LAPORAN TUGAS INDIVIDUAL DISKUSI KELOMPOK
PEMICU 2
KAKEK GAGAH YANG BUTUH GIGI TIRUAN BARU BLOK 20
Jesika Gihon Aprelia Siagian 200600194
KELAS B/ KELOMPOK 8
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
SUMATERA UTARA
2023
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pencabutan gigi menyebabkan hilangnya jaringan periodontal. Perubahan ini menyebabkan hilangnya mekanisme sensori, yaitu perubahan pola penerimaan beban regangan dan tekanan pada tulang alveolar yang menjadi lebih besar secara vertikal maupun horizontal. Hal ini merupakan penyebab utama terjadinya proses resorpsi pada tulang
alveolus yang akan mempengaruhi luas daerah pendukung.1
Resorpsi tulang alveolar juga dapat menyebabkan berkurangnya ukuran tulang alveolus sehingga luas daerah dukungan gigi tiruan penuh menjadi lebih kecil. Luas permukaan dukungan gigi tiruan penuh berkorelasi positif dengan faktor-faktor retensi yang terjadi pada gigi tiruan. Berkurangnya luas jaringan pendukung gigitiruan dapat mempengaruhi faktorfaktor retensi gigi tiruan penuh yaitu adhesi, kohesi, tegangan permukaan, tekanan atmosfer terjadi pada permukaan basis gigitiruan penuh.
1.2 Deskripsi Topik
Judul Pemicu : Kakek Gajah yang Butuh Gigi Tiruan Baru
Penyusun : Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp.Pros(K), Ricca
Chairunnisa, drg.,
Sp.Pros (K), dan Indra Basar Siregar, drg., M.Kes.
Hari/Tanggal : Rabu/5 April 2023 Jam : 07.00-09.00
Seorang laki-laki berusia 61 tahun datang ke dokter gigi dengan keluhan sulit mengunyah karena seluruh gigi sudah dicabut. Anamnesis: pasien memakai gigi tiruan pada rahang atas dan bawah, tetapi sudah longgar dan tidak nyaman dipakai. Pemeriksaan intra oral: edentulus lengkap rahang atas dan rahang bawah dengan perlekatan frenulum tinggi, vestibulum bukalis rahang bawah dangkal, bagian puncak linggir posterior RB tajam dengan mukosa yang tipis dan kemerahan. Mukosa linggir anterior rahang atas menebal dan bergerak apabila ditekan. Pemeriksaan gigi tiruan:
retensi (-), permukaan oklusal gigi aus dan gigi tiruan sudah berubah warna. Pasien ingin membuat gigi tiruan yang baru.
BAB II PEMBAHASAN
2.1Jelaskan prosedur diagnosis untuk kasus tersebut!
Diagnosis adalah pemeriksaan keadaan fisik, evaluasi susunan mental atau psikologis, dan memahami kebutuhan setiap pasien untuk memastikan hasil yang dapat diprediksi. Diagnosa terdiri dari observasi terencana untuk menentukan dan mengevaluasi kondisi yang ada, yang mengarah pada pengambilan keputusan berdasarkan kondisi yang diamati.1
Data pasien → berupa nama, alamat, nomor telepon, usia, usia, dan pekerjaan.
Pada kasus pasien seorang laki-laki berusia 61 tahun
Keluhan utama → Alasan pasien untuk mencari perawatan gigi tiruan baru.
Mungkin karena satu atau lebih alasan seperti untuk memperbaiki penampilan pasien atau untuk makan lebih baik. Ini harus dicatat karena dapat mempengaruhi diagnosis dan prosedur perawatan yang akan dilaakukan. Pada kasus pasien mengeluhkan sulit mengunyah karena seluruh gigi sudah dicabut.
Riwayat perawatan dental dan penggunaan gigi tiruan → Riwayat perawatan gigi pasien harus mencakup dari awal pencabutan, tingkat keparahan penyakit gigi dan reaksi pasien terhadap perawatan gigi. Pengalaman gigi tiruan sebelumnya harus dicatat. Jumlah gigi palsu yang dimiliki pasien dan lamanya pemakaian masing-masing dapat mempengaruhi prognosis yang diantisipasi.
Operator harus tau apakah pasien puas atau tidak dengan gigi tiruan yang lama. Pada kasus pasien memakai gigi tiruan pada rahang atas dan bawah, tetapi sudah longgar dan tidak nyaman dipakai.
Riwayat Medis → Catatan harus dibuat dari riwayat medis masa lalu dan sekarang pasien yang relevan dengan perawatan gigi di masa depan. Riwayat medis yang menyeluruh dan akurat harus diperoleh selama fase diagnostik perawatan gigi tiruan lengkap dan harus diperbarui seperlunya. Pasien tidak mempunyai penyakit sistemik pada kasus.
Mental attitude → Terbagi menjadi philosophical, exacting, hysterical, indifferent. Pada kasus, pasien tergolong philosophical karena meminta dibuatkan gigi tiruan yang baru.
General appearance → Jika pakaian dan jumlah kosmetik yang dipakai pasien di atas rata-rata, biasanya pasien akan lebih teliti tentang penampilan gigi
tiruan. Simetri wajah dan gerakan abnormal pada rahang saat berbicara juga harus diperhatikan. Perkembangan umum otot-otot wajah harus diamati, serta otot-otot yang berkembang dapat menunjukkan bahwa kekuatan besar dihasilkan selama pengunyahan.
Pemeriksaan Ekstraoral
o Bentuk wajah → Untuk menentukan bentuk wajah, operator membayangkan dua garis, satu di setiap kedua sisi wajah, sekitar 2,5 cm di depan tragus dan melewati sudut rahang.
- Jika garis-garis ini hampir sejajar jenisnya persegi (square), - Jika menyatu ke arah dagu jenisnya meruncing (square-
tapering) dan
- Jika menyimpang di dagu, berbentuk bulat (ovoid)
o Profil wajah → Profil pasien memberikan indikasi hubungan rahang atas dan bawah. Untuk menentukan profil wajah, amati kelurusan atau kelengkungan relatif dari profil tersebut. Periksa tiga titik: dahi, pangkal hidung, dan ujung dagu.
- Jika ketiga titik ini sejajar, maka profilnya lurus.
- Jika titik dahi dan dagu resesif, profilnya melengkung,
o Bibir → Bibir yang tebal memberikan tampilan penyangga yang memadai saat tidak ada gigi. Bibir yang terlalu pendek atau panjang menimbulkan masalah pada susunan gigi anterior. Bibir yang panjang menyulitkan untuk menunjukkan struktur gigi yang cukup; bibir pendek memberi kesan terlalu banyak struktur gigi. Pemilihan cetakan dan karakterisasi gigitiruan dapat menjadi faktor penting dalam kasus ini.
o Neuromuscular coordination → Hal ini dapat dilihat dari bagaimana seorang pasien berjalan, bergerak dan menangani dirinya sendiri.
Pasien dengan koordinasi neuromuskuler yang baik dapat diharapkan untuk belajar beradaptasi dengan gigi tiruan dengan relatif cepat.
o Muscle tone → Flaksiditas otot wajah yang berlebihan dapat mempengaruhi estetika dan kemampuan pasien untuk mengontrol gigi tiruan. Ini juga sangat meningkatkan kemungkinan overekstensi basis gigi tiruan.
- Baik → Menunjukkan ketegangan, nada, dan penempatan otot- otot pengunyahan dan ekspresi wajah yang normal.
- fair → Kasus di mana tonus otot, indra peraba, gerakan terkoordinasi, dan fungsi otot dipertahankan pada tingkat yang tinggi dengan memakai gigi palsu tiruan.
- Poor → Kasus gangguan tonus dan fungsi otot akibat hilangnya gigi asli atau penggunaan gigi palsu yang tidak efisien. Overclosure sering menghasilkan kerutan dan sudut mulut jatuh, tonjolan mandibula, dan hilangnya kekuatan otot o TMJ → Aktivitas sendi temporomandibular harus diamati dan setiap
gerak asimetri selama gerakan membuka dan gerakan lateral rahang harus dicatat. Letakkan jari di atas setiap sendi dan minta pasien perlahan membuka dan menutup mulutnya. Sendi temporomandibular dievaluasi untuk kenyamanan atau ketidaknyamanan, kliking, dan krepitasi.
o Kelenjar Limfa → Setiap pembengkakan pada kelenjar limfa di sekitar wajah dan leher harus dicatat karena berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien.
Pemeriksaan intraoral
o Ukuran rahang → Stabilitas gigi tiruan dapat terpengaruh jika ada perbedaan besar antara ukuran lengkung maksila dan mandibula.
Masalah terbesar terjadi jika lengkung rahang atas jauh lebih besar daripada rahang bawah.
o Bentuk rahang → Gigi tiruan harus ditempatkan mengikuti kontur residual ridge yang ada saat gigi asli ada. Bentuk lengkung juga penting dalam mengimbangi gerakan rotasi basis gigi tiruan
- Class I (square) → Bentuk lengkungan persegi adalah bentuk terbaik untuk mencegah gerakan rotasi.
- Class II (tapering) → Bentuk lengkungan yang meruncing memberikan ketahanan terhadap gerakan tetapi pada tingkat yang lebih rendah daripada lengkungan persegi.
- Class II (ovoid) → Bentuk lengkungan ovoid, karena bentuknya yang bulat, memberikan sedikit atau tidak ada perlawanan terhadap gerakan rotasi.
o Kontur residual ridge
- Normal ridge → Ini menguntungkan untuk prognosis gigi tiruan lengkap karena puncak ridge datar yang luas memberikan dukungan vertikal yang sangat baik. Sisi bukal yang sejajar satu sama lain memberikan retensi dan stabilitas dan menahan gaya perpindahan lateral pada gigi tiruan.
- Flat ridge → tulang alveolar hampir atau seluruhnya diresorpsi. Akan ada sedikit atau tidak ada resistensi terhadap pergeseran lateral gigi tiruan. Foramen mentale dengan saraf dan pembuluh yang terkait kadang-kadang ditemukan di puncak residual ridge.
- Knife-edge → V-shape atau knife-edge ridge memiliki puncak ridge yang sempit dan tajam yang dapat memberikan sedikit atau tidak sama sekali untuk dukungan gigi tiruan vertikal dan tidak mempertahankan segel pada tepi gigi tiruan karena ketidakstabilan basis gigi tiruan. Pasien dengan tipe ridge ini sering mengeluhkan nyeri selama pengunyahan dan clenching karena tekanan pada gigi tiruan menekan jaringan lunak.
- Irregular ridge/ bulbous ridge → ridges dengan tonjolan yang ditutupi oleh mukosa tipis memerlukan intervensi bedah.
Undercut tulang akan mengganggu penempatan dan pelepasan prostesis. Situasi ini tidak menguntungkan untuk retensi karena segel pada tepi gigi tiruan hilang ketika merelief tepi gigi tiruan untuk memasukkan gigi tiruan.
o Undercut → Undercut pada alveolar ridge dapat menyebabkan masalah retensi gigi tiruan pada saat penempatan.
- Tidak ada undercut
- Undercut kecil → Pada undercut kecil di mana gigi tiruan dapat ditempatkan dengan mengubah arah pasang.
- Undercut besar → Pembuangan undercut ini dengan grinding dari permukaan jaringan gigi tiruan dapat menyebabkan hilangnya retensi dan masalah akumulasi makanan. Undercut anterior rahang atas sangat umum dan tidak menimbulkan
masalah khusus kecuali disertai dengan undercut posterior bilateral yang besar.
o Kondisi Mukosa
- Mukosa Normal → Pada kondisi normal, residual alveolar ridge ditutupi oleh jaringan yang strukturnya identik dengan attached gingiva normal. Ini adalah lapisan jaringan ikat padat yang tidak elastis dan padat, melekat erat pada periosteum - Iritasi → Kemerahan merupakan indikasi peradangan dan dapat
dalam berbagai tingkat. Hal ini dapat berhubungan dengan gigi tiruan yang tidak pas, infeksi yang mendasarinya, penyakit sistemik seperti diabetes, atau merokok kronis. Penting untuk menentukan penyebab dan menghilangkan iritan karena pembuatan impresi yang berhasil tidak mungkin dilakukan sampai peradangan terkendali.
- Patologik
o Ketebalan mukosa → Pemeriksaan visual dan digital dari jaringan lunak yang menutupi dasar gigi tiruan dapat menunjukkan variasi dalam kekebalan dan ketahanan.
- Normal → Densitas membran yang seragam kira-kira 1 mm di atas puncak ridge membentuk bantalan yang ideal untuk dudukan basis gigi tiruan.
- Tipis → Jaringan di atas ridge tipis dan keras menawarkan sedikit perlindungan dan bantalan untuk tulang di bawahnya dari kekuatan oklusi. Prognosis kasus ini buruk.
- Tebal → Sisa alveolar ridge ditutupi dengan jaringan hiperplastik yang sangat mudah digerakkan. Dalam hal ini prognosisnya buruk. Rencana perawatan harus mencakup pertimbangan intervensi bedah.
o Perlekatan tipe jaringan (perlekatan otot dan frenulum)
- Normal (rendah) → Garis perlekatan jaringan terletak jauh di bawah puncak ridge yang memungkinkan flanges yang diperpanjang dengan baik untuk mendukung gigi tiruan terhadap gaya horizontal tanpa melepaskan gigi tiruan.
- Dekat ridge (tinggi) → Garis perlekatan jaringan terletak dekat dengan puncak ridge, mengurangi jumlah dukungan untuk basis gigi tiruan dan meningkatkan jumlah dislodgement dari gigi tiruan.
o Vestibulum → Vestibulum merupakan ruangan yang terdapat antara mukosalabial/bukal prosesus alveolaris dengan pipi/bibir. Pemeriksaan Kedalaman vestibulum dapat dilakukan dengan menggunakan kaca mulut nomor 3. Pemeriksaan dilakukan pada rahang atas dan bawah dengan tiap rahangnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu posterior kanan, posterior kiri, dan anterior. Pengukuran kedalaman vestibulum pada area yang sudah tidak ada giginya dapat dilakukan dari puncak prosesus alveolaris hingga dasar vestibulum.
o Tuberositas maksila → Tuberositas maksila biasanya merupakan perpanjangan bulbous dari residual alveolar ridge pada regio molar kedua dan ketiga. Tuberosity yang besar memungkinkan rata-rata areal yang luas dan memberikan permukaan bantalan yang halus. Ketika ada undercut yang berlawanan, satu di permukaan lateral setiap tuberositas, salah satu undercut harus diangkat dengan operasi. Undercut tuberositas unilateral, jika besar, seringkali harus dikurangi.
o Bentuk palatum keras → Dukungan dan retensi vertikal untuk gigi tiruan rahang atas sebagian ditentukan oleh bentuk langit-langit keras - Class 1 (Flat palatal vault) → Langit-langit keras yang datar biasanya
disertai palatum rendah dan paling tidak disukai. Hal ini sering dikaitkan dengan resorpsi yang parah dari residual ridges. Meskipun stabilitas vertikal dapat diterima, stabilitas horizontal buruk dan retensi terganggu.
- Class II ( U-shaped palatal vault) → Bentuk langit-langit berbentuk U umumnya memberikan dukungan dan retensi gigi tiruan yang memadai dan biasanya disertai dengan langit-langit lunak Kelas I - Class III (V-shaped palatal vault) → Langit-langit berbentuk V
menawarkan sedikit dukungan gigi tiruan vertikal. Kedalaman "V"
juga membuat tingkat retensi yang diinginkan sulit dicapai. Langit-
langit berbentuk V biasanya disertai dengan langit-langit lunak Kelas II dan III.
o Bentuk palatal throat → Lebar area antara batas distal palatum keras dan batas anterior jaringan bergerak pada palatum lunak. Klasifikasi palatum lunak didasarkan pada lebar area posterior palatal seal dan derajat pergerakan vertikal palatum lunak. Secara umum, gerakan yang paling sedikit memberikan posterior palatal seal terluas. posterior palatal seal yang lebar paling disukai karena segel yang substansial dapat ditempatkan.
- Class I (normal) → Bentuknya besar dan normal. Palatum lunak memanjang lurus ke belakang memungkinkan lebih dari 5 mm.
Jaringan lunak berada di antara palatum keras (distal ke garis yang ditarik melintasi tepi distal tuberositas) dan AH line posterior.
- Class II → Ukuran sedang dan bentuk normal. Langit-langit lunak menggantung ke bawah sedikit memungkinkan 3 sampai 5 mm.
Jaringan lunak berada di antara palatum keras (distal ke garis yang ditarik melintasi tepi distal tuberositas) dan AH line posterior
- Class III → jaringan lunak tiba-tiba turun 3 sampai 5 mm.Tidak ada jaringan lunak diantara palatum keras dan AH line posterior. Batas posterior gigi tiruan dalam hal ini dilakukan di luar AH line posterior.
o Sensitivitas dari palatum (gag reflex) → Pasien dengan palatum yang sensitif dapat bereaksi terhadap prosedur pembuatan gigi tiruan atau pemakaian gigi palsu yang sebenarnya dengan tersedak. Refleks tersedak dapat dinilai dengan menyentuh langit-langit dengan cermin mulut.
- Class I → tidak ada respon pada palpasi
- Class II → Respon minimal terhadap palpasi menunjukkan pasien sensitif.
- Class III → Pasien dengan langit-langit yang hipersensitif akan membuat respons yang keras terhadap palpasi.
o Torus palatina dan mandibularis → Torus palatinus adalah tonjolan tulang yang ditemukan di sepanjang sutura palatal median. Ini jarang menjadi masalah, kecuali jika meluas ke persimpangan palatum keras
dan lunak. Dalam hal ini, intervensi bedah harus dipertimbangkan.
Torus mandibularis adalah tonjolan tulang yang biasanya terletak di sisi lingual mandibula di regio premolar.
- Class I → tidak ada
- Class II (kecil) → Torus ada tetapi tidak cukup besar untuk mengganggu konstruksi dan penggunaan gigi tiruan.
- Class III (besar) → Torus ada dan besar sehingga dibutuhkan intervensi bedah.
o Dasar mulut → Jika dasar mulut dekat dengan ridge crest saat istirahat, maka retensi dan stabilitas gigi tiruan mandibula akan buruk. Dasar mulut di kelenjar sublingual dan daerah mylohyoid bisa sangat tinggi dan dekat dengan puncak ridge dan kadang-kadang dapat menutupi ridge dan menghilangkan sulkus alveololingual sama sekali. Jika jaringan dasar mulut ini tidak dapat ditempatkan secara selektif oleh sayap lingual gigi tiruan, prognosis gigi tiruan rahang bawah sangat buruk.
o Lateral throat form (retromylohyoid space) → Bentuk lateral throat adalah bagian mulut yang berkontak dengan ekstensi distolingual dari gigi tiruan mandibula. Ini dibentuk oleh otot styloglossus dan palatoglossus saat mereka melewati dinding lateral tenggorokan ke sisi lidah di daerah pengecap.
- Class I → retromylohyoid membentuk sudut 90 derajat ke bantalan retromolar dengan hanya sedikit gerakan anterior yang menyertai penonjolan lidah, dan sekitar 0,5 inci ruang ada di antara ridge mylohyoid dan dasar mulut. Ini menguntungkan untuk gigi tiruan rahang bawah.
- Class II → retromylohyoid membentuk sudut sekitar 60 derajat ke bantalan retromolar mengikuti posisi lidah protrusif. Terdapat ruang kurang dari 0,5 inci antara ridge mylohyoid dan dasar mulut. Semakin sedikit ruang di sini, semakin tidak menguntungkan prognosis untuk gigi Class I (normal) →Lidah dalam posisi yang benar. Ujungnya direlaksasi dimana ujungnya berada di area permukaan lingual gigi
anterior bawah. Batas lateral lidah berkontak dengan permukaan lingual gigi posterior dan basis gigi tiruan.
- Class III → Retromylohyoid membentuk sudut kira-kira 45 derajat karena gerakan jaringan yang sangat maju. Lipatan mylohyoid berada pada tingkat yang sama dengan punggungan mylohyoid. Retensi gigi tiruan mandibula sulit dilakukan.
o Posisi lidah → Segel lingual untuk gigi tiruan mandibula dikembangkan oleh lidah. Jika lidah tidak mempertahankan posisi yang benar, segel tidak dapat dikembangkan.
- Class I (normal) →Lidah dalam posisi yang benar. Ujungnya direlaksasi dimana ujungnya berada di area permukaan lingual gigi anterior bawah. Batas lateral lidah berkontak dengan permukaan lingual gigi posterior dan basis gigi tiruan.
- Class II (subnormal) → Batas lateral lidah berada pada posisi yang benar, tetapi ujung lidah menghadap ke atas atau ke bawah.
- Class III (abnormal) → Lidah dalam posisi ditarik. Ujungnya tidak menyentuh gigi tiruan bawah atau ridge. Sebagian besar dasar mulut terbuka.
o Ukuran Lidah
- Class I → Lidah memiliki ukuran yang cukup untuk mengisi tetapi tidak memenuhi dasar mulut. Karena alveolar ridge terbuka, akan ada cukup ruang untuk gigi tiruan.
- Class II → Lidah sedikit memenuhi dasar mulut.
- Class III → Lidah sepenuhnya mengisi dasar mulut dan menutupi alveolar ridges. Lidah yang terlalu besar terjadi ketika semua gigi tidak ada untuk waktu yang lama, memungkinkan perkembangan ukuran lidah yang tidak normal. Pembuatan kesan sulit dilakukan dengan jenis lidah ini. Stabilitas gigi tiruan juga sulit dicapai, jika lidah sangat besar sehingga setiap gerakan cenderung menggerakkan gigi tiruan.
o Hubungan residual ridge
- Normal → Puncak ridge atas berada tepat di atas puncak ridge bawah.
Susunan gigi akan konvensional.
- Prognatik → Rahang bawah lebih besar dari rahang atas dan terletak di luar puncak ridge atas.
- Retrognatik → Rahang bawah lebih kecil dari rahang atas. Relasi ridge gigitan silang mungkin normal di regio posterior dan prognatik di bagian anterior atau sebaliknya.
o Parallelism residual ridge
- Pararel → Ridge atas dan bawah sejajar satu sama lain saat pasien dalam posisi istirahat. Ini memberikan hubungan mekanis terbaik untuk konstruksi gigi tiruan.
- Divergen → Rahang atas dan bawah menyimpang ke depan dengan jarak interridge yang lebih besar di anterior daripada di posterior yang menimbulkan masalah pergeseran basis ke depan saat pasien menutup oklusi.
o Interarch space (interridge distance) → Jarak vertikal antara puncak punggungan pada dimensi vertikal yang benar
- Menguntungkan → Pasien memiliki ruang antar lengkung yang cukup untuk menampung gigi tiruan.
- Terbatas → Ketika pasien memiliki ruang interarch yang terbatas, penempatan gigi tiruan bisa menjadi prosedur yang sulit. Ruang yang terlalu kecil menimbulkan masalah dalam cakupan gigitiruan, selain itu akan sulit untuk memenuhi tujuan estetika dalam kasus ini.
- Berlebihan → Gigi tiruan biasanya kurang stabil dan mungkin memerlukan pengurangan dimensi vertikal untuk mengurangi gaya kemiringan yang ditransmisikan ke basis gigi tiruan.
o Saliva → Saliva diperlukan untuk pembentukan retensi pada gigi tiruan lengkap.
- Class I → Jumlah dan konsistensi normal Sifat kohesif dan perekat saliva ideal.
- Class II (berlebihan) → Air liur yang berlebihan mempersulit prosedur pencetakan dan mengurangi retensi gigi tiruan. terutama dengan prostesis baru. Air liur yang berlebihan mungkin dalam
bentuk jumlah air liur encer yang berlebihan dan jumlah air liur kental yang berlebihan.
- Class III (Kurang) → Mengurangi kualitas retensi gigi tiruan dan dapat menyebabkan rasa sakit yang berlebihan.
Penilaian gigi tiruan yang lama → Pertanyaan diarahkan untuk memperoleh informasi mengenai lamanya gigi palsu telah dipakai; berapa set yang telah dibuat sejak gigi dicabut; keberhasilan gigi palsu lama yang ada dan sikap pasien terhadap penampilannya. Semua informasi ini penting karena jika gigi tiruan yang ada telah memuaskan dan hanya berlalunya waktu yang membuatnya tidak pas, setiap perubahan besar pada gigi tiruan baru dapat berarti kegagalannya. Seseorang yang telah memakai gigi palsu yang nyaman dan efisien telah mengembangkan kontrol penuh terhadapnya maka buat gigi tiruan baru sama seperti yang lama.
Radiografi → Radiogram adalah alat bantu yang berharga untuk memeriksa struktur tulang yang mendukung prostesis. Mereka akan mengungkapkan gigi yang tertanam, akar yang tertahan, sisa kista dan penyakit lainnya.
Mereka dapat menunjukkan ketebalan relatif dari submukosa yang menutupi alveolar ridge yang tersisa, lokasi kanal mandibula dan foramen mental dalam kaitannya dengan dudukan basal gigi tiruan. Radiogram juga dapat memberikan indikasi kualitas tulang yang menopang gigi tiruan; semakin padat (radiopaque) tampaknya, semakin baik fondasi tulangnya dan semakin kecil kemungkinan terjadinya perubahan cepat pada dudukan basal saat gigi tiruan dipakai.
1) Hassaballa MA. Clinical complete denture prosthodontics. 2nd Ed. Saudi Arabia: Academic Publishing & Press - King Saud University. 2010; 46-66.
2.2Sebutkan diagnosis dari beberapa kondisi intra oral pasien tersebut
Puncak linggir posterior RB pasien tajam.
Setelah kehilangan gigi pada lengkung rahang linggir alveolaris akan mengalami penurunan dan perubahan bentuk yang disebut dengan resopsi.
Beberapa kondisi intra oral yang didapat dari pasien dapat menyimpulkan bahwa telah terjadi Resopsi pada linggir alveolar rahang bawah pasien.
Resopsi yang berlebihan dapat menyebabkan foramen mentale menjadi lebih dekat dengan puncak linggir alveolar. Puncak linggir alveolar menjadi semakin sempit seperti mata pisau atau berbentuk V atau yang dikenal dengan bentuk knife edge
Selain itu resopsi pada tulang akan menyebabkan jumlah perlekatan mukoperiosteum pada tulang akan << sehingga vestibulum bukalis akan menjadi dangkal vestibulum bukalis rahang bawah dangkal atau berkurang
Mukosa linggir anterior rahang atas menebal dan bergerak apabila ditekan Pada kasus ini, pasien dapat didiagnosis mengalami kondisi yang disebut dengan flabby ridge, yaitu lingir yang mengalami hiperplasi pada jaringan fibrosanya yang merupakan respon dari resorbsi tulang alveolar, dapat terjadi pada penderita yang lama tidak memakai gigi tiruan atau dapat juga terjadi pada penderita yang menggunakan gigi tiruan yang tidak pas.
Salah satu tanda dari flabby ridge adalah adanya mukosa yang sangat mudah bergerak dan kehilangan perlekatan dengan periosteum yang menutupi tulang.
Makin tebal jaringan hiperplastik yang terbentuk, makin besar pula derajat flabby mukosa seperti pada kasus dikatakan bahwa gigi tiruan pasien sudah longgar
Mukosa RB yang tipis dan kemerahan.
Pertambahan usia menyebabkan sel epitel pada mukosa mulut mengalami penipisan, berkurangnya keratinisasi, berkurangnya kapiler dan suplai darah, penebalan serabut kolagen pada lamina propia. Akibatnya secara klinis mukosa mulut memperlihatkan kondisi yang menjadi lebih pucat, tipis kering, dengan proses penyembuhan yang melambat. Hal ini menyebabkan mukosa mulut lebih mudah mengalami iritasi terhadap tekanan ataupun gesekan, yang diperparah dengan berkurangnya aliran saliva (Silverman 1965).Peradangan pada jaringan pendukung GT ini disebut dengan Denture stomatitis
1) Rizki T, Nasution ID. Hubungan antara bentuk dengan ukuran linggir alveolar pada model studi pasien edentulus penuh. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran 2020; 32 (1): 16-25
2) Puspitadewi SR. Perawatan Prosthodontik pada kondisi ridge yang kurang menguntungkan. Jurnal B-dent 2015; 2(2): 133-42.
3) krisma W, Mozartha M, Purba R. Level of Denture Cleanliness Influences the Presence of Denture Stomatitis on Maxillary Denture Bearing-Mucosa . Journal of dentistry Indonesia 2014; 21 (20: 44-8.
2.3Jelaskan dampak dari beberapa kondisi tersebut terhadap gigi tiruan!
Edentulus lengkap rahang atas dan rahang bawah dengan perlekatan frenulum tinggi
Perlekatan frenulum tinggi akan menghalangi proses pembersihan gigi, mengganggu pemakaian protesa gigi akan mengganggu retensi dan stabilitas dari GT longgar, selain itu frenulum tinggi juga akan mempengaruhi estetik menjadi berkurang
Vestibulum bukalis rahang bawah dangkal
Resorbsi tulang rahang bawah akan menyebabkan lingir menjadi datar karena ikatan-ikatan otot berada pada puncak lingir. Kondisi-kondisi tersebut di atas sangat berpengaruh terhadap gigi tiruan lengkap rahang bawah dimana dengan berkurangnya vestibulum bukal dan lingual, operator sulit membedakan batas- batas anatomis dan fungsional dari rongga mulut.
Bagian puncak linggir posterior RB tajam
Berdasarkan dari hasil penelitian bentuk dan ukuran linggir alveolaris akan mempengaruhi stabilitas dan retensi dari gigi tiruan. Pada kasus pasien pada RB memiliki linggir yang berbetuk seperti pisau/ tajam/V. Linggir yang berbentuk seperti ini memiliki stabilisasi dan retensi yang kurang baik karena puncaknya yang tajam seperti mata pisau menimbulkan rasa sakit karena mukoperiosteum sekitar linggir terasa terjepit.
Mukosa RB yang tipis dan kemerahan.
Pengaruh mukosa mulut yang pucat dan tipis terhadap pemakaian gigi tiruan lengkap dapat menyebabkan mukosa mulut lebih mudah mengalami iritasi
terhadap gesekan atau trauma yang ditimbulkan oleh gigi tiruan lengkap dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Kondisi ini juga diperparah dengan berkurangnya aliran saliva di rongga mulut
Mukosa linggir anterior rahang atas menebal dan bergerak apabila ditekan flabby ridge
Mukosa yang mudah bergerak/flabby selama pencetakan cenderung kembali ke bentuk aslinya, dan GTP yang dibuat dengan cetakan ini tidak akan akurat, pada saat jaringan kembali ke bentuk aslinya. Sehingga akan menyebabkan hilangnya retensi, ketidaknyamaanan stabilitas, dan ketidakharmonisan oklusi GT.
1) Rizki T, Nasution ID. Hubungan antara bentuk dengan ukuran linggir alveolar pada model studi pasien edentulus penuh. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran 2020; 32 (1): 16-25
2) Puspitadewi SR. Perawatan Prosthodontik pada kondisi ridge yang kurang menguntungkan. Jurnal B-dent 2015; 2(2): 133-42.
3) Hickey JC, Zarb GA, Bolender CC. Boucher prosthodontic traetment for edentulous patient. 9 th Ed. Philadelphia: The C.V Mosby Company; 1985:
40-41.
2.4Jelaskan prosedur persiapan jaringan pendukung gigi tiruan (preprostetik) secara non bedah pada kasus tersebut!
Gigi palsu dapat memberi kekuatan berlebihan pada jaringan pendukung karena adaptasi yang buruk atau keselahan oklusal. Beban ini dapat bersifat terlokalisir atau merata dan dapat menyebabkan percepatan resorpsi tulang, peradangan, dan hyperplasia. Kondisi jaringan lunak harus dirawat sebelum pembuatan gigi tiruan dan seringkali dapat diperbaiki secara signifikan dengan prosedur non-bedah.1
Managing traumatized tissue1
Jaringan yang teriritasi harus dirawat sebelum pembuatan cetakan karena kontur jaringan dapat berubah sesuai dengan penyembuhan jaringan.
Mengistirahatkan jaringan pendukung gigi tiruan dapat dicapai dengan cara melepaskan gigi tiruan dari mulut untuk waktu yang lebih lama atau
menggunakan soft liner sementara di dalam gigi tiruan lama. Kedua prosedur ini memungkinkan jaringan deformasi dari linggir kembali ke bentuk normal.
Pada kasus, pasien harus dirawat karena terdapat gejala peradangan dan iritasi pada jaringan lunak akibat gigi tiruan yang tidak adekuat. Pasien disarankan untuk berhenti memakai gigi tiruan sampai proses penyembuhan jaringan selesai (dicapai dalam 48-72 jam). Selain itu, dapat dilakukan tissue treatment or conditioning material, yaitu pemberian bahan pelapis sementara yang terdiri dari bubuk polimer dan campuran etanol ester aromatic, diamana keduanya memiliki sifat elastic dan plastic. Bahan ini akan memberikan tahap bantalan sementara dan memungkinkan jaringan untuk pulih ke bentuk asli tanpa tekanan.
Teradapat pula program home care yang meliputi kumur saline tiga kali sehari, memijat jaringan lunak (jari atau sikat gigi dapat dimanfatkann untuk me-masase denture bearing mucosa, terutama pada area yang tampak bengkak dan membesar), konsumsi tablet multivitamin bersama dengan protein tinggi, serta menerapkan diet rendah karbohidrat.
Occlucal correction of the old prosthesis1
Penggunana liner sementara sangat penting dalam restorasi dan penentuan VDO yang optimal untuk gigi tiruan yang saat ini dipakai oleh pasien. Bahan ini memungkinkan beberapa gerakan basis gigi tiruan, sehingga posisinya cenderung menjadi kompatibel dengan oklusi yang ada, diluar fungsinya untuk memulihkan jaringan ke bantuk aslinya. Akibatnya hubungan ridge meningkat dan perbaikan ini memfasilitasi penyesuaian oklusal awal, sehingga meningkatkan penentuan relasi rahang yang akan dilakukan dokter gigi. Meskipun demikian, penggunaannya harus disertai dengan penilaian oklusi, koreksi permukaan oklusal gigi (grinding atau penambahan materi gigi), dan koreksi cakupan jaringan oleh basisi gigi tiruan yang lama. Koresi ini dapat dicapai dengan menggunakan resin boreder-molding dikombinasikan dengan tissue conditioner.
1) Wurangian I. Penggunaan pelapis lunak untuk mengurangi rasa sakit pada alveolar ridge yang tajam. J WIDYA Kesehatan dan Lingkungan 2013;
1(1): 19-20.
2.5Jelaskan prosedur persiapan jaringan pendukung gigi tiruan (preprostetik) secara bedah untuk rahang atas dan rahang bawah pada kasus tersebut!
Pada kasus diatas, disebutkan bahwa pemeriksaan intraoral pasien menunjukkan adanya edentulus lengkap rahang atas dan rahang bawah dengan perlekatan frenulum tinggi, vestibulum bukalis rahang bawah dangkal, bagian puncak linggir posterior RB tajam dengan mukosa yang tipis dan kemerahan. Oleh karena itu, sebelum dipasangkan gigi tiruan lengkap maka haruslah dilakukan bedah preprostetik terlebih dahulu agar gigi tiruan yang nantinya dipakaikan ke pasien menghasilkan retensi yang baik. Adapun prosedur persiapan jaringan pendukung gigi tiruan (preprostetik) secara bedah untuk rahang atas dan rahang bawah pada kasus adalah:
Frenektomi1
Pada kasus dikatakan bahwa pasien memiliki perlekatan frenulum yang tinggi.
Pelebaran perlekatan serabut otot yang terlalu dekat ke gingival margin dapat menyebabkan resesi marginal gingiva,dan mengganggu pembersihan plak. Saat bibir dibuka, frenulum yang tinggi akan teregang dan menarik sulkus sehingga memperparah resesi gingiva yang sudah ada. Frenulum yang tinggi menyebabkan penderita kesulitan penempatan sikat gigi saat menyikat, sehingga menganggu eliminasi plak.
Kondisi perlekatan yang tinggi ini juga dapat menyebabkan terjadinya diastema sentral yang mengganggu estetika. Frenulum yang abnormal dapat diketahui secara visual dengan memberikan tegangan pada frenulum dengan cara menarik bibir dan melihat adanya pergerakan ujung papilla interdental dan iskemia (blanch) pada frenulum.
Perawatan frenulum yang tinggi dapat dilakukan dengan frenektomi atau frenotomi. Frenektomi adalah tindakan pembuangan seluruh jaringan frenulum, termasuk perlekatannya dengan tulang.. Frenektomi dapat dilakukandengan menggunakan alat konvensional seperti scalpel atau alat canggih, misal elektrosurgery atau laser.
Vestibuloplasty2
Pada kasus dikatakan bahwa pasien memiliki vestibulum bukalis rahang bawah dangkal
Vestibulum dangkal dan ikatan otot yang melekat pada puncak ridge akan menyebabkan kegagalan prostesis. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan suatu tindakan pendalaman vestibulum yang dapat dilakukan dengan berbagai teknik operasi bedah periodontal untuk meningkatkan retensi dan stabilisasi dari gigi tiruan tersebut.
Tindakan pendalaman vestibulum dapat dilakukan dengan vestibuloplasty.
Vestibuloplasty adalah pengurangan ukuran linggir alveolar disertai dengan penambahan yang jelas dari perlekatan otot pada puncak linggir. Vestibulum bukal rahang bawah yang dangkal dapat mengurangi area bantalan gigi turun yang tersedia dan merusak stabilitas gigi tiruan. Pendalaman vestibulum atau vestibuloplasti adalah suatu tindakan bedah mukogingiva yang di desain untuk menambah jumlah attached gingiva atau gingiva cekat dan menambah ketinggian sulkus vestibular dengan cara melakukan reposisi mukosa, ikatan otot yang melekat pada tulang yang dapat dilakukan baik pada maksila maupun pada mandibula untuk menghasilkan sulkus vestibular yang dalam.
Alveolektomi3
Pada kasus dikatakan bahwa pasien memiliki puncak linggir posterior RB tajam
Linggir yang berbentuk V memiliki stabilisasi yang kurang baik, karena puncaknya yang tajam seperti mata pisau menimbulkan rasa sakit karena mukoperiosteum sekitar linggir terasa terjepit. Ukuran linggir alveolar memengaruhi retensi, karena semakin luas jaringan pendukung maka semakin baik retensi yang diperoleh. Puncak linggir yang tajam dapat diatasi dengan alveolektomi. Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus alveolaris yang menonjol baik sebagian maupun seluruhnya.
Alveolektomi juga berarti pemotongan sebagian atau seluruh prosesus alveolaris yang menonjol atau prosesus alveolaris yang tajam pada maksila atau mandibula, pengambilan torus palatinus maupun torus mandibularis yang besar.
Alveolektomi bertujuan untuk mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigitiruan. Tindakan ini meliputi pembuangan undercut atau cortical plate yang tajam, mengurangi ketidakteraturan puncak ridge atau elongasi, dan menghilangkan eksostosis.
Alveolektomi dilakukan segera setelah pencabutan gigi atau sekunder.
1) Anitasari W, Krismariono A. Frenektomi dengan Teknik V-PLASTY. The 2nd periodontic Seminar (PERIOS 2) How to Deal with Periodontal Disease Patient. 2015; 1: 104-6.
2) Budijono S C, Supandi S K. Management of Shallow Vestibule for Periodontal Preprosthetic: A Case Report. The 4 39 th Periodontics Seminar (PERIOS IV). 2017; 2: 39-42.
3) Shabrina F N, Hartomo B T. Laporan Kasus: Ekstraksi Gigi dengan Perubahan Matriks Tulang sebagai Persiapan Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap. Stomatognatic (J.K.G Unej). 2021; 18 (1): 11-14.
2.6Jelaskan rencana perawatan (jenis gigi tiruan) apa saja yang dapat dibuat untuk kasus tersebut!
Adapun rencana perawatan pasien yang hendak dibuatkan gigi tiruan lepasan, yaitu:
Adjunctive care1
- Elimination of infection sumber infeksi seperti ulkus, infeksi kandidiasis, dan denture stomatitis harus diobati dan disembuhkan sebelum dimulainya pengobatan.
- Elimination of pathoses kondisi patologis seperti kista atau tumor harus diobati dan dihilangkan sebelum perawatan dimulai. Pasien diedukasi mengenai bahaya kondisi tersebut dan kebutuhan untuk menghilangkannya. Beberapa patologi mungkin melibatkan seluruh tulang dan memungkin penempatan obturator pada gigi tiruan.
- Surgical improvement of denture support and space proses bedah preprostetik diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan gigi tiruan. Pada kasus, pasien dapat dilakukan intervensi bedah untuk mengoreksi jaringan flabby, kondisi linggir yang tajam, perlekatan frenulum yang tinggi, dan daerah vestibulum yang dalam. Jika kesehatan pasien atau pilihan pribadi menghalangi intervensi bedah, teknik pencetakan dan desain gigi tiruan harus dimodifikasi untuk mengakomodasi jaringan dan meminimalkan distorsi.
- Tissue conditioning pasien diminta untuk berhenti memakai gigi tiruan lama setidaknya 72 jam sebelum memulai pengobatan. Pasien diedukasi untuk memihat mukosa mulut secara teratur. Prosedur khusus harus dilakukan pada pasien yang memiliki reaksi jaringn yang merugikan terhadap gigi tiruan. Bahan
pelapis diapkasikan di sisi jaringan gigi tiruan untuk mengghindari iritasi gigi tiruan.
- Nutritional counseling konseling gizi merupakan langkah penting dalam rencana gigi tiruan lengkap. Pasien yang menunjukkan kekurangan mineral dan vitamin tertentu harus diberi saran yang tepat diet seimbang. Pasien dengan defisiensi vitamin B2 akan menunjukkan angular cheilitis. Vitamin profilaksis merupakan terapi yang dapat diberikan untuk pasien xerostomia. Konseling nutrisi juga dilakukan untuk pasien yang menunjukkan perubahan terkait usia seperti osteoporosis.
Prosthodontic care
Jenis prostesis, bahan dasar gigi tiruan, anatomi palatum, bahan gigi dan warna gigi harus diputuskan sebagai bagian dari perencanaan perawatan.
Pembuatan protesis pasien dilakukan bergantung pada diagnosis pasien.
Contohnya, pada pasien yang sudah tidak bergigi, gigi tiruan dengan dukungan jaringan lunak atau implant dapat diberikan.1 Dikaitkan dengan kasus, pasien tersebut dapat dikategorikan sebagai pasien yang sudah edentulous. Perawatan prostodontik pasien yang akan edentulous pada kasus menggunakan Gigi Tiruan Penuh (GTP) atau complete denture berupa conventional full denture dikarenakan pada kasus gigi sudah hilang seluruhnya. Pada bagian perawatan prostodontik ini ada beberapa prosedur yang dilakukan, yakni:2
- Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan lengkap serta memberikan informasi kepada pasien mengenai lamanya waktu kunjungan serta bahan yang digunakan. Pasien dicetak untuk pembuatan model studi dan model kerja dengan menggunakan bahan alginat. Setelah mendapatkan hasil cetakan model kerja dibuatkan sendok cetak individual.
- Kunjungan kedua dilakukan pencetakan kembali menggunakan sendok cetak individual. Pada pencetakan ini perlu diperhatikan teknik pencetakan pada pasien karena kondisi jaringan flabby yang dimiliki oleh pasien.
- Kunjungan ketiga dilakukan try-in base plate heat cure untuk rahang atas dan rahang bawah dengan memperhatikan retensi dan stabilisasi kemudian dilakukan pembuatan bite rim.
- Kunjungan berikutnya dilakukan pencatatan Maxillo-mandibular relationship (MMR) dengan cara mula-mula pasien dipersilahkan duduk di dental chair,
dataran oklusal diusahakan sejajar dengan lantai kemudian tentukan garis chamfer dari ketiga titik (4mm dari meatus acusticus externus, telinga kanan dan kiri, spina nasalis anterior). Kemudian ketiga titik tersebut ditandai dengan benang dan diisolasi. Bite rim rahang atas dibuat sejajar dengan garis chamfer (garis yang berjalan dari ala nasi sampai titik tertinggi dari porus acusticus externa) untuk bagian posterior dan sejajar garis pupil untuk bagian anterior.
Alat yang digunakan adalah occlusal guide plane.
- Kemudian dicari dimensi vertikal pada posisi istirahat (VDR) dengan cara mengukur jarak pupil dengan sudut mulut sama dengan jarak hidung sampai dagu (PM=HD) pada keadaan rest position. Selanjutnya dilakukan pengurangan 2 mm pada bite rim rahang bawah dengan maksud sebagai freeway space sehingga didapatkan vertikal dimensi oklusi (VDO).
- Setelah didapatkan VDO, dilakukan fiksasi pada bagian bite rim, membuat garis median pada rahang atas dan rahang bawah, garis kaninus, serta mencatat ukuran dan bentuk gigi tiruan sesuai dengan bentuk muka, jenis kelamin, usia serta warna kulit pasien. Kemudian dilakukan pemasangan gigi anterior rahang atas dan bawah dengan menggunakan artikulator.
- Kunjungan kelima dilakukan try-in pada gigi anterior rahang atas dan bawah.
Setelah sesuai, dilanjutkan penyusunan gigi posterior.
- Kunjungan keenam dilakukan try-in pada gigi posterior rahang atas dan bawah.
Dilakukan pemeriksaan oklusi, stabilisasi, retensi serta fonetik dengan cara menginstruksikan pasien mengucapkan huruf S, D, O, M, R, A, T dengan jelas dan tidak ada gangguan. Kemudian dilanjutkan dengan proses konturing gingiva dan tahap prosesing laboratorium.
- Kunjungan ketujuh, gigi tiruan lengkap diinsersikan ke rongga mulut pasien.
Diperhatikan artikulasi, retensi, stabilisasi, dan oklusi. Kemudian pasien diberi instruksi cara pemakaian dan pemeliharaan gigi tiruan lengkap. Pasien diminta untuk kontrol 1 minggu kemudian.
1) Nallaswamy Deepak. Textbook of Prosthodontics. 1st Ed. New Delhi:
Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd; 2003: 31-32.
2) Oetami S, Handayani M. Gigi tiruan lengkap resin akrilik pada kasus full edentulous. JIKG 2021; 4(2): 54-6.
2.7Jelaskan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam rencana perawatan terkait desain gigi tiruan pada kasus tersebut!
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rencana perawatan pada pasien dalam kasus ini adalah:
Retensi dan stabilitas
Retensi dan stabilisasi suatu gigi tiruan saling berkaitan. Retensi berkenaan dengan perlekatan yang merupakan hubungan antara mukosa dan gigi tiruan, sedangkan stabilisasi berkenaan pada saat berfungsi, yaitu gigi tidak terlepas selama digunakan. Faktor yang mempengaruhi retensi gigi tiruan lengkap dikelompokan menjadi dua yaitu faktor fisik dan faktor muskular.1
o Faktor fisik
Faktor fisik yang berperan adalah perluasan maksimal dari basis gigi tiruan, kontak seluas mungkin dari membran mukosa dan basis gigi tiruan, kontak yang rapat antara basis gigi tiruan dan daerah pendukungnya. 1 o Faktor muscular
Faktor muskular dapat digunakan untuk meningkatkan retensi dan kestabilan gigi tiruan, otot-otot buccinator, orbikularis oris, serta otot-otot lidah merupakan kunci dalam aktivitas retensi, sehingga perlu latihan khusus bagi otot-otot mulut untuk meningkatkan retensi gigi tiruan di dalam rongga mulut. 1
Kondisi jaringan yang flabby
Pada skenario diketahui bahwa mukosa linggir anterior rahang atas menebal dan bergerak apabila ditekan. Ridge yang flabby atau yang mudah bergerak biasanya sering terlihat pada ridge anterior rahang atas ketika bagian rahang atas yang tidak bergigi berkontak dengan gigi asli pada daerah anterior rahang bawah. Kondisi jaringan yang flabby sering kali menyebabkan kesulitan dalam membuat gigi tiruan penuh. Jaringan lunak yang bergerak selama pencetakan cenderung kembali ke bentuk aslinya, dan gigi tiruan penuh telah dibuat dengan cetakan ini tidak akan akurat pada saat jaringan kembali ke bentuk aslinya. Hal ini menyebabkan hilangnya retensi, ketidaknyamanan stabilitas dan ketidakharmonisan oklusal gigi tiruan. Dalam pendekatan prostodontik konvensional, penanggulangan pasien
yang memiliki ridge rahang atas yang flabby dengan teknik mencetak muko- kompresif yang standar tidak disarankan, karena akan menghasilkan gigi tiruan penuh yang tidak retentif dan tidak stabil.2
Persiapan sebelum melakukan pencetakan
Sebelum melakukan pencetakan untuk memperoleh gigi tiruan yang baru, terdapat hal penting yang harus diperhatikan yaitu meningkatkan kesehatan dari daerah jaringan pendukung gigi tiruan. Gigi tiruan yang lama harus dinilai apakah dapat digunakan sebagai acuan untuk gigi tiruan yang baru. Penyembuhan jaringan yang ada dibawah gigi tiruan didapatkan dengan melepaskan gigi tiruan dari dalam mulut selama 48-72 jam. Jika gigi tiruan tidak ingin dilepaskan dari dalam mulut dalam beberapa waktu, maka gigi tiruan tersebut harus dilepaskan sepanjang malam, dan semua daerah gigi tiruan yang memberikan tekanan yang besar harus di hilangkan / dibebaskan. Tissue conditioner dapat diletakkan pada gigi tiruan untuk mengatasi lapisan mukosa yang teriritasi. Bahan soft lining dapat berperan mendistribusikan tekanan fungsional.2
Pencetakan yang tepat dan akurat
Pencetakan yang tepat dan akurat merupakan salah satu cara untuk mendapatkan retensi, stabilitas dan dukungan gigi tiruan yang baik. Pada kasus oleh karena terdapat jaringan flabby maka teknik pencetakan yang dapat dilakukan adalah teknik window. Pada teknik ini sendok cetak fisiologis di regio anterior telah dibuatkan window opening agar tidak menutupi bagian ridge yang flabby. Bahan cetak zinc oxide eugenol pasta di gunakan pertama untuk membuat cetakan dan kemudian pada gambarkan batas daerah dengan jaringan yang mudah bergerak.
Kemudian cetakan kedua dicetak dengan bahan polyvinyl siloxan yang memiliki viskositas sangat rendah. Light body polyvinyl siloxane juga merupakan bahan mucostatik. Bahan ini secara dimensional lebih stabil dan merupakan material elastic. Prosedur dari pencetakan ini adalah sebagai berikut:2
- Cetakan awal dari lengkung gigi edentulous menggunakan bahan cetak irreversible hydrocolloid dengan sendok cetak atau pada gigi tiruan lama pasien.
- Tandai daerah ridge yang flabby pada model. Kemudian membuat sendok cetak fisiologis dengan resin akrilik.
- Border moulding pada sendok cetak dapat dilakukan dengan menggunakan green stick pada tiap segmennya atau dengan satu kali langkah dengan bahan cetak polyether atau polyvinyl siloxane.
- Aplikasikan bahan adhesive pada sendok cetak di tepinya dan di seluruh permukaan sendok cetak yang menghadap jaringan. Biarkan bahan adhesive kering selama 10 menit dan isi sendok cetak dengan light body dan segera letakkan sendok cetak diatas ridge edentulous dan biarkan berada di dalam mulut selama 3-5 menit.
- Lepaskan sendok cetak dari dalam mulut, buang bahan cetak yang berlebihan pada sekelilingnya atau yang menutupi window opening dengan menggunakan scaple blade.
- Letakkan kembali sendok cetak kedalam mulut pasien dan injeksikan bahan cetak polyvinyl siloxane diatas window opening. Letakkan bahan dengan cara yang sangat pasif agar mencegah distorsi dari jaringan lunak.
- Biarkan bahan cetak berpolimerisasi sampai selesai. Lepaskan cetakan dan lakukan evaluasi dengan hati-hati.
- Lepaskan, lalu bersihkan dan pembuatan box pada cetakan dengan prosedur boxing menggunakan wax.
Pemilihan bahan basis
Pemilihan bahan basis juga perlu untuk diperhatikan. Bahan basis gigi tiruan yang terlalu tebal, selain akan menambah ruangan antar lengkung rahang, juga akan membuat gigi tiruan menjadi sangat berat.2
Penyusunan gigi geligi
Penyusunan gigi geligi merupakan salah satu tahap penting untuk pembuatan gigi tiruan lengkap. Penyusunan yang baik serta kesesuaian oklusi yang tepat dapat mencegah adanya traumatik oklusi.1
1) Oetami S, Handayani M. Gigi tiruan lengkap resin akrilik pada kasus full edentulous. JIKG 2021; 4(2): 56.
2) Puspitadewi S. Perawatan prosthodontic pada kondisi ridge yang kurang menguntungkan. Jurnal B-dent 2015; 2(2): 133-42.
DAFTAR PUSTAKA
1) Hassaballa MA. Clinical complete denture prosthodontics. 2nd Ed. Saudi Arabia:
Academic Publishing & Press - King Saud University. 2010; 46-66.
2) Rizki T, Nasution ID. Hubungan antara bentuk dengan ukuran linggir alveolar pada model studi pasien edentulus penuh. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran 2020; 32 (1): 16-25
3) Puspitadewi SR. Perawatan Prosthodontik pada kondisi ridge yang kurang menguntungkan. Jurnal B-dent 2015; 2(2): 133-42.
4) krisma W, Mozartha M, Purba R. Level of Denture Cleanliness Influences the Presence of Denture Stomatitis on Maxillary Denture Bearing-Mucosa . Journal of dentistry Indonesia 2014; 21 (20: 44-8.
5) Hickey JC, Zarb GA, Bolender CC. Boucher prosthodontic traetment for edentulous patient. 9 th Ed. Philadelphia: The C.V Mosby Company; 1985: 40- 41.
6) Wurangian I. Penggunaan pelapis lunak untuk mengurangi rasa sakit pada alveolar ridge yang tajam. J WIDYA Kesehatan dan Lingkungan 2013; 1(1): 19- 20.
7) Anitasari W, Krismariono A. Frenektomi dengan Teknik V-PLASTY. The 2nd periodontic Seminar (PERIOS 2) How to Deal with Periodontal Disease Patient.
2015; 1: 104-6.
8) Budijono S C, Supandi S K. Management of Shallow Vestibule for Periodontal Preprosthetic: A Case Report. The 4 39 th Periodontics Seminar (PERIOS IV).
2017; 2: 39-42.
9) Shabrina F N, Hartomo B T. Laporan Kasus: Ekstraksi Gigi dengan Perubahan Matriks Tulang sebagai Persiapan Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap.
Stomatognatic (J.K.G Unej). 2021; 18 (1): 11-14.
10) Nallaswamy Deepak. Textbook of Prosthodontics. 1st Ed. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd; 2003: 31-32.
11) Oetami S, Handayani M. Gigi tiruan lengkap resin akrilik pada kasus full edentulous. JIKG 2021; 4(2): 54-6.