• Tidak ada hasil yang ditemukan

keanekaragaman hayati dan plasma nutfah

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "keanekaragaman hayati dan plasma nutfah"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

Panduan Praktik Keanekaragaman Hayati dan Plasma Nutfah akhirnya telah difinalisasi menjadi panduan bagi mahasiswa program Agroteknologi yang mengikuti mata kuliah yang dulu merupakan gabungan dari mata kuliah Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Plasma Nutfah. Panduan Praktikum Keanekaragaman Hayati dan Plasma Nutfah terdiri dari delapan topik praktikum yang membahas tentang komponen keanekaragaman hayati, pengkajian variabilitas, eksplorasi dan koleksi, analisis klaster, konservasi, dan pembuatan herbarium. IV Eksplorasi dan Koleksi Plasma Nutfah 16 V Analisis Klaster Studi Genetika 23 VI Analisis Klaster Menggunakan Software Statistik 30 VII Konservasi Eks Situ Zingiberaceae 46 VIII Konservasi Eks Situ Nepenthes sp.49 IX Konservasi In Situ Taman Hutan Raya 52.

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah semua kehidupan, termasuk tanaman, hewan, jamur, mikroorganisme bersama dengan materi genetik berbeda yang dikandungnya, serta keanekaragaman sistem ekologi tempat mereka hidup. Keanekaragaman hayati dapat dikelompokkan menjadi keanekaragaman hayati tingkat genetik atau gen, keanekaragaman hayati tingkat spesies atau spesies, dan keanekaragaman hayati tingkat ekosistem.

Tabel 1. Komponen biotik ekosistem pada setiap sub plot  Ekosistem  Sub
Tabel 1. Komponen biotik ekosistem pada setiap sub plot Ekosistem Sub

KEANEKARAGAMAN SPECIES

Keanekaragaman α pada setiap plot penelitian diukur menggunakan indeks Shannon–Winner atau sering disebut indeks Shannon (H') dan indeks kemerataan spesies atau indeks kemerataan (E). Indeks Shannon merupakan ukuran kekayaan jenis atau kelimpahan jenis pada suatu habitat, sedangkan indeks kemerataan jenis merupakan ukuran dominasi atau proporsi masing-masing jenis pada suatu habitat (Magurran, 1988). Mengenali berbagai jenis anggrek, baik anggrek epifit (menggantung di batang pohon sebagai epifit) maupun anggrek terestrial (hidup.

9 Pedoman Praktis Keanekaragaman Hayati dan Plasma Nutfah . di permukaan tanah) di kawasan hutan dan kebun percobaan Fakultas Pertanian Unand. Transek dilakukan mulai dari awal jalan hingga ke tengah kawasan hutan mengikuti jalan eksisting. Penyisiran dilakukan oleh banyak kelompok agar plot yang dibuat dapat merepresentasikan hutan di sekitar kebun percobaan Unand Faperta.

Hitung jenis anggrek yang berbeda-beda dan isikan jenis dan jumlahnya masing-masing pada tabel, kemudian tentukan. Kemerataan spesies adalah proporsi setiap spesies dalam komunitas dan dapat dihitung dengan menggunakan rumus.

KEANEKARAGAMAN GENETIK

Meskipun penanda protein (isoenzim atau isozim) menawarkan analisis yang cepat, mudah dan murah, mereka masih memiliki polimorfisme yang terbatas. 13 Panduan praktis keanekaragaman hayati dan plasma nutfah .. perbedaan genetik antara satu aksesi dengan aksesi lainnya. Pengamatan dan pengumpulan data dilakukan pada tanaman contoh dengan cara mengamati, mendokumentasikan dan mengukur sesuai dengan tanda-tandanya.

Setiap sampel yang diamati dibagi menjadi 4 sektor sesuai dengan arah mata angin, Utara, Selatan, Barat dan Timur. Amati nilai variabilitas dari setiap karakter yang diamati, baik untuk data kualitatif maupun kuantitatif. Data kuantitatif dapat dianalisis dengan terlebih dahulu mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif, yaitu dengan melakukan skoring untuk mendapatkan skor.

Variabilitas fenotipik dikatakan besar jika nilai varians fenotipik (σ2P) lebih besar dari dua kali nilai standar deviasi fenotipik (σP) (Dewi-Hayati, 2018). Varians fenotipik diperoleh dari nilai varians sampel, sedangkan standar deviasi fenotipik diperoleh dari nilai standar deviasi sampel.

EKSPLORASI DAN KOLEKSI PLASMA NUTFAH

Informasi data paspor dapat dilihat pada Gambar 1, sedangkan data karakterisasi contoh tanaman cabe dapat dilihat pada Gambar 2. Kalip, bagan warna, kuesioner, pita pengukur, kantong plastik, kamera digital, label kertas, pisau, gunting, arit, GPS (Global Passioning System), penggaris, kacang dan alat tulis. Menentukan suatu produk tumbuhan yang akan dilakukan dalam rangkaian tahapan konservasi mikroplasmanya dari masing-masing daerah asal.

Jika Anda berasal dari kota Padang maka jelajahi pare, gambas dan mentimun untuk sayuran dan quinoa, ambacang dan pauh untuk tanaman buah. Melakukan penelitian pendahuluan dengan mengumpulkan data keberadaan populasi tumbuhan di kawasan dari pemilik tumbuhan, warga, tokoh masyarakat setempat, PPL (Petugas Lapangan) atau berupa penelusuran lapangan langsung. Penting juga untuk mengetahui jenis plasma nutfah yang menjadi perhatian, apakah varietas domestik atau lokal, varietas yang dikembangkan petani, varietas komersial atau kerabat liar.

Sebelum melakukan eksplorasi dan pengambilan bahan tumbuhan perlu dipersiapkan peralatan yang digunakan, anggota tim yang melakukan eksplorasi dan pengambilan, perencanaan jalur eksplorasi dan waktu eksplorasi. Melakukan karakterisasi berdasarkan pedoman deskripsi tumbuhan dengan mengamati langsung, mengukur dan mendokumentasikan karakter yang diamati. Banyaknya sampel yang diambil tergantung pada keberadaan tumbuhan di lapangan dengan segala keanekaragaman yang dimilikinya.

Jika eksplorasi dilakukan pada tanaman penghasil benih, maka benih tersebut harus dipanen dan diolah serta disimpan sedemikian rupa untuk menjaga viabilitas dan vigor benih. Jika eksplorasi dilakukan pada tanaman yang dapat diperbanyak secara vegetatif, maka bagian vegetatif tanaman tersebut (daun, batang, umbi) dibawa dan ditanam di kebun koleksi Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Tanggal Koleksi : 10 November 2017 Tempat Koleksi : Dharmasraya Jenis Bahan : Kultivar Lokal Nama Daerah : Kaladi Bulek Kolektor : Ubpa Yulita.

Gambar  1.    Data  paspor  berkaitan  dengan  data  aksesi  dan  data  koleksi
Gambar 1. Data paspor berkaitan dengan data aksesi dan data koleksi

ANALISIS KLASTER DALAM STUDI GENETIK

Ada berbagai jenis data yang dapat digunakan dalam analisis cluster, yaitu (1) data biner yang hanya terdiri dari 2 data, misalnya ada yang disimbolkan dengan 1 dan tidak ada yang disimbolkan dengan 0, (2) data diskrit, misalnya 3 untuk warna petal hijau, 5 untuk warna petal kuning dan 7 untuk warna gold spot, dan (3) data kontinyu seperti tinggi tanaman. Hasil analisis klaster disajikan dalam bentuk dendrogram yang menunjukkan bagaimana suatu kelompok data dihubungkan secara hierarkis. Berdasarkan matriks kesamaan yang diperoleh, analisis pengelompokan dilakukan dengan menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair-Groups Method Average).

Data karakterisasi morfologi dan molekuler yang berasal dari pita DNA dianalisis dengan RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) untuk 4 genotipe markisa (Tabel 4). Mengubah data biner menjadi matriks kesamaan berdasarkan indeks kesamaan menurut Nei dan Li (1979).

Tabel  4.  Karakteristik  4  genotipe  markisa  berdasarkan  pengamatan  morfologi dan molekuler
Tabel 4. Karakteristik 4 genotipe markisa berdasarkan pengamatan morfologi dan molekuler

ABD 1.00

ANALISIS KLASTER MENGGUNAKAN SOFTWARE STATISTIK

Sebuah jendela muncul menanyakan apakah kita ingin menulis ulang matriks kosong ("Timpa matriks kosong?"). Di kolom sebelah kanan baris "Output file", ketikkan nama file output kita... agar nama yang diberikan tidak rancu. Pilih opsi matriks yang diinginkan di kolom sebelah kanan "Koefisien". Misal SM, artinya kesamaan dibuat dengan menggunakan koefisien "matriks sederhana".

Gambar 3. Dendogram kemiripan genetik 14 klon ubi jalar
Gambar 3. Dendogram kemiripan genetik 14 klon ubi jalar

KONSERVASI EX SITU ZINGIBERACEAE

Temuan dapat dengan mudah diawetkan di luar habitat aslinya karena tidak memerlukan kondisi pertumbuhan tertentu. Pada umumnya tanaman temu tumbuh dengan baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi pada daerah dengan intensitas cahaya penuh atau sedikit naungan.

KONSERVASI EX SITU KANTONG SEMAR

Oleh karena itu, upaya penyelamatan dari ancaman kepunahan dapat dilakukan melalui upaya konservasi yang meliputi studi penelitian, pemanfaatan berkelanjutan dan perlindungan baik in-situ maupun ex-situ dengan mekanisme budidaya (Azwar et al. 2006). Pertumbuhan semarpose akan baik jika media tanam memiliki aerasi yang cukup tinggi, tidak padat, ringan, tidak banyak menampung air. Bahan organik dapat digunakan sebagai media semai untuk tanaman kantong semar seperti arang, cocopeas, fermentasi akar dan lumut.

Arang sekam dapat digunakan karena memberikan porositas yang baik untuk media tanam tanaman sehingga aerasi dan drainase pada media lancar. Akar pakis cocok dijadikan media karena memiliki kemampuan mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik, lambat membusuk, serta mengandung unsur hara yang dibutuhkan. Cocopeat digunakan karena dapat menyerap dan menyimpan air dengan baik, sehingga cocok untuk media aklimatisasi yang membutuhkan kelembapan relatif tinggi sebelum menurunkan kelembapan secara perlahan.

Media ini mampu menyimpan dan menahan air dan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan akar kantong semar. Melakukan pengamatan terhadap keberhasilan perkecambahan tanaman Nepenthes dalam rangka konservasi ex situ dengan metode in vivo.

KONSERVASI IN SITU PADA TAMAN HUTAN RAYA

Memetakan masalah dan tantangan yang dihadapi Taman Hutan Raya Bung Hatta dalam kaitannya dengan fungsinya sebagai kawasan konservasi in situ.

PEMBUATAN HERBARIUM

Untuk menjaga semua bagian vegetatif tanaman dalam satu bagian herbarium, dapat dipilih tanaman muda yang daun dan batangnya menyerupai daun dan batang dewasa. Jika bagian tanaman terlalu besar, daun dan batang dapat dipotong menjadi lebih kecil, kemudian ujung-ujungnya disambung kembali untuk menunjukkan bentuk daun atau batang dengan benar. Jika tidak, lanjutkan mengawetkan seluruh bagian tanaman, kemudian lipat setelah pengawetan atau perakitan yaitu pisahkan spesimen menjadi beberapa lembar.

Pertama, susunlah bagian-bagian tanaman di atas kertas yang kasar dan kering, tidak mengkilap, seperti koran atau lembaran buku tebal, sehingga herbarium yang dihasilkan benar-benar dapat menggambarkan morfologi tanaman yang sebenarnya. Timpa buku atau koran tebal di bagian atas dan bawah dengan triplek dengan pemberat. Jika merupakan bagian dari tumbuhan hasil eksplorasi, tambahkan label tumbuhan selama eksplorasi untuk menghindari kebingungan data.

Berikan waktu agar bagian tanaman benar-benar kering, tetapi ganti kertas jika bahan tanaman mengandung banyak air berulang kali jika perlu. Di lembaga yang bekerja dengan herbarium, spesimen yang sudah jadi disimpan dalam plastik setelah ditempel dan diberi data yang jelas. Buku khusus (collector's book) yang dilengkapi dengan data koleksi yang ada dan kekhususan catatan seperti: warna, bau, kandungan tanah dan informasi lapangan dimana koleksi dilakukan harus tersedia.

Herbarium ditempelkan pada kertas dengan tanggal, tempat penemuan, habitus, kolektor, catatan khusus, nama famili dan nama spesies.

DAFTAR PUSTAKA

Pendahuluan

Tinjauan Pustaka

Hasil dan Pembahasan

Gambar

Tabel 1. Komponen biotik ekosistem pada setiap sub plot  Ekosistem  Sub
Gambar  1.    Data  paspor  berkaitan  dengan  data  aksesi  dan  data  koleksi
Tabel  5.  Data  biner  4  genotipe  markisa  berdasarkan  pengamatan  morfologi dan molekuler
Tabel  4.  Karakteristik  4  genotipe  markisa  berdasarkan  pengamatan  morfologi dan molekuler
+3

Referensi

Dokumen terkait

Plasma nutfah palawija diperoleh sebanyak 62 aksesi terdiri dari 3 aksesi jagung, 11 aksesi ubi kayu, 17 aksesi ubi jalar, 6 aksesi ubi krimbang/ ubi kelapa, 15 aksesi talas,

Seluruh aksesi plasma nutfah kapas yang dikarakterisasi, memiliki deskripsi morfologi yang berbeda, meski ada kesamaan pada beberapa karakter antar spesies yang berbeda..

Keterkaitan pe- ngelolaan plasma nutfah dengan program pemuliaan dapat di- laksanakan melalui (1) pemanfaatan langsung aksesi plasma nutfah elit untuk dilepas sebagai varietas

Plasma nutfah ubi jalar yang memiliki jumlah umbi rata-rata lebih dari empat buah per tanaman adalah aksesi Manado, A275, Jangga, Wenawe, Toweko, Goisiali, G22, dan G14,

Warna daun dari 204 aksesi plasma nutfah kedelai yang ditanam pada MK1 sebanyak 101 aksesi berwarna hijau muda, begitu pula pada MK2 warna daun lebih didominasi warna hijau muda,

Keterkaitan pe- ngelolaan plasma nutfah dengan program pemuliaan dapat di- laksanakan melalui (1) pemanfaatan langsung aksesi plasma nutfah elit untuk dilepas sebagai varietas

Plasma nutfah palawija diperoleh sebanyak 62 aksesi terdiri dari 3 aksesi jagung, 11 aksesi ubi kayu, 17 aksesi ubi jalar, 6 aksesi ubi krimbang/ ubi kelapa, 15 aksesi talas,

Seluruh aksesi plasma nutfah kapas yang dikarakterisasi, memiliki deskripsi morfologi yang berbeda, meski ada kesamaan pada beberapa karakter antar spesies yang berbeda..