• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karina Aprilia Rumapea 210200623 Jurnal Hukum Kesehatan

N/A
N/A
21O2OO623@Karina Aprilia Rumapea

Academic year: 2024

Membagikan "Karina Aprilia Rumapea 210200623 Jurnal Hukum Kesehatan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PENYELESAIAN SENGKETA MEDIS HUKUM KESEHATAN

Dosen Pengampu: Eva Syahfitri Nasution S.H., M.H.

Disusun Oleh:

Karina Aprilia Rumapea (210200623)

Grup D

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2023

(2)

1

Pertanggungjawaban Hukum Terhadap Kesalahan Standar Prosedur Operasional Pelayanan Medis

(Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 1001 K/Pdt/2017)

1Karina Aprilia Rumapea

1Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara

1Email: [email protected]

*Email Korespondensi: [email protected]

Abstract: Health is a human right and one element of welfare that must be realized in accordance with the ideals of the Indonesian nation as intended in Pancasila and the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Every activity in an effort to maintain the highest level of public health must be carried out based on non-discriminatory, participatory and sustainable principles in the context of forming Indonesia's human resources, as well as increasing the nation's resilience and competitiveness for national development. Health development is the responsibility of all parties, both the government and society. To guarantee health development goals, a National Health System is needed. However, in the implementation of the National Health System, problems sometimes arise both in implementation procedures and between subjects in health law. The problem that occurred resulted in a medical dispute. Medical disputes often occur due to malpractice caused by doctors tending to ignore Standard Operating Procedures (SOP) in treating patients. Medical disputes that occur require dispute resolution in accordance with applicable law in Indonesia in order to determine the form of legal responsibility of the parties involved in the dispute. Legal liability can take the form of criminal, civil or state administrative liability. This research discusses the forms of legal liability in medical disputes resulting from errors in standard operational procedures in medical services. The type of research in this writing is normative legal research (normative juridical) using primary, secondary and tertiary legal material sources.

Keywords: Health, Liability, Error, Service, Medical

Abstrak: Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Setiap kegiatan dalam upaya memelihara derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya harus dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional. Pembangunan kesehatan merupakan tanggung jawab seluruh pihak baik Pemerintah maupun masyarakat. Untuk menjamin tujuan pembangunan kesehatan diperlukan Sistem Kesehatan Nasional.

Namun dalam penyelenggaraan Sistem Kesehatan Nasional terkadang timbul permasalahan baik dalam prosedur pelaksanaan maupun antara subjek-subjek dalam hukum kesehatan. Permasalahan yang terjadi berujung menjadi suatu sengketa medik. Sengketa medik sering terjadi disebabkan malpraktik yang diakibatkan dokter cenderung mengabaikan Standar Operating Procedure (SOP) dalam menangani pasien. Sengketa medik yang terjadi perlu dilakukannya penyelesaian sengketa sesuai hukum yang berlaku di Indonesia agar menentukan bentuk pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa tersebut. Pertanggungjawaban hukum dapat berupa pertanggungjawaban pidana, perdata maupun administrasi negara. Penelitian ini membahas mengenai bentuk pertanggungjawaban hukum dalam sengketa medik akibat kesalahan standar prosedur operasional dalam pelayanan medis . Jenis penelitian dalam penulisan ini adalah penelitian hukum normatif (yuridis normatif) dengan menggunakan sumber bahan hukum primer, sekunder dan tersier.

Kata Kunci: Kesehatan, Pertanggungjawaban, Kesalahan, Pelayanan , Medis

PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah. Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam

(3)

2

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Upaya untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan, diperlukan dukungan dari Sistem Kesehatan Nasional (SKN). SKN memiliki peran sebagai acuan dalam penyusunan UU tentang Kesehatan, juga dalam penyusunan berbagai kebijakan, pedoman dan arah pelaksanaan pembangunan kesehatan. Sistem Kesehatan Nasional adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana yang dimaksud dalam Undang- undang Dasar 1945.1 Pengelolaan kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan administrasi kesehatan, informasi kesehatan, sumber daya kesehatan, upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, peran serta dan pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Salah satu hal penting dalam mendukung pembangunan kesehatan adalah sumber daya kesehatan. Sumber daya kesehatan adalah tenaga kesehatan dan tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabadikan dirinya dalam upaya dan manajemen kesehatan. Selain itu, fasilitas kesehatan juga termasuk menjadi pendukung dalam pembangunan kesehatan. Kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat.

Namun dalam Penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat terkadang timbul permasalahan di antara komponen pengelolaan kesehatan yang berujung kepada terjadinya sengketa medik. Terjadinya sengketa medik seringkali disebabkan karena malpraktik yang diakibatkan oleh para dokter cenderung mengabaikan Standar Operating Procedure (SOP) dalam pelayanan medik yang diberikannya terhadap pasien. Akan tetapi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan terkadang terjadinya salah pemahaman antara malpraktik medik dan risiko medik. Malpraktik medik dan risiko medik merupakan hal yang berbeda karena risiko medik dari tindakan medik adalah inspanningsverbintennis (perjanjian yang menitikberatkan pada upaya maksimal) bukan kepada resultaatsverbintennis (perjanjian yang meniktikberatkan kepada hasil.

Tanggung jawab hukum khususnya di rumah sakit seringkali tidak dapat dilaksanakan dengan sepenuhnya karena masih kuatnya pola hubungan paternalistik antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Pola hubungan paternalistik merupakan pola hubungan antara atasan dan bawahan. Dalam pola hubungan paternalistik ini, dokter diposisikan sebagai atasan dan pasien diposisikan sebagai bawahan. Pasien belum menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat hak, termasuk juga hak atas informasi sehingga seringkali dokter melakukan tindakan medik tanpa memberikan informasi yang memadai kepada pasien.

Menurut J Guwandi dalam bukunya yang berjudul “Dokter dan Rumah Sakit” menyatakan bahwa, pada dasarnya, rumah sakit bertanggung jawab terhadap tiga hal yaitu; tanggung jawab yang berhubungan dengan duty of care (kewajiban memberikan pelayanan yang baik);

tanggung jawab terhadap sarana dan peralatan; dan tanggung jawab terhadap personalia. Duty of care dapat diartikan sebagai kewajiban memberikan pelayanan yang baik dan wajar.

Terlaksananya kewajiban memberikan pelayanan yang baik terkait dengan berbagai hal antara lain berkaitan dengan personalianya, karena rumah sakit sebagai suatu organisasi hanya dapat bertindak melalui tenaga-tenaga yang dipekerjakannya. Pemberian pelayanan kesehatan di

1Vionalita, G. (2020, September). Sistem Kesehatan Nasional. Dipetik Desember 12, 2023, dari Universitas Esa Unggul: https://lms-paralel.esaunggul.ac.id/mod/resource/view.php?id=35815

(4)

3

rumah sakit dilakukan baik oleh tenaga kesehatan maupun bukan tenaga kesehatan. Pelayanan yang diberikan oleh personalia rumah sakit, khususnya tenaga kesehatan, harus sesuai dengan ukuran standar profesi. Rumah sakit seharusnya bertanggung jawab apabila ada pemberian pelayanan kesehatan di bawah standar yang dilakukan oleh personalianya sehingga menimbulkan akibat yang tidak diinginkan bagi pasien.

Rumah sakit harus menjamin bahwa sarana prasarana yang ada berfungsi dengan baik.

Selain itu, rumah sakit juga memiliki tanggung jawab hukum terhadap tenaga kesehatannya mengandung pengertian bahwa rumah sakit harus bertanggung jawab terhadap kualitas dari tenaga kesehatan yang bekerja. Hubungan hukum antara rumah sakit dengan dokter pada dasarnya terbagi menjadi dua pola, yaitu pola hubungan perburuhan dimana dokter menjadi karyawan atau pegawai tetap dari rumah sakit (biasa disebut dengan Dokter in) dan pola hubungan perjanjian atau kemitraan dimana dokter bekerja secara mandiri dan berperan sebagai mitra rumah sakit (biasa disebut dengan Dokter out). Apapun bentuk pola hubungan antara dokter dan rumah sakit, dokter merupakan profesi yang mempunyai kemandirian dan independensi dalam melaksanakan profesi serta menerapkan keilmuannya.2

Adanya hubungan antara dokter dengan pasien, dokter dengan rumah sakit dan rumah sakit dengan pasien tidak menutup kemungkinan terjadinya sengketa media, perlunya pengaturan hukum dalam pelayanan kesehatan untuk memberikan perlindungan hukum bagi subjek-subjek dalam pelayanan kesehatan tersebut dan mengantisipasi menyelesaikan masalah apabila dikemudian hari terjadinya sengketa dalam hukum kesehatan secara adil. Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan memerlukan pertanggungjawaban hukum rumah sakit dalam praktik pelayanan kesehatan dan praktik kedokteran di rumah sakit sebaiknya diaplikasikan tidak menyimpang dari Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Oleh karena itu diperlukannya pertanggungjawaban hukum dari pihak- pihak yang bersengketa dalam menyelesaikan sengketa layanan medik di Indonesia sesuai dengan hukum yang mengatur.

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penulis membahas mengenai pertanggungjawaban hukum dokter dan rumah sakit dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, penyelesaian sengketa dalam medik dan penyelesaian sengketa medik berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor Nomor 1001 K/Pdt/2017. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pertanggungjawaban hukum dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, cara penyelesaian sengketa medik, dan analisis pertanggungjawaban hukum dalam penyelesaian sengketa medik berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor Nomor 1001 K/Pdt/2017.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif (yuridis normatif) dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan. Pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang-undangan dan regulasi dan implementasi kebijakan penyelesaian sengketa medis di Indonesia dan Peraturan Pelaksana lainnya, antara lain:

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang

2Wahyu Andrianto, S. M. (2021, Februari 26). Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dipetik Desember 3, 2023, dari Tanggung Jawab Hukum Rumah Sakit di Indonesia: https://law.ui.ac.id/tanggung-jawab-hukum-rumah-sakit- di-indonesia-oleh-wahyu-andrianto-s-h-m-h/

(5)

4

Praktik Kedokteran, dan UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.Penelitian ini bertumpu pada bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier yang diperoleh melalui studi kepustakaan sebagai teknik pengumpulan datanya kemudian mengunakan teknik analisis kualitatif. Pendekatan kasus dalam penelitian ini mengkaji Putusan Mahkamah Agung Nomor Nomor 1001 K/Pdt/2017.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

HUBUNGAN DOKTER DAN PASIEN DALAM PELAYANAN MEDIS

Seiring dengan perkembangan zaman, hubungan antara dokter dengan pasien yang awalnya berdasarkan kepercayaan pasien terhadap dokter untuk menyembuhkannya berubah tidak semata-mata karena kepercayaan, namun berdasarkan perjanjian dalam Kitab Undang- undang Hukum Perdata dan Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Sehingga dengan adanya hukum yang mengatur mengenai hubungan dokter dengan pasien maka apabila terjadinya suatu kesalahan harus memiliki pertanggungjawaban secara hukum.

Hubungan dokter dan pasien dalam pelaksaan pelayanan kesehatan diuraikan sebagai berikut:

Hubungan Dokter dan Pasien Berdasarkan Perjanjian

Hubungan antara pasien dengan dokter disebut dengan Perjanjian Terapeutik. Perjanjian terapeutik merupakan tindakan dokter dalam upaya menyembuhkan pasien. Dalam pelayanan medis yang diberikan dokter kepada pasien dapat terjadi adanya perjanjian. Definisi perjanjian dalam pasal 1313 KUHPer adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya (saling mengikatkan dirinya) terhadap satu orang atau lebih. Perjanjian dapat mengikat apabila memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian dalam pasal 1320 KUHPer yaitu Sepakat; Cakap; Sebab hal tertentu; dan Tidak bertentangan dengan undang-undang.

Pelaksanaan perjanjiaan didasarkan pada asas-asas tertentu yang diatur dalam pasal 1338 KUHPer seperti asas Konsensualisme; Kebebasan berkontrak; Mengikatnya perjanjian; dan Itikad baik.

Perjanjian antara dokter dan pasien merupakan perjanjian timbal balik yang berarti pihak-pihak dalam perjanjian yaitu dokter dan pasien memiliki masing-masing hak dan kewajibannya. Secara yuridis dengan terjadinya perjanjian yang melahirkan hak dan kewajiban antara dokter dan pasien maka harus dilaksanakan dengan semestinya. Apabila tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak akan terjadinya wanprestasi. Namun dalam hubungan antara dokter dan pasien ini terdapat perjanjian Inspanningsverbintenis dan Resultaatverbintenis.

Perjanjian Inspanningsverbintenis adalah perjanjian upaya, artinya pihak yang berjanji berupaya secara maksimal untuk mewujudkan apa yang diperjanjikan. Sedangkan perjanjian Resultaatverbintenis adalah perjanjian bahwa pihak yang berjanji akan memberikan resultaat, yaitu perjanjian yang akan menghasilkan sesuai dengan apa yang dijanjikan. Apabila perjanjian Inspanningsverbintenis dan Resultaatverbintenis dikaitkan dengan perjanjian terapeutik, maka Terapeutik termasuk Inspanningsverbintenis karena perjanjian antara dokter dan pasien merupakan perjanjian upaya untuk menyembuhkan. Sehingga hasil akhir dari perjanjian terapeutik apabila tidak berhasil tidak dapat dikatakan wanprestasi.

Pelaksanaan perjanjian terapeutik antara dokter dan pasien sering terjadi kesalahpahaman apabila pada hasil akhir pengobatan tidak sesuai dengan harapan pasien yaitu adanya wanprestasi dan malpraktik. Dalam pelayanan medis yang diberikan dokter sering terjadinya malpraktik. Malpraktik pada umumnya dikaitkan dengan tindakan dokter yang salah dalam menjalankan profesinya. Malpraktik pada intinya adalah tindakan-tindakan yang sengaja dan melanggar hukum yang berlaku. Berdasarkan Black’s Law Dictionary pengertian malpraktik adalah setiap tindak yang salah, kekurangan keterampilan dalam ukuran tingkat yang tidak wajar. Berdasarkan pengertian malpraktik tersebut, adapun dasar kinerja dokter agar tidak dalam tercakup ke dalam tindakan malpraktik terdapat dalam Pasal 50 Undang-undang

(6)

5

nomor 29 tahun 2004 adalah dengan sesuai Standar Profesi dan Standar Prosedur Operasional.

Berdasarkan kedua hal tersebut merupakan dasar kinerja dokter secara profesional.

Sehingga apabila dokter bekerja sesuai dengan Standar Profesi dan Standar Prosedur Opersional tidak akan terjadinya Malpraktik. Selain itu, dalam pelayanan medis oleh dokter dapat dikategorikan sebagai malpraktik selain tidak sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, maka harus terpenuhinya unsur sebab-akibat3

Hubungan Dokter dan Pasien Berdasarkan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran

Praktik kedokteran menurut ketentuan umum pasal 1 Undang-undang No. 29 Tahun 2004 adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. Pelaksanaan praktik kedokteran dilakukan berdasarkan kesepakatan antara dokter dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Dokter dalam menyelenggarakan praktik kedokteran wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran. Terjadinya hubungan hukum antara dokter dan pasien berupa kesepakatan.

Kesepakatan merupakan persetujuan (perjanjian) dokter daan pasien sebelum pasien menerima tindakan medis.

Menurut pasal 45 Undang-undang No.29 Tahun 2004, setiap tindakan kedokteran yang akan dilakukan oleh dokter terhadap pasien harus mendapat persetujuan baik secara tertulis maupun lisan namun pasien sebelumnya harus mendapatkan penjelasan secara lengkap yang mencakup mengenai diagnosis dan tata cara tindakan medis; tujuan tindakan medis yang dilakukan; alternatif tindakan lain dan risikonya; risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi;

dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. Apabila dalam tindakan medis yang dilakukan dokter memiliki risiko tinggi terhadap pasien maka harus dilakukan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh pihak yang berhak memberikan persetujuan.

Setiap perjanjian erat dengan adanya hak dan kewajiban. Dalam pelaksanaan tindakan medik dalam praktik kedokteran diatur mengenai hak dan kewajiban dokter. Hak dokter atau dokter gigi diatur dalam pasal 50 Undang-undang No.29 Tahun 2004 yaitu memperoleh perlindungan hukum sepanjang dalam melaksanakan tugasnya telah sesuai dengan standar profesi kedokteran dan standar prosedur operasional; memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan menerima imbalan atas jasa yang telah dilakukan.

Pelaksaan setiap pelayanan medis yang dilakukan oleh dokter lekat dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. Berdasarkan penjelasan pasal 50 Undang-undang No.29 Tahun 2004 yang dimaksud dengan standar profesi adalah batasan kemampuan minimal yang harus dikuasi oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi sedangkan yang dimaksud dengan standar prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi atau langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu.

Hak dan kewajiban merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan. Pasal 51 Undang- undang No.29 Tahun 2004 menjelaskan bahwa dokter atau dokter gigi memiliki kewajiban dalam melaksanakan praktik kedokteran yaitu memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan pasien; merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain apabila dirasa tidak mampu melakukan pengobatan; merahasiakan segala sesuatu tentang pasien bahkan setelah pasien meninggal dunia; melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan kecuali dokter tersebut merasa ada orang lain yang lebih mampu’

3 Suryono, A. (2010). Kajian Yuridis Hubungan Antara Dokter Dengan Pasien Menurut Undang-Undang Praktik Kedokteran. Serambi Hukum, 04(02), 69-70.

(7)

6

dan menambah ilmu pengetahuan kedokteran atau kedokteran gigi sesuai perkembangan.

Selain hak dan kewajiban seorang dokter, pasien yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan mempunyai hak dan kewajiban tertentu dalam praktik kedokteran. Hak seorang pasien diatur dalam pasal 52 Undang-undang No.29 Tahun 2004 yaitu mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan medis yang akan diterimanya; meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; menolak tindakan medis; dan mendapatkan isi rekam medis. Sedangkan untuk kewajiban seorang pasien diatur dalam pasal 53 Undang-undang No.29 Tahun 2004 yaitu memberikan informasi secara lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya; mematuhi nasihat dan petunjuk dari dokter atau dokter gigi; mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan dan membayar imbalan atas jasa pelayanan kesehatan yang telah diterima.

PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM DOKTER DAN RUMAH SAKIT AKIBAT KESALAHAN DALAM PELAYANAN MEDIS

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan setiap manusia. Upaya untuk mencapai kesehatan bagi semua masyarakat dilakukan dengan adanya pelayanan kesehatan. Sebagaimana yang dijelaskan pada Ketentuan umum Pasal 1 ayat (3) dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dijelaskan bahwa Pelayanan Kesehatan adalah segala bentuk kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan yang diberikan secara langsung kepada perorangan atau masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat masyarakat dalam bentuk promotif, premetif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif.

Bilamana ditinjau dari kedudukan para pihak dalam proses pelayanan kesehatan, kedudukan seorang dokter sebagai profesional di bidang medik yang harus berperan aktif, kedudukan seorang pasien sebagai penerima layanan medik yang memiliki penilai terhadap pelayanan kesehatan yang diterimanya serta rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Setiap para pihak atau subjek dalam pelayanan kesehatan memerlukan sebuah hukum yang mengatur. Hukum diciptakan sebagai suatu instrumen untuk mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban subjek hukum agar subjek hukum menjalankan kewajiban dan menerima haknya secara adil dengan adanya hukum yang mengatur.

Peraturan-peraturan hukum yang bersifat mengatur dan memaksa anggota masyarakat untuk patuh mentaatinya, menyebabkan terdapatnya keseimbangan dalam tiap perhubungan dalam masyarakat. Menurut J.C.T Simorangkir dan W. Sastropranoto hukum itu adalah peraturan-peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu dengan hukuman tertentu (Dr. Fence M. Wantu, 2015). Pelanggaran yang terjadi karena subjek hukum tertentu tidak menjalankan kewajiban yang seharusnya dijalankan atau karena melanggar hak-hak subjek hukum lain.4 Subjek hukum yang dilanggar haknya harus mendapatkan perlindungan hukum. Untuk melindungi hak setiap subjek hukum diperlukan peran pemerintah yang memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan hukum.

Perlindungan hukum dalam pelayanan kesehatan menyangkut hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Adanya perlindungan hukum dalam pelayanan kesehatan menciptakan tanggung jawab hukum antara subjek-subjek hukum dalam pelayanan kesehatan. Tanggung jawab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya). Tanggung jawab hukum itu terjadi karena adanya kewajiban yang tidak dipenuhi oleh salah satu pihak yang melakukan perjanjian. Hal tersebut membuat pihak yang lain mengalami kerugian akibat

4 Dr. Fence M. Wantu, S. M. (2015). Pengantar Ilmu Hukum. Yogyakarta: Reviva Cendekia.hlm 10-12

(8)

7 haknya tidak terpenuhi oleh salah satu pihak tersebut.

Pertanggungjawaban dalam hal pelayanan kesehatan atau pelayanan medik yang mana pihak pasien merasa dirugikan maka perlu untuk diketahui pihak-pihak yang terkait dalam pelayanan oleh tenaga medik tersebut. Tenaga medik yang dimaksud adalah dokter yang bekerja sama dengan tenaga profesional lain di dalam menyelenggarakan dan memberikan pelayanan medik kepada pasien. Apabila dalam penyelenggaraanpelayanan tindakan medik terjadi kesalahan atau kelalaian yang mengakibatkan kerugian terhadap pasien maka harus ditentukan pihak yang bertanggung jawab secara langsung, bentuk tanggung jawab hukum dapat terhadap dokter yang memberikan tindakan medik secara langsung atau tanggung jawab hukum terhadap rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan. Bentuk tanggung jawab hukum dalam pelayanan medik diuraikan sebagai berikut:

Tanggung Jawab Dokter dalam Pelayanan Medis

Dokter sebagai seorang profesional yang memberikan pengobatan terhadap pasien atau orang yang membutuhkannya. Hubungan ini merupakan hubungan yang bersifat pribadi karena berdasarkan rasa kepercayaan pasien terhadap dokter yang disebut sebagai transaksi terapeutik.

Transaksi terapeutik adalah perjanjian antara dokter dengan pasien yang memberikan kewenangan kepada dokter untuk melakukan kegiatan memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki oleh dokter tersebut.Transaksi Terapeutik ini merupakan hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh masing-masing pihak. Menurut hubungan hukum antara dua subjek hukum yaitu dokter dan pasien ini menimbulkan kedudukan yang sederajat antara dokter dan pasien.5 Dalam melaksanakan hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan, dokter memiliki tanggung jawab hukum dalam berbagai aspek yaitu:

Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Hukum Pidana

Kitab Undang-undang Hukum Pidana mengatur bahwa perbuatan yang menyebabkan orang lain luka berat atau mati yang dilakukan secara tidak sengaja terdapat dalam Pasal 359- 360 KUHP yaitu: a)Adanya unsur kelalaian (culpa); b) Adanya perbuatan tertentu; c) Adanya akibat luka berat atau kematian orang lain; dan d)Adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan akibat timbulnya kecederaan tersebut. Jika 4 (empat) unsur tersebut dibandingkan dengan pasal 338 KUHP maka terlihat bahwa unsur pada b, c dan d tidak ada bedanya dengan unsur pembunuhan pasal 338 KUHP. Perbedaannya hanya pada kesalahan yang diakibatkan karena kelalaian (culpa) sedangkan dalam pasal 338 KUHP pembunuhan karena kesengajaan.

Dokter dalam melakukan pelayanan medik terdapat pula hal yang menjadi pertanggungjawaban yaitu berupa antara risiko medik dan malpraktik medik. Risiko medik dan malpraktik medik memiliki kesamaan yaitu terdapat unsur b,c, dan d pada pasal 359 KUHP.

Namun yang membedakannya yaitu unsur kelalaian, dalam risiko medik tidak terdapat unsur kelalaian sedangkan dalam malpraktik medik terdapat unsur kelalaian.

Selain itu, dalam pelayanan kesehatan yang tidak memenuhi standar profesi sering dikaitkan dengan kelalaian. Apabila dokter telah melakukan pelayanan sesuai dengan prosedur sesuai standar pelayanan medik tetapi akhirnya pasien menerima kerugian atau luka berat maka hal ini dinamakan risiko medik. Sedangkan apabila pasien menerima kerugian atau luka berat bahkan kematian akibat dokter melakukan pelayanan medik tidak sesuai dengan prosedur maka hal ini dinamakan malpraktik medik.

5Nugroho, D. A. (2018). Perjanjian Terapeutik Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Dokter. Untag Surabaya, 6.

(9)

8

Unsur kelalaian sangat berperan dalam menentukan pertanggungjawaban hukum dokter apabila terjadi sengketa medik. Namun tindakan dokter terhadap pasien dalam pelayanan medik juga mempunyai alasan pembenar. Hal ini diatur dalam pasal 50 dan pasal 51 ayat (1) KUHP.

Pertanggungjawaban hukum agar dapat dipidana suatu kesalahan harus memenuhi 3(tiga) unsur yaitu a)Adanya kemampuan bertanggung jawab pada petindak artinya jiwa petindak harus normal; b)Adanya hubungan batin antara petindak dengan perbuatannya berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa); dan c) Tidak adanya alasan pemaaf.

Tindakan medik dalam pelaksanaannya harus dilakukan sesuai dengan profesi kedokteran dan dipenuhinya hak pasien mengenai informed consent. Hal ini dilakukan agar menghindari terjadinya tindakan medik yang tergolong ke dalam perbuatan melawan hukum. Hukum pidana menganut asas “tiada pidana tanpa kesalahan” dan pada pasal 2 KUHP menyebutkan bahwa ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan suatu kesalahan. Berdasarkan hal ini menunjukkanke bahwa setiap orang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas kesalahan yang dibuat. Sanksi dalam hukum pidana pada dasarnya sanksi yang berupa penyiksaan atau pengekangan kebebasan terhadap pelaku tindak pidana.6

Tanggung Jawab Hukum Dokter dalam Hukum Perdata

Tanggung jawab dokter dalam pelayanan medik dapat dilihat dari dua unsur sebagai berikut:

a. Tanggung jawab hukum karena wanprestasi

Wanprestasi dapat diartikan sebagai tidak terlaksananya kewajibannya karena kesalahan seseorang baik karena kesengajaan atau kelalaian. Pada dasarnya pertanggungjawaban dokter dalam hukum perdata untuk memperoleh ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh pasien akibat adanya wanprestasi atau perbuatan melawan hukum dari tindakan medik oleh dokter.

Dalam hukum perdata terdapat tiga keadaan dimana seseorang dianggap tidak memenuhi kewajibannya (wanprestasi) yaitu keadaan dimana seseorang tidak memenuhi kewajiban sama sekali, keadaan dimana seseorang memenuhi kewajiban tetapi tidak baik atau keliru, dan keadaan dimana seseorang memenuhi kewajiban namun waktunya tidak tepat atau terlambat.7 Berdasarkan definisi tersebut yang dimaksudkan tanggung jawab dokter dalam hukum perdata adalah tidak terpenuhinya syarat atau kewajiban dokter dalam perjanjiannya dengan pasien.

Dalam wanprestasi pasien mengajukan gugatan kepada dokter berupa ganti rugi atas dasar perjanjian yang memang ada antara dokter dan pasien. Perjanjian dapat berupa persetujuan melakukan atau berbuat sesuatu.

Perjanjian dalam proses pelayanan medik terjadi apabila pasien datang kepada dokter atau pasien memanggil dokter untuk diobati dan dokter memenuhi permintaan pasien tersebut.

Setelah pasien menerima pengobatan maka pasien akan membayar atas jasa yang diberikan dokter. Dokter berusaha melakukan proses penyembuhan terhadap pasien dengan memberikan bantuan sesuai dengan ilmu pengetahuan dan profesional yang dimiliki dokter tersebut. Namun apabila pasien merasa dirugikan setelah menerima pelayanan medik dari dokter, pasien harus membuktikan bahwa adanya perjanjian dengan dokter tersebut dan dokter melakukan wanprestasi. Jadi dalam tanggung hukum karena wanprestasi ini, pasien harus memiliki cukup bukti kerugian yang dialami akibat tidak terpenuhinya kewajiban dokter sesuai dengan standar profesi dokter yang berlaku dalam suatu kontrak dalam hubungan terapeutik

6 Asmoro, D. P. (2019). Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan Terhadap Pasien. Maksigama, 13(2), 131-132.

7Paendong, K., & Taunaumang, H. (2022). Kajian Yuridis Wanprestasi Dalam Perikatan dan Perjanjian Ditinjau Dari Hukum Perdata. Journal Unsrat, 4-5.

(10)

9

b. Tanggung jawab hukum karena perbuatan melawan hukum

Tanggung jawab hukum karena perbuatan melawan hukum merupakan sebuah kesalahan dalam hukum perdata, hal ini diatur dalam dalam pasal 1365,1366, dan 1367 Kitab Undang- undang hukum Perdata. Pertama dalam pasal 1365 KUHPerdata menyebutkan bahwa “Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kesalahan itu, mengganti kerugian tersebut”, dalam pasal ini undang-undang tidak memberikan batasan tentang perbuatan melawan hukum namun apabila dikaitkan perbuatan melawan hukum apabila dokter dalam memberikan pelayanan medik tidak sesuai dengan ketentuan standar pelayanan medik yang mengakibatkan kerugian berupa ketidaksembuhan atas penyakitnya, kecederaan maupun kematian. Kedua dalam pasal 1366 KUHPerdata menyebutkan bahwa “Tiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaiannya atau kekurangan hati-hatinya”. Terakhir pasal 1367 KUHPerdata menyebutkan bahwa “ Tiap orang harus memberikan pertanggungjawaban tidak hanya kerugian akibat yang ditimbulkan dari tindakannya sendiri tetapi juga atas kerugian yang ditimbulkan dari tindakan orang lain yang dalam pengawasannya”, dalam hal ini berarti seorang dokter juga harus bertanggung jawab atas tindakan perawat, bidan dan sebagainya dalam pelayanan medik yang diberikan kepada dokter.8

Tanggung Jawab Hukum Dokter Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan Pemberian pelayanan kesehatan di Indonesia diatur dalam Hukum Kesehatan yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023. Dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tidak menyebutkan secara jelas istilah malpraktik medik atau kelalaian. Tetapi hanya menyebutkan secara umum adanya kesalahan atau pelanggaran disiplin profesi tenaga medik dan tenaga kesehatan pada pasal 304, pasal 306, dan pasal 308. Kesalahan atau pelanggaran medik dalam melaksanakan profesinya dokter sebagai tenaga medik dalam undang-undang ini mengatur bahwa untuk mendukung profesionalitas tenaga medik dan tenaga kesehatan perlu diterapkan penegakan disiplin profesi oleh majelis yang dibentuk oleh menteri.Pelanggaran disiplin tenaga medik atau tenaga kesehatan diatur dalam Pasal 306 ayat (1) yaitu diberikan sanksi berupa peringatan tertulis; kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di penyelenggara pendidikan di bidang kesehatan atau rumah sakit pendidikan terdekat yang memiliki kompetensi untuk melakukan pelatihan tersebut; penonaktifan STR untuk sementara waktu; dan/atau rekomendasi pencabutan SIP.

Berdasarkan pasal 306 ayat 1 tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan akan dikenakan tindakan disiplin oleh Majelis yang menilai dokter telah melakukan kesalahan atau pelanggaran. Sedangkan mengenai ganti rugi sebagai tanggung jawab dokter yang melakukan pelanggaran profesi dalam pelayanan medik diatur juga dalam Pasal 440 yang menyebutkan pada ayat (1) bahwa “Setiap Tenaga Medik atau Tenaga Kesehatan yang melakukan kealpaan yang mengakibatkan Pasien luka berat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3(tiga) tahun atau dipidana denda paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan ayat (2) “Jika kealpaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian, setiap Tenaga Medik atau Tenaga Kesehatan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Tanggung Jawab Hukum Dokter Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran

8 Asmoro, D. P. (2019). Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan Terhadap Pasien. Maksigama, 13(2), 132-133.

(11)

10

Secara umum Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran mengatur beberapa ketentuan yaitua asas dan tujuan penyelenggaraan praktik kedokteran yang menjadi landasan yang menjadi landasan didasarkan pada nilai ilmiah, manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan serta perlindungan dan keselamatan pasien; pembentukan Konsil Kedokteran Indonesia serta susunan organisasi, fungsi, tugas, dan kewenangannya; registrasi dokter; penyusunan, penetapan, dan pengesahan standar pendidikan profesi dokter;

penyelenggaraan praktik kedokteran; pembentukan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia; pembinaan dan Pengawasan praktik kedokteran; pengaturan ketentuan pidana.

Dalam tanggung jawab hukum dokter berdasarkan Undang-Undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran diatur dalam Bab X Ketentuan pidana yang berisi 6 (enam) pasal yang berisi mengenai pelayanan langsung yang diberikan dokter kepada pasien terdapat dalam pasal 79 huruf (c) yang menyebutkan bahwa “dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e. Dimana Pasal 51 yang menyebutkan sebagai berikut Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban yaitu memberikan pelayanan medik sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medik pasien; merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia;

melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Berdasarkan pasal tersebut artinya seorang dokter dapat dijatuhi hukum pidana atas dasar suatu kesengajaan bukan kelalaian dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Tanggung Jawab Dokter Berdasarkan Hukum Administrasi Negara

Dokter dalam pelayanan medisnya memiliki risiko medik yang dapat disebabkan karena kelalaiannya atau kesengajaannya. Dokter yang terbukti melakukan kesalahan dalam melakukan pelayanan medisnya akan terkena sanksi administrasi. Namun, apabila adanya keberatan atas keputusan administrasi, maka dokter yang merasa keberatan dapat mengajukan gugatan kepada Peradilan Tata Usaha Negara. Keputusan yang biasanya diajukan gugatan berupa Teguran atau Pencabutan Izin.

Tanggung Jawab Hukum Rumah Sakit dalam Pelayanan Medis

Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan dan bagian dari sumber daya kesehatan yang mendukung penyelenggaraannya upaya kesehatan bagi setiap orang.

Penyelenggaraan kesehatan oleh rumah sakit yang mempunyai karakteristik dan organisasi kompleks diperlukannya jaminan oleh negara dalam penyediaan fasilitas kesehatan yang layak.

Berbagai komponen pendukung untuk menjamin terlaksananya penyelenggaraanpelayanan kesehatan yang layak oleh rumah sakit seperti tenaga kesehatan bersama dengan perangkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengalami perkembangan pesat. Semakin banyaknya komponen pendukung agar terjaminnya penyelenggaraan kesehatan yang layak maka dibutuhkannya kepastian dan perlindungan hukum untuk meningkatkan, mengarahkan dan memberikan dasar bagi pengelolaan rumah sakit. Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit merupakan bentuk dari kepastian dan perlindungan hukum yang diberikan negara dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit. Di sisi lain, tenaga kesehatan sebagai salah satu komponen utama pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat memegang peranan penting terkait pemberian pelayanan dan mutu kesehatan langsung terhadap pasien. Tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuan yang dimilikinya memiliki pembenaran

(12)

11

oleh hukum yaitu dengan diperbolehkannya melakukan tindakan medis terhadap tubuh manusia sebagai upaya memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatan.

Berbeda dengan tindakan medis terhadap tubuh manusia yang dilakukan oleh bukan tenaga kesehatan maka akan digolongkan sebagai tindak pidana. Seiring berjalannya waktu banyaknya permasalahan yang terjadi dalam pelayanan kesehatan membuat masyarakat kurang mempercayai tenaga kesehatan, masyarakat mengajukan tuntutan hukum kepada tenaga kesehatan akibat kegagalan dalam upaya pelayanan dan penyembuhan kesehatan yang tidak sesuai dengan standar dan prosedur operasional. Selain itu, tenaga medis yang kurang memahami mengenai aspek-aspek hukum dalam menjalankan profesinya di rumah sakit merupakan penyebab timbulnya sengketa medik. Berkaitan dengan hal ini dapat dicegah dengan memberikan pemahaman batasan hak dan kewajiban terhadap tenaga medis, masyarakat dan rumah sakit sebagai fasilitas dalam penyelenggaraanpelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

Adanya tanggung jawab pidana harus jelas kepada siapa tindak pidana dapat dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban pidana dapat kepada subjek tindak pidana.

Pengertian subjek tindak pidana ini berkaitan dengan dua hal, yaitu siapa yang melakukan tindak pidana (pembuat pidana) dan siapa yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana, tetapi tidaklah selalu demikian. Apabila yang melakukan tindak pidana adalah korporasi atau badan hukum, mengenai kedudukan dan cara pertanggungjawabannya, yaitu (Muladi,2010:63): Pengurus Korporasi sebagai pembuat dan pengurus yang bertanggung jawab; Korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggung jawab; dan Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggung jawab. Dasar pertanggungjawaban pemidanaan terhadap rumah sakit bahwa korporasi sendiri tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap suatu pelanggaran, tetapi selalu penguruslah yang melakukan delik itu, sehingga karenanya penguruslah yang diancam pidana dan dipidana. (Roslan Saleh, 1984:50-51).

Korporasi sebagai pembuat dan pengurus tanggungjawab dapat disebut sebagai pembuat. Pengurus ditunjuk sebagai yang bertanggung jawab sedangkan yang dipandang dilakukan oleh korporasi merupakan apa yang dilakukan oleh alat-alat perlengkapan korporasi menurut wewenang dalam anggaran dasar. Sehingga tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang sebagai pengurus dalam badan hukum tersebut. Orang yang memimpin korporasi bertanggung jawab pidana, terlepas apakah ia tahu ataukah tidak tentang dilakukannya perbuatan itu (Roeslan Saleh, BPHN:1984)9

Apabila dikaitkan dengan doktrin Vicarious Liability sebagai doktrin tanggung jawab korporasi dalam hukum pidana, bahwa tanggung jawab dibebankan kepada seseorang atas perbuatan orang lain. Doktrin ini berlaku pada perbuatan orang lain dalam ruang lingkup pekerjaan atau jabatan yang tentunya memiliki hubungan hukum karena pekerjaan tersebut.

Doktrin ini, walaupun seorang subjek hukum tidak melakukan sendiri tindak pidana dan tidak memiliki kesalahan pidana dapat dimintai tanggung jawab pidana korporasi. Doktrin ini berlaku dalam perbuatan pidana yang mengisyaratkan adanya hubungan terapeutik antara pekerja seperti antara dokter dan direktur rumah sakit. Pemidanaan korporasi biasanya menganut pada yang dinamakan “bipunishment provisions” yang berarti baik pelaku maupun korporasi dapat dijadikan sebagai subjek hukum.

Rumah sakit sebagai sebuah korporasi dalam mengatur pelayanan kesehatan dan tenaga

9Buamona, H. (2016). Tanggung Jawab Pidana Korporasi Rumah Sakit. Jurnal Ilmu Hukum Novelty, 7(1), 102- 104.

(13)

12

kesehatan seperti direktur/pimpinan rumah sakit, pemilik serta dokter atau dokter gigi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan merujuk kepada Hospital Bylaws serta Standar Operasional Prosedur sebagai aturan pelaksa. Hospital Bylaws secara tegas mengatur hubungan antara direktur/pemimpin rumah sakit, pemilik dan dokter atau dokter gigi untuk menyelesaikan permasalahan dan memberikan perlindungan hukum khususnya bagi tenaga medis.

Sebagaimana melihat subjek hukum yang terdiri dari orang dan badan hukum /korporasi dalam ajaran hukum pidana menyandang hak dan kewajiban. Atas dasar ini, walaupun rumah sakit sebagai korporasi tidak sebagai pembuat pidana secara langsung, terkait dengan kesalahan tindakan medik oleh dokter atau tenaga medis lainnya terhadap pasien dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Hal ini karena setiap tenaga kesehatan memiliki hubungan hukum dengan rumah sakit dalam pekerjaan sebagai pegawai dan pimpinan. Pertanggungjawaban pidana rumah sakit sebagai korporasi dikuatkan dengan adanya pasal 46 UU Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit yang menyebutkan bahwa rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit.

Pertanggungjawaban rumah sakit berdasarkan perbuatan melawan hukum yang didasarkan hubungan hukum, maka pada prinsipnya dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan rumah sakit bertanggung jawab secara perdata terhadap semua kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai dengan asas dalam penyelenggaraan rumah sakit adanya asas Vicarious Liability. Pertanggungjawaban perdata rumah sakit sebagaimana diatur dalam pasal 1367 (3) KUHPerdata yang menyebutkan bahwa majikan-majikan dan mereka yang mengangkat orang lain untuk mewakili urusan-urusan mereka adalah bertanggung jawab terhadap kerugian yang diterbitkan oleh pelayan-pelayan atau bawahan-bawahan mereka di dalam melakukan pekerjaan untuk mana orang-orang ini dipakainya. Selain itu rumah sakit juga bertanggung jawab atas wanprestasi dan perbuatan melawan hukum yang diatur dalam pasal 1243, pasal 1365, pasal 1370, dan pasal 1371 KUHPerdata.

Pertanggungjawaban rumah sakit berdasarkan hukum administrasi berkaitan dengan kewajiban atau persyaratan administratif yang harus dipenuhi oleh rumah sakit khususnya dalam mempekerjakan tenaga kesehatan di rumah sakit. Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menentukan kewajiban untuk kualifikasi umum dan izin penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Jika rumah sakit tidak memenuhi syarat administatif maka berdasarkan pasal 46 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit dapat dikenakan sanksi berupa teguran tertulis, tidak diperpanjang izin operasional, dan/atau denda dan pencabutan izin.

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM DALAM SENGKETA MEDIK AKIBAT KESALAHAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL DALAM PELAYANAN MEDIS BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1001 K/PDT/2017

Kasus Posisi:

Penggugat: Henry Kurniawan, selaku ahli waris Alm. Santi Mulyasari, berdasarkan Surat Keterangan Waris Nomor 40/Rw 08/10/2012

Tergugat:

1. Dr. Tamtam Otamar Samsudin, SpOG., berpraktik di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre

2. Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (RS MMC) berkedudukan di Jalan HR Rasuna Said Kav. C 20-21 Jakarta Selatan, yang diwakili oleh Dr. Adib A. Yahya, selaku Direktur Utama

3. PT Kosala Agung Metropolitan, berkedudukan di Jalan HR Rasuna Said Kav. C 20-21 Jakarta Selatan, yang diwakili oleh Dr. Robby Tandiari, selaku Direktur Utama

(14)

13 Fakta Hukum:

Almarhumah Santi Mulyasari adalah istri dari Penggugat dan pasien dari Tergugat I yang meninggal dunia akibat kesalahan prosedur pelaksanaan operasi yang terjadi saat menjalani operasi caesar yang dilaksanakan oleh Tergugat I di RS MMC (Tergugat II) pada tanggal 21 April 2011 karena kesalahan Standar Prosedur Operasional (SPO) yang dibuat dan diterapkan Tergugat II. Bahwa pada sekitar September 2010, almarhumah istri penggugat datang berkonsultasi untuk menanyakan mengenai kehamilan keempat apakah masih bisa melahirkan dengan cara caesar mengingat sebelumnya telah melahirkan sebanyak tiga kali secara caesar dan menurut Tergugat I kehamilan keempat dari almarhumah masih bisa dilakukan secara caesar dan Tergugat I tidak menjelaskan mengenai risiko bahaya untuk kelahiran keempat melalui caesar. Setelah mendengar pendapat dan masukan dari Tergugat I maka almarhumah dan penggugat memutuskan melahirkan secara caesar dan melakukan kontrol kehamilan secara rutin kepada Tergugat I di RS MMC (Tergugat II). Bahwa Selama proses kehamilan keempat kehamilan dari istri penggugat tidak pernah ada masalah. Pada tanggal 20 April 2011, penggugat mengantar almarhumah masuk dan menginap di RS MMC (Tergugat II) dikarenakan untuk persiapan melahirkan secara caesar pada tanggal 21 April 2011. Pada malam 20 April 2021, telah dilakukan prosedur pelaksanaan kesehatan sebelum akan melakukan operasi caesar berupa cek kesehatan, tekanan darah, puasa dan sebagainya oleh perawat/suster Tergugat II, dari hasil pemeriksaan kesehatan almarhumah baik Tergugat I maupun perawat/suster Tergugat II tidak menyampaikan bahwa Hemoglobin (HB) pada saat itu hanya 9.1 dan tidak menjelaskan mengenai maksud dan risiko bagi pasien yang akan melakukan operasi apabila HB dikisaran 9.1. Pada tanggal 21 April 2011 pada pukul 08.00 dilakukan secara operasi caesar kepada almarhumah tanpa didampingi oleh Penggugat dan pukul 09.30 diinformasikan kepada penggugat dan keluarganya oleh suster bahwa almarhumah telah melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat. Bahwa tiba-tiba Penggugat dipanggil suster dan diberitahukan almarhumah mengalami pendarahan dan disarankan oleh Tergugat I agar rahim almarhumah diangkat dan meminta tanda tangan persetujuan Penggugat karena Penggugat mempercayai Tergugat I dan kemudian Penggugat menandatangani surat pernyataan menyetujui pengangkatan rahim almarhumah. Setelah itu suster menginformasikan kembali kepada Penggugat bahwa almarhumah memerlukan donor golongan darah B dan Penggugat, ibu kandung almarhumah beserta keponakan penggugat mendonorkan darah. Selain itu pihak Tergugat II yaitu dokter dan staf rumah sakit mendonorkan darah juga kepada almarhumah karena sama sekali tidak ada mempersiapkan darah siap pakai yang sewaktu waktu dibutuhkan dalam menjalani operasi. Setelah semua tindakan medis almarhumah yang kritis dan tim dokter melakukan tindakan kejut jantung sebanyak 2 (dua) kali, almarhumahtidak dapat diselamatkan oleh Tergugat I dan tim dokter Tergugat II. Bahwa pada saat kematian istri Penggugat tersebut baik Tergugat I maupun Tergugat II tidak ada memberikan penjelasanapapun tentang penyebab kematian almarhumah baik kepada Penggugat atau keluarga almarhumah. Bahkan setelah Penggugat berhasil mendapatkan isi resume medis (medical record) yang dibuat dan ditandatangani oleh tergugat I dan dikeluarkan oleh Tergugat II, namun di dalam resume medis tersebut tidak dijelaskan secara rinci penyebab kematian pasien.

Pertanggungjawaban Hukum sebagai Cara Penyelesaian dalam Sengketa Medis

Pertanggungjawaban hukum merupakan cara untuk menentukan penyelesaian sengketa, termasuk sengketa medis. Sengketa medis adalah sengketa yang terjadi antara pasien atau keluarga pasien dengan tenaga kesehatan atau antara pasien dengan rumah sakit/ fasilitas kesehatan. Sengketa medis dapat berupa pelanggaran terhadap undang-undang yang mengatur mengenai pelayanan kesehatan seperti Undang-undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Undang- undang No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit dan pelanggaran yang melanggar peraturan mengenai praktik kedokteran yang diatur dalam Undang-undang Nomor 29 Tahun

(15)

14

2004 tentang praktik kedokteran. Dalam menyelesaikan Sengketa medis di Indonesia dapat dilakukan melalui lembaga Profesi seperti melalui Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan melalui lembaga non-profesi seperti melalui non litigasi seperti Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dan Badan PenyelesaianSengketa Konsumen (BPSK) serta melalui litigasi seperti penyelesaian sengketa perdata dan pidana melalui Peradilan Umum dan penyelesaian sengketa administrasi melalui Peradilan Tata Usaha Negara. Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 1001 K/Pdt/2017, sengketa medis yang terjadi dapat dipertanggungjawabkan kepada (2) dua subjek hukum sebagai berikut:

Pertanggungjawaban Hukum Terhadap Dokter (Tergugat 1) dalam sengketa medis

Tergugat I sebagai dokter yang membantu persalinan pasien dari sebelum hingga setelah operasi.Tergugat I tidak melaksanakan kewajiban hukum yang diharuskan dan telah tidak bersikap teliti dengan kehati-hatian karena tidak menerapkan etika pelayanan kesehatan dan etika profesi serta ketaatan untuk menerapkan/melaksanakan Standar Prosedur Operasi (SPO) Kedokteran dan Standar Prosedur Operasi (SPO) Kesehatan yang benar dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Perbuatan dari Tergugat I tergolong sebagai perbuatan melawan hukum sehingga untuk menyelesaikan sengketanya dapat melalui dua jalur penyelesaian, yaitu:

Pertama, melalui lembaga Profesi Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Tergugat I terbukti melanggar pasal 59 Peraturan KKI Nomor 2 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi maka Tergugat 1 selaku Dokter, Spesialis Obstetri dan Ginekologi; ditemukan pelanggaran disiplin profesi kedokteran sebagaimana diatur dalam Peraturan Konsil Kedokteran Nomor 4 tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi Pasal 3 atau (2) huruf f yaitu tidak melakukan tindakan/asuhan medis yang memadai pada situasi tertentu yang dapat membahayakan pasien yaitu Tergugat I tidak melakukan persiapan operasi dengan baik dan Pasal 3 ayat (2) huruf h yaitu tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis, dan memadai (adequate information) kepada pasien atau keluarganya dalam melakukan Praktik kedokteran, Tergugat I tidak memberikan penjelasan tentang risiko tindakan seksio keempat kalinya.

Sehingga berdasarkan sanksi terhadap pelanggaran Tergugat I sebagai dokter berupa rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR).

Kedua, melalui Peradilan Umum. Akibat kesalahan Tergugat I tersebut telah menyebabkan matinya almarhumah istri Penggugat, sehingga Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III telah dapat dikualifisir telah melakukan perbuatan melawan hukum kepada Penggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata. Perbuatan Tergugat I jelas dilakukan karena tidak mengindahkan atau bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian (PATIHA) dalam melaksanakan tugas sebagai pelayanan kesehatan dan pelayanan kedokteran selaku dokter profesional, sehingga telah melanggar hak subjektif Penggugat, perbuatan tersebut jelas merupakan kesalahan dan pelanggaran yang disengaja oleh Tergugat I sehingga terbukti Tergugat I perbuatan melawan hukum kepada Penggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata yang telah mengakibatkan timbulnya kerugian yang dialami Penggugat baik secara materiil maupun imaterial. Dengan demikian terpenuhinya unsur Pasal 1365 KUHPerdata terhadap Tergugat I maka Tergugat I wajib mengganti kerugian. Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 1001 K/Pdt/2017 , Menghukum Tergugat I dan Tergugat II maupun Tergugat III secara tanggung renteng untuk membayar kerugian imaterial yang diderita Penggugat sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan Tergugat I serta Tergugat II jelas-jelas terbukti telah melakukan perbuatan melawan hukum dan salah serta melanggar Standar Prosedur Operasional (SPO) Kedokteran dan Standar Pelayanan Kesehatan yang benar dan seharusnya.

(16)

15

Pertanggungjawaban Hukum Terhadap Rumah Sakit (Tergugat II dan Tergugat III) dalam Sengketa Medis Tergugat II dan Tergugat III bahwa sesuai misinya RS MMC telah membuktikan dengan pelayanan profesional di bidangnya tersebut diatas, terbukti tidak benar karena Standar Prosedur Operasional (SPO) yang dibuat dan dimiliki oleh Tergugat II dan Standar Pelayanan Kedokteran yang dilaksanakan oleh Tergugat I bertentangan dengan ketentuan Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Jo Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter Dan Dokter Gigi juncto Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1438/Menkes/Per/IX/ 2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran Pasal 1 (1), Pasal 2 butir a dan b, Pasal 3. Oleh karena jelas dan nyata perbuatan melawan hukum yang telah dilakukan Tergugat I terhadap istri Penggugat adalah dalam rangka melaksanakan pekerjaan sebagai dokter praktik pada Tergugat II, dimana Tergugat II dimiliki oleh Tergugat III, maka penyelesaikan sengketa dapat dilakukan melalui jalur litigasi sehingga Tergugat II dan Tergugat III harus bertanggung jawab secara tanggung renteng dengan Tergugat I mengganti kerugian yang dialami Penggugat vide ketentuan Pasal 1367 KUHPerdata juncto Pasal 58 (1, 2, 3) Undang Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2006 juncto Pasal 46 Undang Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Selain itu, akibat kesalahan Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III tersebut telah menyebabkan matinya almarhumah istri Penggugat, sehingga Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III telah dapat dikualifisir telah melakukan perbuatan melawan hukum kepada Penggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata. Dengan demikian terpenuhinya unsur Pasal 1365 KUHPerdata terhadap Tergugat II dan Tergugat III maka Tergugat II dan Tergugat III wajib mengganti kerugiaan

Standar Prosedur Operasional (SPO) yang salah yang dibuat dan diterapkan oleh Tergugat II tidak diawasi oleh Tergugat III selaku pemilik Tergugat II yang seharusnya melakukan pengawasan terhadap kegiatan pelayanan kesehatan dan Praktik kedokteran yang dilakukan oleh Tergugat II dan Tergugat I, dan SPO tersebut di praktik kan oleh Tergugat I pada saat melaksanakan operasi caesar kepada almarhumah padahal selaku dokter spesialis yang profesional sebagaimana misi Nomor 1 Tergugat II yaitu mengembangkan insan rumah sakit yang etikal dan professional “quod non’ tentu Tergugat I mengetahui bahwa Standar Prosedur Operasional (SPO) pelayanan kedokterannya dan pelayanan kesehatan yang salah tersebut dapat menyebabkan hilangnya nyawa atau kematian pada pasien, namun Tergugat III lalai mengawasi Tergugat II; Kesalahan atau kelalaian Tergugat III yang tidak mengawasi Tergugat II dan Tergugat I dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan dan Praktik kedokteran dan juga tidak mengawasi apakah visi dan misi RS MMC (Tergugat II) dijalankan dengan baik atau tidak oleh Tergugat II dan Tergugat I yang merupakan tanggung jawab Tergugat III selaku pemilik Tergugat II dimana Tergugat I berpraktik adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 1367 KUHPerdata; Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 1001 K/Pdt/2017 , Menghukum Tergugat I dan Tergugat II maupun Tergugat III secara tanggung renteng untuk membayar kerugian imaterial yang diderita Penggugat sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

PENUTUP

Kesimpulan dari penulisan ini adalah, pertama dalam pelayanan medis terjadinya hubungan antara subjek hukum kesehatan yaitu hubungan antara dokter dengan pasien, hubungan pasien dengan rumah sakit dan hubungan dokter dengan rumah sakit. Hubungan yang menjadi pusat dari pelayanan kesehatan adalah hubungan dokter dengan pasien. Kedua, Hubungan dokter dengan pasien seiring berkembangnya zaman bukan hanya sebatas kepercayaan, namun berdasarkan perjanjian dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Hubungan hukum yang terjadi menimbulkan hak dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh masing-masing pihak.Ketiga, Dalam

(17)

16

penyelenggaraan pelayanan kesehatan perlunya pertanggungjawaban hukum dari setiap pihak.

Putusan Mahkamah Agung Nomor 1001 K/Pdt/2017 memberikan tanggung jawab hukum kepada dokter dan rumah sakit yang berdasarkan aspek hukum pidana dan hukum perdata sehingga apabila terjadi sengketa medis, rumah sakit dapat menjadi subjek hukum yang dimintai pertanggung jawaban secara hukum yang merugikan pasien. Berdasarkan tujuan penulisan ini, saran dari penulis sebagai berikut. Pertama setiap subjek hukum dalam pelayanan kesehatan harus lebih memahami mengenai hak dan kewajibannya dalam hubungan agar terjadinya pelaksaan pelayanan kesehatan yang adil bagi setiap subjek hukum kesehatan.

Kedua, setiap subjek hukum kesehatan harus mematuhi kewajibannya menghindarinya sengketa medis yang berujung terhadap pertanggungjawaban hukum berupa hukum pidana, hukum perdata maupun hukum administrasi. Ketiga, setiap sengketa medis dapat diminta pertanggungjawaban terhadap subjek hukum yang melakukan kesalahan sesuai dengan unsur dalam hukum serta pertanggungjawaban hukum dapat dilakukan melalui jalur profesi seperti Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan non profesi melalui jalur non litigasi seperti arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa dan jalur litigasi seperti pengadilan umum atau pengadilan tata usaha negara.

REFERENSI

Asmoro, D. P. (2019). Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan Terhadap Pasien.

Maksigama, 13 (2)

Buamona, H. (2016). Tanggung Jawab Pidana Korporasi Rumah Sakit. Jurnal Ilmu Hukum Novelty, 7(1) Dr. Fence M. Wantu, S. M. (2015). Pengantar Ilmu Hukum. Yogyakarta: Reviva Cendekia

Kitab Undang-undang Hukum Perdata Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Nugroho, D. A. (2018). Perjanjian Terapeutik Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Dokter. Jurnal Untag Surabaya

Paendong, K., & Taunaumang, H. (2022). Kajian Yuridis Wanprestasi Dalam Perikatan dan Perjanjian Ditinjau Dari Hukum Perdata. Journal Unsrat

Suryono, A. (2010). Kajian Yuridis Hubungan Antara Dokter Dengan Pasien Menurut Undang-undang Praktik Kedokteran. Serambi Hukum, 04(02)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

Vionalita, G. (2020, September). Sistem Kesehatan Nasional. Universitas Esa Unggul:

https://lmsparalel.esaunggul.ac.id/pluginfile.php?file=%2F97757%2Fmod_resource%2Fcontent%2F1%

2F12_7211_KMS235_122018.pdf

Wahyu Andrianto, S. M. (2021, Februari 26). Tanggung Jawab Hukum Rumah Sakit di Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Indonesia: https://law.ui.ac.id/tanggung-jawab-hukum-rumah-sakit-di-indonesia-oleh- wahyu-andrianto-s-h-m-h/

Referensi

Dokumen terkait