• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH “Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak di Kota Baubau”

N/A
N/A
Nurhidayah Hatma

Academic year: 2024

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH “Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak di Kota Baubau” "

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

2

KARYA TULIS ILMIAH

“Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak di Kota Baubau”

Disusun Oleh :

NURHIDAYAH HATMA 1912040008

PENDIDIKAN FISIKA B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2019-2020

(2)

2 KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga penulisan karya tulis ini dapat terselesaikan dengan waktu yang telah ditentukan.

Karya tulis dengan judul “ Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak di Kota Baubau” ini bertujuan untuk memenuhi tugas final mata kuliah Profesi Keguruan. Namun demikian, dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan dan pemilihan kata yang kurang tepat. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Wa’salammu’alaikum.Wr.Wb.

Baubau, 5 Juni 2020

Penulis

(3)

2 DAFTAR ISI

SAMPUL... i

KATA PENGANTAR......ii

DAFTAR ISI......iii

ABSTRAK......iv

BAB I PENDAHULUAN......1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...2

C. Tujuan Penulisan...2

D. Manfaat Penulisan...2

E. Metode Penelitian...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......4

BAB III PEMBAHASAN......5

A. Asal Mula Falsafah Binci – Binciki Kuli...5

B. Proses Penanaman Nilai – Nilai Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak Di Kota Baubau...6

C. Faktor Yang Mempengaruhi Penanaman Nilai – Nilai Falsafah Binci – Binciki Kuli...8

BAB III PENUTUP.....11

A. Kesimpulan...11

B. Saran...11

DAFTAR PUSTAKA.....12

(4)

2 ABSTRAK

Nurhidayah Hatma, 2020. Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak di Kota Baubau. Dibimbing oleh dosen mata kuliah Profesi Keguruan.

Universitas Negeri Makassar. Dalam rangka memenuhi tugas final mata kuliah profesi keguruan.

Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak di Kota Baubau adalah judul yang saya angkat dalan penulisan karya ilmiah ini. Binci – binciki kuli merupakan salah satu falsafah di Kota Baubau, pemaknaan lebih lanjut tentang falsafah ini tertuang dalam empat syarat kerukunan dan persaudaraan atau yang biasa disebut sara pataanguna yang terdiri dari Po Ma-masiaka, Po Pia-piara, Po Mae-maeaka, dan Po Angka-angkataka. Falsafah Binci – Binciki Kuli merupakan salah satu kearifan lokal yang ada dibaubau yang memuat nilai-nilai budaya yang sarat makna dalam kehidupan masyarakat Buton dimana nilai – nilai budaya tersebut menjadi cara berpikir dan bertindak semua orang, agar kedamaian, keselarasan, dan keseimbangan hidup selalu hadir dan membawa harmoni pada masyarakat Kota Baubau.

Kata kunci: Binci – binciki kuli, Pendidikan.

(5)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Buton adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara yang terkenal akan produksi aspalnya. Berdasarkan luas wilayah, Pulau Buton menduduki urutan ke- 130 di dunia. Pulau Buton termasuk dalam wilayah administratif provinsi Sulawesi Tenggara. Kota terbesar di pulau ini adalah Baubau, yang merupakan kota terbesar ke-8 di Sulawesi dan ke-2 di provinsi Sulawesi Tenggara. Di kota Baubau sendiri ada sebuah kearifan lokal (local wisdom) berupa falsafah yaitu Binci – Binciki Kuli yang berarti “masing – masing orang saling mencubit kulitnya sendiri – sendiri “ yang mengatur bagaimana cara berkomunikasi dengan baik. Salah satu nilai dalam falsafah itu adalah Po Pia – Piara yang berbicara tentang saling menjaga perasaan antara anggota masyarakat. Nilai ini mengungkapkan bahwa dalam kondisi apapun, orang Buton harus saling menjaga perasaan orang lain dengan cara menyampaikan tutur kata yang sopan dan santun.

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu aspek yang mendorong terjadinya perubahan sosial adalah pendidikan. Brown mendefinisikan pendidikan sebagai proses pengendalian secara sadar dimana perubahan di dalam tingkah laku dihasilkan dalam diri orang itu melalui kelompok. Keluarga merupakan lembaga informal dalam membina mental, karakter dan kepribadian anak harus mampu memberikan contoh yang dapat diteladani anak, sebelum anak tersebut bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya, atau dengan kata lain pembinaan dan pendidikan anak melalui penanaman pemahaman terhadap falsafah Binci – Binciki Kuli merupakan fondasi awal membentuk karakter dan kepribadian anak hingga siap dan mampu bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekitar sesuai dengan cara hidup atau sistem nilai yang dianut masyarakatnya, dalam hal ini masyarakat Buton di Kota Baubau.

Besar atau kecilnya tindakan kriminalitas atau kenakalan yang dilakukan anak khusunya di tingkat pelajaran sebagai suatu tindakan penyimpang dan bersifat patologi misalnya perkelahian pelajar, konsumsi minuman kelas, dan berbagai tindak kriminalitas lainnya ditengah – tengah kehidupan bermasyarakat sekali lagi

(6)

bukan hal yang penting, tetapi jika keadaan ini terus dibiarkan, maka lambat laun akan terus tumbuh berkembang yang pada akhirnya dapat mengancam eksistensi sistem nilai atau pranata yang selama ini menjadi pedoman hidup warga masyarakat.

Oleh karena itu, dianggap perlu untuk menanamankan nilai dan norma yang terkandung dalam falsafah Binci – Binciki Kuli yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Darinya, bentuk – bentuk tindakan dan perilaku yang dianggap menyimpang dikalangan pelajar dapat diminimalisir, sehingga tercipta rasa bangga dan cinta terhadap kekayaan nilai – nilai kearifan dan khasanah budaya lokal.

B. Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana asal mula munculnya filsafah Binci – Binciki Kuli pada masyarakat Buton di Kota Baubau?

2. Bagaimana proses penanaman nilai – nilai falsafah Binci – Binciki Kuli pada pendidikan anak di Kota Baubau?

3. Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi penanaman nilai – nilai falsafah Binci – Binciki Kuli?

C. Tujuan Penulisan

Pembuatan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui lebih dalam asal mula falsafah Binci – Binciki Kuli pada masyarakat Buton di Kota Baubau.

2. Mengetahui proses penanaman nilai – nilai falsafah Binci – Binciki Kuli pada pendidikan anak di Kota Baubau.

3. Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi penanaman nilai – nilai falsafah Binci – Binciki Kuli

(7)

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah:

1. Bagi pemerintah, sebagai bahan masukan dalam upaya pelestarian salah satu kearifan lokal yaitu mengimplementasikan nilai – nilai falsafah Binci – Binciki Kuli dalam pemerintahan.

2. Bagi akademis atau lembaga pendidikan, menjadi bahan informasi yang bermanfaat dalam mengembangkan Karakter Peserta Didik melalui Penanaman Nilai – Nilai Falsafah Binci – Binciki Kuli.

3. Bagi masyarakat, sebagai salah satu sarana dalam penyaluran menambah wawasan dan pengetahuan tentang pentingnya menanamkan nilai – nilai falsafah Binci – Binciki Kuli

4. Bagi penulis, sebagai media untuk menyatakan dan menyusun buah pikiran secara tertulis.

E. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dimana data yang saya peroleh berasal bersumber dari pemahaman yang telah saya dapatkan sebelumnya dari penjelasan bapak saya yang kebetulan beliau adalah orang asli Buton. Selain itu, saya juga mengambil sumber dari beberapa buku dan jurnal di internet. Adapun pengumpulan data dimulai dengan mencari referensi – referensi yang relevan terhadap kasus yang menjadi objek pembahasan.

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), falsafah adalah suatu anggapan, gagasan, dan sikap batin yang paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat. Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari Bahasa Arab yaitu falsafah atau juga Bahasa Yunani yaitu philosophia. Philien berarti cinta dan Sophia berarti kebijaksanaan. Jadi filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Sedangkan pengertian secara terminologi sangat beragam. Filsafat adalah ilmu tentang fenomena kehidupan manusia dan berpikir kritis, dan dijabarkan dalam konsep dasar. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Menurut Immanuel Kant, filsafat adalah ilmu (pengetahuan), yang merupakan dasar dari semua pengetahuan dalam meliput isu – isu epistemology (filsafat pengetahuan) yang menjawab pertanyaan tentang apa yang dapat diketahui.

Sedangkan menurut Plato, filsafat adalah ilmu yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang sebenarnya.

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dinyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling memperkaya dan melengkapi. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara tersturktur dan berjenjang.

Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

(9)

Dalam penanaman nilai – nilai falsafah Binci – Binciki Kuli sangat diperlukan peran dari ketiga jalur pendidikan tersebut agar membentuk karakter dan kepribadiaan anak hingga ia siap dan mampu bersosialisasi dengan baik pada lingkungan sekitar sesuai dengan cara hidup masyarakat di Kota Baubau.

Falsafah Binci – Binciki Kuli (saling mecubit kulit) sebagai sistem nilai dan norma yang dipedomani segenap masyarakat di Kota Baubau merupakan buah pikir dari leluhur yang mengandung nilai – nilai kemanusiaan dalam membangun interaksi antar masyarakat. Falsafah ini telah ada sebelum terbetuknya sistem pemerintahan kerajaan di Buton. Hukum Binci – Binciki Kuli merupakan pokok adat dan dasarnya Sara.

BAB III PEMBAHASAN

A. Asal Mula Falsafah Binci – Binciki Kuli

Filosofi Binci – Binciki Kuli pra-Islam berawal dari hikayat perkelahian Dungkucangia dengan Si Jawangkati. Setelah keduanya Lelah lalu mereka beristrahat, kemudian berkelahi lagi tetapi tidak ada yang kalah. Setelah siang, mereka saling memandang, ternyata mereka sudah saling mengenal. Akhirnya mereka berhenti dan berjanji bahwa mereka seumur hidup akan tetap bersahabat. Dungkucangia mengundang Si Jawangkati datang ke kerajaan Tobe – tobe untuk mengadakan kerjasama yang baik didasari oleh persahabatan yang saling takut, saling malu, saling segan, dan saling insyaf. Kerjasama itu melahirkan produk hukum zaman pra-kerajaan Buton yang disepakati bersama yaitu filosofis Binci – Binciki Kuli. Dari filosofis ini kemudian lahirlah Sara Pataanguna yang berasal dari Bahasa Wolio Buton yang teridiri atas tiga kata, yaitu sara, pata, dan angu. Sara berarti norma, nilai, aturan, hukum, atau dapat juga berarti pemerintah yang mendapat mandat dari rakyatnya untuk menjalankan aturan, meneggakkan hukum dan UU. Pata bearti empat dan Angu berarti buah, macam, jenis, unsur, satuan dan sebagainya serta akhiran na sebagai kata petunjuk. Jadi, Sara Pataanguna dapat diartikan sebagai norma, nilai yang empat yang harus dipatuhi, dipedomani, oleh seluruh masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan berketuhanan. Sara Pataanguna terdiri

(10)

dari: (1) Po Mae – Maeaka (saling hormat), (2) Po Pia – Piara (saling memelihara), (3) Po Ma – Masiaka (saling menyayangi), dan (4) Po Angka – Angkataka (saling menghargai). Keempat kandungan nilai ini dalam falsafah Binci-Binciki Kuli bagi masyarakat di Kota Baubau adalah adat istiadat yang mampu menciptakan keteraturan sosial sebagaimana situasi dan keadaan kondusif Kota Baubau dalam perjalanan waktunya hingga hari ini.

Menururt Turi (2007), hukum Binci – Binciki Kuli merupakan “Pokok Adat dan Dasarnya Sara” adat istiadat maupun sara Buton dilandasi oleh Al – Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Sejak menjadi kesultanan, Buton mulai menyesuasikan ketentuan – ketentuan menurut hukum Islam, yang di tuangkan dalam:

Yinda – Yindamo Arata Somanamo Karo (walaupun tidak memiliki harta asalkan diri selamat), Yinda – Yindamo Karo Somanamo Lipu (hilang – hilanglah diri asal negari/wilayah selamat atau dalam artian rela berkorban demi menyelamatkan negara/wilayah), Yinda – Yindamo Lipu Somanamo Sara (biarkan negeri terancam asalkan aturan tetap ditegakkan dan pemerintah selamat atau dalam artian mengorbankan negeri asalkan peerintah selamat), dan Yinda – Yindamo Sara Somanamo Agama (korbankan kepentingan pemerintah asalkan agama selamat)”.

Landasan pola kepemimpinan Binci – Binciki Kuli Pra-Islam berlaku sebelum terbentuk kerajaan Buton, sedangkan pola kepemimpinan Binci – Binciki Kuli Pasca- Islam. Menurut Andjo (1996), bahwa penghayatan dan pendalaman dalil – dalil Al – Qur’an dan hadits ditetepkan dalam empat syarat kerukunan, kekompakan, dan persaudaraan dalam masyarakat Buton yang disampaikan oleh seorang mubalig yang bernama Syech Syarif Muhammad. Dalil Al – Qur’an yang berkaitan dengan persaudaraan meliputi QS Al – Maidah ayat 3, QS Ali – Imran ayat 103, dan QS Al – Hujurat ayat 10.

Sedangkan penghayatan dan pendalaman dalil hadits tentang kerukunan, kekompakkan, dan persaudaraan dalam masyarakat Buton meliputi: HR Bukhori (Juz 7 hal 80), HR Muslim (Juz 8 – Juz 20 dimulai dari hal 11), HR Abu Dawud (Juz 6 hal 640), dan HR Tirmidzy (Juz 8 hal 115). Said (1998), menyatakan bahwa kerajaan Buton pra-Islam telah mampu menciptakan filosofi yang kemudian berakulturasi dengan agama Islam. Sampai saat ini falsafah Binci – Binciki Kuli dijadikan sebagai sistem nilai dan norma yang dipedomani oleh segenap masyarakat di Kota Baubau.

(11)

B. Proses Penanaman Nilai – Nilai Falsafah Binci – Binciki Kuli Dalam Pendidikan Anak Di Kota Baubau

Pendidikan dapat dikelompokkan kedalam tiga bagian, yaitu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara tersturktur dan berjenjang.

Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Oleh karena itu, pendidikan memiliki segenap fungsi sebagaimana dikemukakan Payne (Ahmadi, 2007: 74) yaitu:

1) Sebagai proses asimilasi dari tradisi, dimaksudkan sebagai suatu upaya atau tindakan imitasi atau menirukan sesuatu atas dasar tekanan – tekanan sosial yang terjadi.

2) Pengembangan dari pola – pola sosial yang baru, adalah suatu upaya atau tindakan untuk memperoleh pemecahan masalah atas berbagai fenomena yang berkembang ditengah – tengah kehidupan masyarakat, misalnya cara – cara mengatasi lonjakkan jumlah penduduk, atau kenakalan anak yang sifatnya patologis dan dapat mengancam kehidupan sosial masyarakatnya.

3) Kreatifitas/peranan yang bersifat membangun di dalam pendidikan, adalah kemampuan pemikiran yang bersifat asli, dibangun atas dasar sifat alamiah kehidupan manusia.

Pendidikan yang diberikan kepada anak menyentuh tiga domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga domain ini jika direlevansikan dengan penanaman falsafah BBK kepada anak, dapat di interpretasikan sebagai berikut:

1) Domain kognitif, termasuk penyesuaian intelektual dari informasi dan pengetahuan, mulai dari ingatan yang sederhana sampai pada pembentukan hubungan yang baru. Artinya, nilai – nilai moral yang terdapat dalam falsafah BBk merupakan kontruksi dasar membangun pengetahuan anak sampai pada kontak sosial atau hubungan interkasi pada lingkungan masyarakat.

2) Domain afektif, termasuk sikap, perasaan, dan emosi. Kecakapan dan kemampuan belajar aktif dimulai dari kesadaran tentang suatu nilai khusus sampai pada pendalaman suatu kelompok, perasaan, serta nilai/norma untuk membentuk karakter yang baik. Falsafah BBK menjadi pedoman utama dalam setiap sikap, perilaku, tindakan, dan perbuatan yang dilakukan anak.

3) Domain psikomotorik, termasuk kecakapan motorik yang dimulai dari meniru – niru gerakan yang sederhana sampai pada kemampuan fisik yang membutuhkan koordinasi susunan syaraf otot (neuromuscular) yang kompleks. Falsafah BBK

(12)

sebagaimana ditunjukkan masyarakat lainnya ditiru dan diwujudkan secara nyata dalam setiap perbuatan dan tindakan anak tersebut, sehingga dapat menciptakan satu hubungan yang baik terhadap rekan dan warga lainnya.

Ketiga domain pendidikan diatas dapat tercapai jika orang tua sebagai figure yang diteladani anak dapat memberikan atau memperlihatkan wujud nyata falsafah Binci – Binciki Kuli (BBK) dalam kehidupan rumah tangga maupun dengan lingkungan sekitarnya. Penanaman pemahaman falsafah BBK disesuaikan dengan perkembangan anak, baik fisik dan psikis anak tersebut. Pada kenyataan yang ada selama ini, ssumsi yang dibangun adalah hanya pada domain kognisi, yaitu untuk mengetahui berbagai pengetahuan namun kadangkala mengeyampingkan domain afeksi/sikap dan perilaku, maupun domain psikomotorik/reponsivitas anak.

Keluarga merupakan lembaga sosial yang paling awal dikenal dan dekat dengan anak, maka perannya dalam pendidikan dan proses pembentukan pribadi tampak dominan. Tumbuh dan berkembangnya aspek manusia baik fisik, psikis atau mental, sosial, dan spiritual yang akan menentukan keberhasil bagi kehidupannya sangat ditentukan oleh lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga yang kondusif menentukan optimalisasi perkembangan pribadi, moral, kemampuan bersosialisasi, kemampuan penyesuaian diri, kecerdasan, kreatifitas, juga peningkatan kapasitas diri menuju batas kebaikan dan kesempurnaan dalam ukuran kemanusiaan. Keluarga sebagai dasar pembentuk lembaga sosial, pada dasarnya dilandasi dengan seperangkat nilai yang mengikat warganya untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkup kebudayaannya. Fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan sangat besar artinya bagi anak, terutama pada saat anak didalam ketergantungan total terhadap keluarga yang akan tetap berlangsung sampai periode anak sekolah, bahkan sampai menjelang dewasa. Keluarga perlu menyediakan waktu, bukan saja untuk selalu bersama tetapi untuk selalu berinteraksi maupun berkomunikasi secara terbuka dengan anak.

Proses pendidikan informal dari orang tua kepada anak melalui penanaman pemahaman terhadap falsafah BBK membentuk kognisi anak terhadap pengembangan wawasan dan pengetahuan yang selanjutnya dapat ditransformasikan kedalam sikap dan perilaku terpuji, misalnya sopan santun terhadap orang tua dan sesama, dan psikomotoriknya mampu mereaksi situasi dan kondisi perubahan yang terjadi dilingkungan sekitar. Proses penanaman nilai – nilai falsafah BBK pada anak usia sekolah pada dasarnya merupakan upaya untuk melembagakan kembali falsafah BBK, dengan maksud membiasakan nilai - nilai kemasyarakatan sebagai produk kebudyaan lokal Buton pada masa kini, terutama terhadap pola hubungan interaksi sosial. Meskipun semua produk kebudyaan berasal dari kesadaran manusia, namun produk bukan serta – merta dapat diserap kembali begitu saja. Sebab kebudayaan berada diluar subjektivitas manusia, dan menjadi dunianya sendiri. Kelembagaan berasal dari proses pembiasaan atas aktivitas manusia. Setiap tindakan yang sering diulangi, akan menjadi pola. Pembiasaan, yang berupa pola dapat dilakukan kembali dimasa mendatang dengan cara yang sama dan juga dapat dilakukan dimana saja.

(13)

Proses - proses pembiasaan mendahului pelembagaan. Pelembagaan, bagi Berger dan Luckmann (Poloma, 2010) terjadi apabila ada tipifikasi timbal – balik dari tindakan - tindakan yang terbiasakan. Tipifikasi tindakan yang sudah dijadikan kebiasaan, akan membentuk lembaga – lembaga, yang merupakan milik beresama.

Lembaga mengendalikan perilaku manusia dengan menciptaan pola - pola perilaku.

Pola inilah yang kemudian mengontrol dan melekat pada pelembagaan. Segmen kegiatan manusia yang telah dilembagakan berarti telah ditempatkan dibawah kendali sosial, walaupun dalam kasus ini pelangaran atas nilai – nilai falsafah BBK tidak menyebabkan pemberian sanksi kepada pelaku secara langsung, kecuali bersifat sanksi moral. Falsafah BBK masyarakat Buton, sudah ada dan melekat sebagai bentuk sosial. Untuk memahaminya, individu (anak usia sekolah) harus keluar dan belajar mengetahui tentang pranata sosial masyarakat layaknya seperti memahami alam.

C. Faktor Yang Mempengaruhi Penanaman Nilai – Nilai Falsafah Binci – Binciki Kuli

Berdasarkan informasi yang diperoleh, ada dua hal utama yang mempengaruhi proses penanaman nilai falsafah BBK kepada anak, yaitu faktor perkembangan teknologi dan globalisasi. Kedua faktor tersebut secara fungsional secara sekaligus menjadi faktor pendukungnya.

a. Faktor Perkembangan Teknologi Informasi.

Kemajuan masyarakat saat ini tidak terlepas dari berkembang pesatnya teknologi informasi, bahkan nyaris tidak ada satupun sendi kehidupan bermasyarakat yang tidak tersentuh teknologi. Dengan kata lain, terwujudnya pembangunan hari ini merupakan kontribusi nyata dari kemajuan teknologi informasi itu sendiri. Perkembangan teknologi informasi sebagai konsekuensi logis dari perkembangan zaman, tidak saja memberi kontribusi positif tetapi juga memberi dampak negative yang luar biasa. Terlebih jika teknologi informasi tersebut menyangkut aspek moralitas. Internet misalnya, dapat digunakan anak usia sekolah secara sembarangan. Bukan berbatas pada penggunaan situs -situs jejaringan sosial misal Facebook, Twitter, Google atau lainnya, tetapi juga dapat mengakses situs – situs konten dewasa.

Teknologi dapat mengubah suatu kebudayaan, mengubah disni dalam arti membuka dengan seluas – luasnya hubungan interaksi antara manusia

(14)

dibelahan dunia. Dengan adanya teknologi yang sangat pesat, kita degan mudah mendapatkan berbagai informasi dan pengetahuan. Akan tetapi, tetap saja jika tidak digunakan dengan baik akan timbul masalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu anak dapat membuka situs – situs yang tidak sesuai dengan usia mereka. Oleh karena itu, penggunaan teknologi hendaknya dalam bimbingan dan pengawasan orang tua agar teknologi tidak disalahgunakan. Terlepas dari sisi negative, teknologi memiliki banyak sisi positif. Salah satunya yaitu dengan adanya internet dan juga media masa, kita bisa dengan mudah memperkenalkan kearifan lokal yang di miliki sehingga dapat diketahui oleh masyarakat secara luas. Selain itu teknologi juga telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini).

b. Faktor Globalisasi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa globalisasi memberikan kecenderungan terhadap melemahnya nilai – nilai falsafah BBK, baik kepada orang tua, guru, masyarakat maupun anak usia sekolah itu sendiri. Globalisasi dalam hal ini memberikan ruang seluas – luasnya kepada masyarakat untuk senantiasa mengikuti trend – trend perkembangan zaman.

Di sisi lain globalisasi mendorong keterbukaan masyarakat Kota Baubau terhadap kelompok masyarakat lain, menyebabkan komposisi penduduknya semakin heterogen. Walupun heterogenitas masyarakat tidak menyebabkan adanya konflik antar kelompok, namun hal tersebut dapat melemahkan nilai – nilai falsafah BBK. Sebab fenomena perkembangan masyarakat Kota Baubau saat ini tidak lagi didominasi oleh kandungan nilai falsafah BBK dalam menciptakan hubungan interaksi sosial, tetapi hubungan tersebut tidak lebih sebagai tindakan umum yang bukan didasari oleh nilai falsafah BBK.

Globalisasi sangat berkaitan erat dengan mordenisasi, dimana pada saat ini hampir semua generasi muda memarakkan budaya kebarat – baratan. Mulai dari cara berpakaian secara terbuka bahkan sampai menirukan kebiasaan mereka. Salah satu dampak dari globalisasi adalah melemahnya nilai – nilai falsafah dalam hubungan interaksi sosial masyarakat di Kota Baubau. Anak usia sekolah tidak lagi mendapat pencerahan secara layak dari orang tua, guru,

(15)

maupun masyarakat sekitarnya dalam proses perkembangannya guna terbentuknya kepribadian anak yang berkarakter, sesuai dengan makna falsafah BBK. Hal ini disebabkan karena maraknya pola hidup bersifat individualistis, sehingga orang tidak lagi memperdulikan lingkungan sekitarnya.

Proses pembinaan dan pembentukan karakter melalui penanaman nilai – nilai yang terkandung dalam falsafah Binci – Binciki Kuli oleh orangtua kepada anak merupakan totalitas tindakan yang harus dimaknai, dimana orangtua/keluarga dan masyarakat bertindak sebagai pelaku, sedangkan falsafah merupakan sikap alamiah manusia secara kodrati yang dapat melahirkan pembentukan hubungan interaksi antar warga masyarakat Baubau sehingga tercipta keteraturan sosial.

Falsafah Binci – Binciki Kuli sebagai pedoman hidup masyarakat di Kota Baubau dalam setiap hubungan interaksi antar masyarakat menempatkan anggota masyarakat sebagai objek dan subjek pelaku yang memberikan segenap makna atas tindakan yang dilakukan. Sikap dan perilaku dalam membangun hubungan interaksi didukung oleh kesadaran terhadap nilai – nilai kemanusiaan yang ada dalam falsafah Binci – Binciki Kuli.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, dapat disimpulkan bahwa falsafah Binci – Binciki Kuli sebagai salah satu kearifan lokal di Kota Baubau yang menjadi pokok adat dan dasarnya sara. Binci – Binciki Kuli berasal dari Bahasa Wolio yang berarti “ saling mencubit kulit” dimana memiliki makna yaitu saling merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Falsafah budaya Buton ini lebih jauh dimaknai bahwa saat akan melakukan sesuatu kepada orang lain, terlebih dahulu cubitlah diri kita sendiri. Bila terasa sakit maka itulah yang akan dirasakan orang lain. Proses penanaman nilai – nilai falsafah BBK dapat dilakukan oleh orang tua secara informal dalam lingkungan keluarga dan guru secra formal dilingkungan sekolah dalam proses belajar mengajar. Perkembangan teknologi informasi dan globalisasi menjadi faktor kunci dalam proses penanaman nilai – nilai falsafah

(16)

BBK pada anak. Keduanya saling berhubungan satu sama lain, baik bersifat menghambat dan mendukung. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih menyebabkan anak mempunyai pandangan tersendiri terhadap realitas dunia sosialnya, berinteraksi terbuka dengan berbagai produk dunia maya, termasuk dalam hal mengakses konten dewasa.

Globalisasi ditandai dengan munculnya modernisasi yang menyebabkan anak menirukan budaya kebarat – baratan, selain itu pola hidup kebanyakan orang berubah menjadi individualistis sehingga menyebabkan melemahnya nilai – nilai falsafah BBK. Peran orang tua sangat penting, dimana dengan maraknya teknologi dan juga globalisasi orang tua perlu melakukan pengawasan secara ketat kepada anak. Namun, kedua faktor ini secara proporsional juga menjadi faktor pendukung jika dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya.

Oleh karena itu, penanaman nilai – nilai falsafah kepada anak sangat diperlukan, baik dalam pendidikan formal, nonformal, maupun informal.

D.Saran

Sebagai salah satu kearifan lokal, filsafah BBK ini harus tetap dilestarikan khususnya pada masyarakat Kota Baubau. Melihat nilai – nilai yang terkandung didalamnya, hal ini harus tetap di lestarikan baik melalui pendidikan formal, nonformal, maupun informal. Berkembangnya segala aspek teknologi dengan sangat pesat, menjadikan orang tua, guru, dan juga masyarakat harus saling membantu agar menciptakan anak – anak yang memiliki karakter baik dan unggul di segala aspek.

Sebagai masyarakat Kota Baubau kita perlu bangga dengan adanya nilai – nilai falsafah yang masih ada sampai saat ini sebagai suatu kearifan lokal yang kita miliki.

Namun, kita perlu tetap melestarikannya agar nilai – nilai ini tidak pudar dan menghilang ditelan pesatnya perkembangan zaman saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Supriyanto, dkk. 2018. Islami And Local Wisdom Relligious Expression In Southeast Asia.

Yogyakarta.Deepublish.https://books.google.com/books/about/Islam_and_Local_Wis dom_Religious_Express.html?hl=id&id=AxFPDwAAQBAJ ( di akses pada tanggal 5 Juni 2020 )

Bagea, Ishak. 2016. Implementasi Nilai Budaya Sara Pataanguna Dalam Kepemimpinan Pemerintahan Di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara ( The Implementation of Culture Values of Sara Pataanguna in Government Leadership in Baubau City, Southeast of Sulawesi).Vol.12, No.2 .http s:// www.google.com/url?sa=t& s o u rc e=

web&rct=j&url=https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kandai/arti cle/download/87/32&ved=2ahUKEwi5oevu3pAhXbeisKHdn5DC8QFjAAegQIBRA C&usg=AOvVaw10GiS7HDBeX-lkYsstqqaU ( di akses pada tanggal 5 Juni 2020 )

(17)

Umar, Muhammad Zakaria, Muhammad Arsyad. 2017. Transformasi Konsep Sara Pataanguna Pada Rumah Tradisional Malige Di Kota Baubau Sulawesi Tenggara.

ISBN 978-602-294-240-5. https://www.google .com/url?sa=t&source=web&rct

=j&url=http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/t!

%40file_artikel_abstrak/Isi_Artikel_803962489078.pdf&ved=2ahUKEwjV8qur3zpA hXFX3wKHbCoDqIQFjAIegQICBAB&usg=AOvVaw1hLY54r2PZDAsgrQoJInSg ( di akses pada tanggal 5 Juni 2020 )

Wijaya, Rasman Sastra. 2017. Bimbingan Kelompok Berbasisi Budaya Buton (Falsafah Po Binci – Binciki Kuli) Untuk Mengentaskan Perilaku Agresif Tawuran Siswa Kota

Baubau. Vol. 1, No. 1. Tersedia Online di

http://pasca.um.ac.id/conferences/index.php/snbk ( di akses pada tanggal 5 Juni 2020 ) Amran, Jamiludin, Rifai Nur. 2019. Penanaman Nilai – Nilai Budaya Buton Untuk Membentuk Karakter Siswa Di SMA Negeri 1 Baubau. Jurnal Wahana Kajian Pendidikan IPS. Vol. 3, No. 2. Tersedia Online di http://ojs.uho.ac.id/index.php/JWKP-IPS ( di akses pada tanggal 5 Juni 2020)

Umar, Muhammad Zakaria. 2017. Filosofi Sara Pataanguna Pra dan Pasca Islam Sebagai Filosofi Rumah Tradisional Buton Kaum Walaka. EMARA Indonesian Journal of Architecture. Vol. 3, No. 2. https://www.google.co m/url?sa=t&source=web& rc t=j&url=http://jurnalsaintek.uinsby.ac.id/index.php/EIJA/article/view/151&ved=2ahU KEwjV8qur3zpAhXFX3wKHbCoDqIQFjABegQIBRAB&usg=AOvVaw2aiCQ3ejE0 6tf2cJuM8Ba5 ( di akses pada tanggal 5 Juni 2020 )

Mahrudin. 2014. Kontribusi Falsafah Po Binci – Binciki Kuli Mayarakat Islam Buton Bagi Dakwah Islam Untuk Membangun Karakter Generasi Muda Indonesia. Jurnal

Dakwah. Vol. XV, No. 2.

https://media.neliti.com.mediaPDFkontribusifalsafahpobinci-

bincikikulimasyarakatislambutonbagi…-Neliti ( di akses pada tanggal 5 Juni 2020 )

Referensi

Dokumen terkait

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI DELAY DEVELOPMENT DI YAYASAN PENDIDIKAN ANAK

Hambatan konselor dalam membina mental agama anak tunarungu pada SLB-B Yayasan Pembinaan Pendidikan Luar Biasa (YPPLB) di Kelurahan Kampung Buyang Kota Makassar

Berbeda halnya dengan anak yang waktu kecil diajarkan orang tuanya untuk mengendalikan emosi ketika tidak bisa memiliki seuatu. Ketika dewasa, ia sudah terbiasa untuk bekerja

Karya Tulis Ilmiah ini berjudul "Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Delay Develpment di Yayasan Pendidikan Anak Cacat Surakata" disusun dalam rangka

dengan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal ”, sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Dalam hal ini pendidikan karakter yang diberikan oleh BAPAS melalui pembinaan karakter dan mental sangat berpengaruh terhadap perkembangan perilaku baik anak-anak yang

Tidak semua lansia tinggal dengan keluarga khususnya dengan anak mereka.Hal ini juga terjadi pada kondisi lansia yang tinggal dipanti jompo karena keluarga tak mampu mengurus.Secara

Resiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit Mahasiwa akan melaksanakan implementasi diagnosa Kesiapan peningkatan