• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBERMAKNAAN HIDUP PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA HIMO-HIMO TERNATE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "KEBERMAKNAAN HIDUP PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA HIMO-HIMO TERNATE"

Copied!
228
0
0

Teks penuh

(1)

KEBERMAKNAAN HIDUP PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA HIMO-HIMO TERNATE

DI AJUKAN OLEH:

NURMUTMAINNAH M. AHMAD 4512091038

SKRIPSI

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA

2017

(2)

KEBERMAKNAAN HIDUP PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA HIMO-HIMO TERNATE

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Oleh:

NURMUTMAINNAH M. AHMAD 4512091038

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA

2017

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

MOTTO

Aku bisa karena harapan. Harapan akan senyuman, senyum indah dari kejauhan sana “Keluarga” ~ NMA

(6)

v

PERSEMBAHAN

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT skripsi ini penulis persembahkan kepada:

Almarhum papa tercinta, terima kasih atas kasih sayang, cinta, perhatian, pengorbanan, ketulusan dan do’a yang papa kirimkan dari alam yang berbeda. Papa.. deraian air mata tak henti-hentinya mengalir, berharap wajah ini masih bisa memeluk erat tanganmu sambil menciumnya dengan iringan kata “pa.. nina sudah selesai menyelesaikan studi srata satu nya nina” nina ingin sekali lagi melihat senyum indahnya papa. Salam rindu putri kecilmu..

Ibunda tersayang, yang begitu menyayangiku dan mengkhawatirkan ku di setiap waktu. Ku tau disetiap doamu, kau akan selalu mendoakanku. Tanpa sepatah kata pun bahasa tubuhmu sudah mencerminkan kesabaran, keikhlasan, keteguhan dan ketegaran dalam menghadapi hidup. Sunggingan senyum indahmu selalu menyemangatiku, sapaam hangatmu membakar semangat hidupku. Maafkan aku, hingga saat ini hanya hadiah kecil ini yang bisa ku berikan untukmu mama. Aku tak bisa menjanjikan dunia untukmu, tapi surga akan ku pastikan menjadi milikmu. Bakti kasih ku selamanya untukmu mamaku surgaku..

Kakakku dan adik-adikku terkasih, yang selalu menemani ku di sepanjang waktu, dan yang selalu menyemangati serta memotivasiku. Semoga kita semua senantiasa di berikan nikmat sehat, aamiin..

Keluarga besar Hi. Halil Masuara, terima kasih karena telah menjadi bagian diri hidupku..

Pria yang selalu ku kagumi Yusuf Sandy Putra ST, yang hangat sehangat kepribadiannya, Yang begitu mengasihiku, yang hidupnya penuh dengan keihkhlasan dan ketulusan. Terima kasih atas waktu yang diberikan dan motivasi beserta cinta kasih dalam menyelesaikan skripsi ini. Tanpa kata tambahan pun kau tetap selalu ku kagumi, yang selalu ku pandang dari kejauhan. Daisuki..

(7)

vi

KEBERMAKNAAN HIDUP PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA HIMO-HIMO TERNATE

Nurmutmainnah M. Ahmad 4512091038

ABSTRAK

Penelitian ini mengenai Kebermaknaan Hidup Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Himo-Himo Ternate bertujuan untuk mengetahui gambaran kebermaknaan hidup lansia yang tinggal di panti tersebut. Lansia yang berada di panti tentu akan mengalami berbagai macam perubahan seperti pada fisik, psikis dan sosial dalam kehidupannya sehingga akan berdampak pada kebermaknaan hidup lansia tersebut. Kebermaknaan hidup merupakan hal yang terpenting untuk menunjang proses penemuan arti kebahagiaan saat menjalani kehidupannya di panti wredha.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan subjek penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap dua subjek lansia di panti werdha dan satu orang petugas panti sebagai informan pendukung.

Hasil penelitian ini menunjukkan ke dua subjek lansia memiliki makna hidup positif yang dapat ditunjukkan lewat kebahagiaan yang ia rasakan dalam menjalani kehidupannya di panti tersebut. Pada subjek SJ diketahui dapat menerima keberadaannya dan dirinya merasa cocok tinggal di panti karena tidak lagi merepotkan anak-anaknya. Sementara pada subjek RS diketahui bahwa dirinya merasa lebih pantas berada di panti dan dapat menerima segala peristiwa yang di alaminya.

Kata kunci: Makna hidup, Lansia.

(8)

vii

KATA PENGANTAR

ِمْسِب ِالله ِنم ْحَّرلا ِميِحَّرلا

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi yang berjudul Kebermaknaan Hidup Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Himo-Himo Ternate.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, kepada kita semua, serta kepada seluruh umatnya hingga akhir zaman yang menjadikannya sebagai uswatun hasanah, suri tauladan yang baik. Aamiin..

Penyusunan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas Psikologi Universitas Bosowa.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, skripsi ini akan terasa sulit untuk di selesaikan. Oleh karena itu, penulis sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Sang pemberi hidup Allah SWT, terima kasih atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini 2. Kedua orang tua tersayang (alm) Mahmud Ahmad dan Dra. Fariati Halil, M.M,

yang cinta kasihnya tidak akan pernah terbalaskan. Terima kasih atas nasehat, dukungan dan do‟a teruntuk ananda sejak pertama kali mengenal dunia hingga hiruk pikuk kehidupan. Love you papa mama

3. Ibu Minarni, S.Psi., MA, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Bosowa.

Sehat selalu ki bu

(9)

viii

4. Bapak Musawwir, S.Psi., M.Pd, selaku Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas Bosowa sekaligus Dosen Pemimbing II yang telah membimbing penulis dari awal perkuliahan hingga skripsi. Terima kasih atas masukan dan arahan selama ini pak. Insyaallah pengetahuan yang penulis dapat dari bapak akan penulis aplikasikan dengang baik, sehat selalu pak

5. Bapak Arie Gunawan HZ, S.Psi, M.Psi., Psikolog, selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan kontribusi kepada penulis terutama dalam hal membuat pilihan sehingga penulis mampu bertanggungjawab atas apa yang telah di pilih. Terima kasih karena telah membimbing dan mengarahkan penulis dari awal perkuliahan hingga skripsi, terima kasih atas pesan-pesan moril yang terselip indah disetiap kata-kata bapak.

Sehat selalu pak

6. Ibu Sri Hayati, S.Psi, M.Psi., Psikolog dan Ibu Minarni, S.Psi., MA selaku penguiji 7. Segenap dosen Fakultas Psikologi Universitas Bosowa yang telah membimbing,

memberikan referensi, memberikan ilmu yang sangat teramat berarti, serta membagi pengalaman yang luar biasa. Terima kasih untuk segalanya,

8. Bapak Jufri, S.IP dan kak Indah SH, selaku Staff Tata Usaha yang baik hati dan penyejuk fakultas. Tanpa pak jufri dan kak indah, kita mahasiswa psikologi seperti ikan sembilan yang kehilangan induknya.

9. Nenek tercinta Hj. Fatima Robo dan (alm) tete tersayang Hi. Halil Masuara.

Terima kasih sudah merawat dan membesarkan nina dengn penuh kasih sayang, terima kasih telah mengajarkan kami para cucu arti keluarga, arti saling menjaga

(10)

ix

dan melindungi, saling menghormati antara tua dengan yang muda, dan saling memeluk dalam suka dan duka.

10. Ke tiga om tercinta, Isra Halil, SE., Ikra Halil, ST, MT, dan Irhas Masuara S.Pi.

Terima kasih om atas cinta kasih kepada nina sejak kecil hingga sekarang. Tak luput dari pandangan bahwa pelajaran terbaik selalu kalian berikan dari waktu ke waktu.

11. Ke empat mama-mama ade yang tercantik sepanjang masa, Fahni Halil, SE., dr.Fasni Halil, Sp.PK., M. Kes., Fahima Masuara ST, dan Faradila Masuara, S.S., M.Ed TESOL Int‟l. Terima kasih mama-mama ade tersayang, mungkin tak ada kata yang dapat menggantikan kata bersyukur karena memiliki kalian semua..

12. Kakak tercinta, Muhammad Ihlas M, Ahmad, S.Com, M.M, terima kasih atas motivasi, do‟a, dan berjuta kekhawatiran akan kesehatan adik tercinta. Nina baik- baik saja kakaku tersayang, yang semangat kerjanya.. love you

13. Adik ku tercinta Muhammad Ihram M. Ahmad, terima kasih atas perhatiannya yang selalu menjaga kknina kapan pun dan dimana pun, yang sejak kecil bahkan sampai sekarang setiap sakit selalu memanggil namanya kknina, yang selalu marah-marah kknina apa lagi yang berkaitan dengan makan, yang selalu bertanya kapan ujian, yang selalu berbagi cerita tentang lika-liku perkuliahan.

Tetap semangat kuliahnya adeku sayang, love you

14. Adik ku tersayang Nurul Yakin M. Ahmad. Terima kasih ade ku sayang atas segala-galanya kakak tidak akan pernah bisa menyelesaikan skripsi ini tanpa adek. Adek selalu menghibur kknina terutama saat file yang diketik hilang, padahal sudah kecewa menangis tiada tara sempat putus asa hikss.. adek yang

(11)

x

selalu bantu kk mengetik saat kk lagi sakit, adek yang selalu marah-marah kknina saat kakak lupa makan karena mengerjakan skripsi, adek segalanya. Sehat selalu adeku tersayang.. kebahagiaan terbesar dalam hidup kakak adalah memiliki saudari perempuan seperti adek. Bahkan kata-kata pun takkan mampu mengungkapkan betapa kakak beruntung memiliki adek. Semangat kuliah ya adeku sayang mahasiswi baru pendidikan bahasa inggris. Love you

15. Kekasih tercinta, Yusuf Sandy Putra, ST. Terima kasih atas motivasi, dorongan, do‟a, dan cinta kasih selama penyusunan skripsi ini. Semangat bekerja, Daisuki 16. Ke empat belas sepupu kesayangan, kita tumbuh bersama saling melindungi dan

menyayangi. Semoga kita saling menjaga selamanya aamiin.. Cucu pertama dr.Nurmala Dewi, S. Abbas, semoga bisa melanjutkan studi ke Australia kkmala aamiin, kkZul yang sebentar lagi juga sarjana yeyy, kknayah ciyeee yang sebentar lagi juga S.Psi ciyeee.. kkajay yang semangt sklhnya jg kmmpuan fotographer yg kian meningkat, kkadi, kkfais, kkhikam, kkudi, kkamay, kkazi nuna, kazki, kkim, kkario dan dede inara boneka.. sehat selalu kalian semua

17. Sahabat tercinta Asnawia Hi Alwi, S.Pd, terima kasih telah menemani penulis selama sebelas tahun.

18. Bebs-bebs kecce Nur Amalia Dj Mandar, S.Psi, Nazilla Putri Daeng Barang, M.

Jusnardi Hardyan Westplat, ST, Rizki Hanafie, SH, Briptu Muchdi Tahir, Briptu Johan, Firman M. Isra, S.Kep.

19. Ke dua subjek ku, tete SJ dan tete RS. Terima kasih atas sejuta pengalaman yang tak terlupakan, Semoga tete diberikan umur yang panjang agar kita berjumpa lagi. Rindu tete

(12)

xi

20. Keluarga besar KKN Lembang, terima kasih telah menjadi bagian dari hidup ini.

Sukses menyertai kita guyss.

21. Keluarga besar KNP, Suriati, S.Ked, Satrianti Syahrin S.Ked, Karlin AR S.Ked, Dessy Aditya Damayanti, S.Ked, Nur Amalia Dj Mandar, S.Psi, Dian Rizki, S.Farm, Nurul Syamsu SE, Nurma AA, ST, Hummairah ST.

22. Keluarga besar sylvester, kak atin, lia, tirta, andi piah, ellyanandiuu, amy, suar, inchy, mutma, anhy, adit, fitri, nurul, ria hani erna, ong‟squad lili ulfa cunul jum, tira, tian, yardi, taqwa, token, fahd, ana, amma double, yuli, dian indah.

23. Apalah-apalah gengs (nayah gengs), kalian yang semangat kuliahnya yoo..

terima kasih telah banyak membantu knina. Nurul Inayah PR, Nurul Fany, Yusuf Hampan

24. Seluruh pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari ke sempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun kami harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan semoga Allah SWT senantiasa meridhai usaha kita. Aamiin..

Makassar, 21 Agustus 2017

Nurmutmainnah M. Ahmad

(13)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR BAGAN ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Tinjauan Pustaka ... 9

1. Lansia... 9

a. Pengertian Lansia ... 9

b. Perubahan yang terjadi pada Lansia ... 10

2. Makna Hidup ... 12

a. Pengertian Makna Hidup ... 12

b. Sumber-sumber Makna Hidup ... 13

c. Karakteristik Makna Hidup ... 13

d. Penghayatan Hidup Tak Bermakna ... 14

e. Penghayatan Hidup Bermakna ... 15

f. Mengembangkan Hidup Bermakna ... 15

(14)

xiii

g. Menjadi Manusia Lansia yang Bermakna ... 18

h. Asas-asas Logoterapi ... 18

i. Landasan Logoterapi ... 20

3. Panti Wreda/Jompo ... 21

B. Kerangka Konseptual ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

A. Pendekatan Penelitian... 24

B. Unit Analisis ... 25

C. Setting Penelitian... 25

D. Teknik Pengumpulan Data ... 25

E. Analisis Data ... 28

F. Keabsahan Data ... 30

G. Jadwal Penelitian... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Gambaran Subjek ... 40

B. Setting Penelitian ... 45

C. Hasil Penelitian ... 47

D. Pembahasan ... 88

E. Studi Limitations ... 104

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 105

A. Kesimpulan ... 105

B. Saran ... 106

DAFTAR PUSTAKA ... 107

LAMPIRAN ... 110

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

TABEL 4.1 SUMBER-SUMBER MAKNA HIDUP SJ ... 72

TABEL 4.2 KARAKTERISTIK MAKNA HIDUP SJ ... 76

TABEL 4.3 SUMBER-SUMBER MAKNA HIDUP RS ... 80

TABEL 4.4 KARAKTERISTIK MAKNA HIDUP RS ... 84

(16)

xv

DAFTAR BAGAN

BAGAN 1 DINAMIKA PSIKOLOGIS SJ ... 86 BAGAN 2 DINAMIKA PSIKOLOGIS RS... 87

(17)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 RIWAYAT HIDUP ... LP1 LAMPIRAN 2 PEDOMAN WAWANCARA ...LP2 LAMPIRAN 3 PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA ...LP3 LAMPIRAN 4 INFORMED CONSENT SJ ... LP4 LAMPIRAN 5 INFORMED CONSENT RS ... LP5 LAMPIRAN 6 CATATAN VERBATIM 1 WAWANCARA SUBJEK 1 ... LP6 LAMPIRAN 7 CATATAN VERBATIM 2 WAWANCARA SUBJEK 2 ... LP19 LAMPIRAN 8 CATATAN VERBATIM 3 WAWANCARA SUBJEK 1&2 ... LP28 LAMPIRAN 9 CATATAN VERBATIM 4 WAWANCARA SUBJEK 1&2 ... LP34 LAMPIRAN 10 CATATAN VERBATIM 5 WAWANCARA SUBJEK 1&2 ... LP42 LAMPIRAN 11 CATATAN VERBATIM PETUGAS PANTI ...LP48 LAMPIRAN 12 HASIL CODING WAWANCARA SUBJEK 1 (S1-W1) ... LP51 LAMPIRAN 13 HASIL CODING WAWANCARA SUBJEK 2 (S2-W1) ... LP64 LAMPIRAN 14 HASIL CODING WAWANCARA SUBJEK 1&2 (S1&S2-W2)... LP72 LAMPIRAN 15 HASIL CODING WAWANCARA SUBJEK 1&2 (S1&S2-W3) ... LP79 LAMPIRAN 16 HASIL CODING WAWANCARA SUBJEK 1&2 (S1&S2-W4)... LP85 LAMPIRAN 17 KATEGORISASI ... LP91 LAMPIRAN 18 TEMA ... LP104

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap inidividu akan mengalami masa perkembangan selama rentang hidupnya mulai dari prenatal hingga lansia (King, 2007). Lanjut usia merupakan proses menua pada manusia yang tidak dapat dihindarkan. Ditandai dengan penurunan fungsi tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Dan merupakan tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering ditandai dengan kondisi kehidupan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (Kristyaningsih, 2011). Sementara lansia menurut Erikson (Fudyartanta, 2012) merupakan suatu periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu satu periode telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat.

Selanjutnya, Erikson menyatakan proses menjadi tua membutuhkan beberapa tahapan yang harus dilalui, karena akan selalu berkaitan dengan tugas yang di emban oleh setiap individu. Adapun tugas oleh lansia ialah mencari keseimbangan antara integritas dan putus asa. Maksud dari keseimbangan integritas dan putus asa ialah jika dalam perkembangan integritas tidak tercapai, maka akan menyebabkan timbulnya keputusasaan dalam menghadapi perubahan dalam hidup, seperti menganggap hidup ini tidak bermakna dan ketakutan akan kematian. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Karundeng dkk (2015) menjelaskan bahwa dari 15 lansia, 4 diantaranya memiliki makna hidup yang rendah karena mereka cenderung merasakan kesepian, bosan serta kurangnya sosialisasi ketika berada didalam panti

(19)

2

wreda, sementara 11 lansia lainnya menunjukkan makna hidup yang baik. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa lansia yang tinggal dipanti wreda sangat membutuhkan dukungan keluarga, karena program pelayanan yang dilakukan panti wreda tidak selalu berjalan optimal. Dengan bantuan keluarga, berupa kunjungan ke panti dapat membuat lansia merasa bahagia karena mempunyai keterikatan yang besar dengan keluarga, dengan begitu maka lansia akan merasa mendapatkan makna atas dukungan tersebut (Permatasari dkk, 2011). Selain itu, Indrawati (2011) juga memaparkan dalam penelitiannya bahwa dukungan sosial dapat memberikan arti dalam mengatasi masalah di dalam panti seperti kesepian, bosan, dan depresi.

Karena dengan adanya dukungan sosial yang baik dapat meningkatkan kesehatan fisik dan kesehatan mental bagi para lanjut usia.

Jika dilihat dari tugas lansia, maka tugas tersebut berkaitan dengan penambahan jumah lansia. Ternyata, penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mengalami peningkatan yaitu pada tahun 1980 jumlah lansia sebanyak 7.998.543 orang (5,45%), sementara tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%), dan pada tahun 2010 jumlah lansia mencapai 23,9 juta (9,77%), kemudian pada tahun 2020 diperkirakan penduduk lansia mencapai 28,8 juta atau 11,45% (www.kemsos.go.id).

Sementara peningkatan jumlah lansia untuk kawasan asia tenggara menurut WHO (world health organization) yaitu sebesar 8% atau sekitar 142 juta jiwa pada tahun 1980. Setelah itu, pada tahun 2000 jumlah Lansia sekitar 5,300,000 (7,4%) dari total populasi, sementara pada tahun 2010 jumlah lansia mencapai 24,000,000 (9,77%) dari total populasi, dan tahun 2020 diperkirakan jumlah Lansia mencapai 28,800,000

(20)

3

(11,34%) dari total populasi. Kemudian pada tahun 2050 diperkirakan populasi lansia meningkat 3 kali lipat dari tahun 2020. (www.depkes.go.id).

Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa penduduk lansia akan terus mengalami peningkatan yang lebih signifikan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masalah peningkatan lansia tidak hanya terjadi di negara indonesia saja tetapi juga di kawasan asia tenggara.

Dengan semakin meningkanya populasi lansia, maka sudah seharusnya kita lebih teliti dalam melihat fenomena ini. Namun, belakangan ini di tengah masyarakat mengalami pergeseran nilai. Mereka menganggap keberadaan lansia menjadi beban keluarga dan masyarakat, sehingga struktur keluarga (nuclear family) tidak memberikan tempat bagi para lansia. Munculnya anggapan tersebut mendorong sebagian masyarakat memandang bahwa panti-panti wreda adalah alternatif yang terbaik untuk dipilih. Banyak lansia hidup di panti wreda dan sebagian lagi hidup seorang diri hanya ditemani binatang-binatang piaraan, seperti anjing, kucing atau burung. Mereka hidup dalam keterasingan, kesepian, isolasi sosial, serta tidak tahu harus berbuat apa untuk mengisi masa tuanya itu. Kondisi yang seperti ini dapat memberikan dampak negatif yang akan mempengaruhi lansia, seperti stres hingga depresi.

Depresi menurut Freud (Muis, 2009) merupakan kondisi emosional seseorang yang menggambarkan perasaan sedih, kecewa, murung dan susah. Keadaan ini dapat menyebabkan semangat yang rendah, bahkan bisa jadi patah semangat dan cenderung menarik diri dengan suatu perasaan bersalah atau putus asa. Dengan bertambahnya usia juga, kondisi fisik seseorang yang telah memasuki usia lanjut

(21)

4

akan mengalami penurunan, dan mengakibatkan para lansia dengan mudah terkena penyakit (Santrock, 2002).

Banyaknya masalah yang muncul pada lansia, dapat mempengaruhi kebermaknaan hidup. Pada dasarnya makna hidup mempunyai arti yang berbeda untuk tiap individu. Karena makna hidup terdapat dalam kehidupan itu sendiri, makna hidup terpatri di dalamnya, baik dalam senang atau pun susah. Untuk itu, sebagian besar lansia berusaha memahami secara mendalam tentang kebermaknaan hidup, kesediaan dan kesadaran pentingnya mengubah sikap terhadap penderitaan, serta dukungan kekeluargaan dan lingkungan terdekat. Selain itu, bimbingan dan petunjuk-Nya juga menentukan keberhasilan dalam menemukan makna hidup. Apabila makna hidup berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan itu berarti serta merasakan kebahagiaan sebagai ganjarannya sekaligus terhindar dari keputusasaan (Bastaman, 2007).

Berdasarkan penelitian oleh Bakhruddinsyah (2016) yang meneliti tentang Makna hidup dan arti kebahagiaan pada lansia di panti werdha nirwana puri samarinda menunjukkan bahwa lansia memiliki makna hidup positif yang dapat membawanya untuk menemukan arti kebahagiaan dalam menjalani kehidupannya di panti tersebut. Hal ini menunjukkan ketika lansia mampu menerima keberadaanya dan nyaman dengan lingkungan tersebut maka akan menghadirkan nilai tersendiri dan tujuan hidup. Seperti yang di ungkapkan oleh Bastaman (2007) bahwa makna hidup adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup.

(22)

5

Berdasarkan hasil wawancara kepada H. Samiun Usman, SH selaku Kepala Panti menyatakan dari tahun ke tahun jumlah penghuni panti yang dikelolanya mengalami peningkatan namun tidak terlalu signifikan karena pertambahan lansia maksimal dua atau tiga orang pertahun. Data terakhir menyebutkan lansia di panti sosial tresna werdha himo-himo kota ternate sebanyak 63 orang terdiri dari 32 orang lansia perempuan dan 31 orang lansia berjenis kelamin laki-laki.

Selain dari itu, ketika ada calon penghuni ingin mendaftarkan diri ke panti wredha ini mereka harus bersabar, karena pihak panti memiliki keterbatasan tempat.

Petugas panti juga akan menyeleksi pendaftar tersebut berdasarkan usianya yakni, minimal 60 tahun sesuai syarat yang ditentukan oleh panti wreda. Jika lansia kurang dari 60 tahun maka lansia tersebut tidak bisa masuk ke dalam panti tersebut, kecuali jika lansia hanya sebatang kara (tidak memiliki keluarga).

Setiap wisma terdapat 5 kamar dan tiap kamar ada 2 orang lansia yang tinggal, jadi didalam 1 wisma ada 8 sampai 10 orang lansia. Selain itu juga, terdapat 2 petugas yang berjaga di dalam wisma tersebut. Selain kepala panti, peneliti juga mendapatkan informasi dari salah satu petugas panti, diperoleh informasi lansia juga berasal dari berbagai daerah. Ada beberapa alasan kenapa para lansia tinggal di panti ini antara lain, 1) kurang harmonisnya hubungan dalam keluarga sehingga keluarga memutuskan untuk memasukkan lansia kedalam panti, 2) lansia yang tidak memiliki keturunan baik anak, istri atau pun suami.

Aktifitas lansia hampir setiap hari hanya dengan makan dan tidur, tetapi ada satu hari dimana lansia rutin melaksanakan satu kegiatan yaitu tepat pada hari jumat para lansia diharuskan melakukan olahraga (senam). Dengan rutinitas yang seperti

(23)

6

ini membuat para lansia mudah stres hingga ada yang mencoba melarikan diri dari panti ini. Menurut Frankl (Putri & Ambarini, 2012), manusia tidak pernah berhenti mencari makna dalam hidup dalam kondisi apapun, termasuk kondisi krisis bahkan kematian. Karena Koeswara (Nurani & Mariyanti, 2013 ) meyakini bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar, yang menjadi soal bukanlah pengubahan situasi, melainkan sikap terhadap situasi dari seseorang dalam upaya mengatasi ketakutannya masing- masing.

Ketika lansia di masukkan ke dalam panti wreda, kondisi fisik maupun psikis belum tentu menjadi lebih baik daripada ketika lansia tersebut di rawat dirumah.

Umumnya lansia akan merasakan kekosongan, kerinduan akan sanak keluarga, dan kesedihan mendalam yang menyebabkan lansia tidak mampu memaknai hidupnya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Maramis (2016) yang meneliti tentang kebermaknaan hidup dan kecemasan dalam menghadapi kematian pada lansia di panti werdha samarinda menunjukkan bahwa subjek I dan juga subjek II mengalami dampak yang negatif dari kecemasan berat yang mereka alami, yaitu mereka merasa bahwa hidup dan dirinya tidak lagi bermakna kedua subjek juga merasa takut akan kematian karena pengalaman-pengalaman masa lalu yang kurang begitu baik dampaknya bagi diri mereka. Sedangkan, subjek III menunjukkan dampak yang positif, ia merasa bahwa hidupnya begitu bermakna karena kasih sayang oleh keluarganya yang begitu besar untuk dirinya dan pengalaman-pengalaman masa lalu yang begitu baik membuatnya cukup puas dalam menjalani sisa hidupnya

(24)

7

karena ia tidak mengalami kecemasan mendalam untuk menghadapi kematian.

Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Steger, Oishi dan Kashdan (2009) tentang meaning in life across the life span: Levels and correlates of meaning in life from emerging adulthood to older adulthood, menunjukkan bahwa walaupun berada dalam 4 tahapan yang berbeda, mereka tetap mencari makna hidup karena selalu memiliki hubungan dengan kesejahteraan hidup.

Terkait dengan hal diatas, peneliti mencoba untuk melakukan suatu penelitian tentang Kebermaknaan Hidup pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Himo- Himo Ternate dengan menerapkan metode penelitian kualitatif.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus penelitiannya adalah: bagaimana gambaran kebermaknaan hidup lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Himo-Himo Ternate?

C. Tujuan Penelitian

Mengacu pada fokus penelitian di atas maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Kebermaknaan Hidup Lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Himo-Himo Ternate.

D. Manfaat Penelitian

Penelitan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis dan praktis, antara lain:

(25)

8 1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan menambah referensi dalam bidang psikologi perkembangan dan psikologi sosial khususnya tentang kebermaknaan hidup pada lansia.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi para mahasiswa psikologi khususnya yang berminat pada pembahasan yang berkaitan dengan perkembangan lansia.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi peneliti selanjutnya mengenai kebermaknaan hidup pada lansia di panti wreda.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang pembelajaran di bidang penelitian serta perkembangan lansia dalam memaknai hidup.

b. Bagi Lansia

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui atau memahami masalah yang terjadi pada lansia terutama tentang makna hidup yang dirasakan dalam melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari seiring dengan bertambahnya usia.

c. Bagi Panti Wreda

Agar dapat menambah informasi pada pengelolah panti untuk mempersiapkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi pada lansia dalam melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari.

(26)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka 1. Lansia

a. Pengertian Lansia

Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab I Pasal 1 Ayat 2 mengatakan bahwa “lanjut usia adalah seorang yang mencakup usia 60 tahun ke atas”. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, yang pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit sampai tidak melakukan tugasnya sehari-hari lagi hingga bagi kebanyakan orang masa tua itu merupakan masa yang kurang menyenangkan. Lansia (lanjut usia) atau manusia usia lanjut (manula), adalah kelompok penduduk berumur tua.

Menurut Viktor Frank (Bastaman, 2007) menjelaskan bahwa menjadi tua adalah suatu kepastian yang tak dapat dihindarkan dan tidak ada obat untuk mencegahnya. Namun kenyataannya, sekalipun merupakan suatu kepastian, tampaknya sedikit sekali orang yang benar-benar memikirkan, bahkan banyak yang tidak mau menjadi tua. Lebih-lebih secara sengaja menyusun rencana menyongsong hari tua jarang orang melakukannya. Padahal banyak sekali persoalan yang terkait, seperti masalah kesehatan, menurunnya penghasilan, hubungan keluarga, tanggung jawab yang belum terpenuhi, pengendalian

(27)

10

emosi, kesepian dan kemurungan, serta kegiatan-kegiatan yang sesuai.

Semuanya perlu persiapan matang dan pemecahan yang tepat. Dan yang sangat penting adalah kesediaan untuk menerima dirinya telah lanjut usia

Golongan Penduduk yang mendapat perhatian atau pengelompokkan tersendiri ini adalah populasi berumur 60 tahun atau lebih. Umur kronologis (kalender) manusia dapat digolongkan dalam berbagai masa, yakni masa anak-anak, remaja dan dewasa. Masa dewasa dapat dibagi atas dewasa muda sekitar 18-30 tahun, dewasa setengah baya sekitar 30-60 tahun, dan masa lanjut usia yaitu lebih dari 60 tahun (Bustan, 2007).

WHO mengelompokkan usia lanjut atas tiga kelompok:

a. Kelompok middle age (45-59) b. Kelompok elderly age (60-74) c. Kelompok old age (75-90)

b. Perubahan yang Terjadi Pada Lansia

Menurut Bustan (2007). Secara alamiah, berbagai proses ketuaan yang tidak bisa dihindari berlangsung, berupa:

a. Perubahan fisik-biologis/ jasmani:

1. Kekuatan fisik secara menyeluruh dirasakan berkurang, merasa cepat capek dan stamina menurun.

2. Sikap badan yang semula tegak menjadi membungkuk, otot-otot mengecil, hipotrofis, terutama di bagian dada dan lengan.

3. Kulit mengerut dan keriput. Garis-garis pada wajah di kening dan sudut mata.

(28)

11

4. Rambut memutih dan pertumbuhan berkurang.

5. Gigi mulai rontok/tanggal.

6. Perubahan pada mata seperti pandangan dekat berkurang, adaptasi gelap melambat, lingkaran putih pada kornea (arcus senilis), dan lensa menjadi keruh (katarak).

7. Pendengaran, daya cium, dan perasa menurun.

8. Pengapuran pada tulang rawan, seperti tulang dada sehingga rongga dada menjadi kaku dan sulit bernapas.

b. Perubahan mental-emosional/jiwa:

1. Daya ingat menurun, terutama peristiwa yang baru saja terjadi.

2. Sering lupa/pikun, sangat mengganggu dalam pergaulan karena sering lupa dengan nama orang.

3. Emosi mudah berubah, sering marah-marah, rasa harga diri, dan mudah tersinggung.

Penyakit lansia dapat meliputi gangguan pembuluh darah (hipertensi hingga stroke), gangguan metabolik (Diabetes Melitus), gangguan persendian (artritis, encok, dan terjatuh), serta gangguan sosial (kurang penyesuaian diri dan merasa tidak memiliki fungsi lagi).

Menurut Wade dan Travis (2007), lansia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengingat nama, tanggal, dan informasi-informasi lain, faktanya, kecepatan proses kognitif secara umum menurun drastis.

(29)

12 2. Makna Hidup

a. Pengertian Makna Hidup

Orang yang pertama kali mengemukakan gagasan tentang makna hidup (meaning of life) adalah Victor Frankl dengan teorinya yang diberi nama Logotheraphy. Gagasan ini muncul berdasarkan pengalaman hidup dan pengamatannya yang sangat menakutkan saat berada dalam sebuah camp pembantaian milik Hitler (Bastaman, 2007).

Bastaman (2007) menjelaskan bahwa kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang penuh makna. Hanya dengan makna yang baik orang akan menjadi insan yang berguna tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Menurut Bastaman (2007) makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila hal itu berhasil dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). Dan makna hidup ternyata ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan menyenangkan dan tak menyenangkan, keadaan bahagia, dan penderitaan. Bila hasrat ini dapat dipenuhi maka kehidupan yang dirasakan berguna, berharga, dan berarti (meaningful) akan dialami. Sebaliknya bila hasrat ini tak terpenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan tidak bermakna (meaningless).

(30)

13 b. Sumber-sumber Makna Hidup

Menurut Bastaman (2007) ada beberapa sumber makna hidup, yaitu:

1. Nilai-nilai kreatif (Creative values)

Merupakan kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Menekuni suatu pekerjaan dan meningkatkan keterlibatan pribadi terhadap tugas serta berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik-baiknya merupakan salah satu contoh dari kegiatan berkarya.

2. Nilai-nilai penghayatan (Experiential values)

Merupakan keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, dan keagamaan, serta cinta kasih.

Menghayati dan meyakini suatu nilai dapat menjadikan seseorang berarti hidupnya. Tidak sedikit orang-orang yang merasa menemukan arti hidup dan agama yang diyakininya, atau ada orang-orang yang menghabiskan sebagian besar usianya untuk menekuni suatu cabang seni tertentu.

3. Nilai-nilai bersikap (Attitudinal values)

Merupakan menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti sakit yang tak disembuhkan, kematian, dan menjelang kematian, setelah segala upaya dan ikhtiar dilakukan secara maksimal.

c. Karakteristik Makna Hidup

Viktor Frankl (Bastaman, 2007) menjelaskan karakteristik makna hidup meliputi tiga sifat:

(31)

14 1. Makna hidup sifatnya unik

Artinya, apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu berarti pula bagi orang lain. Mungkin pula apa yang di anggap penting dan bermakna pada saat ini bagi seseorang, belum tentu sama bermaknanya bagi orang itu pada saat lain. Dalam hal ini makna hidup seseorang dan apa yang bermakna bagi dirinya biasanya sifatnya khusus, berbeda dan tak sama dengan makna hidup orang lain, serta mungkin pula dari waktu ke waktu berubah.

2. Makna hidup bersifat spesifik dan nyata

Artinya, makna hidup benar-benar dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan sehari-hari, serta tidak perlu selalu dikaitkan dengan hal-hal yang serba abstrak-filosofis, tujuan-tujuan idealistis, dan prestasi-prestasi akademis yang serba menakjubkan.

3. Makna hidup sifatnya memberi pedoman dan arah terhadap kegiatan yang dilakukan

Artinya, makna hidup itu seakan menentang untuk memenuhinya. Dalam hal ini, begitu makna hidup ditemukan dan tujuan hidup ditemukan, kita seakan-akan terpanggil untuk melaksanakan dan memenuhinya, serta kegiatan-kegiatan kita pun menjadi lebih terarah kepada pemenuhan itu.

d. Penghayatan Hidup Tak Bermakna

Viktor Frankl (Bastaman, 2007) memaparkan bahwa dalam kehidupan seseorang mungkin saja hasrat untuk hidup secara bermakna ini tidak terpenuhi, antara lain karena kurang disadari bahwa dalam kehidupan itu

(32)

15

sendiri dan pengalaman masing-masing orang terkandung makna hidup yang potensial yang dapat ditemuka dan dikembangkan.

Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna (meaningfulness), hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup merasa hidupnya tak berarti, bosan dan apatis.

e. Penghayatan Hidup Bermakna

Viktor Frankl (Bastaman, 2007) mendeskripsikan orang-orang yang mencapai dan menghayati hidup bermakna menunjukkan corak kehidupan penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan hidup, baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang jelas bagi orang-orang ini, dengan demikian kegiatan yang mereka lakukan pun menjadi lebih terarah. Mereka mampu untuk mencintai dan menerima cinta kasih orang lain, serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu yang menjadikan hidup ini bermakna.

f. Mengembangkan Hidup Bermakna pada Hari Tua

Menurut Viktor Frankl (Bastaman, 2007) lansia yang hidupnya bermakna antara lain digambarkan sebagai orang-orang yang menerima dan bersikap positif terhadap ketuaannya serta menjalaninya dengan tenang. Ia mampu hidup mandiri dan tak terlalu tergantung pada keluarga, apalagi membebaninya. Hubungan dengan pasangan tetap rukun, demikian pula dengan anak-anak dan sanak familinya. Ia pun memiliki teman dan sahabat

(33)

16

serta lingkungan diluar keluarga tempat berkomunikasi dan bergaul. Kondisi kesehatan terjaga dengan baik, demikian pula kesejahteraanya. Lansia bermakna dihormati dan menjadi panutan keluarga dan lingkungannya, ia bersedia membagi pengalaman-pengalamannya yang bermanfaat. Dalam usianya yang lanjut ia selalu memiliki harapan dirinya akan menjadi lebih baik dan bersedia memperbaiki diri. Hasratnya adalah menjadi orang yang berguna dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya pada lingkungan sekitarnya.

Dan tentu saja kalau berusaha meningkatkan iman dan takwanya kepada Tuhan.

Sehubungan dengan itu ada sebuah kegiatan pendidikan yang khusus dirancang bagi mereka yang menjelang atau sudah memasuki masa lanjut usia. Kegiatan ini disebut pengembangan pribadi lansia bermakna. Kegiatan ini secara umum bertujuan untuk menemukan arti hidup dan mengembangkan kehidupan yang bermakna pada masa tua, dengan tujuan-tujuan khusus:

1. Memahami beberapa teknik penurunan kecemasan untuk diterapkan dalam mengurangi stres menyongsong masa tua

2. Memahami prinsip-prinsip dan teknik-teknik meningkatkan keakraban dalam keluarga dan pergaulan

3. Menyadari potensi-potensi pribadi dan merealisasikannya dalam kegiatan- kegiatan yang bermanfaat

4. Mampu menyusun rencana pribadi untuk mempersiapkan masa tua

5. Memahami pentingnya pengetahuan dan penghayatan agama serta pengalamannya

(34)

17

Untuk mencapai tujuan-tujuan itu dibawah diajukan lima cara menemukan makna hidup dan meraih hidup yang bermakna, yakni:

a. Pemahaman diri, mengenali secara objektif kekuatan dan kelemahan diri sendiri (dan lingkungan), baik yang masih merupakan potensi maupun yang telah teraktualisasi untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.

b. Bertindak positif, mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari hal-hal yang dianggap baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

c. Pengakraban hubungan, meningkatkan hubungan yang baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, teman, rekan kerja, tetangga) sehingga masing-masing saling mempercayai, saling membutuhkan, dan saling membantu.

d. Pendalam catur nilai, berupaya untuk memahami dan memenuhi tiga ragam nilai dianggap sebagai sumber makna hidup, yaitu nilai kreatif (kerja, karya), nilai bersikap (menerima dan mengambil sikap yang tepat atas derita yang tak dapat dihindari lagi) dan nilai pengaharapan (yakni akan terjadi perubahan yang lebih baik).

e. Ibadah, ibadah pada dasarnya adalah usaha mendekatkan diri kepada Tuhan, melaksanakan apa yang diperintah dan mencegah diri dari hal-hal yang dilarang-Nya. Doa adalah bentuk ibadah yang paling sederhana, tetapi merupakan inti ibadah. Ibadah (dan doa) yang khusyuk sering mendatangkan perasaan tenteram, mantap, dan tabah, serta tak jarang

(35)

18

menimbulkan perasaan seakan-akan mendapat bimbingan dan petunjuk- Nya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.

g. Menjadi Manusia Lansia yang Bermakna

Menurut Viktor Frankl (Bastaman, 2007) menjadi seseorang yang berusia lanjut usia yang arif, banyak amal, sedikit noda dan kesalahan, dan sarat dengan pengalaman yang bermakna adalah idaman setiap orang.

Memiliki pasangan hidup yang dikasihi, sekalipun pesona ragawinya telah pudar dimakan usia, adalah sumber ketenteraman pada hari tua. Walau telah sekian lama mengarungi bahtera rumah tangga di atas pasang surut gelombang kehidupan, namun cinta kasih tetap terjaga. Dan di antara saat- saat berkasih dan berselisih telah hadir buah hati berupa anak-anak yang berbakti dan cucu-cucu yang lucu-lucu.

h. Asas-asas Logoterapi

Menurut Viktor Frankl (Bastaman, 2007) terdapat tiga asas utama yaitu:

1. Pertama, hidup itu tetap memliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia selalu mendambakan hidupnya bermakna, dan selalu berusaha mencari dan menemukannya. Makna hidup apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini berarti dan mereka yang berhasil menemukan dan mengembangkannya akan merasakan kebahagiaan

(36)

19

sebagai ganjarannya sekaligus terhindar dari keputusasaan. Sebenarnya makna hidup terpatri di dalamnya, baik dalam kondisi kehidupan senang ataupun susah.

2. Kedua, setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tak terbatas untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumber-sumbernya dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, khususnya pada pekerjaan dan karya bakti yang dilakukan, serta dalam keyakinan terhadap harapan dan kebenaran serta penghayatan atas keindahan, iman, dan cinta kasih.

Selain itu, sikap tepat yang kita ambil atas penderitaan yang tidak dapat diubah lagi merupakan sumber makna hidup. Dalam hal ini mungkin pada suatu saat harapan dan kebebasan secara fisik seakan-akan hampir sirna, tetapi setiap manusia pada dasarnya masih tetap memilikinya, sekalipun hanya dalam pikiran, perasaan, cita-cita, dan angan-angan semata-mata.

3. Ketiga, setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar, setelah upaya mengatasinya telah dilakukan secara optimal tetap tak berhasil.

Maksudnya, jika kita tidak mungkin mengubah sikap atas keadaan (tragis), sebaiknya kita mengubah sikap atas keadaan itu agar kita tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu. Tentu saja dengan jalan mengambil sikap tepat dan balik, yakni sikap yang menimbulkan kebajikan pada diri sendiri dan orang lain serta sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma- norma lingkungan yang berlaku.

(37)

20 i. Landasan Logoterapi

Menurut Bastaman (2007) setiap aliran dalam psikologi memilki landasan kemanusiaan yang mendasari seluruh ajaran, teori dan penerapannya. Dalam hal ini logoterapi memiliki dan merangkum ajaran dan tujuan, yaitu:

1. Kebebasan Berkehendak (The Freedom of Will)

Kebebasan berkehendak adalah kebebasan untuk mengambil sikap atas kondisi-kondisi yang terjadi dalam kehidupan dan kebebasan disini bukan kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab.

2. Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)

Keinginan untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama pada manusia yang mendorong setiap orang untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Bila hasrat ini dapat dipenuhi, barulah kehidupan akan dirasakan bermakna, sebaliknya bila tidak terpenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan tak bermakna.

3. Makna Hidup (The Meaning of Life)

Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan. Bila hal tersebut terpenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang bermakna (the meaningful life) dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia.

(38)

21 3. Panti Wreda/Jompo

Menurut Davison, Neale, dan Kring (2012) panti wreda dewasa ini merupakan sentra perawatan institusional bagi para lanjut usia yang menderita penyakit kronis parah dan gangguan mental. Dari penjelaskan diatas dapat di simpulkan bahwa panti wreda ialah tempat untuk para lanjut usia dalam menerima perawatan dari penyakit yang di derita oleh para lanjut usia. Namun dalam hal ini, tampaknya tidak cukup banyak orang yang dilatih untuk memberikan layanan kesehatan mental di panti-panti wreda. Dengan semakin menuanya orang lanjut usia, kemungkinan mereka ada di dalam panti jompo atau fasilitas-fasilitas perawatan lainnya semakin meningkat (Santrock, 2002)

Menurut Santrock (2002) terdapat tiga jenis pelayanan atau tingkatan dari perawatan yang disediakan oleh berbagai macam panti wreda atau panti jompo, berikut perawatan tersebut, yang pertama ialah fasilitas perawatan yang terampil (skilled), perawatan ini sangatlah luas dan sudah ditentukan oleh pemerintah.

Rumah perawatan jenis ini diperiksa dan diawasi oleh pemerintah federal dan Negara. Yang ke dua ialah fasilitas perawatan yang menengah (intermediate) atau biasa (ordinary), perawatan ini diberikan kurang luas dibandingkan fasilitas perawatan perawatan yang trampil. Yang ke tiga ialah fasilitas perawatan di rumah (residential), standar-standar kualifikasi yang diperlakukan kurang ketat.

(39)

22 B. Kerangka Konseptual

Salah satu kondisi yang tak dapat dihindari dari kehidupan manusia adalah menjadi tua. Pada fase manjadi tua, sebenarnya memberikan kesempatan untuk belajar dan melakukan berbagai hobi yang tak sempat dilakukan sebelumnya, lebih termotivasi untuk melaksanakan ibadah secara lebih mendalam, merenungi pengalaman hidup dan makna hidup yang dialami. Menurut Santrock (2012) lansia yang telah menemukan rasa pemaknaan dalam hidup punya fisik yang lebih sehat dan merasa lebih bahagia, dan mengalami lebih sedikit depresi, daripada mereka yang belum menemukan makna dalam hidup mereka. Sementara menurut Victor Frankl (Bastaman, 2007) menjelaskan bahwa lansia yang hidupnya bermakna digambarkan sebagai orang yang menerima dan bersikap positif terhadap ketuaanya dan menjalaninya dengan tenang serta memiliki hubungan yang baik dengan pasangan, demikian pula dengan anak-anak dan sanak keluarga. Namun fakta dilapangan menunjukkan bahwa kebanyakan anak lebih memilih menempatkan orang tuanya di panti wreda dibandingkan dengan merawat orang tuanya dirumah.

Padahal jika dilihat dari budaya setempat, hal tersebut sangatlah tidak lazim. Karena jika dilihat dari beberapa hasil penelitian menjelaskan bahwa lansia yang hidup di panti wreda cenderung merindukan sanak keluarga dan mudah merasa stres hingga depresi ketika harus tinggal dan menetap didalam panti-panti sosial.

Menurut Victor Frankl (Bastaman, 2007) memaparkan bahwa ketika lansia mampu mencapai makna hidupnya maka yang dirasakan adalah kebahagiaan karena merupakan ganjaran atas penghayatan hidup tersebut. Sebaliknya, ketika lansia tidak mampu memenuhi makna hidupnya, maka yang dirasakan adalah

(40)

23

ketidakbahagiaan dan menyebabkan neurosis noogenik, yaitu suatu gangguan perasaan yang cukup menghambat prestasi dan penyesuaian diri. Gangguan ini biasanya tampil dalam keluhan-keluhan serba bosan, hampa, dan penuh keputusasaan, kehilangan minat dan inisiatif, serta merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya sama sekali.

(41)

24

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Miles & Huberman (Creswell, 2016) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai proses infestigatif yang di dalamnya peneliti secara perlahan-lahan memaknai suatu fenomena sosial dengan membedakan, membandingkan, menggandakan, mengatalogkan, dan mengklasifikasikan objek penelitian. Sedangkan menurut Sugiyono (2014) penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai di balik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna. Penelitian kualitatif menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan lain sebagainya (Poerwandari, 1998).

Adapun metode yang digunakan disini adalah Pendekatan fenomenologi, yaitu sebuah studi yang berusaha mencari esensi makna dari suatu fenomena yang di alami oleh beberapa individu (Creswell, *015). Sementara menurut Sugiyono (2011) menjelakan bahwa pendekatan fenomenologis merupakan salah satu jenis penelitian kualiatatif, sementara peneliti bertugas melakukan pengumpulan data

(42)

25

dengan observasi partisipan untuk mengetahui fenomena esensial partisipan dalam pengalaman hidupnya.

B. Unit Analisis

a. Subjek Penelitian

Subjek penelitiannya adalah 2 orang lansia. Di panti wredha tersebut terdapat 63 orang lansia yakni, 32 orang lansia perempuan dan 31 orang lansia berjenis kelamin laki-laki.

b. Informan

Infoman yang yang di wawancarai saat pengambilan data awal adalah Kepala Panti dan salah satu petugas panti. Serta peneliti juga mengobservasi beberapa lansia di panti wredha tersebut.

C. Setting Penelitian

Panti Sosial Tresna Werdha Himo-himo Ternate, yang terletak di Kelurahan Tabona, Kota Ternate Selatan, berdekatan dengan SMAN 2 Kota Ternate. Ternate, Maluku Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia. Provinsi yang biasa disingkat sebagai "Malut" ini terdiri dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku Utara. Ibukota terletak di Sofifi, Kecamatan Oba Utara, sejak 4 Agustus 2010 menggantikan kota terbesarnya, Ternate yang berfungsi sebagai ibukota sementara selama 11 tahun untuk menunggu kesiapan infrastruktur Sofifi. Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,32 km². Sebagian besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas 106.977,32 km² (76,27%). Sisanya seluas 33.278 km² (23,73%) adalah daratan.

(43)

26 D. Teknik Pengumpulan Data

a. Teknik Pemilihan Subjek Penelitian

Menurut Nasution (2012) dalam garis besarnya ada dua macam teknik sampling atau teknik pemilihan subjek yaitu, pertama yang memberi kemungkinan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih yang disebut probabilty sampling, dan kedua yang tidak memberi kemungkinan yang sama bagi tiap unsur populasi untuk dipilih yang disebut non-probability sampling. Dalam non- probability sampling sendiri terdapat beberapa jenis pengambilan sampel namun yang digunakan disini ialah cara memilih subjek penelitian dengan menggunakan purposive sampling. Karena purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2014).

Ada pun kriterianya adalah :

1. Lansia yang berumur 60 tahun ke atas

2. Lansia dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia 3. Lansia yang mampu berkomunikasi verbal

4. Lansia yang masih memiliki keluarga

5. Lansia yang memiliki fungsi pendengaran yang baik 6. Lansia setuju berpartisipasi dalam penelitian

b. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan disini adalah metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan

(44)

27

mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut (Cartwright & Cartwright, 1976). Observasi juga merupakan pengamatan sistematis dan terencana yang dilakukan dengan turun langsung ke lokasi penelitian, guna meninjau dan mencatat serta mengontrol keadaan lokasi untuk memperoleh data yang diperlukan yang dikontrol validitas dan reliabiltasnya (Alwasilah, 2002).

Menurut Suprijono (Santoso, 2010) observasi merupakan cara pengumpulan data dalam rangka penyelidikan terhadap tingkah laku sosial dalam situasi sosial yang wajar. Sedangkan menurut Sutrisno (Sugiyono, 2014) observasi merupakan proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Sementara menurut Young & Schmidt (Pasolong, 2012) menjelaskan bahwa observasi ialah sebagai pengamatan sistematis berkenaan dengan perhatian terhadap fenomena-fenomeana yang nampak. Perhatian yang dimaksud adalah harus diberikan kepada unit kegiatan yang lebih besar atau lebih luas pada fenomena-fenomena khusus yang diamati terjadi.

Menurut Nasution (2012) wawancara merupakan alat yang ampuh untuk mengungkapkan kenyataan hidup, apa yang dipikirkan atau dirasakan orang tentang berbagai aspek kehidupan. Sedangkan menurut Walgito (2003) menyebutkan bahwa wawacara adalah proses tanya jawab dalam bentuk lisan.

Wawancara juga merupakan percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Prawitasari, 2011). Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan

(45)

28

bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Poerwandari, 1998).

Dokumentasi menurut Sugiyono (2014) merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa bebentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang terbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life historis), ceritera, biografi, peraturan, dan kebijakan.

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan lebih kredibel/dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, dan autobiografi

E. Analisis Data

Miles dan Huberman (Sugiyono, 2014) menyatakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.

1. Reduksi Data (data reduction)

Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal- hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan

(46)

29

pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data bisa dibantu dengan alat elektronik seperti komputer mini, dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu.

Dengan reduksi, maka peneliti merangkum, mengambil data yang pokok dan penting, membuat kategorisasi, berdasarkan huruf besar, huruf kecil dan angka.

Data yang tidak penting diilustrasikan dalam bentuk simbol-simbol, kemudian dibuang karena dianggap tidak pentik bagi peneliti.

2. Model Data (data display)

Setelah data direduksi, maka langkah berikutnya adalah mendisplaykan data.

Display data dalam penelitian kualitatif bisa dilakukan dalam bentuk : uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sebagainya. Miles dan Huberman (Sugiyono, 2014) menyatakan : “the most frequent form of display data for qualitative research data in the pas has been narative tex” artinya yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif dengan teks yang bersifat naratif.

Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Selanjutnya disarankan, dalam melakukan display data, selain dengan teks yang naratif, juga berupa grafik, matriks, network (jejaring kerja) dan charts.

Fenomena sosial bersifat kompleks, dan dinamis, sehingga apa yang ditemukan pada saat memasuki lapangan dan setelah berlangsung agak lama di lapangan akan mengalami perkembangan data. Untuk itu maka peneliti harus

(47)

30

selalu menguji apa yang telah ditemukan pada saat memasuki lapangan yang masih bersifat hipotetik itu berkembang atau tidak.

3. Penarikan/Verifikasi Kesimpulan (conclusion drawing/verification)

Langkah yang terakhir dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (Sugiyono, 2014) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Namun bila kesimpulan memang telah didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel (dapat dipercaya).

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap, sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.

F. Keabsahan Data

Adapun teknik keabsahan data yang digunakan ialah uji kredibilitas data, uji transferability, uji depenability, dan uji confirmability (Sugiyono, 2015).

(48)

31 1. Uji Kredibilitas

Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan cara:

a. Perpanjangan Pengamatan

Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk rapport, semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi. Bila telah terbentuk raport, maka telah kewajaran dalam penelitian, di mana kehadiran peneliti tidak lagi mengganggu perilaku yang dipelajari.

Pada tahap awal peneliti memasuki lapangan, peneliti masih dianggap orang asing, masih dicurigai, sehingga informasi yang diberikan belum lengkap, tidak mendalam, dan mungkin masih banyak yang dirahasiakan.

Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti mengecek kembali apakah data yang telah diberikan selama ini merupakan data yang sudah benar atau tidak. Bila data yang diperoleh selama ini setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data lain ternyata tidak benar, maka peneliti melakukan pengamatan lagi yang lebih luas dan mendalam sehingga diperoleh data yang pasti kebenarannya.

Berapa lama perpanjangan pengamatan ini dilakukan, akan sangat tergantung pada kedalaman, keluasan dan kepastian data. Kedalaman

(49)

32

artinya apakah peneliti ingin menggali data sampai pada tingkat makna.

Makna berarti data dibalik yang tampak. Yang tampak orang sedang menangis tetapi sebenamya dia tidak sedih tetapi malah sedang berbahagia.

Berapa lama perpanjangan pengamatan ini dilakukan, akan sangat tergantung pada kedalaman, keluasan dan kepastian data. Kedalaman artinya apakah peneliti ingin menggali data sampai pada tingkat makna.

Makna berarti data di balik yang tampak. Yang tampak orang sedang menangis tetapi sebenamya dia tidak sedih tetapi malah sedang berbahagia.

Keluasan berarti, banyak sedikitnya informasi yang diperoleh. Dalam hal ini setelah peneliti memperpanjang pengamatan, apakah akan menambah fokus penelitian, sehingga memerlukan tambahan informasi baru lagi. Data yang pasti adalah data yang valid yang sesuai dengan apa yang terjadi.

Dalam perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data penelitian ini, sebaiknya difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah diperoleh, apakah data yang diperoleh itu setelah dicek kembali ke lapangan benar atau tidak, berubah atau tidak. Bila setelah dicek kembali ke lapangan data sudah benar berarti kredibel, maka waktu perpanjangan pengamatan dapat diakhiri. Untuk membuktikan apakah peneliti itu melakukan uji kredibilitas melalui perpanjangan pengamatan atau tidak, maka akan lebih baik kalau dibuktikan dengan surat keterangan perpanjangan. Selanjutnya surat keterangan perpanjangan ini dilampirkan dalam laporan penelitian.

(50)

33 b. Meningkatan Ketekunan

Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Dengan meningkatkan ketekunan itu, maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak. Dengan meningkatkan ketekunan itu, maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi- dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak.

c. Triangulasi

Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.

Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.

1) Triangulasi Sumber

(51)

34

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoJeh melalui beberapa sumber. Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas data tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan ke bawahan yang dipimpin, ke atasan yang menugasi, dan ke teman kerja yang merupakan kelompok kerjasama. Data dari ketiga sumber tersebut, tidak bisa dirata-ratakan seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana spesifik dari tiga sumber data tersebut.

Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan tiga sumber data tersebut.

2) Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner. Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda.

(52)

35 3) Triangulasi Waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pacta saat nara sumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.

Triangulasi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian, dari tim peneliti lain yang diberi tugas melakukan pengumpulan data.

4) Analisis Kasus Negatif

Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Melakukan analisis kasus negatif berarti peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Tetapi bila peneliti masih mendapatkan data-data yang bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan merubah temuannya. Hal ini sangat tergantung seberapa besar kasus negatif yang muncul tersebut. Sebagai contoh, bila ada 99% orang mengatakan bahwa si A, pengedar narkoba, sedangkan 1 % menyatakan

Gambar

Tabel 4.1 Sumber-sumber Makna Hidup Subjek 1 SJ  Sumber Makna Hidup
Tabel 4.2 Karakteristik Makna Hidup Subjek 1 SJ
Tabel 4.3 Sumber-sumber Makna Hidup Subjek 2 RS
Tabel 4.4 Karakteristik Makna Hidup Subjek 2 RS         Karakteristik Makna Hidup  Makna hidup sifatnya unik  Walaupun  memiliki  masalah
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Yuliati (2014), hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa terdapat

Dari penelitian ditemukan bahwa depresi lebih rentan dialami oleh lansia wanita yang termasuk usia sangat tua serta terdapat hubungan antara depresi dengan kualitas

Pengaruh Terapi Bercerita Terhadap Tingkat Depresi Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Sraya Denpasar.. Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

Bagi bidang ilmu keperawatan, khususnya keperawatan komunitas hendaknya senantiasa mengembangkan keilmuannya dengan penelitian terkait aspek psikologis pada lansia yang

Dari penelitian ditemukan bahwa depresi lebih rentan dialami oleh lansia wanita yang termasuk usia sangat tua serta terdapat hubungan antara depresi dengan kualitas

Terdapat hubungan antara kesehatan mulut dengan kualitas hidup lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan dengan arah positif, yang

Berdasarkan analisis kualitas hidup ditemukan bahwa lansia yang memiliki kualitas hidup yang baik didominasi oleh lansia dengan tingkat usia lansia tua, berjenis kelamin

Gangguan tidur yang dialami lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru antara lain jumlah jam tidur yang kurang dari 5 jam, sulit untuk memulai tidur,