• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecerdasan emosi pada pelaku self injury

D Solution

Academic year: 2023

Membagikan "Kecerdasan emosi pada pelaku self injury"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

A. Latar Belakang Masalah

Pada era yang modern percobaan bunuh diri menjadi perhatian besar para ahli kesehatan. Bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar ketiga diantara penduduk dengan rentang usia 10 – 24 tahun dan merupakan penyebab terbesar kedua pada remaja berusia 13 – 17 tahun (Yen, 2014). Studi menyatakan bahwa 40-60%

dari pelaku bunuh diri pernah melakukan self injury, sedangkan lebih dari 70%

pelaku self injury pernah melakukan percobaan bunuh diri sekali dalam seumur hidup (Hornor, 2016). Oleh sebab itu, perilaku self injury dipertimbangkan sebagai prediktor tindakan bunuh diri. Kemajuan penelitian yang berkaitan dengan self injury telah dimulai sejak dekade yang lalu, konstribusinya berupa meningkatnya kesadaran akan perilaku tersebut, terlebih pada remaja. Meskipun self injury dibatasi pada orang-orang dengan penyakit jiwa, khususnya orang dengan gangguan kepribadian borderline, studi yang berbeda menemukan bahwa self injury umum ditemukan pada masyarakat tanpa penyakit jiwa, baik pada masa remaja maupun dewasa awal (Rodav, Levy, & Hamdan, 2014).

Secara umum, self Injury bisa didefinisikan sebagai “self poisoning atau self harm” berupa tindakan melukai diri sendiri tanpa adanya tujuan untuk bunuh diri.

Kebanyakan penelitian mengenai self injury berfokus pada remaja. Prevalensi dari

1

(3)

self injury terjadi pada usia 14 – 17 tahun dari tujuh negara di Eropa ditemukan rata- rata keseluruhan prevalensi dari 13,5% wanita dan 4,3% pria melakukan self injury.

Sebagai tambahan, beberapa penelitian menyatakan bahwa self injury biasanya terjadi pertama kali pada usia remaja. Namun begitu, self injury juga terjadi pada masa dewasa karena self injury dapat berlangsung selama lebih dari 25 tahun yang termasuk usia dewasa, telah diperkirakan antara 4% dan 5,9% populasi penduduk US melakukan self injury. Lebih lanjut, penelitian yang melibatkan 17 negara menemukan bahwa rata-rata dari 2,7% orang dewasa melaporkan setidaknya satu kali melakukan self injury dan sebuah penelitian dari departemen Accident and Emergency (A&E) di Oxord, melaporkan bahwa 1165 orang dengan kasus self injury hadir dengan total 1588 kali dalam setahun. Pada kasus ini, hanya 5,8% dari keseluruhan yang berusia 16 tahun, 56,7% berusia 16 – 34 tahun, 34,6% berusia 35 – 64 tahun dan 2,9% berusia 65 tahun atau bahkan lebih tua. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Self injury meliputi segala usia, tidak hanya pada masa remaja. Meskipun tersedia pengetahuan secara umum, bisa saja angka-angka tersebut tidak sesuai. Self injury sering kali dilakukan secara tertutup, kebanyakan pelaku self injury tidak mencari bantuan medis oleh karena itu jumlah mereka yang sebenarnya melebihi data-data yang telah disebutkan (Odgen & Bennet, 2015).

Pelaku self injury memiliki kecenderungan untuk menghindari bantuan dan memiliki tingkat paling rendah terkait keterikatannya dengan profesional kesehatan dan banyak pula yang tidak terdeteksi oleh teman, guru, dan profesional kesehatan

(4)

(Silva, E. C., Benjet, C., Garcia, F. J., Cardenas, S. J., Gomez-Maqueo, M. E. L., Cruz, A. V., 2017). Pada kenyatannya, studi di Selandia Baru menyimpulkan bahwa hanya sepersepuluh hingga seperlima dari keseluruhan pelaku self injury yang mencari bantuan medis. Dalam mengatasi masalah mencari bantuan, beberapa studi telah mengeksplorasi kualitas dari pengasuhan yang diterima seperti mengeksplorasi kepuasan pasien dengan pengasuh mereka, dan menyoroti celah diantara pandangan pasien terhadap perilaku mereka dengan keyakinan dan sudut pandang mereka terhadap orang-orang yang mencoba membantu mereka. Sebagai perbandingan, hambatan dalam mencari bantuan juga dieksplorasi seperti mengeksplorasi hambatan untuk mencari bantuan setelah mengintervensi pendidikan sekolah dasar dan mengidentifikasi isu termasuk perasaan tak sanggup bicara dengan orang dewasa, kepercayaan diri berlebih, perasaan takut dirawat di rumah sakit dan kurangnya kedekatan dengan orang dewasa. Faktor lainnya seperti rasa malu, keyakinan tidak adanya masalah, keyakinan bahwa tidak akan ada yang mampu membantu mereka, dan pemasrahan diri. Selain itu, permasalahan struktural seperti biaya pengobatan atau ketersediaan pelayanan juga dianggap sebagai alasan pelaku self injury tidak mencari bantuan namun alasan tersebut tidak tepat melainkan sekedar permasalahan yang lebih tampak (Odgen & Bennet, 2015).

Tidak semua orang melukai dirinya dengan sengaja tetapi memiliki keinginan untuk melakukannya. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa keinginan melukai diri berhubungan dengan tingginya kemungkinan untuk menerapkan

(5)

perilakunya. Keinginan bunuh diri juga sudah diprediksi mempengaruhi perilaku melukai diri sehingga mungkin, keinginan melukai diri pun dapat mempengaruhi perilaku tersebut. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa keinginan melukai diri sangat mungkin berhubungan dengan bagaimana seseorang dapat meregulasi emosinya atau dapat menguatkan kepercayaan bahwa melukai diri dapat mengubah keadaan emosionalnya (Muthia & Hidayati, 2017).

Ada pula beberapa kemungkinan penyebab self injury, dan beberapa penelitian yang menunjukkan pengalaman individu berkaitan dengan perilaku mereka yang berfokus pada kerangka penjelasan mereka sendiri dan fungsi potensial pada perilaku mereka. Selain itu, self injury dianggap sebagai strategi coping paling maladaptif yang dilakukan oleh orang dengan kecerdasan emosi yang rendah yang mencoba untuk mengatasi emosi negatif dengan cara menebusnya melalui rasa sakit secara fisik yang menyebabkan konsekuensi fisiologis dan psikologis jangka panjang (Mahajan, R., Navkiran., Mahajan, S., & Singh, D. P., 2014).

Pada masa sekarang ini banyak sekali kita temukan penerapan pendidikan yang sangat menunjang kecerdasan intelektual individu, hal ini tidak hanya kita lihat dari semakin banyak orang yang berkesempatan untuk menyelesaikan jenjang pendidkan yang tinggi tetapi juga fasilitas yang menunjang seperti game dari penggunaan gadget yang menyediakan cara untuk bermain soliter yang mendorong individu untuk menguasai kemampuan-kemampuan berwawasan dari segi inteligensi.

Secara sekilas kondisi tersebut tampak sangat baik dan perlu adanya dukungan kearah yang lebih positif, akan tetapi ini ternyata menghadirkan paradoks yang

(6)

membahayakan. Goleman (2005) mengatakan, sementara skor IQ anak-anak makin tinggi, kecerdasan emosi mereka justru menurun. Barangkali, yang paling mengkhawatirkan adalah data dari sebuah survey besar-besaran terhadap orang tua dan guru yang menunjukkan bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi ketimbang generasi terdahulu. Secara pukul rata, anak- anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan lebih sulit diatur, lebih gugup dan cenderung cemas, lebih impulsif dan agresif.

Dr. Thomas Achenbach, psikolog dari University of Vermont yang melakukan suatu studi dan telah menjalin kerja sama dengan rekan-rekannya menyatakan bahwa menurunnya kemampuan-kemampuan dasar pada anak-anak ini sifatnya mendunia. Tanda-tanda paling jelas mengenai penurunan ini tampak dari bertambahnya kasus kaum muda yang mengalami masalah-masalah seperti putus asa terhadap masa depan dan keterkucilan, penyalahgunaan obat bius, kriminalitas dan kekerasan, depresi atau masalah makan, kehamilan tak diinginkan, kenakalan, dan putus sekolah (Goleman, 2005). Oleh sebab itu kecerdasan emosi menjadi salah satu bahasan yang cukup penting untuk didiskusikan untuk mengimbangi kecerdasan intelektual yang terus ditingkatkan dan difasilitasi. Kecerdasan emosi adalah salah satu kunci keberhasilan hidup, orang yang cerdas secara emosi sadar akan keadaan diri dan orang lain, memiliki motivasi dan optimisme (Ghufron, 2016). Goleman (2005) menyatakan bahwa dari sekian faktor yang menentukan kesuksesan seseorang, kognitif hanya menyumbang kira-kira 20%, maka yang 80% diisi oleh kekuatan

(7)

kekuatan lain termasuk yang disebutnya sebagai kecerdasan emosi. Kemampuan untuk mengontrol dan mengatur impuls, emosi, hasrat, performance dan perilaku lainnya merupakan keutamaan diri dan merupakan salah satu aspek yang penting, untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Kegagalan dalam mengontrol diri termasuk emosi, akan berdampak pada masalah personal maupun sosial dalam spektrum yang luas, mulai dari adanya indikasi kekerasan, kenakalan, kriminalitas, kekerasan dalam rumah tangga, kegagalan sekolah, hutang dan kepailitan sampai kepada terjangkitnya penyakit seksual (Ghufron, 2016). Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan individu untuk memahami emosi dan perasaan pada diri dan orang lain, membedakannya dan menggunakan pengetahuan ini dalam proses membuat keputusan dan tindakan (Mahajan, R., dkk., 2014). Menurut Ghufron (2016), orang yang cerdas secara emosi senantiasa mampu melihat situasi yang krisis sebelum merespon secara emosional yang pada gilirannya mampu memutuskan dengan baik mengenai apa yang harus dilakukan termasuk dalam menerapkan strategi coping yang tepat.

Berdasarkan studi pendahuluan, seorang wanita remaja akhir bernama A (19) mengirim pesan secara pribadi pada peneliti melalui aplikasi whats app, ia mengeluhkan tindakannya berupa menyayat pergelangan tangan menggunakan benda tajam, kondisi itu terus berulang terlebih ketika mereka sedang menghadapi masalah yang begitu menekan. Selanjutnya, ada keluhan lain dari P (19), seorang wanita remaja akhir dengan keluhan yang sama. Mereka menceritakan permasalahan mereka

(8)

karena peneliti merupakan salah satu moderator yang rutin memberikan materi di grup Psikologi Indonesia, sehingga mereka percaya bahwa peneliti mungkin bisa membantu mereka. Peneliti memiliki seorang subjek bernama D (21), yakni seorang pria dewasa awal yang sering mengirimkan beberapa foto untuk mengkomunikasikan bahwa ia telah melakukan self injury, adapula diantaranya dalam bentuk video, ia juga cukup sering menguploadnya di story whats app. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada bulan November ia melakukan tindakan bunuh diri hingga mengalami koma selama 1 bulan dan harus dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapore.

Meskipun self injury tidak dimaksudkan untuk tindakan bunuh diri, hubungan antara self injury dengan tindakan bunuh diri begitu kompleks karena self injury cukup berpotensi untuk mengancam kehidupan pelakunya. Sehingga self injury bisa menjadi acuan yang penting pada tindakan bunuh diri (Mahajan, R., dkk., 2014). Penelitian sejenis dilakukan oleh Mahajan, R., dkk. (2014) menyatakan bahwa rata-rata subjek yang melakukan self injury memiliki kecerdasan emosi yang buruk. D merupakan seorang pria yang mudah berempati dan memiliki kemampuan sosial yang nampak baik, padahal empati dan kemampuan sosial merupakan salah satu aspek kecerdasan emosi, hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

Berdasarkan uraian tersebut juga dari hasil berbagai macam penelitian, dan studi pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya, penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut dengan judul “Kecerdasan Emosi Pada Pelaku Self Injury”.

(9)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut sebelumnya, adapun perumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu untuk mengetahui “Bagaimana kecerdasan emosi pada pelaku self injury”. Perumusan masalah ini kemudian diperjelas dengan sub pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran kecerdasan emosi pada pelaku self injury?

2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan self injury?

C. Signifikansi dan Keunikan Penelitian

Penelitian mengenai self injury di Indonesia telah diteliti oleh peneliti terdahulu namun menggunakan variabel yang berbeda. Beberapa penelitian dilakukan oleh Estefan & Wijaya (2014) mengenai Gambaran Proses Regulasi Emosi Pada Pelaku Self Injury menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, subjek berjumlah satu orang (F) dan terdapat tiga orang informan (U, VA, YY). Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi serta dengan menggunakan skala karakteristik untuk menentukan karakteristik subjek.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Muthia & Hidayati (2015) tentang Kesepian dan Melukai Diri Sendiri Remaja dengan menggunakan metode kuantiatif korelasional, responden dalam penelitian ini berjumlah 316 remaja laki-laki dan perempuan dari SMK di Balikpapan, Kalimantan Timur. Teknik pengambilan sampel menggunakan

(10)

accidental sampling. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah ESLI (Emotional-Social Loneliness Inventory) dan NSSI Ideation Questionnaire.

Adapun penelitian yang paling mendekati bahasan dari peneliti yakni penelitian yang telah dilakukan oleh Mahrajan, R., dkk (2014) tentang Emotional Intelligence and Coping Strategies in Late Adolescene Presenting With Deliberate Self Harm menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jumlah subjek sebanyak 30 orang berusia 16-19 tahun. Penelitian tersebut menemukan bahwa kecerdasan emosi memiliki korelasi dengan penerapan coping secara tepat pada individu, seseorang dengan kecerdasan emosi yang tinggi memiliki kemampuang coping yang bagus sehingga akan mengurangi kecenderungan dalam menggunakan maladaptive coping. Penelitian lain dengan variabel sejenis dilakukan oleh Parloe (2016) mengenai A Longitudinal Examination Of The Association Between Nonsuicidal Self-Injury, Emotional Intelligence, And Family Context In Adolescents menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jumlah subjek sebanyak 91 orang berusia 13-18 tahun dengan pendekatan longitudinal selama satu tahun, berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahrajan, R. dkk (2014), penelitian yang dilakukan oleh Parloe (2016) menemukan bahwa tidak ada korelasi antara kecerdasan emosi dengan perilaku self injury. Kedua peneliti tersebut menggunakan metode penelitian yang sama yakni metode penelitian kuantitatif namun memiliki hasil penelitian yang berbeda.

Perbedaan penelitian-penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti terletak pada variabel dan metode penelitian yang

(11)

digunakan oleh peneliti, yakni variabel yang digunakan adalah kecerdasan emosi dengan metode penelitian kualitatif sehingga dapat memahami dan memberikan gambaran mengenai kondisi subjek secara lebih mendalam mengenai kecerdasan emosi pada pelaku self injury.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengetahui kecerdasan emosi pada pelaku self injury, sedangkan tujuan spesifik pada penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui gambaran kecerdasan emosi pada pelaku self injury.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab individu melakukan self injury.

E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah, antara lain : 1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu Psikologi Klinis dan Psikologi Sosial, tentang kecerdasan emosi pada pelaku self injury.

2. Manfaat Praktis a. Subjek

(12)

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman pada subjek sehingga mampu untuk menerapkan strategi coping yang positif.

b. Instansi Pemerintah dan masyarakat

Penelitian ini bermanfaat dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman bagi instansi pemerintah dan masyarakat sehingga dapat lebih sensitif dan responsif pada pelaku self injury dilingkungan sekitar.

c. Peneliti selanjutnya yang meneliti tentang topik serupa

Penelitian ini dapat menjadi referensi dan masukan bagi peneliti selanjutnya mengenai kecerdasan emosi pada pelaku self injury. Selain itu, peneliti mengharapkan agar penelitian ini dapat dikembangkn lebih lanjut guna memperoleh penemuan-penemuan baru lainnya.

(13)

A. Kajian Pustaka 1. Kecerdasan Emosi

1.1. Definisi Kecerdasan Emosi

Menurut Goleman (2005) emosi adalah suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan kecerdasan emosi atau EI (emotional intelligence) merupakan merupakan kapasitas seseorang untuk mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, memotivasi diri, dan mengatur dengan baik emosi dalam diri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Patton (dalam Konradus & Harsanti, 2015) menyatakan kecerdasan emosi merupakan dasar-dasar pembentukan emosi yang mencakup keterampilan-keterampilan untuk menunda kepuasan dan mengendalikan impuls-impuls, tetap optimis jika berhadapan dengan ketidakpastian, menyalurkan emosi-emosi yang kuat secara efektif, mampu memotivasi dan menjaga semangat disiplin diri dalam usaha mencapai tujuan-tujuan, menangani kelemahan-kelemahan pribadi, menunjukkan rasa empati kepada orang lain, membangun kesadaran diri dan pemahaman pribadi. Mayer dan Salovey mengatakan bahwa

12

(14)

kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami emosi secara akurat, menilai, dan mengungkapkannya; menggunakan emosi untuk memandu proses berfikir; memahami emosi dan pengetahuan tentang emosi; serta mengelola emosi sehingga menunjang pertumbuhan emosional dan intelektual (Abdillah & Rahmat, 2017).

Cooper & Sawaf (dalam Mangkunegara & Puspitasari, 2015) memberikan definisi kecerdasan emosi sebagai kemampuan merasakan, memahami dansecara efektif merupakan daya dan kepekaanemosional.

Kecerdasan ini berkaitan antara lain dengan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi terhadap diri dan orang lain, memotivasi diri ketika sedang menghadapi kesulitan dan meraih kesuksesan hidup, memiliki empati, kasih sayang, cinta kasih yang tulus, dan mampu berkomunikasi secara santun dengan orang lain dalam hal ini antara lain dengan peserta didik. Menurut Coleman (2009), kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk memonitor emosi diri sendiri dan orang lain dan memberi label dengan tepat, serta menggunakan informasi emosional tersebut untuk memandu pemikiran dan perilaku.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan dan memahami secara emosi yang mencakup kemampuan memotivasi diri sendiri maupun orang lain, pengendalian diri, mampu memahami perasaan orang lain secara

(15)

efektif, dan mampu mengelola emosi sehingga dapat membimbing pikiran untuk mengambil keputusan terbaik.

1.2. Aspek-Aspek Kecerdasan Emosi

Aspek-aspek kecerdasan emosi ada dua, yakni kecakapan pribadi dan kecakapan sosial, antara lain (Goleman, 2005) :

a. Kecakapan pribadi

Merupakan kecakapan yang menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri. Aspek kecakapan pribadi terdiri atas tiga komponen utama, yakni kesadaran diri, pengelolaan diri, dan motivasi.

1) Kesadaran diri

Mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumberdaya, dan intuisi Adapun unsur-unsur kesadaran diri antara lain :

a) Kesadaran emosi : Tahu tentang bagaimana pengaruh emosi terhadap diri kita, dan kemampuan menggunakan nilai-nilai kita untuk memandu pembuatan keputusan. Orang dengan kecakapan ini tahu emosi mana yang sedang mereka rasakan dan mengapa; Menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dengan yang mereka pikirkan, perbuat, dan katakana;

Mengetahui bagaimana perasaan mereka mempengeruhi kinerja; Mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk nilai-nilai dan sasaran-sasaran mereka.

(16)

b) Penilaian diri secara akurat : Perasaan yang tulus tentang kekuatan-kekuatan dan batas-batas pribadi kita, visi yang jelas tentang mana yang perlu diperbaiki, dan kemampuan belajar dari pengalaman. Orang dengan kecakapan ini sadar tentang kekuatan - kekuatan dan kelemahan - kelemahannya;

Menyempatkan diri untuk merenung, belajar dari pengalaman;

Terbuka terhadap umpan balik yang tulus, bersedia menerima perspektif baru, mau terus belajar dan mengembangkan diri sendiri; Mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri dengan perspektif yang luas.

c) Percaya diri : Keberanian yang datang dari kepastian tentang kemampuan, nilai-nilai, dan tujuan kita. Orang dengan kecakapan ini berani tampil dengan keyakinan diri; Berani menyatakan keberadaannya; Berani menyuarakan pandangan yang tidak populer dan bersedia berkorban demi kebenaran;

Tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan tidak pasti dan tertekan.

2) Pengelolaan diri

Mengelola kondisi, impuls, dan sumberdaya diri sendiri Adapun unsur-unsur pengelolaan diri antara lain :

(17)

a) Pengendalian diri : Mengelola emosi dan impuls yang merusak dengan efektif. Orang dengan kecakapan ini mengelola dengan baik perasaan-perasaan impulsif dan emosi-emosi yang menekan mereka; Tetap teguh, tetap positif, dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang paling berat; Berpikir dengan jernih dan tetap terfokus kendati dalam tekanan.

b) Dapat dipercaya : Menunjukkan kejujuran dan integritas.

Orang dengan kecakapan ini bertindak menurut etika dan tidak pernah mempermalukan orang; Membangun kepercayaan lewat keandalan diri dan otentisitas; Mengakui kesalahan dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain; Berpegang kepada prinsip secara teguh bahkan bila akibatnya adalah menjadi tidak disukai.

c) Kehati-hatian : Dapat diandalkan dan bertanggungjawab dalam memenuhi kewajiban. Orang dengan kecakapan ini memenuhi komitmen dan mematuhi janji; Bertanggungjawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan mereka; Terorganisasi dan cermat dalam bekerja.

d) Adaptabilitas : Keluwesan dalam menangani perubahan dan tantangan. Orang dengan kecakapan ini terampil menangani beragamnya kebutuhan, bergesernya prioritas, dan pesatnya perubahan; Siap mengubah tanggapan dan taktik untuk

(18)

menyesuaikan diri dengan keandaan; Luwes dalam memandang situasi.

e) Inovasi : bersikap terbuka terhadap gagasan, pendekatan baru, dan inovasi terkini. Orang dengan kecakapan ini selalu mencari gagasan baru dari sumber; Mendahulukan solusi-solusi yang orisinil dalam pemecahan masalah; Menciptakan gagasan- gagasan baru; Bernai mengubah wawasan dan mengambil risiko akibat pemikiran baru mereka

3) Motivasi

Kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan peraihan sasaran.

Adapun unsur-unsur motivasi antara lain :

a) Dorongan berprestasi : Dorongan untuk meningkatkan atau memenuhi standar keunggulan. Orang dengan kecakapan ini berorientasi kepada hasil, dengan semangat juang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar; Menetapkan sasaran yang menantang dan berani mengambil resiko yang telah diperhitungkan; Mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mengurangi ketidakpastian dan mencari cara yang lebih baik;

Terus belajar untuk meningkatkan kinerja mereka

(19)

b) Komitmen : Setia kepada visi dan sasaran perusahaan atau kelompok. Orang dengan kecakapan ini siap berkorban demi pemenuhan sasaran perusahaan yang lebih penting; Merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar; Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan penjabaran pilihan-pilihan; Aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok.

c) Inisiatif dan optimis : kedua kecakapan kembar yang menggerakkan orang untuk menangkap peluang dan membuat mereka menerima kegagalan dan rintangan sebagai awal keberhasilan. Untuk inisiatif, orang dengan kecakapan ini memiliki sifat memanfaatkan peluang; Mengejar sasaran lebih daripada yang dipersyaratkan atau diharapkan dari mereka;

Berani melanggar batas-batas dan aturan-aturan yang tidak prinsip bila perlu agar tugas dapat dilaksanakan; Mengajak orang lain melakukan sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa petualangan. Untuk optimis : Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan; Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal; Memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan ketimbang sebagai kekurangna pribadi

(20)

b. Kecakapan Sosial

Kecakapan ini menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan. Aspek kecakapan sosial terdiri dari dua komponen utama, yaitu empati dan keterampilan sosial.

1) Empati : Kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.

Adapun unsur-unsur empati antara lain :

a) Memahami orang lain : Mengindra perasaan-perasaan dan perspektif orang lain, serta menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan-kepentingan mereka. Orang dengan kecakapan ini memperhatikan isyarat-isyarat emosi dan mendengarkannya dengan baik; Menunjukkan kepekaan dan pemahaman terhadap perspektif orang lain; Membantu berdasarkan pemahaman terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain

b) Orientasi melayani : Mengantisipasi, mengakui, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Orang dengan kecakapan ini memahami kebutuhan-kebutuhan pelanggan dan menyesuaikan semua itu dengan pelayanan atau produk-produk yang tersedia;

Mencari berbagai cara untuk meningkatkan kepuasan dan kesetiaan pelanggan; Dengan senang hati menawarkan bantuan yang sesuai; Menghayati perspektif pelanggan, bertindak sebagai penasihat yang dapat dipercaya.

(21)

c) Mengembangkan orang lain : Mengindra kebutuhan orang lain untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan mereka.

Orang dengan kecakapan ini mengakui dan menghargai kekuatan, keberhasilan, dan perkembangan orang lain;

Menawarkan umpan balik yang bermanfaat dan mengidentifikasi kebutuhan orang lain untuk berkembangan;

Menjadi mentor, memberikan pelatihan pada waktu yang tepat, dan penugasan-penugasan yang menantang serta memaksakan dikerahkannya keterampilan seseorang

d) Memanfaatkan keragaman : Menumbuhkan kesempatan- kesempatan melalui keragaman pada banyak orang. Orang dengan kecakapan ini. Hormat dan mau bergaul dengan orang- orang dari bermacam-macam latar belakang; Memahami beragamnya pandangan dan peka terhadap perbedaan antar kelompok; Memandang keragaman sebagai peluang, menciptakan lingkungan yang memungkinkan semua orang sama-sama maju kendati berbeda-beda; Berani menantang sikap membeda-bedakan dan intoleransi

e) Kesadaran politik : Membaca kecenderungan politik dan sosial dalam perusahaan. Orang dengan kecakapan ini membaca dengan cermat hubungan kekuasaan yang paling tinggi;

Mengenal dengan baik semua jejaring sosial yang penting;

(22)

Memahami kekuatan-kekuatan yang membentuk pandangan- pandangan serta tindakan-tindakan klien, pelanggan, atau pesaing; Membaca dengan cermat realitas perusahaan maupun realitas luar

2) Keterampulan sosial : Kecerdasan dalam mengunggah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain

Adapun unsur-unsur keterampilan sosial antara lain :

a) Pengaruh : Menerapkan taktik persuasi secara efektif. Orang dengan kecakapan ini terampil dan persuasi; Menyesuaikan presentasi untuk menarik hati pendengar; Menggunakan strategi yang rumit seperti memberi pengaruh tidak langsung untuk membangun consensus dan dukungan; Memadukan dan menyelaraskan peristiwa-peristiwa dramatis agar menghasilkan sesuatu secara efektif

b) Komunikasi : Mengirimkan pesan secara jelas dan meyakinkan Orang dengan kecakapan ini efektif dalam memberi dan menerima, menyertakan isyarat emosi dalam pesan-pesan mereka; Menghadapi masalah-masalah sulit tanpa ditunda;

Mendengarkan dengan baik, berusaha saling memahami, dan bersedia berbagi informasi secara utuh; Menggalakkan

(23)

komunikasi terbuka dan tetap bersedia menerima kabar buruk sebagaimana kabar baik

c) Manajemen konflik : Merundingkan dan menyelesaikan perbedaan pendapat.

Orang dengan kecakapan ini menangani orang-orang sulit dan situasi tegang dengan diplomasi dan taktik; Mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi konflik, menyelesaikan perbedaan pendapat secara terbuka, dan membantu mendinginkan situasi; Menganjurkan debat dan diskusi secara terbuka; Mengatar ke solusi menang-menang

d) Kepemimpinan : Menjadi pemandu dan sumber ilham

Orang dengan kecakapan ini; Mengartikulasikan dan membandingkan semangat untuk meraih visi serta misi bersama; Melangkah di depan untuk memimpin bila diperlukan, tidak peduli sedang di mana; Memandu kinerja orang lain namun tetap memberikan tanggung jawab kepada mereka;

Memimpin lewat teladan

e) Katalisator perubahan : Mengawali, mendorong, atau mengelola perubahan. Orang dengan kecakapan ini; Menyadari perlunya perubahan dan dihilangkannya hambatan; Menantang status quo untuk menyatakan perlunya perubahan; Menjadi pelopor perubahan dan mengajak orang lain ke dalam perjuangan itu;

(24)

Membuat model perubahan seperti yang diharapkan oleh orang lain.

f) Membangun ikatan : Menumbuhkan hubungan instrumental.

Orang dengan kecakapan ini menumbuhkan dan memelihara jaringan tidak formal yang meluas; Mencari hubungan- hubungan yang saling menguntungkan; Membangun hubungan saling percaya dan memlihara keutuhan anggota; Membangun dan memelihara persahabatan pribadi di antara sesame mitra kerja.

g) Kolaborasi dan kooperasi : Bekerjasama dengan orang lain menuju sasaran bersama. Orang dengan kecakapan ini menyeimbangkan pemusatan perhatian kepada tugas dengan perhatian kepada hubungan; Kolaborasi, berbagai rencana informasi, dan sumberdaya; Mempromosikan iklim kerja sama yang bersahabat; Mendeteksi dan menumbuhkan peluang- peluang untuk kolaborasi

h) Kemampuan tim : Menciptakan sinergi dalam kerja sama meraih sasaran kelompok. Orang dengan kecakapan ini menjadi teladan dalam kualitas tim seperti respek, kesediaan membantu orang lain, dan kooperasi; Mendorong setiap anggota tim agar berpartisipasi secara akti dan penuh antusiasme; Membangun identitas tim, semangat kebersamaan, dan komitmen.

(25)

Abdul Ghafar (dalam Yusnida, Erny., Haslinda., Himmah, Z., 2017) mengkategorikan kecerdasan emosi berdasarkan dua aspek utama yaitu intrapersonal dan interpersonal. Aspek intrapersonal mengandungi tiga elemen kecerdasan emosi yaitu kemampuan mengenal emosi diri, kemampuan mengatur emosi diri dan motivasi diri. Sementara konstruk interpersonal mengandung dua elemen kecerdasan emosi yaitu kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain dan mengenal emosi orang lain.

Berdasarkan aspek-aspek kecerdasan emosi tersebut dapat diambil simpulan bahwa aspek-aspek kecerdasan emosi terdiri dari dua, yakni kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Masing-masing aspek terbagi menjadi kesadaran diri, pengelolaan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.

1.3. Tahap-Tahap Kecerdasan Emosi

Pada konsep yang baru, Mayer dan Salovey (Ghufron, 2016) mengemukakan bahwa kecerdasan emosi memiliki empat tahap dan masing-masing tahap memiliki empat kemampuan, antara lain :

Tahap pertama adalah persepsi, penilaian, dan ekpresi emosi.

Empat kemampuan dalam tahap ini adalah pertama mengenal emosi secara fisik, rasa dan fikir, mengenal emosi pada orang lain, desain, serta

(26)

seni, dan lain-lain, melalui bahasa, bunyi, penampilan dan perilaku;

mengungkap emosi secara cepat, membedakan ungkapan rasa antara tepat dan tidak tepat, jujur dan tidak jujur.

Tahap kedua adalah fasilitasi emosi, empat kemampuan dalam tahap ini adalah emosi mampu memberikan prioritas pada fikiran dengan mengarahkan perhatian pada informasi penting, membantu dalam menilai yang berhubungan dengan rasa, mengubah perspektif individu dari pesimis menjadi optimisme, mendorong untuk mempertimbangkan berbagai pandangan.

Tahap ketiga adalah pengertian dan penguraian emosi. Empat kemampuan dalam tahap ini adalah mampu memberikan label emosi dan mengambil hubungan antara berbagai kata : mampu mengartikan hubungan emosi dengan hal lain; mampu mengerti rasa yang komplek, mampu mengarah adanya perpindahan emosi.

Tahap keempat adalah pengarahan reflektif emosi untuk mempromosikan pengembangan emosi dan intelek. Empat kemampuan dalam tahap ini adalah : mampu tetap terbuka terhadap perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan: mampu melibatkan diri atau menarik diri atas dasar pertimbangan dan kegunaan;

mampu memantau emosi secara reflektif dalam hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain; mampu mengelola emosi diri dan orang lain.

(27)

Berdasarkan tahap-tahap kecerdasan emosi tersebut dapat diambil simpulan bahwa tahap-tahap kecerdasan emosi antara lain : persepsi, penilaian, dan ekpresi emosi; fasilitasi emosi; pengertian dan penguraian emosi; dan pengarahan reflektif emosi untuk mempromosikan pengembangan emosi dan intelek.

1.4. Faktor-Faktor Kecerdasan Emosi

Adapun faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kecerdasan emosi yang dimiliki seseorang menurut Prayitno (Ghufron, 2016) adalah:

a. Kondisi neurologis dan mekanisme kerja otak

Bahwa wilayah prefontal otak mengatur reaksi emosi individu sejak awal. Proyeksi terbesar informasi pengindraan berasal dari talamus kemudian menuju ke otak dan pusat-pusatnya untuk diterima dan diberi makna tentang hal-hal yang diserap. Didalam neo-kortek serangkaian tahapan sirkuit mendata dan menganalisis informasi tersebut, memahaminya dan mengatur suatu reaksi melalui lobus frontalis. Apabila dalam proses ini dibutuhkan respon emosional, lobus frontalis akan memerintahkannya. Lobus frontal akan bekerja sama dengan amignala dan sirkuit-sirkuit lain dalam otak emosional, tetapi apabila terjadi pembajakan emosi, urutan mekanisme tersebut tidak berlaku lagi. Pembajakan emosi suatu keadaan dimana ledakan emosi menguasai rasio, pada awalnya dipicu oleh amigdala dan

(28)

kemudian diikuti oleh kegagalan pengaktifan proses neo kartalis, yang lazimnya menjaga keseimbangan respon emosional. Hal ini akan menyebabkan orang yang bersangkutan tidak mampu berfikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat berdasarkan pertimbangan rasionya, sehingga ia akan menunjukkan berbagai tingkah laku maladaptif.

b. Jenis kelamin

Faktor yang lain yang dapat mempengeruhi kecerdasan emosi adalah jenis kelaminnya, Anak perempuan lebih trampil berbahasa dari pada anak laki-laki, maka mereka lebih berpengalaman dalam mengutarakan perasaannya dan lebih cakap dalam memanfaatkan kata- kata untuk menjelajahi dan menggantikan reaksi emosional, seperti perkelahian fisik. Sebaliknya, anak laki-laki yang kemampuan ferbalisasi yang perasaannya ditumpukan sebagian besar tampak kurang peka akan keadaan emosi dirinya sendiri dan orang lain.

c. Temperamen

Setiap manusia memiliki sifat bawaan yang disebut temperamen. Temperamen seorang anak mencerminkan suatu rangkaian emosi bawaan tertentu dalam otaknya, untuk ekpresi emosi sekaligus perilakunya-sekarang dan di masa mendatang. Setiap manusia mempunyai perbedaan dalam jaringan sirkuit emosi yang menyebabkan perbedaan hal seberapa mudahnya emosi dipicu, berapa

(29)

lama berlangsungnya dan seberapa intensinya. Perbedaan ini menentukan apakah seseorang bersifat pemarah, penakut, periang, pemberani atau pemurung.

d. Pola asuh orangtua

Perkembangan emosi individu (sebagaimana aspek-aspek psikis lainnya) juga dipengeruhi oleh beberapa foktor, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah sampai lingkungan masyarakat. Keluarga terutama orangtua memegang peranan yang penting dalam perkembangan kecerdasan emosi anak khususnya.

e. Usia

Efek usia dan jenis kelamin terhadap intensitas emosi menyimpulkan bahwa orang yang lebih muda menunjukkan tingkat rata-rata yang lebih tinggi pada perasaan positif dan negatif. Pada masa remaja akhir individu akan lebih cerdas dalam membuat keputusan, lebih sadar akan bahaya yang timbul, memikirkan akan akibat yang panjang, cenderung untuk memecahkan masalah hati-hati dan dalam membuat keputusan terlebih dahulu mencari informasi yang benar dan mengkaji seluruh alternatif.

f. Teman sebaya

Pada masa remaja individu mulai melepaskan diri dari ikatan keluarga untuk mengembangkan keterlibatannya lebih dekat dengan teman sebayanya. Hal ini cara remaja menemukan identitas diri

(30)

sebagai pribadi dewasa yang berbeda dengan identitas anak-anak.

Tugas-tugas sosial anak dalam persahabatan, antara lain adalah belajar mengelola keinginan diri sendiri dan menysuaikan diri dengan keinginankeinginan teman, belajar mengekspresikan perhatian, mengemukakan keinginan dan perasaan, belajar meminta maaf dan belajar peduli dengan teman.

g. Sekolah

Kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah merupakan sarana pendidikan emosi dan sosial, murid belajar bekerja bersama, mengemukakan pendapat, mengembangkan pendirian, menghargai orang lain, menyelesaikan pertikaian dan bernegoisasi tanpa menimbulkan perpecahan. Selain itu figur guru juga berpengaruh dalam perkembangan ketrampilan pengelolaan emosi anak. Guru menjadi model anak melalui pengamatan anak terhadap cara guru mengajar, cara memperlakukan murid, dan cara menyelesaikan konflik diantara murid.

h. Agama

Agama adalah yang telah menjadi unsur pribadi secara khusus atau otomatis, akan berpengaruh terhadap segala perilaku individu baik dalam berfikir, merasa, bersikap atau bertindak. Harmonisasi yang maksimal antara unsur agama akan menjadi daya kontrol, daya kendali dan daya dorong yang sangat kuat. Agama adalah yang telah

(31)

menjadi unsur pribadi secara khusus atau otomatis, akan berpengaruh terhadap segala perilaku individu baik dalam berfikir, merasa, bersikap atau bertindak. Harmonisasi yang maksimal antara unsur agama akan menjadi daya kontrol, daya kendali dan daya dorong yang sangat kuat.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor kecerdasan emosi adalah kondisi neurologis dan mekanisme kerja otak, jenis kelamin, temperaman, pola asuh orangtua, usia, teman sebaya, sekolah dan agama.

2. Self Injury

2.1. Definisi Self Injury

Secara umum, self Injury bisa didefinisikan sebagai “self poisoning atau self harm, tidak berpikir panjang dengan tujuan yang jelas dalam bertindak” (National Institute for Clinical Excellence (NICE), 2004; dalam Ogden & Bennet, 2015). Nonsuicidal self-injury (NSSI) didefinisikan sebagai dampak kerusakan, rasa sakit, atau keduanya yang disengaja pada jaringan tubuh seseorang tanpa niat bunuh diri (Nock &

Favazza, 2009; dalam Hornor, 2016). Menurut Permatasari & Andayani (2016) Self injury merupakan tindakan menyakiti diri sendiri yang dilakukan untuk mendapatkan rasa sakit atau luka dengan sengaja sebagai ungkapan ekspresi perasaan yang tidak menyenangkan. Luka yang

(32)

ditimbulkan sifatnya minor sampai moderat, sehingga perilaku ini bukan merupakan usaha untuk bunuh diri.

Suyetomo (dalam Muthia & Hidayati, 2016) memaparkan beberapa istilah mengenai self injury yang seringkali digunakan seperti self mutilation atau mutilasi diri, nonsuicidal self injurious behaviors atau NSSI melukai diri tanpa niatan untuk bunuh diri, dan self cutting behavior atau perilaku menyayat diri). Shabrina (dalam Estefan &

Wijaya, 2014) mengatakan self injury merupakan perilaku melukai dirinya sendiri yang dilakukan dengan sengaja seperti menyayat bagian kulit dengan pisau atau silet, memukul diri sendiri, membakar bagian tubuh tertentu, menarik rambut dengan keras, bahkan memotong bagian tubuh tertentu tanpa ada maksud untuk bunuh diri.

The International Society for Study (dalam Whitlock, 2009) mengatakan self injury adalah perilaku melukai diri sendiri dengan disengaja yang mengakibatkan kerusakan langsung pada tubuh, untuk tujuan bukan sanksi sosial dan tanpa maksud bunuh diri. Sementara itu, Claes (dalam Humphreys, Krystal D., Risner, W., Hicks, J. F., & Moyer, M., 2016). Menyatakan bahwa self injury merupakan kesengajaan dalam melukai bagian tubuh tertentu secara langsung tanpa maksud bunuh diri.

Tindakan yang dilakukan dapat berupa perilaku yang sangat luas seperti mencakar, menyayat, memukul, mengukir, menindik, menekan bagian

(33)

tubuh yang memar, mematahkan tulang, dan membakar serta yang lainnya.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa self injury merupakan perilaku melukai dirinya sendiri yang dilakukan dengan sengaja seperti menyayat bagian kulit dengan pisau, silet ataupun benda tajam lainnya, memukul diri sendiri, membakar bagian tubuh tertentu, menarik rambut dengan keras, bahkan memotong bagian tubuh tertentu tanpa ada maksud untuk bunuh diri.

2.2. Tipe-Tipe Self Injury

Strong (dalam Caperton, 2004) membedakan perilaku self injury menjadi tiga jenis, yaitu:

a) Major self mutilation

Major self mutilation yaitu tindakan yang secara signifikan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki seperti semula pada organ-organ besar tubuh misalnya saja memotong tungkai atau mencungkil mata. Jenis self injury ini biasanya dilakukan oleh individu yang menderita psikosis.

b) Stereotypic self injury

Stereotypic self injury merupakan bentuk self injury yang lebih ringan namun sifatnya lebih berulang. Self injury tipe ini biasanya

(34)

meliputi perilaku berulang seperti membenturkan kepala pada lantai.

Individu yang melakukannya biasanya memiliki kelainan saraf seperti autisme atau sindroma Tourette.

c) Moderate/Superficial Self-mutilation

Tipe self injury yang ketiga ini merupakan tipe self injury yang paling banyak dilakukan. Moderate/superficial self mutilation sendiri masih memiliki tiga buah subtipe yaitu episodik, repetitif, dan kompulsif. Tipe kompulsif secara mendasar memiliki kesamaan dengan gangguan psikologis seperti gangguan obsesif-kompulsif. Tipe ini biasanya lebih kurang disadari oleh pelakunya dan biasanya bukan dilakukan untuk mencapai pelepasan namun lebih sebagai kompulsi.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tipe- tipe self injury antara lain, tindakan yang menyebabkan kerusakan atau cedera yang parah, tindakan ringan yang berulang-ulang, dan tipe yang banyak dilakukan yang bersifat episodik, repetitif, dan kompulsif.

2.3. Bentuk-Bentuk Self Injury

Menurut Greydanus, dkk. (2009) bentuk-bentuk self injury antara lain: (a) overdosis obat-obatan, (b) meracuni diri, (c) menyayat diri sendiri, (d) berbagai bentuk mutilasi diri (memukuli bagian tubuhnya sendiri; mencubit bagian tubuhnya sendiri; mencakar bagian tubuhnya sendiri; menggigit bagian tubuhnya; membakar bagian tubuhnya sendiri),

(35)

(e) menembak bagian tubuhnya, (f) menggantung diri sendiri, (g) terjun bebas dari tempat tinggi, dan (h) terjun ke dalam sumur.

Perilaku self-injury adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang yang dapat menimbulkan bahaya atau cedera bagi dirinya sendiri. Bentuk - bentuk perilaku self-injury ini dapat berupa kegiatan membenturkan kepala di dinding, lantai atau permukaan lain; Menggigit diri sendiri; Mencubit diri sendiri; Menarik rambut; Menampar wajah atau memukul kepala sendiri (Latifiana, 2016). Bentuk umum NSSI termasuk menyayat diri sendiri, mengukir kulit, menggigit diri sendiri, mencakar diri sendiri, memukul diri sendiri, membenturkan kepala, dan mengganggu penyembuhan luka (Rodav, dkk., 2014).

Menurut Whitlock (2009) istilah self injury mengacu pada perilaku yang sangat luas yang menghasilkan kerusakan pada bagian dalam maupun luar tubuh. Bentuk yang paling umum, antara lain :

- Meggores atau mencubit dengan kuat pada bagian luka atau bekas luka pada kulit

- Menyayat (cutting), mengoyak, atau mengukir kata-kata pada pergelangan tangan, lengan, kaki, batang tubuh, atau bagian lainnya.

- Menghantamkan atau memukul objek ataupun diri sendiri pada memar ataupun bagian yang berdarah (dengan kesadaran untuk melukai diri sendiri)

- Mengigit pada bagian yang berdarah atau bekas luka di kulit

(36)

- Mencabut rambut, alis, atau bulu mata dengan tujuan untuk melukai diri sendiri

- Menghambat penyembuhan luka dengan sengaja - Membakar kulit

- Menanamkan objek tertentu pada bagian kulit dengan maksud melukai diri.

Penjabaran tersebut merupakan bentuk yang umum dilakukan.

Perlu dipahami bahwa meskipun “cutting” merupakan bentuk yang paling dikenal, beberapa penelitian menyatakan bahwa cutting bukanlah bentuk yang paling sering dilakukan diantara para remaja dan dewasa awal (Whitlock, 2009).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bentuk self injury antara lain, menyayat diri, meracuni diri, memutilasi diri sendiri, membakar kulitnya sendiri, menghambat atau mengganggu penyembuhan luka, mencabut rambut tubuhnya sendiri, menggigit dan memukul diri sendiri, serta menghantam kepala ke dinding.

2.4. Faktor-Faktor Penyebab Self Injury

Ada banyak faktor yang menjadi latar belakang seseorang melakukan self injury. Nock (2008) mengemukakan beberapa alasan utama seseorang melakukan self injury yaitu:

a) Regulasi emosi

(37)

Paling umum dilakukan adalah untuk mengurangi ataupun menghindari dorongan perasaan negatif yang ekstrim dan rangsangan kebencian;

b) Komunikasi sosial

Untuk mendapatkan perhatian dan mempengaruhi perilaku orang lain terhadap mereka. Individu yang melakukan self injury memiliki reaktifitas fisiologis yang kuat, daya tahan yang lemah dalam menghadapi distres, serta kemampuan pemecahan masalah yang rendah dibandingkan dengan orang yang tidak terlibat dalam self- injury.

Martinson (dalam Apriliawati, 2017) menyebutkan faktor penyebab dilakukannya self injury antara lain:

a) Faktor Keluarga

Pelaku self injury dalam perspektif ini disebabkan karena kurangnya peran model pada masa kecil dalam mengekspresikan emosi serta kurangnya komunikasi antar anggota keluarga.

b) Faktor Pengaruh Biokimia

Pelaku self injury memiliki masalah yang spesifik dalam sistem serotogenik otak yang menyebabkan meningkatnya impulsifitas dan agresifitas.

c) Faktor Psikologis

(38)

Pelaku self injury merasakan adanya kekuatan emosi yang tidak nyaman dan tidak mampu untuk mengatasinya.

d) Faktor kepribadian

Tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan self injury lebih besar dibandingkan tipe kepribadian ekstrovert saat sedang menghadapi masalah. Pola perilaku self injury sangat bergantung pada mood seseorang. Selain itu adanya harga diri yang rendah, pola pemikiran yang kaku dan sulitnya mengkomunikasikan perasaan menjadi faktor penunjang bagi seseorang untuk melakukan self injury.

Linehan (dalam Apriliawati, 2017) mengatakan bahwa faktor penyebab self injury adalah faktor keluarga dan lingkungan pergaulan yang tidak sehat dimana pelaku tinggal, antara lain: (a) tumbuh didalam keluarga yang broken home, (b) kurang kasih sayang dan kurang perhatian, (c) memiliki pengalaman kekerasan dalam keluarga, (d) komunikasi yang kurang baik di dalam keluarga, (e) tidak ditanggapi dengan baik ketika mengekspreskan pengalaman pribadi dan sering dihukum atau diremehkan, dan (f) ketika sedang mengekspresikan perasaan yang menyakitkan malah ditanggapi dengan acuh tak acuh.

Self-Injury berfungsi secara berbeda-beda dan dilakukan dengan berbagai alasan, termasuk keinginan untuk mengubah

(39)

keadaan dalam diri dan membuang emosi negatif (marah, stress), kognisi (ide bunuh diri, ingatan traumatis), kondisi yang mempengaruhi (disosiasi), dengan maksud untuk menghukum diri dan menyediakan kontrol untuk perasaan internal. Sebagai tambahan, self injury dilakukan sebagai pencarian dukungan, mengkomunikasikan distress, dengan tujuan affiliasi (sama atau terikat dengan orang lain) dan penghindaran (Rodav, dkk., 2014).

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan self injury adalah secara interal disebabkan oleh stress, rasa malu, tertekan, kerusakan biologis dalam otak. Selain itu faktor eksternal seperti lingkungan juga berperan saat individu melakukan self injury, lingkungan yang tidak baik, serta kurangnya dukungan saat individu mengalami masalah akan menyebabkan terjadinya perilaku self injury.

2.5. Karakteristik Pelaku Self Injury

Menurut Eliana (Estefan & Wijaya, 2014) para pelaku self injury memiliki karakteristik sebagai berikut:

a) Berdasarkan kepribadian pelaku:

1) Kesulitan mengendalikan impuls di berbagai area, yang terlihat dalam masalah gangguan makan atau adiksi terhadap zat adiktif.

(40)

2) Para pelaku self injury cenderung memiliki self esteem yang rendah dan kebutuhan atau dorongan yang kuat untuk mendapatkan cinta dan penerimaan orang lain.

3) Pola pemikiran yang kaku, cara berpikir yang harus mencapai suatu tujuan atau tidak sama sekali.

b) Berdasarkan lingkungan keluarga pelaku:

a) Masa kecil penuh trauma atau kurangnya sosok salah satu atau kedua orangtua, menimbulkan kesulitan - kesulitan menginternalisasikan perhatian positif.

b) Ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk mengurus diri sendiri dengan baik.

c) Berdasarkan lingkungan sosial pelaku:

1) Kurangnya kemampuan untuk membentuk dan menjaga hubungan yang stabil.

2) Takut akan perubahan, baik perubahan dalam kegiatan sehari-hari maupun pengalaman baru dalam bentuk apapun (orang-orang, tempat peristiwa), dapat juga perubahan perilaku mereka, atau perubahan yang mungkin diperlukan untuk pulih.

Berasarkan uraian diatas diambil simpulan bahwa karakteristik kecerdasan emosi antara lain, kepribadian dengan

(41)

self esteem yang rendah dan pola pikir yang kaku, masa kecil penuh trauma dan ketidakmampuan maupun ketidakmauan mengurus diri sendiri, serta hubungan sosial yang kurang stabil serta takut pada perubahan.

2.6. Siklus Self Injury

Menurut Humphreys (2016) siklus self injury mengacu pada proses yang dilakukan dari satu episode melukai diri hingga episode lain.

Siklusnya berupa : 1) Pikiran negatif 2) Membangun tekanan 3) Dorongan untuk bertindak 4) Tindakan

5) Perasaan lega 6) Perasaan malu

Memahami siklus tersebut diharapkan dapat membantu profesional kesehatan mental dalam memahami self injury ketika berhadapan dengan klien sehingga dapat menemukan strategi coping alternatif. Self injury umumnya dideskripsikan sebagai sebuah teknik coping atau suatu cara untuk meregulasi emosi. Oleh sebab itu, siklus pertama hingga ketiga merupakan pembangunan emosi. Tipe pikiran negatif, durasi dalam pembangunan tekanan yang ditampakan, dan kondisi ambang antara

(42)

dorongan untuk bertindak dan tindakan itu sendiri begitu bervariasi untuk setiap individu. Bagaimanapun, kebanyakan literatur seputar self injury mengindikasikan bahwa tekanan dan pikiran negatif mungkin berkaitan dengan konfllik dengan keluarga dan teman sebaya, membenci diri sendiri, pengalaman kekerasan fisik dan seksual, ataupun situasi lain yang mendukung tindakan tersebut (Humphreys, 2016).

Siklus keempat merupakan tindakan untuk melukai diri sendiri, seperti kebanyakan teknik coping, terdapat perasaan lega dengan berbagai macam durasi dan intensitas tergantung tindakan yang dilakukan. Meskipun begitu, terdapat kondisi yang membedakan dengan teknik coping yang lain, yakni self injury menghasilkan perasaan malu akibat adanya stigma yang lekat dengan perilaku self injury. Para remaja pelaku self injury memahami stigma tersebut dan setelah melukai diri, mereka akan berpikiran negatif mengenai kemampuan dalam mengendalikan luka mereka yang nantinya akan kembali pada siklus tersebut (Humphreys, 2016).

Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa siklus self injury antara lain, pembangunan emosi (pikiran negative, membangun tekanan, dan dorongan untuk bertindak), tindakan, perasaan lega, dan perasaan malu.

(43)

2.7. Dampak Self Injury

Self Injury memiliki dampak negatif berupa bekas luka (birat) dan infeksi, rasa bersalah, rasa malu, dan kemungkinan penolakan dari orang tua dan teman sebaya (Wilkinson & Goodyer, 2011; dalam Silva, dkk., 2017). Selain itu, Self Injury diasosiasikan dengan gangguan psikologis berat, seperti depresi, kecemasan, kepribadian borderline, penggunaan obat, dan gangguan makan serta meningkatkan resiko percobaan bunuh diri (Klonsky & Olino, 2008; dalam Silva, 2017).

Penelitian oleh (Glenn & Klosky, 2009; dalam Permatasari &

Andayani, 2016) menunjukkan sekali seseorang terlibat dalam self injury, besar kemungkinan ia akan mengulangi perilakunya tersebut, bahkan dengan intensitas yang semakin meningkat setiap waktunya. Oleh karena itu perlu penanganan tepat untuk mencegah resiko yang lebih besar, misalnya self injury yang mengarah pada rencana ataupun usaha bunuh diri. Sekalipun berbeda dengan kecenderungan ataupun usaha bunuh diri, namun beberapa penelitian menujukkan hubungan yang erat antara self injury berulang dengan resiko bunuh diri, dan self injury yang memiliki tingkat keparahan sedang ke atas dengan resiko bunuh diri (Lloyd- Richardson, dkk., 2007; dalam Permatasari & Andasari, 2016).

Berasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa dampak dari tindakan self injury bekas luka (birat) dan infeksi, rasa bersalah, rasa

(44)

malu, dan kemungkinan penolakan dari orang tua dan teman sebaya meningkatkan resiko percobaan bunuh diri.

B. Perspektif Teori

Penelitian ini menggunakan teori yang dikemukanakan oleh Daniel Goleman (2005) sebagai operasional dilapangan nantinya untuk mengetahui kecerdasan emosi pada pelaku self injury. Menurut Goleman (2005) kecerdasan emosi atau EI (emotional intelligence) merupakan merupakan kapasitas seseorang untuk mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, memotivasi diri, dan mengatur dengan baik emosi dalam diri dan dalam hubungan dengan orang lain. Selain itu aspek-aspek kecerdasan emosi, antara lain (Goleman, 2005) : kecakapan pribadi dan kecakapan sosial.

Kecakapan pribadi merupakan kecakapan yang menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri, terdiri atas tiga komponen yaitu 1) kesadaran diri, 2) pengelolaan diri, dan 3) motivasi. Kesadaran diri berarti mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumberdaya, dan intuisi. Pengelolaan diri : Mengelola kondisi, impuls, dan sumberdaya diri sendiri. Motivasi, yakni kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan peraihan sasaran.

Kecakapan Sosial, kecakapan ini menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan. Terdiri atas dua komponen, yaitu 1) empati

(45)

dan 2) keterampilan sosial. Empati : Kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Keterampulan sosial : Kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain.

Nonsuicidal self-injury (NSSI) didefinisikan sebagai dampak kerusakan, rasa sakit, atau keduanya yang disengaja pada jaringan tubuh seseorang tanpa niat bunuh diri (Nock & Favazza, 2009; dalam Hornor, 2016). Menurut Whitlock (2009) istilah self injury mengacu pada perilaku yang sangat luas yang menghasilkan kerusakan pada bagian dalam maupun luar tubuh. Bentuk yang paling umum, antara lain : Meggores atau mencubit dengan kuat pada bagian luka atau bekas luka pada kulit; Menyayat, mengoyak, atau mengukir kata-kata pada pergelangan tangan, lengan, kaki, batang tubuh, atau bagian lainnya;

Menghantamkan atau memukul objek ataupun diri sendiri pada memar ataupun bagian yang berdarah (dengan kesadaran untuk melukai diri sendiri); Mengigit pada bagian yang berdarah atau bekas luka di kulit;

Mencabut rambut, alis, atau bulu mata dengan tujuan untuk melukai diri sendiri; Menghambat penyembuhan luka dengan sengaja; Membakar kulit; dan Menanamkan objek tertentu pada bagian kulit dengan maksud melukai diri.

Nock (2008) mengemukakan dua faktor utama seseorang melakukan self injury yaitu: 1) regulasi emosi : paling umum dilakukan adalah untuk mengurangi ataupun menghindari dorongan perasaan negatif

(46)

yang ekstrim dan rangsangan kebencian; 2) komunikasi sosial : untuk mendapatkan perhatian dan mempengaruhi perilaku orang lain terhadap mereka. Menurut Humphreys (2016) siklus self injury mengacu pada proses yang dilakukan dari satu episode melukai diri hingga episode lain.

Siklusnya berupa : 1) Pikiran negatif; 2) Membangun tekanan; 3) Dorongan untuk bertindak; 4) Tindakan; 5) Perasaan lega; 6) Perasaan malu. Self Injury memiliki dampak negatif berupa bekas luka (birat) dan infeksi, rasa bersalah, rasa malu, dan kemungkinan penolakan dari orang tua dan teman sebaya (Wilkinson & Goodyer, 2011; dalam Silva, dkk., 2017). Selain itu, Self Injury diasosiasikan dengan gangguan psikologis berat, seperti depresi, kecemasan, kepribadian borderline, penggunaan obat, dan gangguan makan serta meningkatkan resiko percobaan bunuh diri (Klonsky & Olino, 2008; dalam Silva, 2017).

(47)

Bagan Konsep Teoritis

Pelaku Self Injury

Faktor-Faktor

Self Injury Aspek-Aspek

Kecerdasan Emosi

 Regulasi Emosi

Komunikasi Sosial Kecakapan

Sosial Kecakapan

Pribadi

 Empati

 Keterampilan Sosial

 Kesadaran Diri

 Pengelolaan Diri

 Motivasi

(48)

Gambar 1.1 skema gambaran konseptual kecerdasan emosi pada pelaku self injury.

Deskripsi Bagan :

Self injury merupakan tindakan yang dilakukan dengan cara melukai diri dengan sengaja tanpa inisiatif bunuh diri. Faktor-faktor penyebab self injury antara lain : 1) regulasi emosi : paling umum dilakukan adalah untuk mengurangi ataupun menghindari dorongan perasaan negatif yang ekstrim dan rangsangan kebencian; 2) komunikasi sosial : untuk mendapatkan perhatian dan mempengaruhi perilaku orang lain terhadap mereka. Seseorang yang melakukan self injury akan ditinjau dari aspek kecerdasan emosi. Ada 2 aspek kecerdasan emosi, yakni kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kecakapan pribadi terbagi menjadi kesadaran diri, pengelolaan diri, dan motivasi. Kesadaran diri : mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumberdaya, dan intuisi. Pengelolaan diri : Mengelola kondisi, impuls, dan sumberdaya diri sendiri. Motivasi, yakni kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan peraihan sasaran. Kecakapan Sosial, kecakapan ini menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan. Terdiri atas dua komponen, yaitu 1)

Perilaku Self Injury

(49)

empati dan 2) keterampilan sosial. Empati : Kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Keterampulan sosial : Kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. Setiap faktor dan aspek tersebut dapat menggambarkan perilaku self injury

(50)

A. Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Strauss dan Corbin mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistika atau bentuk hitungan lainnya. Penelitian kualitatif mencari jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu keputusan diambil oleh subyek, bukan sekedar apa, dimana, dan bilamana saja. Peneliti bertujuan untuk merangkum secara mendalam perilaku subyek dan alasan-alasan yang mendasari perilaku tersebut. Karena itu, penelitian kualitatif lebih mengutamakan jumlah subyek yang sedikit namun terfokus daripada sekedar jumlah subyek yang banyak (Sastroasmoro, 2014).

Penelitian kualitatif merupakan prosedur studi yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Definisi lain menyatakan bahwa penelitian kualitatif mengkaji kualitas hubungan, kegiatan, situasi, atau material disebut penelitian kualitatif, dengan penekanan yang kuat pada deskripsi yang menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi pada suatu kegiatan atau stiuasi tertentu (Sastroasmoro, dkk., 2014). Metode penelitian kualitatif adalah adalah prosedur sistematik (metode) yang disepakati oleh suatu komunitas ilmiah

12

(51)

untuk mengungkap suatu makna subjektif (search for meaning) partisipan penelitian tentang suatu gejala yang menjadi objek kajian penelitian bidang ilmu (Hanurawan 2016).

Penelitian studi kasus adalah jenis penelitian kualitatif yang menggunakan beragam metode dan beragam sumber data untuk menjelaskan secara rinci dan mendalam tentang suatu unit analisis. Contoh unit analisis ini adalah individu atau seseorang, sekolah, kelompok, atau organisasi. Ini berarti dalam penelitian studi kasus, pendekatan metodologi (alat pengumpulan data) adalah bersifat elektik. Sifat elektik ini berarti penggunaan berbagai alat pengumpul data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam hal ini peneliti memillih lebih dari satu alat pengumpulan data yang dipandang mampu mengungkap secara mendalam suatu kasus yang diteliti. Goodwin (2010; dalam Hanurawan 2016) mengemukakan bahwa penelitian model studi kasus banyak dilakukan dalam bidang psikologi klinis. Penelitian studi kasus dalam kasus- kasus klinis dimanfaatkan untuk mendeskripsikan keadaan individu yang mengalami suatu gangguan kejiwaan khusus dan faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan tersebut. Deskripsi studi kasus terhadap keadaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut akan sangat membantu perlakuan- perlakuan yang mungkin dapat diberikan agar dapat membantu individu untuk mengalami keadaan kesehatan mental yang normal (Hanurawan 2016).

Model studi kasus merupakan proses analisis secara mendalam terhadap suatu objek penelitian yang unit analisisnya bersifat individual. Sebagai suatu

(52)

jenis penelitian yang bersifat ideografis, penelitian studi kasus menekankan unit analisisnya pada aspek-aspek yang bersifat khusus dan yang bersifat individual.

Dalam penelitian psikologi, penelitian studi kasus tidak memiliki tujuan untuk membuat generalisasi. Contoh penelitian studi kasus dalam bidang psikologi adalah penelitin studi kasus tentang sejarah kesehatan mental yang dialami oleh penderita depresi karena ditinggal mati pasangan hidupnya (Hanurawan, 2016).

B. Unit Analisis

Unit analisis pada umumnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti. Unit analisis menguraikan tentang pengertian konseptual dari topik penelitian dengan mengacu pada perspektif teoritis penelitian yang dipilih oleh peneliti. Selain itu, peneliti juga harus menjelaskan secara konseptual kategorisasi subjek penelitiannya. Menurut Spradley (dalam Sugiyono, 2016), unit analisis dalam penelitian meliputi tiga komponen, yaitu (1) Place, tempat dimana interaksi dalam penelitian berlangsung; (2) Actor, pelaku atau orang yang sesuai dengan objek penelitian tersebut; dan (3) Activitiy, kegiatan yang dilakukan actor dalam situasi sosial yang sedang berlangsung.

Topik penelitian dari penelitian ini adalah “Kecerdasan emosi pada pelaku self injury”, maka unit analisis dari penelitian ini, yaitu : (1) tempat, yaitu tempat

(53)

penelitian dilakukan di Kota Banjarbaru dan sekitarnya. (2) aktor, yaitu orang yang melakukan self injury. (3) aktifitas, yaitu perilaku sehari-hari yang menggambarkan kecerasan emosi sebagai pelaku self injury sesuai dengan aspek- aspek kecerdasan emosi.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian merupakan sumber utama data penelitian, yaitu yang memliki data mengenai variable-variabel yang diteliti. Subjek penelitian adalah obyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016).

Pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif biasanya menggunakan purposive sampling dengan berbagai pendekatan yang paling representatif untuk penelitian kualitatif. Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan 2 orang subjek dengan kriteria sebagai berikut:

1. Individu yang sedang aktif melakukan tindakan self injury 2. Rentang usia remaja awal hingga dewasa akhir

(54)

D. Teknik Pengalian Data

Teknik penggalian data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan wawancara. Teknik wawancara dalam penelitian ini adalah yang utama sedangkan teknik observasi merupakan pelengkap dalam pengumpulan data penelitian.

1. Observasi

Nasution (dalam Sugiyono, 2016) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang sangat jauh (benda ruang angkasa) dapat diobservasi dengan jelas. Marshal (dalam Sugiyono, 2016) menyatakan bahwa, “melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.”

Sanafiah Faisal (dalam Sugiyono, 2016) mengklarifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi (participant observation), observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt observation dan covert observation), dan observasi yang tak berstruktur (unstructured observation).

Jenis observasi yang digunakan oleh peneliti ialah observasi secara terang-

Gambar

Gambar 1.1 skema gambaran konseptual kecerdasan emosi pada pelaku self  injury.
Tabel 2. Interpretasi Skor Deppression Anxiety Stress Scale (DASS)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran kepada orang tua tentang pengaruh karakteristik keluarga, karakteristik individu, kecerdasan kognitif, dan

Kecerdasan emosi yang memiliki peranan penting dalam mengendalikan agresivitas dikarenakan individu yang memiliki kecerdasan emosi yang matang akan belajar untuk

Kecerdasan emosi sebagai faktor yang menentukan pemaha - man individu terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain akan mempengaruhi per - ilaku individu dalam

Kecerdasan emosi yang memiliki peranan penting dalam mengendalikan agresivitas dikarenakan individu yang memiliki kecerdasan emosi yang matang akan belajar untuk

Dengan demikian, berarti semakin tinggi self regulated learning maupun kecerdasan emosi yang dimiliki seseorang tidak berhubungan secara signifikan dengan konsentrasi belajar

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa kecerdasan emosi merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap stres kerja yang dialami perawat tersebut, yaitu

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik individu yang melakukan self injury adalah individu memiliki self esteem yang rendah, memiliki pola

Berdasarkan hasil data, diketahui bahwa dari dua variabel yaitu kecerdasan emosi dan self- esteem, salah satu variabel tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap psychological