• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kel.3-Acute Respiratory Failure (1)

N/A
N/A
salsabila

Academic year: 2025

Membagikan "Kel.3-Acute Respiratory Failure (1)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Acute

Respiratory

Elsa Widya Lestari Br. Sembiring V100240003

Diah Fatmawati V100240009

Khotimah Nuur Rochmah V100240012

Failure

(2)

Acute Respiratory Failure

Kondisi medis terjadi ketika sistem pernafasan gagal dalam memenuhi kebutuhan oksigen atau ventilasi tubuh secara

mendadak. Paru-paru tidak dapat menyuplai oksigen yang cukup ke darah atau tidak mengeluarkan karbon dioksida secara efektif dari darah. Hal ini berakibat fatal jika tidak ditangani secara tepat dan cepat.

Ada 2 tipe utama, yaitu:

1. Hipoksemik (Type 1) : rendahnya kadar oksigen dalam darah (PaO2 <60 mmHg) dengan atau tanpa peningkatan kadar karbon dioksida (PaCO2)

2. Hiperkapnik (Type 2) : Peningkatan karbon dioksida dalam darah (PaCO2 > 50 mmHg) ditandai dengan penurunan kadar oksigen

(3)

Etiologi

● Stroke

● Cedera otak traumatis

● Overdosis depresan SSP

Paru-Paru

● Pneumonia (Bakteri, virus, jamur)

● ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome)

● Eksaserbasi PPOK

● Asma berat

● Edema dan Emboli Paru

Trauma dan Cedera

● Kontusio Paru

● Patah tulang iga

● Cedera medula spinalis

Gangguan Neurologis

Gangguan

Kardiovaskular

● Gagal Jantung kongestif

● Syok kardiogenik

Penyakit Sistemik

● Sepsis dan Syok

septik menyebabkan ARDS sekunder

(4)

Faktor Resiko

1. Usia

2. Lingkungan dan Pekerjaan

3. Gaya Hidup

4. Riwayat Penyakit Terdahulu

(5)

Sepsis berat adalah hipoperfusi jaringan atau disfungsi organ diinduksi sepsis (hal berikut dianggap disebabkan oleh infeksi):

1. Hipotensi diinduksi sepsis

2. Laktat di atas batas atas nilai normal lab

3. Produksi urin < 0,5 mL/kg/jam selama 2 jam meskipun diberi resusitasi cairan adekuat

4. Acute lung injury dengan PaO2/FiO2 < 250 mmHg tanpa ada pneumonia (sumber infeksi)

5. Acute lung injury dengan PaO2/FiO2 < 200 mmHg dengan pneumonia (sumber infeksi)

6. Kreatinin >2 mg/dL (176,8 µmol/L) 7. Bilirubin >2 mg/dL (34,2 µmol/L) 8. Hitung trombosit < 100.000/µL

Pendahuluan

(6)

Syok Septik adalah Subset sepsis dengan abnormalitas sirkulasi, seluler, dan metabolik berat yang meningkatkan risiko mortalitas dibandingkan sepsis saja.

Kriteria Klinis:

1. Hipotensi persisten setelah pemberian cairan yang adekuat.

2. Kebutuhan vasopresor untuk mempertahankan MAP ≥ 65 mmHg

3. Kadar laktat serum > 2 mmol/L

(7)

Cairan

0

1.

Cairan intravena untuk mengatasi hipovolemia dan meningkatkan

perfusi organ

Vasopresso

0 r

2.

Mempertahankan tekanan darah jika cairan tidak cukup

Kortikostero

0 id

3.

Kasus syok refrakter → sebagai terapi

tambahan bila respons terhadap vasopresor suboptimal

Antibiotik

0

4.

Antibiotik spektrum luas sebagai terapi utama infeksi → diberikan

secepatnya

Komponen Utama Terapi Sepsis

Parah dan Syok Septik

(8)

Terapi Cairan untuk

Sepsis berat

1. Cairan untuk resusitasi awal sepsis berat dan renjatan septik adalah Kristaloid (1 B)

2. Penggunaan cairan koloid hidroksietil starch dihindari untuk resusitasi sepsis berat dan renjatan septik (1B)

3. Resusitasi sepsis berat dan renjatan septik, albumin isoonkotik diberikan ketika pasien membutuhkan cairan kristaloid dalam jumlah banyak (2C)

4. Uji pemberian resusitasi cairan (Fluid challenge) pada pasien sepsis dengan tanda gangguan hipoperfusi jaringan yang dicurigai dalam keadaan hipovolemia dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid minimal 30 ml/ kgBB( albumin isoonkotik dapat diberikan dalam jumlah sama) (1C)

5. Pemberian resusitasi cairan dilakukan secara berulang selama pemberian cairan dapat memperbaiki kondisi hemodinamik berdasar parameter secara dinamis ( perubahan pulse pressure, variasi stroke volume) atau secara statis 9 tekanan arteri, laju nadi

(9)

Terapi Cairan untuk Sepsis berat

Pemilihan cairan kristaloid untuk resusitasi dapat menggunakan yang tersedia di setiap rumah sakit dengan pemantauan parameter hemodinamik. Pemberian dilakukan dalam waktu 15 - 30 menit. Pemilihan cairan koloid untuk resusitasi sebaiknya dengan albumin 5% .

Jika tidak tersedia dapat digunakan jenis koloid turunan gelatin yang memiliki berat molekul lebih kecil.

(10)

VASOPRESOR

Terapi vasopresor diberikan untuk mencapai target tekanan rerata arteri 65 mmHg

Pemberian vasopresor dapat dipertimbangkan apabila target MAP > 65 mmHg belum tercapai setelah dilakukan resusitasi cairan adekuat.

Pilihan pertama adalah Norepinefrin

Epinefrin (dapat ditambahkan atau digantikan dengan Norepinefrin) bila dibutuhkan obat tambahan untuk mencapai tekanan darah adekuat

(11)

Vasopresin 0,03 unit/menit dapat ditambahkan pada Norepinefrin untuk meningkatkan tekanan rerata arteri atau untuk menurunkan dosis Norepinefrin

Vasopresin dosis rendah tidak direkomendasikan sebagai obat vasopresor inisial tunggal untuk mengatasi hipotensi pada sepsis.

Dosis lebih tinggi 0,03 - 0,04 unit/ menit hanya diberikan sebagai terapi pendukung bila pemberian obat vasopresor lain gagal mencapai tekanan rerata arteri adekuat.

(12)

Dopamin dapat menjadi obat alternatif vasopresor selain Norepinefrin hanya untuk pasien tertentu yang memiliki risiko rendah mengalami takiaritmia dan bradikardia absolut atau relatif.

Penggunaan dopamin sebagai vasopresor harus berhati- hati pada pasien dengan takikardi ( nadi > 100x/menit dan sebaiknya dihindari bila didapatkan bukti takiaritmia pada rekam jantung

Dopamin dosis rendah tidak dipakai untuk perlindungan fungsi ginjal

(13)

Fenilefrin tidak direkomendasikan sebagai terapi renjatan septik kecuali pada kondisi

● Pemberian Norepinefrin menimbulkan aritmia yang serius.

● Curah jantung tinggi dan tekanan darah tetap rendah

● Sebagai terapi pendukung bila bila kombinasi obat inotropik atau vasopresor dan vasopressor dosis rendah tidak berhasil mencapai target rerata tekanan arteri

Semua pasien yang mendapatkan vasopresor sebaiknya dipasang monitor tekanan darah intra arterial apabila kateter tersedia dan memungkinkan untuk dipasang

(14)

Pada pasien renjatan septik dewasa Hidrokortison IV tidak diberikan apabila resusitasi cairan telah adekuat dan pemakaian obat vasopresor telah dapat mencapai hemodinamika stabil. Apabila target ini tidak tercapai, maka dapat dipakai hidrokortison IV dosis 200 mg/ hari

Uji stimulasi ACTH tidak perlu dilakukan pada pasien renjatan septik dewasa yang dinilai membutuhkan hidrokortison IV

KORTIKOSTEROID

(15)

Pemberian hidrokortison harus dihentikan secara bertahap apabila sudah tidak diperlukan lagi

Hidrokortison tidak diberikan pada pasien sepsis yang tidak menunjukan tanda renjatan

Hidrokortison diberikan secara infus kontinu

(16)

Dosis kortikosteroid tiap hari tidak melebihi dosis ekuivalen

● Hidrokortison 200 - 300 mg

● Methylprednisolone 40 - 60 mg

● Dexamethasone 8 - 12 mg

Dosis lebih tinggi menjadi predisposisi terjadi infeksi.

Jika epinefrin atau dopamin dihentikan, kortikosteroid harus dititrasi turun (beberapa hari) untuk mencegah hipotensi rebound.

Kortikosteroid untuk tujuan ini diberikan secepatnya jika resusitasi cairan telah adekuat dan obat vasopresor telah diberikan namun tidak dapat mencapai hemodinamika stabil.

Kortikosteroid diberikan selama 3 - 7 hari.

(17)

Antibioti k

Pemberian antibiotik empiris spektrum luas (Individu maupun kombinasi)

Antibiotik harus diberikan sesegera mungkin, idealnya dalam 1 jam setelah diagnosis sepsis ditegakkan.

Pemilihan antibiotik empiris didasarkan pada kemungkinan sumber infeksi dan pola resistensi lokal.

Contoh antibiotik spektrum luas untuk terapi empiris adalah golongan karbapenem, sefalosporin generasi 4, piperacillin, tazobactam. Obat-obat tersebut dapat diberikan secara tunggal atau dikombinasikan dengan golongan kuinolon anti-pseudomonas (siprofloksasin, levofloksasin) atau aminoglikosida.

(18)

Pengambilan sampel kultur

Sebelum diberi antibiotik, dianjurkan untuk melakukan

pengambilan sampel darah dan sumber infeksi lain untuk kultur De-Eskalasi Terapi antibiotik

Setelah hasil kultur dan sensitivitas tersedia, terapi antibiotik harus disesuaikan (de-eskalasi) untuk menargetkan patogen spesifik dan mengurangi resiko resisten

Durasi Terapi

Pemberian antibiotik disesuaikan dengan respons klinis pasien, minimal 7 hari, tergantung pada kondisi klinis pasien

(19)

Terapi Antibiotik berbasiskan Pedoman

menurut lokasi infeksi

(20)
(21)

Terima

Kasih

Referensi

Dokumen terkait

Strategi yang paling efektif untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi obat demi mencapai target tekanan darah yang diinginkan adalah dengan kombinasi strategi,

Hasil pengamatan tekanan darah menunjukkan bahwa terapi menggunakan kombinasi obat herba daun dewa ( Gynura segetum (L)Merr) dan pegagan ( Centella asiatica (L)Urban)

Terapi kombinasi metformin dan glibenklamid memiliki efek sinergis sehingga kombinasi kedua obat ini dapat menurunkan glukosa darah lebih banyak daripada pengobatan tunggal

Cerebral hipoksia dapat diseBABkan karena tenggelam, tekanan darah rendah, cedera lahir, serangan jantung, pencekikan, sesak napas akibat menghirup asap, pendarahan

Pada terapi yang diberikan terdapat interaksi obat antara Miniaspi dengan Amlodipin dimana kedua obat dapat dapat meningkatkan tekanan darah (Medscape,

Adanya anggapan bahwa seorang yang sudah mengalami tekanan darah tinggi tidak perlu minum obat dan tidak memerlukan perhatian khusus untuk merubah pola hidup

Oleh karena itu, terapi jamu hipertensi SJ lebih cost- effective dibandingkan amlodipin, captopril 25 dan kombinasi jamu hipertensi SJ+amlodipin dalam menurunkan tekanan darah tetapi

Ros Sumarny Obat Otonom 22 Beta bloker Sistim kardiovaskular : o Penurunan tekanan darah kombinasi efek pada jantung, sistim renin- angiotensin dan SSP o Mengurangi stimulasi