AKUNTANSI FORENSIK DAN INVESTIGASI FRAUD (PENGANTAR AKUNTANSI FRAUD)
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
ANDI NURUL ASYKIN (A031221058) SANTO EUCHARISTIA DJANGGU (A031221171) SHAN SEBASTIAN ARIEL BANGKELE (A031211153)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2025
i KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
"Pengantar Akuntansi Forensik" tepat pada waktunya.
Meskipun penulis telah berusaha untuk menyusun makalah ini dengan sebaik mungkin, penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini berguna bagi para pembaca dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Kelompok 2
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Makalah ... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
A. Sejarah Akuntansi Forensik ... 3
B. Pengertian Akuntansi Forensik ... 4
C. Ruang Lingkup Akuntansi Forensik ... 5
D. Tugas Akuntansi Forensik ... 7
E. Kode Etik Akuntansi Forensik ... 12
BAB II ... 17
PENUTUP ... 17
A. Kesimpulan ... 17
DAFTAR PUSTAKA ... 18
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Akuntansi forensik merupakan cabang akuntansi yang berfokus pada proses penyelidikan, deteksi dan pencegahan berbagai bentuk kecurangan (fraud) dalam bidang keuangan. Sejarah kehadiran akuntansi forensik dapat dilacak dari berbagai kemunculan praktik kecurangan yang telah terjadi dalam dunia keuangan.
Memasuki abad ke-20, kebutuhan akan penyelidikan terhadap kecurangan dan penipuan di bidang keuangan semakin meningkat, terutama dengan pertumbuhan bisnis dan pasar modal. Akuntansi forensik mulai muncul sebagai respon dari kebutuhan tersebut, meskipun pada era ini akuntansi forensik tidak banyak dipergunakan dalam Upaya membongkar berbagai kasus fraud.
Pada abad ke-21 dengan perkembangan teknologi informasi dan globalisasi membuat berbagai kasus kecurangan dan penipuan semakin kompleks dan inovatif.
Oleh sebab itu kehadiran akuntansi forensik sangat dibutuhkan dalam membantu berbagai entitas baik publik dan bisnis untuk bisa mencegah dan membongkar berbagai skandal keuangan.
Akuntansi forensik mengacu pada proses investigasi terhadap berbagai praktik kecurangan karena berperan untuk mencari berbagai alat bukti kecurangan.
Proses ini dilalui melalui pengumpulan informasi non-keuangan, hingga wawancara kepada pihak-pihak yang terkait dengan kecurangan. Dalam konteks entitas bisnis dan publik, penerapan akuntansi forensik berupaya untuk melakukan deteksi dini terhadap munculnya berbagai bentuk kecurangan yang berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Dengan demikian akuntansi forensik lebih fokus pada proses pengumpulan bukti yang kemudian disajikan dihadapan manajemen atau pengadilan. Dengan demikian, bidang keahlian akuntan forensik tidak hanya di bidang akuntansi dan auditing, tetapi juga harus menguasai keilmuaan lain seperti investigasi, pewawancara, analis keuangan hingga bisa memberikan kesaksian sebagai saksi ahli di persidangan. Dengan demikian, seorang akuntan forensik harus memiliki multitalenta keahlian, kemampuan, dan pengetahuan terkait siklus kecurangan termasuk penyelesaian hukum.
2 B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah Akuntansi Forensik?
2. Apakah defenisi dari Akuntansi Forensik?
3. Bagaimana ruang lingkup dari Akuntansi Forensik itu sendiri?
4. Apa tugas Akuntansi Forensik?
5. Apa saja kode etik dari Akuntansi Forensik
C. Tujuan Makalah
1. Menguraikan sejarah perkembangan Akuntansi Forensik untuk memahami latar belakang dan faktor yang melatarbelakangi kemunculannya.
2. Menjelaskan definisi Akuntansi Forensik secara jelas dan komprehensif berdasarkan berbagai perspektif.
3. Menganalisis ruang lingkup Akuntansi Forensik dalam praktik bisnis dan investigasi keuangan.
4. Mengidentifikasi tugas utama seorang akuntan forensik dalam mendeteksi dan menangani kasus keuangan.
5. Mengkaji kode etik yang harus dipatuhi dalam praktik Akuntansi Forensik guna menjaga profesionalisme dan integritas.
3 BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Akuntansi Forensik
Sejarah akuntansi forensik telah berkembang sejak zaman kuno, di mana praktik pencatatan keuangan digunakan untuk mencegah kecurangan dalam perdagangan dan administrasi pemerintahan. Pada abad ke-14, Luca Pacioli memperkenalkan sistem pembukuan berpasangan (double-entry accounting), yang menjadi dasar bagi analisis keuangan modern. Seiring berjalannya waktu, akuntansi mulai digunakan dalam pengawasan pajak dan keuangan negara.
Pada abad ke-20, akuntansi forensik semakin berkembang, terutama setelah Depresi Besar tahun 1930-an yang memunculkan banyak kasus penipuan keuangan. Pemerintah Amerika Serikat kemudian mendirikan Securities and Exchange Commission (SEC) untuk mengawasi pasar keuangan. Istilah forensic accounting pertama kali diperkenalkan oleh Maurice E. Peloubet pada tahun 1946, menandai peran akuntansi dalam penyelidikan hukum dan litigasi.
Selama Perang Dunia II, teknik akuntansi forensik juga digunakan untuk mendeteksi penggelapan pajak dan pembiayaan ilegal.
Pada abad ke-21, peran akuntansi forensik semakin signifikan setelah terungkapnya skandal besar seperti Enron dan WorldCom pada awal 2000-an.
Kasus-kasus ini mendorong penguatan regulasi, termasuk diberlakukannya Sarbanes-Oxley Act pada tahun 2002 di Amerika Serikat. Sejak itu, perusahaan dan lembaga keuangan mulai menerapkan sistem pengendalian internal yang lebih ketat untuk mencegah penipuan. Selain itu, perkembangan teknologi memunculkan bidang forensik digital, yang memungkinkan analisis akuntansi dilakukan dengan bantuan perangkat lunak dan big data analytics.
Saat ini, akuntansi forensik memainkan peran penting dalam investigasi keuangan, audit forensik, serta pencegahan kejahatan seperti pencucian uang dan korupsi. Profesi ini juga semakin berkembang dengan adanya sertifikasi profesional seperti Certified Fraud Examiner (CFE) dan Certified Forensic Accountant (Cr. FA). Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan dan data mining semakin meningkatkan efisiensi dalam mendeteksi anomali keuangan dan kecurangan. Dengan perkembangan tersebut, akuntansi forensik terus
4 menjadi disiplin ilmu yang krusial dalam menjaga integritas sistem keuangan global dan membantu penegakan hukum dalam menangani kejahatan keuangan.
B. Pengertian Akuntansi Forensik
Menurut Tuanakotta (2010:4), akuntansi forensik merupakan penerapan disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk auditing, pada masalah hukum untuk penyelesaian hukum di dalam atau di luar pengadilan. Akuntansi forensik sebenarnya bukanlah ilmu baru, Amerika Serikat sudah mengenal akuntansi forensik sejak tahun 1931 sedangkan di Indonesia akuntansi forensik mulai dikenal sejak krisis keuangan 1997.
Akuntansi forensik di Indonesia telah diterapkan oleh beberapa lembaga seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Laporan Keuangan (PPATK), dan Kantor Akuntan Publik (KAP) seperti Price Waterhouse Cooper (PwC) (Zamira dan Darsono, 2014).
Menurut Huber (2012) akuntansi forensik di Amerika Serikat memiliki relevansi dengan nilai-nilai sosial. Kondisi berbeda terjadi di Indonesia, akuntansi forensik di Indonesia belum banyak dimanfaatkan untuk mencari bukti atau kebenaran untuk menangani masalah kecurangan keuangan. Menurut Tuanakotta (2010: 17) akuntansi forensik di Indonesia lebih banyak digunakan pada sektor publik daripada sektor privat. Menurut Zamira dan Darsono (2014) akuntansi forensik di Indonesia belum dapat memaksimalkan nilai-nilai sosial sehingga dapat terjadi perbedaan persepsi antar kalangan mengenai relevansi akuntansi forensik.
Akuntansi forensik merupakan proses investigasi terhadap praktik kecurangan dengan tujuan mengumpulkan bukti yang dapat digunakan dalam penyelidikan. Proses ini mencakup pengumpulan informasi non-keuangan hingga wawancara dengan pihak terkait. Dalam dunia bisnis dan sektor publik, akuntansi forensik berperan dalam mendeteksi dini kecurangan baik dari internal maupun eksternal perusahaan. Fokus utamanya adalah penyajian bukti kepada manajemen atau pengadilan.
5 Seorang akuntan forensik tidak hanya menguasai akuntansi dan audit, tetapi juga memiliki keterampilan investigasi, wawancara, dan analisis keuangan.
Mereka dapat bertindak sebagai saksi ahli dalam persidangan serta memahami aspek hukum terkait kecurangan. Kemampuan multidisiplin ini mengharuskan mereka bersikap responsif terhadap berbagai fenomena, terutama di era digital yang semakin mempersulit deteksi praktik korupsi dan suap.
Akuntan forensik harus kreatif dalam memanfaatkan informasi guna memperoleh bukti yang relevan, sehingga dapat membantu kedua belah pihak dalam menyelesaikan kasus secara lebih cepat dan efisien. Selain itu, mereka harus menjaga objektivitas dan independensi dalam setiap investigasi, serta mampu berinteraksi dengan berbagai pihak secara profesional tanpa mengesampingkan prinsip etika.
C. Ruang Lingkup Akuntansi Forensik
Menurut Hopwood dalam bukunya Forensic Accounting, bahwa akuntansi forensik memiliki ruang lingkup yakni tentang akuntansi yang berkaitan dengan ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu hukum, ruang lingkup organisasi dan sistem informasi serta auditing. Berikut ini penjelasan dari masing-masing ruang lingkup yaitu :
a. Hukum meliputi system dan yuridiksi serta sumber-sumber hukum , kalau penerapannya di Indonesia biasa dimulai dari hukum konstitusional (UUD) hingga hukum administrative disamping itu juga harus mengetahui teknik investigatif dan pengadilan.
b. Organisasi dan system informasi meliputi struktur organisasi yang berkaitan erat dengan sistem pengendalian intern terutama yang mencakup masalah transaksi keuangan, tentu akan berkaitan pula dengan sistem informasi (akuntansi dan manajemen).
c. Auditing meliputi fungsi auditor dalam akuntansi forensik selain itu juga banyak dijelaskan mengenai materialitas dan resiko dalam audit, pernyataan audit dan kepentingannya serta detail-detail mengenai prosedur dalam auditing mulai dari pengumpulan bukti dan sampling hingga kompilasi pelaporan audit.
6 Teknik-teknik dan alat-alat yang bisa dipakai dalam Akuntansi Forensik yaitu forensik komputer, kriminalistik, daktilografi, identifikasi forensik, bukti forensik serta palaeografi forensik. Selain itu ada pula mengenai Keamanan Informasi yang erat kaitannya dengan ISO (International Standards Organisation). ISO 9000-9004 erat kaitannya dengan penerapan standard yang berhubungan dengan manajemen pengendalian kualitas yang ada hubungannya dengan jasa dan manajemen pengendalian kualitas. Sedangkan ISO 27000- 27005 langsung berhubungan dengan keamanan informasi (information security). Dalam seksi Audit Forensik dan Investigasi mencakup penjelasan simptom atau tanda-tanda kecurangan finansial dan bagaimana mereka diinvestigasi, juga pengidentifikasian sumber-sumber bukti yang dapat berguna bagi akuntan forensik
Tuanakotta (2010) dalam Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif mengemukakan bahwa akuntansi forensik mempunyai ruang lingkup yang spesifik untuk lembaga yang menerapkannya atau untuk tujuan melakukan audit investigatif.
a. Praktik di Sektor Swasta
Bologna dan Lindquist perintis mengenai akuntansi forensik dalam Tuanakotta (2010) menekankan beberapa istilah dalam perbendaraan akuntansi, yaitu: fraud auditing, forensik accounting investigative support, dan valuation analysis. Litigation support merupakan istilah dalam akuntansi forensik bersifat dukungan untuk kegiatan ligitasi. Akuntansi forensik dimulai sesudah ditemukan indikasi awal adanya fraud. Audit investigasi merupakan bagian awal dari akuntasi forensik. Adapun valuation analysis berhubungan dengan akuntansi atau unsur perhitungan.
Misalnya dalam menghitung kerugian negara karena tindakan korupsi.
b. Praktik di Sektor Pemerintahan
Akuntansi forensik pada sektor publik di Indonesia lebih menonjol daripada akuntansi forensik pada sektor swasta. Secara umum akuntansi forensik pada kedua sektor tidak berbeda, hanya terdapat perbedaan pada tahap- tahap dari seluruh rangkaian akuntansi forensik terbagi-bagi pada berbagai lembaga seperti lembaga pemeriksaan keuangan negara, lembaga
7 pengawasan internal pemerintahan, lembaga pengadilan, dan berbagai lembaga LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang berfungsi sebagai pressure group.
D. Tugas Akuntansi Forensik
Menurut Frimatte Kass-Shraibman dan Vijay S. Sampath (2011), akuntansi forensik adalah spesialisasi dari akuntansi yang berkaitan dengan masalah hukum, guna mengumpulkan dan memberikan informasi untuk keperluan pengadilan. Akuntansi forensik menggunakan teknik forensik untuk mencari bukti adanya fraud, guna pembuktian di pengadilan. Menurut Crain,dkk (2019) akuntansi forensik merupakan perpaduan antara bidang akuntansi, hukum, keuangan, komputerisasi, etika dan kriminologi yang ditujukan untuk mencegah dan mendeteksi adanya fraud keuangan serta ditujukan untuk kepentingan litigasi. Akuntansi forensik berkaitan dengan unsur kerugian, sebagaimana diungkapkan oleh Lidyah (2016) bahwa baik pada sektor publik maupun privat, akuntansi forensik digunakan untuk mencari kerugian. Adapun ilustrasi dari fungsi akuntansi forensik adalah sebagai berikut
Berdasarkan pada gambar tersebut, maka dapat diketahui bahwa kerugian merupakan poin pertama dalam segitiga akuntansi forensik, kemudian poin kedua adalah perbuatan melawan hukum, sehingga terdapat hubungan kausalitas. Perbuatan melawan hukum dan kausalitas merupakan ranah ilmu hukum yang harus diselesaikan secara hukum sesuai dengan aturan yang berlaku dengan bantuan para ahli hukum, sedangkan peran akuntansi forensik adalah mempersiapkan bukti yang dapat digunakan untuk membantu ahli hukum menyelesaikan masalah kerugian yang diderita oleh korban. Untuk
8 menjalankan tugasnya, akuntansi forensik dibagi menjadi 2 (dua) yakni sebagai berikut.
a. Jasa penyelidikan Akuntansi forensik berupa jasa penyelidikan melakukan tugas mengarahkan pemeriksaan penipuan karena para akuntan forensik mempunyai kemampuan dalam mendeteksi, mencegah dan mengendalikan penipuan.
b. Jasa litigasi Akuntansi forensik dengan jasa litigasi melakukan tugas merepresentasikan kesaksian dari pemeriksa penipuan dan jasa akuntansi forensik untuk memecahkan kasus.
Tugas akuntansi forensik mencakup berbagai aspek investigasi dan analisis keuangan yang bertujuan untuk mendeteksi, mencegah, dan menangani kasus kecurangan. Kemampuan yang tidak biasa dan harus dikuasai seorang akuntan forensic, membuat diperlukan berbagai kompetensi dan keahlian. Dari studi Singleton & Singleton (2010) diketahui beberapa kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang akuntan forensik di antaranya:
a. Kemampuan mengelola informasi
Kemampuan dalam mengelola informasi menjadi faktor utama bagi seorang akuntan forensik. Dengan keterbatasan data, mereka harus mampu mengidentifikasi berbagai praktik kecurangan sejak tahap awal investigasi. Proses ini sering kali dimulai dengan informasi yang minim, yang kemudian dikembangkan untuk mengungkap indikasi kecurangan yang lebih spesifik.
Di era digital, akuntan forensik dituntut untuk beradaptasi dengan berbagai sumber informasi digital. Banyak pelaku kecurangan tanpa sadar meninggalkan jejak di dunia digital, sehingga keahlian dalam mengelola informasi, baik digital maupun non-digital, menjadi sangat penting. Namun, identifikasi indikasi kecurangan harus dilakukan dengan pendekatan berbasis teori kecurangan agar hasilnya lebih akurat dan dapat digunakan sebagai bukti dalam investigasi.
b. Keahlian wawancara mendalam
Dalam proses pengumpulan alat bukti dan informasi, seorang akuntan forensik harus memiliki keterampilan dalam teknik wawancara
9 mendalam (in-depth interview). Terdapat berbagai metode yang dapat digunakan dalam wawancara ini, termasuk teknik terbaik untuk mewawancarai pihak-pihak yang berkepentingan. Namun, dalam tahapan wawancara, akuntan forensik harus mampu menangani pengakuan dengan tepat agar proses konfirmasi dan verifikasi bukti dapat diterima di pengadilan.
Dalam konteks akuntansi forensik, pengelolaan wawancara mendalam dapat dianggap sebagai suatu bentuk "seni" yang wajib dikuasai.
Teknik wawancara yang efektif, nyaman, dan progresif menjadi bagian penting dalam pencarian alat bukti, di mana setiap akuntan forensik memiliki gaya tersendiri dalam menerapkannya.
c. Penguatan pola pikir
Keberhasilan seorang akuntan forensik sangat bergantung pada kemampuannya dalam mengelola pola pikir dan daya analitik. Seorang akuntan forensik harus terlatih dalam menganalisis setiap temuan dan informasi dengan pendekatan yang inovatif, kreatif, dan progresif dalam mendeteksi kecurangan. Kemampuan berpikir logis, pemecahan masalah, serta keterampilan investigatif menjadi faktor kunci dalam menjalankan tugasnya.
Seorang akuntan forensik harus mampu memahami pola pikir pelaku kejahatan keuangan agar dapat mengidentifikasi indikasi kecurangan bahkan sebelum adanya bukti konkret. Hal ini membuat mereka cenderung bersikap skeptis dalam menghadapi berbagai fenomena dan informasi yang beredar. Oleh karena itu, seorang akuntan forensik tidak dapat sepenuhnya mempercayai pihak lain tanpa melakukan verifikasi yang mendalam.
Untuk mengembangkan pola pikir yang tajam, seorang akuntan forensik harus selalu berpikir progresif serta memiliki kebiasaan mempertanyakan substansi di balik transaksi, dokumen, temuan, dan kesaksian. Sikap kritis dan konsistensi dalam analisis menjadi aspek utama dalam menjalankan tugasnya secara objektif dan profesional.
d. Penguatan alat bukti
10 Seorang akuntan forensik harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai jenis alat bukti dalam konteks keuangan.
Pemahaman ini penting untuk memahami aturan pembuktian di pengadilan dan memastikan bahwa setiap penyelidikan dilakukan dengan standar yang memungkinkan bukti dapat digunakan dalam proses hukum.
Pengetahuan tentang alat bukti tidak hanya terbatas pada bukti fisik, tetapi juga mencakup bukti digital. Oleh karena itu, meskipun tidak harus menjadi ahli digital forensik, seorang akuntan forensik perlu memahami dasar-dasar forensik digital, termasuk teknik pencarian dan analisis bukti di ranah digital. Di era digitalisasi, media sosial menjadi salah satu sumber utama dalam mengungkap jejak kecurangan, karena banyak pelaku secara tidak sadar meninggalkan bukti dalam bentuk unggahan atau aktivitas daring.
Sebagai contoh, beberapa pelaku kecurangan sering menunjukkan gaya hidup mewah (flexing) di media sosial, yang dapat menjadi indikasi adanya penyimpangan keuangan. Jika jejak digital ini dikelola dan dianalisis dengan baik, maka dapat menjadi bukti pendukung yang memperkuat investigasi dalam mengungkap berbagai bentuk kecurangan.
e. Komunikator
Seorang akuntan forensik harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik agar temuan dan bukti hasil investigasi dapat dipahami oleh orang awam. Presentasi temuan dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis, dengan penggunaan alat peraga yang sesuai. Namun, karena sifatnya yang kompleks, tidak semua informasi akuntansi dan keuangan mudah dimengerti oleh banyak orang.
Oleh karena itu, akuntan forensik perlu menguasai komunikasi verbal dan nonverbal untuk menyampaikan hasil investigasi secara jelas dan mudah dipahami. Saat menjadi saksi ahli di persidangan, mereka harus mampu menerjemahkan temuan dan bukti dengan baik agar dapat diinterpretasikan dengan benar oleh pihak terkait.
11 Selain itu, akuntan forensik juga perlu memiliki keterampilan komunikasi dalam jaringan (online) maupun luar jaringan (luring) untuk menyaring dan menyampaikan informasi keuangan secara efektif. Kemampuan komunikasi yang baik akan membantu dalam menjelaskan kasus kecurangan dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat, sehingga dapat mempercepat proses pengambilan kesimpulan.
f. Keahlian dan mentalitas investigasi
Seorang akuntan forensik harus mengasah keterampilan investigasi secara tepat waktu selama penyelidikan berlangsung. Dalam menangani kasus pidana keuangan, fokus utama adalah mengumpulkan alat bukti yang berkaitan dengan motif, peluang, dan keuntungan yang diperoleh pelaku. Setelah suatu permasalahan teridentifikasi dan informasi serta dokumentasi terkumpul, langkah selanjutnya adalah memperkuat bukti yang ada dengan investigasi lebih lanjut.
Akuntan forensik tidak boleh berhenti pada satu alat bukti saja, melainkan terus menggali informasi tambahan untuk menemukan bukti baru yang lebih kuat. Di era digital, investigasi tidak terbatas pada bukti fisik (offline), tetapi juga mencakup jejak digital. Media sosial, sebagai salah satu sumber informasi utama, dapat menjadi sarana penting dalam mengidentifikasi bukti tambahan yang mendukung penyelidikan.
Dengan mental investigasi yang kuat, seorang akuntan forensik harus mampu menganalisis temuan baik dari sumber offline maupun online.
Kemampuan ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan proses investigasi yang lebih komprehensif dan membuktikan motif kecurangan di hadapan pengadilan secara lebih meyakinkan.
g. Interprestasi informasi keuangan
Keputusan yang diambil oleh seorang akuntan forensik harus didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan, sehingga setiap rekomendasi yang diberikan mencerminkan logika dan realitas. Hal ini
12 disebabkan oleh fakta bahwa suatu transaksi atau peristiwa keuangan dapat memiliki berbagai interpretasi, bukan hanya satu sudut pandang.
Seorang akuntan forensik harus cekatan dalam menerjemahkan berbagai fenomena yang muncul selama proses analisis informasi keuangan. Oleh karena itu, setiap transaksi harus ditinjau dari berbagai aspek untuk memastikan bahwa interpretasi akhir sesuai dengan konteks dan bersifat rasional.
Penafsiran informasi yang akurat akan membantu akuntan forensik dalam menyampaikan temuan di pengadilan. Seorang akuntan forensik yang bertindak sebagai saksi ahli harus memiliki pemahaman mendalam tentang formula, aturan, dan prinsip akuntansi serta mampu menginterpretasikan informasi keuangan secara komprehensif.
Dengan demikian seorang akuntan forensik, tidak hanya bertugas memberikan pendapat hukum dalam pengadilan (litigation), tetapi juga berperan dalam bidang hukum diluar pengadilan (non litigation). Sebagai contoh dalam merumuskan alternatif penyelesaian perkara dalam sengketa, perhitungan ganti rugi dan upaya menghitung dampak pelanggaran kontrak (Suratman & Meinarsih, 2021). Oleh sebab itu seorang akuntan forensik harus memiliki beberapa bekal tambahan pengetahuan yang meliputi beberapa hal di antaranya:
- Dasar-dasar akuntansi dan auditing yang cukup kuat - Perilaku manusia dan budaya organisasi
- Pola dan model terjadinya praktik kecurangan.
- Hukum bisnis, pidana dan beragam peraturan - Ilmu krimonolog dan viktimologi
- Berbagai teknik pengendalian internal keuangan
- Kemampuan nalar dan berpikir seperti seorang pencuri (think as a theft).
E. Kode Etik Akuntansi Forensik
Kode etik akuntansi forensik merupakan seperangkat prinsip dan panduan yang dirancang untuk mengatur perilaku para professional dalam bidang akuntansi forensik. Kode etik berperan untuk membantu menjaga integritas,
13 objektivitas dan profesionalisme dalam pelaksanaan pekerjaan seorang akuntan forensik. Kendati demikian terdapat perbedaan antar negara dalam penerapan kode etik akuntasi forensic. Akan tetapi, pada intinya terdapat prinsip-prinsip umum dalam kode akuntansi forensik yang disepakati bersama di antaranya:
1. Tanggung Jawab
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka.
Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
2. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme.
Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara.
14 Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi tersebut. Dan semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara terus menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.
3. Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya.
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
4. Objektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
15 Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati- hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir.
Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik.
6. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.
Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.
7. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai
16 perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.
8. Transparansi dan Pelaporan
Para akuntan forensik harus bisa memberikan laporan yang jujur, lengkap, dipercaya, dan transparan terkait hasil investigasi yang telah dilakukan. Para akuntan forensik harus bisa menjelaskan berbagai bentuk temuan dengan akurat dan tidak memberikan informasi yang justru menyesatkan.
9. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Internasional Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-undangan yang relevan.
17 BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akuntansi forensik tidak hanya mengelaborasi fraud dalam lembaran laporan keuangan yang menyajikan angka-angka semata. Akan tetapi, berupaya secara inovatif untuk mengetahui berbagai penjelasan yang ada dibalik angka-angka tersebut. Elaborasi dari balik angka-angka tersebut bisa merupakan motif, kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai oleh para pelaku fraud. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akuntansi forensik merupakan ilmu akuntansi yang digunakan untuk mendukung proses hukum, mengingat di dalamnya ada informasi yang sifatnya penelusuran secara investigatif.
Dengan kata lain, akuntansi forensik memiliki beragam kegunaan karena menggabungkan keilmuan yaitu hukum, akuntansi dan audit. Dengan begitu, akuntansi forensik mempunyai peranan dalam mengungkapkan fakta-fakta yang bisa dijadikan sebagai alat bukti dalam berbagai bentuk kecurangan.
Dalam pengungkapan praktik kecurangan, akuntansi forensik tidak hanya bertugas untuk menemukan alat bukti saja, melainkan juga menelusuri sampai pada titik temu tersangka yang menjadi pelaku kecurangan dengan berbagai bukti-bukti yang diperoleh.
18 DAFTAR PUSTAKA
Bologna, G. J., & Lindquist, R. J. (1995). Fraud Auditing and Forensic Accounting, Tool and Techniques, 2th. Edition. New York : Jhon Wiley.
Singleton, T. W., & Singleton, A. J. (2010). Fraud auditing and forensic accounting (Vol. 11). John Wiley & Sons.
Tuanakotta, T.M. (2016). Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif (Edisi ke-2).
Jakarta: Salemba Empat.