A. Dwi Yuniarti. H, Ardiman Setyanto, Hamid Kole Universitas Haluoleo
PENDAHULUAN
UU Kepemudaan No. 40/2009 pasal 1 ayat 1 mendefinisikan pemuda sebagai mereka yang berumur antara 16-30 tahun. Dalam hal ini, Kepemudaan merupakan generasi yang memiliki potensi besar untuk membentuk masa depan serta mendorong transformasi pemerintahan digital. Pemerintahan Digital merupakan proses pelayanan publik oleh pemerintah yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan sistem komputer. Sebagai generasi penerus bangsa serta agen perubahan, pemuda memiliki peran yang penting dalam proses pembangunan dan berpartisipasi untuk menyelesaikan tantangan persoalan dalam bidang sosial dan lingkungan khususnya di era digital saat ini.
Indonesia sebagai negara yang berbentuk kepulauan membutuhkan infrastuktur teknologi informasi dan komunikasi untuk adanya interkoneksivitas antar pulau, antar daerah, antar masyarakat, ataupun antar instansi. Namun masih banyak wilayah yang belum tersentuh infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi terutama di wilayah timur Indonesia. Masih banyaknya wilayah Indonesia yang belum terjangkau layanan telekomunikasi dapat dimaklumi mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia yakni sekitar 7,9 juta km2 (Yayat D. Hadiyat).
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak merata menjadi faktor munculnya kesenjangan digital, sehingga masalah ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh pemuda saat ini.
Kepemudaan dan pemerintahan digital memiliki peran yang penting dalam mengatasi isu kesenjangan digital di era modern ini. Kesenjangan digital merupakan permasalahan perbedaan kesempatan akses informasi dan teknologi yang menciptakan kesenjangan akses antara individu, bisnis, dan bahkan wilayah geografi pada tingkatan sosial ekonomi yang berbeda ( Pramadani 2020 ). Dengan hadirnya isu ini, pemuda sebagai generasi muda harus siap dalam menghadapi pemerintahan era digital melalui gerakan literasi digital.
Untuk mengukur tingkat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi suatu daerah dapat ditunjukkan melalui Indeks Pembangunan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (IP-TIK). IP-TIK sangat penting sebagai ukuran standar tingkat pembangunan TIK di suatu wilayah. Berdasarkan hasil penelitian data mining dengan metode k-means, Provinsi Jawa Barat menduduki cluster tinggi (Suharni 2020). Hal ini membuktikan bahwa Kasus kesejangan digital tidak hanya terjadi di daerah pelosok, namun daerah di pulau Jawa pun tidak lepas dari kondisi kesejangan digital ini. Hal ini dapat dilihat pada contoh kasus yang terjadi di Kabupaten Cianjur tepatnya Provinsi Jawa Barat.
PEMBAHASAN
Molnar (2003) mengemukakan ada tiga tipe kesenjangan digital yaitu access divide atau kesenjangan digital tahap awal yang merujuk pada kesenjangan antara masyarakat yang memiliki akses dan yang tidak memiliki akses terhadap TIK.
Kesenjangan yang berikutnya adalah usage divide atau kesenjangan digital primer yang merujuk pada perbedaan penggunaan TIK antara masyarakat yang memiliki akses terhadap TIK. Adapun kesenjangan selanjutnya adalah quality of use divide atau kesenjangan digital lapis kedua yang fokus pada perbedaan kualitas penggunaan TIK pada masyarakat yang menggunakan TIK dalam keseharian.
Kesenjangan digital di kalangan pemuda pedesaan di Kabupaten Cianjur, Indonesia, menunjukkan bahwa terdapat ketimpangan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, kelas pekerjaan, dan tingkat pendapatan secara signifikan memengaruhi tingkat pemanfaatan TIK di kalangan pemuda pedesaan di Cianjur.
Selama pandemi Covid-19, ketimpangan digital di wilayah pedesaan Cianjur semakin terlihat, terutama dalam hal akses internet yang tidak merata. Hal ini menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh karena kualitas internet yang buruk. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketimpangan sosial di kalangan pemuda pedesaan di Cianjur direproduksi melalui mekanisme kesenjangan digital tingkat ketiga. Faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, kelas pekerjaan, tingkat pendapatan, dan karakteristik wilayah pedesaan berkontribusi dalam reproduksi ketimpangan sosial melalui kesenjangan digital. Temuan ini menekankan pentingnya pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana karakteristik wilayah pedesaan berkontribusi terhadap pembentukan kesenjangan digital dan reproduksi ketimpangan sosial.
Dengan demikian, hal ini menyoroti pentingnya menganalisis kesenjangan digital dalam kaitannya dengan ketimpangan sosial, serta menekankan perlunya mempertimbangkan aspek positif TIK dalam mengurangi ketimpangan sosial.
Selain itu, penelitian ini menegaskan pentingnya mengidentifikasi karakteristik yang beragam dalam wilayah pedesaan untuk memahami kesenjangan digital.
Peran Pemuda Dalam Pemerintahan Digital di Tengah kesenjangan digital di Indonesia
Revolusi teknologi zaman baru telah membawa perubahan dramatis dalam gaya pemerintahan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Negara yang mengalami kemajuan pesat, juga sedang melakukan transisi menuju pemerintahan digital dalam upaya meningkatkan efisiensi administratifnya.
melakukan transisi menuju pemerintahan digital. Namun, Indonesia bergulat dengan situasi keterpaparan internet yang tidak merata di seluruh wilayah hukumnya. Seperti yang ditunjukkan oleh buku dengan judul Statistik Telekomunikasi Indonesia (2022), persentase penduduk yang mengakses internet ini terjadi di seluruh wilayah di Indonesia. Persentase akses internet tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta 84,65 persen pada tahun 2022. Sementara persentase di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2022 dengan nilai sekitar 71,12 persen. Dari persentase tersebut kita bisa menyimpulkan ketersediaan internet di wilayah DKI Jakarta adalah 84,65%, jauh lebih kecil dari akses internet di wilayah Jawa Barat yang hanya 71.12%. (Sutarsih). Dari data di atas terjadi kesenjangan digital dan memaksa kaum muda untuk menghadapi tantangan tatanan sosial yang terputus-putus.
Adapun peran penting dan solusi pemuda dalam mengatasi isu kesenjangan digital, yaitu: pertama, Menginisiasi Program Pelatihan Digital, dimana pemuda dapat mengambil inisiatif untuk mengorganisir program pelatihan digital bagi masyarakat yang kurang terampil dalam menggunakan teknologi digital. Kedua, Mengadvokasi Akses Internet yang Merata dimana pemuda dapat menjadi penggerak dalam mengadvokasi akses internet yang merata di seluruh wilayah.
Ketiga, Membangun Inovasi Teknologi dimana pemuda dapat mengembangkan inovasi teknologi yang dapat membantu mengatasi kesenjangan digital. Keempat, Mengedukasi Masyarakat dimana pemuda dapat berperan sebagai edukator dalam mengedukasi masyarakat tentang manfaat teknologi digital dan cara menggunakannya dengan bijak. Mereka dapat mengadakan sesi pelatihan, workshop, atau kegiatan lainnya untuk meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat. Kelima, Berpartisipasi dalam Program Pemerintah dimana pemuda dapat aktif berpartisipasi dalam program-program pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi kesenjangan digital. Mereka dapat menjadi relawan atau anggota tim yang terlibat dalam implementasi program-program tersebut. Dengan mengambil peran ini, pemuda dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengatasi isu kesenjangan digital dan membantu memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan adil dan merata.
Kesiapan Generasi Muda dalam Menghadapi Pemerintahan Digital
Dalam lima tahun terakhir, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia menunjukkan perkembangan yang pesat. Perkembangan indikator TIK yang paling pesat terlihat pada penggunaan internet dalam rumah tangga yang mencapai angka 86,54 persen di tahun 2022.
Dalam menghadapi isu kesenjangan digital, generasi muda harus mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi isu tersebut. Hal-hal yang perlu disiapkan oleh generasi muda yaitu, mengasah keterampilan digital, penguatan
literasi digital serta aktif menjadi agen perubahan. Generasi muda harus memiliki keterampilan digital yang kuat untuk mempersiapkan diri menghadapi era digital, keterampilan digital menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing dan produktivitas di era digital, pemerintah perlu membuat regulasi terkait penguatan literasi digital untuk mencegah perilaku berisiko dari pemanfaatan teknologi informasi saat ini. Selain itu, pemerintah juga perlu berpartisipasi aktif dengan membuat program-program pelatihan dan pendidikan yang dapat membantu meningkatkan keterampilan digital dan kesadaran sosial di kalangan generasi muda.
Generasi muda harus berpartisipasi sebagai agen perubahan dalam membangun masyarakat yang inklusif secara digital.
Generasi muda harus berperan penting dalam proses pembangunan dan berpartisipasi untuk menyelesaikan tantangan persoalan dalam bidang sosial dan lingkungan, khususnya di era digital saat ini. Dalam hal ini juga peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam memfasilitasi kesiapan generasi muda menghadapi pemerintahan era digital. Salah satu peran pemerintah dalam mendukung kesiapan generasi muda yaitu program Digital Talent Schoolarsip yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi. Program Digital Talent Scholarship (DTS) merupakan salah satu program prioritas yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi digital mulai tingkat keterampilan dasar hingga dengan keterampilan menengah. Dalam menghadapi era digital, generasi muda dituntut untuk memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih luas, termasuk kemampuan dalam penggunaan teknologi. Tidak hanya terbatas pada penggunaan media sosial, tetapi juga termasuk penggunaan berbagai perangkat dan aplikasi untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas.
Penutup
Kepemudaan dan pemerintahan digital memiliki peran penting dalam mengatasi isu kesenjangan digital di Indonesia. Pemuda perlu siap menghadapi pemerintahan era digital melalui gerakan literasi digital. Peran pemuda dalam mengatasi isu kesenjangan digital termasuk menginisiasi program pelatihan digital, mengadvokasi akses internet yang merata, membangun inovasi teknologi, mengedukasi masyarakat, dan berpartisipasi dalam program pemerintah. Generasi muda juga perlu mempersiapkan diri dengan mengasah keterampilan digital, penguatan literasi digital, dan aktif menjadi agen perubahan. Peran pemerintah dalam mendukung kesiapan generasi muda termasuk program Digital Talent Scholarship (DTS) yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi digital.
Dalam mengatasi isu kesenjangan digital di Indonesia, pemuda memiliki peran penting dalam menginisiasi program pelatihan digital, mengadvokasi akses internet yang merata, membangun inovasi teknologi, mengedukasi masyarakat, dan berpartisipasi dalam program pemerintah. Generasi muda juga perlu
digital, dan aktif menjadi agen perubahan. Pemerintah juga perlu mendukung kesiapan generasi muda melalui program Digital Talent Scholarship (DTS).
DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku
Sutarsih, T. &. (n.d.). Stastistik Telekomunikasi Indonesia 2022. ©Badan Pusat Statistik.
Sumber Jurnal
Fajar, I. (2021). Kesenjangan digital tingkat ketiga pada pemuda pedesaan di Kabupaten cianjur, Indonesia. Jurnal Komunika: Jurnal Komunikasi, Media dan Informatika, 10(1), 44-54.
Hadiyat, Y. D. (2014). Kesenjangan Digital di Indonesia (Studi Kasus di Kabupaten Wakatobi). Jurnal Pekommas, 17(2), 81-90.
Molnar, S. (2003). The explanation frame of the digital divide. Proceedings of the IFIP summer school ‘Risks and challenges of the networked society. Karlstad University, August
Pramadhani, D. H. (2022). Framing Pemberitaan Kesenjangan Digital di Daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) pada Media Online. Jurnal Ilmu Siber (JIS), 1(4), 117-122.
Suharni, S. (2021). Data Mining Analisis Cluster K-Means Pada Indeks Pembangunan Teknologi, Informasi dan Telekomunikasi. Journal of Technopreneurship and Information System, 3(3), 92-96.
Sumber Internet
https://mpr.go.id/berita/Peran-Generasi-Muda-dalam-Transformasi-Digital-Penting- untuk-Mengakselerasi-Pembangunan
https://www.wantiknas.go.id/id/berita/persiapkan-generasi-muda-untuk-percepatan- transformasi-digital
https://www.kominfo.go.id/content/detail/47163/siaran-pers-no-8hmkominfo012023- tentang-kominfo-sediakan-kuota-100-ribu-beasiswa-program-pelatihan-dts-tahun- 2023/0/siaran_pers