• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keanekaragaman Budaya di Kota Semarang

N/A
N/A
Dini Sukma

Academic year: 2024

Membagikan "Keanekaragaman Budaya di Kota Semarang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 DUGDERAN : TRADISI KOTA SEMARANG

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN Dini Sukmawati 3312420001

PENDAHULUAN

Kota Semarang adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia denagn kepadatan penduduk yang tinggi. Masyarakatnya terdiri dari beragam suku bangsa dan agama. Sejumlah kawasan kental dengan karakter multikulturalnya seperti di distrik Pecinan, Pekojan dan Kauman. Oleh karena itu Kota Semarang menjadi tempat yang tepat bagi bertumbuh kembangnya akulturasi dari beberapa kebudayaan, yaitu Timur Tengah, Barat, Jawa dan Tionghoa. Walaupun hidup penuh dengan perbedaan masyarakat Kota Semarang hidup berdampingan, rukun dan minim konflik. Kota Semarang memiliki Keanekaragaman Budaya yang merupakan aset utama yang harus ditonjolkan. Dampak dari keanekaragaman budaya ini memunculkan berbagai ragam jenis variasi dalam banyak hal. Misalnya bisa dilihat dari sudut kesenian, peninggalan bangunan atau arsitektur, religi, kuliner dan hal lainnya. Dari ragam variasi yang ada di Kota Semarang tersebut dapat diketahui bahwa budaya yang ada di Kota Semarang merupakan pencampuran budaya dari Jawa Pesisir, Arab dan China. Salah satu kebudayaan dari hasil perpaduan dan persatuan dari tiga budaya tersebut adalah tradisi Dugderan dengan arak arakan warag ngendog sebagai ikon yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya sebelum bulan ramadhan datang walaupun di tahun 2020 sedang terjadi pandemi covid-19 akan tetapi tradisi ini masih teteap dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Dugderan merupakan tradisi yang sangat menarik untuk dibahas, terdapat berbagai makna tersirat didalamnya serta mempersatukan dan mengikutsertakan semua elemen budaya yang ada di Semarang pada puncak acaranya

PEMBAHASAN

Dugderan adalah kebudayaan khas Kota Semarang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan sebelum ibadah puasa ditunaikan oleh masyarakat yang beragama Islam. Nama "dugderan" merupakan filosofi dari

(2)

2 suara letusan. Kata "Dug" yang berarti bunyi yang berasal dari bedug yang dibunyikan saat waktu shalat Maghrib tiba. Sementara kata "deran" adalah diambil dari suara mercon yang meriahkan kegiatan ini. Dugderan, sudah menjadi tradisi turun temurun di Kota Semarang.

Perayaan yang telah dimulai sejak zaman kolonial ini dahulu dipusatkan di kawasan Masjid Agung Semarang atau Masjid Besar Semarang (Masjid Kauman) yang berada di pusat kota lama dekat Pasar Johar sedangkan Arak arakan dimulai dari dari kantor walikota ke masjid kauman Semarang.

Tradisi dugderan ini telah dilaksanakan sejak tahun 1882 pada masa Kebupatian Semarang di bawah kepemimpinan Bupati R.M. Tumenggung Ario Purbaningrat. mengirim utusan untuk melihat bulan, yakni menggunakan metode Rukyatul Hilal atau metode melihat bulan secara langsung. Setelah bulan terlihat, utusan tersebut diminta menyampaikan kepada para kiai yang sudah berkumpul di masjid, disebut halaqah kiai untuk dilakukan verifikasi.

Setelah hasil verifikasi menemukan persetujuan ulama, maka hasil keputusan tersebut diminta segera diumumkan bahwa telah memasuki bulan suci ramadhan.

WARAG NGENDOK

Membahas Dugderan tidak lengkap jika tidak membahas pula ikon pada Dugderan yaitu Warag Ngendog. Warak Ngendok adalah hewan rekayasa yang menjadi bentuk nyata akulturasi budaya Di Kota Semarang. Warak Ngendok berasal dari dua kata yaitu Warak yang berasal dari bahasa Arab “Wara'I” yang artinya suci. Ngendog artinya bertelur. Warak ngendog tercipta dari dasar kehidupan budaya masyarakat Semarang yang multi kultur, yaitu budaya Jawa, Arab, dan Cina, secara dibumbuhi oleh ekstra estetik (simbolik) terakulturasi pada ekspresi keseluruhan struktur bentuk yang terdiri Cina, Arab dan Jawa. Kepalanya seperti kepala naga (Cina), tubuhnya bagaikan buraq (Arab), dan empat kakinya hampir sama dengan kaki kambing (Jawa) dan dibagian bawahnya terdapa telur. Begitulah awal mula muncul interpretasi eksistensi makhluk imajiner dengan keragaman penduduk kota Semarang. Warak ngendog aslinya hanya berupa mainan anak-anak dengan wujud layaknya hewan. Kalau dibandingkan dengan bentuk Warak Ngendog yang ada sekarang ini jauh berbeda dengan bentuk pada jaman dahulu, Warak Ngendog yang asli terbuat dari gabus tanaman mangrove dan bentuk sudutnya yang lurus.

(3)

3 MAKNA DAN NILAI YANG TERKANDUNG

• Makna Dugderan

Pemukulan bedug dan bom udara, secara luas bermakna bahwa bulan Ramadan segera datang dan bersiap menjalani ibadah puasa dengan hati yang suci dan bersih. Di era sekarang perayaan dugderan bermakna untuk mempersatukan semua elemen budaya di Semarang lewat acara kirab budaya dugderan. Selain itu perayaan Dugderan sebagai sarana silahturami, bukti toleransi dan ajang untuk memeperkenalkan budaya kota Semarang pada khalayak luas. Keragaman etnis yang ada di Kota Semarang juga melatar belakangi tagline dalam City Branding Kota Semarang yaitu “Variety of Culture”. bermakna bahwa Kota Semarang mempercantik diri dan berkembang dengan tetap mempertahankan budayanya yang heterogen. Pesan yang disampaikan bahwa sentuhan harmonisasi berbagai budaya Jawa bersama budaya China, Arab,Belanda dan Jawa pasti dirasakan di Kota Semarang.

Makna Warag Ngendok

Konon katanya ciri khas bentuk dari Warak Ngendog mengandung arti filosofis mendalam.

Dipercayai menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara apa adanya, tidak ada yang munafik serta tidak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan. Warag Ngendog memiliki arti agar tetap suci di akhir bulan Ramadhan akan mendapat pahala pada Idul Fitri. Warak Ngendok pada jaman dahulu dikenal sebagai hewan mitologi yang sakti oleh warga Semarang. Badanya berwujud makhluk rekayasa yang terbentuk dari gabungan bebagai binatang yang menjadi simbol persatuan dari berbagai etnis di Semarang. Warak sendiri diambil dari kata bahasa arab 'wara' yang berarti pengendalian diri, dan Telur(endog) mempunyai makna sebagai benih atau embrio, sehingga arti dari keseluruhan tersebut di dalam bulan ramadhan tersebut manusia untuk di ingatkan agar tidak berperilaku seperti binatang, dan bulan ramadhan di jadikan sebagai benih untuk selalu berbuat kebajikan dan amal shaleh sehingga harapanya ketika lebaran tiba akan kembali fitri.

(4)

4 MELESTARIKAN TRADISI DUGDERAN

Prosesi perayaan Dugderan sudah dimodifikasi seseuai perkembangan jaman dari masa ke masa tanpa menghapuskan makna dari tradi tersebut. Prosesi Dugderan diawali dengan upacara budaya di halaman Balaikota Semarang dikuti sekitar 10.000 peserta Dugderan dari 16 Kecamatan yang ada di Kota Semarang. Lengkap dengan atributnya seperti membawa miniatur Warak Ngendhog, bunga Manggar, kesenian tradisional, barongsai, dan lainnya. Tak lupa Warak Ngendhog berukuran besar dengan tinggi 6 meter diarak menggunakan kendaraan bergabung dengan peserta pawai lainnya, dari balaikota menuju Masjid Agung Kauman dan Masjid Agung Jawa Tengah. Setelah tiba di Masjid Agung Kauman untuk mengikuti prosesi sakral pembacaan Shukuf Halaqoh, doa, tabuh bedug, dan peledakan bom udara, prosesi itu yang akhirnya dikenal di masyarakat dengan nama 'dug' dari bunyi bedug, dan 'der' berasal dari bunyi bom udara. Bunyi dua benda itu menandai akan memasukinya bulan puasa bagi warga Semarang.

Kemudian hal yang dinanti masyarakat tiba yakni berebut kembang Manggar yang dibawa pawai dan yang menempel di kereta kencana. Masyarakat juga berebut air suci dari pembacaan khatam Alquran dan jajan tradisional asli Semarang kue ganjel rel. Setelah itu, Pawai Dugderan dilanjut menuju Masjid Agung Jawa Tengah, untuk prosesi penyerahan Shukuf Di Masjid Agung Jawa Tengah Shukuf Halaqoh kembali dibacakan, lalu pemukulan bedug dan bom udara, serta diumumkannya kepada masyarakat secara luas bahwa bulan Ramadan segera datang dan bersiap menjalani ibadah puasa dengan hati yang suci dan bersih.

KESIMPULAN

Kota Semarang merupakan suatu potret nyata masyarakat multikultural, karena terdiri dan dihuni dari berbagai keanekaragaman etnis, agama, dan budaya yang hidup berdampingan, rukun didalam kehidupan sehari-hari dan minim terjadinya konflik. Berkat adanya multikultural tersebut lahirlah Kebudayaan yang penuh makna toleransi, yaitu Perayaan Dugderan dengan ikon arak arakan warag ngendog sebagai peyambut bulan ramadhan.

Dugderan berasal dari kata "Dug" yang berarti bunyi yang dari bedug yang dibunyikan saat ingin shalat Maghrib. Sementara "deran" adalah suara dari mercon yang dimeriahkan oleh kegiatan ini. Pemukulan bedug dan bom udara, secara luas bermakna bahwa bulan Ramadan segera datang dan bersiap menjalani ibadah puasa dengan hati yang suci dan bersih.

(5)

5 DAFTAR PUSTAKA

Soekmono. Pengantar Kebudayaan Indonesia 1 : Kanisius,1973. Hlm. 7 -15.

Koentjoroningrat. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia,1987.

Rustopo, Menjadi Jawa: Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa, 2007

Boombastis.com. Warak Ngendog, Hewan Mitologi yang Menjadi Simbol Persatuan Etnis diSemarang. https://www.boombastis.com/warak-ngendog/82201

Jateng.suara.com. 4 mei 2019. 7 november 2020. Meriahnya Prosesi Dugderan

SambutRamadandiSemarang.https://jateng.suara.com/read/2019/05/04/222546/meriah nya-prosesi-dugderan-sambut-ramadan-di-semarang?page=all

Referensi

Dokumen terkait

Terkait dengan analisis dari dimensi kultural diketahui bahwa warga miskin di kota Semarang memiliki orientasi nilai budaya dan sikap mental yang positif dalam memandang

Dari studi di atas telah dinyatakan bahwa KKLS adalah warisan sejarah budaya kota Semarang yang seharusnya mampu dimanfaatkan sebagai sumberdaya budaya, setidaknya bagi warga kota

Kegiatan Pemutakhiran Data Cagar Budaya Kawasan Kota Lama Semarang Tahap IV tahun 2019 merupakan aktivitas untuk memetakan posisi / keletakan serta melakukan

Keanekaragaman makhluk hidup tersebut dikenal dengan keanekaragaman hayati yang merupakan keseluruhan variasi pada tingkat gen, tingkat jenis dan pada tingkat ekosistem..

Semarang sebagai salah satu kota penting di pantai utara Jawa, merupakan tempat pertemuan beberapa budaya sehingga muncul perkampungan yang dipengaruhi beberapa budaya seperti

Keanekaragaman Dan Nilai Budaya Jenis Pohon Pada Ruang Terbuka Hijau Di Keraton Kasunanan Surakarta Dan Pura Mangkunegaran Kota Surakarta.. Skripsi Fakultas

Kehidupan sosial masyarakat Majapahit pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk, sangatlah rukun damai dan penuh dengan toleransi antara agama Hindu dan Buddha yang hidup berdampingan

Eksplorasi etnomatematika yang ditemukan yakni: Warak Ngendhog, tari Denok Deblong, dan lumpia sebagai produk hibriditas budaya di Kota Semarang yang dapat diintegrasikan dalam