KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA SISWA KELAS VI SD NEGERI 6 BONTOKAMASE SUNGGUMINASA
KABUPATEN GOWA
SKRIPSI
SIMSON TRY SAPUTRA 4512103235
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA 2017
ABSTRACK
Simson Try Saputra, 2017. The Ability to Write a Simple Essay of Grade VI Students of SDN 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa.
(Guided by Dr. Asdar, S.Pd., M.Pd. and Dr. Hj. A. Hamsiah, M.Pd.)
This type of research is descriptive research. This study aims to obtain data and information about The Ability to Write a Simple Essay of Grade VI Students of SDN 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa of academic year 2016/ 2017. The samples were 40 students, sampling was done by random sampling technique, data collection was done by the test technique, the collected data were analyzed using descriptive approach.
The results of data analysis showed that from 40 the number of sample students who analyzed the value of 73 and above as many as 31 people or 27.5% while the number of students who got the score below 73, as many as 11 people or 35%. So, if it associated with a maximum.
Interval of 85% of the number of students who got the score 73 and above then this study is declared not able.
Keywords: The Ability to Write Simple Essay.
ABSTRAK
Simson Try Saputra. 2017. Kemampuan Menulis Karangan Sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa. (Dibimbing oleh Asdar, S.Pd., M.Pd dan Dr. Hj. A. Hamsiah, M.Pd).
Jenis penelitian ini ada penelitian deskriktif. Penelitian ini bertujuan memperoleh data dan informasi mengenai kemampuan menulis karangan sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa.Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa tahun ajaran 2016/2017. Sampel sebanyak 40 orang siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif.
Hasil analisis data memperlihatkan bahwa dari 40 jumlah siswa sampel yang menganalisis nilai 73 ke atas sebanyak 31 orang atau 27.5%
sedangkan jumlah siswa yang memperoleh nilai dibawah 73 sebanyak 11 orang atau 35%. Jadi, hal tersebut jika dihubungkan dengan interval ketentuan maksimal yaitu 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 73 keatas maka penelitian ini dinyatakan tidak mampu.
Kata kunci: Kemampuan Menulis, Karangan Sederhana.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di Indonesia perlu dilestarikan dan dikembangkan. Salah satu wujud perhatian pemerintah terhadap bahasa Indonesia adalah dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan dimasukkan sebagai pelajaran inti di Sekolah Dasar (SD). Diharapkan agar prestasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia seimbang dengan prestasi belajar pada mata pelajaran yang lain. Prestasi belajar merupakan dasar yang dipakai dalam mengukur keberhasilan proses pembelajaran.Prestasi belajar adalah hal yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembelakaran karena semakin tinggi atau semakin besar prestasi yang di capai siswa, semakin mencerminkan keberhasilan seorang guru dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut.Hasil belajar atau prestasi yang diperoleh siswa merupakan gambaran atau cerminan keberhasilan seseorang dalam menempuh pendidikan.
Selain itu, hal lain yang berkaitan dengan keberhasilan belajar adalah motivasi belajar. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Apabila guru dan orang tua memberikan motivasi yang baik pada siswa atau anaknya maka dalam diri siswa atau anak akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Dengan memberikan motivasi yang baik, maka anak dapat menyadari akan
1
manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar sehingga anak-anak mudah meraih cita-citanya.
Pengalaman telah menunjukkan bahwa modal kehidupan dalam setiap perubahan zaman adalah pendidikan yaitu relevansi pendidikan, pemerataan pendidikan, efektivitas pendidikan, dan mutu pendidikan.
Itulah sebabnya setiap Negara atau masyarakat mengharapkan pendidikan yang bermutu .Salah satu aspek yang memiliki peranan dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar adalah kemampuan guru dengan segala latar belakang dan pengalaman.Terdapat dua tanggung jawab dalam kelas yaitu, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan managerial.
Pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa.Hal ini disebabkan pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.Guna mewujudkan tujuan diatas diperlukan usaha yang keras dari masyarakat maupun pemerintah.Masyarakat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah berat,terutama berkaitan dengan kualitas,relevansi,dan efisiensi pendidikan.
Departemen Pendidikan Nasional sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan dewasa ini telah melakukan pembaharuan sistem pendidikan. Usaha tersebut antara lain adalah penyempurnaan kurikulum,perbaikan sarana dan prasarana,serta peningkatan kualitas tenaga pengajar.Meskipun diakui bahwa kunci sukses pengajaran tidak hanya terletak pada kecanggihan kurikulum atau
kelengkapan fasilitas sekolah, melainkan bagaimana kredibilitas seorang guru di dalam mengatur dan memanfaatkan media yang ada di dalam kelas, sehingga penerapan pembelajaran tiap mata pelajaran dapat memenuhi sasaran sesuai dengan kelompok usia dan kemampua, termasuk dalam hal ini pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia.
Salah satu kunci sukses dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa. Penggunaan bahasa yang tidak teratur menyulitkan pendengar atau pembaca untuk dapat memahami. Ketepatan dan keteraturan dalam berbahasa memerlukan pengetahuan dan pemahaman yang luas dan mendalam mengenai ilmu kebahasaan. Salah satunya adalah ketepatan menggunakan kata dengan makna yang tepat.
Adapun fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Sekolah Dasar (SD) adalah sebagai (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, dan (5) sarana pengembangan penalaran.
Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana, 1993:21). Pembelajaran
Bahasa Indonesia diharapkan mampu membantu peserta didik mengenal dirinya, budanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan keampuan analisis dan imajinatif yang ada dalam dirinya (Depdikbud, 2006:11). Tarigan (1986:1), menjelasakan bahwa ada empat keterampilan berbahasa yang harus diperhatikan seseorang belajar bahasa. Keempat keterampilan tersebut adalah:
a) keterampilan menyimak, b) keterampilan berbicara, c) keterampilan membaca, d) keterampilan membaca, e) keterampilan menulis.
Menulis tidak hanya sekedar melafalkan lambang grafis bahasa, tetapi lebih dari itu menulis dilakukan untuk memperoleh hasil yang baik dan sangat besar dalam memahami isi tulisan, dan lebih jauh lagi keinginan untuk memperoleh hal-hal yang bersifat baru baik dari segi ilmu pengetahuan maupun pengalaman. Kemampuan menulis prosa yang diperoleh anak-anak sekolah, khususnya di sekolah dasar disamping sebagai materi pokok belajar membaca, juga bekal keterampilan untuk mampu menyerap berbagai mata pelajaran lain.
Keterampilan menulis karangan merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dimiliki oleh anak didik, karena
dengan keterampilan berbahasa memungkinkan kita mampu berinteraksi dengan siapapun. Keterampilan menulis karangan sederhana ini harus dibimbing dan ditingkatkan secara intensif. Sebab kebiasaan menulis karangan harus ditingkatkan dari tingkat SD sampai ke perguruan tinggi.
Dalam kegiatan menulis karangan sederhana diharapkan siswa mampu menyusun sebuah karangan yang tersusun dari kata, kata menjadi sebuah kalimat, sampai pada paragraf dengan maksud menceritakan kejadian atau peristiwa, yang saling berhubungan dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain.
Hal ini pulalah yang mendasari sehingga penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Kemampuan Menulis Karangan Sederhana Siswa Kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa”. Ini dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi yang akurat tentang kemampuan menulis karangan sederhana siswa, sehingga dapat menjadi bahan acuan bagi pihak sekolah atau yang berwenang untuk mengambil langkah-langkah pembelajaran yang telah ditetapkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang sebelumnya, dapat dirumuskan permasalahan yaitu bagaimanakah kemampuan menulis karangan sederhana pada Siswa Kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan menulis karangan bebas pada Siswa Kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan tidak hanya sebatas penelitian tetapi dapat memberi manfaat bagi kita semua yang membacanya. Untuk itu, manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Secara umum manfaat yang diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berharga di dalam memperkarya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan pada umumnya dan khususnya dalam bidang Bahasa Indonesia
2. Manfaat Praktis
Secara khusus penelitian ini dapat bermanfaat bagi siswa, guru, dan sekolah
a. Bagi siswa Memberikan perkembangan dan peningkatan keterampilan menulis.
b. Bagi guru Sebagai bahan masukan untuk perkembangan materi pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama tentang materi ketermpilan menulis.
c. Bagi sekolah sebagai bahan masukan untuk menginspirasi sekolah atau lembaga pendidikan agar dapat menghasilkan siswa-siswi yang berkualitas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
3. Manfaat bagi peneliti sebagai bahan informasi dalam mengkaji hal serupa dimasa yang akan datang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Menulis
1. Pengertian Menulis
Menulis adalah bentuk komunikasi dua arah yang efektif untuk mengkomunikasikan ide atau gagasannya meskipun tidak bertatapan langsung dengan lawan bicara (Zulaikhoh, 2009:5). Menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa (Valette dalam Abdurrahman 2003:151). menyatakan diantara keempat keterampilan berbahasa, menulis merupakan kemampuan berbahasa yang paling komplek. Menurut Tarigan (1983:21), menulis atau mengarang adalah menurunkan atau menlukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat memahaminya. Gani (1999:7) juga mengatakan bahwa menulis merupakan suatu proses penyampaian ide (gagasan), pikiran, dan perasaan. Sementara Semi (1990:8), mengatakan menulis pada hakikatnya adalah pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa. Septiani (2007:1) mengatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.
Menulis, menurut KBBI (2001), adalah proses melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan. Menulis mempunyai posisi tersendiri kaitannya dengan upaya membantu siswa mengembangkan kegiatan
berpikir dan pendalaman bahan ajar.Pada umumnya, menulis merupakan keterampilan yang sangat sulit dibandingkan keterampilan berbahasa
lainnya seperti menyimak, berbicara, dan membaca. Byrne (dalam Bukhari 1995:36) juga menyatakan bahwa menulis merupakan suatu aktivitas yang sukar dialami oleh kebanyakan orang, baik dalam bahasa ibu maupun dalam bahasa asing.Kesulitan tersebut dikarenakan kemampuan menulis harus dilandasi dengan berbagai komponen kebahasaan, seperti penggunaan kosakata, penguasaan kalimat, penguasaan ejaan, dan tanda baca.Dalam kegiatan menulis, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur kalimat, dan kosakata.Kemampuan menulis tidak datang secara otomatis, melainkan melalui latihan praktik yang banyak dan teratur. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penguasaan kosakata merupakan faktor penting dalam keberhasilan menulis.
Dalam kajian ini dipilih mengarang sederhana sebagai objek penelitian. Bahasa yang digunakan dalam menulis karangan sederhana ini pun menggunakan bahasa yang sederhana, lebih sederhana jika dibandingkan dengan bahasa dalam puisi yang mempunyai arti lebih komplek, serta berupa pemadatan kata yang didalamnya menceritakan gagasan perasaan ataupun pengalaman penulisnya.
Keterampilan menulis bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan melalui uraian atau penjelasan semata-mata. Siswa tidak akan memperoleh keterampilan menulis hanya dengan duduk, mendengarkan
penjelasan guru, dan mencatat penjelasan guru. Keterampilan menulis dapat ditingkatkan dengan melakukan kegiatan menulis karangan sederhana secara terus menerus sehingga akan mempengaruhi hasil dan prestasi siswa dalam menulis karangan sederhana. Hasil dan prestasi dapat meningkat apabila ada perubahan sikap dan tingkah laku siswa baik pada aspek pengetahuan, keterampilan maupun psikomotor. Tidak sedikit siswa yang mengalamin hambatan dalam mengembangkan keterampilannya menulis karangan sederhana. Hal ini juga dialami siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kab. Gowa, hambatan-hambatan tersebut yaitu kesulitan dalam memulai menulis, kesulitan dalam menuangkan ide, kesulitan merangkai kalimat/kata yang tepat, rendahnya minat dan motivasi. Proses belajar mengajar Bahasa disekolah-sekolah umumnya berorientasi pada teori dan pengetahuan semata-mata sehingga keterampilan berbahasa khususnya keterampilan menulis kurang dapat perhatian. Ide, gagasan, pikiran, dan perasaan mereka berlalu begitu saja, tidak diungkapkan khususnya dalam bentuk karangan.
Keterampilan menulis karangan yang diajarkan di sekolah-sekolah selama ini menggunakan metode konvensional. Peran guru amat dominan dalam proses pembelajaran. Siswa kurang aktif dan sering kali metode ini menimbulkan kebosanan bagi siswa dalam pembelajaran menulis karangan sehingga karya yang dihasilkan siswa kurang maksimal.
Karangan yang dibuatnya kurang menarik karena bahasa yang digunakan monoton, dan pengembangan ide atau gagasan kurang bervariasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan untuk menuangkan gagasan, ide, inspirasi, atau buah pikiran kedalam bentuk lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa agar orang lain dapat memahaminya.
2. Tujuan Menulis
Segala hal atau kegiatan yang dilakukan pasti memiliki tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama menulis adalah sebagai sumber atau sarana tidak langsung. Tujuan menulis secara umum menurut Semi (2003: 14-15) mengemukakan bahwa tujuan menulis secara umum adalah sebagai berikut: Pertama, untuk menceritakan sesuatu agar orang laintahu apa yang dialami,diimpikan, dukhayalkan, dan dipikirkan. Kedua, untuk member petunjuk, maksudnya apabila seseorang mengajar orang lain bagaimana mengerjakan sesuatu dengan tahapan yang benar, maka dia telah memberikan petunjuk dan pengarahan. Ketiga, untuk menjelaskan sesuatu kepada pembaca sehingga pengetahuan dan pemahaman pembaca bertambah.Keempat, untuk meyakinkan orang lain tentang pendapat atau pandangannya. Kelima, untuk merangkum sesuat.
Beberapa tujuan menulis, yaitu:
Menjadikan pembaca ikut berpikir
Membuat pembaca mengetahui hal yang diberitakan
Menjadikan pembaca beropini
Menjadikan pembaca mengerti dan membuat pembaca terpesuasi oleh isi karangan
Membuat pembaca senang dengan menghayati nilai-nilai yang dikemukakan dalam karangan, seperti nilai-nilai kebenaran, nilai keagamaan, nilai sosial, nilai moral, nilai kemanusiaan, serta nilai etika dan estetika.
3. Manfaat Menulis
Manfaat menulis terdiri dari: 1. Melalui kegiatan menulis, dapat mengenali kemampuan dan potensi diri yang dimiliki, 2. Melalui kegiatan menulis, dapat melatih dan mengembangkan berbagai gagasan, 3. Melalui kegiatan menulis, akan dapat lebih banyak menyerap mencari serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang tulis, 4. Melalui kegiatan menulis, dapat mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengungkapkan secara tersurat, 5. Melalui kegiatan menulis, akan dapat meninjau serta menilai gagasannya sendiri secara objektif, 6.
Melalui kegiatan menulis, akan lebih mudah memecahkan permasalahan dengan menganalisis permasalahan yang telah tersurat dalam konteks yang lebih konkrit, 7. Melalui kegiatan menulis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif, 8. Melalui kegiatan menulis, yang terencanakan membiasakan penulis berpikir serta berbahasa dengan teratur.
4. Proses Menulis
Menurut Bars (dalam Suparno 2008:1-14), pendekatan proses menulis terutama bagi penulis pemula, mudah diikuti. Dia akan dapat memahami dan melalukan dengan cepat hal-hal yang dipersiapkan dan dilakukan dalam menulis. Pendekatan inipunsangat membantu pemahaman dan sikap baik guru menulis ataupun siswa itu sendiri, bahwa menulis merupakan suatu proses yang kemampuan, pelaksanaan dan hasilnya secara bertahap. Artinya, untuk menghasilkan tulisan yang baik umumnya orang melakukannya berkali-kali. Sangat sedikit penulis yang dapat menghasilkan karangan yang benar-benar merumuskan dengan hanya sekali tulis.
Dalam proses menulis, diperlukan bimbingan dalam memahami dan menguasai cara untuk berpikir dalam menulis. Dari awalnya sampai hasil pelahiran produk tulisan dalam proses menulis ini mendapat pembinaan dari guru. Hal yang samapun dilakukan oleh guru adalah memantau kegiatan menulis serta memeriksahasil tulisan siswa.
5. Tahapan dalam Proses Menulis
Menurut Suparno, Yunus Mohammad (2008:1-30), kegiatan menulis merupakan keterampilan mekanis yang dapat dipahami dan dipelajari. Menulis sebagai suatu proses terdiri dari lima tahap. Lima tahap menulis, yaitu pramenulis, pengedrafan, perbaikan, penyuntingan, dan publikasi.
a. Pramenulis
Pada pramenulis adalah langkah awal dalam tahapan persiapan menulis, dimana siswa diberi kesempatan untuk menentukan apa yang akan ditulis, tujuan menulis, kerangka tulisan, dan sistematika tulisan.
b. Pengedrafan
Tahap kedua adalah pengedrafan, menulis draf. Dalam proses menulis siswa dibimbing menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaannya dalam bentuk draf tulisan.
c. Perbaikan
Tahap ketiga adalah perbaikan, kegiatan revisi atau perbaikan karangan dilakukan. Kegiatan revisi itu dapat berupa penambahan, penggantian, penghilangan, atau penyusunan kembali bahan tulisan.
Siswa merevisi draf yang disusun. Siswa dapat meminta bantuan guru maupun teman sekelas untuk membantu dan mempertimbangkan gagasan yang dikemukakan.
d. Penyuntingan
Tahap keempat adalah penyuntingan, siswa dilatih untuk memperbaiki aspek mekanik (ejaan, tanda baca, pilihan kata, dan struktur kalimat), hal ini dilakukan untuk memperbaiki karangan sendiri.
e. Publikasi
Tahap yang kelima adalah publikasi, siswa menyampaikan hasiltulisan kepada teman sekelas untuk meminta masukan dari guru dan teman
sekelas agar mereka dapat berbagi informasi sehingga tulisan menjadi sempurna.
6. Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis
Menulis merupakan suatu proses kreatif. Sebagai suatu proses kreatif, menulis harus mengalami suatu proses yang secara sadar pula dilihat hubungan satu dengan yang lain, sehingga berakhir pada suatu tujuan yang jelas. Sebagai suatu proses, menulis terdiri atas berbagai tahap sebagai berikut.
a. Tahap Prapenulisan
Tahap ini merupakan tahap perencanaan atau persiapan menulis dan mencakup beberapa langkah kegiatan antaranya:
1. Pemilihan topik
Memilih dan menetapkan topik suatu langkah awal yang penting, sebab tidak ada tulisan tanpa ada sesuatu yang hendak ditulis. Masalah pertama yang dihadapi penulis untuk merumuskan tema sebuah karangan adalah topik atau pokok pembicaraan (Keraf, 1993:126). Dalam memilih dan menempatkan topik ini di perlukan adanya keterampilan atau pengetahuan atau kesungguhan.
2. Menentukan Topik
Topik tulisan adalah masalah atau gagasab yang hendak disampaikan dalam tulisan. Masalah atau gagasan itu dapat diperoleh atau digali melalui empat sumber, yaitu (1) pengalaman, (2) pengamatan, (3) imajinasi, (4) pendapat dan keyakinan (Semi, 1990:134). Menurut
Akhadiah, 1998:86, hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih topik adalah:
Topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas
Topik itu cukup menarik utamanya bagi penulis
Topik itu dikenal baik
Bahan yang dipergunakan dapat diperoleh dan cuckup memadai
Topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit
Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya harus cukup sempit dan terbatas, atau sangat khusus untuk digarap.
Dengan pembatasan itu, penulis akan lebih mudah memilih hal-hal yang akan dikembangkan (Keraf, 1993:129).
3. Membatasi Topik
Topic harus dibatasi karena bila topic tidak dibatasi kita akan kebingugan menentukan topic. Pilihlah topic yang tepat agar dalam proses penulisan tidak kehilangan ide dari topic tersebut.
4. Menentukan bahan atau materi penulisan
Beberapa penulis fiksi melewatkan tahap ini, atau cukup dengan membuat kerangka diluar kepala, mereka langsung menulis apa yang ada dikepalanya. Namun tidka semua orang bisa menulis dengan cara ini.
Sebaiknya anda tetap membuat kerangka supaya tulisan atau cerita anda memiliki konsistensi dan alur yang baik. Anda kan dengan mudah melihat alur tulisan dengan hanya membaca kerangka.
5. Menentukan Tujuan Penulisan dan Bentuk Karangan
Tujuan penulisan diartikan sebagai pola yang mengendalikan tulisan secara menyeluruh (Akhaidah, 1998:89). Dengan menentukan tujuan penulisan, diketahui apa yang ingin dilakukan pada tahap penulisan, bahkan apa yang diperlukan, luas lingkup bahasa, pengorganisasian, dan mungkin juga sudut pandang yang digunakan. Secara eksplisit, tujuan penulisan dapat dinyatakan dengan cara tesis atau dengan menyatakan maksud.
1) Bahan Penulisan
Bahan penulisan ialah semua informasi atau data yang digunakan untuk mencapai tujuan penulisan. Bahan tersebut mungkin berupa rincian, sejarah kasus, contoh, penjelasana, defenisi, fakta, hubungan sebab- akibat, hasil pengujian hipotesis, angka-angka, diagram, gambar, dan sebagainya (Akhadiah, 1998:90).
Bahan-bahan dapat diperoleh dari berbagai sumber, dua sumber utama ialah pengalaman dan inferensi dari pengalaman. Pengalaman ialah keseluruhan pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindera.
Inferensi ialah kesimpulan atau nilai-nilai yang ditarik dari pengalaman.
Inferensi itu kemudian menjadi bagian dari pengalaman dan mungkin juga dijadikan sumber inferensi baru. Bahan yang diperoleh dari pengalaman didapatkan melalui pengalaman langsung atau melalui bacaan.
2) Menyusun Kerangka Karangan
Sebuah karangan mengandung rencana kerja, memuat ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan.
Karangan menjamin suatu penyusunan yang logis dan teratur, serta memungkinkan seorang penulis membedakan gagasan utama dari gagasan tambahan.
Kerangka karangan dapat berbentuk catatan sederhana, tetapi dapat juga berbentuk mendetail dan digarap dengan sangat cermat.
Secara singkat Keraf (1993:132) mendefinisikan kerangka karangan sebagai suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap.
b. Tahap Penulisan
Pada tahap ini dibahas setiap butir yang ada didalam karangan yang disusun. Ini berarti digunakan bahan-bahan yang sudah diklasifikasikan menurut keperluan sendiri. Kadang pada tahap ini, disadari bahwa masih diperlukan bahan lain.
1. Isi Karangan
Bagian isi karangan merupakan inti dari karangan itu sendiri. Keraf (1993:134) membagi isi karangan yaitu pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan.
2. Kosakata atau Pilihan Kata
Achmadi (1990:34), mendefinisikan pilihan kata adalah seleksi kata-kata untuk mengespresikan ide atau gagasan atau perasaan.
Dengan memilih kata persyaratan pokok yang haru diperlukan yaitu ketepatan dan kesesuaian.
Persyaratan ketepatan menyangkut makna, aspek logika kata-kata;
kata-kata yang dipilih harus secara tepat mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Persyaratan kesesuaian menyangkut kecocokan antara kata-kata yang pakai dengan kesempatan/situasi dan keadaan pembaca.
Jadi, menyangkut aspek sosial kata-kata.
3. Kalimat Efektif
Kalimat yang mengandung gagasan haruslah yang memenuhi syarat gramatikal. Memerlukan persyaratan efektivitas artinya, kalimat itu harus memenuhi sasaran, mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan pesan, atau menerbitkan selera pembaca.
4. Paragraf
Akhadiah (1998:33) memberikan batasan paragraf tersusun dari beberapa buah kalimat, yang berhubungan satu dengan yang lain sehingga merupakan suatu kesatuan utuh untuk menyampaikan suatu maksud.
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan ke dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama, atau kalimat topik, kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup.
Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah karangan.
c. Tahap Revisi
Tahap ini merupakan tahap yang paling akhir dalam penulisan.
Jika bahan seluruh tulisan sudah selesai, tulisan terrsebut perlu dibaca kembali. Hasil bacaan perlu diperbaiki, dikurangi, atau mungkin juga diperluas. Pada tahap ini, biasanya yang diteliti secara menyeluruh mengenai logika, sistematika, ejaan, tanda baca, pilihan kata, kalimat, paragraf, pengetikan, daftar pustaka, dan sebagainya.
Menurut T.W Solhan dkk (2007:9-26), adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran menulis yaitu sebagai berikut:
1. Menjiplak, yang dapat dibagimenjadi (a) menjiplak huruf, (b) menjiplak kalimat, (c) menjiplak wacana sederhana
2. Menyalin, biasanya dimulai dari tingkatan kata, kalimat, sampai wacana
3. Menatap, biasanya dilakukan dengan cara mengambil objek, agar siswa dapat membahasakan objek yang diamati
4. Menyusun, kegiatan menyusun yang paling sederhana adalah menyusun huruf dengan kata, dilanjutkan dengan menyusun kata menjadi kalimat, dan menjadi wacana.
5. Melengkapi, kegiatan melengkapi dapat berupa melengkapi kalimat sebagian katanya dihilangkan dan bisa juga melengkapi bagian kalimat yang dihilangkan dalam wacana.
6. Menulis halus, kegiatan ini untuk membiasakan menulis secara baik
7. Dikte, dengan memperdengarkan kata, kalimat, atau wacana sederhana kepada siswa agar mereka menuliskan apa yang mereka dengar
8. Mengarang, yang dapat dilakukan dengan bantuan gambar dan dapat pula tanpa bantuan gambar
7. Pengertian Karangan
Karangan merupakan karya tulis dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Selain itu, karangan dapat diartikan pula sebagai pengungkapan gagasan atau ide dalam sebuah karya tulis untuk dipahami oleh pembaca. Karangan terdiri dari karangan fiksi dan karangan non fiksi. Karangan fiksi adalah karangan yang dibuat dengan menggunakan sisi imajinatif dari pengarang, contohnya dongeng dan cerita pendek. Sedangkan karangan nonfiksi adalah karangan yang dibuat berdasarkan suatu kejadian atau realita yang benar-benar terjadi.
Karangan nonfiksi dibagi menjadi karangan ilmiah dan karangan informatif.
Karangan ilmiah merupakan karangan yang dibuat berdasarkan hasil pengamatan atau penelitian. Cara penulisannya memiliki struktur dan aturan tersendiri yang dibuat dan ditaati oleh masyarakat ilmiah. Karangan ilmiah ini harus mengungkapkan fakta-fakta yang didapat dari penelitian tanpa menambah maupun mengurangi hasilnya. Biasanya karangan ilmiah mencsntumkan kesimpulan agar pembaca dapat lebih mudah
memahami isi karangan. Ciri-ciri karangan ilmiah adalah tidak persuasif, tidak argumentatif, objektif, dan sistematis, dan teratur. Hal ini menyebabkan karangan ilmiah tidak begitu menarik dan kemungkinan pembaca akan merasa bosan.
Menurut Finoza (2004:192), mengemukakan bahwa karangan merupakan hasil akhir dari pekerjaan merangkai kata dan kalimat untuk menjabarkan mengulas topik dan tema tertentu. Menurut Syafie’ie (1988:78), mengarang adalah pada hakikatnya menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, keinginan, dan kemauan, serta informasi dalam tulisan dan “mengirimkannya” kepada orang lain. Sedangkan menurut Tarigan (1986:21), menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca.
8. Pengertian Karangan Sederhana
Karangan sederhana merupakan keseluruhan rangkaian kehiatan seseorang mengumpulkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca agar mudah dipahami. Menurut Anwar (2001: 15), karangan sederhana diperoleh dari suatu proses dimana ide yang dilibatkan dalam suatu kata, kata-kata yang berbentuk kemudian dirangkai menjadi sebuah kalimat. Kalimat disusun menjadi sebuah paragraf dan akhirnya paragraf-paragraf tersebut mewujudkan sebuah karangan sederhana. Karangan sederhana adalah proses mengorganisasikan ide atau gagasan seseorang secara tertulis dalam
bentuk karangan sederhana yang terdiri atas 5 kalimat sampai 10 kalimat (Resmini dalam Anwar, 2011:15).
Karangan sederhana memiliki ciri-ciri diantaranya:
a. Bahasanya mudah dimengerti
b. Kata-kata yang yang digunakan masih sederhana
c. Kalimatnya pendek-pendek sehingga karangannya juga pendek d. Isi cerita biasanya mengenai lingkungan keseharian anak
Karangan sederhana berbeda dari jenis karangan yang lain karena bahasa dan kalimatnya masih sederhana, kalimatnya pendek-pendek dan temanya seputar dunia dan lingkungan keseharian anak. Kegiatan mengarang bukanlah kegiatan yang mudah, melainkan perlu latihan yang berkelanjutan. Untuk dapat menyampaikan maksud melalui karangan, seseorang harus memiliki kecakapan mengarang. Menurut Heuken (2008: 10), hal-hal yang harus diperhatikan dalam belajar mengarang, yaitu :
1. Ide harus jelas dan fokus 2. Memahami teknik mengarang
3. Mempelajari tata bahasa agar tulisan mudah dimengerti pembaca 4. Pengungkapan harus jelas, teratur, tanpa rasa emosional yang
berlebihan dan harus realistis.
Beberapa tanda baca yang biasa digunakan dalam penulisan karangan diantaranya:
1. Tanda titik, sebagai tanda bahwa kalimat telah selesai. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pernyataan atau seruan.
2. Tanda koma, pokok tugasnya adalah untuk menyatakan jeda sejenak, menyekat hubungan-hubungan yang perlu di jelaskan dan menyekat frase sejenis atau setara.
3. Titik dua, digunakan untuk menegaskan keterangan atau penjelasan sebagai tambahan sesuatu yang telah disebutkan dalam kalimat terdahulu.
4. Tanda seru dan tanda tanya, tanda seru digunakan untuk menyatakan perasaan yang kuat seperti perintah, tak percaya dan terkejut.
Sedangkan tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya.
5. Selain empat aspek mengenai tata tulis karangan diatas, Saddhono (2012:98), menambahkan pentingnya memberikan judul yang tepat dalam karangan. Judul karangan harus tergambar dalam isi atau bahwa isi tulisan karangan harus relevan dengan judul karangan. Judul karangan harus melambangkan tema cerita, karena judul dalam karangan memiliki fungsi sebagai penarik minat, promosi, dan mengungkapkan topik cerita
9. Langkah-Langkah Menyusun Karangan
Pada dasarnya, untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah- langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan. Adapun langkah- langkah menyusun karangan, yaitu:
a. Menentukan Tema dan Judul
Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan. Sedangkan yang dimaksud dengan judul adalah kepala karangan. Ada beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan, diantaranya:
1) Tidak mengambil tema yang bahasanya terlalu luas
2) Memilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan 3) Memilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat dengan
mudah kita peroleh b. Mengumpulkan Bahan
Sebelum melanjutkan menulis, perlu ada bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan. Perlu ada dasar bekal dalam melanjutkan penulisan. Untuk membiasakan kumpulkan kliping-kliping masalah tertentu dalam berbagai bidang dengan rapi. Hal ini perlu dibiasakan calon penulis agar ketika dibutuhkan dalam tulisan, penulis dapat membuka kembali kliping yang tersimpan sesuai bidangnya.
c. Menyeleksi Bahan
Perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan.
Bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis. Berikut cara menyeleksi bahan, yaitu:
1) Mencatat hal penting semampunya
2) Menjadikan membaca sebagai kebutuhan 3) Banyak diskusi
d. Membuat kerangka karangan
Perlu kita susun selangkah demi selangkah agar tujuan awal menulis tidak hilang atau melebar dijalan. Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang fokus dan mudah terukur. Kerangka merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna. Fungsi kerangka karangan:
1) Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis
2) Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahn
3) Membantu menyeleksi materi yang penting maupun yang tidak penting
e. Mengembangkan Kerangka Karangan
Proses pengembangan karangan bergantung sepenuhnya pada penguasaan kita terhadap materi yang hendak kita tulis. Jika dengan benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir, dan nyata. Terbukti pada kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan. Pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis dan terarah. Alur pengembangan juga harus disusun secara teliti dan cermat. Semakin berbobot tulisan yang dihasilkan.
B. Kerangka Pikir
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.Dalam kegiatan menulis, penulis haruslah terampil memanfaatkan gragologi, struktur bahasa, dan kosakata.
Pemilihan menulis karangan sederhana karena karangan sederhana tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuatnya karena setiap tulisan yang tertera dalam karangan tersebut sesuai dengan apa yang ada dipikiran siswa. Bahasa yang digunakan dalam menulis karangan sederhana pun menggunakan bahasa yang sederhana, lebih sederhana jika dibandingkan dengan bahasa dalam puisi yang mempunyai arti lebih kompleks, serta berupa pemadatan kata yang didalamnya menceritakan gagasan, perasaan ataupun pengalaman penulisnya.
Bagan Kerangka Pikir
Keterangan :
: Tidak diteliti : Diteliti
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Keterampilan Berbahasa
Menyimak
Kemampuan Menulis Karangan Sederhana
Berbicara Membaca
Menulis
Tes Kemampuan Menulis Karangan Sederhana
Analisis
Temuan
Tidak Mampu Mampu
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini berjudul “Kemampuan Menulis Karangan Sederhana Siswa Kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa”. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Penelitan ini bermaksud mendeskripsikan kemampuan menulis karangan sederhana pada Siswa Kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa. Objek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase yang letaknya di Jln. Andi Tonro No. 2 Sungguminasa, Gowa telepon 0411-889311. Sekolah ini memiliki dua lantai.
C. Variabel dan Devinisi Operasional variabel
Variabel yang diamati atau diukur dalam penelitian ini adalah variabel tunggal. Maksudnya, penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu kemampuan menulis karangan sederhana siswa kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa. Kemampuan menulis karangan sederhana siswa yang dimaksud adalah ketrampilan atau kecakapan siswa menggunakan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan secara sederhana.
D. Populasi dan Sampel
Pada bagian ini dibahas tentang populasi dan sampel penelitian yaitu dibahas berikut ini.
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa dengan jumlah 2 kelas, yaitu kelas paralel VI-a, VI-b, dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang.
Tiap kelas memiliki siswa maksimal 40 orang terdiri dari siswa laki-laki dan siswa perempuan. Jadi, jumlah populasi keseluruhan adalah 80 orang.
Untuk memperoleh gambaran yang terperinci mengenai keadaan populasi dalam penelitian ini,dapat dilihat tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Tabel jumlah siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa
KELAS JUMLAH
Laki-Laki Perempuan Jumlah
VI-a 25 15 40
VI-b 19 21 40
Jumlah 44 36 80
Sumber Tata Usaha SD Negeri 6 Bontokamase tahun 2017 2. Sampel
Keadaan populasi cukup besar sehingga perlu dilakukan pengambilan sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara randomsampling, yang dilakukan dengan cara mengambil sebagian dari jumlah siswa kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa secara acak. Menurut Arikunto (2002), jika jumlah
subjek kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua, sedangkan jika jumlah subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15%.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data penelitian dilakukan dengan cara melakukan tes.
Tes yang digunakan untuk mengetahui keterampilan menulis karangansederhana adalah ter tertulis. Siswa diberikan tugas untuk membuat karangan sederhana. Tes ini dilakukan setelah siswa mendapatkan penjelasan dari guru.
F. Teknik Analisis Data
Pengelolaan data pada penelitian ini dilakukan setelah terkumpulnya data. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan yaitu rumus menurut Sudjana (1986:67). Untuk analisis secara kuantitatif digunakan analisisstatistikdeskriptif, yaitu skor rata-rata presentasi serta nilai maksimum dan minimum yang diperoleh siswa. Nilai tersebut dikategorikan dengan menggunakan kategori skala berdasarkan teknik kategorisasi standar dan kriteria penilaian yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Yasmin,2009) yang dinyatakan sebagai berikut.
Tabel 3.3 Kategori Penilaian
No Nilai Kategori
1 84-100 Sangat Baik
Mampu
2 73-83 Baik
3 62-72 Cukup
Belum Mampu
4 51-61 Kurang
5 0-50 Sangat Kurang
Sumber : Departemen Pendidikan danKebudayaan (2007) Kriteria ketuntasan penilaian kemampuan menulis karangan sederhana dinyatakan dalam tabel 3.4 ini.
Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Menulis Karangan Sederhana
No Aspek yang dinilai Skor
1 Kesesuaian Juduldan Isi 20
2 Kesatuan Paragraf 20
3 EYD 20
4 Diksi/Pilihan kata 15
5 Kohesi dan Koherensi 15
6 Kesatuan Paragraf 10
Jumlah 100
(Nurgiyantoro, 2011:98)
Adapun teknik analisis data yang dilakukan untuk memperoleh nilai dari hasil tes siswa dengan menggunakan rumus Sudjana, 1986 yaitu:
N = x100%
Keterangan N : Nilai
S : Skor Perolehan sm : Skor Maksimal
Sesuai dengan nilai kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah adalah nilai 75, maka perolehan nilai pada setiap siswa dalam pembelajaran harus 75 ke atas. Jadi, secara kelasikal 85% siswa harus memperoleh nilai 75 ke atas sehingga dikatakan mampu menulis karangan sederhana.
G. Instrumen Penelitian
Adapun contoh intrumen yang akan nilai sebagai berikut:
Hari Ulang Tahunku
Suatu hari keluargaku sangat sibuk. Kakak dan aku bersiap pergi ke sekolah. Ayah bersiap berangkat kekantor. Ibu sibuk membuat makanan di dapur. Aku heran biasanya keluargaku tidak sesibuk hari ini.
biasanya untuk sepagi ini ibu belum memasak.
Aku berpamitan kepada ayah dan ibu sebelum ke sekolah.
Biasanya kakak selalu pulang sekolah denganku. Hari ini kakak tidak pulang dengan ku. Aku tanya kemana, kakak diam saja. Akhirnya, aku pulang sekolah sendiri. Aku merasa hari ini benar-benar aneh, tidak sepperti biasanya.
Aku tiba di rumah sekitar pukul setengah satu siang. Alangkah herannya aku karena ayah, ibu dan kakak sudah berkumpul diruang keluarga. Semua berdiri dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada ku. Ternyata aku lupa klau hari ini ulang tahun ku. Kakak pulang ke rumah
lebih awal untuk memberikan kejutakan untuk ku. Ibu memasak macam- macam makanan untuk aku. Betapa bahagianya aku hari ini, akupun memeluk seluruh keluarga ku. Semua keluarga ku sangat perhatian kepada ku.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
Pada bagian ini dibahas secara rinci hasil penelitian tentang kemampuan menulis karangan sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa. Untuk memudahkan dan memahami hasil yang diperoleh dalam penelitan yang dilaksanakan di SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa, penulis kembali memaparkan masalah penelitian yakni: bagaimanakah kemampuan menulis karangan sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa?
Pemecahan masalah tersebut dapat dilihat dari hasil analisis data. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk kuantiatif, yakni gambaran tentang kemampuan menulis karangan sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa yang dinyatakan dengan angka. Berikut ini adalah nilai praktik menulis karangan sederhana siswa yang diberikan oleh peneliti untuk mengetahui kemampuan menulis karangan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dan dianalisis menurut teknik yang tidak ditambah.
Tabel 4.1
Nilai Kemampuan Menulis Karangan Sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa No Nama Siswa Aspek yang di nilai
Nilai
1 2 3 4 5 6
1 Desri Yanti 20 15 15 15 10 10 85
2 Dwi Andini
Yulian 15 15 15 15 10 5 75
3 Muh. Fadel
Syam 20 15 20 15 5 10 85
4 Istiqamah 15 20 15 10 10 10 65
5 Nurul Fadila 25 15 15 10 10 10 85
6 Febi Ayunensi 20 15 15 10 10 10 80
7 Salwa fadhila 15 15 15 10 10 10 75
8 Nabila salsabila 20 15 15 15 10 10 85
9 Muh. Fadli 20 15 15 15 5 10 80
10 Muh.
faturrahman 15 20 20 15 10 10 90
11 Naila fatika 15 15 10 10 10 10 70
12 Rezki aulia 20 15 15 15 10 10 70
13 Bayu ilham 20 15 15 15 10 10 85
14 Muh. Hadjir 20 15 15 15 10 10 85
15 Muh. Haikal 20 15 20 10 5 10 65
16 Muh. Hendra 20 20 15 15 10 10 80
17 Nurfadilah ayu.
p 20 15 15 15 5 10 90
18 Nailah
kahmadani 15 15 15 15 10 10 80
19 Muh. Rasya
firansyah 20 15 10 15 5 10 75
20 Mutia azzahra 20 15 15 10 10 10 80
21 Alfarini 20 15 15 10 10 10 80
22 Muh. Arif
saputra 15 15 10 10 10 10 70
23 Muh. Khairil
erwin 20 20 20 10 10 10 90
24 Muh. Alfian arifin 20 15 15 15 10 10 85
25 Magfira syahib 20 20 20 10 10 10 90
26 Muh. Arie Arafat 20 15 15 10 10 10 65
27 Muh Aswad Aris 15 15 15 10 5 10 70
28
Shaim Yusra Sani 15 15 10 10 10 10 70
29 Nuraidah 15 15 10 10 10 10 70
30 Tegar Ananta. B 20 15 20 15 10 5 75
31 Putri Amalia. N 15 15 10 10 5 10 80
32 Muh. Maulana 20 15 15 15 5 10 80
33 Andi Pirmo 15 20 10 10 10 5 70
34 Muh. Ali Imran 15 15 15 10 10 10 80
35 Muh. Nur
Ilham.S 20 15 10 15 5 10 75
36
Jaclyn Jeane P 15 15 10 10 5 10 80
Nur Shabrina. S 37 20 15 15 10 10 10 65
38 Nur Nadila Putri 15 15 15 10 5 10 70
39 Jordi 15 15 10 10 10 10 70
40 Nurhasnia 20 15 15 10 10 10 65
Jumlah 3110
Rata-rata 78,88
Keterangan :
Kriteria 1 : Kesesuaian judul dan isi Kriteria 2 : Kesatuan Paragraf Kriteria 3 : EYD
Kriteria 4 : Diksi/Pilihan Kata Kriteria 5 : Kohesi dan koherensi Kriteria 6 : Kerapian tulisan
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Skor Kemampuan Menulis Karangan Sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten
Gowa
No Skor Mentah Siswa Frekuensi Presentasi
1 90 4 10%
2 85 7 17%
3 80 10 25%
4 75 5 12%
5 70 9 23%
6 65 5 13%
Jumlah 40 100%
Tabel 4.2 di atas, menunjukan bahwa siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase, memperoleh skor 90 sebagai skor tertinggi dengan jumlah 4 orang, skor 85 dengan jumlah 7 orang, skor 80 dengan jumlah 10 orang, skor 75 dengan jumlah 5 orang dan skor 65 dengan jumlah 5 orang. Hasil selengkapnya mengenai tes dan nontes diuraikan terinci sebagai berikut.
1. Hasil Tes
Tes yang digunakan di dalam penelitian ini, untuk mengetahui kemampuan menulis cerpen siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase dengan kriteria penilaian ini meliputi 6 aspek penelitian, yaitu (1) Kesesuaian judul dan isi, (2) Kesatuan paragraf (3) EYD , (4) Diksi/pilihan kata,(5) kohesi dan koherensi , (6) Kerapian tulisan. Secara umum, hasil tes kemampuan menulis cerpen pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.3
Hasil Tes Kemampuan Menulis Karangan Sederhana siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase Sungguminasa Kabupaten Gowa
No Nilai Kategori Frek Presentasi Kategori Nilai
1 84-100 Sangat baik 11 27.5%
65% Mampu
2 73-83 Baik 15 37.5%
3 62-72 Cukup 14 35%
35%
Tidak Mampu
4 51-61 Kurang 0 0.00%
5 0-50 Sangat kurang 0 0.00%
Jumlah 40 100%
Tabel diatas, menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase dalam menulis karangan sederhana dapat dikatakan cukup. Hal ini terlihat dari jumlah keseluruhan 40 siswa, 11 diantaranya sebesar 27.5% termasuk kategori sangat baik dengan nilai antara 84-100. Kategori baik dengan nilai antara 73-83 dicapai oleh siswa 15 siswa sebesar 37.5% sedangkan, kategori cukup dengan nilai 62-72 dicapai oleh 14 siswa sebesar 35%.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Pada bagian ini peneliti menganalisis hasil pekerjaan siswa pada saat penelitian. Ada tiga sampel kerja siswa yang akan dianalisis oleh peneliti, mulai dari yang memperoleh nilai sangat baik, nilai baik, dan nilai cukup baik. Adapun aspek yang dinilai dalam menulis karangan
sederhana, yaitu: (1) Kesesuaian judul dan isi, (2) Kesatuan paragraf, (3) EYD, (4) Diksi/pilihan kata, (5) Kohesi dan koherensi, (6) Kerapian tulisan.
Berikut adalah sampel yang dimaksud beserta analisisnya:
(1). Kesesuaian judul dan isi
Dalam menulis cerpen harus juga diperhatikan kesesuaian judul dan isi. Karna, bisa saja ketika seorang menulis cerpen ia tidak
memperhatikan judul, sehingga isi cerpen tidak berkaitan lagi dengan judul cerpen tersebut.
Nama : Kelas : VI
Pengalaman liburan di rumah nenek
Liburan kali ini sangat berkesan bagiku. Aku diajak Ayah berlibur kerumah nenek di sebuah desa di kabupaten pangkep. Sebenarnya , sudah lama aku tidak berkunjung ke desa nenek, maka kesempatan berlibur kerumah nenek sangat menggembirakan hatiku. Pukul 8 pagi aku berangkat bersama Ayah, Ayah mengendarai motor dan aku di bonceng di belakang. Setelah menempuh sekitar puluhan kilometer, akhirnya kami sampai di rumah nenek.
Keesokan harinya aku diajak keponakan Ayah untuk pergi kesawah nenek, kebetulan nenek lagi panen padi. Sawah nenek tidak jauh dari rumah, beberapa menit saja aku sudah sampai. Banyak orang sedang memanen padi di sawah nenek. Ada yang menyabit padi ada pula yang merontokkan padi dengan menggunakan mesin. Hari berikutnya aku lalui dengan begitu menyenangka. Ikut bermain bersama teman dan sepupuku didesa, ternyata mereka sangat ramah dan suka bergaul. Hari terakhir aku enggan meninggalkan desa nenek, desa yang bagus, penduduknya yang ramah, dan suka bergotong royong. Seminggu penuh aku berada dirumah nenek, pengalaman yang sangat menyenangkan. Jika ada kesempatan
liburan sekolah pada masa berikutnya aku meminta agar Ayah kembali berlibur kerumah nenek.
(2). Kesatuan paragraf (3). Kohesi dan koherensi
Kohesi adalah hubungan antar bagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Koherensi adalah keterkaitan antara bagian satu dengan bagian lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh.
(4). Ejaan
Penggambaran bunyi bahasa kata dan kalimat.
(5) Gaya bahasa
Gaya bahasa indah yang bertujuan untuk mempercantik susunan kalimat atau memberikan kesan dan efek tertentu kepada pembaca baik secara lisan maupun tulisan.
(6) kelengkapan karangan
Yang dimaksud kelengkapan cerpen yaitu adanya unsur intrinsik dalam cerpen tersebut, seperti : tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, amanat.
Ada tiga sampel kerja siswa yang akan dianalisis oleh peneliti, mulai dari yang memperoleh nilai sangat baik, nilai baik, dan nilai cukup baik.
Pada analisis ini, peneliti mengacu pada aspek-aspek yang dinilai dalam menulis karangan, yaitu:
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di sekolah SD Negeri VI Bontokamase, penulis dapat menyimpulkan hasil penelitian ini, hal-hal yang dimaksud sebagai berikut.
Hasil analisis data memperlihatkan bahwa dari 40 jumlah siswa sampel yang menganalisis nilai 73 ke atas sebanyak 31 orang atau 27.5%
sedangkan jumlah siswa yang memperoleh nilai dibawah 73 sebanyak 11 orang atau 35%. Jadi, hal tersebut jika dihubungkan dengan interval ketentuan maksimal yaitu 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 73 ke atas maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VI SD Negeri 6 Bontokamase Kabupaten Gowa tidak mampu menulis karangan sederhana.
B. Saran
Berdasarkan hasil yang dicapai, maka yang perlu disarankan oleh penulis yaitu:
1. Diharapkan kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD Negeri VI Bontokamase agar bisa membiasakan siswa membuat karangan sederhana.
2. Karena penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa kelas VI SD Negeri VI Bontokamase.dikategorikan tidak mampu
menulis karangan sederhana, hendaknya guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berupaya untuk mengembangkan bakat siswa dalam menulis karangan sederhana
3. Kepada guru Bahasa dan sastra Indonesia juga disarankan untuk terus memberi motivasi kepada siswanya.