i
LAPORAN PRAKTIK KERJA
Oleh : TARTI D1E011037
Untuk memenuhi salah satu persyaratan kurikuler pada Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PETERNAKAN
PROGRAM STUDI PETERNAKAN PURWOKERTO
2014
ii
LAPORAN PRAKTIK KERJA
Oleh : TARTI D1E011037
Diterima dan disetujui
Pada tanggal :………
Pembimbing : Pembimbing I
Imbang Haryoko, S.Pt.,M.P.
NIP. 197006051994121001
Pembimbing II
Moch. Sugiarto, S.Pt,M.M.,Ph.D NIP. 197305111997021001
Mengetahui Pembantu Dekan I
Ir. Endro Yuwono, MS NIP. 196103101986011001
Ketua Program Studi
Ir. Pambudi Yuwono, MSc NIP. 196309151988031002
iii
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan semesta alam atas segala limpahan dan rahmat, karunia dan hidayah-Nya, serta tidak lupa pula shalawat dan salamnya senantiasa panjatkan untuk baginda Rasulullah SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktik kerja dengan judul
“Kegiatan Usaha Peternakan Sapi Potong di PT Lembu Jantan Perkasa Desa Sindangsari Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang Banten”. Laporan praktik kerja disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan kulikuler pada Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan berbagai pihak yang telah membantu pelaksanaan praktik kerja dan penyusunan laporan ini, kepada :
1. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M.,Sc.Agr., Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.
2. Ir. Endro Yuwono, MS., Pembantu Dekan I Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.
3. Ir. Pambudi Yuwono, M.Sc., Ketua Program Studi Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.
4. Imbang Haryoko, S.Pt., M.P., dan Moch. Sugiarto, S.Pt., M.M., Ph.D.
Pembimbing Praktik Kerja yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan laporan praktik kerja.
5. Bapak Sutrisnak manajer PT Lembu Jantan Perkasa yang telah memberikan izin, arahan dan bimbingan dalam praktik kerja sehingga penulis dapat menyelesaikan praktik kerja dengan baik.
iv
PT. Lembu Jantan Perkasa atas bantuan dan kerjasama yang dilakukan selama melaksanakan praktik kerja.
7. Teman-teman praktik kerja ( Devi Novita Sari, Afrilliana Chandra, Arby’in Pratiwi, Agus Triyanto, Yachya, Teduh Sugarnadi, Mohammad Rosdian) terima kasih atas kerjasama dan kebersamaannya.
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, atas dukungan dan bantuannya.
Penulis menyadari bahwa laporan praktik kerja masih terdapat kekurangan dan jauh dari sempurna, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna kesempurnaan laporan.
Semoga laporan praktik kerja dapat bermanfaat khususnya untuk diri pribadi penulis dan lebih luas untuk membaca yang memerlukan pengetahuan tentang usaha peternakan ternak sapi potong.
Purwokerto, Maret 2014
Penulis
v
Halaman
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
RINGKASAN ... x
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Sejarah Perusahaan ... 1
1.2. Lokasi ... 2
1.3. Keadaan Lingkungan Perusahaan... 3
1.3.1. Temperatur ... 3
1.3.2. Curah Hujan ... 3
1.3.3. Topografi ... 3
1.3.4. Kelembaban ... 3
1.4. Jenis Usaha ... 4
1.5 Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja Perusahaan ... 5
1.5.1 Struktur Organisasi PT Lembu Jantan Perkasa... 5
1.5.2 Deskripsi Pekerjaan ... 6
1.6 Layout Perusahaan ... 8
II. METODE... 9
2.1. Materi... 9
2.2. Cara Kerja ... 9
2.2.1. Kegiatan Rutin (Pemeliharaan ternak) ... 10
vi
2.3. Waktu dan Tempat ... 11
III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN ... 12
3.1. Kegiatan ... 12
3.1.1. Kegiatan Rutin ... 12
3.1.2 Kegiatan Insidental ... 27
3.1.3. Kegiatan Penunjang ... 32
3.1.4. Analisis Ekonomi ... 38
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 41
4.1. Kesimpulan ... 41
4.2. Saran ... 41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
LAMPIRAN ... 45
vii
Tabel Halaman
1. Perbandingan pemberian pakan ... 15 2. Evaluasi kecukupan pakan ... 16 3. Pertambahan bobot sapi umur pemeliharaan 60 hari ... 29
viii
Gambar Halaman
1. Struktur Organisasi PT Lembu Jantan Perkasa ... 5
2. Layout PT Lembu Jantan Perkasa ... 8
3. Tipe atap monitor pada kandang tertututup ... 19
4. Tipe atap gable pada kandang terbuka ... 19
5. Pembersihan kandang terbuka ... 21
6. Pembersihan kandang tertutup ... 21
7. Kegiatan pembalikan pakan ... 23
8. Penjualan sapi ... 27
9. Timbangan sapi ... 29
10. Ear tag sapi pejantan ... 30
11. Ear tag sapi betina ... 31
12. Pemasangan ear tag ... 31
13. Mixer berbentuk vertikal ... 33
14. Mixer berbentuk horizontal ... 33
15. Kolam penampungan limbah ... 37
16. Pneumatic/hand stuner ... 38
ix
Lampiran Halaman
1. Evaluasi kecukupan pakan ... 45
2. Ukuran dan kapasitas kandang penggemukan ... 49
3. Analisis ekonomi ... 50
4. Kebutuhan lahan hijauan………. 55
x
Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Jenis usaha yang dijalankan adalah penggemukan sapi impor bangsa Brahman cross. Praktik kerja dilaksanakan tanggal 14 Januari – 5 Februari 2014. Kegiatan yang dilaksanakan di perusahaan, meliputi pemberian pakan dan minum, pembersihan kandang, penanganan kesehatan, pemasaran, penaganan sapi datang, penimbangan sapi serta kunjungan ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Cilegon dan Trondol.
Materi yang digunakan yaitu 4.400 ekor sapi Brahman cross dan sepuluh kandang penggemukan dengan kapasitas 5.260 ekor yang terdiri dari kandang tertutup dan terbuka. Setiap kandang terdiri dari 8-12 pen, tiap pen rata-rata berisi 50 ekor sapi atau 500-600 sapi tiap kandang. Kandang terbuka dibersihkan setiap hari agar selalu terjaga kebersihannya dengan menggunakan penyodok kayu sehingga feses dapat dialirkan langsung ke selokan menuju penampungan limbah. Sedangkan kandang tertutup dibersihkan tiga hari satu kali dengan menggunakan alat bobcat.
Penanganan kesehatan dilaksanakan dengan memisahkan sapi-sapi yang sakit ke kandang hospital pen.
Pemberian pakan 2 kali sehari, pada pukul 06.00 – 10.00 WIB dan pukul 13.00 – 16.00 WIB . Pakan yang diberikan berupa hijauan segar (Taiwan grass) atau jerami padi, molasses dan konsentrat. Pemberian hijauan atau jerami untuk sapi dengan umur pemeliharaan 60 hari yaitu 1,5 kg, molasses 0,78 kg dan konsentrat 10 kg. PBBH rata-rata 1,2 kg maka kebutuhan BK, PK, dan TDN yaitu 7,2 kg, 0,98 kg, 5,4 kg. Berdasarkan evaluasi kecukupan pakan di PT Lembu Jantan Perkasa terjadi kelebihan BK 2,03 kg, PK 0,24 kg dan TDN 0,68 kg.
Berdasarkan analisis ekonomi yang dilakukan PT Lembu Jantan Perkasa keuntungan yang diperoleh perperiode penjualan dengan pemeliharaan sapi selama 60 hari mencapai Rp 206.476.947,00 untuk penjualan 483 ekor sapi. Nilai R/C 1,03 yang berarti setiap Rp 100,00 yang dikeluarkan menghasilkan Rp 103,00. Nilai Rentabilitasnya sebesar 3,6 % perperiode, yang artinya rentabilitas perbulannya 1,8
% dan lebih besar dari bunga modal yang berlaku saat ini yaitu 6% pertahun, dengan nilai break even point (BEP) 3.719 kg atau Rp 142.766.742,00.
I. PENDAHULUAN
1.1. Sejarah Perusahaan
PT Lembu Jantan Perkasa didirikan oleh Alm. Djaya Gunawan pada tahun 1990. Awal kegiatan perusahaan adalah perdagangan dan penggemukan sapi lokal (sumber ternak berasal dari Sulawesi). Tahun 1995 PT Lembu Jantan Perkasa mulai melakukan kegiatan impor sapi bakalan dari Australia memenuhi kebutuhan ternak sapi potong di Indonesia karena populasi sapi yang semakin berkurang.
PT Lembu Jantan Perkasa merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang usaha breeding, fattening, dan trading. Visi perusahaan adalah meningkatkan kualitas dan modernisasi tata sapi potong yang bertujuan untuk menunjang usaha peningkatan gizi masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan ternak sapi potong dalam lingkup regional dan nasional. Perusahaan memiliki kantor pusat di Jalan Tarum Barat E11-12 No 8 Jakarta Timur. PT Lembu Jantan Perkasa terdaftar sebagai anggota APFINDO (Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia) dengan nomor registrasi 015/APFINDO/1995 tanggal 29 Agustus 1995.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan dalam menjalankan usahanya sehingga perusahaan tidak mengimpor sapi untuk sementara waktu tetapi beralih ke sapi lokal. Hal tersebut ternyata tidak dapat memecahkan masalah sepenuhnya karena sapi lokal yang jumlahnya terbatas dan sangat sulit untuk mengumpulkan dalam jumlah banyak
dari para peternak sapi tradisional, akibatnya perusahaan menghentikan usahanya dan semua fasilitas disewakan kepada perusahaan lain.
Bulan Januari tahun 1999, perusahaan kembali beroperasi dan mengimpor sapi dari Australia untuk digemukkan di feedlot Serang. PT Lembu Jantan Perkasa mengantisipasi penurunan populasi sapi potong dengan cara mulai merintis usaha pembibitan sapi potong (breeding) secara intensif di Serang pada tahun 2004. Keadaan ini menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang bergerak di bidang pembibitan sapi potong secara intensif.
Usaha tersebut diharapkan dapat memenuhi bibit sapi yang berkualitas. PT Lembu Jantan Perkasa memiliki beberapa cabang perusahaan yaitu di Serang- Banten, Cikalong-Bandung, Langkat-Medan, dan Sawah Lunto-Padang.
1.2. Lokasi
PT Lembu Jantan Perkasa dibangun di atas tanah seluas 25 ha yang digunakan untuk kandang fattening 11,2 ha dan breeding 0,8 ha, gudang pakan 0,3 ha, kebun rumput 8,1 ha. Sisanya seluas 4,6 ha berupa lahan kosong dan juga digunakan untuk pembuatan fasilitas perusahaan seperti kantor, mess karyawan, kantin, tempat pembuangan limbah dan mushola. Perusahaan terletak di Serang Banten dan berbatasan langsung dengan pemukiman pendudukdan persawahan serta perkebunan warga.
Utara : Berbatasan dengan Kampung Ranca Lutung Timur : Berbatasan dengan Kampung Tonggoh
Selatan : Berbatasan dengan Kampung Tanjung dan persawahan Barat : Berbatasan dengan Kampung Sindangsari
1.3. Keadaan Lingkungan Perusahaan 1.3.1. Temperatur
PT Lembu Jantan Perkasa memiliki temperatur lingkungan harian sekitar 280C dengan kisaran 24,5-310C. Menurut Soeprapto dan Abidin (2006) ketika sapi baru lahir, sapi potong membutuhkan suhu lingkungan yang lebih rendah dibandingkan adalah dengan sapi dewasa. Suhu lingkungan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan sapi potong indonesia adalah 17-27 0C. Suhu yang terlalu tinggi sepanjang hari akan berpengaruh negatif bagi pertumbuhan sapi. Pada saat terjadi cekaman panas, sapi akan lebih banyak minum daripada makan. Selain itu energi yang seharusnya diubah menjadi daging akan dialokasikan untuk mempertahankan suhu tubuh.
1.3.2. Curah Hujan
PT Lembu Jantan Perkasa yang tereletak di Jalan Raya Serang Banten Pandeglang Desa Sindangsari memiliki curah hujan rata-rata 1.500-3.000 mm/tahun.
1.3.3. Topografi
PT Lembu Jantan Perkasa terletak di salah satu wilayah dataran rendah di Kota Serang yang memiliki tofografi tanah yang datar. Jarak PT Lembu Jantan Perkasa dengan pemukiman penduduk yaitu ±200 meter.
1.3.4. Kelembaban
PT Lembu Jantan Perkasa memiliki kelembaban udara sekitar 72% dengan kisaran 54-90%. Kelembaban udara berkisar antara 60-80% merupakan kelembaban yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan ternak termasuk
sapi potong. Diatas angka itu populasi jamur dan parasit yang potensial menjadi sumber penyakit cenderung akan meningkat.
1.4. Jenis Usaha
PT Lembu Jantan Perkasa mengelola usaha penggemukan sapi potong impor bangsa Brahman cross, pabrik pakan konsentrat (feedmill) milik Lembu Satwa Prima, dan breeding milik Lembu Prima Perkasa. Ketiga usaha tersebut berada dalam satu lokasi perusahaan dan manajemen yang sama.
Unit fattening melakukan impor sapi secara berkala dari Australia biasanya setiap 1 bulan, dengan umur rata-rata 1,5 tahun dan bobot berkisar antara 200-300 kg. Pemeliharaan sapi sampai siap jual yaitu selama 2 bulan.
Daerah pemasarannya yaitu RPH Propinsi Banten ( Trondol, Cilegon), Jakarta (Pulogadung), Banjaran, Bogor, Jonggol (Jawa Barat). Sapi yang siap dijual akan dikirim langsung ke rumah potong hewan (RPH) menggunakan truk.
Unit breeding bertugas dalam perkawinan buatan atau inseminasi buatan (IB), pengawasan kebuntingan dan kesehatan ternak. Kegiatan yang dijalankan pada unit breeding tidak jauh berbeda dengan unit fattening yang meliputi pemberian pakan, sanitasi kandang, penanganan dan perawatan ternak, penimbangan dan identifikasi ternak serta kesehatan ternak.
Unit feedmill bertanggungjawab atas penyediaan konsentrat sebagai pakan utama dalam program penggemukan sebagai unit pendukung produksi utama.
Tugas dalam unit ini adalah memproduksi pakan yang berkualitas dan palatabel agar ternak dapat mengonsumsi dengan baik sehingga diharapkan ternak dapat menghasilkan pertambahan bobot badan optimal.
1.5 Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja Perusahaan 1.5.1 Struktur Organisasi PT Lembu Jantan Perkasa
Direktur Pemasaran Ir. Mardiato Wibowo
Direktur Operasional Ir.H. Budi R.
Manajer Umum Sid Zulfalutfi
Human Resource Sindhu A.
RPH Sukiman
Mekanik dan Sipil Dodi HP
Ahmad Tohir
Supervisor Livestock Aziz Meiaro Slamet Riyadi Lukmanul Hakim
Rumah Tangga Yatin
Manajer Farm Sutrisnak
Keswan Drh. Putut M.
Keuangan dan Administrasi
Fian S.
Bahrudin Direktur Utama
Joice Gunawan
Direktur Keuangan Aries S.
Kandang Karyawan
78 orang
Gambar 1. Struktur Organisasi PT Lembu Jantan Perkasa
1.5.2 Deskripsi Pekerjaan
1. Direksi (direktur utama) adalah pemilik dan merupakan penanggung jawab utama serta pengambil keputusan tertinggi perusahaan.
2. Direktur Pemasaran bertugas merencanakan dan merumuskan kebijakan strategis yang menyangkut pemasaran, melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait untuk menjalankan strategi pemasaran serta memberikan masukan kepada direktur utama dalam memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan pemasaran.
3. Direktur Keuangan bertugas mengalokasikan dana agar dapat memperoleh tingkat efisiensi atau profitabilitas yang optimal serta mengendalikan keuangan perusahaan dengan mengadakan sistem dan prosedur yang dapat mencegah penyimpangan dalam pelaksanaan usaha.
4. Direktur Operasional bertugas menjamin target dan kualitas produksi ternak sapi potong, agar tetap sesuai dengan rencana. Secara garis besar kegiatannya yaitu merencanakan dan merealisasikan program kerja (business plan), pengawasan terhadap mutu pekerjaan operasional, dan evaluasi terhadap hasil pekerjaan/pengelolaannya.
5. Human Resource bertugas untuk merekrut dan menyeleksi tenaga kerja serta pengembangan dan evaluasi karyawan.
6. Manajer Umum adalah penanggung jawab kepada direksi dan berwenang dalam mengatur dan mengarahkan seluruh kegiatan operasional farm atau perusahaan.
7. Manajer Farm tugasnya adalah bertanggung jawab kepada manajer umum dan berwenang sebagai pengawas dan penanggung jawab teknis seluruh
kegiatan di farm. Manajer farm bertanggung jawab atas maju mundurnya perusahaan dan merupakan kepala keluarga yang diharapkan mampu menciptakan kebersamaan, persaudaraan, dan mampu menjaga rahasia perusahaan.
8. Supervisor bertugas mengatur kerja dan mengarahkan karyawan, membuat laporan livestock ke kepala unit, melakukan eveluasi kerja bersama kepala unit dan ketua kandang, serta menilai kinerja karyawan.
9. Administrasi dan keuangan farm bertugas membuat faktur penjualan sapi fattening dan breeding, membuat bukti penerimaan / keluar kas / bank, membuat atau meng up date kartu piutang, menyetorkan uang ke bank, membuat rencana anggaran operasional rutin, membayar gaji atau honor karyawan kandang, melakukan evaluasi bersama kepala unit / staf, menyiapkan laporan keuangan konsolidasi, dan membuat laporan keuangan farm.
10. Unit Kesehatan Hewan bertugas menyeleksi dan mengobati sapi sakit.
Kebijakan selanjutnya, apakah ternak layak dipelihara atau tidak tergantung dari dokter hewan yang menangani divisi ini. Dokter hewan bertanggungjawab kepada manajer.
11. Divisi umum adalah bagian yang membantu dalam kelancaran operasional harian yaitu menyediakan dan mencatat data kegiatan harian yang ada di perusahaan
12. Karyawan adalah orang yang bekerja untuk melaksankan rancangan kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
1.6 Layout Perusahaan
Gambar 2. Layout PT Lembu Jantan Perkasa
U
S
II. METODE 2.1. Materi
Materi yang digunakan dalam praktik kerja di PT Lembu Jantan Perkasa terdiri dari:
1. Sapi Brahman cross sebanyak 4.400 ekor. Sapi tersebut terdiri atas bull (sapi jantan dewasa tidak kastrasi), heifer (sapi betina) dan steer (sapi jantan kastrasi) dan juga sapi slaughter (sapi impor siap jual).
2. Kandang sapi penggemukan berjumlah 10 unit dan 2 unit kandang pembibitan.
3. Perlengkapan kandang meliputi bak air, tempat pakan, tempat minum, sekop.
4. Pakan yang terdiri dari jerami padi, rumput taiwan 15 kg per karung dan konsentrat 50 kg per karung.
5. Perlengkapan dalam pengangkutan konsentrat adalah satu unit mobil konsentrat, dan satu mobil pengangkut rumput.
6. Perlengkapan penunjang lain seperti timbangan sapi, mesin copper, alat ear tag, kamera untuk dokumentasi serta alat tulis.
2.2. Cara Kerja
Metode yang digunakan pada saat praktik kerja meliputi :
1. Mengikuti semua kegiatan yang telah dijadwalkan oleh di perusahaan 2. Wawancara dengan pekerja kandang, staff dan manajer perusahaan
3. Pengumpulan data, baik data yang ada di lapangan maupun data teknis dari perusahaan
2.2.1. Kegiatan Rutin (Pemeliharaan ternak) 1. Manajemen pemberian pakan
a. Pemberian pakan konsentrat, molasses dan hijauan berupa rumput Taiwan dan jerami setiap dua kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 06.00 WIB dan siang hari pada pukul 13.00 WIB dengan perbandingan yang berbeda-beda sesuai dengan umur pemeliharaan.
b. Penyediaan stok pakan konsentrat maupun hijauan.
2. Manajemen perkandangan
a. Karung dan tali bekas karung hijauan diambil agar tidak termakan oleh ternak.
b. Pembersihan central alley setelah pemberian pakan.
c. Pembalikan pakan.
d. Pembersihan bak tempat minum dan diisi kembali sampai penuh.
e. Kandang terbuka, dibersihkan setiap hari menggunakan tenaga manusia yaitu dengan menggunakan sodokan dan juga air yang berasal dari tempat minum. Kemudian limbah dialirkan melalui holding pond.
f. Kandang tertutup, dibersihkan menggunakan mesin yang disebut dengan bobcat setiap tiga hari satu kali.
3. Manajemen penanganan kesehatan
a. Pengecekan kondisi sapi mulai dari kandang A sampai kandang L b. Sapi dibangunkan menggunakan tongkat berwarna merah atau dengan
cara ditepuk badannya.
c. Pengobatan sapi yang terkena penyakit atau pincang.
4. Manajemen pemasaran
a. Sapi yang akan dijual sesuai dengan keinginan jagal digiring dari kandang menuju cattle yard.
b. Sapi ditimbang dan diberi tanda pemilik (nama jagal) dengan menggunakan cat.
c. Sapi diangkut dengan menggunakan truk menuju rumah potong hewan.
2.2.2. Kegiatan Insidental (Penimbangan, penomoran dan loading ternak) a. Sapi-sapi digiring dari kandang menuju cattle yard dengan bantuan
tongkat penggiring untuk dilakukan penimbangan setiap 30 hari.
b. Sapi ditimbang kemudian dicatat hasil penimbangannya.
c. Sapi dikelompokan berdasarkan bobot badan, dan jenis kelamin.
d. Pemasangan ear tag
e. Proses loading atau sapi impor yang baru datang dilakukan ketika sapi yang sudah dikeluarkan dari mobil ekspedisi dimasukan ke dalam cattle yard kemudian digiring ke kandang yang kosong.
2.2.3. Kegiatan Penunjang
a. Wawancara dengan anak kandang dan supervisor ketika ada waktu luang.
b. Diskusi dan penyampaian materi oleh staff dan manajer farm c. Kunjungan ke RPH.
2.3.Waktu dan Tempat
Praktik kerja dilaksanakan pada tanggal 16 Januari - 5 Februari 2014 di PT Lembu Jantan Perkasa yang berlokasi di Jalan Raya Serang Pandeglang Km 9,6 Desa Sindangsari Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang Propinsi Banten.
III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN
3.1. Kegiatan
3.1.1. Kegiatan rutin
3.1.1.1. Manajemen pemberian pakan
Pakan yang diberikan di PT Lembu Jantan Perkasa berupa hijauan, konsentrat, dan molasses dengan perbandingan tertentu sesuai dengan umur pemeliharaan ternak. Hijauan yang diberikan adalah jerami padi segar atau rumput Taiwan, sedangkan konsentrat yang diberikan merupakan konsentrat yang dibuat sendiri oleh perusahaan PT Lembu Prima Perkasa yang berlokasi sama dengan PT Lembu Jantan Perkasa. Menurut Abidin (2002), pengadaan hijauan dan konsentrat yang akan digunakan dalam proses penggemukan harus ditentukan sejak awal, apakah akan menggunakan sumber-sumber dari luar lokasi atau mengusahakannya sendiri. Jika bahan pakan diusahakan dari luar lokasi, faktor harga dan jarak tempuh harus diperhitungkan. Penentuan jenis bahan pakan merupakan hal mutlak, karena berkaitan erat dengan ketersediaan bahan pakan dilokasi penggemukan. Tingkat ketersediaan yang tinggi memudahkan peternak dalam memperoleh bahan pakan yang dibutuhkan dengan harga relatif murah.
Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yaitu pagi hari pukul 06.00 WIB dan sore hari mulai pukul 13.00 WIB. Central alley yang luas menjadikan semua bahan pakan yang diberikan dapat diangkut dengan menggunakan mobil bak terbuka dalam kandang sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien karena tenaga kerja dan waktu yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit.
Pemberian pakan konsentrat dibutuhkan oleh ternak sapi untuk pertumbuhannya dan menghasilkan produksi yang baik. Pakan konsentrat yang diberikan di PT Lembu Jantan Perkasa terdiri dari campuran 24 macam bahan pakan termasuk sisa pakan. Penggunaan konsentrat (terutama yang banyak mengandung biji-bijian) yang lebih tinggi akan mempercepat pertambahan bobot badan dan efisiensi pakan lebih baik. Penentuan jumlah konsentrat yang tepat merupakan salah satu cara optimasi kapasitas pencernaan untuk mendapatkan efisiensi pemanfaatan pakan yang lebih baik (Purbowati, 2001). Konsentrat sudah dikemas dalam karung masing-masing dengan berat 50 kg. Konsentrat atau pakan penguat adalah pakan yang mengandung protein tinggi dengan kadar serat kasar yang relatif rendah dan mudah dicerna. Pemberian konsentrat di PT Lembu Jantan Perkasa untuk ternak yang baru datang diberikan secara bertahap untuk menghindari terjadinya gangguan pada saluran pencernaan. Semakin lama umur pemeliharaan ternak semakin banyak konsentrat yang diberikan. Pemberian konsentrat sapi umur pemeliharaan 60 hari yaitu 81,30 % atau sekitar 10 kg/ekor/hari. Menurut Purnomoadi (2003) pemberian konsentrat untuk sapi penggemukan yaitu 75 % dari total pakan yang dikonsumsi.
Pemberian pakan hijauan dilakukan bersamaan dengan pemberian konsentrat dengan hijauan berada di bagian atasnya (top grass). Cara tersebut dianggap efektif karena hijauan lebih dulu dimakan sehingga hijauan yang memiliki kadar air tinggi lebih cepat habis daripada konsentrat apabila hijauan telah habis maka konsentrat tetap kering dan dapat digunakan lagi tanpa pembusukan. Hijauan sudah dikemas dalam sebuah karung dengan berat 15 kg per karung. Jenis hijauan yang diberikan adalah rumput Taiwan dan jerami padi.
Jerami padi memiliki palatabitas yang cukup baik, tetapi apabila diberikan terlalu banyak dalam pakan sapi akan menyebabkan kebutuhan hidup pokoknya tidak terpenuhi karena kandung nutriennya rendah (Panjono dkk., 2000). Sebelum diberikan hijauan terlebih dahulu dilayukan untuk mengurangi kadar air setelah dilayukan dipotong dengan mesin chopper, lalu dimasukkan ke dalam karung dengan berat masing-masing 15 kg per karung. Hal ini dilakukan agar sapi tidak akan memilih antara makan daun dan batangnya, sehingga konsumsi pakan akan efisien. Jerami padi langsung diberikan tanpa amoniasi telebih dahulu. Menurut Purnomoadi (2003) pemberian hijauan yaitu 25% dari total ransum. Pemberian hijauan sapi potong di PT Lembu Jantan Perkasa dengan umur pemeliharaan 60 hari yaitu 12.20% atau 1,5 kg/ekor/hari.
Pemberian molasses sebanyak 0,78 kg/ekor/hari dilakukan setelah pemberian hijauan dan konsentrat selesai kemudian di tetesi molasses. Menurut Nurul (2010) molases adalah hasil samping yang berasal dari pembuatan gula tebu. Molases berupa cairan kental dan diperoleh dari tahap pemisahan kristal gula. Pemberian molasses untuk tiap kandang berbeda-beda sesuai dengan umur pemeliharaan ternak. Molasses diberikan untuk meningkatkan palatabilitas serta mencukupi kebutuhan energi dan mineral. Dinyatakan pula bahwa keuntungan penggunaan molases untuk pakan ternak adalah kadar karbohidratnya tinggi (48- 60% sebagai gula), kadar mineral cukup dan rasanya disukai ternak sedangkan kelemahannya kadar kaliumnya yang tinggi dapat menyebabkan diare pada ternak, sehingga pemberian molasses dibatasi sesuai dengan umur pemeliharaan ternak. Perbandingan pemberian antara konsentrat, hijauan dan molasses di PT Lembu Jantan Perkasa tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan pemberian pakan Umur
Pemeliharaan (hari)
Molasses (%) Hijauan (%) Konsentrat (%)
1 14,00 86,00 -
2 11,50 78,00 10,50
4 9,50 67,28 23,22
6 9,50 58,81 31,69
9 9,50 46,21 44,29
14 8,00 36,50 55,50
18 8,00 27,79 64,21
21 6,50 12,20 81,30
>21 6,50 12,20 81,30
Sumber : PT Lembu Jantan Perkasa (2014)
Kebutuhan pakan sapi penggemukan dengan bobot badan rata-rata 287,1 kg dan PBBH rata-rata 1,2 kg dengan umur pemeliharaan 35 hari di PT Lembu Jantan Perkasa telah terpenuhi dengan baik (Tabel 2). Hal ini dapat dilihat dengan cara menghitung kecukupan nutrisi ternak. Penghitungan kecukupan nutrisi merupakan hal yang sangat penting, karena nutrisi merupakan penunjang dari kehidupan sapi potong. Selain itu, dengan diketahuinya kandungan nutrisi pakan, dapat dilakukan perbaikan komposisi apabila memang diperlukan. Kebutuhan nutrisi sapi potong dapat diketahui berdasarkan tabel National Research Council (NRC). Dari tabel NRC diketahui data kebutuhan nutrisi pakan sapi potong dengan bobot badan rata-rata 287,1 kg dan PBBH rata-rata 1,2 kg adalah BK 7,2 kg, PK 0,98 kg dan TDN 5,4 kg (NRC, 2000). Perhitungan pemberian nutrisi pakan ditampilkan pada Lampiran 1.
Tabel 2. Evaluasi Kecukupan Pakan
BK (kg) PK (kg) TDN (kg)
Pemberian 9,23 kg 1,22 kg 6,08 kg
Kebutuhan 7,2 kg 0,98 kg 5,4 kg
Kecukupan +2.03 kg +0,24 kg +0.68 kg
Menurut Santosa (2000), kebutuhan BK pakan untuk penggemukan sapi adalah 3 % dari bobot badan dengan perbandingan 80 % konsentrat dan 20 % hijauan. Jumlah pakan dalam batas normal pakan bagi ternak sapi potong berguna untuk menjaga keseimbangan jaringan tubuh. Program pemberian pakan sapi potong biasanya didasarkan pada hasil pengelompokan berat badan, jenis, umur, periode atau umur dan kondisi sapi. Kebutuhan nutrien berdasarkan patokan- patokan feed intake bahan kering, yaitu antara 2,5 – 3,2 % dari bobot badan.
Berdasarkan pengalaman feedloter, sapi potong yang digemukan, harus menyesuaikan dengan perilaku konsumsi sapi sebagai akibat dari berbagai perlakuan tempat asal sampai feedlot (Sugeng, 2001).
Pemberian pakan di PT Lembu Jantan Perkasa sudah mencukupi kebutuhan ternak, bahkan berlebih. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah bahan kering (BK), protein kasar (PK), dan total digestible nutrient (TDN) yang diberikan sudah melebihi kebutuhan nutrisi sapi. Anggorodi (1979) menyatakan kandungan protein yang tinggi dari pakan menguntungkan sapi, karena sapi memerlukan protein untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak serta untuk produksi. Menurut Anggorodi (1994) kekurangan protein pada sapi dapat menghambat pertumbuhan, sebab fungsi protein adalah untuk memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, sumber energi. Menurut Parakkasi (1999),
kelebihan konsumsi TDN sebagai satuan energi akan disimpan dalam bentuk glikogen dan lemak. Kekurangan TDN dapat mengakibatkan terhambatnya pertambahan bobot badan, penurunan bobot badan dan terjadi kematian bila berlangsung lama (Tillman et al., 1991).
3.1.1.2. Manajemen perkandangan
Kandang merupakan sarana yang sangat penting bagi ternak, karena berfungsi untuk menjaga ternak agar tetap berada dalam keadaan yang nyaman, aman dan sesuai dengan kebutuhan untuk berproduksi. Kandang yang berada di PT Lembu Jantan Perkasa terdiri dari 12 bangunan kandang yang terdiri dari 10 kandang penggemukan dan 2 kandang pembibitan. Luas kandang penggemukan bervarisi rata-rata 2.424,5 m2 dengan kapasitas antara 500-600 ekor/kandang.
kapasitas kandang seluruhnya yaitu 5.260 ekor sedangkan sapi yang digemukkan di PT Lembu Jantan Perkasa yaitu 4.400 ekor. Luas kandang, kapasitas dan sapi yang dipelihara ditampilkan pada Lampiran 2.
Tipe kandang yang ada di PT Lembu Jantan Perkasa ada dua macam yaitu kandang terbuka dan kandang tertutup. Kandang penggemukan model terbuka yaitu kandang B,C,E,F,G sedangkan A,D,J,K,L merupakan kandang tertutup.
Semua kandang di PT Lembu jantan perkasa menggunakan tipe koloni.
Kebutuhan kandang untuk satu ekor sapi dengan kandang tipe koloni yaitu 4 m2 sehingga ternak leluasa (Soeprapto dan Abidin, 2006). Menurut Sarwono dan Arianto (2002) kandang koloni adalah kandang yang terdiri dari satu ruangan atau bangunan tetapi digunakan untuk ternak dalam jumlah banyak. Kandang individu adalah kandang yang terdiri dari satu ruangan atau bangunan dan hanya digunakan untuk memelihara satu ekor ternak setiap ruangnya. Kandang penggemukan di PT
Lembu Jantan Perkasa ada yang mengarah dari utara ke selatan yaitu kandang A,B,C sedangkan kandang yang lainnya sudah mengarah dari timur ke barat, sehingga memungkinkan kandang selalu terpapar sinar matahari. Tipe kandang koloni dipilih karena lebih efisiensi biaya, selain itu tipe kandang koloni akan lebih leluasa bergerak karena telah disesuaikan dengan habitat aslinya. Setiap kandang dibagi menjadi beberapa pen, jumlah pen tergantung dari luas kandang.
Luas setiap pen bervariasi tergantung dari luas kandangnya.
Konstruksi kandang PT Lembu Jantan Perkasa terbuat dari beton dan lantai kandang terbuat dari beton yang keras, dengan kemiringan 5˚ untuk memudahkan dalam membersihkan kandang. Menurut Soeprapto dan Abidin (2006) menyatakan bahwa kemiringan kandang antara 5˚ sampai 10˚ agar air tidak menggenang. Dinding kandang menggunakan pipa besi dan pembatas pen pada tiap kandang juga menggunakan pipa besi dengan setinggi 180 cm dengan ukuran celah antara ukuran pipa besi 50 cm. Dinding kandang merupakan pembatas seluruh keliling kandang atau bagian tepi kandang. Atap kandang terbuat dari asbes dengan model monitor. Atap hanya berfungsi untuk melindungi pakan yang ada dalam palung agar tidak terkena air hujan dan menghindarkan sapi dari terik matahari dan hujan secara langsung.
Kandang di PT Lembu Jantan Perkasa dilengkapi dengan bak pakan dan bak air minum. Bak pakan yang terbuat dari semen yang berukuran panjang 408 cm, lebar 75 cm, tinggi (kedalaman) 55 cm. Ukuran panjang dan lebar bak pakan ini sama dengan ukuran panjang dan lebar dari tiap kandang. Menurut Rasyid dan Hartati (2007) ukuran bak pakan kandang kelompok adalah mengikuti panjang kandang, dengan proporsi tempat minum yang lebih kecil dari tempat pakan.
Gambar 3. Tipe atap monitor pada kandang tertututup
Gambar 4. Tipe atap gable pada kandang terbuka
3.1.1.2.1. Pembersihan Kandang
Kebersihan kandang di PT Lembu Jantan Perkasa sangat diperhatikan dan dijaga dengan baik. Kegiatan pembersihan kandang mulai dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB , ketika tim pakan telah selesai melakukan pemberian pakan. Pembersihan kandang dengan menyapu sisa pakan yang jatuh dan berserakan di lantai central alley dan mengumpulkan karung bekas tempat hijauan.
Terdapat dua metode pembersihan kandang di perusahaan, untuk kandang terbuka pembersihan kotoran masih manual yaitu hanya dengan menggunakan alat penyodok sederhana terbuat dari kayu. Pembersihan kotoran dalam kandang ini dilakukan setiap hari pada waktu pagi hari mulai pukul 08.00-11.30 WIB yang bertujuan untuk menjaga kebersihan kandang dan mencegah timbulnya bibit penyakit dan bau yang berasal dari kotoran yang dapat membahayakan kelangsungan hidup sapi dan manusia yang berada di sekitarnya. Pembersihan kandang tertutup menggunakan mesin yang disebut bobcat. Selanjutnya pada pukul 13.00 WIB holding pond dibuka untuk mengalirkan feses ke kolam penampungan. Pembersihan kotoran dilakukan tiga hari satu kali, apabila sudah melebihi tiga hari belum dibersihkan maka akan menimbulkan bau amoniak yang sangat menyengat di dalam kandang.
Pembersihan kandang perlu dilakukan, tidak hanya kandang yang dibersihkan setiap hari tetapi juga lingkungan disekitar kandang. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya penyakit, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak (Ngadiyono, 2007). Sehingga kebersihan kandang harus selalu dijaga dan diperhatikan. Pembersihan kandang bertujuan untuk
menjaga kebersihan dan kelestarian kandang. Kandang harus selalu dijaga kebersihannya karena frekuensi pemberian pakan pada usaha penggemukan sapi potong relatif tinggi maka kotoran yang dikeluarkan oleh sapi cukup banyak pula.
Gambar 5. Pembersihan kandang terbuka
Gambar 6. Pembersihan kandang tertutup
3.1.1.2.2. Pengurasan dan pengisian bak air minum
Pembersihan tempat air minum dilakukan setiap hari bersamaan dengan pembersian kandang menggunakan sikat yang keras untuk menghilangkan kotoran dan lumut-lumut yang tumbuh dan menempel di dinding. Kebersihan air minum perlu dijaga, karena sangat berhubungan erat dengan kesehatan ternak. Tempat pakan dan minum terbuat dari semen dan letaknya terpisah, untuk bak minum terdapat didalam pen bertujuan agar memudahkan sapi minum dan tidak berebutan satu dengan yang lain namun ada juga yang terdapat di bagian luar.
Pembersihan tempat minum tidak langsung semuanya dibersihkan melainkan satu baris perhari untuk menghindari terjadinya kekurangan air. Pemberian air minum dilakukan secara adlibitum ketersediaannya tidak pernah kurang dan selalu ada terus- menerus. Minuman berupa air bersih dan kualitas airnya harus dijaga agar tidak terkontaminasi oleh bibit-bibit penyakit (Suparman dan Azis, 2003).
Pengontrolan air minum dilakukan oleh petugas kandang namun tidak tentu waktunya. Kebutuhan air minum sapi di PT Lembu Jantan Perkasa kurang lebih 45 liter/ekor/hari yang harus disediakan. Menurut Setiadi (2001) kebutuhan air minum sapi kurang lebih 20-40 liter/ekor/hari yang harus disediakan dalam kandang. Air termasuk komponen yang sangat utama bagi ternak yang tidak dapat diabaikan. Tubuh hewan memerlukan air untuk mengatur suhu tubuh, membantu proses pencernaan, mengangkut zat-zat makanan dan mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh. Kekurangan air hingga 20% dapat menyebabkan hewan bersangkutan mati, karena air merupakan bahan pakan utama yang tidak bisa diabaikan, tubuh hewan terdiri dari 70% air, sehingga air benar-benar termasuk kebutuhan utama yang tidak dapat diabaikan (Sugeng, 2001)
3.1.1.2.3. Pembalikan pakan
Pembalikan pakan dilakukan setelah pemberian pakan dan pembersihan kandang yang bertujuan agar pakan tercampur kembali antara molasses, konsentrat, dan rumput tidak ada yang menempel di dinding. Pembalikan pakan dengan menggunakan sekop sehingga ternak mulai memakan kembali pakan yang telah diberikan pada pagi hari. Selain pembalikan pakan juga harus dilakukan perataan pakan yang menumpuk di salah satu bak pakan dan dibagikan ke dalam bak pakan yang sudah kosong.
Gambar 7. Kegiatan pembalikan pakan 3.1.1.4 Manajemen penanganan kesehatan
Sapi Brahman cross merupakan salah satu jenis sapi yang banyak dipelihara karena memiliki daya tahan tubuh yag baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Syariffudin dan Anis (2011), yang menyatakan bahwa sapi Brahman cross banyak dipelihara karena memiliki perkembangan tubuh yang cepat, mampu bertahan dalam kondisi suhu yang tinggi dan tahan terhadap ektoparasit. Hal
tersebut juga ditambahkan oleh Ibrahim dkk. (2008) yang menyatakan bahwa sapi Brahman cross memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap suhu lingkungan serta memiliki pertambahan bobot badan harian yang cukup baik. Meski demikian, sapi-sapi tersebut tidak berarti kebal terhadap penyakit. Oleh sebab itulah diperlukan adanya pemeriksaan kesehatan sapi yang rutin dilakukan.
Pemeriksaan kesehatan sapi dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Pengontrolan dilakukan dengan cara mengelilingi kandang dan mengamati keadaan sapi secara umum, apabila terdapat sapi yang sakit, maka sapi segera dipisahkan dan ditangani. Sapi-sapi yang telah diobati kemudian dipindahkan ke kandang hospital pen.
Usaha pencegahan penyakit menurut Abidin (2008) meliputi 2 tahapan yaitu :
1. Pemanfaatan kandang karantina
Sapi-sapi bakalan yang akan digemukkan dimasukkan dalam kandang ini terlebih dahulu dengan tujuan untuk memonitoring adanya suatu kelainan yang tidak tampak hanya dengan melihat bentuk fisiknya. Proses karantina ini dilakukan selama 1 minggu untuk sapi yang sehat. Selain untuk sapi-sapi bakalan yang akan digemukkan, kandang karantina digunakan untuk memisahkan sapi yang sakit dengan yang sehat. Tujuan dilakukan hal tersebut yaitu mencegah agar sapi yang sehat tidak tertular.
2. Kebersihan sapi bakalan beserta kandangnya
Kebersihan kandang perlu dilakukan secara rutin. Kotoran dikumpulkan di suatu tempat untuk di jual atau pun dijadikan sebagai kompos. Air minum untuk sapi-sapi bakalan sebaiknya tidak diambil dari sungai untuk menghindari berbagai
akibat yang kurang baik, seperti keracunan karena penyemprotan hama di hulu sungai.
Penyakit yang sulit disembuhkan dapat membahayakan bagi ternak lain.
Dilihat dari segi ekonomi, ketika biaya pengobatan jauh lebih besar dari pada penjualan ternaknya, maka lebih baik ternak tersebut di jual lebih awal/ tidak lagi dipertahankan dengan catatan tidak membahayakan konsumen. Faktor-faktor yang erat kaitannya dengan kesehatan ternak menurut Setyaningrum dkk (2003) adalah tata laksana pemeliharaan, pemberian pakan, keturunan, isolasi atau karantina, vaksinasi, pengobatan, diagnosa, lingkungan peternakan, kebersihan kandang dan pemusnahan hewan pembawa penyakit.
Penyakit – penyakit yang sering menyerang sapi – sapi yang ada di PT Lembu Jantan Perkasa antara lain :
1. Abses
Abses atau luka dalam pada sapi dapat diobati dengan menyemprotkan yodium 3% ke bagian yang luka setelah sebelumnya luka tersebut dikeluarkan nanahnya. Setelah itu, luka tersebut disemprot dengan gusanex untuk mencegah hinggapnya lalat yang dapat menimbulkan miasis atau belatungan. Langkah terakhir, sapi disuntik dengan glucortin dengan tujuan untuk mempercepat penyembuhan luka.
2. Ringworm
Penyebabnya adalah cendawan Trichophyton verrucosum. jamur/
cendawan tersebut menginfeksi kulit dan bulu sapi. Penyakit ringworm sering terjadi pada weaner dan pedet. Penyakit ini bersifat zoonosis, pada manusia ia juga menyerang kulit dan menimbulkan kegatalan. Pengobatan dilakukan dengan
mengerok bagian yang terserang ringworm, kemudian diolesi salep sulfur dan disemprot limoxin. Pengobatan dilakukan tiga kali seminggu dan sapi dipisahkan dengan sapi sehat agar tidak mewabah.
3. Bloat (Tympani)
Penyakit ini ditangani dengan mengisolasi ternak kemudian sapi diberi obat tympanol dengan dosis 1 ml per 40 kg BB. Apabila tidak ada perkembangan, maka yang dilakukan untuk menyembuhkannya dengan cara menusuk perut sebelah kiri dengan cannula. Namun apabila dinilai kurang ekonomis, maka sapi akan dijual untuk mengurangi dampak kerugian. Penyakit ini menimbulkan beberapa gejala diantaranya gelisah, susah bernafas, timbul pembengkakan di daerah perut sebelah kiri, susah berjalan, susah buang air besar dan dapat menyebabkan kematian.
3.1.1.6 Manajemen Pemasaran
Penjualan sapi dilakukan setiap sore hari dan pembeli datang langsung ke peternakan. Sapi yang akan dibeli digiring ke cattle yard, kemudian diberikan inisial dari nama pembeli pada bagian punggung menggunakan cat, kemudian sapi ditimbang untuk mengetahui bobot akhir. Penentuan harga oleh perusahaan untuk sapi penggemukan berdasarkan pertimbangan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, bobot badan sapi serta harga pasar harga jual untuk sapi fattening yaitu Rp 38.500,00.
Menurut Sugeng (2001) pada saat peternak menjual sapi disarankan berdasarkan bobot badan atau bobot karkas. Sebaiknya dihindari penjualan sistem taksiran atau perkiraan harga, terkecuali bila peternak sudah sangat berpengalaman sehingga tidak merugi. Beberapa hari sebelum penggemukan
selesai, peternak sebaiknya telah mengetahui sasaran pemasaran serta harga sapi yang akan dijualnya. Penaksiran harga itu didasarkan pada bobot badan dan harga sapi yang sedang berlaku dipasaran. Akan lebih baik apabila penjualan sapi dapat diatur pada saat harga sapi sedang baik. Setiap peternak yang melakukan penggemukan sapi hendaknya selalu memonitor harga sapi di pasaran agar jangan sampai tertipu oleh harga penawaran pedagang ternak (Siregar, 2008).
Gambar 8. Penjualan sapi 3.1.2 Kegiatan Insidental
3.1.2.1 Pengadaan dan penanganan sapi yang baru datang
Menurut Sugeng (2001) sapi yang di usahakan sebagai ternak potong mempunyai ciri antara lain ukuran tubuh besar berbentuk persegi panjang atau balok, kualitas dagingnya baik, laju pertumbuhannya cepat, efisiensi pakannya tinggi. Sapi yang akan digemukan di PT Lembu Jantan Perkasa yaitu bangsa sapi Brahman cross yang memilki ciri-ciri berwarna putih, abu-abu sampai kehitaman dengan moncong warna hitam, dan berpunuk. Sapi Brahman Cross adalah hasil persilangan antara Hereford dan Shorthorn dengan proporsi masing-masing 25 %
dan darah Brahman sebesar 50 % (Soeprapto dan Abidin, 2006). Bakalan yang digunakan di PT Lembu Jantan Perkasa berasal dari supplier di Australia.
Pengangkutan sapi dari Australia, menggunakan kapal menuju Pelabuhan Merak Banten.
Penanganan sapi yang baru datang sangat penting dilakukan oleh suatu perusahaan. Hal ini dilakukan agar sapi tidak mengalami stress sehingga akan mengalami penyusutan bobot badan yang cukup besar. Penanganan ini meliputi dari pengambilan sampel darah oleh dinas karantina hewan, pemberian obat cacing (deworming), penimbangan dan pemasangan ear tag. Penanganan ini dilakukan pada saat sapi baru datang. Setelah digiring ke kandang, sapi akan diberikan pakan dan minum yang telah diberi ATP plus kemudian sapi dibiarkan selama satu malam agar ternak tidak mengalami stress dan dapat beradaptasi dengan lingkungan kandang (recondition and adaptation). Program deworming ini sangat penting karena cacing merupakan salah satu parasit dalam tubuh yang sangat merugikan, baik parasit yang bersarang dalam usus maupun yang dihati (Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Untuk persiapan kandang sebelum sapi datang, kandang dibersihkan dengan cara mengerok feses kering yang menempel pada dinding kandang dan juga pakan. Untuk pemberian pakan hijaun dan konsentrat, sapi akan diberikan pakan tersebut secara bertahap sesuai dengan umur pemeliharaan sampai umur 21 hari.
Kemuadian setelah 3 minggu sampai penjualan sapi diberi pakan yang sama.
3.1.2.2. Penimbangan Bobot Sapi
Penimbangan bobot badan sapi dilakukan pada awal kedatangan sapi, pada saat sapi akan dijual/dikirim dan setiap satu bulan sekali (reweight), untuk
mengetahui pertambahan bobot badan selama 30 dan 60 hari. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) rata-rata sapi setelah pemeliharaan 60 hari pada kandang F sebesar 1,2 kg/hari. Sapi yang ditimbang hanya sapi dari kandang F sehingga dapat diatur kebutuhan pakan sapi tersebut dan pengelompokan sapi berdasarkan bobot badan dan jenis kelamin. Hal tersebut sangat penting agar pembagian pakan merata antara sapi dengan sapi yang lainya.
Tabel 3. Pertambahan bobot sapi umur pemeliharaan 60 hari No
.
Kandang Populasi (ekor)
Rataan bobot awal
(kg)
Rataan bobot akhir (60 hari) (kg)
PBBH (kg/hari)
1 FI 42 271 328,5 1,6
2 F2 47 270 303,5 0,9
3 F3 60 235 309,5 2.1
4 F4 41 234 259,5 0,7
5 F5 60 238 295,5 1,6
6 F6 60 234 259,5 0,7
7 F7 59 239 290,5 1,4
8 F8 60 230 266,5 1,0
9 F9 54 233 270,5 1,1
rata-rata 242.67 287,1 1,2
Gambar 9. Timbangan sapi
Penimbangan dilakukan setelah proses pemberian pakan yang menyebabkan rataan bobot akhir cukup tinggi, sehingga untuk mendapatkan bobot akhir maka harus dikurangi isi rumen. Berat isi rumen sapi yaitu 24,5 kg (Yakin, dkk., 2012). Penimbangan menjadi kegiatan rutin dalam usaha penggemukan sapi, sebab merupakan alat kontrol terhadap pertumbuhan ternak sehingga dapat diketahui pertumbuhan bobot badan ternak per ekor per hari.
3.1.2.3. Penomoran Sapi
Identitas sapi dapat dikenali dari ear tag serta RF-ID yang dipasang di telinga sapi. Sapi betina menggunakan ear tag berwarna putih sedangkan sapi pejantan berwarna oranye (Gambar 10 dan Gambar 11). Huruf S berarti Serang dan huruf L berarti Lembu Jantan Perkasa sedangkan angka 1 menunjukkan bahwa sapi datang pada bulan Januari atau periode pertama dan angka yang berukuran besar adalah nomor identitas sapi tersebut.
Gambar 10. Ear tag sapi pejantan
Gambar 11. Ear tag sapi betina
Gambar 12. Pemasangan ear tag
Pemasangan ear tag dengan menggunakan suatu alat yaitu aplikator yang berfungsi untuk menjepit ear tag ke telinga sapi. Penandaan ear tag dilakukan dengan cara ditusukkan pada daerah telinga dengan tidak mengenai pembuluh darah karena akan menyebabkan darah keluar. Ear tag terbuat dari bahan plastik
atau logam alumunium. Keuntungan penggunaan ear tag antara lain mencegah terjadinya kesalahan atau tertukarnya nomor penandaan antara sapi yang satu dengan sapi yang lainnya. Saat ini, ada ear tag yang berisi insektisida berupa zat kimia aktif tertentu misal permethin 10% yang disebut Insecticide Ear Tag (Santosa 2008). Bersamaan dengan pemasangan ear tag, sapi-sapi ditimbang untuk mengetahui bobot badan awal biasnya dilakukan pada hari ke 3 umur pemeliharaan, kemudian diinjeksi dengan biosan dan diberikan obat cacing. Sapi dikelompokkan berdasarkan jenis dan bobot badannya.
3.1.3. Kegiatan Penunjang 3.3.3.1. Diskusi
3.3.3.1.1. Pembuatan konsentrat
PT Lembu Jantan Perkasa bekerja sama dengan PT Lembu Satwa Prima dalam penyedia bahan pakan konsentrat. Pabrik tersebut memiliki luas 1.200 m² dan memiliki 2 mixer vertikal kapasitas 2 ton dan 3 ton, yang berfungsi mencampur bahan baku konsentrat menjadi satu. Mesin tersebut bekerja berdasarkan putaran spiral baja yang digerakkan oleh dinamo. Spiral tersebut berfungsi memutar dan mengaduk bahan baku. Sedangkan mixer horizontal berkapasitas 150 kg berfungsi untuk mencampurkan bahan mikro.
Proses pembuatan konsentrat dimulai dari material yang besar seperti onggok, jagung, bungkil kopra, bungkil sawit lalu dimasukkan ke dalam mixer.
Bahan baku tidak dimasukkan sekaligus tetapi dilakukan secara bertahap. Bahan baku tersebut diaduk selama 10 menit setelah itu dikeluarkan dan sudah menjadi produk jadi lalu dimasukkan ke dalam karung dan ditimbang untuk masing- masing karung seberat 50 kg.
Gambar 13. Mixer berbentuk vertikal
Gambar 14. Mixer berbentuk horizontal
Perusahaan memproduksi tiga jenis pakan yaitu, pakan untuk penggemukan, pembibitan, sapi lepas sapih, dan pakan yang dijual. Pakan untuk sapi lepas sapih mengandung serat kasar agak rendah, yaitu kisaran maksimal 9%
dan mengandung protein 19-20 %. Kandungan serat kasar yang rendah diberikan pada pedet lepas sapih karena dalam rumen sapi yang lepas sapih belum
berkembang sempurna. Pakan untuk sapi yang digemukkan kandungan protein 13-15 % dengan kandungan serat kasar maksimal 11%.
3.3.3.1.2. Hijauan makanan ternak
Hijauan yang ada adalah rumput Taiwan (Taiwan grass). Sumber hijauan berasal dari kebun rumput seluas 8,1 ha yang diolah oleh unit HMT, plasma seluas 3,9 ha serta jerami padi. Plasma dilakukan karena jumlah hijauan yang tersedia di farm tidak mencukupi (Lampiran 4). Kegiatan yang dilakukan di unit HMT adalah persiapan lahan, penanaman, pemupukan, perawatan, pemanenan, penanganan pasca panen dan distribusi.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah persiapan lahan. Persiapan lahan yang dilakukan meliputi land clearing yaitu pembersihan areal atau pembukaan lahan yang akan ditanami rumput. Setelah dilakukan land clearing dibuat lubang tanam tempat penanaman stek dengan kedalaman 20 cm, selanjutnya lubang tanam diberi pupuk dasar. Pupuk dasar yang diberikan adalah pupuk organik dan pupuk kandang. Penanaman rumput diawal musim hujan dilakukan setelah persiapan lahan selesai. Proses penanaman yaitu dengan menyiapkan stek minimal memiliki 5 ruas (mata tunas). Penanaman stek dilakukan dengan cara memasukan 2 ruas (mata tunas) ke dalam tanah kemudian lubang tanam ditutup dengan tanah halus dengan jarak tanam yang digunakan adalah 0,5m x 0,75m.
Pemupukan awal dilakukan pada saat persiapan dan pembukaan lahan.
Pupuk yang diberikan sebanyak 40 ton per ha. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang karena menurut Kaharudin dan Farida (2010) pupuk yang berasal dari limbah ternak mengandung unsur hara baik mikro maupun makro yang lengkap (N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, Mn, B dan S). Pemberian pupuk dengan
cara menebar diantara tanaman atau jalur tanaman. Pemupukan ke dua dilakukan setelah panen kedua dengan jumlah pemberian tergantung pada rumput saat panen sebelumnya. Apabila hasil panen sudah baik maka jumlah pemberian pupuk tetap dan apabila hasil panen berkurang maka jumlah pemberian pupuk akan ditambahkan 3-5 ton per ha. Pemupukan selanjutnya dilakukan setiap dua kali panen, dalam satu tahun hanya melakukan tiga kali pemupukan. Rumput dipanen saat umur 60 hari tiap 1 m2 menghasilkan 5-6 kg rumput Taiwan. Sebelum masa panen tiba dilakukan perawatan rumput dengan membersihkan hijauan dari gulma sebulan setelah penanaman agar kebun rumput bersih dan membuat gundulan atau olah tanah dengan tujuan mendekatkan unsur hara pada hijauan. Cara pemanenan pada musim kemarau dan penghujan berbeda. Rumput yang dipanen pada musim kemarau dipotong pada ruas rumput paling bawah dengan menyisakan 1-2 ruas agar timbul tunas kembali, sedangkan pemanenan rumput pada musim penghujan yaitu dengan memotong dan menghabiskan semua ruas karena kadar air masih bagus dan akan menjadi anakan. Rumput yang sudah dipanen kemudian diikat, dibawa menggunakan truk menuju tempat timbangan dan untuk dicacah menggunakan mesin chopper. Terdapat 2 mesin chopper rumput. Rumput yang sudah dicacah dimasukan ke dalam karung dengan berat tiap karung 15 kg.
Tujuan pengarungan adalah untuk mempermudah pendistribusian ke kandang.
Unit HMT mendistribusikan rumput ke kandang sesuai dengan pemesanan dari tiap unit. Pendistribusian dilakukan menggunakan truk.
Menurut Sembiring (2002) pemanenan dilakukan pada umur rumput sekitar 60 hari. Tujuan dilakukan pemanenan untuk menyeragamkan pertumbuhan rumput berikutnya. Musim kemarau, umur panen lambat yaitu 60-75 hari,
sedangkan pada musim hujan umur panen lebih cepat yaitu 50 hari dan produksi hijauan cukup tinggi.
3.3.3.1.3. Unit pengolahan limbah
Limbah terdiri atas dua jenis yaitu limbah cair dan padat. Limbah padat dimasukkan ke dalam karung dan ditumpuk di saung pupuk untuk difermentasi secara alami sehingga dapat langsung digunakan sebagai pupuk untuk kebun rumput. Limbah yang sudah difermentasi selama 1-2 bulan dikemas dalam karung berkapasitas 25-30 kg. Pupuk tersebut dijual dengan harga Rp 250,00/kg.
Total limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari jenis ternak, jumlah ternak, besar usaha dan tipe usaha. Pada sapi potong setiap kilogram daging sapi menghasilkan 2,5 kilogram feses (Sihombing, 2000). Limbah yang terdiri dari feses dan urine merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar limbah peternakan dihasilkan oleh ternak ruminansia yang berupa limbah cair dan padat. Limbah cair berasal campuran feses, urin dan air bekas membersihkan kandang. Limbah cair dialirkan ke tempat penampungan limbah atau holding pond, kemudian dialirkan ke filtrasi pond untuk menyaring limbah padat dengan limbah cair dan mengendapkan limbah padat.
Limbah padat akan terbawa ke kolam dan mengendap, sedangkan limbah cair akan terus mengalir menuju kolam aerobik, lalu dialirkan ke sungai dan sawah milik masyarakat di sekitar perusahaan. Limbah padat yang mengendap di kolam filtrasi akan dimasukkan ke dalam karung untuk dikeringkan dan dijual Rp 250,00/kg. Menurut Kaharudin dan Farida (2010), kotoran ternak dapat langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan kemudian limbah padatnya masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Gambar 15. Kolam penampungan limbah 3.3.3.2. Kunjungan ke rumah pemotongan hewan (RPH)
Rumah potong hewan yang kami kunjugi adalah RPH Trondol. RPH Trondol adalah salah satu RPH yang telah diaudit dan mendapatkan izin untuk melakukan pemotongan sapi-sapi yang berasal dapi PT Lembu Jantan Perkasa.
RPH Trondol melakukan pemotongan sapi-sapi hasil penggemukan maupun sapi slaughter. Akan tetapi, kebanyakan pembeli dan jagal kurang menyukai sapi-sapi slaughter karena dianggap memiliki proporsi daging yang lebih sedikit dan lebih benyak menghasilkan lemak dan tulang terutama pada bagian kepala dan kaki.
Hal ini dapat disebabkan karena umur yang sudah terlalu tua serta waktu yang lama di peternakan sehingga pertumbuhannya lebih banyak menghasilkan lemak.
Hafid dan Priyanto (2006) menyatakan bahwa bagian tubuh yang paling lambat bertumbuh adalah bagian pinggang (loin) sedang yang paling awal bertumbuh adalah bagian tungkai kaki dan kepala (cranium). Sapi yang akan dipotong, terlebih dahulu dicatat nomor telinganya dalam catatan harian.
Gambar 16. Pneumatic/hand stuner
Proses pemotongan sapi diawali dengan cara pemingsanan (stunning), kemudian disembelih dan memisahkan bagian karkas dan non karkas, hingga akhirnya diperoleh daging sapi yang siap dipasarkan. Peralatan yang digunakan dalam proses pemotongan meliputi kandang jepit, pisau dan pengasah, pneumatic/hand stuner dan peluru, serta trolley. Daging-daging yang dihasilkan akan dipasarkan pada hari itu juga sehingga kesegaran daging-daging tersebut tetap terjaga.
3.1.4. Analisis Ekonomi
Perhitungan analisis kelayakan usaha penggemukan sapi di PT Lembu Jantan Perkasa dilakukan pada sapi yang telah mencapai umur pemeliharaan 60 hari. Perhitungan analisis kelayakan yang lebih rinci disediakan pada Lampiran 3
Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan untuk sarana produksi dan berkali-kali dapat dipergunakan. Biaya tetap antara lain berupa lahan usaha, kandang, peralatan yang digunakan dan sarana transportasi (Siregar, 2008).
Bahkan bila untuk sementara waktu produksi dihentikan biaya tetap ini tetap harus dikeluarkan dalam jumlah yang sama. Biaya tetap yang dikeluarkan PT Lembu Jantan Perkasa antara lain penyusutan kandang, sewa kendaraan, sewa kandang dan peralatan. Total biaya tetap yang dikeluarkan oleh PT Lembu Jantan Perkasa adalah sebesar Rp 27.125.681,00.
Biaya variabel adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan faktor-faktor produksi variabel suatu proses produksi, besarnya biaya ini tergantung dari jumlah produksi yang akan dihasilkan. Biaya variabel jumlahnya dapat berubah-ubah sesuai hasil produksi dan harga dipasaran pada waktu itu.
Biaya yang dapat berubah-ubah antara lain berupa biaya pakan, upah tenaga kerja, penyusutan peralatan dan biaya lain yang berupa penerangan/listrik, sumbangan, pajak usaha dan iuran (Sudarmono dan Sugeng, 2008). Biaya variabel yang dikeluarkan PT Lembu Jantan Perkasa dipengaruhi oleh biaya pembelian ternak, biaya pembelian bahan pakan, dan biaya operasional lainnya. Total biaya variabel yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 5.250.065.422,00 per satu periode penggemukan.
Analisis break even point (BEP) adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan, dan volume kegiatan (Riyanto, 2001). Analisis break even point digunakan dengan tujuan untuk mengetahui berapa minimal perusahaan harus menghasilkan dan menjual produk agar tidak menderita kerugian atau titik impas yang menunjukan keadaan suatu perusahaan tidak memperoleh laba dan juga tidak mengalami kerugian..
Dilihat dari jumlah seluruh penerimaan break even point dicapai pada tingkat hasil penjualan produksi sebesar Rp 142.766.742,00 dan BEP dalam produk sebesar
3.719 kg. BEP perusahaan diusahakan seminimal mungkin karena ternak yang dijual untuk menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan menjadi lebih sedikit.
Salah satu cara untuk mengetahui keberhasilan suatu kegiatan usaha adalah dengan cara melakukan perhitungan efisiensi. Efisiensi ekonomi dapat dilihat dari sudut biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan usaha dan dari jumlah modal yang dibutuhkan untuk membelanjakan kegiatan usaha. Jumlah penerimaan dapat digunakan untuk menentukan keuntungan. Keuntungan adalah jumlah rupiah yang diperoleh dari pendapatan bersih suatu usaha (Makkan, 2014).
Keuntungan adalah selisih antara penerimaan total dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. PT Lembu Jantan Perkasa mendapat keuntungan sebesar Rp 206,476.947,00 per periode.
Besarnya perhitungan Return Cost Ratio yaitu 1,03 yang berarti dari penggunaan biaya sebesar Rp 100,00 memperoleh penerimaan sebesar Rp 103,00.
Hal tersebut berarti perusahaan tersebut sudah efisien dalam penggunaan biaya.
Namun angka tersebut masih kecil agar R/C tinggi maka perusahaan harus menekan biaya produksi terutama pakan. Sesuai dengan pendapat Riyanto (2001) bahwa tingkat keuntungan relatif dapat diukur dengan analisis imbangan penerimaan dengan biaya atau anlisis R/C rasio.
Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka rentabilitas sebesar 3,6 % per dua bulan atau 1,8 % perbulannya. Berarti modal yang digunakan untuk menjalankan usaha efisien dibandingkan jika modal disimpan di bank yang saat ini bunga modalnya hanya 6 % pertahun atau 0,5% per bulan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan
1. PT Lembu Jantan Perkasa merupakan perusahaan besar yang bergerak dibidang fattening, breeding, dan trading.
2. Pemberian air minum dan pakan di PT Lembu Jantan Perkasa sudah mencukupi kebutuhan ternak.
3. Manajemen pemeliharaan sapi potong di PT Lembu Jantan Perkasa sudah baik dilihat dari penanganan sapi datang sampai siap jual sudah sesuai dengan animal walfare serta PBBH yang tinggi mencapai 1,2 kg/ekor/hari.
4. Penggunaan kandang di PT Lembu Jantan Perkasa belum efisien karena sapi yang dipelihara tiap kandang tidak terisi penuh sesuai kapasitasnya.
5. Perusahaan layak untuk dijalankan karena memilki rentabilitas 1,8% per bulan dan memilki R/C 1,03.
6. Penggunaan limbah kurang optimal karena hanya dibuat pupuk tidak ada pengolahan selanjutnya
4.2. Saran
1. Penggunaan kandang seharusnya dimanfaatkan secara optimal karena masih banyak kandang yang kosong.
2. Limbah kotoran ternak perlu diolah lebih lanjut tidak hanya untuk pupuk kandang saja tetapi bisa buat biogas.
3. Perusahaan harus menekan biaya pakan seminimal mungkin tanpa mempengaruhi jumlah pakan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Hafid, H. dan H, Priyanto. 2006. Pertumbuhan dan Distribusi Potongan Komersial Karkas Sapi Australian Commercial Cross dan Brahman Cross Hasil Penggemukan. Jurnal Meddia Peternakan. 29(2).
Ibrahim, R.M, D.E.Goll, J.A. Marchello, G. C. Duff, V. F. Thompson. S. W. Marres.
dan H. A. Ahmad. 2008. Effect of Two Dietary Concentrate Levels On Tenderness, Calpain and Calpastatin Activities, and Carcass Merit In Waguli and Brahman Steers. Jurnal of Animal Science 86 : 1426-1433.
Kaharudin dan M. S. Farida 2010. Petunjuk Manajemen Umum Limbah Ternak untuk Kompos dan Biogas. Balai Pengkajian Teknologi Peternakan Nusa Tenggara Barat. Mataram.
Makkan, R. J., A. Makalew, F.H. Elly, dan I.D.R. Lumenta. 2014. Analisis Keuntungan Penggemukan Sapi Potong Kelompok Tani Keong Mas Desa Tambulango Kecamatan Sangkub Bolang Mongondow Utara. Jurnal Zootek.
34(1): 28-36.
National Research Council (NRC). 2000. Nutrient Requirements of Beef Cattle. 7th Revised Edition. National Academy Press. Washington, D. C.
Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji Pratama. Yogyakarta.
Nurul, A., M. Junus dan M. Nasich. 2010. Pengaruh Penambahan Molases Terhadap Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Padatan Lumpur Organik Unit Gas Bio. Universitas Brawijaya. Malang.
Panjono, H., E. Baliarti, & Kustono. 2000. Performans Induk dan Pedet Sapi Peranakan Ongole yang Diberi Ransum Jerami Padi dengan Suplementasi Daun Gamal. Buletin Peternakan. 24(2).
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Purbowati, E. 2001. Keseimbangan Energi dan Nitrogen Domba yang Mendapat Berbagai Aras Konsentrat dan Pakan Dasar yang Berbeda. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor.
Purnomoadi, A., A. W. Bela dan S. Dartosukarno. 2003. Chewing Efficiency of Onggole Crossbred and Limosin Crossbred Steers Fed Fermented Rice Straw and Concentrates. Proseding Seminar Nasional Teknologi Peternakan &
Veteriner. Bogor. 104 – 105.
Rasyid, A. dan Hartati. 2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Riyanto, B. 2001.Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan.Cetakan kedua. BPFE.
Yogyakarta
Santosa, U. 2000. Tatalaksana Pemeliharaan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta
Santosa, U. 2008. Mengelola Peternakan Sapi secara Professional. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sarwono, B dan H. B. Arianto., 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sembiring. 2002. Prospek Integrasi Sistem Usahatani Terpadu Pemeliharaan Sapi Pada Lahan Irigasi Di Pulau Lombok. Wartazoa Buletin Ilmu Peternakan Indonesia. 12 (1): 9-17.
Setiadi, B. 2001. Beternak Sapi Daging dan Masalahnya. Aneka Ilmu. Semarang.
Setyaningrum, A, Y. Soebagyo, dan M.S. Yoga. 2003. Lecture Note Manajeme Ternak Potong. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.
Purwokerto.
Sihombing, D.T.H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan.
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup. Lembaga Penelitian. IPB.
Siregar, S.B. 2008. Penggemukan Sapi. Cetakan ke 16. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soeprato, H dan Z. Abidin. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Cetakan Pertama. Agromedia. Jakarta.
Sudarmono A.S dan Y. B. Sugeng. 2008. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.