MAKALAH
PERKEMBANGAN BERMAIN ANAK USIA DINI Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah BERMAIN DAN PERMAIAN ANAK USIA DINI
Dosen Pengampu : Rina Insani Setyowati, M.Pd.
Oleh
Dewi Nurwenda ( 2286236036) Asma’ ul Fauziyah ( 2286236033)
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA BLITAR FAKULTAS AGAMA ISLAM
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FEBRUARI 2024
Kata Pengantar
Syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT. Yang mana telah memberikan rahmat dan karuniaNya pada penyusun. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Perekembangan bermain Anak usia dini”. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Bermain dan permainan pada anak usia dini.
Tidak lupa penyusun menyampaikan terima kasih kepada : 1. Desi Farantika, M.Pd. selaku dosen ketua program studi.
2. Dr.Arif Muzayyin Shofwan, M.Pd selaku dekan fakultas agama islam.
3. Rina Insani Setyowati, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah bermain dan permainan anak usia dini.
4. Teman-teman PIAUD angkatan 2022 atas kerjasamanya.
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu demi terselesaikannya makalah ini dengan lancar. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian, amin.
Penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan yang terdapat di dalamnya, untuk itu penyusun sangat mengharapkan adanya kritikan dan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penyusun berharap semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi para pembaca dan penyusun selanjutnya.
Kelompok 2
Daftar isi
Halaman Judul ... ... ………. i
Kata Pengantar ... ... ………. ii
Daftar Isi ... ... ………. iii
BAB I PENDAHULUAN ... ………. 1
A. Latar Belakang ... ……….. 1
B. Rumusan Masalah ... ……….. 2
C. Tujuan ... ... ………. 2
BAB II PEMBAHASAN ... ………. 3
A. Karakteristik bermain AUD ... ……….. 3
B. Tahapan – tahapan perkembangan bermain ... ……….. 4
C. Faktor – faktor yang mempengaruhi ... ……….. 8
BAB III PENUTUP ... ... ……….. 10
A. Kesimpulan ... ... ………... 10
B. Saran ... ... ………... 10
Daftar Pustaka ... ... ………11
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Bermain merupakan kegiatan yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, sosial, emosi, intelektual, dan spiritual anak sekolah dasar. Dengan bermain anak dapat mengenal lingkungan, berinteraksi, serta mengembangkan emosi dan imajinasi dengan baik. Pada dasarnya anak-anak gemar bermain, bergerak, bernyanyi dan menari, baik dilakukan sendiri maupun berkelompok.
Bermain adalah kegiatan untuk bersenang-senang yang terjadi secara alamiah. Anak tidak merasa terpaksa untuk bermain, tetapi mereka akan memperoleh kesenangan, kanikmatan, informasi, pengetahuan, imajinasi, dan motivasi bersosialisasi Bermain memiliki fungsi yang sangat luas, seperti untuk anak, untuk guru, orang tua dan fungsi lainnya.bagi anak. Dengan bermain dapat mengembangkan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif, daya cipta (kreativitas), bahasa, perilaku, ketajaman pengindraan, melepaskan ketegangan, dan terapi bagi fisik, mental ataupun gangguan perkembangan lainnya.
Fungsi bermain bagi guru dan orangtua adalah agar guru dan orangtua dapat memahami karakter anak, jalan pikiran anak, dapat intervensi, kolaborasi dan berkomunikasi dengan ank. Fungsi lainnya adalah rekreasi, penyaluran energi, persiapan untuk hidup dan mekanisme integrasi (penyatuan) dengan alam sekitar Menurut NAEYC (National Association for The Education of Young Children,1997), bermain merupakan alat utama belajar anak. Demikian juga pemerintah Indonesia telah mencanangkan prinsip, “Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain”.
Bermain yang sesuai dengan tujuan di atas adalah bermain yang memiliki ciri-ciri seperti : menimbulkan kesenangan, spontanitas, motivasi dari anak sendiri, dan aturan ditentukan oleh anak sendiri. Permasalahannya hingga saat ini, di sekolah-sekolah terutama di sekolah dasar, kegiatan bermain masih dianggap kurang penting, sehingga belum ada program yang terencana dan terstruktur. Pembelajaran terpadu (tematik) yang menggabungkan beberapa bidang studi di kelas rendah belum memasukkan unsur-unsur permainan, paling-paling kegiatan bermain disisipkan dalam pelajaran olah raga (pendidikan jasmani). Pendidikan jasmani (Penjas) merupakan bagian integral dari system pendidikan secara keseluruhan dan sangat strategis digunakan untuk mendorong perkembangan kemampuan motorik, kemampuan fisik, penalaran dan penghayatan nilai
(mental, emosional, spiritual, dan social) serta pembiasaan hidup sehat. Penjas sebagai bidang studi berorientasi pada kebutuhan gerak siwa juga dapat diintegrasikan dengan bidang studi lain seperti matematika, IPA, bahasa, IPS dan agama. Walau demikian pada kenyataannya kondisi pembelajaran Penjas di sekolahsekolah sampai saat ini belum efektif meskipun telah dilakukan berbagai upaya pembenahan pada kurikulum dan melalui jalur pendidikan dan pelatihan guru (Satya, 2006). Di samping hal-hal di atas para guru Penjas juga sulit memperoleh buku rujukan yang refresentatif dan akomodatif juga kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kontribusi pendidikan jasmani sebagai salah satu alat dalam mewujudkan terbentuknya manusia seutuhnya (sehat fisik, emosi, kecerdasan serta sosial)..
Demikian pula halnya dengan kegiatan bermain dan permainan di sekolah utamanya di sekolah dasar, pemahaman orang tua dan masyarakat masih kurang. Bermain dianggapnya main-main, membuang waktu dan memerlukan biaya, padahal banyak alat permainan yang dapat dipergunakan anak adalah alat permainan dari lingkungan anak itu sendiri, dari alam dan permainan yang sengaja di buat guru, orang tua atau perusahaan yang dirancang untuk pendidikan anak.
Alat permainan yang terakhir itu disebut alat permainan edukatif. Tempat bermain pun sangat fleksibel,tempat bermain anak di sekolah dapat dilakukan di kelas dan di luar kelas, yang penting lingkungannya aman dan kondusif, pembelajarannya terencana dan terstruktur dan tersedianya alat-alat permainan yang memadai Bentuk-bentuk permainan seperti : permainan eksplorasi (penjelajahan), permainan energik, permainan kemahiran (skillfull play) dapat dilakukan di luar kelas. Permainan yang lain, seperti permainan sosial dan puzzle dapat dilakukan di dalam kelas.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja karasteristik bermain anak usia dini?
2. Apa saja Tahapan- tahapan perkembangan bermain?
3. Apa faktor – faktor ang mempengaruhi?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang karasteristik bermain anak usia dini.
2. Mengetahui Tahapan- tahapan perkembangan bermain . 3. Mengetahui faktor – faktor ang mempengaruhi.
BAB II PEMBAHASAN
1.1 Karasteristik bermain Anak usia dini.
Bermain adalah kegiatan untuk bersenang-senang yang terjadi secara alamiah.
Anak tidak merasa terpaksa untuk bermain, tetapi mereka akan memperoleh kesenangan, kanikmatan, informasi, pengetahuan, imajinasi, dan motivasi bersosialisasi Bermain memiliki fungsi yang sangat luas, seperti untuk anak, untuk guru, orang tua dan fungsi lainnya.bagi anak.
Dengan bermain dapat mengembangkan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif, daya cipta (kreativitas), bahasa, perilaku, ketajaman pengindraan, melepaskan ketegangan, dan terapi bagi fisik, mental ataupun gangguan perkembangan lainnya
Bermain adalah kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan tersendiri bagi anak, karena saat bermain, anak memiliki kebebasan bereksplorasi untuk mengenali dirinya yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Jeffree, McConkey dan Hewson (Sujiono, 2012) berpendapat bahwa terdapat enam karakteristik kegiatan bermain pada anak yang perlu dipahami dan distimulasi, antara lain :
a. Bermain muncul dalam diri anak.
Kegiatan bermain seyogyanya tumbuh sendiri dari keinginan anak, sehingga anak dapat menikmati dan bermain dengan caranya sendiri secara suka rela tanpa ada paksaan dari siapapun.
b. Bermain harus bebas dari peraturan yang mengikat
dan merupakan kegiatan untuk dinikmati, anak usia dini memiliki cara tersendiri untuk menikmati permainan. Oleh karena itu, permainan yang dimainkan haruslah mengasikkan, menyenangkan serta menggairahkan.
c. Bermain merupakan aktivitas nyata,
saat bermain anak melakukan aktivitas nyata, seperti contoh saat melakukan aktivitas dengan air anak dapat mengenal air dari kegiatan bermain tersebut karena bermain melibatkan keikutsertaan fisik dan mental anak.
d. Bermain lebih memfokuskan proses dari pada hasil,
dengan bermain anak mengenal dan mendapatkan keterampilan serta dapat mengembangkan keterampilan baru dari apa yang dimainkan.
e. Bermain harus didominasi oleh pemain,
artinya permainan anak tidak didominasi oleh orang dewasa karena jika permainan didominasi oleh orang dewasa maka anak tidak akan mendapatkan pelajaran apapun.
f. Bermain harus melibatkan peran aktif pemain,
artinya anak sebagai pemain harus ikut serta dalam permainan untuk mendapatkan pengalaman baru karena bagi anak bermain sama halnya dengan bekerja yaitu untuk mendapatkan keterampilan dan pengetahuan baru.
1.2 Tahapan – tahapan perkembangan bermain
Menurut Jean Piaget tahapan perkembangan bermain anak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:
1. Sensori motor (sensory motor play) Tahap ini terjadi pada anak usia 0-2 tahun.
Pada tahap ini bermain anak lebih mengandalkan indra dan gerak-gerak tubuhnya. Untuk itu, pada usia ini mainan yang tepat untuk anak ialah yang dapat merangasang panca indranya, misalanya mainan yang berwarna cerah, memiliki banyak bentuk dan tekstur, serta mainan yang tidak mudah tertelan oleh anak.
2. Praoprasional (symbolic play) Tahap ini terjadi pada anak usia 2-7 tahun. Pada tahap ini anak sudah mulai bisa bermain khayal dan pura-pura, banyak bertanya, dan mulai mencoba hal-hal baru, dan menemui simbol-simbol tertentu. Adapun alat permainan yang cocok untuk usia ini adalah yang mampu merangsang perkembangan imajinasi anak, seperti menggambar, balok/lego, dan puzzle.
Namun sifat permainan anak usia dini lebih sederhana dibandingkan dengan operasional konkret.
3. Operasional konkret. Tahap ini terjadi pada anak usia 7-11 tahun. Pada tahap ini anak bermain sudah menggunakan nalar dan logika yang bersifat objektif.
Adapun alat permainan yang tepat untuk usia ini ialah yang mampu menstimulasi cara berpikir anak. Melalui alat permainan yang dimainkan anak dapat menggunakan nalar maupun logikanya dengan baik. Bentuk permainan yang bisa digunakan di antaranya: dakon, puzzle, ular tangga, dam-daman, dan monopoli.
4. Formal operasional (game with rules and sport) Terjadi pada tahap anak usia 11 tahun ke atas. Pada tahap ini anak bermain sudah menggunakan aturan-aturan yang sangat ketat dan lebih mengarah pada game atau pertandingan yang menuntuk adanya menang dan kalah.
1.3 Faktor – faktor yang mempengaruhi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi bermain anak menurut Harlock:
1. Kesehatan, semakin sehat anak maka semakin banyak energinya untuk bermain aktif.
2. Perkembangan motorik, permainan anak melibatkan koordinasi motorik.
Pengendalian motorik yang baik memungkinkan anak terlibat dalam permainan aktif.
3. Inteligensi, pada setiap usia, anak yang pandai lebih aktif dibandingkan dengan yang kurang pandai, dan permainan mereka lebih menunjukkan kecerdikan.
4. Jenis kelamin, anak laki-laki kecenderungannya bermain lebih kasar di bandingkan anak perempuan, dan lebih menyukai permainan yang permainan yang melibatkan fisik motorik mereka.
5. Lingkungan, anak yang berasal dari lingkungan pedesaan kurang baermain dibandingkan mereka yang berasal dari lingkungan kota.
6. Status sosial ekonomi, anak yang berasal dari kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi menyukai kegitan yang mahal dan sebalikanya mereka yang berasal dari kalangan bawah memilih kegiatan yang tidak mahal seperti bermain bola dan berenang.
7. Jumlah waktu bebas, jumlah waktu bermain bergantung pada status ekonomi keluarga.
8. Peralatan bermain, perlatan bermain yang dimiliki anak mempengaruhi permainannya.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.
Bermain adalah kegiatan rekreatif yang sekaligus merupakan bagian dari metode untuk mengembangkan potensi anak, baik fisik maupun kreativitas.
Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari, karena melalui bermain anak-anak mampu mengembangkan fantasi, daya imajinasi dan kreativitasnya.
Bermain dapat menumbuhkan kesenangan dan kepuasan, selain itu banyak nilai-nilai penting yang dihasilkan dari bermain, antara lain sosialisasi, sarana belajar, penyaluran energi emosional, perkembangan moral, fisik dan kepribadian.
Derasnya arus modernisasi menyebabkan terjadinya perubahan permainan anak dari tradisional ke modern. Saat ini anak-anak di Kelurahan Rajabasa lebih menyukai permainan modern, sehingga semakin sedikit yang mengetahui atau memainkan permainan tradisional. Hal ini tentu mengancam kelestarian dan eksistensi permainan tradisional sebagai salah satu dari budaya bangsa yang seharusnya dijaga agar tidak punah.
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, permainan modern ternyata membuat anak bersikap cenderung individualistis, dan sosialisasi anak dengan teman sebaya menjadi tidak optimal. Selain itu, permainan modern ternyata berpengaruh pada kecerdasan emosional anak, komunikasi anak dilingkungan pergaulannya, dan keaktifan anak yang juga berpengaruh pada kesehatannya.
B. Saran.
Dengan tersusunnya makalah ini penyusun berharap semoga dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi tersusunnya makalah-makalah berikutnya yang lebih baik
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Siti, 2008. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka
Arikunto, Suharsimi, 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka
Coughlin, Pamela, 2000. Menciptakan Kelas Berpusat Pada Anak. International:
Children Resources International
Direktorat Pembinaan Taman Kanakkanak dan Sekolah Dasar, 2008. Pengembangan Model Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, 2009. Bermain Sambil mengasah Kecerdasan Naturalis Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Djaali, dan Mujiono, 2008. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta:
Gramedia Widiasarana Indonesia
Gardner, Howard. 2003. Kecerdasan Majemuk ( Multiple Intelligences ). Batam:
Interaksara
Hartati, Sofia. 2007. How To Be A Good Teacher and To Be A Good Mother, Seri Panduan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Enno Media
Hurlock, Elizabeth B, 1978. Perkembangan Anak, Jilid 1 Edisi keenam. Jakarta:
Erlangga.
Iskandar, 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: GP Press Group Jatmiko, Yusef.
Ragam Aktivitas Harian Untuk Playgroup. Jogjakarta: Diva Press