PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Sebagaimana telah dijelaskan pada latar belakang, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada klien stroke non hemoragik di RS Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Manfaat Penelitian
- Bagi peneliti
- Bagi tempat penelitian
- Bagi perkembangan ilmu keperawatan
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Anatomi dan Fisiologi
Pada saraf ini terdapat serabut saraf otonom (parasimpatis) pada wajah dan kulit kepala yang fungsinya mengirimkan rasa sebagai ekspresi wajah.
Etiologi
Penderita hipertensi memiliki faktor risiko stroke empat hingga enam kali lipat dibandingkan orang tanpa hipertensi dan sekitar 40 hingga 90 persen pasien stroke diyakini sudah menderita hipertensi sebelum mengalami stroke. Bagi orang yang tidak menderita hipertensi, risiko terkena stroke terus meningkat hingga usia 90 tahun, sama dengan risiko stroke pada orang yang menderita hipertensi. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke, baik perdarahan maupun penyumbatan, tergantung pada faktor risiko lain yang terkait (Dourman, 2013).
Merokok meningkatkan risiko stroke iskemik hampir dua kali lipat, terlepas dari faktor risiko lainnya, dan juga dapat meningkatkan risiko perdarahan subarachnoid sebesar 3,5 persen.
Patofisiologi
Lumen pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan insufisiensi atau jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh secara memadai. Aneurisma disebabkan oleh dinding pembuluh darah yang melemah atau menipis sehingga mudah pecah. Autoregulasi serebral merupakan kemampuan intrinsik pembuluh darah serebral untuk menyesuaikan pembuluh darah serebral agar tetap konstan meskipun terjadi perubahan tekanan perfusi serebral.
Oklusi pembuluh darah serebral oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis yang diikuti trombosis dan hipertensi vaskular.
Pathway Stroke Non Hemoragik
Komplikasi
Manifestasi Klinis
Klasifikasi
Manifestasi neurologis TIA bervariasi tergantung pada lokasi dan ukuran pembuluh darah otak yang terkena dan terjadi secara tiba-tiba. Stroke trombotik merupakan jenis stroke yang paling umum terjadi, sering kali disertai dengan aterosklerosis dan menyebabkan penyempitan lumen arteri sehingga mengganggu aliran darah ke otak. Tempat tersering terjadinya emboli serebral adalah pada pembelahan pembuluh darah, terutama pada arteri serebral tengah (Lemone, dkk, 2016).
Suatu kelainan pada pembuluh darah di otak yang menyebabkan defisit neurologis yang berlangsung lebih dari 24 jam.
Pemeriksaan penunjang
Menggambarkan perubahan pada kelenjar pineal berlawanan dengan area massa yang luas, klasifikasi karotis interna terdapat pada trombus serebral. Ini menunjukkan tekanan abnormal dan biasanya berhubungan dengan trombosis, emboli dan TIA, peningkatan tekanan dan cairan mengandung darah, menunjukkan perdarahan subarachnoid/perdarahan intrakranial. Tn. Dapat menunjukkan kondisi jantung, apakah terjadi peningkatan pada ventrikel kiri yang merupakan tanda hipertensi kronis pada pasien stroke, menggambarkan perubahan pada kelenjar pineal pada daerah yang berlawanan dengan massa yang bertambah.
Sedangkan peningkatan tekanan dan darah yang mengandung cairan menandakan perdarahan subarachnoid atau intrakranial.
Penatalaksanaan
Terapi cairan ini penting untuk menjaga sirkulasi darah dan tekanan darah. kristaloid atau koloid 1500-2000 ml dan elektrolit sesuai kebutuhan, hindari cairan yang mengandung glukosa atau garam isotonik. 28. dopamin 2-2 µg/kg/menit sampai tekanan darah sistolik 110 mmHg. i) Bila mengalami kejang, berikan diazepam 5-20 mg IV perlahan selama 3 menit, maksimal 100 mg/hari; terus mengonsumsi antikonvulsan oral (fenitoin, karbamazepin). Pasien dapat menerima rtPA tetapi TD >185/110 mmHg, maka pilihan terapinya adalah labetalol 10-20 mg IV selama 1-2 menit, dapat diulang satu kali, atau nicardipine 5 mg/jam IV, dititrasi hingga 2,5 mg/jam setiap 5-15 menit maksimal 15 mg/jam; Setelah target tercapai, maka dapat disesuaikan dengan nilai tekanan darah.
Tekanan darah selama dan setelah rtPA <180/105 mmHg, dipantau setiap 15 menit selama 2 jam sejak dimulainya rtPA, kemudian setiap 30 menit selama 6 jam, dan kemudian setiap jam selama 16 jam.
Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien Stroke Non Hemoragik
- Pengkajian Keperawatan
- Diagnosa Keperawatan
- Perencanaan Keperawatan
- Pelaksanaan Tindakan keperawatan
- Evaluasi Keperawatan
Biasanya penderita stroke non hemoragik mempunyai riwayat hipertensi dengan tekanan sistolik > 140 dan diastol. Dengan gugup Pada pemeriksaan refleks dinding perut, saat perut pasien digaruk, biasanya pasien tidak merasakan apa-apa.
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan perawat untuk membantu klien melalui masalah kondisi kesehatan yang dihadapinya menuju status kesehatan yang baik, menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Potter & Perry, 2011).
METODE PENELITIAN
Subyek Penelitian
Batasan Istilah (Definisi Operasional)
Asuhan keperawatan pada klien stroke nonhemoragik merupakan asuhan keperawatan menyeluruh yang diberikan kepada klien dengan menggunakan metode proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Prosedur Penelitian
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Alat atau instrumen pengumpul data menggunakan format pengkajian medik-bedah asuhan keperawatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur.
Keabsahan Data
Hasil anamnesis klien stroke non hemoragik di Ruang Angsoka RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarida. Hasil pemeriksaan penunjang pasien stroke non hemoragik di ruang Angsoka RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarida. Sedangkan pada klien 2 setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari ternyata hasil evaluasi 5 diagnosa keperawatan tidak menyelesaikan masalah.
Merumuskan diagnosa keperawatan pada Klien 1, penulisan diagnosa faktor risiko konsisten dengan penegakan diagnosa risiko dalam SDKI. Rumusan diagnosa keperawatan pada klien 1 dan 2 ternyata sesuai dengan teori identifikasi diagnosa risiko pada SDKI. Merumuskan diagnosa keperawatan klien 1 dan penulisan diagnosa aktual sesuai dengan cara penulisan diagnosa aktual pada SDKI.
Membuat diagnosa keperawatan pada klien 2, penulisan diagnosa aktual mengikuti cara penulisan diagnosa aktual pada SDKI. Diagnosis klien 2 yang sesuai teori adalah gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan gangguan neuromuskular. Menurut peneliti, rumusan diagnosa keperawatan pada Klien 2 ternyata sesuai dengan teori penegakan diagnosa yang sebenarnya dalam SDKI.
Perencanaan asuhan keperawatan dilakukan pada klien 1 (Ms P) dengan masalah bersihan jalan nafas berhubungan dengan disfungsi neuromuskular, dengan harapan setelah dilakukan intervensi keperawatan 4 x 24 jam patensi jalan nafas akan meningkat dengan pengukuran luaran dispnea. Perencanaan asuhan keperawatan dilakukan pada klien 1 (Ny P) dengan masalah keperawatan resiko gangguan integritas kulit, dibuktikan dengan penurunan mobilitas dengan tujuan setelah melakukan tindakan keperawatan 4 x 8 jam diharapkan kulit dapat dan integritas jaringan akan meningkat sesuai dengan hasil kriteria. Judul : “Keperawatan pasien stroke non hemoragik yang dirawat di rumah sakit”.
Judul : “Pelayanan keperawatan pada pasien serangan jantung non hemoragik yang dirawat di rumah sakit”.
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie yang terletak di Jalan Palang Merah Indonesia No. Fasilitas yang tersedia di RSUD Abdul Wahab Sjahranie antara lain Unit Gawat Darurat 24 Jam, Fasilitas Rawat Jalan (20 klinik), Fasilitas Rumah Sakit (733 tempat tidur), Laboratorium, Radiologi, Radioterapi, Fasilitas Pertolongan Medis, Farmasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan ruang Angsoka yaitu ruangan rumah sakit yang digunakan untuk klien dengan gangguan sistem saraf yang langsung dilayani setelah klien datang dari IGD.
Bangunan ruang Angsoka terdiri dari 10 kamar dengan kapasitas 44 tempat tidur, 1 kamar mandi tiap ruang klien, 1 ruang utama, 1 ruang kedokteran, 1 ruang pertemuan atau kemahasiswaan, 2 ruang kedokteran, 1 ruang sholat, 1 ruang laut, 2 ruang kamar mandi perawat, 1 ruang tindakan, 1 ruang penyimpanan klien, 1 pantry.
Gambaran Subjek Studi Kasus
Pada saat dilakukan pemeriksaan sidik jari pada dahi klien didapatkan kondisi klien dalam keadaan lembab, kulit kepala kurang bersih, terdapat ketombe, tidak terdapat luka, rambut merata, rambut hitam beruban, rambut pecah-pecah. mudah, tidak ada ujung rambut bercabang, rambut kusam dan tidak ada kelainan. Sklera putih, konjungtiva anemia, kelopak mata tidak edema, kornea keruh, refleks cahaya +, tekanan intraokular kanan dan kiri sama, pupil isokhorus, mata tidak ada kelainan. Tidak ada pernafasan pada lubang hidung, posisi septum hidung simetris, lubang hidung bersih, tidak dapat menilai ketajaman penciuman dan tidak ada kelainan pada hidung.
Warna rambut hitam putih, warna kulit putih, kulit kepala bersih, tidak ada luka atau kelainan. Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, posisi trakea berada di tengah. Klien tidak dapat dilakukan asesmen keluhan sesak nafas, nyeri pada pernafasan tidak dapat dinilai, dan tidak ada batuk.
Bentuk dada simetris, frekuensi pernafasan 26 kali/menit, ritme pernafasan tidak teratur, pernafasan nostril tidak ada, tidak menggunakan otot ekstra untuk bernafas klien. Premitus vokal tidak dapat diperiksa, ekspansi paru simetris, ekspansi paru kanan dan kiri sama, tidak ada kelainan. Bentuk dada simetris, frekuensi pernapasan 26 kali/menit, ritme pernapasan teratur, tidak ada pernapasan lubang hidung, tidak menggunakan otot bantu pernapasan.
Klien tidak terdapat benjolan pada payudara, klien tidak hamil, tidak terdapat fluoride albus maupun prolaps uteri pada alat kelamin klien. Selama pemeriksaan kenyamanan dan nyeri tidak dapat dinilai pada klien 1, sedangkan nyeri tidak dirasakan pada klien 2. Pemeriksaan sistem muskuloskeletal dan integumen pada klien 1 tidak ditemukan kelainan anggota gerak, patah tulang, luka, edema anggota gerak, dan kekuatan otot 0/0/0/0.
Sedangkan klien 2 diperoleh data mobilitas sendi bebas, tidak ada kelainan tulang belakang, turgor kulit baik, kekuatan otot 5/5/3/3.
Pembahasan
- Pengkajian
- Intervensi keperawatan
Pada klien 1 dilakukan evaluasi 4 hari setelah pelaksanaan tindakan keperawatan, hasilnya 7 diagnosa, hanya 2 diagnosa keperawatan yang terselesaikan yaitu diagnosa resiko jatuh dan pengetahuan kurang. Sedangkan klien 2 (Ibu Ar) makan secara oral dengan frekuensi makan 3 kali sehari dan porsi makannya lengkap. Klien 1 (Ny. P) mengalami kelumpuhan ekstremitas kanan dan kiri dengan nilai kekuatan otot.
Pada klien 2 (Ny. Ar) kelemahan ekstremitas yang terjadi pada sisi kiri dengan nilai kekuatan otot. Berdasarkan data Asesmen Perawat diatas terdapat 3 diagnosa keperawatan yang sama pada 2 klien yaitu resiko tidak efektifnya perfusi serebral, berkurangnya mobilitas fisik dan resiko terjatuh. Pada klien 1, diagnosis gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan neuromuskular ditunjukkan dengan berkurangnya kekuatan otot dan berkurangnya rentang gerak (ROM), dimana cara penulisan diagnosis sebenarnya untuk klien 1 sesuai dengan metode penulisan diagnosis sebenarnya. . diagnosis pada SDKI.
Diagnosa keenam pada klien 1 dan diagnosis kelima pada klien 2 ditegakkan pada kedua klien dengan teori yang sama yaitu diagnosis risiko jatuh yang dibuktikan dengan faktor risiko penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan berkurangnya kekuatan otot. Gejala mayor dan minor yang didapat pada klien 2 tidak memenuhi validasi diagnosis pada SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan). Pada saat pengkajian, tanda-tanda kasar yang diperoleh pada Klien 1 tidak memenuhi validasi diagnosis di SDKI dengan persentase minimal kurang lebih 80 persen hingga 100 persen.
Perencanaan asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien 2 (Ny. Ar) dengan masalah keperawatan risiko terjatuh ditandai dengan faktor risiko berkurangnya kekuatan otot dengan tujuan setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam diharapkan risikonya dapat dikurangi. jatuhnya tidak akan terjadi dengan kriteria hasil: Pemantauan faktor risiko di lingkungan dipertahankan 4 ditingkatkan 5, Pantau faktor risiko individu dipertahankan pada 4 ditingkatkan pada 5, Identifikasi. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan klien 1 sesuai dengan teori yang digunakan penulis yaitu teori. Menurut peneliti berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa pada klien 1 intervensi yang digunakan berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dan SLKI (Standar Hasil Keperawatan Indonesia).
Implementasinya dilakukan sesuai dengan intervensi yang dibuat dan disesuaikan dengan permasalahan keperawatan yang teridentifikasi pada klien.