• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan Konteks Sosio-kultural di Indonesia

N/A
N/A
Wahyu Aji Nugroho

Academic year: 2024

Membagikan "Kekuatan Konteks Sosio-kultural di Indonesia"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA

TOPIK 2 RUANG KOLABORASI

(2)

Anggota Kelompok

Wahyu Aji Nugroho, S.Pd Zulfa Nur Rokhisa, S.Pd Hadija, S.Pd

Sita Nurhayati, S.Pd

Afifah Maysyah Dwi H, S.Pd Nugraha Agil Pria A, S.Pd

(3)

Apa kekuatan konteks sosio-kultural (nilai- nilai luhur budaya) di daerah Anda yang

sejalan dengan pemikiran KHD?

1.

(4)

G o t o n g R o y o n g

Salah satu kekuatan konteks sosio-kultural (nilai-nilai luhur budaya) di daerah kami yang sejalan d engan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu gotong royong

Gotong royong memiliki arti bekerja

bersama-sama. Seperti tolong menolong, maupun bantu membantu diantara anggota

dalam suatu komunitas.

(5)

Pesta sekolah

Budaya gotong royong mensupport anak daerah

melanjutkan pendidikan. Kelurga mengadakan acara pesta,

membuat undangan, dan

menyebarkan undangan tersebut kepada masyarakat setempat.

Masyarakat bergotong royong dengan semangat bersama-sama

menyumbangkan dana untuk

melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi (perguruan tinggi)

Tradisi Pesta Sekolah

Nusa Tenggara

Timur

(6)

Rewang

Budaya gotong royong “ngerewangi” (tradisi dimana masyarakat saling gotong royong membantu sesama yang sedang menggelar pesta) contoh : Pesta pernikahan, orang meninggal, sambatan dll. Manfaat dari tradisi ini selain mmebantu waga yang memiliki hajatan, tetapi juga untuk mengetahui bagaimana pergaulan yang punya hajatan dimasyarakat. Artinya jika ada warga yang datang ke hajatan tersebut berarti bahwa yang punya hajatan itu memiliki pergaluan yang baik dari tetangganya, sebaliknya jika warga enggan datang berarti yang punya hajatan itu memiliki pergaulan yang tidak baik dengan tetangganya.

Tradisi Rewang

DI Yogyakarta

(7)

Bagaimana pemikiran KHD dapat

dikontekstualkan sesuaikan dengan nilai- nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter

peserta didik sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat pada konteks

lokal sosial budaya di daerah Anda?

2.

(8)

Menerapkan budaya lokal setempat dengan melestarikan adat dan budaya gotong royong dapat melatih siswa

dalam hal:

Kebersamaan 1.

Kekeluargaan 2.

Kekompakan 3.

Tolong menolong

4.

(9)

KONTEKSTUALISASI NILAI KEARIFAN BUDAYA

Dengan menerapkan pemikiran-pemikiran KHD yang

dikontekstualkan dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah, pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan

persediaan untuk segala kepentingan manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun berbudaya dalam arti seluas-luasnya.

Dengan menggabungkan pemikiran-pemikiran KHD pendidikan dapat menjadi alat yang lebih kontekstual dan relevan,

memperkuat karakter peserta didik sebagai individu dan

sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan sosial budaya.

(10)

3.

SEPAKATI SATU KEKUATAN PEMIKIRAN KHD YANG MENEBALKAN LAKU PESERTA

DIDIK DI KELAS ATAU SEKOLAH ANDA

SESUAI DENGAN KONTEKS LOKAL SOSIAL BUDAYA DI DAERAH ANDA YANG DAPAT

DITERAPKAN.

(11)

Satu kekuatan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sudah dapat diterapkan di sekolah adalah gotong royong dalam tradisi merewang dan tradisi sekolah.

Tradisi tersebut dapat diaplikasikan dalam berbabagai

bentuk di sekolah , contohnya, dalam kegiatan

pembelajaran siswa berkelompok untuk berdiskusi,

kemudian adanya pembagian piket sekolah, diadakan

iuran kas kelas, membantu siswa yang sedang sakit,

membantu warga sekolah jika ada keluarga yang

meninggal, dan pembiasaan jumat bersih yaitu gotong

royong membersihkan lingkungan sekolahan.

(12)

THANK YOU

Referensi

Dokumen terkait

Kekuatan konteks sosio-kultural yang ada di daerah tulungagung adalah a Adab dan sopan santun  Penerapan 5 S  Menunduk didepan orang yang lebih tua  Memakai baju yang sopan 