• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keragamanseranggatanah (1)

N/A
N/A
Andini Saputri

Academic year: 2025

Membagikan "Keragamanseranggatanah (1)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/339446172

KEANEKARAGAMAN SERANGGA PERMUKAAN TANAH PADA HUTAN TANAMAN DAN HUTAN ALAM DI HUTAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Article · February 2020

CITATION

1

READS

2,259 2 authors, including:

Sitti Nuraeni Hasanuddin University 52PUBLICATIONS   92CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Sitti Nuraeni on 24 February 2020.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 62 KEANEKARAGAMAN SERANGGA PERMUKAAN TANAH PADA HUTAN

TANAMAN DAN HUTAN ALAM DI HUTAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Sitti Nuraeni1* dan Nataniel Mangesu2

1 Laboratorium Perlindungan dan Serangga Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar 90245.

2 KPH Bonehau Kalumpang, Mamuju Sulawesi Barat.

ABSTRAK

Hutan merupakan sumber daya alam yang menjadi habitat kompleks bagi kehidupan berbagai tumbuhan dan satwa. Salah satu sumber daya fauna yang penting bagi habitat hutan adalah serangga yang hidup pada permukaan lantai hutan atau disebut serangga tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis-jenis serangga tanah pada hutan alam dan hutan tanaman. Penelitian ini dilakukan pada Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin dengan menggunakan perangkap pitfall dan serasah saring pada masing-masing lima titik pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan serangga permukaan tanah pada hutan alam didapatkan total individu 255 dari 8 ordo (Hymenoptera 34,90% dan Coleoptera 29,42%) dan 11 familia pada hutan alam dan 91 individu dari ordo 5 ordo (Coleoptera 60,44% dan Hymenoptera 18,68%) dan 8 familia pada hutan tanaman. Keanekaragaman serangga tanah pada hutan alam dan hutan tanaman tergolong sedang keragamannya. Nilai indeks kemerataan jenis pada kedua habitat hutan ini termasuk rendah.

Kata Kunci: Serangga permukaan tanah, hutan alam, hutan pendidikan

* email: [email protected]

I. PENDAHULUAN Serangga merupakan salah

satu fauna yang dapat menghuni permukaan tanah dan termasuk permukaan tanah di lantai hutan.

Serangga permukaan tanah merupakan salah satu hewan yang penting di dalam ekosistem tanah.

Peranan serangga tanah adalah sangat penting terhadap keberlangsungan kehidupan vegetasi di atasnya. Serangga tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik,

menyebarkan dan

mencampurkannya. Organisme tanah berperan dalam proses dekomposisi bahan organik

(chemical engineer), distribusi dan pencampuran bahan organik (ecosystem engineer) yang juga dibutuhkan tumbuhan untuk pertahanan dari patogen tanah (biological engineer) (Widyati, 2013). Peran penting ini sebagai dekomposer yang selanjutnya menentukan siklus material tanah.

Kehidupan serangga di permukaan tanah bergantung pada tumbuh- tumbuhan dan faktor fisik-kimia tanah (Suin, 1997). Serangga permukaan tanah adalah serangga yang hidup ditanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang terdapat dalam tanah.

(3)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 63 Hutan alam ataupun hutan

tanaman menjadi suatu ekosistem yang sangat unik, merupakan sumberdaya alam yang sangat potensial dalam mendukung keanekaragaman flora dan fauna dari komunitas serangga (terestial).

Lebih dari 42 juta arthropoda ditemukan dalam satu hektar pada hutan hujan tropis dan 70%

didominasi serangga tanah dan selebihnya pada kanopi (Stork, 1988). Ekosistem hutan tanaman atau hutan homogen dan hutan alam atau hutan heterogen secara langsung atau tidak langsung

berpengaruh terhadap

kelangsungan hidup manusia dan mahkluk hidup lainnya termasuk serangga. Penelitian tentang keanekaragaman jenis serangga di Indonesia yang dikenal sebagai

megabiodiversitas masih belum banyak dilakukan. Kelompok serangga memiliki peran ekologis sangat penting dan cukup rentan terhadap perubahan ekosistem sehingga sering dijadikan sebagai salah satu bioindikator (Shahabuddin et al., 2005).

Mengingat pentingnya peranan serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem, yaitu sebagai perombak dan penyubur tanah, namun masih relatif terbatasnya informasi mengenai keberadaannya. Oleh karena itu penelitian ini akan mengamati mengenai keanekaragaman serangga khususnya serangga tanah di hutan Pendidikan Universitas pada dua tipe habitat hutan yang berbeda.

II. METODE PENELITIAN

A. Pengambilan Sampel dan Penentuan Lokasi

Lokasi pengambilan sampel dipilih pada dua kondisi habitat yang berbeda yaitu hutan tanaman dan hutan alam pada 5 titik masing-masing secara acak menggunakan metode perangkap jebak (fit fall trap) dan serasah saringan (Gambar 1). Lokasi pengambilan sampel dilakukan di hutan pendidikan Unhas di Desa Limapocoe, Kecamatan Cenrana (sebelumnya Kecamatan Camba), Kabupaten Maros (Gambar 2).

B. Identifikasi serangga

Serangga yang didapat dilapangan dikelompokkan sesuai

dengan ordonya. Serangga yang dikenali speciesnya diidentifikasi langsung di lapangan, sedangkan serangga yang belum dikenal diidentifikasi di laboratorium dengan memakai mikroskop serta mengacu pada buku kunci determinasi serangga antara lain. Kalshoven (1981), dan Borror et al (1992).

C. Analisis Data

Keanekaragaman jenis serangga tanah dihitung dengan menggunakan indeks keragaman Shannon-Wiener (diversity index) dan indeks kemerataan Pielou (evenness index) (Magurran, 1988).

(4)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 64 Permukaan tanah

10 cm Tanah

Gambar 1. perangkap jebak (fit fall trap) dan serasah saringan.

Gambar 2. Peta lokasi penelitian dan peta pengambilan sampel pada hutan alam dan hutan tanaman (pinus).

(5)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 65 III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian

Kawasan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin (HPUH) terletak di Kabupaten Maros. Dari pusat ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, kawasan hutan pendidikan tersebut berjarak sekitar 65 km, sedangkan dari pusat ibukota Kabupaten Maros berjarak sekitar 34 km. Kawasan ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 - 2 jam dari Kota Makassar. Luas kawasan HPUH berdasarkan SK.86/MENHUT- II/2005 seluas 1300 ha. Secara administratif pemerintahan, sebagian besar kawasan HPUH berada di wilayah Desa Limapocoe, Kecamatan Cenrana (sebelumnya Kecamatan Camba), Kabupaten Maros. Berdasarkan kedudukan geografis, kawasan HPUH terletak pada 119 44’34” - 119 46’17” Bujur Timur dan 04 58’7” - 05 00’30”

Lintang Selatan. Adapun batas- batas HPUH, adalah sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Desa Timpuseng, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Laiya, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kappang dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ballocci Kabupaten Pangkep.

Kawasan HPUH berada pada ketinggian 300-800 m di atas permukaan laut, dengan keadaan lapangan berbukit, bergunung- gunung di bagian utara dan barat, makin ke timur selatan bergelombang sampai datar.

Berdasarkan peta topografi skala 1:100.000 maka keadaan lapangan

dapat digambarkan sebagai berikut:

daerah datar dengan kemiringan <

3% terdapat pada sekitar jalan raya dan kampung di sebelah timur, daerah landai sampai berombak dengan 3% - 10% terdapat pada bagian tengah, daerah berbukit dengan kemiringan 10% - 30 % terdapat pada bagian Timur dan Selatan, daerah bergunung dengan kemiringan >30% terdapat di bagian barat dan bagian utara. Tipe iklim di kawasan HPUH termasuk dalam tipe iklim D yaitu iklim sedang.

B. Vegetasi Lokasi Penelitian Hutan alam di kawasan ini memiliki luas 512 ha atau sekitar 39% dari luas hutan pendidikan dan terdapat pada bagian selatan dan barat wilayah hutan tersebut. Jenis vegetasi yang paling banyak dijumpai di hutan alam adalah lento- lento (Arthrophyllum sp.), kemiri (Aleurites moluccana), mangga hutan (Buchanania arborescens), jabon (Anthocephalus cadamba), jambu-jambu (Eugenia sp.) dan beberapa jenis dari famili Moraceae seperti jenis Ficus sp. Kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat didominasi oleh tanaman jangka panjang seperti kemiri (A. moluccana), aren (Arenga pinnata), bambu (Gigantochloa sp.), melinjo (Gnetum gnemon), pangi (Pangium sp.), cokelat (Theobroma cacao), kopi (Coffea sp.), mangga (Mangifera indica), dan bahkan terdapat tegakan eboni (Diospyros celebica Bakh.) seluas + 21 ha yang dikelola oleh masyarakat di kawasan hutan Pallanro, Desa Rompegading.

Reboisasi Kawasan HPUH dilakukan pada tahun 1970/1971

(6)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 66 dengan menanam jenis Pinus

mercusii dan Acasia auriculiformis.

Sebelum adanya proyek reboisasi di wilayah hutan ini telah ditanam P.

mercusii seluas 18 ha pada tahun 1965 dan 12 ha pada tahun 1965/1966. Titik pengambilan sampel seluruhnya di bawah tegakan P. merkusii.

C. Kelimpahan Serangga Permukaan Tanah

Kelimpahan serangga permukaan tanah dilihat dari jumlah keseluruhan individu yang ditemukan pada perangkap yang dipasang dan saringan serasah pada lokasi penelitian, baik pada

hutan alam ataupun hutan tanaman.

Dari hasil penelitian diperoleh kelimpahan serangga permukaan tanah dapat dilihat pada Tabel 1.

Jumlah famili dan individu serangga permukaan tanah yang dikoleksi dari hutan alam dan hutan tanaman bervariasi. Jumlah total individu yang ditemukan pada hutan alam adalah 255 individu dan pada hutan tanaman ditemukan 91 individu.

Serangga permukaan tanah yang ditemukan pada hutan alam ada 8 ordo, 11 familia dan 13 spesies;

sedangkan pada hutan tanaman jumlah ordonya 5,7 familia dan 8 spesies (Tabel 2).

Tabel 1. Kelimpahan serangga permukaan tanah pada dua habitat hutan yang berbeda

Taxa Familia Hutan

Alam

% individu

Hutan Tanam an

% individu

Blattodea Blattidae 5 1,96 2 2,20

Coleoptera Staphylinidae 12 4,71 26 28,57

Carabidae 5 1,96 - -

Scolytidae 58 22,75 21 23,08

Scarabeidae - - 8 8,79

Sub total 75 29,42 55 60,44

Mantodea Mantidae 7 2,75 - -

Hymenoptera Formicidae 89 34,90 17 18,68

Orthoptera Gryllidae 10 3,92 15 16,48

Gryllotalpidae 2 0,78 - -

Sub total 12 4,70 15 16,48

Dermaptera Carcinophoridae 30 11,76 2 2,20

Thysanura Thermobia 5 1,96 - -

Collembola Entomobryidae 2 0,78 - -

Total 255 91

Pada hutan alam, serangga permukaan tanah yang paling banyak adalah dari ordo Hymenoptera (34,90%) berikut ordo Coleoptera (29,42%), dan yang

paling sedikit adalah ordo Collembola (0,78%). Sedangkan pada hutan tanaman ordo yang paling banyak adalah ordo Coleoptera (60,44%), diikuti oleh

(7)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 67 ordo Hymenoptera (18,68%) dan

paling sedikit adalah ordo Blattodea dan Dermaptera (2,20%). Hal ini disebabkan karena ordo-ordo tersebut merupakan ordo yang anggotanya umum lebih banyak jumlah familia dan generanya beraktivitas di permukaan tanah (Boror et al, 1992; Syaufina et al., 2007; Ruslan, 2009; Esenowo et al., 2014).

Ordo yang berperan penting sebagai pengurai adalah kumbang (Coleoptera) di dalam ekosistem (Shahabuddin et al., 2005), selain dari kolonisasi larva lalat (Diptera), (Price et al., 2011). Pada penelitian ini tidak ditemukan ordo Diptera yang terperangkap karena imago dari serangga ini aktivitasnya lebih banyak aktif terbang pada siang hari. Dan hanya fase larvanya yang

berkolonisasi pada proses pembusukan bahan organik terutama dari bangkai hewan dan kotoran/tinja. Jenis dari Famili Formicidae Ordo Hymenoptera lebih banyak dari koloni semut yang peranannya membalikkan tanah dan sebagai preadator dan sebagian fitofag pada permukaan tanah (Esenowo et al., 2014). Ordo Collembola lebih sedikit ditemukan pada hutan alam karena ordo ini lebih menyenangi pada daerah- daerah yang cenderung lembab sampai basah atau dataran rendah seperti hutan mangrove (Rahmawaty, 2000; Cranshaw dan Redak, 2013) dan bahkan tidak ditemukan pada hutan tanaman karena kondisi lantai hutan cenderung terbuka sehingga kelembaban lebih rendah .

Tabel 2. Keanekaragaman serangga permukaan tanah pada dua habitat hutan yang berbeda

Uraian Hutan Alam Hutan Tanaman

Ʃ Ordo 8 5

Ʃ Famili 11 7

Ʃ Jenis Serangga 13 8

Ʃ individu 255 91

Diversity (H’) 2,05 1,87

Evennes (E) 0,59 0,66

Pada Tabel 2 diketahui bahwa nilai indeks keanekaragaman jenis tertinggi terdapat pada hutan alam yakni sebesar 2,05 sedangkan pada hutan tanaman sebesar 1,87. Hal ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman serangga permukaan tanah pada petak hutan alam dan Hutan tanaman tergolong sedang karena pada kisaran nilai 1,5 – 3,5. Magurran (1988);

Rahmawaty (2000) menyatakan

bahwa, nilai indeks

keanekaragaman sedang apabila

berada pada kisaran 1,5 – 3,5;

nilai < 1,5 menunjukkan indeks keanekaragaman yang rendah, nilai dan nilai > 3,5 menunjukkan keanekaragaman yang tinggi.

Indeks kemerataan pada hutan alam 0,59 sedangkan pada hutan tanaman 0,66 yang berarti kemerataan jenis kedua habitat hutan ini adalah rendah. Dimana jika nilai E akan mendekati 1 yang berarti jumlah individu setiap jenis dalam satu komunitas hampir merata.

(8)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 68 IV. KESIMPULAN

Serangga permukaan tanah pada hutan alam didapatkan 8 ordo dengan 11 familia dan 225 individu yang terbanyak dari ordo Hymenoptera (34,90%) dan Coleoptera (29,42%), sedangkan pada hutan tanaman 5 ordo dengan 8 familia dan 91 individu yang

paling banyak dari ordo Coleoptera (60,44%) dan Hymenoptera (18,68%). Keanekaragaman serangga tanah pada hutan alam dan hutan tanaman tergolong sedang keragamannya. Nilai indeks kemerataan jenis pada kedua habitat hutan ini termasuk rendah .

DAFTAR PUSTAKA Borror DJ, Triplehorn CA, Norman

FJ. 1992, Pengenalan Pelajaran Serangga, Diterjemahkan oleh Soetiyono Partosoedjono, Gadjah Mada University Press,Yogyakarta.

Cranshaw W, Redak R. 2013. Bug Rule! An introduction to the world of insects. Princeton University Press, New Jersey. 845p.

Esenowo IK, Akpabio EE, Adeyemi- Ale OA, Okoh VS. 2014.

Evaluation of Arthropoda diversity and abundance in contrasting habitat, Uyo, Akwa Ibom State, Nigeria.

J.Appl. Sci. Environ.

Manage 18(3): 403-408.

Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Jakarta.

PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve.

Magurran AE. 1988. Ecological diversity and its measurements. Croom Helm Limited. London: 179 pp.

Price PW, Denno RF, Eubanks MD, Finke DL, Kaplan I. 2011.

Insect Ecology, Behavior,

Populations and

Communities. Cambridge University Press, Cambridge. 774p.

Rahmawaty. 2000.

Keanekaragaman serangga tanah dan perannya pada komunitas Rhizophora spp.

dan komunitas Ceriops tagal di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara. Tesis Program pascasarjana IPB Bogor.

85p.

Ruslan H. 2009. Komposisi dan keanekaragaman serangga permukaan tanah pada habitat hutan homogen dan heterogen di Pusat Pendidikan Koservasi Alam (PPKA) Bodogol, Sukabumi, Jawa Barat. Vis Vitalis 2(1):

43-53.

Shahabuddin, Hidayat P, Noerdjito WA, Manuwoto S. 2005.

Penelitian biodiversitas serangga di Indonesia:

kumbang tinja (Coleoptera:

Scarabaeidea) dan peran ekosistemnya. Biodiversitas 6(2): 141-146.

(9)

Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam Edisi XXXII Januari 2017 69 Stork NE. 1988. Insect diversity:

facts, fiction and speculation. Biological Journal of the Linnean Society 35: 321-337.

Suin NM. 1997. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara.

Jakarta: 189 pp.

Syaufina L, Haneda NF, Buliyansih A. 2007. Keanekaragaman

Arthropoda tanah di Hutan Pendidikan Gunung Walat.

Media Konservasi 12(2): 57- 66.

Widyati E. 2013. Pentingnya keragaman fungsional organisme tanah terhadap produktivitas lahan. Tekno Hutan Tanaman 6(1): 29-37.

View publication stats

Referensi

Dokumen terkait

dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan serangga yang tertangkap dengan menggunakan berbagai perangkap ( perangkap lubang dan perangkap cahaya) pada tanaman belum menghasilkan

Acari termasuk mikroarthropoda yang hidup pada tanah dan serasah yang berada di permukaan tanah dan semakin tua umur tanaman serasah yang ada pada permukaan tanah juga

Perangkap BBST dapat menangkap jumlah individu serangga lebih banyak jika dibandingkan dengan perangkap lainnya karena pada perangkap tersebut terdapat wadah yang fungsinya

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada metode nisbi dengan menggunakan perangkap Pitfall trap (Perangkap sumuran) pada area aplikasi pestisida (AAP) individu serangga

Kelimpahan spesies dan indeks diversitas spesies serangga tanah tertinggi ditemukan pada hutan primer, sedangkan yang terendah pada lahan perkebunan dan hutan

Acari termasuk mikroarthropoda yang hidup pada tanah dan serasah yang berada di permukaan tanah dan semakin tua umur tanaman serasah yang ada pada permukaan tanah

SIMPULAN Aplikasi bioinsektisida berbahan aktif Beauveria bassiana dapat mempengaruhi kelimpahan populasi artropoda predator di tajuk dan di permukaan tanah sawah.. Serangga

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman, kelimpahan dan distribusi serangga permukaan tanah pada dua zonasi di Hutan Gunung Geulis yang berbatasan dengan desa