110 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini ditampilkan data hasil temuan yang kemudian dideskripsikan dari setiap tahapan penelitian, yaitu meliputi: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan evaluasi program BK di sekolah pada saat ini; (2) Mendeskripsikan kelemahan pelaksanaan evaluasi program BK yang dilakukan oleh guru BK di sekolah saat ini; dan (3) Mengembangkan dan mendeskripsikan model evaluasi program BK berbasis three dimensional cube.
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Pelaksanaan Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah Saat Ini
Studi pendahuluan dalam penelitian dan pengembangan ini seperti yang dicantumkan pada bab III dilakukan dengan menggunakan wawancara dan studi dokumentasi. Dari hasil studi dokumentasi yang telah dilakukan didapatkan informasi bahwa guru BK tidak melakukan evaluasi program BK yang telah disusun dan dilaksanakan, hal ini didasarkan dari tidak adanya
111
dokumen mengenai evaluasi program BK yang seharusnya disusun oleh guru BK.
Proses dalam mendapatkan data faktual mengenai pelaksanaan evaluasi program BK dilakukan terhadap 20 orang guru BK. wawancara dilakukan dengan menggunakan lembar wawancara terhadap 8 orang guru BK, dan 12 lainnya dilakukan dengan studi dokumentasi mengenai dokumen evaluasi program BK. Guru BK yang selaku yang diwawancarai seluruhnya adalah dengan status kepegawaian PNS, sedangkan 12 yang lain adalah guru BK dengan status kepegawaian Guru Yayasan dan Guru BK dengan Status PPPK yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan MGBK.
Studi dokumentasi terhadap kelengkapan berkas evaluasi program BK dilakukan dengan melihat dokumen cetak ataupun file yang sudah mendapatkan pengesahan dari kepala sekolah.
Wawancara dilakukan terhadap 8 guru BK dilakukan di wilayah Kabupaten Semarang mengenai pelaksanaan evaluasi program Bimbingan dan Konseling di sekolah, tujuan dilaksanakannya evaluasi program BK, pengetahuan tentang model evaluasi yang
112
dapat digunakan untuk mengevaluasi program BK, serta kendala pada pelaksanaan Evaluasi program BK.
Berdasarkan hasil studi dokumentasi terhadap 12 orang guru BK, didapatkan hasil bahwa secara keseluruhan tidak ada yang melakukan evaluasi program BK. Sembilan (9) guru BK melakukan evaluasi layanan yang dibuktikan dengan dokumen mengenai evaluasi proses dan hasil, dan tiga (3) guru BK yang lain tidak dapat menunjukan dokumen evaluasi yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap delapan (8) guru BK diperoleh informasi bahwa: (a) evaluasi yang dilakukan guru BK adalah evaluasi proses dan hasil layanan BK, dan guru tidak melakukan evaluasi program BK; (b) 6 dari 8 guru BK tidak mengerti langkah langkah dan komponen apa saja yang dievaluasi dalam program BK; (c) Guru BK hanya mengerti sebagian dari tujuan evaluasi program BK, tujuan yang dimengerti hanya pada ketercapaian dan keterlaksanaan program saja; d) rendahnya pengetahuan guru BK mengenai model model evaluasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi program BK.
Hal ini diketahui dari hasil wawancara bahwa hanya ada dua guru
113
saja yang dapat menyebutkan dengan benar beberapa dari model evaluasi, sedangkan enam guru yang lain tidak mengerti mengenai model model evaluasi. Berikut adalah kutipan wawancara dengan guru BK SMP Negeri 3 Ungaran yaitu Sutrisno, S.Pd:
“ Evaluasi program BK seharusnya dilakukan oleh semua guru BK, tetapi saya tidak melakukan evaluasi program BK yang telah saya lakukan, evaluasi yang saya lakukan hanya evaluasi proses dan evaluasi hasil setelah layanan saya berikan kepada peserta didik. Saya belum pernah melakukan evaluasi program BK karena saya tidak mengerti cara dan langkahnya. Selain itu tugas tambahan saya sebagai Wakil Kepala sekolah sangat menyita waktu.” (Sumber: Wawancara dengan Sutrisno, Guru SMP Negeri 3 Ungaran,15 Maret 2022)
Pernyataan dari hasil wawancara tersebut didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan kepada Sarwo Endah Sari, S.Pd, berikut kutipannya :
“Saya melakukan evaluasi proses dan hasil setelah bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling kelompok dan konseling individu. Tetapi saya tidak melakukan evaluasi program BK yang sudah selesai, program yang telah selesai kemudian pada tahun pelajaran baru, saya menyusun program baru. Saya memahami tujuan evaluasi program BK itu untuk mengetahui ketercapaian pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Apabila saya harus melaksanakan evaluasi program BK, Saya masih bingung dengan cara bagaimana saya harus melakukan evaluasi program BK dan saya belum pernah
114
mengikuti workshop ataupun pelatihan yang membahas khusus tentang pelaksanaan evaluasi program. Selama ini saya melakukan evaluasi proses dan hasil itu sudah cukup untuk menjadi laporan dan penilaian.” (Sumber: Wawancara dengan Sarwo Endah Sari, Guru SMP Negeri 1 Ambarawa,16 Maret 2022)
Lebih lanjut berikut adalah hasil wawancara terhadap guru BK SMP Negeri 1 Jambu, yaitu Sulistyorini Cahyaningsih, S.PSi:
“ Untuk evaluasi program BK saya tidak pernah melaksanakannya, saya hanya melaksanakan evaluasi layanan yaitu evaluasi proses dan hasil. Berkaitan dengan tujuan evaluasi program BK yang saya pahami adalah untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. tahapan untuk melakukan evaluasi program BK yang saya ingat adalah Merumuskan masalah, Mengembangkan atau menyusun instrumen untuk pengumpulan data, Mengumpulkan dan menganalisis data, Melakukan tindak lanjut, dan Menyusun laporan, tetapi untuk pelaksanaannya langsung saya masih kurang memahami bagaimana caranya dan apa saja yang harus disiapkan untuk melaksanakan evaluasi program BK.”
Wawancara selanjutnya dilakukan terhadap guru BK SMP Negeri 3 Tuntang yaitu Dwi Noor Aini, S.Pd, yang cuplikan wawancaranya sebagai berikut:
“selama ini saya melakukan evaluasi yaitu evaluasi hasil dan evaluasi proses saja. Saya belum pernah melaksanakan evaluasi program BK, karena saya belum yakin apakah cara saya benar atau tidak. Menurut saya pribadi sebenarnya evaluasi
115
program BK itu penting untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan, dan kekurangan dari program yang telah disusun/
dilaksanakan. saya belum pernah belajar mengenai model yang dapat digunakan untuk mengevaluasi program BK. Aplikasi yang ada (berbentuk file excel) itu pun saya masih bingung bagaimana memakainya, sedangkan bagaiamana model evaluasi dan bagaimana langkah yang sistematis untuk evaluasi program BK itu sendiri saya juga belum mengerti.”
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa guru BK tidak melaksanakan evaluasi terhadap program BK dah hanya melaksanakan evaluasi layanan saja. Guru BK tidak mengerti model evaluasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi program BK. Pada aspek tujuan dari evaluasi program BK, guru hanya mengetahui sebagian saja tujuan dari evaluasi program BK yaitu untuk mengetahui keterlaksanaan dan ketercapaian layanan saja, belum mencakup tujuan evaluasi program. Guru BK belum memahami bahwa muara dari evaluasi terhadap program BK adalah rekomendasi untuk perbaikan dan peningkatan program BK. Pada bagian cara ataupun langkah evaluasi, guru BK belum tahu mengetahui bagaimana langkah ataupun juga cara untuk melakukan evaluasi program BK.
116
4.1.2 Kelemahan Pelaksanaan Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah Saat Ini
Pada tahap ini penulis melakukan analisa mengenai kelemahan pelaksanaan evaluasi program BK. Evaluasi terhadap program BK merupakan hal yang penting untuk melihat ketercapaian dan keterlaksaan program BK yang telah disusun, selain itu dengan dilaksanakannya evaluasi dapat melihat kelemahan serta kekuatan yang kemudian dari hasil evaluasi tersebut dapat disusun suatu rekomendasi untuk peningkatan maupun perbaikan program BK.
Untuk mengetahui kelemahan pelaksanaan evaluasi program BK di wilayah Kabupaten Semarang, peneliti melakukan wawancara pada bagian studi pendahuluan terhadap guru BK, berikut adalah cuplikan hasil wawancara terhadap guru BK SMP Negeri 1 Pringapus, Dinar Anatasari, S.Pd.:
“Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa melakukan evaluasi program BK yang sudah berjalan. Setahu saya yang harus saya lakukan adalah evaluasi proses dan hasil, untuk evaluasi program hal itu tidak pernah ditanyakan oleh pengawas. Secara jujur saya mengakui bahwa saya kurang mengerti bagaimana saya harus melakukan evaluasi program
117
karena saya tidak memiliki petunjuk dan tidak ada aplikasi untuk mempermudah saya melakukan evaluasi program BK.”
(Sumber: Wawancara dengan Dinar Anatasari, Guru SMP Negeri 1 Pringapus, 22 Maret 2022)
Lebih lanjut berikut adalah hasil wawancara terhadap guru BK SMP Negeri 1 Tengaran, yaitu Putro Joko Wasono, S.Pd., M.Pd:
“Saya sudah mendapatkan materi mengenai evaluasi pada saat saya kuliah magister, saya cukup mengerti apa saja model yang bisa saya pakai untuk melaksanakan evaluasi program.
Sebagai contoh Model evaluasi Goal Oriented Evaluation Model, Goal Free Evaluation Model, Formative-Sumative Model, Countenance Evaluation Model. Untuk evaluasi program BK terlalu banyak yang harus disiapkan, dan apabila benar benar dilaksanakan maka pelaksanaan evaluasi program BK itu akan memakan waktu yang banyak kalau dilaksanakan secara manual. Akan sangat membantu apabila ada suatu aplikasi yang dapat menunjang saya untuk melakukan evaluasi terhadap program BK yang telah saya laksanakan. Di jurnal ilmiah saya sudah menemukan peneliti yang mengembangkan aplikasi program BK, sampai sekarang saya belum pernah menemui aplikasi khusus untuk evaluasi program BK.”
(Sumber: Wawancara dengan Putro Joko Wasono, Guru SMP Negeri 1 Tengaran, 22 Maret 2022).
Lebih lanjut berikut adalah hasil wawancara terhadap guru BK SMP Negeri 1 Sumowono, yaitu Agnes Astri Wulandari, S.Psi:
“Saya tidak tahu kalau program BK itu harus dievaluasi, karena saya hanya tahu kalau evaluasi hanya dilaksanakan setelah layanan saja. Saya melaksanakan evaluasi proses dan
118
hasil setelah layanan, itu pun tidak selalu saya lakukan.
Misalnya saya harus melaksanakan evaluasi program BK, saya tidak tahu komponen apa saja yang harus dievaluasi apakah hanya khusus program BK yang saya buat setiap awal tahun pelajaran itu atau ada komponen yang lain.”
(Sumber: Wawancara dengan Agnes Astri Wulandari, Guru SMP Negeri Sumowono, 22 Maret 2022)
Selain wawancara, penulis melakukan studi dokumentasi terhadap 12 guru BK untuk melihat kelengkapan evaluasi yang dilakukannya. Kelengkapan dokumen evaluasi yang dilakukan oleh guru BK dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan workshop evaluasi pada bimbingan konseling yang dilakukan pada 16 Maret 2022. Berdasarkan dokumen evaluasi yang dibawa oleh guru BK, tidak ada dokumen evaluasi program BK dan penulis hanya menemukan sembilan (9) guru yang melakukan evaluasi layanan (evaluasi proses dan hasil) sedangkan dua guru yang lain tidak dapat menunjukan dokumen evaluasi program BK ataupun evaluasi layanan
Berdasarkan hasil wawancara, kemudian peneliti melakukan analisa, dan hasil dari analisa menunjukan bahwa banyak hambatan yang dialami guru BK dalam melaksanakan evaluasi program BK, diantaranya guru BK hanya melaksanakan
119
evaluasi sebagian saja yaitu evaluasi proses dan hasil saja, keterbatasan pengetahuan mengenai langkah melakukan evaluasi program, dan adanya tugas tambahan yang membuat guru kurang waktu untuk melaksanakan rangkaian kegiatan bimbingan dan konseling. Guru BK menyatakan harapan adanya suatu model evaluasi program BK yang relatif mudah dipahami dan harapan adanya suatu aplikasi yang dapat membantu guru BK dalam melakukan evaluasi program
Pelaksanaan evaluasi Program BK di sekolah memiliki banyak kendala, dimana apabila dilaksanakan secara manual pasti akan membutuhkan banyak dokumen, memakan waktu yang tidak sedikit, dan juga berbenturan dengan pembagian waktu bagi guru yang mendapatkan tugas tambahan.
Pada perkembangan digitalisasi yang semakin masif pada era ini diharapkan guru dapat memanfaatkan teknologi terutama dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya.. Teknologi saat ini menjadi satu hal yang sangat penting untuk dunia pendidikan tanpa terkecuali Guru BK, namun beberapa Guru BK kesulitan untuk mengikuti perkembangan teknologi yang membuat tidak
120
adanya alternatif yang dilakukan untuk memberi solusi terhadap permasalahan yang ada. Teknologi diharapkan dapat membantu memudahkan kerja bagi guru BK. Sekarang ini ada beberapa pemerhati BK yang dengan sukarela membuat aplikasi sederhana untuk membantu dan mempermudah guru BK dalam melakukan tugasnya.
Berdasarkan cuplikan beberapa hasil wawancara dengan beberapa guru BK, dapat dinyatakan bahwa guru BK memerlukan suatu model evaluasi yang sistematis dan mudah dipahami. Selain itu ada harapan dari guru BK sebagai praktisi bimbingan dan konseling pada setting sekolah, bahwa ada suatu aplikasi yang dapat membantu mereka untuk dapat menuntaskan pekerjaan terutama pada bagian melakukan evaluasi program BK.
4.1.3 Model Manajemen Evaluasi Program BK Yang Dikembangkan
Dalam pengembangan ini, perancangan (blue print) yang dikembangkan yang mencakup: (a) Bagan model manajemen evaluasi program BK beserta penjelasannya; (b) Buku Model
121
evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube, (d) Aplikasi Evaluasi Program BK berbasis web, (e) Buku Panduan penggunaan Aplikasi Evaluasi Program BK berbasis Three dimensional cube untuk guru BK. Penulis menyusun buku model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube, berikut adalah halaman sampul buku model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube:
Hasil pengembangan produk yang dihasilkan adalah buku model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube dan aplikasi yang diperoleh dari lima langkah pengembangan Borg &
Gall yaitu penelitian dan pengumpulan informasi, melakukan perencanaan dan pengembangan produk awal, penelitian pendahuluan bertujuan untuk menemukan permasalahan dalam pelaksanaan evaluasi program yang dilaksanakan oleh guru BK.
Potensi dan permasalahan yang ada tersebut kemudian dilakukan pemetaan, analisis serta pengkajian pustaka sehingga kemudian didapatkan alternatif untuk meminimalisir atau mereduksi permasalahan yang terjadi di lapangan.
122
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka selanjutnya dikembangkan model evaluasi program bimbingan dan konseling berikut aplikasinya dengan dengan menggunakan langkah- langkah pengembangan model Borg & Gall dalam lima tahapan yang selanjutnya diuraikan pada bagian berikut:
a. Penelitian dan pengumpulan informasi
Pada tahap pertama yaitu melakukan penelitian pendahuluan dan melakukan pengumpulan informasi, penulis melakukan analisis kebutuhan sekolah dan guru BK serta melakukan kajian pada studi literatur. Tahapan tersebut tersebut dijelaskan seperti dibawah ini:
1) Analisis Kebutuhan Guru BK pada evaluasi Program BK Pada tahap ini penulis mengumpulkan data melalui wawancara terhadap. Wawancara dengan salah satu guru BK, dimana permasalahan untuk melakukan evaluasi program BK menyebutkan bahwa guru kekurangan petunjuk dalam pelaksanaan evaluasi program BK dan kekurangan waktu karena tugas non-bimbingan. Berikut adalah kutipan wawancara dengan guru BK sebagai berikut.
123
Pernyataan hasil wawancara tersebut didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru BK SMP Negeri 1 Jambu, Sulistyorini Cahyaningsih, S.Psi:
“Saya sudah pernah mencoba melaksanakan evaluasi program BK dengan menggunakan model MEASURE, tapi evaluasi program yang saya lakukan tidak sampai selesai dalam bentuk laporan, karena saya kurang memiliki petunjuk dan cara yang gamblang saat saya melakukan evaluasi tersebut, dan juga waktu yang dibutuhkan agak lama. Dengan kekurangan petunjuk tersebut akhirnya saya hanya melakukan evaluasi proses dan hasil yang saya laksanakan setelah layanan saja. saya apalagi dengan tugas tambahan saya sebagai bendahara BOS, evaluasi program banyak memakan waktu. Saya memiliki harapan bahwa kedepan ada dosen ataupun guru yang dapat menyusun aplikasi khusus evaluasi program BK yang dapat digunakan oleh guru secara bebas.” (Sumber: Wawancara dengan Sulistyorini Cahyaningsih, Guru SMP Negeri 1 Jambu, 29 Maret 2022)
Lebih lanjut berikut merupakan pernyataan hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru BK SMP Negeri 2 Pringapus, Sulistyowati, S.Pd., M.Pd., Kons.:
“ Selama ini saya mengalami kesulitan dalam menganalisa data untuk mengetahui program mana saja yang sudah/ belum terlaksana dan program mana saja yang sudah/belum mencapai hasil. Selain itu saya merasa kurang memiliki pengetahuan dalam melakukan evaluasi program yang konsisten dan benar sesuai dengan tahapan yang ada, selain itu saya masih menemukan kesulitan bagaimana saya harus
124
mengukur perilaku siswa. Saya melakukan evaluasi hanya pada evaluasi layanan saja, itu pun cukup terbantu dengan adanya aplikasi evaluasi proses dan hasil yang disusun oleh bapak Andori, S.Pd., Kons. Aplikasi itu cukup membantu saya dalam melakukan evaluasi layanan. Kalaupun ada evaluasi khusus untuk evaluasi program BK itu akan sangat membantu saya secara pribadi, karena tidak jarang saya merasa kekurangan waktu dalam tugas bimbingan saya, apalagi ada tugas tambahan yang diberikan kepada saya selaku koordinator pengembangan sekolah adiwiyata cukup menyita waktu saya.” (Sumber: Wawancara dengan Sulistyowati, Guru SMP Negeri Pringapus, 9 Mei 2022)
Berdasarkan hasil wawancara kepada salah satu guru BK di lingkungan Kabupaten Semarang, diperlukan sebuah model dan aplikasi dengan memanfaatkan teknologi untuk dapat memudahkan guru BK melakukan evaluasi terhadap program BK yang telah dilaksanakan. Dengan adanya aplikasi evaluasi program BK ini diharapkan dapat memudahkan guru BK untuk dapat melakukan pemenuhan tugas dan tanggung jawabnya serta dapat meningkatkan kualitas layanan, dikarenakan dengan dilakukannya evaluasi program maka akan diketahui program yang tidak berjalan, bagian yang perlu mendapatkan perbaikan, peningkatan.
Dari hasil wawancara yang dilakukan, diketahui bahwa hampir seluruh guru BK tidak melakukan evaluasi program BK dikarenakan ketidaktahuan mengenai cara melakukan evaluasi,
125
model evaluasi yang dapat dipakai dan dengan adanya tugas tambahan yang cukup menyita waktu.
2) Studi Literatur
Pada tahapan studi literatur, peneliti mengidentifikasi kelemahan pada pelaksanaan evaluasi program BK yang dilakukan oleh guru BK di sekolah. Evaluasi terhadap program BK ditujukan untuk mengetahui kelemahan, kekuatan suatu program serta adanya suatu rekomendasi untuk perbaikan serta peningkatan dari program BK itu sendiri.
Lebih lanjut peneliti melakukan kajian terhadap beberapa teori pelaksanaan penelitian dan pengembangan. Terdapat beberapa teori yang mendasari dikembangkannya suatu produk, salah satunya adalah teori penelitian dan pengembangan dari Borg
& Gall (1983). Teori ini terdiri dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan, yaitu: 1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi; 2) melakukan perencanaan; 3) mengembangkan bentuk produk awal; 4) melakukan uji lapangan atau uji kelompok kecil;
5) melakukan revisi pada produk utama; 6) melakukan uji lapangan; 7) melakukan revisi terhadap produk akhir; 8) uji
126
pelaksanaan lapangan; 9) penyempurnaan produk akhir; dan 10) diseminasi dan implementasi. Dari penjelasan di atas serta berdasarkan hasil diskusi, lebih lanjut peneliti menetapkan dalam penelitian dan pengembangan yang dilakukan menggunakan langkah penelitian dan pengembangan Borg & Gall sampai pada tahapan ke lima (5).
Sehubungan dengan kebutuhan mengenai aplikasi evaluasi program BK, penulis mempelajari hal yang berhubungan dengan pemanfaatan teknologi sehingga dapat memberikan manfaat bagi pengguna. Penulis mempelajari penggunaan model aplikasi apa saja yang dapat digunakan untuk dapat melaksanakan evaluasi program BK secara lebih ringkas. Pada perkembangannya, dunia pendidikan tidak dapat lepas dari teknologi, kebutuhan terhadap teknologi menjadi sangat tinggi berbarengan dengan tingginya aktivitas guru BK baik dalam keseluruhan proses layanan BK ataupun pekerjaan yang tidak berkaitan dengan bimbingan dan konseling, sebagai contoh tugas tambahan yang diberikan oleh kepala sekolah. Perangkat komputer ataupun laptop bukan menjadi hal yang baru bagi guru BK, maka dari itu dengan pengembangan
127
ini diharapkan guru menjadi lebih melek teknologi dan mampu mengimplementasikannya dalam tugas sebagai guru BK sehingga akan dapat meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling itu sendiri.
b. Melakukan Perencanaan
Tahap perencanaan dilakukan setelah tahap penelitian dan pengumpulan informasi. Penulis mulai merencanakan menyusun model evaluasi program BK berbasis three dimensional cube serta merencanakan model aplikasi program BK. Aplikasi evaluasi program BK ini ditujukan untuk guru BK saja.
Model yang evaluasi program BK yang dikembangkan ini berbasis three dimensional cube yang dikembangkan oleh Robert L. Hammond (1968). Model evaluasi ini memiliki grand theory bahwa evaluasi program di sekolah akan tepat apabila didasarkan atas tiga dimensi, yaitu dimensi Institusional, instruksional dan Tingkah laku, jadi model evaluasi ini dapat untuk melihat keseluruhan peran serta dukungan setiap stakeholder sekolah pada pelaksanaan program sekolah. Model evaluasi ini dilengkapi
128
dengan kisi-kisi instrumen serta instrumen yang berupa angket serta panduan wawancara.
Aplikasi evaluasi program BK ini adalah aplikasi yang dapat digunakan oleh guru BK pada perangkat komputer (PC),ataupun juga pada laptop. Aplikasi ini berbasis web yang terhubung dengan peramban (browser), dengan memakai fasilitas local host. Aplikasi ini digunakan khusus untuk guru BK di dalamnya berisi dimensi institusional, instruksional dan behavior (tingkah laku) yang kemudian di setiap dimensi terdapat komponen yang akan dievaluasi. Pada aplikasi ini model Input data adalah kuantitatif atau dengan angka pada komponen ketercapaian program BK (Bimbingan Klasikal, Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok, dan Konseling Individu). Data ini tidak mencakup keseluruhan layanan BK, namun diambil sampel dari layanan yang memiliki tingkat kebutuhan yang sangat tinggi.
Bimbingan klasikal menjadi triger bagi terlaksananya layanan lanjutan seperti Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok, serta Konseling Individu.
129
Tujuan dari pengembangan model evaluasi dan aplikasi program BK membantu guru BK dalam melaksanakan tugasnya terkhusus pada bagian evaluasi program yang telah dilaksanakan serta Memberikan kemudahan bagi Guru BK dimana aplikasi yang disusun dapat memudahkan guru BK dalam melakukan evaluasi program sehingga tidak membutuhkan banyak dokumen cetak untuk data data pendukung dan dalam penyusunan evaluasi program BK tersebut.
Selanjutnya peneliti menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan untuk validasi produk dan dilakukan oleh ahli.
Lembar penilaian validasi ini yang kemudian akan digunakan oleh validator ahli dalam melakukan validasi terhadap produk yang disusun. Selain menyusun lembar penilaian untuk validasi ahli, penulis selanjutnya juga menyiapkan instrumen penilaian pengguna untuk uji lapangan atau kelompok kecil.
.
c. Mengembangkan Produk Awal
Setelah melakukan perencanaan, maka langkah selanjutnya adalah mengembangkan produk awal. Dalam pengembangan ini, perancangan (blue print) yang dikembangkan yang mencakup:
130
(a) Bagan model manajemen evaluasi program BK beserta penjelasannya; (b) Buku Model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube, (d) Aplikasi Evaluasi Program BK berbasis web, (e) Buku Panduan penggunaan Aplikasi Evaluasi Program BK berbasis Three dimensional cube untuk guru BK.
Berikut adalah diagram alur pada tahap pengembangan produk awal:
Gambar 4.1 Alur Pengembangan Produk Awal Berikut adalah rancangan perancangan (blue print) produk yang dikembangkan:
131
1) Bagan Manajemen Evaluasi Program BK
Gambar 4.2 Model Manajemen Evaluasi Program BK Berbasis Three dimensional cube
Perencanaan merupakan tahapan awal pada fungsi manajemen, dimana pada perencanaan tersebut terkandung proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan mengenai suatu hal yang akan dilaksanakan. Perencanaan model manajemen evaluasi Program bimbingan dan konseling berbasis
132
Three dimensional cube diawali dengan identifikasi masalah dan kebutuhan. Pada identifikasi masalah ini dibutuhkan data pendukung yang menjelaskan kebutuhan evaluasi program yang kemudian dilakukan analisis. Data tersebut diperoleh dari hambatan ataupun juga kebutuhan guru BK terhadap dilaksanakannya evaluasi program BK. Tahapan kedua pada perencanaan ini adalah perumusan tujuan, dimana perumusan tujuan menjadi hal yang penting untuk melihat apakah tujuan dari pelaksanaan evaluasi program BK. Perencanaan Konsep Evaluasi Program BK dimana Konsep dari evaluasi program ini adalah untuk membantu guru BK dalam melakukan tugasnya, yaitu melakukan evaluasi atas program yang telah disusun dan dilaksanakannya. Aplikasi evaluasi program BK merupakan penunjang untuk mendukung dan mempermudah guru BK melakukan evaluasi program. Aplikasi Evaluasi program BK ini disusun berdasarkan grand theory yaitu Three dimensional cube yang selanjutnya disusun berdasarkan kisi kisi instrumen. Dalam penggunaan aplikasi memerlukan buku panduan. Panduan berupa manual book aplikasi evaluasi bimbingan dan konseling
133
didalamnya terdapat langkah-langkah dan penjelasan mengenai hal-hal yang harus dievaluasi dan juga mengenai data data yang harus disiapkan untuk selanjutnya dapat dilakukan evaluasi secara keseluruhan.
Tahapan kedua dalam proses manajemen adalah pengorganisasian. Pada tahap perngorganisasian ada beberapa yang harus dilakukan, yang pertama adalah pengorganisasian SDM. Sumber daya manusia dalam konteks ini adalah koordinator guru BK sebagai penanggungjawab pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Guru BK yang kemudian bergerak mengumpulkan data-data yang kemudian akan digunakan untuk mengevaluasi program Bimbingan dan konseling di sekolah. Kedua dalam melaksanakan evaluasi program BK adalah pengorganisasian perangkat. Perangkat komputer digunakan untuk proses Input data serta pengerjaan evaluasi program.
Tahap ketiga dalam proses manajemen adalah pelaksanaan.
Pada bagian pelaksanaan didalamnya terdapat aktivitas Mengolah, menganalisis dan menginterpretasi data berdasarkan
134
dimensi institusional, instruksional, dan tingkah laku. Data-data apa saja yang akan digunakan untuk evaluasi dijelaskan pada bagian selanjutnya.
Tahap terakhir dalam proses manajemen adalah tahap evaluasi. Pada tahap evaluasi ini ada beberapa hal yang harus dilakukan, yang pertama adalah Monitoring dan Tindak Lanjut.
Monitoring dan tindak lanjut pada tahap ini, dapat dilihat kembali pada bagian bagian yang dimungkinkan terlewatkan dalam evaluasi ataupun juga dilihat perubahan yang terjadi selama penyusunan evaluasi program BK dilaksanakan. Bagian akhir dari proses evaluasi ini adalah rekomendasi. Rekomendasi dalam konteks ini adalah materi yang perlu diperkuat dan dimasukan pada program BK selanjutnya, serta saran dan masukan yang dapat digunakan untuk memperbaiki program BK selanjutnya agar dapat disusun dan dilaksanakan secara lebih optimal.
2) Buku Model Evaluasi Program BK Berbasis Three dimensional cube
Buku model disusun dalam empat bab berdasarkan sistematika penulisan, yaitu: 1) Latar Belakang, Tujuan, Sasaran,
135
Dasar Hukum; 2) Kajian teori yang didalamnya memuat Evaluasi Program, Tujuan dan Manfaat, Model Evaluasi Three dimensional cube, dan Bimbingan dan konseling komprehensif;
3) Model evaluasi program BK yang dikembangkan, yaitu Model Evaluasi Program Bimbingan Dan Konseling Berbasis Three dimensional cube yang didalamnya berisi Rasional, urgensi, Tujuan dan bagan model manajemen evaluasi program BK dan ; 4) penutup. Berikut adalah gambar dari halaman sampul Buku Model evaluasi program BK:
Gambar 4.3 Halaman Sampul Buku Model Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Berbasis Three dimensional cube
136 3) Aplikasi Evaluasi Program BK
Aplikasi evaluasi program BK merupakan penunjang untuk mendukung dan mempermudah guru BK melakukan evaluasi program. Aplikasi Evaluasi program BK ini disusun berdasarkan grand theory yaitu Three dimensional cube yang selanjutnya disusun berdasarkan kisi kisi instrumen.
Berikut adalah gambar dari halaman awal aplikasi model evaluasi program BK tersebut:
Gambar 4.4 Gambar Halaman Awal Aplikasi Evaluasi Program BK
137
Berikut adalah tangkapan layar menu aplikasi evaluasi BK:
Gambar 4.5
Gambar Menu Aplikasi Evaluasi Program BK Pada aplikasi evaluasi program BK terdapat beberapa menu, yaitu:
a. Master : untuk mengisi identitas sekolah b. Bimbingan Klasikal : untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan evaluasi proses dan hasil. Data ditampilkan berupa data kuantitatif, yang kemudian dideskripsikan sendiri oleh guru BK sebagai evaluator.
c. Bimbingan Kelompok : untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan evaluasi proses dan hasil. Evaluasi proses didapatkan dari data penilaian terhadap proses bimbingan kelompok yang dilakukan oleh kolaborator.
Data ditampilkan berupa data kuantitatif, yang kemudian dideskripsikan sendiri oleh guru BK sebagai evaluator
138
d. Konseling Kelompok: untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan evaluasi proses dan hasil. Data ditampilkan berupa data kuantitatif, yang kemudian dideskripsikan sendiri oleh guru BK sebagai evaluator
e. Konseling Individu: untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan evaluasi proses dan hasil. Data ditampilkan berupa data kuantitatif, yang kemudian dideskripsikan sendiri oleh guru BK sebagai evaluator
f. Dimensi : pada menu dimensi terdapat 3 dimensi dasar yaitu dimensi institusional, Instruksional dan Behavior. Guru BK memasukan setiap informasi yang diminta pada setiap pertanyaan, kemudian pada pertanyaan pada komponen biaya dan peran kepala sekolah informasi diperoleh dari hasil wawancara guru BK kepada kepala sekolah. Demikian juga dengan peran serta guru dan wali kelas dapat diisi berdasarkan hasil wawancara kepada guru mata pelajaran dan wali kelas.
139
(i) Rekomendasi : Pada bagian selanjutnya terdapat rekomendasi berdasarkan hasil evaluasi berbasis tiga dimensi tersebut.
Cetak : bagian akhir dapat dicetak sebagai laporan.
4) Buku Panduan Penggunaan Evaluasi Program BK Setelah aplikasi evaluasi program BK selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah menyusun buku panduan penggunaan aplikasi evaluasi BK. Buku panduan penggunaan aplikasi evaluasi program BK ini berisi petunjuk penggunaan aplikasi evaluasi program BK bagi pengguna.
Berikut adalah tampilan halaman cover pada panduan penggunaan aplikasi evaluasi program BK:
140
Gambar 4.6 Halaman Sampul Buku Panduan Aplikasi Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling
Penjelasan secara singkat mengenai penggunaan aplikasi evaluasi program BK adalah sebagai berikut: Pada langkah awal guru BK dapat log in ke aplikasi dengan memasukan username dan password pada aplikasi. Username dan password yang dibuat masih sesuai standar, yaitu: username : admin, dan password yaitu 12345.
Pada bagian Master, guru BK dapat mengisi identitas sekolah secara lengkap. Pada menu bimbingan klasikal, kelompok, konseling kelompok dan konseling individu evaluator dapat memasukan data kuantitatif yang diupload dari form data
141
yang sudah disiapkan. Selain itu guru BK mengisikan data deskriptif pada bagian bagian yang kosong yang telah disediakan.
Pada menu dimensi terdapat 3 dimensi dasar didalamnya yaitu dimensi institusional, Instruksional dan Behavior. Guru BK memasukan setiap informasi yang diminta pada setiap pertanyaan, kemudian pada pertanyaan pada komponen biaya dan peran kepala sekolah informasi diperoleh dari hasil wawancara guru BK kepada kepala sekolah. Demikian juga dengan peran serta guru dan wali kelas dapat diisi berdasarkan hasil wawancara kepada guru mata pelajaran dan wali kelas. Sub menu Rekomendasi adalah pengisian rekomendasi terhadap hasil evaluasi yang telah dilakukan. Dan pada bagian akhir adalah sub menu cetak untuk dapat dijadikan laporan.
5) MelakukanValidasi Model Dan Desain
Hasil desain manajemen model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube merupakan desain model yang akan menjadi model hipotetik setelah dilakukan validasi ahli.
Validasi ahli dimaksudkan untuk mendapatkan masukan tentang
142
kelayakan model secara teoritis dan praktis. Validasi model dilakukan melalui uji ahli model evaluasi program BK yaitu tiga orang, ahli evaluasi bimbingan konseling, dan 1 orang ahli teknologi informasi. Komponen validasi model sebagai berikut:
(1) Desain model dan manajemen evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube, (2) Aplikasi evaluasi program BK.
Tabel 4.1
Daftar nama Validator ahli pada validasi model dan Produk
No Nama Bidang
Keahlian Instansi 1 Dr. Umbu Tagela, M.Si Ahli Evaluasi Universitas Kristen
Satya Wacana 2 Dr. Edris Zamroni, M.Pd
Ahli Evaluasi Bimbingan dan
Konseling
Universitas Muria Kudus 3 Dr. Hanung Sudibyo, M.Pd
Ahli Evaluasi Bimbingan dan
Konseling
Universitas Pancasakti Tegal 4 Dr. Ade Iriani, M.M Ahli Teknologi
dan Informasi
Universitas Kristen Satya Wacana Validasi pertama dilakukan oleh validator model evaluasi program BK yaitu Dr. Edris Zamroni, M.Pd. Aspek yang dinilai oleh ahli Evaluasi Bimbingan dan konseling antara lain adalah Rasional, Urgensi, Model evaluasi program BK berbasis Three
143
dimensional cube, dan kesesuaian instrumen pada model evaluasi program BK dengan aplikasi evaluasi program BK.
Instrumen yang disajikan adalah angket dalam bentuk skala likert yang diberikan kepada validator ahli dengan lembar kertas penilaian. Hasil validasi ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling yang diringkas berdasarkan aspek penilaian disajikan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.2
Validasi Ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling 1 No. Aspek Yang Divalidasi Rerata Skor Kriteria
1 Rasional 4 Baik
2 Urgensi 4 Baik
3 Tujuan 5 Sangat Baik
4 Model Evaluasi
Program BK 4 Baik
5 Kesesuaian instrumen pada model dengan aplikasi
4
Baik
Berdasarkan tabel 4.2, validator ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling terhadap model evaluasi program bimbingan dan konseling berbasis Three dimensional cube beserta aplikasi evaluasi program Bimbingan dan Konseling, menunjukan rerata
144
skor pada aspek rasional model evaluasi program BK adalah 4, selanjutnya rerata skor pada urgensi model evaluasi rerata skor adalah 4, aspek tujuan dengan rerata skor 5, model evaluasi program bk dengan rerata skor 4, dan terakhir pada aspek kesesuaian instrumen dengan aplikasi evaluasi program dengan rerata skor 4.
Penulis melakukan rekapitulasi secara keseluruhan aspek penilaian validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling pada model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube beserta aplikasinya. Jumlah skor keseluruhan pada semua aspek adalah 21, dengan rerata 4,2 dan dengan persentase 84%.
Berdasarkan kategori yang telah disusun, maka kemudian dapat dinyatakan bahwa berdasarkan penilaian dari ahli evaluasi BK model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube dan aplikasinya berada pada kategori sangat baik.
Validator ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling memberikan memberikan catatan pada beberapa aspek penilaian untuk pengembangan model evaluasi program bimbingan dan konseling berbasis Three dimensional cube yaitu: 1) pada aspek
145
rasional, catatan yang diberikan adalah perlu penguatan kelebihan model evaluasi yang dikembangkan dibandingkan dengan model yang lain; 2) pada aspek urgensi, catatan yang diberikan adalah memberikan penguatan pembeda model evaluasi yang dibandingkan dengan model yang lain; 3) pada aspek model evaluasi program BK, validator ahli memberikan catatan pada dimensi institusional adah perlunya suplemen tambahan panduan operasional agar jelas posisi masing masing komponen dan perlu memastikan tidak terjadi konflik kepentingan dengan manajemen sekolah dimensi institusional. Pada dimensi pada dimensi isntruksional pertegas bagaimana pola pembiayaan. Pada evaluasi dimensi instruksional, catatan yang diberikan adalah memastikan instrumen ini dapat digunakan untuk semua layanan.
Lebih lanjut pada komentar, saran dan rekomendasi, validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling menuliskan bahwa panduan teoritik dalam model telah disusun dengan baik, selanjutnya perlu harmonisasi dengan POP-BK yang berlaku agar sinkron dengan peraturan pemerintah. Aplikasi yang ditawarkan Baik. Perlu dipertimbangkan bagaimana pola kerja agar komponen
146
sekolah yang terkait dengan kinerja guru BK dapat mengakses hasil evaluasi ini. Panduan penggunaan aplikasi ini harus dibuat sangat operasional.
Validasi selanjutnya dilakukan oleh validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling yaitu Dr. Hanung Sudibyo, M.Pd. Aspek yang dinilai oleh ahli Evaluasi Bimbingan dan konseling antara lain adalah Rasional, Urgensi, Model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube, dan kesesuaian instrumen pada model evaluasi program BK dengan aplikasi evaluasi program BK.
Instrumen yang disajikan adalah angket dalam bentuk skala likert yang diberikan kepada validator ahli dengan lembar kertas penilaian. Hasil validasi ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling yang diringkas berdasarkan aspek penilaian disajikan dalam tabel 4.3 dibawah ini:
147 Tabel 4.3
Validasi Ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling 2 No. Aspek Yang Divalidasi Rerata Skor Kriteria
1 Rasional 4 Baik
2 Urgensi 4 Baik
3 Tujuan 5 Sangat Baik
4 Model Evaluasi
Program BK 4 Baik
5 Kesesuaian instrumen pada model dengan aplikasi
4,7 Sangat Baik
Validasi selanjutnya dilakukan oleh validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling yaitu Dr. Hanung Sudibyo, M.Pd. Aspek yang dinilai oleh ahli Evaluasi Bimbingan dan konseling antara lain adalah Rasional, Urgensi, Model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube, dan kesesuaian instrumen pada model evaluasi program BK dengan aplikasi evaluasi program BK.
Berdasarkan tabel 4.3, validator ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling terhadap model evaluasi program bimbingan dan konseling berbasis Three dimensional cube beserta aplikasi evaluasi program Bimbingan dan Konseling, menunjukan rerata skor pada aspek rasional model evaluasi program BK adalah 4,
148
selanjutnya rerata skor pada urgensi model evaluasi rerata skor adalah 4, aspek tujuan dengan rerata skor 5, model evaluasi program bk dengan rerata skor 4, dan terakhir pada aspek kesesuaian instrumen dengan aplikasi evaluasi program dengan rerata skor 4.
Penulis melakukan rekapitulasi secara keseluruhan aspek penilaian validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling pada model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube beserta aplikasinya. Jumlah skor keseluruhan pada semua aspek adalah 21,7 dengan rerata 4,3 dan dengan persentase 86,7%.
Berdasarkan kategori yang telah disusun, maka kemudian dapat dinyatakan bahwa berdasarkan penilaian dari ahli evaluasi BK model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube dan aplikasinya berada pada kategori sangat baik.
Validator ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling memberikan memberikan catatan pada beberapa aspek penilaian untuk pengembangan model evaluasi program bimbingan dan konseling berbasis Three dimensional cube dan aplikasi evaluasi program BK, yaitu: 1) pada bagian rasional, validator memberikan
149
catatan perlu penambahan mengapa evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube ini tepat digunakan untuk mengevaluasi program BK; 2) pada aspek model evaluasi validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling memberikan catatan pada komponen konten, dimana perlu dilakukan pencermatan dalam mengukur ketercapaian layanan BK; 3) pada aspek kesesuaian instrumen dengan yang terdapat pada aplikasi evaluasi program BK, ahli evaluasi bimbingan dan konseling memberikan masukan yaitu penulis hasrus konsisten dalam penulisan butir dalam instrumen pada aplikasi, disarankan kata tanya diganti menjadi kalimat pernyataan. Pada bagian masukan, saran dan rekomendasi, ahli evaluasi bimbingan dan konseling 2 menyatakan bahwa Model evaluasi yang dikembangkan ini sudah baik walaupun harus ada perbaikan lagi, perhatikan catatan. Model evaluasi ini dan aplikasi evaluasi bimbingan dan konseling ini dapat digunakan oleh guru BK. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu guru BK untuk dapat melaksanakan evaluasi program sebagai bentuk pemenuhan dari keseluruhan tugas guru BK. Pada bagian cetak hasil evaluasi perlu diperbaiki tatanan lebih baik.
150
Validasi selanjutnya dilakukan oleh validator ahli evaluasi yaitu Dr. Umbu Tagela, M.Si. Aspek yang dinilai oleh ahli Evaluasi Bimbingan dan konseling antara lain adalah Rasional, Urgensi, Model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube, dan kesesuaian instrumen pada model evaluasi program BK dengan aplikasi evaluasi program BK.
Instrumen yang disajikan adalah angket dalam bentuk skala likert yang diberikan kepada validator ahli dengan lembar kertas penilaian. Hasil validasi ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling yang diringkas berdasarkan aspek penilaian disajikan dalam tabel 4.4 dibawah ini:
Tabel 4.4
Validasi Ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling 3 No. Aspek Yang Divalidasi Rerata Skor Kriteria
1 Rasional 4 Baik
2 Urgensi 4 Baik
3 Tujuan 4,5 Sangat Baik
4 Model Evaluasi
Program BK 4 Baik
5 Kesesuaian instrumen pada model dengan aplikasi
5 Sangat Baik Berdasarkan tabel 4.4, validator ahli Evaluasi terhadap model evaluasi program bimbingan dan konseling berbasis Three
151
dimensional cube beserta aplikasi evaluasi program Bimbingan dan Konseling, menunjukan rerata skor pada aspek rasional model evaluasi program BK adalah 4, selanjutnya rerata skor pada tujuan model evaluasi rerata skor adalah 4, aspek urgensi dengan rerata skor 4,5, model evaluasi program bk dengan rerata skor 4, dan terakhir pada aspek kesesuaian instrumen dengan aplikasi evaluasi program dengan rerata skor 5.
Penulis melakukan rekapitulasi secara keseluruhan aspek penilaian validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling pada model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube beserta aplikasinya. Jumlah skor keseluruhan pada semua aspek adalah 21,5 dengan rerata 4,3 dan dengan persentase 86%.
Berdasarkan kategori yang telah disusun, maka kemudian dapat dinyatakan bahwa berdasarkan penilaian dari ahli evaluasi BK model evaluasi program BK berbasis Three dimensional cube dan aplikasinya berada pada kategori sangat baik.
152 Tabel 4.5
Rekapitulasi Validasi Ahli Evaluasi Bimbingan dan Konseling
Aspek Yang Dinilai Persentase
Rasional 80
Urgensi 80
Tujuan 96
Model Evaluasi Program BK 80 Kesesuaian Instrumen pada model
dengan aplikasi
92
Berdasarkan rekapitulasi hasil validasi ahli yaitu yang pertama adalah ahli evaluasi bimbingan dan konseling memberikan penilaian terdahap produk yang telah dihasilkan yaitu model evaluasi BK berbasis three dimensional cube dan aplikasi evaluasi program. Berdasarkan penilaian validator ahli evaluasi BK pada aspek rasional model evaluasi BK diperoleh rata rata 80%, pada aspek urgensi evaluasi BK diperoleh persentase sebesar 80%, aspek tujuan dengan persentase 96%, Aspek model evaluasi program BK dengan rerata persentase 80% dan kesesuaian instrumen pada model dengan aplikasi evaluasi program BK sebesar 92%.
Validator ahli Evaluasi memberikan memberikan catatan pada beberapa aspek penilaian untuk pengembangan model
153
evaluasi program bimbingan dan konseling berbasis Three dimensional cube dan aplikasi evaluasi program BK, yaitu: 1) pada bagian rasional, validator memberikan catatan Perkuat dengan teori ahli mengapa model evaluasi ini tepat digunakan untuk mengevaluasi program BK; 2) pada aspek urgensi, validator ahli memberikan catatan yaitu Program BK secara komprehensif bukan hanya bagi siswa tetapi untuk seluruh stakeholder sekolah, dan pada poin pertama diminta untuk melengkapi lagi; 3) pada aspek model evaluasi validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling memberikan catatan pada dimensi instruksional, terkhusus pada komponen biaya, dimana pada komponen biaya perlu diberikan rambu rambu, indikator apa saja yang dapat digunakan untuk menilai ketersediaan pendanaan dan ketercukupan pembiayaan.
Lebih lanjut pada bagian masukan, saran dan rekomendasi validator ahli menyatakan bahwa Konstruksi dalam model sudah dapat terlihat, dan perlu disinkronkan dengan regulasi yang berlaku
Berdasarkan masukan dari tiga Validator ahli evaluasi bimbingan dan konseling maka peneliti melakukan beberapa
154
perbaikan, yaitu: 1) Pada bagian rasional dengan melengkapi keunggulan model evaluasi three dimensional cube dibandingkan dengan model evaluasi lain, dimana model evaluasi ini model evaluasi ini cocok digunakan untuk mengukur keefektivan suatu program pada tingkat lokal (sekolah). Model evaluasi three dimensional cube ini merupakan model evaluasi yang lebih mengedepankan pendekatan sistematik dalam mengevaluasi efektivitas suatu program dalam pencapaian tujuan; 2) Pada urgensi model. Model Evaluasi Program BK Berbasis Three dimensional cube, perbaikan dilakukan dengan menambahkan penguatan pada bagian model evaluasi ini. Perbaikan dan penambahan yang dimasukan adalah dimana pada model evaluasi three dimensional cube memberikan penekanan pada langkah awal dimana proses evaluasi dimulai dengan subjek kurikulum.
Program BK merupakan kurikulum yang disusun oleh guru BK berdasarkan analisis kebutuhan peserta didik. kurikulum BK atau biasa disebut program BK berbeda dengan kurikulum formal seperti pada program pembelajaran. langkah selanjutnya dalam model evaluasi ini adalah penetapan proses deskriptif pada dimensi
155
instruksional dan institusional, lebih lanjut tujuan ditetapkan dalam bentuk perilaku (behavior) serta yang terakhir adalah penilaian atas perilaku (behavior) yang dijelaskan dalam tujuan; 3) menambahkan pedoman pada komponen biaya. Peneliti menambahkan pedoman atau panduan yang didalamnya terdapat indikator indikator untuk mengevaluasi pada komponen biaya.
Evaluasi dilakukan terhadap keseluruhan anggaran untuk semua hal yang mendukung pelaksanaan program BK. Adapun komponen biaya ini meliputi Anggaran untuk semua aktivitas yang tercantum dalam program BK, anggaran untuk aktivitas pendukung, serta anggaran untuk pengembangan Guru BK; 4) memperbaiki kalimat yang ada di aplikasi.
Validasi selanjutnya dilakukan untuk menilai aplikasi evaluasi bimbingan dan konseling oleh validator ahli teknologi informasi yaitu Dr. Ade Iriani, M.M. dan Wuwus Suryanto S.Kom.
Dr. Ade Iriani sebagai validator ahli memberikan masukan mengenai butir butir dan kesesuaian dengan aplikasi, sedangkan Wuwus Suryanto sebagai validator ahli II memberikan penilaian terhadap beberapa aspek, yaitu Pewarnaan dan Bahasan, Desain,
156
Pemrograman, Keamanan, Program, dan Reaksi Penggunaan aplikasi evaluasi program BK. Masing masing aspek disusun kedalam pernyataan yang dibuat dalam model skala likert untuk pilihan dari pernyataan dalam angket penilaian. Penilaian yang dilakukan oleh validator ahli evaluasi program BK dengan ahli teknologi informasi disajikan dalam tabel rekapitulasi hasil validasi ahli dibawah ini
Instrumen yang disajikan adalah angket dalam bentuk skala likert yang diberikan kepada validator ahli dengan lembar kertas penilaian. Hasil validasi ahli teknologi informasi terhadap aplikasi evaluasi program BK yang diringkas berdasarkan aspek penilaian disajikan dalam tabel 4.6 dibawah ini:
Tabel 4.6
Validasi Ahli Evaluasi IT II
No. Aspek Yang Divalidasi Rerata Kriteria
1 Pewarnaan dan Bahasan 3,5 Baik
2 Desain 3,67 Baik
3 Pemrograman 3,5 Baik
4 Keamanan Program
5 Sangat
Baik
5 Reaksi Penggunaan 4 Baik
Berdasarkan tabel 4.6, validator ahli teknologi informasi II memberikan penilaian terhadap aplikasi evaluasi program
157
Bimbingan dan Konseling, menunjukan rerata skor pada aspek pewarnaan dan bahasa adalah 3,5, selanjutnya rerata skor pada desain rerata skor adalah 3,67, aspek pemrograman dengan rerata skor 3,5. Lebih lanjut keamanan program dengan rerata skor 5, dan terakhir pada aspek reaksi penggunaan aplikasi evaluasi program BK dengan rerata skor 4.
Penulis melakukan rekapitulasi secara keseluruhan aspek penilaian validator ahli teknologi informasi pada aplikasi evaluasi program. Jumlah rerata skor keseluruhan pada semua aspek adalah 3,03 dengan persentase sebesar 78,67% . Berdasarkan kategori yang telah disusun, maka kemudian dapat dinyatakan bahwa berdasarkan penilaian dari ahli Teknologi informasi, aplikasi evaluasi program BK berada pada kategori baik.
Validator ahli teknologi informasi I memberikan cataran informasi memberikan memberikan catatan pada beberapa aspek penilaian untuk aplikasi evaluasi program BK, yaitu: 1) pada kolom di bimbingan klasikal mengganti materi menjadi topik; 2) topik layanan dimasukan langsung di masing masing topik layanan bimbingan klasikal sehingga pada sub menu rekap dapat muncul
158
langsung, dan tidak memasukan secara manual; 3) menghilangkan kolom jenis kelamin pada evaluasi proses untuk layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok; 4) Perbaikan pada pada kolom rekapitulasi hasil dan proses pada layanan bimbingan kelompok, konseling kelompok dan konseling individu; 5) mengganti judul menu dari Deskripsi menjadi Dimensi; 6) Memeriksa rumus pada persentase yang ada pada bagian evaluasi proses.
d. Melakukan Uji Lapangan atau Uji Kelompok Kecil Uji coba secara terbatas aplikasi evaluasi program bimbingan dan konseling dilakukan tehadap 5 guru BK SMP, Kabupaten Semarang. Uji coba terhadap guru BK dilakukan pada rentang tanggal 27 – 28 Februari 2023. Uji coba kepada guru BK terhadap Aplikasi evaluasi program BK diawali dengan guru BK diberikan aplikasi evaluasi program BK, kemudian melakukan instalasi aplikasi tersebut dengan perangkat komputer/ laptop.
Setelah aplikasi sudah terinstall, guru dapat login dengan menggunakan username dan password standar. Username yang dipakai adalah “admin” dan password yang dipakai adalah
159
“12345”. Instrumen yang dipergunakan dalam uji lapangan terbatas pada guru BK terhadap pemakaian aplikasi evaluasi program Bk adalah dengan menggunakan angket dengan model skala likert. Angket disusun dengan lima aspek penilaian yaitu aspek yang menjadi dasar penilaian adalah pewarnaan dan bahasa, desain, pemrograman, keamanan program, dan reaksi penggunaan.
Angket penilaian pengguna aplikasi terdiri dari lima belas (15) pernyataan. Angket yang kemudian diisi oleh guru BK memperhatikan masukan dan juga saran guru BK yang dituliskan pada bagian yang sudah disediakan.
Berikut adalah Rekapitulasi hasil ujicoba terbatas, yang tersaji pada tabel 4.7 dibawah ini:
Tabel 4.7
Rekapitulasi Hasil Uji Coba Terbatas
Aspek Rerata
Skor % Kategori
Aspek Pewarnaan dan Bahasa 4,25 85% Sangat Baik Aspek Desain 4,3 85,3% Sangat Baik Aspek Pemrograman 4,2 84,0% Sangat Baik Aspek Keamanan Program 4,6 92% Sangat Baik Reaksi Penggunaan 4,4 88% Sangat Baik
Tabel 4.7 merupakan hasil dari uji coba skala terbatas yang dilakukan terhadap lima orang guru BK di wilayah Kabupaten
160
Semarang. Setiap guru BK menilai berdasarkan lima aspek yaitu aspek pewarnaan, desain, pemrograman, keamanan program dan reaksi penggunaan.
Hasil uji coba yang dilakukan kepada guru BK diperoleh hasil bahwa pada aspek pewarnaan dan bahasa didapatkan rerata skor sebesar 4,25 dengan persentase sebesar 85%, rerata skor pada aspek desain sebesar 4,3 dengan persentase 85,3%. Lebih lanjut pada aspek pemrograman didapatkan rerata skor sebesar 4,2 dengan persentase sebesar 84%, lebih lanjut pada aspek keamanan program didapatkan rerata skor sebesar 4,6 dengan persentase 92%
dan aspek reaksi penggunaan diperoleh rerata sebesar 4,4 dengan persentase 88%. Secara keseluruhan aspek didapatkan rerata sebesar 4,34 dan dengan persentase sebesar 86,87%. Berdasarkan pengkategorian yang telah disusun maka dikatakan bahwa aplikasi evaluasi BK dinilai memiliki kategori sangat baik.
Berdasarkan hasil dari proses penelitian dan pengembangan model serta aplikasi maka selanjutnya rumusan masalah ketiga yaitu “Bagaimana mengembangkan model evaluasi program BK dengan berbasis Three dimensional cube untuk meningkatkan
161
kualitas layanan?” terjawab dengan hasil pengembangan model program evaluasi BK berbasis Three dimensional cube dengan kriteria sangat baik dan aplikasi evaluasi program BK dengan kriteria Baik.
Masing-masing aspek yang diujikan kepada pengguna yaitu Guru BK kemudian dianalisis. Hasil analisis pengguna disajikan dalam bentuk diagram. Hasil analisis aspek pewarnaan dan bahasa adalah sebagai berikut:
Gambar 4.7 Analisis Aspek Pewarnaan dan Bahasa Hasil uji coba terhadap lima guru BK terhadap penggunaan aplikasi evaluasi program BK pada aspek pewarnaan dan bahasa dapat dilihat dari gambar 4.7. pada aspek pewarnaan dan bahasa pada aplikasi evaluasi program BK menunjukan bahwa 65% guru
Sangat Baik 30%
Baik 65%
Cukup Baik 5%
ASPEK PEWARNAAN DAN
BAHASA
162
menyatakan baik, dan 30% menyatakan baik dan 5% menyatakan cukup baik. secara keseluruhan, aspek pewarnaan dan bahasa pada Aplikasi Evaluasi Program BK memiliki kecenderungan yang positif dimana Guru BK sebagai subyek uji coba aplikasi ini memandang positif dengan adanya aplikasi evaluasi program BK ini. Hasil tersebut mengandung makna bahwa pewarnaan dan bahasa aplikasi evaluasi program BK dapat diterima baik dan positif oleh guru BK sebagai pengguna.
Lebih lanjut uji coba terhadap guru BK dilakukan pada aspek desain. Pada aspek desain ini terdiri dari 3 pernyataan yang menilai bagaimana desain aplikasi evaluasi program ini apabila digunakan oleh guru BK. Hasil analisis aspek desain Aplikasi evaluasi program BK adalah sebagai berikut:
Gambar 4.8 Analisis Aspek Desain
40%
47%
13%
Aspek Desain
Sangat Baik Baik Cukup Baik
Tidak Baik Sangat Tidak Baik
163
Hasil uji coba terhadap lima guru BK terhadap penggunaan aplikasi evaluasi program BK dapat dilihat dari gambar 4.8. Pada aspek desain pada aplikasi evaluasi program BK menunjukan bahwa 47% guru menyatakan baik, dan 40% menyatakan baik dan 13% menyatakan cukup baik. secara keseluruhan, aspek desain pada Aplikasi Evaluasi Program BK memiliki kecenderungan yang positif dimana Guru BK sebagai subyek uji coba aplikasi ini memandang positif dengan adanya aplikasi evaluasi program BK ini. Hasil tersebut mengandung makna bahwa desain aplikasi evaluasi program BK dapat diterima baik dan positif oleh guru BK sebagai pengguna.
Lebih lanjut uji coba terhadap guru BK dilakukan pada aspek pemrograman. Pada aspek desain ini terdiri dari 4 pernyataan yang menilai bagaimana tanggapan guru BK terhadap pemrograman aplikasi evaluasi program ini apabila digunakan oleh guru BK. Hasil analisis aspek pemrograman Aplikasi evaluasi
164 program BK adalah sebagai berikut:
Gambar 4.9 Analisis Aspek Pemrograman Berdasarkan gambar 4.9 mengenai aspek pemrograman aplikasi evaluasi program BK, aspek pemrograman pada aplikasi evaluasi program BK menunjukan bahwa 45% guru BK menyatakan sangat baik, dan 40% menyatakan baik, dan 15% guru BK menyatakan pada aspek pemrograman ini cukup baik. secara keseluruhan, aspek pemrograman pada Aplikasi Evaluasi Program BK memiliki kecenderungan yang positif dimana Guru BK sebagai subyek uji coba aplikasi ini memandang positif aspek ini pada aplikasi evaluasi program BK ini. Hasil tersebut mengandung makna bahwa desain pemrograman evaluasi program BK dapat diterima baik dan positif oleh guru BK sebagai pengguna.
Lebih lanjut uji coba terhadap guru BK dilakukan pada
Sangat Baik Baik 35%
50%
Cukup Baik 15%
Aspek Pemrograman
Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik
165
aspek keamanan program. Pada aspek keamanan program ini terdiri dari 2 pernyataan yang menilai bagaimana tanggapan guru BK terhadap keamanan aplikasi evaluasi program ini apabila digunakan oleh guru BK. Hasil analisis aspek keamanan program pada Aplikasi evaluasi program BK adalah sebagai berikut:
Gambar 4.10 Hasil Analisis Aspek Keamanan Program Berdasarkan gambar 4.10 mengenai aspek keamanan program pada aplikasi evaluasi program BK, aspek keamanan program pada aplikasi evaluasi program BK menunjukan bahwa 60% guru BK menyatakan sangat baik, dan 40% sisanya menyatakan baik. Secara keseluruhan, aspek keamanan program pada Aplikasi Evaluasi Program BK memiliki kecenderungan yang positif dimana Guru BK sebagai subyek uji coba aplikasi ini
Keamanan Program
Sangat Baik Baik Cukup Baik
Tidak Baik Sangat Tidak Baik
166
memandang positif bahwa pad aspek keamanan program, aplikasi evaluasi program BK ini dapat dikatakan aman. Hasil tersebut mengandung makna bahwa desain keamanan program pada evaluasi program BK dapat diterima baik dan positif oleh guru BK sebagai pengguna.
Analisis selanjutnya dilakukan kepada guru BK pada aspek reaksi penggunaan aplikasi evaluasi program BK. Aspek desain ini terdiri dari 4 pernyataan yang menilai bagaimana tanggapan guru BK terhadap reaksi penggunaan pada aplikasi evaluasi program ini apabila digunakan oleh guru BK. Hasil analisis aspek reaksi penggunaan pada Aplikasi evaluasi program BK adalah sebagai berikut:
Gambar 4.11 Hasil Analisis Aspek Reaksi
Sangat Baik 50%
Baik 40%
Cukup Baik 10%
Reaksi Penggunaan
Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik
167
Pada gambar 4.11 mengenai aspek Berdasarkan gambar 4.3 mengenai aspek keamanan program pada aplikasi evaluasi program BK, aspek keamanan program pada aplikasi evaluasi program BK menunjukan bahwa 50% guru BK memilih jawaban sangat baik, dan 40% menyatakan baik dan 10% guru BK menyatakan cukup baik. Secara keseluruhan, aspek reaksi penggunaan pada Aplikasi Evaluasi Program BK memiliki kecenderungan yang positif dimana Guru BK sebagai subyek uji coba aplikasi ini memandang positif bahwa aplikasi ini mudah untuk digunakan dan mudah untuk dipahami alur pengerjaannya.
Hasil tersebut mengandung makna bahwa desain guru BK sebagai pengguna aplikasi evaluasi program BK memandang bahwa aplikasi ini memiliki alur yang mudah dipahami dan pada pengoperasiannya dapat dikatakan mudah.
i. Revisi Produk Utama
Revisi terhadap produk utama dilakukan setelah uji coba pada skala kecil. Yang menjadi dasar dari tahap revisi ini adalah hasil dari evaluasi yang dilakukan dengan menggunakan angket.
Pada tahapan ini diharapkan bahwa model evaluasi program BK
168
berbasis three dimensional cube dan aplikasinya yang dikembangkan menjadi lebih baik dan dapat digunakan oleh guru BK secara meluas sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan yang dilakukan oleh guru BK.
Uji coba skala kecil dilakukan terhadap guru BK SMP yang bernaung di bawah Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Semarang. Penilaian untuk melihat respon dan tanggapan subyek penelitian pada uji skala kecil dilakukan dengan menggunakan angket yang kemudian diisi oleh guru BK. hasil uji coba menggunakan angket dengan lima aspek penilaian, serta memperhatikan masukan dan juga saran yang telah dituliskan guru BK pada angket yang sudah disediakan. Pada isian masukan, saran dan rekomendasi dari guru BK tidak ada revisi atau masukan yang mendasar untuk pemakaian aplikasi evaluasi program BK, hanya saran untuk penggantian pada sub menu Anak Didik pada Dimensi Instruksional yang disarankan untuk diganti dengan Peserta Didik.
Dari beberapa saran serta penilaian dari guru BK terhadap aplikasi evaluasi program bimbingan dan konseling disampaikan
169
yang pertama oleh Joko Muttaqin, S.Sos I., M.Pd guru BK SMP Negeri 4 Tengaran, yaitu “ Aplikasi ini relatif mudah dimengerti alurnya, memberi kemudahan bagi guru BK untuk mengerti dan melakukan evaluasi program BK, untuk print out di-setting sedemikian rupa agar didalam sudah ada lembar pengesahan dll yang lengkap. Aplikasi ini semoga dapat menjadi bahan atau rujukan bagi guru di Kabupaten Semarang dalam melakukan evaluasi program BK.“
Komentar, saran dan rekomendasi selanjutnya adalah dari Tejo Asmara, S.Pd., guru BK di SMP Negeri 3 Suruh, yaitu: “ aplikasi evaluasi program BK yang menarik dan aplikatif untuk dimanfaatkan oleh guru BK. Satu hal pada menu Dimensi bagian dimensi institusional, pada sub menu anak didik agar lebih luwes diganti dengan istilah Peserta Didik. Guru BK dapat menggunakan aplikasi ini kedepannya untuk memudahkan menyusun laporan, evaluasi, dan tindak lanjut program BK.”
4.2 Pembahasan
Untuk melihat efektivitas ataupun hasil dari suatu program diperlukan evaluasi terhadap program tersebut. evaluasi dapat
170
dilakukan dengan menggunakan model evaluasi tertentu. Aziz et al. (2018) melakukan penelitian untuk mengevaluasi program peningkatan mutu sekolah dengan menggunakan model evaluasi CIPP. Terkait dengan model evaluasi, three dimensional cube merupakan salah satu model evaluasi yang dapat diterapkan untuk mengevaluasi program sekolah. Beberapa penelitian terdahulu menyatakan bahwa three dimensional cube sebagai model evaluasi dapat diimplementasikan dalam mengevaluasi program sekolah, seperti Küçükkayhan & Adigüzel (2021) yang melakukan penelitan untuk mengevaluasi program pendidikan kejuruan terbuka, Ayuningtyas et al. (2017) dan Hidiroğlu et al. (2016) melakukan penelitian untuk mengevaluasi program pelatihan peningkatan kompetensi guru, serta Altay & Saracaloğlu (2022) yang melakukan penelitian kurikulum program bahasa inggris pada pendidikan menengah. Hal ini dapat menggambarkan bahwa evaluasi program merupakan hal yang penting, dan selain itu model evaluasi three dimensional cube menjadi salah satu model yang dapat diimplementasikan untuk mengevaluasi program di sekolah.
171
Pelaksanaan program BK tidak dapat dilepaskan dari prinsip manajemen, dimana dalam pelaksanaan program BK terdapat prinsip Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Pada panduan operasional pelaksanaan bimbingan dan konseling (POP- BK) selanjutnya Zamroni & Rahardjo (2015) menyatakan bahwa BK menganut prinsip dalam manajemen dalam pelaksanaannya yaitu yaitu Planning, Organizing, Staffing, Leading dan Controlling. Guru BK sebagai pelaksana layanan BK di sekolah perlu untuk menguasai kompetensi mengenai manajemen BK tersebut.
Evaluasi yang dilakukan terhadap program BK yang telah disusun dan berjalan menjadi hal yang penting dimana akan dapat dilihat sejauhmana program BK dapat terlaksana dan memberikan manfaat terhadap kebutuhan peserta didik. Gysbers & Henderson (2014) menyatakan terdapat tiga elemen penting dalam program BK, perencanaan, pelaksanaan dan hasil. Keberhasilan suatu perencanaan, pelaksanaan dan hasil dari program BK akan terlihat jelas dengan dilaksanakannya evaluasi program BK. Pelaksanaan Evaluasi program BK dilaksanakan secara menyeluruh dimulai