PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Review Penelitian
Tinjauan pustaka merupakan sintesa dari berbagai jenis hasil penelitian terdahulu sehingga dalam tinjauan pustaka harus banyak kajian dari penelitian terdahulu. Berdasarkan tinjauan pustaka yang dibaca dan ditelaah oleh penulis, penelitian yang dilakukan penulis mempunyai kesamaan mengenai pengertian pencegahan kebakaran dan penanggulangannya, namun berbeda dalam hal judul, permasalahan, isi dan penyajian secara keseluruhan. Cara dan tindakan pencegahan dan pencegahan terjadinya kebakaran di atas kapal dengan sistem SOLAS aligned berdasarkan jenis kebakaran sesuai kelas masing-masing bahan yang terbakar.
Tata cara pencegahan kebakaran dilakukan pada ruangan yang berbeda-beda, seperti: ruang mesin, ruang kargo, ruang penumpang, area bahan bakar.
Landasan Teori
- Pengertian Fire Drill
- Pengertian Kapal
- Pengertian Meminimalisasi
- Pengertian Kebakaran
- Meminimalisasi Kebakaran Diatas Kapal
- Pemadaman Api Diatas Kapal
- Bahan Pemadam Kebakaran
Dalam waktu 1 (satu) bulan, awak kapal baru harus sudah mendapatkan pelatihan seluruh peralatan pemadam kebakaran. Hal ini membuat setiap kru memahami tugasnya, hal ini harus dilakukan sama seperti pada keadaan darurat yang sebenarnya. Melatih awak kapal untuk menggunakan peralatan pemadam kebakaran seperti Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) dan berbagai jenis alat pemadam kebakaran seperti sistem banjir CO2.
Bantu kru memahami prosedur pengoperasian sistem pencegah kebakaran tertentu dan tindakan pencegahan yang harus diambil sebelum mengoperasikan peralatan. Untuk membiasakan kru dengan peraturan kebakaran dan keselamatan perusahaan, poin-poin penting tentang keselamatan pribadi dan kelangsungan hidup di laut, surat edaran keselamatan terbaru, pemberitahuan dan peralatan pemadam kebakaran serta tindakan pencegahan di kapal. Latihan kebakaran harus dilakukan serealistis mungkin agar awak kapal mengetahui situasi yang mungkin timbul jika terjadi kebakaran di kapal.
Ia juga harus mengetahui tugasnya seperti yang dijelaskan dalam daftar muster dan belajar menggunakan peralatan pemadam. Setiap awak kapal baru harus mendapatkan pelatihan di kapal yang menjelaskan penggunaan peralatan penyelamat dan kapal penyelamat (sekoci dan rakit) untuk kehidupan pribadi, selambat-lambatnya dua minggu setelah bergabung dengan kapal. Setiap awak kapal wajib melakukan pengeboran tanpa melakukan kesalahan dengan menghafalkan tugasnya dan memahami pentingnya keselamatan kapal dan orang yang berada di dalamnya.
Sehubungan dengan hal tersebut (dijelaskan oleh graham danton: yang dimaksud dengan kapal tidak terkendali adalah kapal yang karena suatu keadaan luar biasa, tidak dapat melakukan olah gerak sebagaimana disyaratkan oleh peraturan ini dan oleh karena itu tidak dapat menghalangi kita dari kapal lain yang harus dilalui oleh pelaut Indonesia. sertifikat AFF (Advance Fire Fighting) untuk mengetahui cara dan tata cara pemadaman kebakaran di kapal serta mengetahui jenis-jenis alat pemadam kebakaran. Segitiga api yaitu Panas, Bahan Bakar dan Oksigen yang menyatu dan seimbang akan menimbulkan bahaya kebakaran. sangat merugikan perusahaan jika hal ini terjadi dan tidak segera diperbaiki.
Alat pemadam busa efektif untuk kebakaran Kelas B (minyak, solar, dan cairan) namun kurang efektif untuk kebakaran padat (Kelas A) karena alat pemadam busa diketahui bersifat isolasi. Bahan pemadam CO2 atau karbon dioksida berbentuk gas dan dapat digunakan untuk memadamkan semua jenis kebakaran terutama kelas C. Penggunaan alat pelindung pernapasan dan pakaian tahan api Bahan ini terutama digunakan untuk kebakaran yang terjadi di kapal.
20. mengatasi asap dan berbagai gas yang tidak diketahui, kekurangan oksigen yang dapat membahayakan, sehingga diperlukan penggunaan alat bantu pernafasan. Alat ini sering digunakan di kapal karena dapat digunakan dengan mudah dan dalam jangka waktu yang sangat lama.
Kerangka Pemikiran
Dengan demikian, udara bersih selalu mengalir di dalam masker yang digunakan untuk bernafas sehingga tidak bergantung pada udara sekitar, namun dengan alat ini pengguna kurang bisa bergerak leluasa dan jauh karena terikat oleh selang penghubung. . Peralatan ini termasuk peralatan modern, peralatannya cukup rumit, namun kapasitasnya cukup besar. Selain digunakan untuk tugas pemadaman, alat ini banyak digunakan untuk tugas penyelamatan bawah air. Maka yang diinginkan, awak kapal harus mampu memahami Fire Drill di kapal untuk meminimalisir kerusakan besar di kapal sesuai dengan peraturan SOLAS 1974, SOLAS Amendment 2014 dan ILO 1996 yang menjelaskan tentang Drill on board.
Latihan kebakaran dilaksanakan minimal seminggu sekali untuk kapal penumpang dan sebulan sekali untuk kapal kargo sehingga dapat melatih awak kapal agar cepat tanggap dan tidak gelisah jika terjadi kebakaran di kapal, sehingga meminimalisir kerusakan parah di kapal MT Chem. Keberuntungan untuk meminimalkan. .
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Pemiliahan Informan
Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penyusunan karya ilmiah terapan adalah data yaitu informasi yang diperoleh penulis melalui observasi langsung dan wawancara. Dalam hal ini penulis memperoleh data primer secara langsung dari hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait yang mengetahui permasalahan yang akan penulis angkat. Penulis mendapatkan dari hasil wawancara atau diskusi dengan pilot, penanggung jawab keselamatan kerja, dan petugas lainnya yang mengetahui lebih jauh mengenai masalah ini di kapal.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung, biasanya berupa data dokumenter dan arsip resmi, yang coba dikumpulkan oleh penulis sendiri, apapun sumber yang diteliti. Pengumpulan informasi dan data merupakan langkah penting dalam penelitian yang akan dijadikan bahan analisis dan pengujian kesimpulan. Data-data tersebut kemudian disusun secara sistematis sesuai dengan permasalahan yang dibahas yaitu pemanfaatan kapal firerill sebagai upaya untuk mengurangi kebakaran kapal.
Dalam suatu penelitian, penggunaan teknik pengumpulan data dan bahan pengumpulan data yang tepat dapat membantu mencapai hasil atau pemecahan masalah yang akurat. Data yang diperoleh dalam metode wawancara diperoleh dari seorang ahli atau yang terlibat dalam suatu permasalahan atau pihak-pihak yang terkena dampak dari materi yang disiapkan penulis. Metode wawancara juga mencakup pemilihan informan yang nantinya akan memberikan informasi terkait dengan data yang diperoleh dalam penelitian.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa metode dokumentasi dapat diartikan sebagai suatu cara mengumpulkan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik berupa transkrip, buku, surat kabar, dan lain-lain. Alat pengumpul data adalah alat yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data, sehingga kegiatan tersebut menjadi sistematis sehingga menjadi lebih mudah. Instrumen sebagai alat dalam penggunaan metode pengumpulan data adalah alat yang dapat diwujudkan pada objek, misalnya angket, perangkat tes, pedoman wawancara, pedoman observasi, skala dan lain sebagainya.
Dengan instrumen akan diperoleh data-data yang merupakan bahan penting untuk menjawab permasalahan, menemukan sesuatu yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Reduksi data dapat diartikan sebagai upaya merangkum dan memilih pokok-pokok utama serta memusatkan perhatian pada data yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Data yang ditemukan di lapangan sebenarnya bisa sangat beragam dan heterogen, sehingga perlu dilakukan pengklasifikasian dan pengorganisasian secara sistematis agar diperoleh data yang dibutuhkan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Objek Penelitian
Hasil Penelitian
Pembahasan
PENUTUP
Kesimpulan
Saran