MEMAHAMI KURIKULUM 2013 DAN KURIKULUM MERDEKA
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi mata kuliah Telaah Materi Kurikulum PAI di Sekolah yang dibina oleh Dr. Nurul Zainab, M.Pd.I.
Oleh:
Moh. Mansur (20381011108)
Muhammad Farhan Ramadhani (20381011172) Iin Lina Ekawati (20381012029) Jamiatus Sholihah (20381012036) Kholivia Agustin Ningsih (20381012037) Dian Nikmatus Solehah (20381012083)
Siti Aliza (20381012186)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA SEPTEMBER 2022
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah karena dengan nikmat dan hidayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan pembuatan makalah ini. Shalawat teriring salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sang proklamator Islam yakni Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan cahaya berupa agama Islam dan iman.
Pembuatan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata Teori dan Model Pembelajaran yang dibina oleh Dr. Nurul Zainab, M.Pd.I. dengan judul makalah “Memahami Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyusunan maupun isinya. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Pamekasan, 6 September 2022
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………... i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I: PENDAHULUAN... A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Penulisan... 2
BAB II: PEMBAHASAN ... A. Kurikulum 2013...3
B. Kurikulum Merdeka... 6
C. Regulasi Kurikulum 2013...7
D. Regulasi Kurikulum Merdeka... 10
E. Perbedaan Kurikulum 2013 Dan Kurikulum Merdeka Belajar………11
BAB III: PENUTUP ... A. Kesimpulan...13
B. Saran... 13
DAFTAR PUSTAKA ... iv
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai perkembangan kurikulum. Saat ini, Kurikulum 2013 tengah menjadi kurikulum utama yang diterapkan di berbagai jenjang pendidikan Hal ini terlihat dari banyaknya Perguruan Tinggi Indonesia yang masuk dalam jajaran terbaik di dunia.
Hal Ini tentu tidak lepas dari kurikulum yang digunakan. Namun, ada beberapa lembaga pendidikan Penggerak yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknlogi yang dibina untuk mengimplementasikan kurikulum khusus, yaitu Kurikulum Sekolah Penggerak atau dikenal dengan istilah Kurikulum Merdeka, sebagai program mewujudkan Merdeka Belajar.
Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum hasil penyederhanaan yang menjadi opsi pilihan lain dari dua kurikulum yang sudah ada sebelumnya, yaitu:
Kurikulum 2013 dan Kurikulum darurat. Inisiasi pembuatan kurikulum prototipe ini sendiri muncul setelah adanya hasil riset yang menyebut hilangnya potensi pembelajaran literasi dan numerasi akibat dampak pandemi yang sangat tinggi sehingga perlu dilakukan perumusan kurikulum baru yang kemudian dikenal dengan kurikulum prototipe.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas maka timbul permasalahan:
1. Apa itu kurikulum 2013?
2. Apa itu kurikulum Merdeka Belajar?
3. Bagaimana regulasi kurikulum 2013?
4. Bagaimana regulasi kurikulum Merdeka Belajar?
5. Apa perbedaan kurikulum 2013 dan kurikulum Merdeka Belajar?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa itu kurikulum 2013.
2. Untuk mengetahui apa itu kurikulum Merdeka Belajar.
3. Untuk mengetahui regulasi kurikulum 2013.
4. Untuk mengetahui regulasi kurikulum Merdeka Belajar..
5. Untuk mengetahui perbedaan kurikulum 2013 dan kurikulum Merdeka Belajar.
BAB II PEMBAHASAN A. Kurikulum 2013
Menurut Fadlillah dalam Neta Dian Lestari menyatakan bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum baru yang melalui diterapkan pada tahun pelajaran 2013/2014. Kurikulum ini adalah pengembangan dari kurikulum yang telah ada sebelumnya, baik Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 maupun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tahun.1
Pada Kurikulim 2013 yang menjadi titik tekan adalah adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahun. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang melakukan penyederhanaan, dan tematikintegratif, menambah jam pelajaran yang bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar dan mengkomunikasikan (mempersentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran dan diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik. Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang perna di uji coba pada tahun 2004.2
Kurikulum ini adalah pengembangan dari kurikulum yang telah ada sebelumnya, baik Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 maupun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tahun. Dari beberapa penjelasan diatas dapat disumpulkan bahwa kurikulum 2013 adalah Penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya bertujuan untuk menjadikan siswa lebih aktif dan hasil belajar menjadi optimal.
1Neta Dian Lestari “Analisis Penerapan Kurikulum 2013 Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Ekonomi Di Sma Negeri Se-Kota Palembang
2Ibid. 71
Terdapat beberapa hasil evaluasi dokumen serta hasil evaluasi implementasi kurikulum 2013.3
Hasil Evaluasi Dokumen Kurikulum 2013
1. Banyak faktor kalau kurikulum 2013 harus di ubah
2. Pertama Kompetensi Kurikulum 2013 terlalu luas, sulit dipahami, dan diimplementasikan oleh guru.
3. Kurikulum yang dirumuskan secara nasional belum disesuaikan sepenuhnya oleh satuan pendidikan dengan situasi dan kebutuhan satuan pendidikan, daerah, dan peserta didik.
4. Mapel informatika bersifat pilihan, padahal kompetensi teknologi merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh peserta didik pada abad 21.
5. Pengaturan jam belajar menggunakan satuan minggu (per minggu) tidak memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk mengatur pelaksanaan mata pelajaran dan menyusun kalender pendidikan.
Akibatnya, kegiatan pembelajaran menjadi padat.
6. Pendekatan tematik (jenjang PAUD dan SD) dan mata pelajaran (jenjang SMP, SMA, SMK, Diktara, dan Diksus) merupakan satu-satunya pendekatan dalam Kurikulum 2013 tanpa ada pilihan pendekatan lain 7. Struktur kurikulum pada jenjang SMA yang memuat mata pelajaran
pilihan (peminatan) kurang memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih selain peminatan IPA, IPS, atau Bahasa. Gengsi peminatan juga dipersepsi hirarkis.
8. Komponen perangkat pembelajaran terlalu banyak dan menyulitkan guru dalam membuat perencanaan.
9. Rumusan kompetensi yang detil dan terpisah-pisah sulit dipahami sehingga guru kesulitan menerjemahkan dalam pembelajaran yang sesuai filosofi Kurikulum 2013.
3 https://www.yoru.my.id/2022/02/kenapa-kurikulum-merdeka-lebih-unggul-dari-kurikulum- k13.html
10. Strategi sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring implementasi Kurikulum 2013 belum terlaksana secara tepat dan optimal, belum variatif, belum sesuai dengan kebutuhan, dan belum efektif. Contoh kendala: sosialisasi tidak sampai langsung kepada tingkat gugus, pemilihan instruktur ditetapkan sentralistik sehingga tidak sesuai kebutuhan, dan pelatihan masih dilakukan secara konvensional dengan ceramah yang cenderung teoretik.
11. Masih banyak pengawas, kepala sekolah, dan guru yang memiliki pemahaman kurang tentang kerangka dasar, diversifikasi, dan konsep implementasi Kurikulum 2013.
12. Sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring implementasi Kurikulum 2013 belum berdampak optimal terhadap pemahaman pengawas, kepala sekolah, dan guru, kemampuan dan kinerja guru, serta peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
Dari poin di atas di atas, diperoleh terdapat 3 alasan mengapa meninggalkan kurikulum 2013 dan beralih ke kurikulum merdeka, yaitu:
1. Miskonsepsi Kompetensi
Sudah tidak asing lagi dengan kompetensi dalam kurikulum 2013, yaitu konsepnya adalah kesatuan antara sikap, pengetahuan, serta keterampilan seseorang melakukan suatu kinerja tertentu dalam bahasan ini subjeknya adalah siswa.
Yang terjadi dalam kurikulum 2013 yaitu kompetensi diturunkan menjadi 3 komponen berbeda yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Hal tersebut mengakibatkan guru mengalami kesulitan mengajar dan siswa juga mengalami kesulitan belajar karena proses penilaian yang rumit dan menghabiskan energi untuk membedakan antara penilain sikap, pengetahuan dan keterampilan.
2. Tuntutan Terlalu Tinggi
Tujuan dari pembelajaran yaitu student centered atau berpusat pada siswa, tujuan pembelajaran esesnsial yang sesuai terhadap perkembangan anak yaitu yang relevan, realistis tetapi tetap menantang bagi siswa untuk terus bisa belajar.
Dalam kurikulum 2013 tujuan pembelajaran dianggap terlalu tinggi, di kejar- kejar untuk menyelesaikan banyak materi dalam waktu yang telah di tentukan, sedangkan daya berfikir siswa berbeda- beda.
Akibatnya guru mengalami kesulitan mengajar dengan tuntutan menuntaskan konten sehingga terjebak pada cara mengajar satu arah.
Tidak ada ruang kreativitas bagi guru. Selain guru mengalami kesulitan, hal yang sama juga di rasakan oleh siswa yang harus dituntut mempelajari banyak konten sehingga hanya belajar hafalan dan tidak mendapatkan pemahaman secara utuh.
3. Batasan waktu terlalu kaku
Satuan pendidikan dan guru dapat melakukan penyesuaian durasssi dan kecepatan pembalajaran sesuai dengan kubutuhan murid dan konteks lokal.
Dalam kurikulum 2013, pengaturan durasi pembelajaran setiap tujuan pembelajaran dikunci dalam satuan minggu. Tidak bisa disesuaikan oleh guru dan satuan pendidikan
Akibatnya guru menjadi mengalami kesulitan dalam mengajar, meski guru mengetahui bahwa siswanya belum paham tetapi terpaksa melanjutkan pembelajaran selanjutnya. Selain itu, murid juga mengalami kesulitan dipaksa untuk mempelajari pengetahuan yang terlalu kompleks.
Hal ini juga di buktikan oleh hasil riset yaitu bahwa selama pandemi, saat satuan pendidikan bisa memilih kurikulum 2013, kurikulum darurat atau kurikulum prototipe yang saat ini menjadi kurikulum merdeka.
B. Kurikulum Merdeka Belajar
Mendikbud Nadiem Makarim mengubah kurikulum 2013 menjadi kurikulum MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) pada tahun 2019. Konsep MBKM
terdiri dari dua konsep yaitu “Merdeka Belajar” dan “Kampus Merdeka”.
Merdeka belajar adalah kebebasan berpikir dan kebebasan inovasi.4 Sedangkan kampus merdeka adalah lanjutan program merdeka belajar untuk pendidikan tinggi. Transformasi pendidikan melalui kebijakan merdeka belajar merupakan salah satu langkah untuk mewujudkan SDM Unggul Indonesia yang memiliki Profil Pelajar Pancasila (Kemdikbud, 2021).
Sejalan dengan World Economic Forum (2016), pelajar harus memiliki 16 keahlian di abad ke-21. Secara garis besar, 16 keahlian ini terbagi menjadi tiga yaitu literasi, kompetensi, dan kualitas karakter. Selain itu, untuk menghadapi perubahan sosbud, dunia kerja, dunia usaha, dan kemajuan teknologi yang begitu pesat, mahasiswa harus dipersiapkan untuk dapat mengikuti perubahan ini. Oleh sebab itu, setiap instansi pendidikan harus mempersiapkan literasi bari dan oritentasi terbimbing dalam bidang pendidikan. Persiapan Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara optimal dan selalu relevan melalui Kurikulum MBKM.5
C. Regulasi Kurikulum 2013
Regulasi pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia. Sebelum membahas regulasi pendidikan di Indonesia, ada baiknya kita menelaah idealisme tujuan pendidikan. Ada 4 (empat) tujuan pendidikan, yaitu:
a) mendapatkan pengetahuan dan keterampilan (kompetensi) atau kemampuan untuk bekerja;
b) berorientasi humanistik;
c) menjawab tantangan sosial, ekonomi dan keadilan;
d) untuk kemajuan ilmu itu sendiri.
4Ainia, D. K. (2020). Merdeka Belajar Dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara Dan Relevansinya Bagi Pengembangan Pendidikan Karakter. Jurnal Filsafat Indonesia, 3(3), 95–101.
5Rendika Vhalery, Albertus Maria Setyastanto, Ari Wahyu Leksono “Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka: Sebuah Kajian Literatur”
Dari keempat tujuan pendidikan di atas, setidaknya poin nomor dua yang berorientasi pada tujuan memanusiakan manusia atau humanistis, menjadi poin yang penting dalam proses pendidikan, dan sudah sepatutnya bahwa pendidikan harus menjunjung hak-hak peserta didik dalam memperoleh informasi pengetahuan.6
Regulasi proses pengembangan kurikulum di negeri kita saat ini merujuk pada kebijakan UU nomor 20 Tahun 2003, PP nomor 19 Tahun 2005 dan Permen nomor 22, 23, dan 24 Tahun 2006. Regulasi inilah yang mendasari proses pengembangan kurikulum melalui dua langkah besar yaitu: Pertama, Proses pengembangan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat; dan Kedua, Proses pengembangan yang dilakukan pada setiap satuan pendidikan.
Isi Permendikbud Nomor 36 Tahun 20187
1. mata pelajaran pilihan pada bagian III huruf B tabel 3 ditambahkan Mata Pelajaran Informatika.
2. mata pelajaran pilihan pada nomor 3 bagian III huruf B ditambahkan Mata Pelajaran Informatika sehingga menjadi sebagai berikut:
a. Mata Pelajaran Pilihan
Mata Pelajaran Pilihan merupakan mata pelajaran yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan perkembangan keilmuan, teknologi, dan seni yang memiliki tingkat urgensi yang tinggi dan memiliki manfaat jangka panjang bagi bangsa Indonesia.
Kurikulum SMA/MA dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat mereka. Peserta didik diperkenankan memilih Mata Pelajaran Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dan/atau Mata Pelajaran Informatika.
b. Mata Pelajaran Informatika
6Yuliana Yuli W, Dwi Desi yayitarina “Regulasi Pendidikan Nasional Sebagai Upaya Meningkatkan Sumber Daya Manusia Memasuki Era Masyarakat Ekonomi Asean (Mea)” Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. 68.
7https://jdih.kemdikbud.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/Permendikbud%20Nomor%2036%20 Tahun%202018.pdf
Informatika merupakan salah satu disiplin ilmu yang berfungsi memberikan kemampuan berpikir manusia dalam mengatasi persoalan- persoalan yang semakin kompleks agar dapat bersaing di Abad ke-21.
Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai salah satu bagian dari Informatika merupakan kebutuhan dasar peserta didik agar dapat mengembangkan kemampuannya pada era digital. Mata Pelajaran Informatika merupakan mata pelajaran pilihan yang diselenggarakan berdasarkan ketersediaan guru sesuai dengan kualifikasi akademik dan kompetensi, serta sarana prasarana pada satuan pendidikan. Alokasi waktu untuk Mata Pelajaran Informatika di Kelas X sebanyak 3 Jam Pelajaran; Kelas XI dan XII masing-masing sebanyak 4 Jam Pelajaran.
Adapun dasar pertimbangan penetapan permendikbud no. 37 tahun 2018 yaitu Untuk memenuhi kebutuhan dasar peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya pada era digital, perlu menambahkan dan mengintegrasikan muatan informatika pada kompetensi dasar dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum 2013 pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah; berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah; Permendikbud No. 37 tahun 2017 terdiri dari dua pasal dengan lampiran dengan nomor 61.8
Adapun pasal tambahannya yaitu Pasal I
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah sebagai berikut:
8https://jdih.kemdikbud.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/Permendikbud%20Nomor%2037%20 Tahun%202018.pdf
1. Di antara Pasal 2 dan Pasal 3 disisipkan 1 (satu) Pasal yaitu Pasal 2A sebagai berikut:
Pasal 2A
Muatan informatika pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dapat digunakan sebagai alat pembelajaran dan/atau dipelajari melalui ekstrakurikuler dan/atau muatan lokal. Mata Pelajaran Informatika pada Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) dimuat dalam Kompetensi Dasar yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.
2. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah diubah dengan menambahkan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Informatika SMP/MTs pada nomor urut 60 dan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Informatika SMA.
D. Regulasi Kurikulum Merdeka Belajar
Beberapa regulasi Implementasi Kurikulum Merdeka untuk pemulihan pembelajaran:
1. Permendikbudristek No.5 tahun 2022 (Standar Kompetensi Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah).
2. Permendikbudristek No.7 tahun 2022 (Standar Isi pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah).
3. Permendikbudristek No.16 tahun 2022 (Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah).
4. Permendikbudristek No.21 tahun 2022 (Standar Penilaian pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah).
5. Permendikbudristek No.56 tahun 2022 (Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran)9
Telah ditetapkan pada tanggal 22 Juni 2022 kepmendikbudristek nomor 262/M/2022 tentang perubahan atas Kepmendikbudristek Nomor 262/M/2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan belajar
a) bahwa Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran belum sepenuhnya mengakomodasi minat, bakat, dan kemampuan peserta didik, serta penyesuaian beban kerja dan penataan linieritas guru bersertifikat pendidik sehingga perlu diubah;
b) bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a perlu menetapkan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.
E. Perbedaan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Belajar Kurikulum 2013 Kurikulum Merdeka dirancang berdasarkan tujuan Sistem
Pendidikan Nasional dan Standar Nasional Pendidikan
menambahkan pengembangan profil pelajar Pancasila.
Jam Pelajaran (JP) diatur per minggu JP per tahun melakukan pembelajaran rutin
perminggu dengan mengutamakan kegiatan di kelas.
alokasi waktu lebih fleksibel
empat aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku
mengutamakan projek penguatan profil pelajar Pancasila, kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler
9Tahap 1 Webinar Bimtek Kurikulum Merdeka Pendidikan Kesetaraan - Cirebon, 7 Juli 2022
menerapkan penilaian berdasarkan empat Kompetensi Inti (KI) yaitu:
Sikap Spiritual, Sikap Sosial, Pengetahuan, dan Keterampilan.
-
menerapkan penilaian per semester, sehingga siswa mendapatkan nilai hasil belajar setiap mata pelajaran
menerapkan penilaian berdasarkan fase.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan regulasi pendidikan nasional memerlukan Peraturan Pemerintah dan/atau peraturan lain yang berada dibawahnya secara konstitusional. Dalam hal tata kelola penyelenggara pendidikan berbentuk badan hukum, maka pemerintah harus menggali rasa keadilan masyarakat yang didasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945.
2. Pembelajaran Kurikulum 2013 umumnya hanya terfokus pada intrakurikuler (tatap muka), sementara pembelajaran Kurikulum Merdeka menggunakan paduan pembelajaran intrakurikuler (70- 80% dari JP) dan kokurikuler (20-30% JP) melalui proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila.
B. Saran
Dalam makalah ini, penulis menyadari masih banyak kesalahan. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun, baik dari dosen pengampu dan dari rekan rekan yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.detik.com/edu/sekolah/d-6230883/perbedaan-kurikulum-2013-dan- kurikulum-merdeka-sd-smp-sma--
smk#:~:text=Pembelajaran%20Kurikulum%202013%20umumnya%20han ya,proyek%20penguatan%20Profil%20Pelajar%20Pancasila.
https://jdih.kemdikbud.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/Permendikbud%20N omor%2036%20Tahun%202018.pdf
https://www.yoru.my.id/2022/02/kenapa-kurikulum-merdeka-lebih-unggul-dari- kurikulum-k13.html
K. D. Ainia, Merdeka Belajar Dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara Dan Relevansinya Bagi Pengembangan Pendidikan Karakter. Jurnal Filsafat Indonesia, 3(3), 2020, 95–101.
Leksono, Ari Wahyu, Rendika Vhalery, Albertus Maria Setyastanto,“Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka: Sebuah Kajian Literatur” Reseacrh and Development Journal of Education,8(1), 185-201
Lestari, Neta Dian. “Analisis Penerapan Kurikulum 2013 Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Ekonomi Di Sma Negeri Se-Kota Palembang.
Jurnal NeracaVol 2 No.1, Juni 2018: 68-79
Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2018. Diakses darihttps://pusmendik.kemdikbud.go.id/pdf/file-71 Tahap 1 Webinar Bimtek Kurikulum Merdeka Pendidikan Kesetaraan - Cirebon, 7
Juli 2022. Diakses dari https://www.yukdaring.my.id/2022/07/tahap-1- webinar-bimtek-kurikulum.html
Yayitarina, Dwi Desi, Yuliana Yuli W,“Regulasi Pendidikan Nasional Sebagai Upaya Meningkatkan Sumber Daya Manusia Memasuki Era Masyarakat Ekonomi Asean (Mea)” Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. 68.