PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dasar Hukum
Maksud dan Tujuan
Metode Penyusunan
Proses Penyusunan
Kedudukan dan Ruang Lingkup
Pengertian Umum
KONDISI GEOGRAFI DAN KEWILAYAHAN
- Gambaran Umum Wilayah Kota Tanjungpinang
- Letak dan Kondisi Geografis
- Topografi
- Hidrologi
- Klimatologi
- Potensi pengembangan wilayah
Grand Design Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang umumnya hanya digunakan untuk mengalirkan air dari kawasan lahan basah tertentu. Ancaman bencana yang terjadi di Kota Tanjungpinang antara lain banjir, gelombang pasang, angin puting beliung, dan tanah longsor.
KONDISI KEPENDUDUKAN SAAT INI
Pengendalian Penduduk
Sedangkan secara umum tingkat kepadatan penduduk di Kota Tanjungpinang mencapai 1550 jiwa per kilometer persegi. Grand Design Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang Dari data di atas dapat diperoleh informasi tentang rasio ketergantungan yang menjelaskan gambaran perbandingan data jumlah penduduk produktif dan tidak produktif.
Peserta KB dan Pasangan Usia Subur
Pengertian Pasangan Usia Subur (PUS) Peserta KB dibedakan menjadi dua, yaitu peserta KB aktif dan peserta KB baru. Peserta KB aktif adalah pasangan usia subur (PUS) yang sedang menggunakan salah satu alat kontrasepsi tanpa hamil. Sebagian besar peserta KB baru maupun peserta KB aktif memilih suntik dan pil sebagai alat kontrasepsi.
Sumber: Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk, 2021 Persentase peserta KB aktif pada pasangan usia subur di Kota Tanjungpinang pada tahun 2021 sebesar 76,8%. Sumber: Departemen Kesehatan dan Pengendalian Penduduk, 2021 Grafik III: 11Cakupan Peserta KB Pasca Persalinan Menurut Puskesmas.
Mobilitas Penduduk
Kualitas Penduduk
Grand Design Perkembangan Kependudukan Kota Tanjungpinang Grafik III: 12 Mobilitas Penduduk (Keluar dan Masuk). Grand Design Perkembangan Kependudukan Kota Tanjungpinang Tabel III: 11 Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Sekolah Dasar Negeri (SDN). Grand Design Perkembangan Kependudukan Kota Tanjungpinang Tabel III: 15Jumlah Sekolah, Guru dan Siswa Raudatul Athfal.
Grand Design Perkembangan Kependudukan Kota Tanjungpinang Tabel III: Perkembangan Jumlah Madrasah Ibtidaiyah 17, Jumlah Guru dan Siswa serta Rasio Guru-Siswa Tahun 2017-2021 di Kota Tanjungpinang. Grand Design Perkembangan Kependudukan di Kota Tanjungpinang Tabel III: 24Jumlah sekolah Madresah Aliyah (MA), guru dan siswa di.
Pembangunan Keluarga
Dalam Grand Design Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang, angka kematian bayi menjadi tolak ukur yang sensitif terhadap seluruh upaya intervensi yang dilakukan pemerintah khususnya di bidang kesehatan. Secara numerik terjadi penurunan angka kematian sebanyak 2 kasus dari 18 kasus pada tahun 2020 menjadi 16 kasus pada tahun 2021. Faktor penyebab kematian bayi terdiri dari 2 faktor yaitu faktor bawaan atau didapat dari orang tua (genetika) pada masa kehamilan dan faktor eksternal. faktor setelah lahir.
Kematian bayi paling banyak terjadi pada tahun 2021, pada masa neonatal (0-28 hari), yaitu pada kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 9 kasus. Grand Design Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang didasarkan pada perkawinan yang sah menurut hukum negara dan agama, terwujudnya keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri dan harmonis, adil dan setara gender dengan jumlah anak ideal (dua), satu keluarga yaitu berketahanan sosial, keluarga yang mempunyai sumber daya keluarga berencana, keluarga yang berwawasan kebangsaan, yang mampu mengembangkan kepribadian dan budaya bangsa Indonesia, keluarga yang berkontribusi pada masyarakat, yang dalam bernegara berpartisipasi dalam pembangunan sosial. berkegiatan dan mempunyai kepedulian terhadap lingkungan hidup dan keluarga, memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara serta ikut serta dalam kegiatan bela negara, patuh membayar pajak, dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Manajemen Administrasi dan Database Kependudukan
Grand Design Pembangunan Kependudukan Kota Tanjungpinang diakses oleh pemangku kepentingan dan merupakan bagian dari Sistem Pendukung Keputusan (DSS). Grand Design Roadmap Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang mencakup jangka waktu lima tahun. Grand Design Pembangunan Kependudukan Kota Tanjungpinang Tabel VI: 4 Kondisi yang Diinginkan di Akhir Peta Jalan Menurut Indikator dan.
Grand Design Pembangunan Kependudukan Kota Tanjungpinang berasal dari berbagai institusi dan sesuai dengan data yang ada. Desain Besar Pembangunan Kependudukan (GDPK) Kota Tanjungpinang selain diperlukan sebagai arah kebijakan kependudukan ke depan juga diharapkan sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Tanjungpinang.
KEKUATAN, KELEMAHAN, TANTANGAN DAN PELUANG
Kekuatan
Dalam kebijakan pengendalian penduduk, Kota Tanjungpinang telah menunjukkan keberhasilan dalam 4 tahun terakhir dalam menunjukkan angka kelahiran (angka kelahiran total) dan mengendalikan pertumbuhan penduduk menuju pertumbuhan penduduk yang seimbang. Grand Design Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang benar-benar menjadikan bonus demografi sebagai peluang peningkatan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. Mobilitas penduduk Kota Tanjungpinang baik yang bersifat tetap maupun tidak tetap (melingkar) terus meningkat frekuensinya dan semakin pesat, dipengaruhi oleh tersedianya prasarana transportasi dan komunikasi yang memadai dan modern.
Dalam hal pembangunan keluarga sejahtera, kota Tanjungpinang mempunyai data keluarga mikro sehingga kita dapat mengetahui jumlah keluarga yang sejahtera dan keluarga yang belum sejahtera. Dilihat dari aspek dukungan lainnya, terdapat dukungan politik dan dukungan operasional dari semua pihak termasuk lembaga legislatif yang telah memberikan perhatian, dorongan dan dukungan yang besar terhadap pembangunan kependudukan di Kota Tanjungpinang.
Kendala
Dari segi database dan informasi kependudukan, kami sudah memiliki beberapa sumber data antara lain hasil sensus, SDKI, Susenas, profil kependudukan dan pengelolaan kependudukan. Walaupun tingkat kesuburan mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir, namun jumlah penduduk kota Tanjungpinang masih banyak, hal ini disebabkan banyaknya penambahan EFA setiap tahunnya. Dalam hal pembangunan keluarga, masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan dan keluarga prasejahtera yang tidak memiliki kapasitas dan ketahanan dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga, termasuk sandang, pangan, dan papan. seperti di bidang pendidikan dan kesehatan.
Masih rendahnya penyerapan tenaga kerja di Kota Tanjungpinang, baik pada sektor industri, komersial, maupun perikanan. Tidak semua Puskesmas mempunyai sedikitnya 5 (lima) jenis tenaga kesehatan dan juga terdapat kekurangan jumlah dokter spesialis di fasilitas rujukan (RSUD Kota Tanjungpinang) dibandingkan dengan jumlah penduduk.
Peluang
Rancangan besar selanjutnya bagi perkembangan kependudukan kota Tanjungpinang, dengan rentang waktu yang cukup panjang yakni lebih dari 10 tahun atau sampai tahun 2040, jika pengelolaannya akan meningkatkan kualitas kependudukan, maka kependudukan kota Tanjungpinang akan menjadi sebuah kekuatan bagi pembangunan nasional dan apabila tidak dapat dikelola dengan baik maka peluang bonus demografi akan menjadi beban.
Tantangan
Rencana Besar Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang memerlukan mekanisme perumusan strategi yang bersifat bottom-up dan top-down yang saling melengkapi. Rencana Besar Pembangunan Kependudukan Kota Tanjungpinang yang meliputi kebutuhan dasar pendidikan, kesehatan dan perekonomian telah mengalami kemajuan yang pesat di Kota Tanjungpinang. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil periode 2022-2032 telah melaksanakan rancangan besar pembangunan kependudukan di Kota Tanjungpinang pada periode penguatan pelayanan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) di Kota Tanjungpinang.
Kompleksitas permasalahan kependudukan di Kota Tanjungpinang membuat komitmen pemerintah Kota Tanjungpinang mutlak diperlukan dalam pembangunan kependudukan. Grand Design Pembangunan Kependudukan di Kota Tanjungpinang tidak hanya terfokus pada satu kecamatan saja yang menjadi daya tarik mobilitas penduduk atau migrasi.
VISI MISI DAN ISU STRATEGIS
Visi dan Misi GDPK Kota Tanjungpinang
Arah Kebijakan
ROADMAP KONDISI KEPENDUDUKAN YANG DIINGINKAN
Pengendalian Penduduk
Kondisi ini penting karena akan memungkinkan Kota Tanjungpinang mencapai bonus demografi yang ideal. Sebuah grand design pembangunan kependudukan Tanjungpinang. Dalam proyeksi laju pertumbuhan penduduk disusun berdasarkan pola laju pertumbuhan penduduk yang memperhitungkan angka kelahiran (TFR), angka kematian (IMR, CDR) dan migrasi bersih (internal dan internasional), berdasarkan pola pertumbuhan penduduk suatu negara. Kepulauan Riau dan hasil FGD dengan pemangku kepentingan terkait. Dalam penyusunan proyeksi TFR baseline tahun 2022 didasarkan pada penetapan target TFR oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang.
Untuk angka prevalensi kontrasepsi (CPR), kondisi baseline tahun 2022 diperoleh dari penetapan target angka prevalensi kontrasepsi oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang. Sedangkan untuk metode kontrasepsi jangka panjang, kondisi baseline tahun 2022 diperoleh dari penetapan target metode kontrasepsi jangka panjang oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang.
Kualitas Penduduk
Terwujudnya masyarakat atau masyarakat yang religius di Kota Tanjungpinang, yaitu masyarakat yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat yang sepenuh hati mengamalkan ajaran agamanya. Terwujudnya masyarakat atau masyarakat Kota Tanjungpinang yang maju, yaitu masyarakat yang berpengetahuan dan sadar akan supremasi hukum serta selalu menggunakan hati nurani dan akal sehat dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, RLS Kota Tanjungpinang diprediksi akan meningkat sekitar 0,3 persen setiap tahunnya, tentunya dengan tetap memperhitungkan kejenuhan kenaikan RLS setiap tahunnya.
HLS Kota Tanjungpinang diproyeksikan meningkat sekitar 0,01 poin persentase setiap tahunnya, namun tetap mempertimbangkan peningkatan kejenuhan pada RLS setiap tahunnya. Prediksi IPM kota Tanjungpinang dengan mempertimbangkan 3 aspek (kesehatan, pendidikan dan perekonomian) menghasilkan perkiraan bahwa IPM kota Tanjungpinang akan masuk kategori tinggi pada tahun 2032.
Penataan Persebaran Dan Mobilitas Penduduk
Sedangkan data IPM Kota Tanjungpinang sudah masuk kategori tinggi, salah satu implikasinya adalah rendahnya pertumbuhan IPM tahunan karena mencapai titik jenuh. Membuat kebijakan yang merangsang penduduk usia kerja yang bersekolah di luar kota untuk menaruh minat terhadap perkembangan kota Tanjungpinang. Fluktuasi laju pertumbuhan penduduk pada tahun-tahun tertentu disebabkan oleh antisipasi fluktuasi pola migrasi yang dimodelkan oleh rencana pembangunan infrastruktur untuk mendukung penghubung mobilitas penduduk antar wilayah, seperti jembatan.
Grand Design Perkembangan Kependudukan di Kota Tanjungpinang Untuk data migrasi netto (Migrasi Bangkit Netto), Kota Tanjungpinang bukanlah tujuan utama migrasi penduduk karena tidak adanya daya tarik perekonomian seperti pusat industri dan lain sebagainya. Namun kehadiran perguruan tinggi di Kota Tanjungpinang diharapkan dapat menarik minat warga meski tidak tinggal dalam waktu yang relatif lama dan berpotensi untuk kembali ke daerah asalnya setelah menyelesaikan studinya.
Pembangunan keluarga
Pembangunan keluarga yang bertaqwa kepada Tuhan, iaitu satu-satunya keluarga yang melaksanakan ibadah mengikut agama dan kepercayaan masing-masing dengan cara yang betul dan betul. Bertambah dan bertambahnya keadaan keluarga berdasarkan perkawinan yang sah dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meningkatkan dan memperbaiki keadaan keluarga yang sejahtera, sihat, maju dan berdikari dengan bilangan anak yang ideal (dua).
Perkembangan IPG Kota Tanjungpinang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2022. IPG Kota Tanjungpinang sebesar 97,24 dan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan Indeks Pemberdayaan Gender (IPG). Diperkirakan pada akhir roadmap yaitu pada tahun 2046, IPG Kota Tanjungpinang akan mencapai angka 99,74 dengan capaian pada inklusi perempuan di parlemen, manajer, profesional, administrasi, teknisi dan peningkatan kontribusi perempuan terhadap pendapatan lapangan kerja.
Pembangunan Data Base Kependudukan
Masa pemantapan pelayanan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) pada instansi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait. Sementara itu, periode penguatan fungsi dan peran Basis Data Kependudukan yang berbasis pada ketertiban kependudukan dan pelayanan administrasi kependudukan yang unggul dimulai pada tahun 2026-2036. Masa penguatan fungsi dan peran Basis Data Kependudukan yang berlandaskan ketertiban kependudukan dan pelayanan administrasi kependudukan yang unggul.
Masa pengembangan sistem yang dihubungkan atau diintegrasikan dengan data lain yang berasal dari lembaga berbeda dan konsisten dengan data yang ada. Sistem ini dikembangkan agar mudah diakses oleh para pemangku kepentingan dan akan dimulai pada tahun 2036 dan 2046 untuk pengembangan sistem yang telah dibangun menjadi bagian dari DSS (Decision Support System) terintegrasi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tanjungpinang.
PENUTUP
Untuk itu pembangunan fasilitas dan perekonomian juga harus merata di seluruh kecamatan Kota Tanjungpinang. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka integrasi dan penyelarasan kebijakan kependudukan sangat penting agar mempunyai kesamaan sasaran yang tepat dan tidak tumpang tindih dalam integrasi yang berkelanjutan, dan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas sudah sepatutnya dirumuskan acuan kependudukan. pembangunan ke depan dalam bentuk Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) tahun 2022-2046. Grand Design Pembangunan Kependudukan merupakan dokumen perencanaan daerah untuk perkembangan kependudukan 25 tahun ke depan dan disusun setiap 5 tahun sekali, yang memuat kecenderungan parameter kependudukan, permasalahan penting kependudukan dan program pembangunan kependudukan yang meliputi pengendalian penduduk, pembangunan kualitas penduduk, pembangunan keluarga. . , penataan persebaran penduduk dan pengaturan mobilitas penduduk serta pembangunan database kependudukan.
Grand Design Pembangunan Kependudukan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dalam bentuk sosialisasi, advokasi dan pemantauan terhadap berbagai pemangku kepentingan dan kebijakan baik di tingkat Kota maupun Kabupaten Tanjungpinang. Grand design pembangunan kependudukan disesuaikan dengan kondisi kependudukan dan kebutuhan pembangunan di masing-masing daerah dalam konteks pembangunan berorientasi kependudukan.