Untuk itu pengembangan lahan yang kurang optimal, salah satunya kondisi lahan di Kabupaten Jayawijaya perlu dioptimalkan. Pengembangan lahan suboptimal yang dimaksud terutama untuk kawasan pedesaan produktif yang belum berkembang, seperti dataran tinggi kawasan Pegunungan Tengah Kabupaten Jayawijaya. Kondisi tanah di Kabupaten Jayawijaya yang kering dan tadah hujan dengan penerapan sistem pertanian yang masih tergolong tradisional karena masih menerapkan perladangan berpindah, sehingga produksi padi gogo lebih rendah dibandingkan dengan padi sawah, kecuali padi lokal Wamena (Moai). ) Varietas yang diketahui merupakan varietas endemik yang tahan terhadap kondisi iklim dan tanah Kabupaten Jayawijaya.
Dilihat dari kondisi iklimnya, wilayah Jayawijaya merupakan lahan kering dengan kandungan air tanah yang relatif tinggi. Tanaman yang mengalami kondisi cekaman kekeringan adalah tanaman yang mengalami defisit air karena terbatasnya jumlah air dari lingkungannya yaitu media tanam (Levitt, 1980). Demikian pula tanaman padi merupakan tanaman C3 yang tidak tahan terhadap kondisi kekeringan. 2012) merupakan proses respon tanaman yang terkena cekaman kekeringan, berkurangnya ukuran daun, sehingga dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah kumbang dan fotosintesis.
Hendrati (2016) menyatakan tanaman yang mengalami defisit air memiliki daun yang lebih kecil dibandingkan tanaman yang tumbuh normal. Pada tanaman yang tumbuh pada kondisi cekaman kekeringan, jumlah stomata akan berkurang sehingga mengurangi laju kehilangan air yang diikuti dengan penutupan stomata (Subantoro, 2014). Untuk itu tujuan penelitian ini adalah memperoleh informasi mengenai panjang, lebar pucuk dan kepadatan pucuk pada tiga kawasan agroekosistem di wilayah Jayawijaya sebagai bentuk respon tumbuhan dalam mempertahankan siklus hidupnya di wilayah Jayawijaya. lahan yang kurang optimal.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2019 di tiga kawasan agroekosistem di Kabupaten Jayawijaya yaitu wilayah hilir Kabupaten Jayawijaya (wilayah 1) dengan ketinggian antara 1600-2000 mdpl yang diwakili pada ketinggian 1882 mdpl. permukaan laut laut. , terletak di Kecamatan Walelagama; Zona agroekosistem Kabupaten Jayawijaya Tengah (zona 2) dengan ketinggian antara 2000-2400 mdpl diwakili pada ketinggian 2145 mdpl yang terletak di Kecamatan Kurulu; dan zona atas agroekosistem Kabupaten Jayawijaya (zona 3) dengan ketinggian antara 2400-2800 mdpl diwakili pada ketinggian 2653 mdpl yang terletak di Kecamatan Sogokmo.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian morfologi stomata daun tanaman Padi Gogo yang diuji di tiga zona agroekosistem di Kabupaten Jayawijaya menunjukkan serangkaian karakter yang ditunjukkan dari panjang, lebar dan kepadatan pada pengamatan vegetatif dan generatif. Sedangkan di wilayah Kecamatan Kurulu dengan ketinggian 2.145 mdpl, hasil penelitian juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap varietas lokal Wamena (Moai) dengan panjang stomata 15,56 µm dan berbeda nyata dengan Inpago Unsown. varietas 1. Selain itu, hasil penelitian karakteristik lebar stomata juga menunjukkan perbedaan antara ketiga zona Agroekosistem yang diuji.
Kemudian pada tingkat kepadatan daun tomat pada setiap zona agroekosistem yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan daun tomat varietas Inpago Unsowed Parimas memberikan pengaruh yang nyata di Kecamatan Walelagama dan Kurulu, sedangkan di Kecamatan Sogokmo diperoleh hasil bahwa tingkat kepadatan daun tomat tertinggi ditunjukkan oleh Varietas Lokal Wamena (Moai). Yohana, Sulistyaningsih, Dorly dan Akmal (1994) menyatakan bahwa ukuran dan kepadatan stomata berhubungan dengan ketahanan terhadap kekeringan.
Hasil penelitian karakteristik morfologi stomata fase generatif di tiga kawasan agroekosistem juga menunjukkan respon yang berbeda-beda. Hasil penelitian ciri morfologi stomata daun tanaman padi gogo juga diamati pada fase generatif tanaman. Kemudian di Kecamatan Kurulu (Zona 2) hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Inpari 28 menunjukkan stomata terpanjang (15,34 µm) namun tidak berbeda nyata dengan varietas lokal Wamena (15,31 µm).
Hasil penelitian pada fase generatif di Kecamatan Walelagama (Zona 1) menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang nyata terhadap hasil penelitian yang diamati. Sedangkan Kecamatan Kurulu (Zona 2) dan Kecamatan Sogokmo (Zona 3) menunjukkan pengaruh nyata yang ditunjukkan oleh varian Lokal Wamena (4,44 µm dan 4,75 µm). Kemudian parameter kepadatan stomata pada setiap zona agroekosistem juga menunjukkan pengaruh yang nyata.
Zona 3), varietas Inpago Unsed Parimas menunjukkan kepadatan stomata tertinggi (21.337/mm2 dan 274.062/mm2) dan berbeda nyata dengan varietas lokal Wamena (Moai) di Kecamatan Kurulu dan varietas Inpago Unsed 1 di Kecamatan Sogokmo. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sulistyaningsih dkk. 1994) bahwa ukuran dan kepadatan stomata berhubungan dengan ketahanan terhadap cekaman air. Selain itu, karakter stomata diketahui menentukan tingkat adaptasi tanaman terhadap lingkungan kering dan kepadatan stomata yang rendah berpotensi meningkatkan ketahanan terhadap defisit air.
Hasil penelitian membuktikan bahwa tanaman yang menghasilkan kepadatan stomata tinggi merupakan tanaman yang tahan terhadap kekeringan (gambar 1, 2, dan 3. Menurut Haruningtya (2011), indeks stomata atau kepadatan stomata yang lebih tinggi pada kondisi stres menyebabkan tanaman mudah layu karena laju transpirasi meningkat akibat bertambahnya jumlah stomata.
Kesimpulan
Selain itu, padi gogo bermanfaat bagi pengembangan lahan kering dan pengembangan pola tanam di lahan kritis. Gangguan abiotik pada padi gogo lebih nyata, seperti kelangkaan air dan tidak memadainya tingkat ketersediaan unsur hara dan sifat fisik tanah. Pola distribusi curah hujan harus dipelajari secara hati-hati dan pemilihan varietas yang berumur pendek harus dipertimbangkan, terutama untuk daerah dengan bulan-bulan basah berturut-turut yang pendek.
Kemudian varietas Inpago 9 mempunyai fase generatif yang memiliki tingkat kepadatan stomata lebih tinggi pada fase vegetatif di Kecamatan Walelagama (Zona 1).
Acknowledgement
Respon pertumbuhan dan anatomi jaringan daun pada Asytasia gangetica, Impatiens balsamina dan Mirabilis jalapa akibat pencemaran udara. Respon kekeringan terhadap pertumbuhan, kandungan prolin dan anatomi akar Acacia auriculiformis Cunn., Tectona grandis L., Alstonia spectabilis Br. dan Cedrela odorata L. Penentuan keanekaragaman karakter tanaman manggis melalui identifikasi morfologi dan anatomi daun tanaman manggis (Gracinia mangostana L.) di Kabupaten Morowali Utara.
Pengaruh cekaman air dan suhu terhadap ukuran dan jumlah sel epidermis daun dan biji sorgum. Pengaruh stres kekeringan terhadap pertumbuhan dan hasil kultivar padi (Oryza sativa L.) dan akumulasi prolin dan gula larut dalam pelepah daun dan helaian daun pada berbagai umur. Pengaruh perlakuan cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan kandungan prolin stadia vegetatif beberapa kultivar jagung lokal Pulau Kisar, Maluku di rumah kaca.
Influences of water stress on the growth and yields of Jambu local country rice (Oryza sativa Linn).