi individu orang akan menyadari tentang keadaan disekitarnya dan juga keadaan diri sendiri.

Saleh (2019:110) juga menambahkan, bahwa persepsi adalah proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data indera kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling, termasuk sadar akan diri kita sendiri. Rahmat (2018:52) mengatakan dalam bukunya

“Psikologi Komunikasi” berpendapat bahwa “Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan

(2)

informasi dan menafsirkan pesan”. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).

Menurut Walgito (2015:72) Proses terjadinya persepsi dimulai dari adanya objek yang menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera. Stimulus yang diterima alat indera diteruskan oleh saraf sensoris ke otak. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang dirasa. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk.

Proses stimulus mengenai alat indera merupakan proses kealaman atau proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini yang disebut sebagai proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba. Proses yang terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran inilah yang disebut sebagai proses psikologis. Kemudian pada taraf terakhir dari proses terjadinya persepsi adalah individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima melalui alat indera. Proses ini merupakan proses terakhir dari persepsi dan merupakan proses sebenarnya. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk.

Dari beberapa pengertian persepsi diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa persepsi mempengaruhi perilaku seseorang atau perilaku merupakan cerminan persepsi yang dimilikinya. Persepsi adalah tenggapan atau gambaran langsung dari suatu serapan seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Dalam pengertian ini jelas, bahwa persepsi adalah kesan, gambaran atau tanggapan yang dimiliki seseorang setelah orang tersebut menyerap untuk mengetahui beberapa hal atau objek melalui panca inderanya.

B. Definisi Masyarakat

(3)

Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata Latin socius yang berarti (kawan). Istilah masyarakat berasal dari kata bahasa Arab syaraka yang berarti (ikut serta dan berpartisipasi). Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui warga-warganya dapat saling berinteraksi. Definisi lain, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki keempat ciri yaitu: 1) Interaksi antar warga-warganya, 2). Adat istiadat, 3) Kontinuitas waktu, 4) Rasa identitas kuat yang mengikat semua warga (Koentjaraningrat, 2019: 115-118).

Menurut Simanjuntak (2016), Masyarakat adalah kumpulan manusia yang mengadakan hubungan satu sama lain baik secara perorangan maupun secara kelompok untuk mencapai kepentingan bersama maupun yang bertentangan didalam suati ruang, peristiwa, waktu, dan tempat yang sering juga disebut common and latent interest.

Semua warga masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama, hidup bersama dapat diartikan sama dengan hidup dalam suatu tatanan pergaulan dan keadaan ini akan tercipta apabila manusia melakukan hubungan, Mac lver dan Page (dalam Soekanto 2016: 22), memaparkan bahwa masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan, tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok, penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebiasaan-kebiasaan manusia. Masyarakat merupakan suatu bentuk kehidupan bersama untuk jangka waktu yang cukup lama sehingga menghasilkan suatu adat istiadat, menurut Ralph Linton (dalam Soekanto, 2016: 22) masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial

(4)

dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas sedangkan masyarakat menurut Selo Soemardjan (dalam Soekanto, 2016: 22) adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan dan mereka mempunyai kesamaan wilayah, identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.

M.J. Herskovits menyatakan (dalam Saebani 2012:137), masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan, yang mengikuti satu cara hidup tertentu.

Sedangkan JL. Gillin dan J.P. Gillin (dalam Saebani 2012:138) mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia terbesar yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama. S.R. Steinmetz (dalam Saebani 2012:138) , memberikan batasan mengenai masyarakat sebagai kelompok manusia yang terbesar meliputi pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai perhubungan erat dan teratur. Pendapat dari Mac lver (dalam Saebani 2012:140) yang mengatakan bahwa masyarakat adalah satu sistem cara kerja dan prosedur, dari otoritas dan saling membantu yang meliputi kelompok-kelompok dan pembagian-pembagian sosial lainya, system pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan, sistem yang kompleks dan selalu berubah,atau jaringan relasi sosial.

Istilah masyarakat berasal dari bahasa arab, yaitu syaraka yang artinya ikut serta atau berpartisipasi. Sedangkan dalam bahasa inggris masyarakat adalah society yang pengertiannya mencakup interaksi sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan. Dalam literatur lainnya, masyarakat juga disebut dengan sistem social. Masyarakat juga berarti bahwa kesataun hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Terbentuknya kelompok sosial atau masyarakat dikarenakan manusiamanusia menggunakan pikiran, perasaan, dan keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Manusia mempunyai naluri untuk selalu berhubungan

(5)

dengan sesamanya. Hubungan yang berkesinambungan dan terus menerus ini menghasilkan pola pergaulan yang disebut pola interaksi sosial.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama-sama untuk mendiami wilayah tertentu dan saling bergaul serta menyukai kebudayaan dan memiliki pembagian kerja, dalam waktu relatif lama, saling tergantung, memiliki sistem sosial budaya yang mengatur kegiatan para anggota serta memiliki kesadaran akan kesatuan dan perasaan memiliki, mampu untuk bertindak dengan cara yang teratur dan bekerja sama dalam melakukan aktivitas yang cukup lama pada kelompok tersebut.

C. Suku Toraja

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis-Sidenreng dan orang Luwu.

Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini To Riaja yang mengandung arti orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Sedang orang Luwu (zaman Belanda) menyebutnya To Riajang yang artinya adalah orang yang berdiam di sebelah barat. Ada juga versi lain yang berpendapat, kata Toraya berasal dari kata To artinya tau (orang) dan Raya berasal dari kata Maraya (besar), artinya orang besar atau bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja. Kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja kemudian dikenal dengan nama Tana Toraja.

Tana Toraja akrab dengan sebutan Tondok Lepongan Bulan Tana Matari Allo.

Secara harfiah artinya "Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari”, nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna persekutuan negeri sebagai suatu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Inilah yang menyebabkan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerah yang terdiri atas kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat di Toraja. Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat

(6)

tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar (bulat) yang terikat dalam suatu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat orang Toraja.

Daerah Sulawesi Selatan didiami oleh empat kelompok etnis sebagai penduduk asli, yaitu : Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja, dengan perbedaan latar belakang dari segi sejarah, soial, budaya, bentuk pemerintahan dan kerajaan-kerajaan yang terdapat di daerah tersebut pada masa lampau. Mengenai asal usul orang Toraja, sebagai salah satu suku yang menghuni daratan Sulawesi Selatan, menurut beberapa sumber berasal dari kebudayaan Dong Son. Hal tersebut dapat dilihat dari pengaruh kebudayaan Dong Son terhadap gaya rumah tradisional Toraja yang mempunyai tiang pondasi dengan bentuk atap yang melengkung menjulang pada bagian depan dan belakang, seperti gaya rumah-rumah yang digambarkan pada gendering yang berasal dari Dong Son.

Teori para arkeolog, seperti Heine-Geldern dan Vroklage, mengungkapkan beberapa ciri-ciri asli kebudyaan Dong Son yang terdapat pada masyarakat yang menghuni pulau-pulau terpencil di Nusantara. Mereka mengatakan bahwa migrasi Dong Son darang secara bergelombang menghuni dan mendominasi kebudayaan setempat yang pada saat itu masih kurang berkembang. Pada tahun 1936, Vroklage mengemukakakn hipotesa dalam naskahnya yang berjudul “The Ship in the Megalithic Cultures of South-East Asia and the South Seas”. Dalam penelitiannya ini ia mendapat kesimpulan bahwa terdapat kemiripan gaya arsitektur di Asia Tenggara, Melanesia, dan Ocenia serta keterkaitannya dengan Jepang dan Madagaskar. Dalam tesisnya, Vroklage mengemukakan bagwa bentuk ujung-ujung atap yang melengkung adalah simbol ‘perahu’, dan bentuk ini terbawa sampai mencapai pulau-pulau di Indonesia. Gaya atap tersebut dinamakan ‘atap perahu’

dan mempunyai perancangan konstruksi yang baik.

(7)

Untuk mendukung teorinya, Vroklage menyebutkan contoh-contoh pada beberapa suku di Indonesia, yang sering membaandingkan rumahnya atau penataan desanya dengan hal-hal yang berhubungan dengan perahu. Mereka memberi nama julukan dengan menggunakan kata ‘perahu’ seperti ‘kepala desa’ dan orang-orang yang berkedudukan tinggi diberi nama ‘kapten perahu’ dan lain-lain. Masyarakat ini mempercayai bahwa orang-orang yang sudah meninggal akan berlayar menuju ke alam kematian, dan peti matinya dinamakan prahu, dimana peti mati itu mirip dengan bentuk perahu. Vroklage mengatakan bahwa adanya arsitektur rumah yang menyerupai bentuk perah, tanduk kerbau pada atap pelana rumah, dan praktek- praktek yang menggunakan perahu untuk mengantar orang mati pada upacara pemakaman, merupakan suatu kesatuan dari “gelombang kebudayaan” yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa perahu tersebut mempunyai arti penting, sebagai lambang kebersamaan dan kesatuan bagi masyarakat, dan selanjutnya dianggap mempunyai kekuatan khusus berkaitan dengan kepercayaan mereka, yang selalu diliputi oleh mitos dan bayang-bayang terhadap sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan yang menguasai dan mengatur alam raya ini. Oleh karena itu dapat dipahami bila bentuk perahu sebagian atau seluruhnya muncul pada bangunan rumah masyarakat tersebut, dimana rumah dianggap sebagai “alam kecil” yang mewakili alam raya. Meskipun pada kenyataannya letak geografis daerah Toraja saat ini jauh dari pantai (laut) dan merupakan dataran tinggi yang berbukit-bukit, namun suku Toraja sebetulnya tidak saja bermukim di Tana Toraja melainkan tersebar ke daerah lain sampai di Polewali Mamasa yang dekat dengan pantai bagian barat Pulau Sulawesi dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Toraja.

Suku Toraja Sa’dan yang mendiami daerah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara saat ini, diduga dahulu merupakan orang pantai yang menyebar ke arah utara untuk mencari penghidupan di daerah baru. Seperti yang diungkapkan oleh Tangdilintin, bahwa penduduk yang menguasai Tondok Lepongan Bulan Tana

(8)

Matarik Allo (Tana Toraja) pada mulanya berasal dari selatan yang dating secara berkelompok dan berangsur-angsur dengan menggunakan perahu menyusuri sungai-sungai besar. Pendatang itu disebut Arroan (kelompok manusia) dan pimpinannya disebut Ambe’ Arroan namun ada juga yang dinamakan Puang Lembang ( Puang = yang empunya, Lembang = perahu). Keberadaan istilah Ambe’

dan Puang masih tetap dipertahankan sampai saat ini sebagai gelar kehormatan bagi bangsawan dan Penguasa adat di daerah utara dan selatan Tana Toraja.

D. Upacara Rambu Solo’

Rambu Solo’/Aluk Rampe Matampu’ merupakan rangkaian upacara yang menyangkut kematian dan pemakaman manusia. Upacara dilaksanakan setelah lewat tengah hari, sinar matahari mulai terbenam menunjukkan kedukaan atas kematian/pemakaman manusia. Ritual/kurban persembahan dari upacara ini dilakukan di sebelah barat tongkonan. Rambu Solo’/Aluk Rampe Matampu’

dianggap sebagai upacara untuk menyempurnakan kematian seseorang. Menurut Aluk Todolo, mati adalah suatu proses perubahan status sematamata dari manusia fisik di dunia kepada manusia roh di alam gaib. Keadaan yang mati di alam gaib akan sama saja dengan kehidupan fisik di dunia, hanya saja tidak dapat dilihat atau diraba. Puncak upacara Rambu Solo’ biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Ketika waktu, jenis dan pembagian tugas sudah disepakati, semua keturunan dari yang meninggal (anak hingga cicit) yang merantau akan pulang ke tongkonan untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini.

Dinamika budaya Suku Toraja sangat dipengaruhi oleh Aluk Todolo. “Aluk”:

jalan, aturan, hukum, keyakinan, agama; “Todolo”: leluhur. Agama leluhur, agama purba yang meyakini bahwa Puang Matua (Tuhan Yang Maha Mulia) adalah Sang Pencipta dan menurunkan “agama”, aturan kehidupan bagi manusia. Aluk Todolo menjadi tali pengikat dan landasan kesatuan masyarakat Toraja yang sangat kokoh.

Kemanapun orang Toraja pergi harus selalu “kembali” ke kampung halamannya, ke

(9)

rumah Tongkonan (rumah adat; leluhur) nya. Rangkaian kegiatan upacara pemakaman Rambu Solo’ sangat rumit serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Di Toraja orang yang meninggal baru akan dimakamkan berbulan-bulan setelah kepergiannya, Pihak keluarga membutuhkan waktu mengumpulkan dana untuk upacara pemakaman. Besaran dana ini terkait dengan tingkat upacara dan jumlah hewan yang akan dikurbankan.

Sesuai dengan Aluk Todolo, Suku Toraja memiliki dua upacara adat utama, Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’. “Rambu”: asap, sinar, cahaya; “Tuka’”: naik;

“Solo”: turun; “Rampe”: sebelah, bagian; “Matallo”: timur; “Matampu”: barat.

Kedua bentuk upacara ini merupakan ritual kurban yang berpasangan dan keduanya harus dilewati oleh seorang manusia. Rambu Tuka’/Aluk Rampe Matallo merupakan upacara-upacara dalam rangka syukuran atas keselamatan dan kehidupan manusia serta mahluk hidup lainnya. Dilaksanakan pada saat sinar matahari naik di sebelah timur tongkonan. Rambu Solo’/Aluk Rampe Matampu’ merupakan rangkaian upacara yang menyangkut kematian dan pemakaman manusia. Upacara dilaksanakan setelah lewat tengah hari, sinar matahari mulai terbenam menunjukkan kedukaan atas kematian/pemakaman manusia. Ritual/kurban persembahan dari upacara ini dilakukan di sebelah barat tongkonan. Rambu Solo’/Aluk Rampe Matampu’ dianggap sebagai upacara untuk menyempurnakan kematian seseorang.

Jika sudah disepakati waktu pelaksanaan Rambu Solo’ oleh keluarga inti, maka semua anggota keluarga tanpa terkecuali akan datang ke tongkonan dengan membawa hewan kurban (kerbau dan babi) sebagai ungkapan turut bela sungkawa.

Semakin banyak hewan yang dikurbankan dalam Rambu Solo’ maka semakin tinggi derajat yang meninggal ketika berada di nirwana. Daging hewan kurban kemudian dibagi-bagikan secara adat kepada keluarga dan masyarakat yang ikut berperan serta dalam Rambu Solo’. Hal yang lumrah jika biaya untuk menyelenggarakan Upacara Rambu Solo’ sangat besar, berkisar antara puluhan juta sampai ratusan juta rupiah.

(10)

E. Penelitian-Penelitian Terdahulu yang Relevan

Dalam penelitian studi tentang Studi Tentang Persepsi Masyarakat Suku Toraja Perantauan Atas Upacara Rambu Solo' di Kota Madya Samarinda, adanya kajian yang relavan dari penelitian terdahulu sebagai berikut:

Tabel 2.1 Penelitian-Penelitian Terdahulu yang Relevan No.

Nama, Judul

Penelitian, Tahun

Tujuan Hasil Penelitian

1 PERSEPSI

MASYARAKAT TERHADAP

UPACARA RAMBU SOLO’

BERDASARKAN TINGKATAN MASYARAKAT

(STUDI KASUS

MAKALE

KABUPATEN TANA TORAJA)

(Sri Kondongan, 2019)

Tujuan pada penelitian ini

Untuk mengetahui

Persepsi masyarakat terhadap upacara Rambu solo’ berdasarkan Tingkatan Masyarakat, mengidentifikasi

status sosial dalam upacara Rambu solo’, dan memahami kandungan nilai religius dalam upacara Rambu Solo’ di Makale Kabupaten Tana Toraja.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari beberapa persepsi, masyarakat toraja melaksanakan upacara Rambu solo’ sebagai bakti penghormatan terakhir serta wujud kasih sayang pada orang-tua dan untuk menaikkan status dengan

mempertahankan prestise, harga diri dalam masyarakat sehingga pada akhirnya yang terjadi adalah pemborosan.

Sedangkan Status sosial seseorang dalam upacara Rambu solo’

dapat dilihat dari jenis pesta kematian,

seberapa lama

pelaksanaan upacara berlangsung, berapa jumlah hewan yang dikurbankan, sampai pada simbol-simbol yang dipakai dalam upacara yang dapat menunjukkan strata

seseorang yang

meninggal.

2 SIRI’ TO MATE:

TEDONG SEBAGAI HARGA DIRI PADA RAMBU SOLO’ DI TORAJA (Sammuel Moris, Abdul Rahman, 2022).

Tulisan ini memaparkan suatu degradasi tradisi dalam stuktur masyarakat di suku Toraja khususnya Toraja Utara, suatu pergeseran makna budaya yang dihayati oleh mayoritas masyarakat

Siri yang seharusnya dalam konotasi postif yang menjaga tatanan kehidupan masyarakat Toraja agar sesuai pada koridornya, bergerak kearah konsentrasi yang kritis, dimana siri

(11)

No.

Nama, Judul

Penelitian, Tahun

Tujuan Hasil Penelitian

Toraja Utara, Provinsi

Sulawesi Selatan. berubah menjadi gengsi semata para pribadi dan keluarga yang ingin meninggalkan legacy dimata masyarakat setempat. Reintepretasi dan reaktualisasi harus dikedepankan dalam memaknai ulang suatu budaya dan adat yang ada dalam tatanan masyarakat Toraja agar nilainya tak berubah kearah yang negative dan agar kita dapat mempertahankan legacy bahwa Toraja adalah tanah Adat.

3

RITUAL RAMBU

SOLO ETNIK

TORAJA PERSPEKTIF ANTROPOLOGI EKONOMI (Wahyunis. 2022)

Tujuan penelitian ini ritual upacara rambu solo yang dilakukan oleh masyarakat dengan menggunakan perspektif antropologi ekonomi

Ritual kematian Rambu Solo bagi etnik Toraja memiliki nilai dan fungsi yang bermakna. Kematian dalam kepercayaan lokal Toraja yaitu

proses seorang

manusia berjalan menuju bersama para leluhur ketempat yang disebut puya. Dalam proses tersebut ada kewajiban keluarga untuk mengantarkan keluarga yang telah meninggal melalui proses ritual kematian.

Rambu Solo dalam pelaksanaannya

membutuh kan banyak biaya dan tenaga untuk melaksanakan,

sehingga sikap saling bantu dan tolong

menolong dalam

konsep tongkonan

orang toraja

melahirkan sebuah

sistem ekonomi

tradisional yang terdiri dari proses pemberian bantuan tenaga hingga

(12)

No.

Nama, Judul

Penelitian, Tahun

Tujuan Hasil Penelitian

materi, upaya utang- piutang juga menjadi cara keluarga untuk melaksanakan ritual tersebut. Faktor yang mempengaruhi

terjadinya pergeseran nilai dan makna budaya tradisi Rambu Solo masyarakat Toraja pada masa modern ini ialah diantaranya: faktor

masuknya agama

Kristen ke Toraja, faktor meningkatnya kehidupan ekonomi masyarakat Toraja dan faktor adanya istilah Indan dan Longko’

oleh masyarakat Toraja dalam tradisi Rambu Solo tersebut.

Sumber data oleh penulis 2023.

Penulisan penelitian yang dilakukan oleh penelitian terdahulu, pada dasarnya berbeda dengan apa yang akan dikaji dalam penelitian ini.

F. Kerangka Berpikir

Studi Tentang Persepsi Masyarakat Suku Toraja Perantauan Atas Upacara Rambu Solo' di Kota Madya Samarinda

Persepsi Masyarakat Suku Toraja Perantauan

Teori:

1. Persepsi

2. Upacara Rambu Solo’

Upacara Rambu Solo’ dilihat dari persepsi Masyarakat Suku Toraja Perantauan Kota Madya Samarinda

Persepsi Masyarakat Suku Toraja Perantauan Kota Madya Samarinda

Toraja terhadap Upacara Rambu Solo’

(13)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah (territorial) tertentu

Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah (territorial) tertentu dengan mengakui

Secara ringkas peneliti dapat menarik kesimpulan dari pengertian kamus dari beberapa pendapat ahli yang dikemukan bahwa kamus (1) merupakan sebuah buku yang memuat daftar

Dari beberapa pendapat di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa yang di maksud dengan pariwisata adalah suatu kegiatan atau perjalanan manusia yang sifatnya untuk

Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pendapatan adalah suatu aliran kas masuk atau kenaikan lain aktiva yang berasal

Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah (territorial) tertentu dengan

Kesimpulan dari pendapat ahli di atas yaitu ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan blended learning yaitu penyampaian bahan ajar harus konsisten,

Berdasarkan pendapat para ahli dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang melalui proses, cara dan perbuatan pembelajaran yang