• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARL MARX PENGERTIAN KETENAGAKERJAAN

N/A
N/A
Mentari Purba

Academic year: 2025

Membagikan "KARL MARX PENGERTIAN KETENAGAKERJAAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KARL MARX:

PEMIKIRAN KARL MARX DAN RELEVANSINYA DALAM KONTEKS SOSIAL POLITIK INDONESIA

Oleh:

Mentari Syahputri Purba

(Ilmu Ekonomi, FEB, Universitas Padjadjaran)

Abstrak: Teori teori Karl Max telah lama menimbulkan kontroversi, khususnya mengenai kritik terhadap teori politik dan ekonominya. Jika dikaji lebih kritis, teori Karl Max memang benar bahwa teori Masyarakat yang ideal. Sebab dalam teori ini Marx justru menekankan perlunya pemerataan ekonomi, keadilan social yang meluas keseluruh lapisan Masyarakat, dan tidak adanya kelas kelas dalam Masyarakat.

Pendahuluan:

Orang orang yang mempelajari ilmu social atau sosiologi mungkin pernah atau bahkan sering mendengar nama Karl Marx.

Karl Marx adalah seorang tokoh fenomenal abad ke 19, ia merupakan bapak pendiri Marxisme. Ide idenya membentuk Sejarah perubahan dunia yang masih dirasakan diseluruh dunia hingga saat ini. Misalnya saja beberapa revolusi besar yang secara langsung, maupun tidak langsung dipengaruhi oleh gagasannya, seperti revolusi yang terjadi di Rusia pada tahun 1917, Revolusi di Tiongkok pada tahun 1940 an, dan Revolusi di Indonesia pada tahun 1945, dan di berbagai negara bekas jajahan lainnya seperti di Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

Dibeberapa Negara, terutama di Negara yang kurang berkembang, teori marx masih sering dijadikan symbol perlawanan kelompok yang tertindas, miskin, terutama terhadap hegemoni kapitalis dan penguasa yang menindas. Di dunia akademis, gagasannya bahkan bisa mengkritik teori teori besar lainnya, termasuk teori agama.

Teori kelas sosial Marx telah membantu kita memahami bahwa masyarakat terbagi menjadi dua kelas utama, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis adalah pemilik modal dan alat-alat produksi, sedangkan kelas proletar adalah pekerja yang menjual tenaga kerjanya kepada kelas borjuis. Pemahaman ini penting untuk kita miliki agar dapat menganalisis dan memahami berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.

(2)

Teori bagaimanapun ilmiahnya bukanlah sesuatu yang absolut dan mutlat kebenarannya. Itulah sebabnya dalam sepanjang Sejarah teori teori selalu silih berganti, karena setiap teori adalah anti tesa dari teori sebelumnya. Seperti dikatakan Hegel bahwa segala sesuatu didunia ini mengalami dialektikanya, demikian juga halnya dengan teori. Kebenaran suatu teori juga sangat relative, masing masing memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri. Persoalannya seperti halnya dengan berbagai teori Karl Marx, meskipun mengandung sejumlah kelemahan dan banyak ditolak, tetapi dalam beberapa hal justru masih cukup relevan untuk menganalisis kehidupan Masyarakat kini.

Siapakah Karl Max?

Karl Marx adalah seorang filsuf, ekonom, sejarawan, pembuat teori politik, sosiolog, jurnalis dan sosialis revolusioner asal Jerman. Karl Marx lahir di kota Trier di distrik Moselle, Prussian Rhineland, Jerman, yaitu pada tanggal 5 Mei 1818. Karl Marx lahir di Trier dalam keluarga kelas menengah, publikasi politik Marx

membuatnya tidak memiliki

kewarganegaraan dan dia tinggal di pengasingan di London, di mana dia mengembangkan lebih lanjut ide idenya dan

ikut menebirtkan di ruang baca British Museum. Karyanya yang paling terkenal adalah pamflet tahun 1848, Manifesto Komunis, dan karya tiga volume Das Kapital. Ide ide politik dan filosofinya kemudian mempengaruhi Sejarah intelektual, ekonomi, dan politik, dan Namanya digunakan sebagai adjektif, pengucapan, dan aliran teoru social.

Kepribadian Marx sangat berbeda dengan ayahnya. Meskipun Marx sangat berbeda dengan ayahnya. Meskipun Marx berbakat secara intelektual, dia keras kepala, kasar, dan agak kasar, dan jarang mengutamakan perasaannya sendiri. Saat Marx berumur 18 tahun, setelah belajar hukum selama setahun di Universitas Berlin.

Marx mempelajari gagasan Hegel di Universitas Berlin. Meskipun Hegel telah meninggal pada saat itu, semangat dan filsafat yang diwarisinya tetap diminati dan mendominasi pemikiran filsafat dan social Eropa. Sebelum mempelajari gagasan dan ciri ciri Hegel, Marx mempelajari gagasan dan filsafat Emmanuel Kant, bahwa manusia bermula dari kesempurnaan (the holy spirit of God) namun kemudian memasuki dunia yang kotor dan tidak murni yang penuh keterbatasan.

(3)

Sampai pada tahun 1844, Marx sangat dipengaruhi oleh gagasan Hegel.

Hegel beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada didunia dan Masyarakat bersifat kontradiktif sehingga menimbulkan sintesa, dan semua yang ada selalu mengalami dialektika. Tapi kemudian Marx berubah, percaya bahwa ide ide Emmanuel Kant dan Hegel terlalu idealis dan sulit untuk dicapai.

Kaum sosialis Perancis seperti St.Simon dan Proudhon mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Marx, begitu pula kaum revolusioner seperti Blanqui (Johnson, 1986). Interaksinya dengan berbagai intelektual penting, radikal, dan revolusioner di Paris-lah yang kemudian membawanya untuk peduli terhadap pekerja dan rakyat yang tertindas. Kekhawatiran ini menjadi nyata ketika Marx menolak sistem kapitalisme yang berlaku dan berupaya menggantinya dengan sistem sosialis.

Menurut Karl Marx, perluasan sistem kapitalis mengancam kondisi material dan sosial yang nyata serta tingkat kesadaran sosial kelas buruh. Kritik dan semangat yang mendasari Marx terhadap sistem kapitalis berasal dari filosofi moral keadilan sosial dan ekonomi.

Berdasarkan pemikiran kritis Marx tentang sistem kapitalis, hal inilah yang

menjadi titik awal perlawanan Marx terhadap sistem kapitalis. Dalam perjuangannya melawan sistem kapitalis, Marx menulis beberapa di antaranya sebagai berikut: “Economic and Philoshopical”.

Ilmu Ekonomi dan Filsafat dalam bentuk naskah yang berisi analisisnya mengenai ilmu ekonomi dan filsafat.

Karya lain yang menjadi prinsip dalam hidupnya diterjemahkan dalam tylisan yang diberi judl The Germany Ideology yang membahas masalah materialism historis.

Kemudia pada tahun 1857 Marx menulis suatu pernyataan yang menjadi program teoritis sebuah organisasi, yang diberinya judul Manifesto Komunis. Dalam perjuangannya yang tak kenal menyerah Marx terus menuangkan pemikirannya dalam karya yang bertajuk The Class Struggles in France and The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte yang sesungguhnya sebuah essai. Karya yang paling menonjol dari Marx adalah Das Kapital yang menjelaskan kontradiksi internal dalam system kapitalis.

Karya lain yang menjadi prinsip hidupnya diterjemahkan ke dalam teks berjudul The Germany Ideology yang membahas permasalahan materialisme sejarah. Dan pada tahun 1857, Marx menulis

(4)

sebuah pernyataan yang menjadi rencana teoretis organisasi tersebut dan disebutnya

“Manifesto Komunis”. Dalam

perjuangannya yang tiada henti, Marx terus menuangkan ide-idenya dalam karya berjudul “The Class Struggles in France and The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” yang sebenarnya merupakan esai. Karya Marx yang paling penting adalah Das Kapital, yang menjelaskan kontradiksi internal sistem kapitalis.

Dasar Pemikiran Marx Tentang Sosialisme

Ide-ide Marx tentang sosialisme muncul dari kondisi politik yang represif di Prusia dan Jerman, yang pada saat itu merampas kebebasan masyarakat. Era di mana kebebasan manusia diberantas, dimulai dengan kondisi politik Prusia dan Jerman yang represif. Berdasarkan situasi politik yang menindas ini, Marx mengembangkan konsep sosialisme, dan meyakininya sebagai cara yang efektif untuk melawan kapitalisme sekaligus memulihkan kebebasan manusia.

Ide dasarnya dirumuskan sebagai berikut: Pertama, bagaimana kita membebaskan rakyat dari penindasan sistem politik yang reaksioner? Kedua, bagaimana

kita menghilangkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri? Marx menyimpulkan bahwa keterasingan yang paling mendasar adalah proses kerja manusia. Namun, sistem kapitalis menjungkirbalikkan makna kerja dan mengubahnya menjadi alat eksploitasi.

Ketiga, pengaruh dominasi manusia hanya dapat dihilangkan jika kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dihapuskan melalui revolusi buruh. Keempat, fokus pada hak- hak individu harus dihapuskan.

Penghapusan ini hanya dapat dicapai dengan memperkenalkan sistem sosialis.

Marx berpendapat bahwa

sosialismenya adalah sosialisme ilmiah, yang tidak hanya didasarkan pada cita-cita moral tetapi juga pada pengetahuan ilmiah tentang hukum-hukum pembangunan sosial.

Bagi Marx, faktor penentu sejarah bukanlah politik atau ideologi, melainkan ekonomi.

Seiring berjalannya waktu, seiring dengan berkembangnya metode produksi, struktur kepemilikan lama akan menjadi hambatan bagi kemajuan. Dalam keadaan seperti itu terjadilah revolusi sosial yang memunculkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi.

Kelima, hal ini harus dicapai melalui revolusi buruh, yang secara otomatis menghapuskan hak milik pribadi atas alat- alat produksi dan menciptakan masyarakat

(5)

tanpa kelas atau classless society (suseno, 2001).

Tema besar dalam pemikiran Marx sebenarnya berkisar pada konsep kritik terhadap ekonomi politik. Kritik terhadap ekonomi politik ini membawa Marx pada kritik filosofis terhadap pembagian kerja.

Arah yang diinginkan adalah kembali ke masa lalu dan mempertanyakan pembentukan pandangan umat manusia sebagai satu kesatuan sebelum munculnya industrialisasi, yaitu sebagai spesies yang tidak mengenal keterasingan dan berada dalam kondisi terpecah belah dan dikalahkan oleh kapitalisme. Keterasingan, yaitu perpecahan antara umat manusia dan bagian-bagiannya, hanya terjadi dalam peradaban kapitalis.

Arah tersembunyi dari diskusi ini adalah perlunya emansipasi humanistik atau proletar, yang secara bertahap ditekankan oleh Marx ketika ia memasuki labirin ekonominya sendiri. Dalam emansipasi ini terdapat konflik antara kepentingan politik, ideologi, dan agama, antara struktur yang mapan dengan budaya yang berkembang, sistem nilai, ideologi dan agama, serta antara penguasa dan rakyat, pengusaha.Tidak dapat disangkal bahwa terdapat konflik antara

pekerja dan pekerja, pelanggan dan pelanggan.

Asumsi dasar ilmiah inilah yang mengatur pemikiran Marx dalam melaksanakan perubahan sosial pada masyarakat yang tertindas oleh sistem kapitalis otoriter.

Pemikiran Karl Marx tentang Pertentangan Kelas

Pemikiran Karl Marx tentang pertentangan kelas didasarkan pada pemikiran bahwa segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah pertikaian antara golongan. Menurut pandangannya, masyarakat mempunyai perbedaan-perbedaan fundamental antara golongan yang bertikai di dalam mengejar kepentingannya masing-masing.

Marx membagi masyarakat menjadi dua kelas utama, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis adalah kelas pemilik modal, sedangkan kelas proletar adalah kelas buruh. Kedua kelas ini memiliki kepentingan yang saling bertentangan. Kelas borjuis memiliki kepentingan untuk mengeksploitasi kelas proletar guna mendapatkan keuntungan.

Kelas proletar, di sisi lain, memiliki

(6)

kepentingan untuk membebaskan diri dari eksploitasi kelas borjuis.

Marx berpendapat bahwa

pertentangan kelas ini merupakan kekuatan pendorong perubahan sosial. Pertentangan kelas akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan sistem kapitalisme.

Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya eksploitasi kelas borjuis terhadap kelas proletar. Marx meramalkan bahwa pertentangan kelas ini akan bermuara pada revolusi proletariat. Revolusi proletariat adalah revolusi yang dilakukan oleh kelas proletar untuk menggulingkan kelas borjuis dan membangun masyarakat sosialis.

Dalam masyarakat sosialis, tidak ada lagi pertentangan kelas. Semua orang akan bekerja sesuai dengan kemampuannya dan menerima hasil kerja sesuai dengan kebutuhannya.

Berikut adalah beberapa poin penting dari pemikiran Marx tentang pertentangan kelas:

a. Pertentangan kelas adalah kekuatan pendorong perubahan sosial.

b. Pertentangan kelas akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan sistem kapitalisme.

c. Revolusi proletariat adalah revolusi yang dilakukan oleh kelas proletar untuk menggulingkan kelas borjuis dan membangun masyarakat sosialis.

Pemikiran Marx tentang

pertentangan kelas telah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan pemikiran sosial dan politik.

Pemikiran ini telah menjadi dasar bagi gerakan-gerakan sosialis dan komunis di seluruh dunia.

Pandangan Karl Marx tentang Kapitalisme

Karl Marx adalah seorang filsuf, ekonom, dan sosiolog Jerman yang lahir pada tahun 1818. Ia adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran sosial dan politik. Karya-karyanya, terutama Das Kapital, telah menjadi dasar bagi teori sosialisme dan komunisme.

Pertentangan kelas dalam pemikiran Karl Marx adalah konsep yang mendasar dalam pemikiran ekonomi Marxisme.

Menurut Marx, masyarakat terbagi menjadi dua kelas utama, yaitu proletariat (kelas pekerja) dan bourgeoisie (kelas pemilik modal). Marx percaya bahwa pertentangan antara kelas pekerja dan kelas pemilik modal merupakan unsur yang esensial dalam sistem kapitalisme. Pertentangan kelas

(7)

terjadi karena perbedaan kepentingan ekonomi antara proletariat dan bourgeoisie.

Proletariat adalah kelas yang hanya memiliki tenaga kerja mereka sendiri sebagai sumber penghasilan, sedangkan bourgeoisie adalah kelas yang memiliki kepemilikan atas sumber daya produksi, seperti tanah, modal, dan perusahaan.

Kepentingan kelas pekerja adalah memperoleh upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik, sementara kepentingan kelas pemilik modal adalah

memaksimalkan keuntungan dan

mempertahankan kontrol atas produksi.

Pertentangan kelas menurut Marx tidak hanya berlangsung dalam ranah ekonomi, tetapi juga mempengaruhi seluruh aspek kehidupan sosial, mencakup dimensi politik, budaya, dan ideologi.

Pandangan Karl Marx tentang kapitalisme dilandasi oleh analisisnya tentang nilai. Marx berpendapat bahwa nilai suatu barang tidak ditentukan oleh biaya produksinya, melainkan oleh jumlah tenaga kerja yang terkandung di dalamnya. Tenaga kerja adalah satu-satunya faktor produksi yang unik, karena hanya tenaga kerjalah yang mampu menciptakan nilai baru.

Dalam sistem kapitalisme, kaum kapitalis memiliki kepemilikan atas alat-alat

produksi, sedangkan kaum buruh hanya memiliki tenaga kerja mereka. Kaum kapitalis membeli tenaga kerja kaum buruh dengan upah, dan kemudian menggunakan tenaga kerja tersebut untuk menghasilkan barang atau jasa. Marx berpendapat bahwa kaum kapitalis mengeksploitasi kaum buruh dengan membayar mereka upah yang lebih rendah daripada nilai produk yang mereka hasilkan. Nilai lebih adalah perbedaan antara nilai produk yang dihasilkan oleh kaum buruh dan upah yang mereka terima.

Marx juga berpendapat bahwa kapitalisme dicirikan oleh persaingan yang semakin meningkat. Dalam persaingan ini, kaum kapitalis berusaha untuk meningkatkan keuntungan mereka dengan cara mengurangi upah, memperpanjang jam kerja, dan meningkatkan produktivitas. Hal ini menyebabkan kaum buruh hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Marx memprediksi bahwa kapitalisme akan runtuh karena kontradiksi-kontradiksi internalnya.

Kontradiksi-kontradiksi ini antara lain:

a. Eksploitasi kaum buruh oleh kaum kapitalis.

b. Persaingan yang semakin meningkat.

c. Kemiskinan dan kesengsaraan kaum buruh.

(8)

Marx percaya bahwa kapitalisme akan digantikan oleh sistem sosialis, di mana alat-alat produksi dimiliki dan dikendalikan secara bersama-sama oleh masyarakat. Berikut adalah beberapa kritik spesifik Karl Marx terhadap kapitalisme:

Eksploitasi kaum buruh: Marx berpendapat bahwa kaum kapitalis mengeksploitasi kaum buruh dengan membayar mereka upah yang lebih rendah daripada nilai produk yang mereka hasilkan.

Persaingan yang semakin meningkat:

Marx berpendapat bahwa persaingan yang semakin meningkat dalam kapitalisme menyebabkan kaum buruh hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.

Alienasi: Marx berpendapat bahwa kapitalisme menyebabkan kaum buruh teralienasi dari kerja mereka. Hal ini karena kaum buruh tidak memiliki kendali atas proses produksi dan tidak merasakan kepuasan dari pekerjaan mereka.

Kritik Atas Pemikiran Konflik Karl Marx

Salah satu asumsi dasar teori konflik Marx adalah bahwa konflik kelas adalah kekuatan penggerak utama perubahan sosial.

Asumsi ini telah dikritik oleh para ahli sosiologi karena dianggap terlalu menyederhanakan realitas sosial. Mereka

berpendapat bahwa konflik sosial tidak hanya terjadi di antara kelas-kelas sosial, tetapi juga dapat terjadi di antara kelompok- kelompok sosial lainnya, seperti ras, agama, atau gender. Selain itu, konflik sosial tidak selalu mengarah pada perubahan sosial, tetapi dapat juga mengarah pada integrasi sosial.

Asumsi dasar lain dari teori konflik Marx adalah bahwa konflik kelas terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara kelas borjuis dan kelas proletariat. Asumsi ini juga telah dikritik oleh para ahli sosiologi karena dianggap terlalu kaku. Mereka berpendapat bahwa kepentingan kelas bukanlah sesuatu yang statis, tetapi dapat berubah seiring dengan perubahan kondisi sosial. Selain itu, kepentingan kelas tidak selalu bersifat antagonis, tetapi dapat juga bersifat komplementer.

Marx menyimpulkan bahwa konflik kelas akan mengarah pada revolusi proletariat dan terciptanya masyarakat komunis. Kesimpulan ini juga telah dikritik oleh para ahli sosiologi karena dianggap terlalu spekulatif. Mereka berpendapat bahwa tidak ada jaminan bahwa konflik kelas akan mengarah pada revolusi proletariat. Selain itu, masyarakat komunis yang dicita-citakan oleh Marx juga dianggap

(9)

tidak realistis. Berikut adalah beberapa contoh kritik terhadap pemikiran konflik Marx:

Doyle P. Johnson berpendapat bahwa konflik kelas tidak hanya terjadi di antara kelas borjuis dan kelas proletariat, tetapi juga dapat terjadi di antara kelompok- kelompok sosial lainnya, seperti ras, agama, atau gender. Magnis Suseno berpendapat bahwa kepentingan kelas bukanlah sesuatu yang statis, tetapi dapat berubah seiring dengan perubahan kondisi sosial. Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa konflik sosial tidak selalu mengarah pada perubahan sosial, tetapi dapat juga mengarah pada integrasi sosial. Kritik-kritik terhadap pemikiran konflik Marx telah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan teori sosial. Kritik-kritik tersebut telah membantu untuk mempertajam dan memperkaya teori konflik Marx.

Pemikiran Karl Marx terhadap Perubahan Sosial

Karl Marx melihat perubahan sosial sebagai suatu proses yang dialektis, yaitu suatu proses yang terjadi secara terus- menerus dan saling bertentangan. Menurut Marx, perubahan sosial terjadi karena adanya pertentangan antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat.

Marx membagi masyarakat menjadi dua kelas sosial utama, yaitu kelas pemilik modal atau alat-alat produksi (borjuis) dan kelas pekerja atau buruh (proletariat). Kedua kelas sosial ini memiliki kepentingan yang saling bertentangan. Kelas borjuis memiliki kepentingan untuk memaksimalkan keuntungan, sedangkan kelas proletariat memiliki kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Pertentangan antara kedua kelas sosial ini akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi atau kekuatan produktif. Perkembangan teknologi akan menyebabkan perubahan dalam hubungan produksi, yaitu hubungan antara pemilik modal dan pekerja.

Hubungan produksi yang berubah akan menyebabkan perubahan dalam pembagian hasil produksi. Kelas borjuis akan semakin kaya, sedangkan kelas proletariat akan semakin miskin. Teori konflik ini kemudian memunculkan apa yang dinamakan sebagai perspektif konflik. Perspektif ini melihat masyarakat sebagai sesuatu yang selalu berubah, terutama sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha menjaga dan meningkatkan posisinya. Dalam mencapai tujuannya, suatu kelompok seringkali harus mengorbankan kelompok lain. Karena itu konflik selalu muncul, dan kelompok yang tergolong kuat

(10)

setiap saat selalu berusaha meningkatkan posisinya dan memelihara dominasinya.

Pada akhirnya, pertentangan antara kelas borjuis dan proletariat akan mencapai titik puncaknya, yaitu revolusi sosial.

Revolusi sosial adalah suatu proses perubahan sosial yang terjadi secara cepat dan revolusioner. Revolusi sosial akan menyebabkan terciptanya masyarakat baru, yaitu masyarakat sosialis. Dalam masyarakat sosialis, tidak ada lagi kelas-kelas sosial.

Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Masyarakat sosialis adalah masyarakat yang adil dan sejahtera. Berikut adalah beberapa konsep penting dalam pemikiran Karl Marx tentang perubahan sosial:

a. Dialektika adalah suatu proses yang terjadi secara terus-menerus dan saling bertentangan.

b. Kelas sosial adalah suatu kelompok orang yang memiliki kepentingan yang sama.

c. Kekuatan produktif adalah sarana- sarana yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa.

d. Hubungan produksi adalah hubungan antara pemilik modal dan pekerja.

e. Revolusi sosial adalah suatu proses perubahan sosial yang terjadi secara cepat dan revolusioner.

Pemikiran Karl Marx tentang perubahan sosial telah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan pemikiran sosial dan politik di dunia. Pemikiran Marx telah menginspirasi gerakan-gerakan sosialis dan komunis di berbagai negara.

Penutup

Teori Karl Marx merupakan seperangkat gagasan sosial, ekonomi, dan politik yang dikenal secara kolektif sebagai Marxisme.

Teori Marx secara grafis besarnya saja, dapat dikatakan bahwa Marx menawarkan sebuah teori tentang masyarakat kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat mendasar manusia. Teori Marx adalah bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas dan bahwa kapitalisme, sistem ekonomi yang hingga saat ini mendominasi dunia, pada akhirnya akan runtuh dan digantikan oleh sosialisme, sistem ekonomi yang lebih adil dan merata dan tidak adanya kelas kelas sosial.

Daftar Pustaka

(11)

Permata, H. (2011). FILSAFAT DAN KONSEP NEGARA MARXISME Oleh:

Harsa Permata 1. Jurnal Filsafat, 21(3), 4–5 Pohan, I. A., Talitha, T., & Yudia, Y. (2018).

Eksplorasi Kontemporer Konsep Keadilan Karl Marx. DIALEKTIKA: Jurnal Ekonomi dan Ilmu Sosial, 3(2), 19–33.

https://doi.org/10.36636/dialektika.v3i2.149 Andi Muawiyah Ramly, 2000, Peta Pemikiran Karl Marx: Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis, Yogyakarta: LKiS.

Anthony Giddens. Kapitalis medanTeori Sosial Modern: Suatu Analisis Terhadap Karya Tulis Marx Durkheim dan Max Weber, Terj. Soeheba Kramadibrata. Jakarta:

Universitas Indonesia Press. 1986

Ana Mariani, Karl Marx dan Imajinasi Sosialisme, dalam Filsafat Sosial.

Yogyakarta: Aditya Media. 2013.

Arisandi, Herman. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD. 2015.

Wirawan, I.B. Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial. Jakarta: Prenada Media Group. 2015.

Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Karl Marx, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Zainudin Maliki, Narasi Agung:Tiga Teori Sosial Hegemonik, Surabaya: Lpam, 2003 Andi Muawiyah Ramli, Peta Pemikiran Karl Marx: Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis, Yogyakarta: Lkis, 2000

Ruslan, Ismail. 2005. Paradigma Teori Konflik: Telaah Kritis Teori Konflik Marx, Jurnal Refleksi, Kajian Ilmiah Ilmu Sosial dan Kemasyarakatan, Unpad, Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Nilai Guna dan Nilai Kerja yang dipaparkan Marx dalam menganalisis timbulnya keterasingan individu manusia, juga merupakan hasil kritik terhadap pemikiran David Ricardo, yang

Pandangan Marx yang menyatakan bahwa keberadaan manusia ditentukan atau dikondisikan oleh realitas material yang berada di luar jangkauan kesadaran, dan pada saat yang sama

“Hukum” Say yang berarti bahwa penawaran menciptakan permintaannya sendiri, dan bahwa oleh karenanya tidak pernah ada over-produksi umum, sangat mendominasi ilmu ekonomi burjuis

Das Kapital pun ditulis dan dipublikasikan oleh Engels setelah Marx meninggal dunia. 48-49) Dari perjalanan historisnya, tampak bagaimana kondisi masyarakat,

Marx menawarkan preposisi dasar dalam proses teoretisasi sebagai implikasi ideologi normatif yang dimilikinya, antara lain melalui perbedaan kelas sosial yang dikritik

Karl Marx memberikan analisa tajamnya yaitu bahwa manusia terpaksa dan puas dengan perealisasian diri dalam agama saja karena keadaan masyarakat tidak mengijinkannya

Oleh karenanya, penulis merasa perlu mengaplikasikan gagasan Karl Marx dalam mengkritisi ideologi kapitalisme dengan melihat beberapa tokoh utama berdasarkan alur

Bagi Marx, revolusi sosial adalah proses yang tidak bisa dihindari, dan hanya dengan perubahan dalam cara produksi, dunia akan mencapai kondisi yang lebih adil dan merata.. Kaum