Motivasi Prespektif Al-Qur’an
Kelompok 02
D o s e n P e n g a m p u : D r s . M u k h l i s , M . S i
Anggota Kelompok
Zilatul Mulia (12260120387)
Fery Fadhlan Hd (12260113382) Mutya Salsabila
(12260123330)
Pokok Pembahasan
A. Pengertian Motivasi
D. Perbedaan Motivasi Prespektif al-Qur’an &
Barat
B. Fungsi Motivasi
5. Jenis-jenis Motivasiyang disebutkan dalam Al-Qur’an
C. Bentuk-Bentuk
Motivasi 6. Motivasi Orang Suci
Pengertian Etimologi
Dalam B.Arab motivasi disebut “hamasah” (ﻪﺳﺎﻤﺣ),
“ghairah” (ةﺮﻴﻏ), dan “nakhwah” (ةﻮﺨﻧ), yang berarti semangat. Kemudian kata hamasah sering digunakan untuk menunjukkan semangat sebagai keadaan atau suasana bathin. Sedangkan Ghairah dan Nakhwah adalah menunjukkan ghairah atau keinginan, karenanya dalam konteks motivasi lebih sering digunakan kata hamasah.
Dalam Bahasa Arab
Pengertian Etimologi
Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata “movere” yang artinya “menggerakkan”. Sedangkan dalam B.Inggris disebut dengan
“Motivation” yang berarti hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan.
Dalam Bahasa Inggris
Terminologi (Ahli Barat)
Harold Koontz O donnel n Heinz Weihrich,
Motivasi adalah
keseluruhan dorongan, keinginanan, kebutuhan,
dan daya yang sejenis yang mengarahkan
perilaku
Menurut winkel,
motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif pada
suatu saat tertentu.
Sedangkan motif adalah daya penggerak dalam diri
seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu, demi
mencapai tujuan tertentu.
RONIRI, SHOLAHUDDIN. (2007). 10-13.
Terminologi (Ahli Barat)
Menurut James P.Chaplin, Motivasi merupakan suatu
variabel penyelang yang
digunakan untuk menimbulkan faktor2 tertentu di dalam
organisme yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan dan
menyalurkan tingkah, laku menuju satu sasaran.
Menurut sarlito WS,
motif berarti ransangan, dorongan atau pembangkit tenaga bagi
terjadinya tingkah laku.
Sedängkan motivasi
merupakan istilah umum yang menunjukkan pada seluruh
proses gerakan, termasuk didalam situasi yang mendorong timbulnya
tindakan atau tingkah laku.
RONIRI, SHOLAHUDDIN. (2007). 10-13.
Terminologi (Tokoh Islam)
Menurut M. Ustman Najati, (dalam Abdul Rahman Shaleh, 2009:183)
Motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya
menuju tujuan tertentu.
Di dalam al-Qur'an terdapat banyak ayat yang menjelaskan mengenai motivasi.
Salah satunya terdapat di dalam Q.S. ar-Ra'd ayat 11:Allah berfirman
Terminologi (Tokoh Islam)
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu
”.kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri Ayat tersebut memberikan motivasi
kepada manusia untuk selalu berusaha dalam .melakukan segala sesuatu
Jadi, Motivasi merupakan dorongan yang dimiliki seorang individu yang dapat merangsang untuk dapat melakukan tindakan-tindakan
atau sesuatu yang menjadi dasar atau alasan seseorang untuk
berperilaku atau melakukan sesuatu. Tindakan tersebut dapat berlaku baik maupun buruk.
M. Ustman Najati, (dalam Abdul Rahman Shaleh, 2009:183)
Fungsi Motivasi
Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan
motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
1.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan
yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan
perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Sardiman dalam Miftah Hidayatun Nurul Hidayah (2021): 12-13
Bentuk Motivasi Prespektif Barat
Freud menyatakan: tingkah laku manusia digerakkan dan dimotivasi oleh sebuah energi yang dibawa sejak lahir, yang disebut "libido". Libido merupakan bentuk energi yang digunakan oleh insting-insting hidup untuk menjalankan tugasnya. Insting hidup yang paling ditekankan oleh Freud adalah seks yang bertempat di Id. Banyaknya insting seks ini sebanyak kebutuhan jasmani yang meningkatkan Hasrat- hasrat erotik. Jadi Freud menekankan motivasi pada seks.
a. Sigmund Freud
(Mukhlis dan Yuliana Intan Lestari, 2011: 177)
b. Abraham Maslow,
Sedangkan Dia mengatakan, motivasi hidup manusia tergantung pada kebutuhannya. Manusia memiliki lima hirarki kebutuhan taraf dasar. Perspektif Maslow menentukan bahwa setelah kebutuhan awal terpenuhi, orang tersebut bergerak menuju aktualisasi diri. Namun, Islam mempersiapkan manusia sejak awal untuk termotivasi menuju pencapaian aktualisasi diri (tingkat motivasi tertinggi). Tingkat motivasi maksimum dalam Islam adalah pahala surga dan kesenangan Allah yang diterima seseorang dari pembebasan perbuatan baik, kerja keras, dan pengabdian terhadap tujuan duniawi dan spiritual.
(Mukhlis dan Yuliana Intan Lestari, 2011: 177)
Physiological needs (kebutuhan fisiologis), yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup, seperti kebutuhan terhadap makan, minum, pakaian, udara dan tempat tinggal.
Safety needs (kebutuhan keamanan), yaitu kebutuhan kepada rasa aman dari kekerasan fisik maupun psikis, seperti lingkungan yang aman bebas polusi, kesehatan kerja, perlindungan keselamatan atau bebas dari ancaman apa pun.
Social needs (kebutuhan social) yaitu kebutuhan kepada ingin dicintai dan mencintai.
Sebagai makhluk sosial, manusia dalam menjalankan kehidupan memerlukan keluarga dan teman.
Esteem needs (kebutuhan penghargaan) Maslow mengemukakan bahwa setelah terpenuhinya kebutuhan psikologis, keamanan dan sosial, setiap orang punya harapan agar di akui oleh orang lain dan dihargai akan individunya.
Self Actualization, (kebutuhan aktualisasi diri) menurut Maslow kebutuhan ini merupakan kebutuhan tertinggi karna bahwa setiap individu ingin mengembangkan seluruh kapasitas kebutuhan pribadinya terpenuhi.
Abraham Maslow mengemukakan lima hierarki kebutuhan hidup manusia, dimana kelima menjadi kebutuhan hierarki sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
( Adi Kurniawan, 2022:29)
Bentuk Motivasi Prespektif Islam
Dalam konsep Islam, Rasulullah Saw mengajarkan, motivasi hidup berkaitan dengan tahapan hidup manusia. Secara garis besar kehidupan manusia terbagi atas tiga
tahapan, yaitu:
a. Tahapan pra kehidupan dunia yang disebut alam perjanjian atau alam semesta (QS. Al- A’raf: 172).
ْنَاۛ ﺎَﻧْﺪ ِﻬ َﺷ ﲆَﺑۛ ٰ اْﻮُﻟﺎَﻗ ْۗﻢُﻜﱢﺑَﺮِﺑ ُﺖ ْﺴَﻟَا ْۚﻢ ِﻬ ِﺴُﻔْﻧَا ٰٓﲆَﻋ ْﻢُﻫَﺪ َﻬ ْﺷَاَو ْﻢُﻬَﺘﱠﻳﱢرُذ ْﻢ ِﻫِرْﻮُﻬ ُﻇ ْﻦ ِﻣ َمَدٰا ْٓﻲِﻨَﺑ ْۢﻦِﻣ َﻚﱡﺑَر َﺬَﺧَا ْذِاَو
َۙﻦْﻴِﻠِﻔٰﻏ اَﺬٰﻫ ْﻦَﻋ ﺎﱠﻨُﻛ ﺎﱠﻧِا ِﺔَﻤٰﻴِﻘْﻟا َمْﻮَﻳ اْﻮُﻟْﻮُﻘَﺗ 172. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Abdul Khaliq, (2013): 14-16
Bentuk Motivasi Prespektif Islam
b. Tahapan kehidupan dunia
Untuk aktualisasi diri terhadap amanah yang diberikan pada alam pra kehidupan dunia. Pada tahap ini realisasi atau aktualisasi diri manusia termotivasi oleh pemenuhan amanah. Kualitas hidup seseorang sangat tergantung pada kualitas pemenuhan amanah.
Abdul Khaliq, (2013): 14-16
Bentuk Motivasi Prespektif Islam
c. Tahapan alam pasca kehidupan dunia yang disebut hari penghabisan pembalasan/hari penegakan keadilan.
Pada kehidupan ini, manusia diminta oleh Allah Swt untuk mempertanggung jawabkan semua aktivitasnya, apakah aktivitas yang dilakukan sesuai dengan amanah atau tidak.
Jika sesuai maka ia mendapatkan surga (puncak kenikmatan psikofisik manusia). Jika tidak maka ia mendapatkan neraka (puncak kesengseraan psikofisik manusia). Dengan demikian jelaslah bahwa motivasi hidup manusia hanyalah realisasi atau aktualisasi amanah Allah Swt semata.
Abdul Khaliq, (2013): 14-16
1. Kewajiban untuk taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah
2. Menegakkan hukum waris, pidana dan perdata
3. Menjalankan aturan agama
4. Bertauhid dan menegakkan keadilan
5. Menemukan hukum alam menguasainya
Bentuk Amanah dalam Islam
MUKLIS, & YULIANA INTAN LESTERI. (2011):178-179
a. Tingkatan al-Khatir, yaitu gerak dan lintasan batin untuk menginginkan melaksanakan amanah. Gerakan batin ini masih samar, sehingga seseorang belum mampu membedakan apakah lintasan batin itu berasal dari dalam dirinya atau dari luar
Tingkatan Amanah
Al - Ghazali dalam Khaliq, Abdul. (2013). 15-16
Tingkatan Amanah
Al - Ghazali dalam Khaliq, Abdul. (2013). 15-16
b.Tingkatan Azam, yaitu tekad yang bulat untuk melaksanakan amanah. Pada tingkat ini, seseorang hendak bertikad memulai pekerjaan, dengan mempersiapkan segala sarana yang mendukungnya. Azam menurut Ibnu Qayyim (1992) memerlukan ilmu yang berfungsi sebagai pembeda antara tujuan yang benar dan yang salah, memerlukan kesungguhan dalam meraih tujuan dengan cara istiqomah, dan menghilangkan segala rintangan dan hambatan yang menyumbat
terpenuhinya azam.
c. Tingkatan Niat. Niat adalah kesadaran dan komitmen Ilahiah yang mendorong atau memotivasi seseorang untuk beraktivitas memenuhi amanah. Tanpa niat maka aktivitas manusia tidak dianggap sebagai suatu ibadah.
Tingkatan Amanah
Al - Ghazali dalam Khaliq, Abdul. (2013). 15-16
Tingkatan Amanah
Al - Ghazali dalam Khaliq, Abdul. (2013). 15-16
d. Tingkatan af’al. Af’al berarti merealisasikan apa yang pernah terlintas di dalam azam dan niat. Kemudian jika dilihat dari aspek pemenuhan kebutuhan manusia, dalam islam, kebutuhan manusia itu dibagi menjdi kebutuhan jasmani (lahiriyah) dan kebutuhan rohani/ spritual (batiniyah), maka tingkah laku manusia tidak hanya dimotivasi untuk memenuhi kebutuhan jasmaní, tetapi juga tingkah laku manusia di motivasi utk memenuhi kebutuhan rohani/spritual
Dorongan2 yg memotivasi tingkah laku manusia utk memenuhi kebutuhan rohani inilah yg kemudian disebut dgn motivasi spritual
Petunjuk (Hidayah)
Hidayah hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah Swt. (QS Al-Nahl:37). Juga diberikan kepada orang beriman, mengerjakan shalat, zakat dan takut kepada Allah Swt. (QS Al-Taubah:18). Dorongan untuk mendapatkan hidayah membuat seseorang mau melakukan ibadah shalat, zakat dengan perasaan takut kepada Allah dan penuh keimanan karena Cahaya iman dapat mengusir gelapnya kemusyrikan, memancarkan keikhlasan dan mendapatkan harapan.
1.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
2. Islam (Beragama/Memeluk Islam)
Kepribadian Muslim yang terlatih dan terus-menerus mendapatkan pemeliharaan akan mampu menimbulkan motivasi yang tinggi dalam menegakkan kebenaran di muka bumi. Motivasi Islam akan mendudukkan seseorang kepada proporsi kemanusiaannya. Ia akan dianggap baik di hadapan manusia lain dan dipandang baik oleh Allah Swt.
Sebenarnya seorang Muslim melakukan jihad dan beramal saleh semata- mata karena tuntutan Islam
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
3. Cinta (Hubb)
Cinta kasih Allah Swt. diberikan kepada hamba-Nya yang bertakwa (QS Al-Taubah:4), Kemudan cinta kasih juga diberikan kepada hambanya yang muhsinin (QS Al-Maidah:13), Cinta Allah Swt. kepada makhluk-Nya merupakan motivasi, mengapa kaum sufi rela untuk menyendiri (uzlah) dan rela dipandang rendah oleh sesama makhluk asalkan cinta Allah Swt. dapat diraih dan kebutuhan spiritualnya akan cinta dapat digenggam erat-erat dan hanya merekalah yang mampu menikmatinya.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
4. Kerajaan/Kekuasaan (Mulk)
Hamba Allah Swt yang membela agama dengan berperang melawan musuh akan diberikan kerajaan (mulk)-Nya (QS Al- Baqarah:246). Membangun sebuah kekuatan Islam yang lahir dari kerajaan Allah adalah motivasi terbesar para mujahid (relawan perang) dan mujtahid (relawan untuk belajar agama Allah Swt.). Dalam beraktivitas selama hidup, dorongan ini amat besar. Jika tidak terpenuhi, mereka yakin anak cucunya tidak akan bisa hidup tenang
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
5. Surga (Jannah)
Balasan Allah Swt. yang tertinggi adalah surga, yaitu berupa tempat yang paling indah, kenikmatan yang paling menakjubkan, kondisi yang paling diimpi-impikan.Dinding penghalang antara manusia dengan surga adalah syahwat, maka ia dituntut untuk menjinakkannya dan tidak sekali- kali memberi kesempatan untuk mengatur hidupnya.
Seorang Muslim rela menjaga kehormatannya karena didorong oleh keinginannya untuk hidup bahagia di surga.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
6. Pertolongan
Allah Swt. memberikan pertolongan di dunia dan di akhirat (QS Al-Haj:15). Pertolongan-Nya dapat berupa syafa'at, yaitu pertolongan melalui perantara makhluk-Nya yang mulia, saleh dan baik. Seorang Muslim melakukan islah (perbaikan) di muka bumi, baik berupa pelestarian alam, hemat energi, hidup sehat, dan lain-lain, didorong oleh rasa yang paling dalam agar kelak mendapat pertolongan Allah Swt. la meyakini bahwa barang siapa melakukan kebaikan dan perbaikan kelakakan mendapat pertolongan Allah Swt.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
7. Persatuan (Ummatan Wahidah)
Sudah menjadi impian manusia untuk hidup bersatu (OS Al-Bagarah:213). Bersatu dalam segala bidang merupakan dorongan (motivasi) setiap makhluk. Dalam Islam ada konsep ta’aruf (saling mengenal). Manusia dari yang satu kembal ingin bersatu menemukan bagian lain dari dirinya.
Dorongan ini amat kuat pada setiap pribadi. Tak ada manusia yang talian hidup sendiri dan terasingkan. Betapa pun ia terlihat sendiri tentu ada hal lain yang menemani kesepiannya dalam hidup.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
8. Kebahagiaan (al-Falah)
Mereka yang berbahagia adalah hamba Allah Swt. yang paling banyak timbangan kebaikannya ketika datang hari perhitungan (yaum al-hisab) (QS Al-'A'raf:8). Juga mereka yang bertaubat setelah berbuat dosa dengan sebenar- benarnya taubat, beriman dan selalu beramal saleh (QS Al- Qashash:67). Kebahagiaan merupakan motivasi semua orang dalam melakukan kebajikan. Islam memberikan garis bahwa kebahagiaan didapat dengan iman, amal saleh yang banyak untuk menambah timbangannya pada hari perhitungan.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
9. Kemenangan (al-Fauz)
Kemenangan diperoleh oleh orang yang bersabar (QS Al- Mu'minun:111). Mereka yang dulu beriman kemudian hijrah bersama Nabi ke Madinah dan orang yang sanggup bermujahadah sepanjang hidupnya (QS Al-Taubah: 18).
Mujahadah berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu, Mujahadah merupakan sarana menuju kemenangan. Hati mereka selalu tenang dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari terutama dalam beribadah. Tingkat spiritual seseorang mujiahid sangat membantu untuk memenuhi dorongan berupa kemenangan batin.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
10. Berjumpa dengan Allah (Liga Allah)
Ada satu faktor yang dapat menjamin seseorang melaksanakan aturan yang telah ditetapkan dan tidak melakukan penyelewengan serta berbuat keiahatan. Faktor ini berupa keyakinan seseorang bahwa dia pasti bertemu dengan Allah Swt. pada suatu waktu. Pada sat itulah manusia dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya. Faktor ini mendorong seorang Muslim untuk menjadi makhluk terbaik di hadapan Tuhannya.
Bentuk Motivasi Spiritual
(Jiwa dan Roh Manusia)
(Rafy Sapuri, 2009:225-241)
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Sumber Motivasi
Al-Qur’an
Dalam Prespektif Al-Quran ini, yang menjadi pendorong mat Islam dalam berperilaku tentunya didasarkan pada motif (niat) lillahi ta'ala. Niat itulah yang meniadi motivasi, sebab adanya nit itu bisa meniadikan kita untuk bergerak selalu beribadah kepada Allah SWT.
Berikut ini ada ayat yang menjelaskan tentang Motivasi yang termaktub pada QS. Al- Bayyinah ayat 5 :.
ِﺔ َﻤﱢﻴَﻘْﻟٱ ُﻦﻳِد َﻚِﻟَٰذَو ۚ َةٰﻮَﻛﱠﺰﻟٱ ۟اﻮُﺗْﺆُﻳَو َةٰﻮَﻠ ﱠﺼﻟٱ ۟اﻮُﻤﻴِﻘُﻳَو َءﺂَﻔَﻨُﺣ َﻦﻳﱢﺪﻟٱ ُﻪَﻟ َﻦﻴ ِﺼِﻠْﺨ ُﻣ َﻪﱠﻠﻟٱ ۟اوُﺪُﺒْﻌَﻴِﻟ ﱠﻻِإ ۟آوُﺮِﻣُأ ﺂ َﻣَو
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus".
ZUBAIRI. (2023): 22-23
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Sumber Motivasi
Barat
Sumber Motivasi dalam Barat: Motivasi dalam sumber barat memiliki berbagai teori yang berbeda, seperti motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik melibatkan motivasi internal buat melakukan sesuatu buat kepentingan diri sendiri tanpa rangsangan dari luar, sementara motivasi ekstrinsik motivasi yang adanya karena rangsangan dari luar, melibatkan motivasi yang dihasilkan oleh kebutuhan, keinginan, atau pencapaian tertentu
( ADI KURNIAWAN, 2022: 33-34)
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Prioritas Nilai
Al-Qur’an
Motivasi dalam Islam juga memperhatikan nilai moral dan etika dalam islam, harus memuat prinsip dan nilai, seperti produktivitas, mensejahterahkan, adanya sistem pahala dan dosa, memperhatikan efektifitas dan efisiensi, sumber daya manusia mesti berilmu, bertanggungjawab, mementingkan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pelibatan sumber daya manusia, disiplin, adanya standar, dan memfokuskan pada standar nilai moral dan etika
ۗاًﺮْﻴِﺜَﻛ َﱣﷲ َﺮَﻛَذَو َﺮ ِﺧٰ ْﻻا َمْﻮَﻴْﻟاَو َﱣﷲ اﻮُﺟْﺮَﻳ َنﺎَﻛ ْﻦَﻤﱢﻟ ٌﺔَﻨ َﺴَﺣ ٌةَﻮ ْﺳُا ِﱣﷲ ِلْﻮ ُﺳَر ْﻲِﻓ ْﻢُﻜَﻟ َنﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ 21. Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
KHAERON, MUHAMMAD. (2019). 64
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Prioritas Nilai
Barat
Prespektif Barat, motivasi seringkali diukur berdasarkan lima hierarki kebutuhan, di mana tubuh diutamakan sedangkan jiwa diabaikan. prioritas nilai sering kali lebih terfokus pada pencapaian pribadi, kebebasan individu, kesetaraan, dan kepuasan pribadi. Meskipun nilai seperti integritas dan kejujuran dihargai, tapi cenderung lebih kepada keberhasilan material dan pengembangan diri di dunia.
( ADI KURNIAWAN, 2022:29)
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Orientasi Hidup
Al-Qur’an
Berkaitan orientasi kehidupan, sebagian manusia hanya berorientasi pada dunia sehingga di akhirat menjadi manusia yang merugi. Namun, sebagian lainnya berorientasi pada akhirat dengan tidak meninggalkan dunia sehingga mendapat bahagia di dunia juga akhirat, dalam islam orientasi motivasi dalam hidup berfokus pada kehidupan di dunia dan di akhirat
ﺎَﻴْﻧﱡﺪﻟا ﻰِﻓ ﺎَﻨِﺗٰا ﺂَﻨﱠﺑَر ُلْﻮُﻘﱠﻳ ْﻦ َﻣ سﺎﱠﻨﻟاِ َﻦ ِﻤَﻓ ۗ اًﺮْﻛِذ ﱠﺪ َﺷَا ْوَا ْﻢُﻛَءۤﺎَﺑٰا ْﻢُﻛِﺮْﻛِﺬَﻛ َﱣﷲ اوُﺮُﻛْذﺎَﻓ ْﻢُﻜَﻜ ِﺳﺎَﻨ ﱠﻣ ْﻢُﺘْﻴ َﻀَﻗ اَذِﺎَﻓ
ٍق َﻼَﺧ ْﻦ ِﻣ ِةَﺮ ِﺧٰ ْﻻا ﻰِﻓ ٗﻪَﻟ ﺎ َﻣَو Terjemahan
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.
SUHARTO (2020)
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Orientasi Hidup
Barat
Sementara itu, perspektif Barat cenderung memiliki orientasi hidup yang lebih terfokus pada pencapaian pribadi, kebahagiaan materi Konseptualisasi materialisme sebagai aspirasi finansial dilatarbelakangi oleh keprihatinan kecendrungan masyarakat kapitalis yang memandang kesuksesan dan kebahagiaan tergantung pada kemampuan mencapai kekayaan finansial.
Menjadikan kesuksesan finansial sebagai aspirasi atau tujuan
hidup pada dasarnya adalah pilihan yang berisiko. Dari sudut pandang teori humanistik, dikatakan bahwa manusia yang sehat seharusnya terdorong hidup dengan motivasi aktualisasi diri.
HUSNA. (2015): 10
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Fokus Waktu
Al-Qur’an
Dari segi fokus waktu, perspektif motivasi Al-Qur'an cenderung menekankan pentingnya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Salah satu firman Allah dalam Surat l-Qasas ayat 77:
ﱠنِاۗ ضْرَ ْﻻاِ ﻰِﻓ َدﺎ َﺴَﻔْﻟا ِﻎْﺒَﺗ َﻻَو َﻚْﻴَﻟِا ُﱣﷲ َﻦ َﺴْﺣَا ﺂ َﻤَﻛ ْﻦ ِﺴْﺣَاَو ﺎَﻴْﻧﱡﺪﻟا َﻦ ِﻣ َﻚَﺒْﻴ ِﺼَﻧ َﺲْﻨَﺗ َﻻَو َةَﺮِﺧٰ ْﻻا َراﱠﺪﻟا ُﱣﷲ َﻚﯩٰﺗٰا ﺂ َﻤْﻴِﻓ ِﻎَﺘْﺑاَو 77 َﻦْﻳِﺪ ِﺴْﻔُﻤْﻟا ﱡﺐِﺤُﻳ َﻻ َﱣﷲ 77. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Juga ada ungkapan yang disampaikan oleh Ibnu Umar bahwa; “Berusalah untuk urusan dunia mu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya.” Ungkapan ini memberikan dorongan kepada umat Islam agar memacu diri untuk bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin, dalam arti seorang muslim harus memiliki motivasi tinggi sehingga dapat meraih sukses dan berhasil dalam menempuh kehidupan dunianya disamping kehidupan akhiratnya.
YUSNI: (2021) :6-7
Perbedaan Motivasi Dilihat dari Fokus Waktu
Barat
Di sisi lain, dalam perspektif Barat, fokus waktu motivasi sering kali lebih tertuju pada pencapaian dan keberhasilan dalam jangka pendek atau sepanjang kehidupan ini. Hal tersebut akan terbukti orang hidupnya mengejar tujuan-tujuan duniawi, seperti harta, ketenaran, dan penampilan. Fenomena semacam yang tersebut dinamakan dengan materialisme, yaitu pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indera
HUSNA. (2015):7
1. Dorongan Bertaqwa
َنﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ اﻮُﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟ ۖ ٌﺮْﻴَﺧ ِﱠﷲ ِﺪْﻨِﻋ ْﻦِﻣ ٌﺔَﺑﻮُﺜَﻤَﻟ اْﻮَﻘﱠﺗاَو اﻮُﻨَﻣآ ْﻢُﻬﱠﻧَأ ْﻮَﻟَو Artinya : ‘’ Sesungguhnya kalau mereka berimandan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapatpahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.’’
(QS. Al-Baqarah: 103)
Jenis Motivasi dalam Al-Qu’an
(Eli Agustami, 2019: 11)
Jenis Motivasi dalam Al-Qu’an (Eli Agustami, 2019: 11)
2. Dorongan Beramal Shalih
ٍﺮ ْﺴُﺧ ﻲِﻔَﻟ َنﺎ َﺴْﻧِ ْﻹا ﱠنِإ
اْﻮ َﺻاَﻮَﺗَو ۙە ﱢﻖَﺤْﻟﺎِﺑ اْﻮ َﺻاَﻮَﺗَو ِﺖٰﺤِﻠ ﱣﺼﻟا اﻮُﻠِﻤَﻋَو اْﻮُﻨَﻣٰا َﻦْﻳِﺬﱠﻟا ﱠﻻِا
ِﺮْﺒ ﱠﺼﻟﺎِﺑ
artinya: “Sungguh, manusia berada dalam kerugian *
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan
saling menasehati untuk kesabaran.” (QS Al-'ashr:2-3)
3. Dorongan Kehidupan Akhirat
ﺂَﻤَﻛ ﻦ ِﺴْﺣَأَو ۖ ﺎَﻴْﻧﱡﺪﻟٱ َﻦِﻣ َﻚَﺒﻴ ِﺼَﻧ َﺲﻨَﺗ َﻻَو ۖ َةَﺮِﺧاَء ْلٱ َراﱠﺪﻟٱ ُﻪﱠﻠﻟٱ َﻚٰﯩَﺗاَء ﺂَﻤﻴِﻓ ِﻎَﺘْﺑٱَو
َﻦﻳِﺪ ِﺴْﻔُﻤْﻟٱ ﱡﺐِﺤُﻳ َﻻ َﻪﱠﻠﻟٱ ﱠنِإ ۖ ضْرَ ْﻷٱِ ﻰِﻓ َدﺎ َﺴَﻔْﻟٱ ِﻎْﺒَﺗ َﻻَو ۖ َﻚْﻴَﻟِإ ُﻪﱠﻠﻟٱ َﻦ َﺴْﺣَأ
Artinya : ‘’ Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepadaorang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash:77)
Jenis Motivasi dalam Al-Qu’an
(Eli Agustami, 2019: 11)
Jenis Motivasi dalam Al-Qu’an (Eli Agustami, 2019: 11)
4. Dorongan Beribadah
٥٦ ِنْوُﺪُﺒ ْﻌَﻴِﻟ ﱠﻻِا َﺲْﻧِ ْﻻاَو ﱠﻦِﺠْﻟا ُﺖْﻘَﻠَﺧ ﺎَﻣَو
Artinya: ‘’Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.’’ (QS. Adz-Dzariyat: 56)
5. Dorongan Berbuat Adil
Jenis Motivasi dalam Al-Qu’an ( Neng Hannah, 2017: 48)
ْنَا ِسﺎﱠﻨﻟا َﻦْﻴَﺑ ْﻢُﺘ ْﻤَﻜَﺣ اَذِاَو ۙﺎَﻬِﻠْﻫَا ٰٓﱃِا ِﺖٰﻨ ٰﻣَ ْﻻا اوﱡدَﺆُﺗ ْنَا ْﻢُﻛُﺮُﻣْﺄَﻳ َﱣﷲ ﱠنِا اًﺮْﻴ ِﺼَﺑ ۢﺎًﻌْﻴِﻤ َﺳ َنﺎَﻛ َﱣﷲ ﱠنِا ۗ ٖﻪِﺑ ْﻢُﻜ ُﻈِﻌَﻳ ﺎﱠﻤِﻌِﻧ َﱣﷲ ﱠنِا ۗ ِلْﺪَﻌْﻟﺎِﺑ اْﻮُﻤُﻜْﺤَﺗ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamumenyampaikan amanat kepada yang berhakmenerimanya, dan (menyuruh kamu) apabilamenetapkan hukum di antara manusia, supayakamu menetapkan dengan adil. SesungguhnyaAllah memberi pengajaran yang sebaik-baiknyakepadamu.
Sesungguhnya Allah adalahMahamendengar lagi Mahamelihat.”
(QS. an-Nisaa’: 58)
Jenis Motivasi dalam Al-Qu’an ( Neng Hannah, 2017: 48)
6. Dorongan Mendapatkan Cinta Allah
ْﻢُﻜَﻟ ْﺮِﻔ ْﻐَﻳَو ُﱣﷲ ُﻢُﻜْﺒِﺒْﺤُﻳ ْﻲِﻧْﻮُﻌِﺒﱠﺗﺎَﻓ َﱣﷲ َنْﻮﱡﺒِﺤُﺗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْنِا ْﻞُﻗ
ٌﻢْﻴِﺣﱠر ٌرْﻮُﻔَﻏ ُﱣﷲَو ْۗﻢُﻜَﺑْﻮُﻧُذ Artinya: ‘’ “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscayaAllah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang." (QS. Ali-Imran:
31)
7. Dorongan Seksual
Jenis Motivasi dalam Al-Qu’an ( Neng Hannah, 2017: 48)
َنْوُﺮﱠﻜَﻔَﺘﱠﻳ ٍمْﻮَﻘﱢﻟ ٍﺖٰﻳٰ َﻻ َﻚِﻟٰذ ْﻲِﻓ ﱠنِا ًۗﺔَﻤْﺣَرﱠو ًةﱠدَﻮﱠﻣ ْﻢُﻜَﻨْﻴَﺑ َﻞَﻌَﺟَو ﺎَﻬْﻴَﻟِا آْﻮُﻨُﻜ ْﺴَﺘﱢﻟ
Artinya : ‘’ Artinya : Di antara tanda tanda kekuasaan
Tuhan adalah bahwa Dia menciptakan pasangan
untukmu dari jenismu sendiri , supaya kamu
cenderung dan merasa tentram kepadanya ( Sukun ), dan
dijadikan -Nya di antara kamu kasih sayang .
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q S. Ar -
Rum : 21).
Motivasi tertinggi adalah karena Allah Swt., yang terakumulasi dalam niat.
Jika seseorang melakukan kegiatan tanpa didasari oleh niat karena-Nya, hilanglah motivasinya dan jika manusia kehilangan motivasi, maka perbuatannya akan hampa, tidak memiliki nilai.
Motivasi Orang-orang Suci Rafy Sapuri, 2009:237-246
Dalam motivasi setidaknya ada dua hal yang mendasari timbulnya motivasi, yaitu kebutuhan yang berupa (dorongan, seruan dan kausalitas) dan tujuan (goal) yang berupa (kebahagiaan, ketenangan, kedamaian). Kedua hal inilah yang akan melatarbelakangi segala tingkah laku manusia dalam segala hal.
Sebagai contoh orang yang ingin makan (nasi), dorongannya adalah lapar, dan tujuannya adalah ketenangan karena kenyang. Lapar adalah dorongan yang datang dari jasmani. Sedangkan jika orang ingin beribadah dan berbuat baik agar menjadi orang yang bertakwa dan tergolong muhsinin, dorongannya adalah rasa ingin mendapat cinta kasih Allah Swt.
Terimakasih
Kelompok
02
Agustami, Eli.(2019). “Keadilan dalam Prespektif Al-Qur’an”. Jurnal Taushiah FAI-UISU. 9 (2), 10-11.
Kurniawan, Adi. 2022. “Motivasi dalam Al-Qur’an. Skripsi. 29-60.
Khaliq, Abdul. (2013). "Konsep Motivasi dalam Pendidikan Islam". Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam. 3 (2), 14-16 Mukhlis, Mukhlis & Yuliana Intan Lestari. 2011. Psikologi Islam.
Pekanbaru: Al-Mujtahadah.
Hannah, Neng. (2017). “Seksualitas dalam Al-Qur’an, Hadis dan Fiqih: Mengimbangi Wacana Patriarki”. Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya. 2 (1). 48.
Hidayah, Mifta Hiyatun Nurul. 2021. “Motivasi Beragama Komunitas “Usaha Bersama” di Desa Blingoh Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara. Skripsi: IAIN Kudus.
Najati, Muhammad Ustman. 2000. Psikologi dalam Tinjauan Hadis Nabi. Jakarta: Daarusy-Syuruuq-Kairo.
Roniri, Sholahuddin. (2007).“Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Karyawan”. Skripsi. 10-13.
Sapuri, Rafy. 2009. Psikologi Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Shaleh, Abdul Rahman. 2009. Psikologi: Pengantar dalam Prespektif Islam. Jakarta: PT Fajar Interpratama Offset.
Umiyarzi, Elza. 2021. “Motovasi Kerja dalam Prespektif Islam”.Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbankan Syariah, 1 (2), 252-256.
Suharto, Iman Nur. (2020). Republika. Diakses pada 23 November 2023: https://www.republika.id/posts/10907/orientasi-kehidupan Yusni, Iyus. (2021). Motivasi Kerja Seorang Muslim Prespektif Al-Qur’an. Tesis: Institut PTIQ Jakarta.
Husna, Aftina Nur. (2015). Orientasi Hidup Materialistis dan Kesejahteraan Psikologis. Jurnal Forum UMM. hal 10
Khaeron, Muhammad. (2019). Filsafat Ilmu Manajemen Pendidikan Islam Rekonstruksi Kritis Islamisasi Manajemen Pendidikan Islam dalam Konteks Kekinian. JIEM (Journal of Islamic Education Manajemen). 3 (1), 64.
Zubairi, Zubairi. (2023). Meningkatkan Motivasi Belajar dalam Pendidikan Agama Islam. Indramayu: CV. Adanu Abimata.