Definisi ini menunjukkan bahwa fakta terpenting dan hakikat kegiatan Humas adalah “saling akomodasi” atau gotong royong. Humas merupakan penyelenggara komunikasi timbal balik antara suatu lembaga dengan masyarakat, yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya lembaga tersebut. Bernays dalam bukunya “Public Relations” menyatakan bahwa salah satu pengertian Public Relations adalah “Informasi yang diberikan kepada publik”; Informasi yang diberikan kepada masyarakat.
Apalagi menurut Effendy, fungsi Humas didasarkan pada ciri-ciri dan penegasan kegiatan Humas yang dikemukakan oleh Scoutt M. Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa hakikat Humas adalah bagaimana membina hubungan baik dengan masyarakat. publik. , untuk mendapatkan pemahaman dan dukungan bagi perusahaan. Oleh karena itu Public Relations harus menciptakan kelancaran hubungan antara perusahaan dan masyarakat, atau dengan kata lain menjadi saluran komunikasi yang efektif antara kedua pihak.
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus utama adalah pada fungsi Public Relations dalam menjaga hubungan dengan investor sebagai audiens internal perusahaan. Tanggung jawab Humas adalah memastikan investor selalu mengetahui keberadaan dan kinerja perusahaan di tengah persaingan yang dihadapi. Perusahaan yang mengelola dana investor harus menyelenggarakan suatu bentuk hubungan masyarakat khusus dengan komunitas investasi atau keuangan.
Cutlip, Center & Broom dalam buku Effective Public Relations menyampaikan pengertian investor Relations, yaitu : Investor Relations adalah bagian khusus dari kehumasan perusahaan yang menciptakan dan memelihara hubungan yang saling menguntungkan (menguntungkan) dengan pemegang saham dan investor lainnya dalam rangka meningkatkan nilai pasar.
Program Komunikasi Harian dalam Investor Relations serta Fungsinya dalam Mengimplementasikan Prinsip Good Corporate Governance
Hubungan Investor berada di garis depan dalam memastikan hubungan baik antara perusahaan dan investor individu. Fungsi investor Relations yang optimal dalam membina hubungan baik dengan investor akan memberikan dampak positif bagi perusahaan, misalnya dengan menciptakan dan menjaga kepercayaan investor dalam berinvestasi pada perusahaan. Good Corporate Governance dapat diartikan sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham (investor), direktur perusahaan, kreditur, pemerintah, karyawan dan pemangku kepentingan internal dan eksternal lainnya dengan memperhatikan hak dan kewajibannya, atau dengan kata lain: suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.
Latar belakang penerapan Corporate Governance adalah perusahaan semakin bergantung pada modal eksternal untuk membiayai aktivitasnya. Sistem Tata Kelola Perusahaan yang baik memberikan perlindungan yang efektif kepada pemegang saham dan investor sehingga mereka dapat yakin bahwa investasinya akan dikembalikan secara wajar dan adil. Oleh karena itu, seorang Humas dalam menjalankan fungsi hubungan investor bertugas melakukan komunikasi persuasif dan informatif, yang dapat dilakukan baik secara tatap muka maupun melalui telepon, surat elektronik (email) atau surat.
Jika kita melihat kembali tujuan dari hubungan investor yaitu untuk menjaga komunikasi yang positif antara perusahaan dengan investor, maka dapat kita simpulkan bahwa pelaksanaan komunikasi dengan investor harus didasarkan pada prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kualitas pelaksanaan hubungan investor dapat dilihat dari apakah suatu perusahaan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik atau tidak. Perlakuan yang sama terhadap investor (pemegang saham), khususnya pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi penting dan larangan sosialisasi kepada perorangan dan insider trading.
Di negara-negara Asia, penerapan tata kelola perusahaan merupakan bagian penting dari reformasi ekonomi yang penting untuk mengatasi krisis ekonomi. Hong Kong, Thailand dan Malaysia telah membentuk komite tata kelola perusahaan nasional dan di negara-negara tersebut pedoman ini bersifat memberikan nasihat dan bukan memaksa. Ada dua hal mendasar yang menyebabkan perlunya diterapkannya prinsip-prinsip Good Corporate Governance di Indonesia, yaitu.
Ada tuntutan langsung dari lembaga donor agar perusahaan-perusahaan di Indonesia menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Hak investor untuk dilindungi berdasarkan prinsip tata kelola perusahaan yang ditetapkan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada bulan April 1998, yaitu. Investor (pemegang saham) mempunyai hak untuk berpartisipasi, memperoleh informasi yang cukup dan mengambil keputusan mengenai perubahan mendasar dalam perusahaan, seperti: 1) izin penambahan saham 2) transaksi luar biasa yang mempengaruhi hasil penjualan perusahaan.
Investor (pemegang saham) harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dan memberikan suara secara efektif dalam ABS dan harus diberitahu tentang aturan yang berlaku. Gemilang Sarana Abadi sebagai perusahaan yang mengandalkan keberlangsungan perusahaannya berbasis dana investasi masyarakat menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dalam kaitannya dengan hubungan investor.
Penerapan Expectancy-Violation Theory sebagai Dasar Penelitian .1 Tinjauan tentang teori Expectancy-Violation
Jika seseorang berdiri terlalu dekat dengan kita atau tidak terlalu jauh, atau kontak mata orang lain tidak normal, atau jika seseorang melanggar ekspektasi kita atau dengan kata lain membuat ekspektasi kita tidak terpenuhi, maka perasaan kita akan berbeda. Dalam beberapa kasus, hal ini menghasilkan putusan yang menguntungkan, terutama jika pelanggaran tersebut dimaksudkan untuk menyatakan rasa suka atau minat. Ketika ekspektasi terpenuhi, maka perilaku tersebut akan luput dari kesadaran atau perhatian kita, namun bila ekspektasi kita tidak terpenuhi, atau dengan kata lain dilanggar, maka cenderung menggugah atau menggelitik rasa ingin tahu kita.
Sebagai acuan dalam menafsirkan objek tersebut, individu menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dalam menghadapi objek tersebut. Gemilang Sarana Abadi mempunyai harapan terhadap kegiatan hubungan investor berdasarkan persepsinya terhadap suatu lembaga investasi keuangan, yang dalam hal ini diwujudkan dalam kegiatan komunikasi sehari-hari yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam aspek tata kelola perusahaan yang baik sebagai landasan setiap investor. . aktivitas hubungan.berikut. Akuntabilitas yaitu pertanggungjawaban agar perusahaan mempunyai kemampuan mengantisipasi pertanyaan investor mengenai berbagai kebijakan yang telah diterapkan perusahaan terkait dana yang dipercayakan investor kepada perusahaan.
Dalam penelitian ini aspek akuntabilitas terlihat dari: kecepatan penyediaan informasi yang dibutuhkan investor, kemampuan humas dalam menjawab pertanyaan investor, serta tersedianya laporan keuangan yang dapat dipercaya mengenai pengelolaan dana investor oleh perusahaan. disediakan oleh humas. Predictability, kemampuan memprediksi prospek usaha di masa depan secara akurat dan rasional, yang dikaitkan dengan kebijakan usaha yang efisien, efektif, dan teknis perkembangan usaha sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan usaha yang berlaku. Dalam penelitian ini aspek prediktabilitas terlihat dari: adanya jaminan hukum yang melindungi hak-hak investor, kemampuan humas dalam memprediksi prospek usaha secara akurat, kemampuan humas dalam memberikan informasi secara rasional, kemampuan humas untuk memberikan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan dan penyediaan informasi tepat waktu.
Transparansi, tersedianya informasi yang andal, terbuka, relevan, dan mudah dipahami sehingga mudah diperoleh investor. Dalam penelitian ini aspek transparansi dilihat dari: tersedianya informasi yang dapat dipercaya, terbukanya saluran informasi, kemudahan memperoleh informasi, kelengkapan informasi yang disampaikan dan kejelasan informasi (informasi yang mudah dipahami). Dalam penelitian ini aspek partisipasi dapat dilihat dari: kemungkinan investor untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
Apabila komunikasi yang dilakukan mempunyai feedback dan perilaku dalam program komunikasi sehari-hari berkonotasi positif maka hal tersebut dapat dikatakan positif. Di sini pelanggaran menimbulkan kegaduhan yang pada akhirnya menekankan pada evaluasi komunikasi dengan orang lain dan makna pesan. Apabila perubahan dievaluasi dan perilaku mempunyai makna yang positif, maka akan dihasilkan pula keluaran berupa sikap yang positif.
Sikap
Louis Thurstone (1928), Rensis Likert (1932) dan Charles Osgood (dalam Azwar, 1998: 5) mendefinisikan “sikap sebagai suatu bentuk evaluasi atau tanggapan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan terhadap objek” (Azwar, 1998: 5). Sedangkan menurut Martin Fishbein, “sikap adalah kecenderungan untuk mengungkapkan tanggapan yang menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral terhadap suatu objek atau sekelompok objek” (Malik dan Irianta, 1994:37). Definisi lain tentang sikap dikemukakan oleh Chave (1928), Bogardus (1931), La Pierre (1934) dan Gordon Allport (1935), yaitu bahwa ‘sikap adalah suatu jenis kesiapan untuk memberikan tanggapan dengan cara tertentu terhadap suatu objek.
Mann (Azwar, 2003:24) menjelaskan bahwa “komponen kognitif memuat persepsi, keyakinan dan stereotipe yang dimiliki individu terhadap sesuatu”. Ketika keyakinan ini terbentuk maka akan menjadi dasar apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu. Komponen kognitif berisi keyakinan seseorang mengenai apa yang berlaku dan apa yang benar terhadap objek sikap.
Keyakinan timbul dari apa yang dilihat seseorang, kemudian terbentuklah suatu gagasan tentang sifat umum atau ciri-ciri suatu benda. Begitu suatu keyakinan terbentuk, maka keyakinan tersebut akan menjadi dasar pengetahuan seseorang tentang apa yang diharapkan dari suatu objek tertentu. Hubungan kita dengan mereka harus didasarkan pada informasi yang kita terima tentang karakteristik mereka.”
Respon emosional yang merupakan komponen afektif sangat dipengaruhi oleh keyakinan atau apa yang kita yakini benar dan valid mengenai objek yang bersangkutan (Azwar, 1995: 26). Menurut Azwar, komponen konatif mencakup bentuk-bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dinilai secara langsung, tetapi juga mencakup. Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan perilaku seseorang berhubungan dengan objek sikap yang dihadapinya.
Pengertian kecenderungan perilaku menunjukkan bahwa komponen konatif mencakup bentuk-bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung, tetapi juga mencakup bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan seseorang. Secara kognitif dilihat apakah investor memahami informasi yang diberikan, pemahaman investor terhadap mekanisme perusahaan, kepercayaan investor terhadap informasi yang diberikan dan kepercayaan investor terhadap perusahaan. Humas perusahaan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sikap positif masyarakat terhadap perusahaannya.
Pentingnya kepuasan konsumen (aspek konatif) mendorong tumbuhnya loyalitas dan dukungan konsumen (aspek afektif) sebagaimana dijelaskan oleh Moore: “Konsumen dapat membuat atau menghancurkan perusahaan komersial apa pun. Coulson dalam bukunya Public Relations is Your Business, a Guide for Every Manager menyatakan, bahwa: “Dengan memenuhi kebutuhan informasi investor secara konsisten, perusahaan dapat meningkatkan reputasinya, meningkatkan partisipasi investor, dan juga meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan.” (Coulson, 1981) : 167).