• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 5 LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PJJ

N/A
N/A
lULUANDO

Academic year: 2024

Membagikan "KELOMPOK 5 LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PJJ"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Praktikum Penginderaan Jarak Jauh Medan, Mei 2024

LAPORAN AKHIR

Dosen Penanggungjawab:

Anita Zaitunah S.Hut., M.Si. ASEAN Eng.

Oleh:

Mona Ester Siagian 211201036

Ummi Faridah 211201093

Chesya Margaretha 211201140 M. Dimas Pramana 211201177 M. Albi Afrizal 211201196 Andreas Luluando Hutabarat 211201234

Kelompok 5 MNH 6

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2024

(2)

i

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenaan, kasih dan pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menjejaki setiap praktikum khususnya praktikum pada Mata Kuliah Penginderaan Jarak Jauh ini. Dan penulis sangat bersyukur karena penulis telah menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Penginderaan Jarak Jauh tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Dalam menulis laporan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab yaitu ibu Anita Zaitunah S.Hut., M.Si. ASEAN Eng. dan kepada asisten praktikum yang telah membimbing dan membantu penulis dalam pelaksanaan praktikum hingga selesainya laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini, tidak lepas dari kesalahan- kesalahan, apakah kesalahan dalam hal penulisan maupun penyusunannya. Maka dari itu penulis minta maaf, dan mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian, agar laporan ini menjadi lebih baik. Sekian dan terima kasih.

Medan, Mei 2024

Tim Penulis

(4)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... v PENGINSTALAN ERDAS

PENDAHULUAN

Latar Belakang ... 1 Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan ...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

PENDOWNLOADTAN CITRA LANDSAT 8 PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

Halaman

(5)

iv LAYER STACKING

PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

KOREKSI RADIOMETRIK PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

KLASIFIKASI TIDAK TERBIMBING PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

(6)

v

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

KLASIFIKASI TERBIMBING PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

CLIP

PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

ANALISIS TUTUPAN LAHAN PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

METODE PRAKTIKUM

(7)

vi

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

PEMBUATAN PETA LAND USE PENDAHULUAN

Latar Belakang ...

Tujuan ...

TINJAUAN PUSTAKA METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat ...

Alat dan Bahan ...

Prosedur ...

HASIL PEMBAHASAN

Hasil ...

Pembahasan...

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...

Saran ...

DAFTAR PUSTAKA

(8)

vii

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman

1. Data Uji Akurasi ...

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1 Tampilan file Erdas ...

2 Tampilan penginstalan Erdas Imagine 9.1 ...

3 Tampilan leica geosystem...

4 Tampilan pemilihan imtools ...

5 Tampilan perubahan service name menjadi ERDAS Imagine 9.1 ...

6 Tampilan kolom use service yang dicentang ...

7 Tampilan stop server lalu start server ...

8 Tampilan ERDAS 9.1 ...

9 Tampilan Citra Sentinel 2 Wilayah Kota Medan ...

10 Tampilan web ers.cr.usgs.gov ...

11 Tampilan 'data provider (provide data for someone else to use) ...

12 Tampilan 'Edukation K-12' ...

13 Tampilan dicentang 'land use/land cover change', 'urban planning and ...

development', 'fire science/management', 'Environmental regulation'. ...

14 Tampilan very important ...

15 Tampilan 'Continue to Contact Information' ...

16 Tampilan 'save contact information' ...

17 Tampilan username dan password ...

18 Tampilan Longitude dan Latitude ...

19 Tampilan 'Data Sets' ...

20 Tampilan Landsat 8-9 OLI/TIRS C2L1, lalu 'Results' ...

21 Tampilan Tampilan lokasi yg tidak memiliki awan, citranya sebesar 1.20GB . 22 Hasil Citra yang sudah di download ...

23 Tampilan Longitude dan Latitude ...

24 Tampilan import data band citra landsat 8...

25 Tampilan pengaturan tipe file pada band menjadi img ...

26 Tampilan layer stack data band citra landsat 8 ...

27 Tampilan input data citra Natural_Color ...

28 Tampilan Tampilan fit image to window ...

29 Tampilan hasil layer stacking komposit band 4,3,2 ...

30 Tampilan Erdas Imagine 9.1. ...

31 Tampilan Raster ...

32 Tampilan General contrast adjust ...

33 Tampilan ketika disave. ...

34 Hasil Koreksi Radiometrik. ...

35 Memilih Option Unsupervised Classification ...

36 Proses settings unsupervised classification ...

37 Proses klasifikasi citra ...

38 Citra yang telah diklasifikasikan ...

39 Proses penyesuaian warna masing-masing kelas tutupan lahan ...

40 Hasil Klasifikasi tak terbimbing ...

41 Klasifikasi Terbimbing Kecamatan Medan Sunggal ...

42 Tampilan data Penggunaan Lahan dan Batas Administrasi Desa ...

43 Tampilan ArcMap ...

44 Tampilan data Penggunaan Lahan dan Batas Administrasi ...

45 Tampilan ArcToolbox ...

46 Tampilan layer yang akan dipotong ...

(10)

ix

47 Tampilan peta yang sudah di Clip ...

48 Proses Pembukaan web GEE ...

49 Proses pembuatan akun ...

50 Proses pembuatan repository...

51 Proses nama file ...

52 Proses new file ...

53 Pengganti nama file ...

54 Proses memasukkan script ...

55 Tampilan new layer ...

56 Tampilan Pengaturan geometry ...

57 Proses add property ...

58 Tampilan draw a rectangle ...

59 Tampilan new layer ...

60 Proses add property ...

61 Proses Pembuatan rectangle ...

62 Tampilan new layer ...

63 Proses add property ...

64 Proses pembuatan rectangle ...

65 Proses add property ...

66 Pengganti nama file ...

67 Pembuatan rectangle ...

68 Proses add property ...

69 Pembuatan rectangle ...

70 Proses add property ...

71 Proses pembuatan rectangle ...

72 Proses add property ...

73 Proses Pembuatan rectangle ...

74 Proses add property ...

75 Proses Pembuatan rectangle ...

76 Hasil analisis tutupan lahan ...

77 Tampilan situs Tanahair.indonesia ...

78 Tampilan ArcGis ...

79 Tampilan Proses Geoprocessing Union ...

80 Tampilan Proses Geoprocessing Clip ...

81 Proses add property ...

82 Tampilan Layer Properties ...

83 Tampilan Perubahan Warna Simbol ...

84 Tampilan Peta Land Use ...

85 Peta Land Use (2014-2019-2024) Kecamatan Medan Sunggal ...

(11)

x

PENGINSTALAN ERDAS IMAGINE 9.1

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2024

(12)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tutupan lahan adalah kenampakan material fisik permukaan bumi.

Tutupan lahan dapat menggambarkan keterkaitan antara proses alami dan proses sosial. Tutupan lahan dapat menyediakan informasi yang sangat penting untuk keperluan pemodelan serta untuk memahami fenomena alam yang terjadi di permukaan bumi. Data tutupan lahan juga digunakan dalam mempelajari perubahan iklim dan memahami keterkaitan antara aktivitas manusia dan perubahan global. Informasi tutupan lahan yang akurat merupakan salah satu faktor penentu dalam meningkatkan kinerja dari model-model ekosistem, hidrologi, dan atmosfer. Tutupan lahan merupakan informasi dasar dalam kajian geoscience dan perubahan global yang terjadi (Jia et al. 2014).

Tutupan lahan merupakan informasi yang sangat penting dalam sektor pertanian. Misalnya dalam kajian perluasan sawah baru. Perluasan sawah baru bertujuan untuk meningkatkan produksi padi guna meningkatkan ketahanan pangan. Informasi tutupan lahan terbaru berupa peta dapat diperoleh melalui teknik penginderaan jauh. Penginderaan jauh telah lama menjadi sarana yang penting dan efektif dalam pemantauan tutupan lahan dengan kemampuannya menyediakan informasi mengenai keragaman spasial di permukaan bumi dengan cepat, luas, tepat, serta mudah. Sumber data penginderaan jauh merupakan faktor penting dalam keberhasilan klasifikasi tutupan lahan. Data satelit Landsat biasanya digunakan dalam penginderaan jauh untuk klasifikasi tutupan lahan dengan demikian peta tutupan lahan terbaru dapat diperoleh dengan mudah.

Berdasarkan keterbaruan data, informasi yang diperoleh melalui penginderaan jauh dinilai lebih baik dibandingkan dengan informasi dari instansi pemerintah yang terkait. Melalui pengindraan jauh, data satelit yang digunakan dapat berupa data hasil perekaman (Asik et al., 2020).

Penginderaan jauh merupakan suatu penggabungan dari suatu ilmu serta seni yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai suatu objek, daerah, atau fenomena dengan melakukan analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa harus bersentuhan langsung dengan objek yang sedang dikaji. Penginderaan

(13)

2

jauh adalah proses untuk mendapatkan informasi dari suatu sifat objek atau fenomena tertentu dengan cara tidak terjadi kontak langsung dengan objek yang dikaji tetapi dengan menggunakan alat perekam. Banyak para ilmuwan yang mendefinisikan penginderaan jauh dengan bahasa yang berbeda. Penginderaan jauh adalah teknik dalam mendapatkan informasi tentang suatu objek atau lingkungan dari jarak yang jauh dan tidak bersentuhan langsung dengan objek yang dikaji (Kanata et al., 2021).

Penginderaan jauh sebagai ilmu, teknologi dan seni untuk mendeteksi dan/atau mengukur obyek atau fenomena di bumi tanpa menyentuh obyek itu sendiri memerlukan kamera untuk menangkap pantulan sinar dari obyek tersebut.

Untuk itu digunakan kamera yang terpasang pada wahana ruang angkasa yang diluncurkan ke angkasa luar dan sering disebut sebagai satelit. Kamera yang dipasang pada satelit berfungsi sebagai indera penglihatan yang melakukan perekaman terhadap permukaan bumi pada sat satelit tersebut beredar mengitari bum menurut garis orbit atau edarnya. Sensor yang ada pada kamera akan mendeteksi informasi permukaan bumi melalui energi radiasi matahari yang dipantulkan oleh permukaan ke atas, data energi pantulan radiasi ini diolah menjadi gejala listrik dan data dikirim ke stasiun pengolahan satelit yang ada di bumi. Dalam sistem penginderaan jauh terdapat 4 komponen utama yaitu: (1) sumber energi, (2) interaksi energi dengan atmosfer, (3) sensor sebagai alat mendeteksi informasi dan (4) obyek yang menjadi sasaran (Syah, 2019).

Satelit landsat 8 memiliki sensor Onboard Operational Land Imager (OLI) dan Thermal Infrared Sensor (TIRS) dengan jumlah kanal sebanyak 11 buah.

Diantara kanal-kanal tersebut, 9 kanal (band 1-9) berada pada OLI dan 2 lainnya (band 10 dan 11) pada TIRS. Sebagian besar kanal memiliki spesifikasi mirip dengan landsat 7. Seperti dipublikasikan oleh USGS, satelit landsat 8 terbang dengan ketinggian 705 km dari permukaan bumi dan memiliki area scan seluas 170 km x 183 km (mirip dengan landsat versi sebelumnya) (Sitanggang, 2014).

Tujuan

Tujuan dari praktikum yang berjudul ”Penginstalan ERDAS Imagine 9.1 adalah untuk mengetahui proses penginstalan ERDAS Imagine 9.1.

(14)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi penutupan lahan dalam kajian ini dilakukan dengan teknik interpretasi secara visual. Interpetasi merupakan penyampaian suatu informasi yang dilihat tentang suatu objek yang dilihat oleh infoman. Interpretasi yang dilakukan dalam analisis kajian ini dengan melihat 8 unsur melalui suatu perangkat komputer. Dalam interpretasi citra, untuk mengenali suatu objek diperlukan alat bantu dengan menggunakan 8 unsur intrepretasi citra yaitu rona atau warna, tekstur, bentuk, pola, ukuran, bayangan, asosiasi, dan situs.

Identifikasi karakteristik tutupan lahan pada kajian penelitian ini dilakukan dengan melihat kenampakan objek dalam berdasarkan ciri-ciri terhadap gambar citra dan keadaan tutupan lahan di lapangan yaitu karakteristik spasial dalam interpretasi citra digital dikenal dengan pengenalan pola dalam klasifikasi dengan pendekatan tekstur (Sampurno, 2016).

Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, daerah atau gejala yang dikaji. Terdapat dua jenis citra yaitu: citra optik dan citra non- optik. Citra optik adalah gambaran suatu objek yang dibuat berdasarkan sistem penginderaan jauh pasif (menggunakan energi matahari sebagai energi utama, misalnya: foto udara, citra satelit landsat, SPOT, quickbird, dsb). Citra optik adalah menggunakan system scanning pada citra satelit atau foto udara.

Sedangkan, citra non-optik adalah gambaran suatu objek yang diambil dari sistem penginderaan jauh aktif, menggunakan gelombang yang diproduksi secara mandiri dari alat dan ditangkap dengan menggunakan sensor, misalnya Synthetic Aperture Radar (SAR), Light Detection and Ranging (LiDAR). (Natsir, 2014).

Penginderaan jauh dikenal sebagai ilmu yang dipelajari untuk memperoleh data dan mendapat data informasi tanpa harus kontak langsung dengan objek yang dikaji. Sedangkan citra merupakan data yang kita peroleh dalam sensor pengindraan jauh digunakan untuk mengkaji informasi yang dibutuhkan.

Pembangunan infrastruktur menjadi penilaian penting bagi pengujung wisata pada proyek wisatanya sendiri. Infrastruktur yang menunjang dan baik tentunya akan

(15)

4

menarik perhatian lebih dari masyarakat sekitar maupun luar daerah.

Penginderaan jauh digunakan tergantung energi gelombang elektromagnetik ini sendiri dapat berasal dari banyak hal, akan tetapi gelombang elektromagnetik yang terpenting pada peginderaan jauh adalah sinar matahari. Dari sinar matahari yang terserap objek, dapat menghasilkan citra foto/satelit yang sangat berguna dalam pengkajian tanah lahan pembangunan dan pengembangan daerah wisata.

Dengan kemajuan teknologi yang sangat membantu dalam perolehan data dalam implementasi teknologi penginderaan jauh, dapat diperoleh citra foto melalui lansat 8 OLI daerah wisata. (Goma et al., 2021).

Erdas Imagine adalah aplikasi penginderaan jauh dengan raster grafis editor yang dikembangkan oleh Erdas Inc untuk aplikasi geospasial. Erdas Imagine memiliki kemampuan secara otomatis menambahkan bidang luas dan parameter ke tabel atribut shapefile poligon dan menghitung nilai-nilai yang relevan. Informasi Geospasial diperlukan sebagai bahan dasar pertimbangan pemgambilan keputusan dalam pembangunan, baik ruang/wilayah,kebencanaan, pengelolaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dansumberdaya lainnya. Di dalam Pasal 22 UU No 4 / 2011 mengatur bahwa Badan Informasi Geospasial (BIG) bertanggung jawab dalam penyelenggaraan InformasiGeospasial Dasar (IGD). Salah satu produk dari IGD adalah Peta Topografi. BIG dituntut untuk menyediakan peta topografi dalam berbagai skala untuk seluruhwilayah Indonesia. Kebutuhan peta topografi skala besar dalam jumlah yang besardan dalam waktu yang singkat (Javed et al., 2014).

Data DEM dapat diperoleh dari ekstraksi data citra satelit.

Penggunaancitra satelit beresolusi tinggi menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan produk peta skala besar dalam waktu singkat. Dengan kapasitas kemampuan yangdimiliki oleh Satelit Pleiades kemudian menjadi salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji prosedurdalam pembuatan DEM secara otomatis sehingga dapat menghasilkan DEM yangmempunyai error paling kecil. Digital Elevation Model (DEM) dapat digunakandalam berbagai macam aplikasi, misalnya telekomunikasi, navigasi,manajemen bencana, perencanaan sipil, orthorektifikasi citra satelit dan irbone. DEM dapatdiperoleh melalui berbagai macam teknik seperti stereo

(16)

5

fotogrametri dari surveyfoto udara, LiDAR, IFSAR, dan survey pemetaan..

(Sitanggang, 2014).

Teknik penginderaan jauh telah berkembang sangat pesat sejak diluncurkannya Landsat 1 pada tahun 1972 hingga peluncuran Landsat 7. Dengan melakukan analisis terhadap data yang terkumpul ini dapat diperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Saat ini Landsat 7 masih berfungsi namun pada Mei 2003 mengalami kegagalan pada Scan Line Corrector sehingga sangat mengganggu dalam melakukan analisis citra (Mentari, 2013; USGS, 2016).

Pada tanggal 11 Februari 2013 diluncurkan satelit generasi terbaru yaitu Landsat Data Continuity Mission (LDCM) yang dikenal sebagai Landsat 8. Keberhasilan ini melanjutkan misi satelit Landsat dalam pengamatan permukaan bumi. Landsat 8 mengorbit bumi setiap 99 menit, serta melakukan liputan pada area yang sama setiap 16 hari kecuali untuk lintang kutub tertinggi. Landsat 8 mengorbit bumi pada ketinggian ratarata 705 km dengan sudut inklinasi 98.2°. Landsat 8 memiliki 2 sensor yaitu sensor Operasional Land Imager (OLI) terdiri dari 9 saluran (band) termasuk band pankromatik beresolusi tinggi, dan Thermal Infra Red Sensor (TIRS) dengan 2 band termal (Lulla, 2014).

Penginderaan jauh yaitu berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus berbentuk radiasi elekhomagnetik yang dipantaukan atau dipancarkan dari permukaan bumi. Pengumpulan data dalam pengiinderaan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan sensor buatan. Dengan melakukan analisis terhadap data yang terkumpul ini dapat diperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Karena penginderaannya dilakukan dari jarak jauh, diperlukan tenaga penghubung yang membawa data tentang obyek ke sensor. Data tersebut dapat dikumpulkan dan direkam dengan tiga cara, yakni dengan berdasarkan atas variasi : (1) distribusi daya (force), (2) distribusi gelombang bunyi, dan (3) distribusi tenaga elekhomagnetik. Obyek, daerah, atau gejala di permukaan bumi dapat dikenali pada hasil rekamannya karena masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri dalam interaksinya terhadap daya, gelombang bunyi, atau tenaga elektromagnetik. (Pahleviaanur, 2019).

(17)

6

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Praktikum Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul “Penginstalan ERDAS Imagine 9.1” ini dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Februari 2024 pukul 10.00 WIB sampai selesai. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Laptop dan alat tulis.

Bahan yang digunakan pada praktikum adalah Software ERDAS Imagine9.1

Prosedur

1. Diklik setup untuk penginstalan Erdas Imagine 9.1

2. Dicopy file crack

(18)

7

3. Dipaste file crack ke folder Leica Geosystems/Geospatial Imaging 9.1/Bin/NTx86

4. Diklik lmtools

5. Diubah service name menjadi Erdas Imagine 9.1

6. Diklik browse 1 dan pilih lmgrd

(19)

8 7. Diklik browse 2 dan pilih license.dat

8. Diklik browse 3 dan pilih erdas91

9. Diklik use service dan start server at power up

10. Diklik save service

(20)

9 11. Diklik start/stop/reread dan pilih start server

12. Diklik specity the license server dan masukkan computer name .

(21)

10

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Adapun hasil yang diperoleh dari Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul

“Pengunduhan Citra Landsat 8” sebagai berikut.

Gambar 1. Tampilan Erdas Imagine 9.1 Pembahasan

Penginderaan jauh berbasis satelit menjadi sangat populer dan digunakan untuk berbagai tujuan kegiatan, salah satunya untuk mengidentifikasi potensi sumber daya kehutanan. Hal ini disebabkan perolehan data penginderaan jauh melalui satelit menawarkan beberapa keunggulann, antara lain harga yang murah, periode ulang perekaman daerah yang sama, pemilihan spektrum panjang gelombang untuk mengatasi hambatan atmosfer, daerah cakupannya yang luas dan mampu menjangkau daerah terpencil, bentuk datanya digital, serta kombinasi saluran spectral (band) sehingga data tersebut dapat diolah dalam berbagai keperluan, seperti pengolahan citra untuk membuat peta administrasi, peta tutupan lahan, dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Niagara et al., (2020) menyatakan bahwa Penginderaan jauh ini telah lama menjadi sarana penting dan

(22)

11

efektif dalam pemantauan tutupan lahan dengan kemampuannya menyediakan informasi mengenai keragaman spasial di permukaan bumi dengan cepat, luas, tepat, serta mudah. Citra satelit landsat biasanya digunakan dalam penginderaan jauh untuk klasifikasi tutupan lahan.

Erdas imagine adalah perangkat lunak pemprosesan citra digital keluaran perusahaan Leica. Produk Erdas Imagine dan LPS (Leica Photogrametry Suite) merupakan produk andalan dari Erdas untuk analisis citra dan fotogrametri.

Dikutip dari Shalihati (2014) bahwa kelebihan utama produk-produk ini adalah set analisis dan fotogrametri citra yang komprehensif dan luas serta integrasi yang luas dengan database spasial dan manipulasi database yang banyak sedangkan kelemahan yang utama adalah navigasi dokumentasi yang sulit.

Erdas Imagine 9.1 mempunyai fungsi pansharpen yang memiliki versi ini mengkombinasikan teknik merger filter resolusi High-Pass dengan Pan- sharpening dari pankromatik resolusi tinggi dengan data multispektral. Teknik ini didesain untuk memberikan keseimbangan antara ketajaman warna dan kedetailan spasial. Hampir sebagian besar metode pan-sharpen mempunyai hasil yang kurang memuaskan ketika data spektral mempunyai resolusi yang sangat rendah (lebih dari 5 berbanding 1) dengan data resolusi tinggi. Hal ini sesuai dengan Firmansyah (2022) bahwa salah satu yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan spasial adalah memutuskan kualitas metrik dan citra, tetapi tool yang secara otomatis menghitung perbedaan statistik antara kontrol poin visual serta lokasi citra jarang ditemukan pada berbagai software fotogrametri.

Erdas Imagine memiliki beberapa keunggulan yang berguna untuk bidang kehutanan, seperti membantu dalam pemantauan, pengendalian, dan pengelolaan hutan lebih efektif dan efisien. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Koto (2017) menjelaskan bahwa Erdas Imagine 9.1 dapat digunakan untuk berbagai aplikasi seperti pemantauan lingkungan, pemetaan penggunaan lahan, dan perencanaan kota. Selain itu, software ini memiliki beberapa fitur diantaranya antarmuka yang bersih dan intuitif dirancang untuk menyederhanakan alur kerja dan menghemat waktu, fungsi pemrosesan data yang kuat. Kekuatan pemodel spasial pada Erdas Imagine 9.1 terletak pada lingkungan pengeditan grafis spasial.

(23)

12

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, daerah atau gejala yang dikaji.

2. Data penginderaan jauh dapat dikumpulkan dan direkam dengan tiga cara, yakni dengan berdasarkan atas variasi : (1) distribusi daya (force), (2) distribusi gelombang bunyi, dan (3) distribusi tenaga elekhomagnetik.

3. Erdas Imagine 9.1 adalah aplikasi penginderaan jauh dengan raster grafis editor yang dikembangkan oleh Erdas Inc untuk aplikasi geospasial

4. Erdas Imagine memiliki beberapa keunggulan yang berguna untuk bidang kehutanan, seperti membantu dalam pemantauan, pengendalian, dan pengelolaan hutan lebih efektif dan efisien.

5. Interpretasi citra, untuk mengenali suatu objek diperlukan alat bantu dengan menggunakan 8 unsur intrepretasi citra yaitu rona atau warna, tekstur, bentuk, pola, ukuran, bayangan, asosiasi, dan situs.

Saran

Sebaiknya praktikan praktikan memperhatikan materi saat praktikum berlangsung dan mahasiswa lebih aktif dalam praktikum agar dapat mempraktekkan materi yang telah dijelaskan.

(24)

13

PENDOWNLOADAN CITRA LANDSAT BAND 8

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2024

(25)

14

PENDAHULUAN

Latar belakang

Sistem Informasi Geografis (SIG) atau lebih dikenal dengan akronim GIS merupakan sistem yang didesain untuk menangkap, menyimpan, memanipulasi, menganalisa, mengatur dan menampilkan seluruh jenis data geografis . Dalam artian sederhana sistem informasi geografis dapat disimpulkan sebagai gabungan kartografi, analisis statistik dan teknologi sistem basis data (database). GIS memiliki 4 komponen yaitu sistem komputer dan perangkat lunak , data spatial, database Manajemen Sistem dan sumber daya manusia. Sistem informasi Geografis (SIG) terdiri dari 3 jenis yaitu Berdasarkan teknologi dan implementasinya, GIS dikategorikan dalam 3 (tiga) aplikasi yaitu:SIG, SIG berbasis Web, dan SIG berbasis mobile, SIG berbasis desktop secara sederhana, desktop GIS dapat desfinisikan sebagai aplikasi sistem informasi geografis yang diimplementasikan pada komputer desktop (stand alone) (Irsa et al., 2020).

Penginderaan jarak jauh didefinisikan sebagai suatu seni dalam mengolah citra dan menafsirkan untuk mendapatkan suatu informasi. Data mentah citra satelit memiliki berbagai macam resolusi seperti rendah, menengah, tinggi dan sangat tinggi. Pemanfaatan citra dengan resolusi tinggi dan turunannya adalah untuk memperbarui peta skala besar yang berguna untuk memantau perkembangan bangunan di suatu wilayah. Akan tetapi pemanfaatan teknologi ini untuk updating peta skala besar mempunyai beberapa kendala, misalnya perekaman data oleh sensor satelit yang tidak dapat digunakan secara langsung karena masih terdapat beberapa kesalahan geometrik yang harus dieliminir (Lukiawan et al., 2019).

Penginderaan jarak jauh telah lama memegang peran penting dan efektif dalam pemantauan tutupan lahan dengan kemampuannya menyediakan informasi mengenai keragaman spasial di permukaan bumi dengan cepat, luas, tepat, serta mudah. Aktivitas penginderaan jauh sudah lama dilaksanakan di Indonesia sejak 1993 untuk mendukung berbagai sektor pembangunan dan pelestarian lingkungan.

Terlebih saat ini, beberapa citra satelit penginderaan jauh bisa diperoleh dengan

(26)

15

mudah dan gratis, seperti citra satelit Landsat 8. Pada pendistribusiannya, citra satelit Landsat 8 bisa didapatkan dalam bentuk data mentah (raw data) ataupun data yang sudah diproses terlebih dahulu sebelum dibagikan (Matiur et al., 2019).

Teknik penginderaan jauh telah berkembang sangat pesat sejak diluncurkannya Landsat 1 pada tahun 1972 hingga peluncuran Landsat 7. Pada tanggal 11 Februari 2013 diluncurkan satelit generasi terbaru yaitu Landsat Data Continuity Mission (LDCM) yang dikenal sebagai Landsat 8. Keberhasilan ini melanjutkan misi satelit Landsat dalam pengamatan permukaan bumi. Landsat 8 mengorbit bumi setiap 99 menit, serta melakukan liputan pada area yang sama setiap 16 hari kecuali untuk lintang kutub tertinggi. Landsat 8 mengorbit bumi pada ketinggian ratarata 705 km dengan sudut inklinasi 98.2°. Landsat 8 memiliki 2 sensor yaitu sensor Operasional Land Imager (OLI) terdiri dari 9 saluran (band) termasuk band pankromatik beresolusi tinggi, dan Thermal Infra Red Sensor (TIRS) dengan 2 band termal (Sampurno, 2016).

Saat ini teknologi penginderaan jauh berbasis satelit menjadi sangat populer dan digunakan untuk berbagai tujuan kegiatan, salah satunya untuk mengidentifikasi potensi sumber daya kehutanan. Hal ini disebabkan perolehan data penginderaan jauh melalui satelit menawarkan beberapa keunggulann, antara lain harga yang murah, periode ulang perekaman daerah yang sama, pemilihan spektrum panjang gelombang untuk mengatasi hambatan atmosfer, daerah cakupannya yang luas dan mampu menjangkau daerah terpencil, bentuk datanya digital, serta kombinasi saluran spectral (band) sehingga data tersebut dapat diolah dalam berbagai keperluan, seperti pengolahan citra untuk membuat peta administrasi, peta tutupan lahan, dan sebagainya Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut tidak hanya beragam citra dan sensor yang muncul, namun juga resolusi spasial pada citra tersebut(Yudha et al., 2020).

Tujuan

Tujuan dari praktikum Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul “Koreksi Radiometrik” adalah untuk mengetahui langkah-langkah dalam melakukan koreksi radiometrik pada citra landsat 8 menggunakan ERDAS Imagine.

(27)

16

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem Informasi Geografis atau dalam bahasa Inggris adalah Geographic Information System (GIS) merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis. SIG mulai dikenal pada awal 1980-an, sejalan dengan berkembangnya perangkat komputer, baik perangkat lunak maupun perangkat keras. SIG berkembang sangat pesat pada era 1990-an hingga saat ini. Komponen kunci dalam SIG adalah sistem komputer, data geospatial (data atribut) dan pengguna. Saat ini, Sistem Informasi Geografis (SIG) mengalami perkembangan yang berarti seiring kemajuan teknologi informasi. SIG merupakan sistem informasi berbasis computer yang menggabungkan antara unsur peta dan informasinya tentang peta tersebut (data atribut) yang dirancang untuk mendapatkan, mengolah, memanipulasi, analisa, memperagakan dan menampilkan data spasial untuk menyelesaikan perencanaan, mengolah dan meneliti permasalahan (Khoirunnisa et al., 2019).

Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, (misalnya dari, pesawat luar angkasa, satelit, atau alat lain). Contoh dari penginderaan jauh antara lain satelit pengamatan bumi, satelit cuaca, dan wahana luar angkasa yang memantau planet dari orbit. Inderaja berasal dari bahasa Inggris remote sensing, bahasa Perancis télédétection, bahasa Jerman fernerkundung, dan Portugis sensoriamento remota. Di masa modern, istilah penginderaan jauh mengacu kepada teknik yang melibatkan instrumen di pesawat atau pesawat luar angkasa dan dibedakan dengan penginderaan lainnya seperti penginderaan medis atau fotogrametri. Istilah "penginderaan jauh" umumnya lebih kepada yang berhubungan dengan teresterial dan pengamatan cuaca. Teknologi inderaja, dalam hal ini citra satelit beresolusi tinggi, dipandang sebagai metode yang tepat untuk memperoleh data tutupan/penggunaan lahan. (Suheri et al., 2021).

Citra Landsat 8 itu sendiri adalah satelit yang bertugas mengobservasi bumi dan merupakan hasil kerja sama antara National Aeronauticsand Space

(28)

17

Administration (NASA) dan juga U.S Geographical Survey (USGS).

Satelit Landsat 8 memiliki 2 sensor yaitu Operational Land Imager (OLI) dan Thermal Infrared Sensor (TIRS), dengan kedua sensor tersebut Landsat 8 dapat terbang pada ketinggian 705 km dari permukaan bumi dan memiliki area rekam seluas 170 km x 183 km. Satelit Landsat 8 didesain untuk dapat beroperasi selama 5 tahun. Citra satelit Landsat 8 ini dalam melakukan liputan pada area yang sama memerlukan waktu 16 hari sekali dan untuk mengorbit bumi memerlukan waktu 99 menit. Satelit Landsat 8 mempunyai 11 saluran/band yang dimana 9 band terdapat pada sensor Operational Land Imager(OLI) dan 2 band lainnya berada pada sensor Thermal Infrared Sensor(TIRS) (Kanata et al.,2021).

Pengolahan citra dimaksudkan untuk mengekstrak informasi-informasi yang terdapat pada citra baik yang bersifat informasi spasial maupun informasi deskriptik, dimana semua proses pengolahan dilakukan secara digital dengan bantuan komputer. Pengolahan citra dilakukan dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu : pemulihan citra, penajaman citra, klasifikasi citra. Koreksi radiometrik dilakukan untuk kesalahan yang disebabkan waktu perekaman maupun kesalahan yang diakibatkan oleh perjalanan sinar matahari dari suatu obyek ke kamera perekam melalui media atmosfer (Ringgas, 2023).

Geometrik merupakan posisi geografis yang berhubungan dengan distribusi keruangan (spatial distribution). Geometrik memuat informasi data yang mengacu bumi (geo-referenced data), baik posisi(system koordinat lintang dan bujur) maupun informasi yang terkandung didalamnya. Kesalahan geometrik citra berdasarkan sumbernya kesalahan geometric pada citra penginderaan jauh dapat dikelompokkan menjadi dua tipe kesalahan, yaitu kesalahan internal (internal distorsion), dan kesalahan eksternal (external distorsion). Kesalahan geometrik menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kesalahan sistematik dan kesalahan random (Pidu et al., 2019).

Koreksi geometrik merupakan suatu proses untuk mengoreksi kesalahan dan menandai sifat-sifat peta pada sebuah citra. Geometrik citra harus dikoreksi agar sesuai dengan peta yang digunakan dengan sistem koordinat yang dipilih, sehingga citra dapat diidentifikasi dengan baik atau titik-titik yang diamati di

(29)

18

lapangan dapat ditemukan dengan mudah pada citra. Teknik koreksi geometrik yang digunakan adalah transformasi titik kontrol pada citra Worldview-2 sebagai pengoreksi citra drone yang ditumpangsusunkan untuk memperoleh titik kontrol sumbu X (bujur) dan sumbu Y (lintang) (Sugara et al., 2020).

Koreksi geometrik dilakukan karena terjadi distorsi geometrik antara citra hasil penginderaan jauh dengan objek yang direkam pada permukaan Bumi.

Koreksi ini mencakup perujukan titik-tititk tertentu pada citra ke titik-titik yang sama ke medan maupun di peta. Pasangan titik-titik kemudian digunakan untuk membangun fungsi matematis yang menyatakan hubungan antara posisi sembarang titik pada citra dengan titik objek yang sama pada peta maupun lapangan. Interpolasi spasial adalah proses dari penentuan hubungan geometrik antara

lokasi piksel pada citra masukan dan peta. Pada proses ini dibutuhkan beberapa titik kontrol medan (Ground Control Point/GCP) yang dapat diidentifikasi padacitra dan peta. Apabila persamaan transformasi koordinat diterapkan pada titik-titik kontrol maka diperoleh residual x dan residual y. Residual adalah penyimpangan posisi titik yang bersangkutan terhadap posisi yang diperoleh melalui transformasi koordinat yang kemudian dinyatakan sebagai nilai Residual Means Square Error atau RMS (error) Prabandaru (2022).

Koreksi geometrik citra mempunyai tiga tujuan yaitu: elakukan rektifikasi (pembetulan) atau restorasi (pemulihan) citra agar koordinat citra sesuai dengan koordinat pada system proyeksi. Registrasi (mencocokkan) posisi citra dengan citra lain atau mentranformasikan sistem koordinat citra multispektral atau citra multitemporal. Registrasi citra ke peta atau transformasi sistem koordinat citra ke peta, yang menghasilkan citra dengan sistem proyeksi tertentu. Oleh karena itu koreksi geometrik dilakukan dengan proses transformasi, yang dapat ditetapkan melalui hubungan sistem koordinat citra (i,j) dan sistem koordinat peta (x,y).

Rektifikasi merupakan proses yang dilakukan untuk memproyeksikan citra ke bidang datar agar bentuknya konform (sebangun) dengan sistem proyeksi peta yang digunakan dan mempunyai orientasi arah yang benar. Oleh karena posisi piksel pada citra output tidak sama dengan posisi piksel input. (Lazuardi et al., 2020)

(30)

19

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul “Pendownloadan Citra Landsat Band 8” dilaksanakan pada hari Rabu, 06 Maret 2024 pukul 10.00 WIB s/d. selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Manajemen Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah laptop, alat tulis dan software Imagine 9.1, dan USGS

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah video tutorial dan citra landsat-8 OLI.

Prosedur Praktikum

1. Dibuka halaman USGS di Internet dan Creat Account.

Gambar 2.Tampilan USGS

2. Diganti Tahun pada Date Strage tahun 2019-2024

Gambar 3. Tampilan ganti tahun pada USGSS

(31)

20

3. Diklik Clear All Selected pilih Landsat Collecion 2 Level 1, Landsat 8-9 OLI

Gambar 4. Klik Landsat Collection 2 Level 1 dan 8-9 OLI

4. Diklik Result dan pilih citra yang aka di download yang minim awan

Gambar 5. Tampilan Citra yang akan diunduh

5. Diunduh citra sesuai lokasi masing-masing kemudian klik download

Gambar 6. Unduh citra sesuai lokasi

(32)

21

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Adapun hasil yang diperoleh dari praktikum Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul “Koreksi Radiometrik” adalah sebagai berikut.

Gambar 7. Hasil Citra Bandsat 8 yang sudah diunduh

Pembahasan

Pengolahan data citra digital merupakan suatu proses yang bertujuan untuk mengolah dan menganalisis citra dengan bantuan komputer. Pada pengolahan citra digital terdapat beberapa proses yang harus dilakukan terhadap data penginderaan jauh, yaitu: a) Layer stacking merupakan sebuah teknik untuk menggabungkan beberapa saluran citra yang terpisah menjadi satu file yang tergabung, dengan prinsip penggabungan, daerah perekaman masih pada satu area, lebar dimensi citra yang dimiliki sama. b) Cropping citra merupakan cara pengambilan data yang dilakukan dengan memisahan memotongan suatu arca tertentu dari suatu data citra yang memiliki area yang lebih luas. c) Koreksi radiometrik merupakan proses untuk memperbaiki kualitas visual citra dalam hal memperbaiki nilai piksel yang tidak sesuai dengan nilai pantulan objek yang sebenarnya. d) Koreksi atmospheric, koreksi ini dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai parameter atau indikator atmosfer dalam proses

(33)

22

koreksi. e) Masking bertujuan untuk menghapus nilai piksel yang tidak diperlukan dan memungkinkan mengganggu area yang sedang diteliti (Suprayogi, 2016).

Pemotongan citra dilakukan untuk memilih lokasi yang diinginkan dengan memotong sebagian wilayah pada 1 scene citra Pemotongan citra dilakukan membantu memfokuskan area dan minimalisir penggunaan memori serta mempercepat processing pengolahan data. Penggabungan citra dilakukan untuk membedakan antara objek dengan menggabung 3 band yaitu band Red, Green dan Blue (RGB) dengan tersusun. Band RGB pada citra Sentinel yaitu band 432, band 4 menunjukkan warna merah, band 3 menunjukkan warna hijau dan band 2 menunjukkan warna biru. Kombinasi band ini yang akan dapat menampilkan pada objek sebagaimana warna aslinya.

Keberadaan Sentinel-2 didesain secara khusus untuk membantu ilmuwan mempelajari dan memantau interaksi dan proses yang ada di bumi; menyiapkan strategi dalam menghadapi tantangan perubahan global yang sedang terjadi; serta mencapai tujuan pengembangan masyarakat (Societal Development Goals). Selain itu dengan adanya satelit ini diharapkan ilmuwan mendapatkan harmonisasi data dan produk keilmuan yang baru untuk mengembangkan, dan mengintegrasikan pemantauan langsung dengan pemodelan untuk memahami perubahan lingkungan regional dan global. Sentinel-2 memanfaatkan teknologi dan pengalaman yang diperoleh untuk mendukung pasokan data operasional untuk layanan seperti manajemen resiko (banjir dan kebakaran hutan, penurunan dan tanah longsor), penggunaan/perubahan lahan, pemantauan hutan, keamanan pangan/ sistem peringatan dini, pengelolaan air dan perlindungan tanah, pemetaan perkotaan, serta pemantauan kondisi di bagian perairan darat dan laut (Nadya, 2017).

Diketahui data citra Landsat 7 ETM+ terdiri dari 8 band dan Landsat 8 OLI terdiri dari 11 band yang masing-masing memiliki fungsi masingmasing.

Proses dalam menampilkan suatu tampilan baku dari citra landsat yang terdiri dari beberapa band, diperlukan suatu proses penggabungan saluran band yang disebut layer stacking Penentuan citra subset (cropping) dilakukan untuk mengakomodasikan ukunan citra dan objek penelitian, citra dicrop sesuai dengan ukuran lokasi penelitian. Gabungan (komposit) saluran/band dilakukan untuk mendapatkan ketajaman objek dan menghasilkan warna komposit yang optimum.

(34)

23

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penginderaan jauh, khususnya menggunakan citra satelit seperti Landsat 8, memiliki peran penting dalam pemantauan tutupan lahan dan lingkungan dengan menyediakan informasi yang luas dan akurat. Proses koreksi radiometrik pada citra Landsat 8 dilakukan untuk memperbaiki kesalahan radiometrik dan menghasilkan citra yang lebih akurat. Selain itu, koreksi geometrik juga penting dalam mengurangi kesalahan posisi citra dan memastikan kesesuaian dengan peta atau data referensi lainnya.

Saran

Sebaiknya dalam proses pendownloadan citra, praktikan dapat mengetahui berbagai metode penetuan ctra yang minim awan dan lokasi kecamatan masuk dalam citra sehingga pada judul selanjutnya tidak terjadi wilayah yang kepotong

(35)

24

LAYER STACKING

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2024

(36)

25

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Teknik penginderaan jauh telah berkembang sangat pesat sejak diluncurkannya Landsat 1 pada tahun 1972 hingga peluncuran Landsat 7. Pada tanggal 11 Februari 2013 diluncurkan satelit generasi terbaru yaitu Landsat Data Continuity Mission (LDCM) yang dikenal sebagai Landsat 8. Keberhasilan ini melanjutkan misi satelit Landsat dalam pengamatan permukaan bumi. Landsat 8 mengorbit bumi setiap 99 menit, serta melakukan liputan pada area yang sama setiap 16 hari kecuali untuk lintang kutub tertinggi. Landsat 8 mengorbit bumi pada ketinggian ratarata 705 km dengan sudut inklinasi 98.2°. Landsat 8 memiliki 2 sensor yaitu sensor Operasional Land Imager (OLI) terdiri dari 9 saluran (band) termasuk band pankromatik beresolusi tinggi, dan Thermal Infra Red Sensor (TIRS) dengan 2 band termal (Sampurno, 2016).

Saat ini informasi tutupan lahan mulai banyak dibutuhkan, terutama untuk memberikan informasi terhadap sektor kehutanan. Dalam hal ini, vegetasi menjadi acuan utama untuk kebutuhan data. Untuk memenuhi kebutuhan yang semakin lama semakin meningkat, dibutuhkan proses pengerjaan yang cepat dengan ketepatan yang tinggi, maka dengan kemajuan teknologi saat ini analisis vegetasi tersebut dapat memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. Saat ini teknologi penginderaan jauh terus dikembangkan, hal ini dibuktikan dengan semakin beragamnya wahana, sensor, dan sistem penginderaan jauh. Keragaman tersebut memberikan hasil dengan bukti beragamnya citra yang direkam dengan berbagai sensor (multisensor) yang bermanfaat bagi banyak hal sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasinya (Handoko, 2015).

Penginderaan jauh merupakan sumber utama untuk beberapa jenis data tematik yang penting untuk analisis GIS, termasuk data mengenai karakteristik penggunaan lahan dan tutupan lahan. Citra satelit udara dan Landsat juga sering digunakan untuk mengevaluasi distribusi tutupan lahan dan memperbarui fitur geospasial yang ada. Dengan diperkenalkannya sistem penginderaan jauh dan perangkat lunak pengolah gambar, pentingnya penginderaan jauh dalam Sistem Informasi Geospasial (GIS) telah berkembang secara signifikan. Percepatan

(37)

26

penggunaan data dan teknik penginderaan jauh telah membuat proses geospasial menjadi lebih cepat dan canggih, meskipun peningkatan kompleksitas juga menciptakan kemungkinan kesalahan yang lebih besar. Sebelumnya, penilaian akurasi bukanlah prioritas dalam studi klasifikasi citra. Namun, karena semakin cepatnya kemungkinan kesalahan yang ditampilkan oleh citra digital, penilaian akurasi menjadi proses yang sangat penting (Rwanga, 2017).

Saat ini teknologi penginderaan jauh berbasis satelit menjadi sangat populer dan digunakan untuk berbagai tujuan kegiatan, salah satunya untuk mengidentifikasi potensi sumber daya kehutanan. Hal ini disebabkan perolehan data penginderaan jauh melalui satelit menawarkan beberapa keunggulann, antara lain harga yang murah, periode ulang perekaman daerah yang sama, pemilihan spektrum panjang gelombang untuk mengatasi hambatan atmosfer, daerah cakupannya yang luas dan mampu menjangkau daerah terpencil, bentuk datanya digital, serta kombinasi saluran spectral (band) sehingga data tersebut dapat diolah dalam berbagai keperluan, seperti pengolahan citra untuk membuat peta administrasi, peta tutupan lahan, dan sebagainya (Yudha et al., 2020).

Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut tidak hanya beragam citra dan sensor yang muncul, namun juga resolusi spasial pada citra tersebut. Dengan semakin meningkatnya resolusi spasial pada citra, maka analisis tekstur semakin memiliki peranan penting dalam menganalisis dan mengilah citra, klasifikasi citra, dan interpretasi citra penginderaan jauh. Setiap citra digital yang dihasilkan oleh setiap sensor pada citra memiliki sifat khas pada setiap datanya. Sifat khas tersebut dihasilkan dari sifat orbit satelit, sifat dan kepekaan sensor penginderaan jauh terhadap panjang gelombang elektromagnetik, jalur transmisi yang digunakan, sifat sasaran objek, dan sifat sumber tenaga radiasinya. Berdasarkan hal tersebut maka citra yang dihasilkan (Firmansyah et al., 2021).

Tujuan

Tujuan dari Praktikum Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul “Layer Stacking” ini adalah untuk menggabungkan beberapa band menjadi suatu informasi yang utuh.

(38)

27

TINJAUAN PUSTAKA

Pengolahan data citra digital merupakan suatu proses yang bertujuan untuk mengolah dan menganalisis citra dengan bantuan komputer. Pada pengolahan citra digital terdapat beberapa proses yang harus dilakukan terhadap data penginderaan jauh, yaitu: a) Layer stacking merupakan sebuah teknik untuk menggabungkan beberapa saluran citra yang terpisah menjadi satu file yang tergabung, dengan prinsip penggabungan, daerah perekaman masih pada satu area, lebar dimensi citra yang dimiliki sama. b) Cropping citra merupakan cara pengambilan data yang dilakukan dengan memisahan memotongan suatu arca tertentu dari suatu data citra yang memiliki area yang lebih luas. c) Koreksi radiometrik merupakan proses untuk memperbaiki kualitas visual citra dalam hal memperbaiki nilai piksel yang tidak sesuai dengan nilai pantulan objek yang sebenarnya. d) Koreksi atmospheric, koreksi ini dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai parameter atau indikator atmosfer dalam proses koreksi. e) Masking bertujuan untuk menghapus nilai piksel yang tidak diperlukan dan memungkinkan mengganggu area yang sedang diteliti (Suprayogi, 2016).

Layer Stacking adalah suatu proses yang berfungsi untuk menggabungkan beberapa citra atau band atau layer menjadi satu. Berbeda dengan komposit citra, layer stacking hanya digunakan untuk mengurutkan daftar citra atau band sesuai nomor band pada jendela Available Bands List yang berguna untuk memudahkan pengguna dalammencari nomor band dan terlihat rapi. Penggabungan beberapa band melalui layer stacking nanti hasilnya akan dikemas menjadi satu file yang jika dibuka dengan aplikasi ENVI Classic. Penggabungan citra dilakukan untuk membedakan antara objek dengan menggabung 3 band yaitu band Red, Green dan Blue (RGB) dengan tersusun. Band RGB pada citra Sentinel yaitu band 432, band 4 menunjukkan warna merah, band 3 menunjukkan warna hijau dan band 2 menunjukkan warna biru. Menurut Prahasta (2008) Kombinasi band ini akan menampilkan objek sebagaimana warna aslinya. Penggabungan ini dilakukan melalui proses layer stacking dimana band file penyusun akan digabungkan menjadi satu file (Handayani et al., 2021).

Seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, peran

(39)

28

teknologi penginderaan jauh (remote sensing) saat ini adalah salah satu cara yang diharapkan dapat memberikan solusi dalam menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan Operasi Pendaratan Amfibi. Citra satelit merupakan citra yang dihasilkan dari pemotretan menggunakan wahana satelit dan saat ini banyak sekali satelit mengorbit diluar angkasa dengan fungsi yang beragam pula. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan citra satelit Sentinel-2A milik European Space Agency (ESA). Pengolahan awal citra satelit Sentinel-2A dengan melaksanakan image procesingyakni proses layer stacking dan cropping, pada proses layer stacking menggunakan 4 saluran yakni saluran 2, saluran 3, saluran 4, dan NIR, hal ini dilakukan pada tiap data citra satelit yang digunakan. Dilanjutkan penggabungan citra di yang akan digunakan dan dilakukan pemotongan terhadap citra tersebut pada area yang akan menjadi area penelitian (Rahmad et al., 2018).

Terdapat banyak citra yang dapat digunakan untuk menganalisis vegetasi, diantaranya citra yang dapat digunakan untuk menganalisis vegetasi adalah citra sentinel. Citra Sentinel-2 merupakan salah satu citra satelit yang memiliki 13 band, 4 band beresolusi 10 m, 6 band beresolusi 20 m, dan 3 band beresolusi spasial 60 m dengan area sapuan 290 km. Sentinel-2 dapat digunakan untuk kepentingan monitoring lahan, data dasar untuk penggunaan lahan yang dapat digunakan untuk berbagai aplikasi monitoring dan perencanaan lingkungan.

NDVI merupakan perhitungan band pada citra yang digunakan untuk mengetahui tingkat kehijauan, kemudian dilakukan analisis untuk mengetahui sebaran kerapatan vegetasi. Nilai NDVI ini merupakan nilai yang digunakan untuk mengetahui tingkat kehijauan pada daun dengan panjang gelombang inframerah yang didapati (Awaliyan, 2018).

Pemotongan citra dilakukan untuk memilih lokasi yang diinginkan dengan memotong sebagian wilayah pada 1 scene citra Pemotongan citra dilakukan membantu memfokuskan area dan minimalisir penggunaan memori serta mempercepat processing pengolahan data. Penggabungan citra dilakukan untuk membedakan antara objek dengan menggabung 3 band yaitu band Red, Green dan Blue (RGB) dengan tersusun. Band RGB pada citra Sentinel yaitu band 432, band

(40)

29

4 menunjukkan warna merah, band 3 menunjukkan warna hijau dan band 2 menunjukkan warna biru. Kombinasi band ini yang akan dapat menampilkan pada objek sebagaimana warna aslinya. Penggabungan ini yang dapat dilakukan dengan melalui proses layer stacking dimana band file penyusun akan digabungkan menjadi satu file (Aqshal, 2021).

Keberadaan Sentinel-2 didesain secara khusus untuk membantu ilmuwan mempelajari dan memantau interaksi dan proses yang ada di bumi;

menyiapkan strategi dalam menghadapi tantangan perubahan global yang sedang terjadi; serta mencapai tujuan pengembangan masyarakat (Societal Development Goals). Selain itu dengan adanya satelit ini diharapkan ilmuwan mendapatkan harmonisasi data dan produk keilmuan yang baru untuk mengembangkan, dan mengintegrasikan pemantauan langsung dengan pemodelan untuk memahami perubahan lingkungan regional dan global. Sentinel-2 memanfaatkan teknologi dan pengalaman yang diperoleh untuk mendukung pasokan data operasional untuk layanan seperti manajemen resiko (banjir dan kebakaran hutan, penurunan dan tanah longsor), penggunaan/perubahan lahan, pemantauan hutan, keamanan pangan/ sistem peringatan dini, pengelolaan air dan perlindungan tanah, pemetaan perkotaan, serta pemantauan kondisi di bagian perairan darat dan laut (Nadya, 2017).

Stacking merupakan proses menggabungkan beberapa band citra yang berbeda sehingga membentuk suatu tampilan yang di inginkan. Diketahui data citra Landsat 7 ETM+ terdiri dari 8 band dan Landsat 8 OLI terdiri dari 11 band yang masing-masing memiliki fungsi masingmasing. Proses dalam menampilkan suatu tampilan baku dari citra landsat yang terdiri dari beberapa band, diperlukan suatu proses penggabungan saluran band yang disebut layer stacking Penentuan citra subset (cropping) dilakukan untuk mengakomodasikan ukunan citra dan objek penelitian, citra dicrop sesuai dengan ukuran lokasi penelitian. Gabungan (komposit) saluran/band dilakukan untuk mendapatkan ketajaman objek dan menghasilkan warna komposit yang optimum. Citra Landsat merupakan citra resolusi menengah yang mana memiliki cakupan yang cukup luas, pada data yang digunakan yaitu path 121 dan row 65 wilayah Segara Anakan dilakukan cropping sesuai luasan wilayah kajian (Tarigan et al., 2016).

(41)

30

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul “Layer Stacking”

dilaksanakan pada hari Rabu, Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Laptop. Bahan yang digunakan adalah Software ERDAS Imagine 9.1., Band citra landsat 8

Prosedur Praktikum 1. Disiapkan alat dan bahan

2. Dibuka aplikasi Erdas Imagine 9.1

Gambar 1. Tampilan Software Erdas Imagine 9.1

3. Kemudian diklik menu import untuk mengubah data/file tif menjadi img>klik type ”Geo Tiff” >input file>klik Ok hal ini berfungsi untuk mengatasi masalah pada unsurported compression type

(42)

31

Gambar 2. Tampilan import data band citra landsat 8

4. Lalu klik output file>Klik band yang sudah diinput>pilih tempat penyimpanan file>ubah type file dengan mengklik “Imagine img”>Klik Ok. Langkah ini dilakukan pada setiap bandlandsat 8

Gambar 3. Tampilan pengaturan tipe file pada band menjadi img

5. Setelah semua band siap diimport selanjutnya di klik Interpreter>

utilities>layer stack>input data>Klik band citra yang sudah didownload>klik add>Klik Ok

(43)

32

Gambar 4. Tampilan layer stack data band citra landsat 8 6. Diklik viewer>pilih opsi open>raster layer>pilih band yang sudah dilayer

stack pada file penyimpanan>Klik Ok>

Gambar 5. Tampilan input data citra Natural_Color 7. Kemudian klik kanan>pilih fit image to window

(44)

33

Gambar 6. Tampilan fit image to window 8. Hasil layer stacking pada band 4,3,2 (Natural_Color.img)

Gambar 7. Tampilan hasil layer stacking komposit band 4,3,2

(45)

34

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Adapun hasil yang diperoleh dari Praktikum Penginderaan Jarak Jauh yang berjudul ”Layer Stacking” adalah sebagai berikut:

Gambar 8. Tampilan Citra Natural_Color pada Wilayah Kota Medan Pembahasan

ERDAS Imagine merupakan aplikasi software yang paling umum digunakan untuk pengolahan data raster (citra). Sebelum dilakukan proses penggabungan band (layer stack), lakukan ekstraksi file terkompres yang baru didownload dari USGS, sehingga terbentuk folder berisi file-file band citra landsat 8. Pada tutorial ini memanfaatkan citra landsat 8 rentang waktu bulan Januari 2023 sampai dengan September 2023 untuk wilayah kota Medan. Pada praktikum ini akan dilakukan layer stacking pada citra yang sudah didownload.

Layer Stacking adalah suatu proses yang berfungsi untuk menggabungkan beberapa citra atau band atau layer menjadi satu. Berbeda dengan komposit citra, layer stacking hanya digunakan untuk mengurutkan daftar citra atau band sesuai nomor band pada jendela.

Secara umum pada pengolahan citra dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu: pra- pengolahan citra, pemilihan kombinasi band terbaik, interpretasi visual citra,

(46)

35

membuat penciri kelas, analisis separabilitas, klasifikasi citra, dan uji akurasi.

Tahap pra-pengolahan yang dilakukan adalah perubahan format data GeoTiff dari setiap band menjadi format image (.img) dengan menggunakan software Erdas Imagine 9.1. Selanjutnya citra ditumpuk (layer stack) untuk dapat dilakukan analisis multispektral. Tahap selanjutnya adalah pemilihan kombinasi band.

Pemilihan kombinasi band terbaik untuk klasifikasi tutupan lahan dapat dilakukan melalui evaluasi optimum index factor (OIF) (Jaya, 2010). Nilai OIF merupakan ukuran banyaknya informasi yang dimuat pada suatu citra komposit. Menurut Mentari (2013) kombinasi band terbaik menggunakan nilai OIF untuk klasifikasi tutupan lahan citra Landsat 8 adalah kombinasi band 754 dimana band 7 adalah spektrum SWIR-2, band 5 adalah spektrum NIR, dan band 4 adalah spektrum red.

Pada proses layer stacking dilakukan penggabungan band 4,3,2 yang menghasilkan citra natural color yang terlihat pada gambar 10. Warna natural memberikan kenampakan warna objek sesuai dengan warna yang terlihat oleh mata manusia normal, seperti objek vegetasi yang berwarna hijau, sedangkan perairan berwarna biru tua atau hitam. Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan mengenai pengkajian foto udara yang bertujuan untuk pengidentifikasian objek serta menilai arti penting dari objek tersebut. Interpretasi ini bisa dilakukan dalam dua cara yakni visual dan digital Interpretasi: visual dapat dilakukan pada citra yang nampak pada monitor komputer atau pada citra hardcopy Kegiatan visual dalam pengkajian gambar permukaan bumi yang ada pada citra bertujuan dalam mengidentifikasi objek dan maknanya.

Penginderaan jarak jauh mempunyai berbagai kegunaan termasuk dalam bidang kelautan Penginderaan pada bidang ini dipakai dalam penelitian seperti penyebaran vegetasi mangrove. penutupan terumbu karang, dan bentuk serta topografi Pantai. Banyaknya manfaat dari penginderaan ini membuat mahasiswa Ilmu Kelautan dan Kehutanan perlu mempelajarinya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Muhlis et al. (2019) yang menyatakan pengideraan jarak jauh memiliki banyak manfaat Manfaatnya antara lain sebagai cara yang paling cepat dalam memetakan daerah bencana, alat pembuat peta yang baik, dan citra dapat dibuat secara tepat.

(47)

36

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Layer Stacking adalah suatu proses yang berfungsi untuk menggabungkan beberapa citra atau band atau layer menjadi satu.

2. Layer stacking merupakan sebuah teknik untuk menggabungkan beberapa saluran citra yang terpisah menjadi satu file yang tergabung, dengan prinsip penggabungan, daerah perekaman masih pada satu area, lebar dimensi citra yang dimiliki sama.

3. Pengideraan jarak jauh memiliki banyak manfaat Manfaatnya antara lain sebagai cara yang paling cepat dalam memetakan daerah bencana.

4. Pada proses layer stacking dilakukan penggabungan band 4,3,2 yang menghasilkan citra natural color.

5. Tahap pra-pengolahan yang dilakukan adalah perubahan format data GeoTiff dari setiap band menjadi format image (.img) dengan menggunakan software Erdas Imagine 9.1.

Saran

Sebaiknya dalam melakukan layer stacking praktikan harus mengikuti dan memperhatikan tahap tahap dalam menjalankan proses layer stacking untuk mendapatkan hasil yang akurat.

(48)

37

KOREKSI RADIOMETRI

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2024

(49)

38

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sistem Informasi Geografis (SIG) atau lebih dikenal dengan akronim GIS merupakan sistem yang didesain untuk menangkap, menyimpan, memanipulasi, menganalisa, mengatur dan menampilkan seluruh jenis data geografis . Dalam artian sederhana sistem informasi geografis dapat disimpulkan sebagai gabungan kartografi, analisis statistik dan teknologi sistem basis data (database). GIS memiliki 4 komponen yaitu sistem komputer dan perangkat lunak , data spatial, database Manajemen Sistem dan sumber daya manusia. Sistem informasi Geografis (SIG) terdiri dari 3 jenis yaitu Berdasarkan teknologi dan implementasinya, GIS dikategorikan dalam 3 (tiga) aplikasi yaitu:SIG, SIG berbasis Web, dan SIG berbasis mobile, SIG berbasis desktop secara sederhana, desktop GIS dapat desfinisikan sebagai aplikasi sistem informasi geografis yang diimplementasikan pada komputer desktop (stand alone) (Irsa et al., 2020).

Penginderaan jarak jauh telah lama memegang peran penting dan efektif dalam pemantauan tutupan lahan dengan kemampuannya menyediakan informasi mengenai keragaman spasial di permukaan bumi dengan cepat, luas, tepat, serta mudah. Aktivitas penginderaan jauh sudah lama dilaksanakan di Indonesia sejak 1993 untuk mendukung berbagai sektor pembangunan dan pelestarian lingkungan.

Terlebih saat ini, beberapa citra satelit penginderaan jauh bisa diperoleh dengan mudah dan gratis, seperti citra satelit Landsat 8. Pada pendistribusiannya, citra satelit Landsat 8 bisa didapatkan dalam bentuk data mentah (raw data) ataupun data yang sudah diproses terlebih dahulu sebelum dibagikan (Matiur et al., 2019).

Penginderaan jarak jauh didefinisikan sebagai suatu seni dalam mengolah citra dan menafsirkan untuk mendapatkan suatu informasi. Data mentah citra satelit memiliki berbagai macam resolusi seperti rendah, menengah, tinggi dan sangat tinggi. Pemanfaatan citra dengan resolusi tinggi dan turunannya adalah untuk memperbarui peta skala besar yang berguna untuk memantau perkembangan bangunan di suatu wilayah. Akan tetapi pemanfaatan teknologi ini untuk updating peta skala besar mempunyai beberapa kendala, misalnya

(50)

39

perekaman data oleh sensor satelit yang tidak dapat digunakan secara langsung karena masih terdapat beberapa kesalahan geometrik yang harus dieliminir (Lukiawan et al., 2019).

Teknologi penginderaan jauh adalah suatu teknologi yang dapat dimanfaatkan. Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu atau teknologi untuk memperoleh informasi atau fenomena alam melalui analisis suatu data yang diperoleh dari hasil rekaman obyek, daerah atau fenomena yang dikaji. Perekaman atau pengumpulan data penginderaan jauh dilakukan dengan menggunakan alat pengindera (sensor) yang dipasang pada pesawat terbang atau satelit.

Penginderaan jauh pada dasarnya memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk memperoleh informasi dari suatu objek, materi dan fenomenanya tanpa adanya kontak langsung denga

Gambar

Gambar 1. Tampilan Erdas Imagine 9.1  Pembahasan
Gambar 7. Hasil Citra Bandsat 8 yang sudah diunduh
Gambar 1. Tampilan Software Erdas Imagine 9.1
Gambar 2. Tampilan import data band citra landsat 8
+7

Referensi

Dokumen terkait